Work Text:
Dazai dan Kucing.
Made by Rayen on 6 April 2025 and published on 13 May 2025.
🐱
Tentu kita semua tahu jika manusia perban yang maniak bunuh diri ini menyukai kucing. Ia sangat-sangat memperbolehkan jika ada kucing yang ingin naik ke pangkuannya. Tetapi rasa kasihnya kepada hewan berbulu itu rasanya semakin besar.
Ia sering terlihat memberi makan kepada kucing-kucing liar ketika ingin berangkat ke kantor—yang juga jadi penyebab ia terlambat. Pasalnya Dazai merasa terhubung atau terkoneksi dengan hewan itu.
“Kalian nyaman sekali, ya, bisa hidup dengan liar tanpa harus ada yang menyuruh-nyuruh. Tetapi, kalian juga lah yang paling memahami jiwaku yang hancur.
Oh, sungguh, aku ingin sekali bisa bunuh diri tanpa kesakitan. Tapi sayang itu tidak pernah berhasil.”
Dazai jadi suka melamunkan tentang kucing. Lalu menyadari bahwa kantor Biro memiliki patung kucing pembawa keberuntungan. Hm, ia sangat menyukainya, karena itu kucing.
Sesekali Atsushi dan Kyouka ada menemukan kucing liar dan membawanya ke kantor, Dazai pernah merasa senang sekali. Sayang mereka tak bisa memelihara kucing di kantor.
Kucing, kucing dan kucing. Di pikiran Dazai, segalanya tentang kucing terlihat menarik dan nyaman, ya.
Satu hari. Dazai bertemu kucing yang sangat menggemaskan.
“Ah! Kamu kucing yang habis di-steril, kah? Kok gembul sekali~!”
Kucing gembul itu bersikap ramah kepadanya dan mau dielus oleh dirinya. Pagi yang menyenangkan dapat membelai seekor kucing, sampai-sampai Dazai duduk di jalanan dan memangku kucing tersebut.
Dazai sama sekali tidak ingin berpisah dengan kucing itu. Kucing ini membawanya pada rasa nyaman, ia peluk sampai-sampai ia berpikiran untuk mencium jidat kucing itu.
Namun, disitulah segalanya dimulai. Suatu kesalahan fatal ketika Dazai benar-benar ingin mencium wajah kucing tersebut.
“Dewa! Ada manusia yang terlalu mencintaiku. Kumohon, ia berkata, sesungguhnya kalian yang mencintaiku, dan aku pun begitu. Aku ingin menjadi seperti kalian. Dewa, tolong kabulkan permohonanku.”
Langit menjadi mendung, petir mulai menyambar dengan suara mengerikan.
Padahal Dazai Osamu hanya mencium jidat kucing tersebut.
“Eh?”
“ Meong .”
🐱
“Dazai pergi ke mana, sih? Kok belum datang-datang?” tanya Kunikida dengan tangan sibuk merapikan beberapa dokumen laporan.
“Tadi Kak Dazai pergi ke luar. Sepertinya bolos,” jawab Atsushi dengan pandangan masih fokus mengerjakan laporan yang ditugaskan.
“Kalau tahu bolos, kenapa kau biarkan?!” damprat si pria berkacamata itu.
“M-maaf, Kak Kunikida! Aku sibuk hari ini!”
Kunikida memperbaiki kacamatanya, mendengus pelan. Merepotkan saja Dazai ini.
Tetapi baru saja ia berpikiran untuk mencari rekannya. Orangnya langsung muncul di hadapannya, kembali ke kantor dengan gurat wajah sedikit berbeda.
“Siang, Kunikida.”
“O-oh… Siang juga, Dazai,” ucap Kunikida sedikit kikuk. Dazai melewatinya dengan santai, tali mantelnya bergoyang dengan teratur.
Dazai duduk di meja kerjanya. Ia diam. Namun pikirannya ribut, satu perintah terputar dalam kepalanya, untuk berbaring di atas meja. Apa-apaan?! Lalu ia melihat barang berbulu yang menarik perhatiannya yang dibawa Kyouka, terlebih barang itu bergerak kesana kemari. Dazai ingin sekali melompat dari kursinya dan menangkap benda tersebut.
Tetapi, itu bakal jadi aneh banget, kan?
“Dazai.” Ada satu panggilan terdengar, Dazai pun menoleh ke sumber suara, yang rupanya Yosano—salah satu pekerja perempuan di Biro. “Tolong temani aku berbelanja.”
“Baiklah,” sahut Dazai. Segera bangkit. Ia menjilat punggung tangannya secara spontan, yang langsung disambut tatapan aneh Yosano.
“Dazai?!” serunya hampir mengundang tatapan dari rekan lainnya. Dazai buru-buru menurunkan tangannya.
“A-ayo kita pergi!” Dazai berseru panik.
Yosano yang tadi mengerutkan wajahnya sedikit mulai berdehem pelan. Ya, mungkin ia tadi salah lihat, ya? Aduh, tidak sopan juga ia berseru seperti itu hingga Dazai (mungkin) terasa tidak nyaman. “Maaf, Dazai. Aku hanya kaget… dikit.” Ia mengikuti langkah Dazai yang duluan keluar dari kantor.
“T-tidak apa-apa,” jawab pria itu dalam nada agak canggung. Tidak biasanya, batin Yosano. Ia bisa merasakan hal aneh yang terpancar dari Dazai saat ini. Tetapi ia mencoba fokus dengan tugasnya kini.
Di supermarket tengah kota. Dazai seharusnya fokus dengan barang yang dibeli untuk kantor karena ia membantu Yosano. Namun, di supermarket itu juga memiliki bagian untuk kucing. Ada makanan, tempat makanan, kandang, tempat tidur, dan lainnya.
“Yah, sepertinya sudah kumasukkan dalam keranjang semuanya. Tinggal ketemu Dazai dan ke kasir bersama-sama,” pikirnya dengan tenang dan jernih. Sampai ia melotot melihat pria yang sedang berkelahi dengan pegawai supermarket.
“Anda tidak boleh memakan makanan kucing itu, Tuan!”
“Saya bisa memakannya! Lepaskan saya!!” Tentu yang sedang meronta-ronta di kuncian dua orang pegawai supermarket itu adalah Dazai, dengan bungkus makanan kucing yang isinya terhambur di lantai.
“ITU UNTUK KUCING, TUAN!”
“SAYA SEBENARNYA KUCING!! BUKAN MANUSIA!”
Apa yang Dazai bilang?! Yosano tanpa ba bi bu lagi langsung berlari agar perkelahian itu bisa terhenti sebelum orang mulai ramai menonton dan menyadari pelaku tersebut dari Biro Detektif Bersenjata. Bisa hancur reputasi!
“Permisi!! Saya rekan orang ini! Tolong lepaskan dia!”
“Nona, tolong sadarkan orang gila ini! Dia telah membuka bungkus makanan hewan dan malah ingin memakannya!”
Ya, ya. Yosano sendiri tahu jika kondisi lantainya saja sudah menampakkan dengan jelas. Dazai akhirnya dilepaskan dan tiba-tiba mendesis ke pegawai-pegawai tersebut layaknya kucing, kemudian berlindung di balik badan Yosano.
“Saya akan membayar kerugian ini,” ucapnya. Yang akhirnya ia (dan Dazai) dibawa ke kasir agar menghitung total yang harus dibayarnya. Beruntunglah uang yang diberikan dari kantor cukup untuk membayar semuanya. Tetapi bagaimana ia melaporkan pembelian ini? Satu bungkus makanan kucing?
“Kak Yosano, kita tidak membeli makanan kucing?”
“Hah?! Kenapa, sih, Dazai? Kamu kenapa tiba-tiba seperti ini?” Yosano sudah habis kesabaran untuk menahan rasa penasarannya, sehingga ia memutuskan bertanya terang-terangan.
“Aku lapar, makanya aku butuh makanan…!”
“Di dekat sana ada restoran, Dazai.”
“Aku maunya makanan kucing.”
Pegawai supermaket tadi itu menyeletuk. “Dia sebaiknya dibawa ke RSJ, Nona. Ada yang tidak beres.”
“Berhenti mencampuri urusanku,” kecam Yosano karena ia mulai kesal. Ia tidak suka pegawai yang sejak tadi mulutnya berceloteh sembarangan seperti itu ke Dazai. Lama-lama ia keluarkan juga pisau bedahnya dan membelah perut pria itu tanpa suntik bius.
Akhirnya mereka berdua pergi dari supermarket itu. Dengan Dazai yang sekali lagi bertanya “Kita tidak membeli makanan kucing?”
🐱
“SENIOR YOSANO?! A-APA INI?!”
Yosano sendiri tidak habis pikir dan terdiam melihat penampakan di hadapannya ini seperti melihat 10 peristiwa aneh yang pernah ada di dunia. Mukanya mulai pucat pasi, begitu juga orang-orang di kantor.
Dazai memakan makanan kucing dengan lahap.
Yosano serius untuk membelikannya makanan kucing sesuai permintaannya. Ia benar-benar penasaran apakah Dazai serius ingin memakan makanan kucing ini. Ketika sampai di halaman kantor, Yosano membuka bungkus makanannya dan menuangkannya ke sebuah piring, kemudian memberikannya ke Dazai.
“Pasti ia hanya bercanda…”
Seakan tidak makan hampir 10 tahun, Dazai meraup isi piring itu dengan rakus. Krauk krauk krauk! Renyah! Sudah daritadi Dazai menahan rasa laparnya. Dan ternyata makanan kucing dengan rasa ikan tuna ini mengisi perutnya. Ditemani Yosano yang shock melihat dirinya makan dengan lahap.
“Kenapa Senior Yosano memberikannya betulan?!” Atsushi bertanya ketika ia menghampiri Yosano yang sudah terkulai di tanah, sembari dibantu bernafas dengan Kunikida di sebelahnya—pasalnya ia masih terlihat shock, jadi sulit mengatur ritme pernapasannya sendiri.
“Siapapun… hah… kita harus… hah… mencari tahu… penyebabnya… hah .” Terengah-engah Yosano mengucapkan kalimatnya.
“Jangan memaksakan diri, Senior Yosano.”
Kontras dengan Dazai yang nikmat sendiri karena menghabiskan makanannya. Saat ia ingin meraih bungkus makanan yang masih terisi banyak. Ranpo mengambil bungkus itu duluan.
“Dasar kucing rakus.”
Telinga Dazai naik mendengar komentar itu.
“Pak Fukuzawa suka kucing, tetapi dia pasti tidak suka kucing rakus dan gemuk sepertimu.”
“Kak Ranpo… Jangan menghujat kucing seperti itu…” Tanizaki dari jauh-jauh memperingatkan. Ngeri melihat wajah Dazai yang mirip dengan kucing galak.
“Apa? Mukamu pengin kelahi, ya, sepertinya.” Ranpo menyeringai, seperti menemukan tantangan menarik, melawan kucing jadi-jadian yang ada di hadapannya.
“Jangan menantangnya!!”
Terlambat. Kucing jadi-jadian itu mulai menghancurkan kantor Biro.
🐱
Keadaan kantor sudah seperti kapal pecah. Kini pelaku pembuat kantor jadi berantakan ini sedang berada di atas lemari. Berlindunglah seorang manusia (atau kucing?) yang meringkuk (apapun itu sebutannya, bayangkan saja bagaimana seekor kucing biasa duduk, nah seperti itulah pose Dazai sekarang). Ia dengan lihainya bisa meloncat ke lemari tertinggi yang ada di kantor.
“Kak Dazai memang sudah lupa kalau dirinya manusia.”
“Apa-apaan yang brengsek itu pikirkan sampai dia mengacau seperti ini?!” Tekanan di kepala Kunikida mulai naik karena sudah frustrasi pekerjaannya belum selesai, malah berhamburan kemana-mana. Meja saja sampai berguling. Nah, bagaimana pula memangnya meja bisa sampai terguling?
“Aku sudah memanggil seseorang.”
Yosano, perempuan itu kembali ke ruangan kantor. Wajahnya serius, seakan ia sudah melakukan pemanggilan penting, dan sepertinya itu dapat menyelamatkan situasi rumit terkini.
“Yah, mau bagaimana lagi. Dazai sudah tidak tertolong.” Ia bersedekap, mulai menjelaskan. “Aku sudah memanggil temannya dari Port Mafia.”
“Aku benar-benar tidak ha— Tunggu, PORT MAFIA?!” Kunikida yang sedang mengomel ke beberapa rekan kerja jadi teralihkan mendengar pemberitahuan Yosano. Terkejut.
Atsushi—yang sebenarnya juga jadi objek marah-marahan dari Kunikida tadi—jadi bergumam. “Berarti…
“Kak Nakahara Chuuya, ya?”
🐱
Aku tidak tahu harus menganggap panggilan tadi sebuah candaan atau hal yang serius.
Panggilan dari Biro Detektif Bersenjata mengenai… Dazai jadi kucing jadi-jadian? Memang habis kena kutuk, apa?!
Terus kenapa pula jadi aku yang dipanggil?! Memangnya aku ini bisa membuat kucing dalam kurung jadi-jadian tutup kurung jadi jinak? Bah! Aku ini eksekutif mafia! Habis harga diriku cuman dicakar oleh kucing—yang apalagi kucing itu juga manusia—yang juga—juga…
Aduh, ngos-ngosan, njir.
Pokoknya kalian sudah tahu siapa juga manusia yang jadi siluman kucing itu.
Semakin aku berjalan ke dalam kantor ini. Aku sebenarnya semakin ingin menyiapkan tawa kalau Dazai benar-benar seperti ada dalam bayanganku. Kalau Dazai sama persis seperti di visual bayanganku ini, aku datang ke kantor ini hanya untuk menumpang tawa lantas menghancurkannya.
Terakhir itu aku hanya bercanda.
Naik ke lift dan mengabaikan beberapa pegawai kantor ini yang menatapku karena berpakaian berbeda. Aku pada akhirnya sampai juga ke ruangan utama tersebut.
🐱
Eksekutif mafia itu akhirnya datang—yang sekaligus juga memiliki peran sebagai kawan Dazai dahulu (atau mungkin masih sampai sekarang. Terserah tafsir pembaca).
Jujur saja, seisi Biro Detektif Bersenjata terkejut atas kedatangannya. Satu-satunya yang tenang dan terasa ingin menyambut kedatangannya (jika suasana tidak sekacau ini) hanya Yosano.
“Kurasa kamu tahu kenapa kamu dipanggil.” Semuanya sudah dijelaskan di dalam satu panggilan. Chuuya hanya mengangguk untuk menanggapi.
“Yah, jadi tolong usir kucing ini sementara dari kantor.” Yosano mempersilahkan. Chuuya maju beberapa langkah, sesekali memandang seisi kantor yang berantakan, yang lagi-lagi dengan meja terguling.
“Oh iya. Di sini ada anak kecil, ya? Tolong yang masih di bawah umur tutup telinganya karena aku akan mengeluarkan kata-kata tidak pantas,” peringat Chuuya.
Ia menarik napas perlahan-lahan. Urat di wajahnya saja sudah terlihat saat ia mendongak ke atas lemari, seorang manusia yang sedang menjilat-jilat tangannya sendiri.
“WOI KUCING GOBLOK! TURUN, GAK, SEBELUM AKU REMUKKAN LEMARI INI DAN KAU JADI KUCING PENYET?!!”
Kucing pada dasarnya bisa tidak peduli pada teriakan manusia.
Chuuya mulai memegang lemari tersebut, dan Kunikida langsung berseru, “Itu semua isinya barang penting!”
“Tenang saja! Aku jamin keselamatan barang-barang penting!” Tetapi Chuuya tidak menjamin kerapian kantor ini.
“Kalau kau tetap tidak mau turun, RASAKAN INI!!” Chuuya merogoh sakunya.
“Hah?! Seorang mafia membawa timun?!” seru seseorang yang tidak diketahui siapa itu, rahasia, silahkan pembaca tebak sendiri.
Jadi, sebelum Chuuya sampai di kantor, ia sempat membeli sebuah timun. Ya, hanya sebuah. Penjualnya sendiri heran. Sehingga menggratiskan timun itu kepadanya, jadi sebetulnya tidak bisa dibilang membeli, sih.
Dan kucing memang takut dengan timun. Mereka akan langsung panik jika ada sayuran itu di dekat mereka. Seperti Dazai yang langsung melompat turun, jatuh ke salah satu meja dan seketika meja itu remuk dan berguling.
Dokumen yang sudah dirapikan sedikit dibuat berantakan lagi. Kini Kunikida telah terkulai, pingsan mungkin. Tidak tahan melihat semua kekacauan. Tidak pernah terbayangkan akan ada pegawai kantor ini sendiri yang mengacak-acak kantor sampai sepecah itu. Musuh pun rasanya tidak sampai seperti itu. Sisanya menonton kejar-kejaran Chuuya dengan Dazai.
Timun yang terjatuh itu Chuuya ambil kembali dan ia lemparkan lagi ke Dazai. Dazai habis-habisan lari menghindari dan menjatuhkan segala hal, tidak peduli sampai itu menyakiti badannya. Ia salto hingga menendang rak buku. Chuuya yang benar-benar repot karena ia tidak ingin kucing sialan itu membuat kantor ini semakin berantakan. Minimal kalau main kejar-kejaran di luar saja daripada di kantor sempit ini!
“Kantor kita benar-benar hancur…”
Sembari mengejar Chuuya dengan cepat berpikir. Sialan! Cepatlah berpikir apa yang harus dilakukannya agar kucing itu tidak semakin liar?! Chuuya akhirnya mendapatkan ide. Pakaiannya!
“Nona Yosano! Saya mohon bantuannya!”
Yosano sigap menuruti Chuuya. Sedangkan ia mulai melepas jas hitamnya. Dazai yang berlari terhalang oleh Yosano yang sengaja. Saat berbalik, Dazai langsung dibungkus oleh jas Chuuya. Karena Chuuya pasti tidak dapat menahan Dazai yang tubuhnya tergolong lebih besar, Yosano juga ikut membantu meringkusnya.
“Dasar sialan! Jadi manusia saja sudah merepotkan. Ini ngada-ngada jadi kucing!”
“MYEOW MYWEOOW!!”
Saat membuka bungkusan jas itu, Chuuya dengan cepat meraih kerah Dazai dan menyeretnya keluar dari kantor Biro. Kalau sudah begini, Dazai susah melawannya. Walau berat, Chuuya masih mampu menariknya.
“Seperti kucing jelmaan iblis saja kau ini.”
Dazai hanya mendesis, mencakar-cakar di udara. Mereka keluar dari bangunan.
🐱
Kota Yokohama agak sepi siang ini.
“Chuuya? Kau ada di mana?”
“Saya izin sementara hari ini. Ada hal pribadi yang harus diurus,” jawab Chuuya di ujung telepon. Lantas langsung menutupnya. Tentu ia tidak mau menceritakan ‘hal pribadinya’ itu.
“Diam kau! Sebelum aku sodok timun itu ke mulutmu!” Dazai terus-terusan mengeong seakan meminta pertolongan. Chuuya tidak ingin dianggap sedang melakukan kekerasan pada manusia—atau hewan. Apapun itu tafsiran pembaca.
Chuuya akhirnya melepas pegangannya di kerah Dazai tadi. Tangannya hampir kram, sehingga ia harus merilekskan anggota tubuhnya tersebut. Duduk pada kursi umum, sedangkan Dazai (yang sudah sepenuhnya dikuasai jiwa kucing), hanya duduk di tanah.
“Kalau bukan karena aku kasihan denganmu, sudah kubuang kau ke laut.”
“Miaw~”
“Lu itu manusia, bangsat. Bukan kucing.”
Dazai tetap menatapnya dengan mata yang bulat. Wajah yang sangat cocok untuk ditonjok olehnya. Dan selanjutnya tetap menjadi momen Chuuya hampir kehabisan kesabaran oleh Dazai. Yakni Dazai tiba-tiba menyundul kaki Chuuya—ala-ala kucing gitu. Tapi bukannya jadi imut malah amit-amit.
“JIJAY ANJIR. STOP GAK KAYAK GINI?!”
Chuuya pun merasa gelay (geli). Sumpah deh, ini lama-lama bukan Dazai aja yang dianggap ODGJ, dia pun juga. Gila, sih, bayangin kalian nonton berita dengan headline seperti ini “Seorang pria dengan inisial NC dimasukkan ke dalam Rumah Sakit Jiwa bersama kawannya yang juga diduga memiliki gangguan jiwa, diyakini pria berinisial NC adalah seorang eksekutif mafia.” Ini lama-lama anggota Port Mafia sudah gak ada harga dirinya.
“DIAM!”
Dazai sontak diam.
“Duduk!”
Dia pun duduk.
“Kok, nurut gitu? Jadi ini kucing apa anjing?”
“Miaw.”
Chuuya berteriak frustrasi. Sudah gak ketolong memang Dazai ini. Lama-lama tanah Yokohama ini bisa ia angkat. Sekalian saja lapisan tanah bumi ia lepas.
🐱
Malam pun tiba.
Chuuya menghabiskan waktu seharian bersama kucing jadi-jadian tersebut.
“Berhenti mengeong.”
Ujarnya dengan keras ketika mereka kembali duduk di kursi umum, menghadap ke pemandangan kota yang dihiasi malam langit. Karena diberitahu Chuuya seperti itu, Dazai sontak berhenti mengeong dan ia duduk di samping Chuuya.
Malam. Waktu ketika semua manusia sudah lelah. Seperti Chuuya, dan juga Dazai yang diam-diam saja.
“Chuuya.”
Yang dipanggil sontak menoleh. Eh ? Dazai memanggilnya dengan nada normal, bahkan agak terdengar sendu malah. Dengan suasana malam yang sejuk, angin bersemilir pelan.
“Hmm… aku tadi cuman mencium seekor kucing. Tapi aku merasakan hal aneh saat ada sebuah petir muncul di siang bolong. Saat ke kantor, aku pengin dibelai, mengejar bola, dan memakan makanan kucing.”
Chuuya menyimak dengan baik-baik.
“Aku tidak tahu kenapa aku jadi begini…”
“Itu karena kau terkena kutukan dari dewa.”
Hah?! Suara darimana itu?! Chuuya menoleh kesana kemari, hingga ia melihat seekor kucing gembul dengan ekspresi seperti seorang biksu.
“Halo, Tuan Nakahara,” sapa kucing dengan wajah bijak itu.
“Kucing yang bisa berbicara?!”
Chuuya meremas wajahnya sendiri. Sepertinya ia sudah terkena gangguan jiwa sampai melihat kucing yang bisa berbicara.
“Anda tidak sedang berhalusinasi, Tuan Nakahara. Dengarkan saya baik-baik, saya akan memberitahu cara menyembuhkan manusia di samping Anda yang sedang terkena kutukan.”
Walau tidak percaya apa yang dilihatnya kini. Chuuya akan kembali menyimaknya baik-baik.
🐱
“Tinggalkan dia. Dia akan jadi begitu bergantung kalau Anda terus menemaninya. Dia harus berhenti bertindak sebagai seekor kucing.”
“Pulang sana! Aku sudah capek!”
“T-tapi aku mau sama Chuuya—”
“Males aku sama kucing gembrot kayak kamu.”
Hati Dazai terpotek-potek. Padahal dia ini kayak kucing malnutrisi asli. Kekurusan dengan tubuhnya yang kayak tiang listrik. Kalo dia emang beneran gendut, Dazai gak sakit hati, tapi ini gak sesuai fakta!
“MEOW MEOW!!!” teriak Dazai yang sebenarnya ingin menangis (malu ih Dazai). Huhuhuhu, jadi sedih.
“Diam kau, sialan! Argh.”
“Tetapi, jangan buat dia sakit hati. Nanti dia bisa menaruh dendam pada Anda. Kutukan kucing ini bisa menular.”
Sialan, sialan. Chuuya tidak boleh sampai salah langkah. Ia berpikir lebih keras. Dazai mulai menitikkan air mata, saat tangannya menyentuh tanah, malah berbentuk paw hewan.
“Dengar, kucing sialan. Kau itu nyebelin parah sampai rasanya pengin kubunuh. Tapi, kau itu tetap manusia. Menjadi kucing seperti ini tidak akan menyelesaikan masalahmu. Aku ini tahu permasalahanmu yang ragu ketika menjadi manusia. Tetapi menurutku ini tidak akan menyelesaikan masalahmu sama sekali.”
Dazai menatapnya pelan. Tangan Chuuya terasa untuk membelai kepalanya, walau sebenarnya ogah-ogahan Chuuya melakukannya itu pada orang yang paling dibencinya sedunia.
Tapi, demi kesejahteraan hidup Chuuya—dan mungkin orang lain yang bisa terkena gangguan Dazai. Ia harus melakukannya.
“Jadi, berhenti berpikir dirimu seekor hewan. Kembali ke dirimu yang sebenarnya. Gak semua orang sabar hadapin kamu kalo sudah begini.”
Chuuya bersungut-sungut dan sesekali mendengus mengucapkan perkataan seperti itu. Berharap, semoga ia tidak mengulangi lagi kata-kata tersebut.
🐱
“Kunikida? Kau seriusan menginap di kantor tadi malam?”
Yosano berseru kaget saat ia datang ke kantor. Melihat Kunikida tertidur di antara tumpukan dokumen dengan sebuah bantal. Seumur hidup ia tidak pernah melihat pemandangan seperti itu. Ia mendekati dengan perlahan.
“Saya mempersilahkannya,” jawab seseorang.
Yosano reflek menoleh. “A-ah! Pak Fukuzawa!”
“Dia sama sekali tidak mau pulang sebelum semuanya rapi. Makanya saya mempersilahkan dia tidur daripada pulang ke rumahnya.”
“Baiklah… saya mengerti.” Tidur Kunikida terlihat nyenyak sekali. Sehingga Yosano jadi tidak enak kalau membangunkannya sekarang.
Bantal yang ada di kepala Kunikida bergambarkan kucing yang tersenyum (yang ternyata milik Fukuzawa). Sontak Yosano teringat sesuatu.
“Bagaimana kabar Dazai, ya…?”
Pagi-pagi Chuuya sudah berjalan kaki di sekitaran Yokohama.
Tidak biasa dirinya melakukan kegiatan seperti ini. Tetapi sebenarnya ia berniat pada hal lain. Mengandalkan keberuntungan atau kebetulan.
Dan benar saja. Kebetulan ia bertemu dengan orang tersebut. Melangkah dengan cengiran lebar.
“Oi, kucing bau,” panggilnya angkuh.
“...” Diam saja.
“Dazai…?”
“Miaw.”
“KAU MASIH BELUM BERUBAH?!”
“Bercanda! Miaw!”
Orang itu—Dazai berlari melewatinya sambil mengambil topi Chuuya. Seketika membuat Chuuya kesal. “SIALAN KAU, DAZAI! KUBUNUH KAU SEKARANG!!”
Hari-hari di Yokohama pun berjalan seperti semula.
Bonus🐈
“Jadi bagaimana Kak Dazai bisa berubah seperti semula?” Atsushi bertanya penasaran, karena cerita masih belum tamat.
“Ada seseorang yang membantuku, walau aku jijik~”
“Eh?” Atsushi jadi bingung dengan jawaban Dazai. Tetapi tenang, kita memiliki penjelasan.
Malam itu, ketika Dazai ditinggalkan Chuuya, ia tidur dengan posisi meringkuk. Merasa kedinginan karena kamarnya tidak punya mesin penghangat. Meratapi nasibnya yang ternyata selama ini ia dikutuk. Ia berjanji tidak akan merepotkan orang sampai sejauh ini hanya karena mimpi besarnya ingin menjadi seekor kucing gend—maaf, seekor kucing saja.
“D-Dewa… aku memohon, lepaskan kutukan ini. Aku ternyata tidak mampu menjadi seekor hewan. Aku akan kembali menjadi manusia walau menjalani kehidupan sebagai manusia terdengar brengsek sekali…”
Tidak diketahui Dazai, kucing gembul yang tadi berwajah biksu itu mendengarkan doanya dari atas. Memanggut-manggut.
Dazai pun terlelap sambil mengulang-ulang doanya. Ajaib, di pagi hari, doanya dikabulkan. Ia terbangun dengan perut lapar—tetapi ia berselera untuk makan makanan manusia, bukan makanan kucing. Ketika berjalan ke kantor, ia sudah sedikit lupa dengan kejadian kemarin. Sehingga saat sampai di kantor, ia bingung melihat kantor yang masih setengah berantakan, dan Kunikida yang masih tertidur.
End
