Actions

Work Header

Rating:
Archive Warning:
Category:
Fandoms:
Relationship:
Additional Tags:
Language:
Bahasa Indonesia
Stats:
Published:
2025-05-14
Words:
1,572
Chapters:
1/1
Kudos:
3
Hits:
61

just us two

Summary:

kala itu, latihan dibatalkan. hanya ada sepeda, nagi, dan kebebasan dengan hamparan langit senja.

Work Text:

jika ada yang bertanya bagaimana tubuh mereka saling terlekat erat, reo tidak punya jawaban.

mungkin, awalnya karena reo. reo yang merajuk, merayu, dan membuai nagi untuk singgah sejenak di tepi sungai.

reo dengan kayuhan pedal pada sepeda yang cukup menampung dua remaja dan nagi dengan semilir angin yang menghanyutkan; sama-sama tidak pernah memberi waktu pada cakrawala sore hari untuk dinikmati.

hingga hari ini.

hari ini, latihan dibatalkan. anak dari sang pelatih sakit dan reo sedang tidak ingin jadi diri sendiri. di hari-hari biasanya, hanya butuh satu panggilan untuk ba-ya dan pelayan pribadinya dengan mudah akan mendatangkan pelatih pengganti.

hari ini, hembusan nafas lega dari nagi mampu meleburkan sementara ambisinya. hari ini, reo putuskan untuk bebaskan diri dari beban ekspektasi yang disusun oleh diri sendiri, orang tua, dan kerabat sekitarnya. hari ini, reo hanya tersenyum dan berkata naiklah, nagi. biar aku antar pulang.

untuk kali pertama dari sekian lama, reo merasa ringan. bebas. pedal sepeda tidak terasa berat untuk dikayuh dan deru angin pun tidak meremangkan tengkuknya. sederhana, namun reo ingin nikmati sebaik-baiknya. reo tidak ingin pulang.

tiba-tiba, reo menghentikan sepedanya. nagi merintih dari kursi penumpang ketika kepalanya membentur punggung reo.

reo hanya tertawa saat menanggapi rengutan di wajah nagi dengan sorot bingung dari manik kelabunya.

please, nagi. besok pagi, kamu boleh tidur di mobil. setelah itu, gendong sampai depan kelas,” iming-iming reo dengan senyum lebar yang memamerkan deretan gigi rapinya.

suasana hati nagi sedang baik, pikir reo saat nagi mengangguk tanpa banyak perdebatan. reo tidak mau terlalu memikirkannya.

reo juga tidak mau terlalu memikirkan saat tubuh nagi tidak sedikitpun menghindari sentuhannya ketika spontanitas bekerja lebih dulu dibanding akal sehat. tangan reo terlanjur direntangkan dari sisi belakang tubuh nagi, kemudian melewati pundaknya ketika nagi setuju untuk menonton cuplikan permainan sepak bola yang reo temukan tadi malam.

ada nafas berhenti sejenak kala nagi mulai menyandarkan punggungnya terhadap dada reo. ada senyum yang ditahan kala nagi menggumam lembut untuk menanggapi celotehan reo yang kelewat bersemangat.

mereka tetap di posisi itu, dengan versi yang lebih nyaman. tangan reo masih memegang ponsel, namun lengannya tidak lagi ragu untuk bertumpu di pundak nagi–setengah memeluknya. nagi pun juga, punggungnya menyatu dengan tubuh reo seperti kepingan puzzle yang saling mengisi ruang hampa.

tidak ada yang menarik diri, bahkan ketika reo kesulitan untuk mencari kata kunci untuk cuplikan lainnya. atau ketika reo kehabisan tontonan seputar sepak bola dan memutuskan untuk menggulir video-video kucing di beranda media sosialnya.

tawanya pecah ketika reo melihat kucing putih yang mengganggu majikannya yang tengah bekerja. berkali-kali mengusapkan wajah pada paha majikannya. reo tidak mungkin paham, mengingat orang tua yang tidak mengizinkannya untuk merawat binatang sedari kecil. “lucu banget, kucingnya manja. pasti lagi cari perhatian, ya?”

“itu cara mereka untuk bonding sama majikannya,” reo tahu bila tidak seharusnya pipinya menghangat ketika nagi mengakhiri tuturnya dengan membenamkan wajahnya sedikit lebih dalam di ceruk leher reo.

dinding-dinding tak kasat mata perlahan meluruh seiring waktu berjalan. ponsel pintar itu sudah lepas dari genggaman reo. yang ada hanya reo, nagi, dan tubuh yang saling bertaut.

saat matahari sudah terbenam utuh, reo sadar akan netra nagi yang turut terpejam.

“hei,” reo memberi dorongan pada tubuh nagi dengan pundaknya. sementara, lengannya masih terlingkar erat pada pundak nagi. “bangun. nanti badan kamu sakit.”

nagi mengerang dengan mengerutkan netranya yang masih terpejam. beberapa saat setelahnya, nagi membuka dan mengerjapkan netranya. tampilannya sayu, namun sorot iris kelabunya mampu menusuk milik reo. meremangkan tengkuk hingga ke tulang punggung.

“ngantuk, reooo,” nagi merengek. tubuhnya dimiringkan sampai tampak jelas bibir nagi dan rengutannya.

reo tergelak. salah satu tangannya mengelus lembut surai platina nagi. “i know, treasure. tidurnya pas sampai tempatmu aja, yuk? biar lebih nyaman.”

nagi menghela nafas. tetap bergeming di tempat bahkan ketika pundak reo mendorongnya dengan persisten.

di saat-saat seperti ini, reo kehilangan kemampuan untuk membaca iris kelabu milik nagi yang menatapnya utuh. sejumlah kemungkinan di benaknya seketika menjadi keruh. tungkainya ragu melangkah jika hanya jurang api yang menunggu di depan.

reo mencoba tersenyum, seolah-olah deru nafas nagi di kulitnya tidak membakar. “ayolah. pasti ototmu mulai nyeri, kan?” ia pijat pundak nagi, membuat empunya mengeluarkan suara tidak koheren. reo tertawa kecil. “maaf telah menahanmu di sini, nagi. ayo, aku antar kamu agar kamu bisa segera tidur dengan nyaman di tempatmu.”

nagi, tetap keras kepala, tidak juga beranjak dari tempat. reo kembali berpikir, apakah pesonaku sudah kadaluarsa bagi nagi? ataukah–

“memangnya kenapa?”

suara nagi yang tiba-tiba memutuskan alur pemikirannya yang sibuk berspekulasi. seketika, segala sesuatunya terasa lebih nyata. tubuh nagi yang melekat pada tubuhnya. kehangatan yang nagi hembuskan dari nafasnya. pundak lebar nagi di rengkuhannya. manik kelabu magis yang tidak berpaling dari miliknya. nagi. nagi. nagi.

nagi,” reo menghela nafas bersamaan dengan rona semu merah muda di pipi. ia berdehem. “maksudku, di sana, kamu bisa tidur lebih nyaman. kasur dan bantal empukmu pasti lebih–”

netra nagi turun ke dekat kerah seragamnya. “aku tidak keberatan,” nagi menggumam pelan.

“huh?”

kemudian, nagi menengadah untuk menatap lekat manik lilanya. kali ini, iris kelabunya lebih tembus pandang. seolah memberi izin reo untuk menyelam di sana.

“karena ada reo di sini.”

oh, jadi itu maksud nagi, adalah kalimat pertama yang terbesit di benaknya. jadi, ini rasanya diinginkan langsung lewat kata. mungkin saja, selama ini presensinya tidak mengganggu nagi. mungkin juga termasuk sentuhannya.

mungkin, sejauh ini, akses yang nagi berikan pada reo untuk menginvasi hidupnya semata-mata bukan atas dasar paksa, seperti yang selalu reo kira.

reo ingin tahu seberapa jauh nagi membiarkan keserakahannya bergerak bebas.

reo mencium nagi. menangkup pipi nagi dengan tangan kanannya. merasakan bibir nagi untuk pertama kalinya. lembut, tapi sedikit kering di bagian tengah. reo berjanji akan rutin memakaikan lip balm pada bibir nagi.

hati reo penuh hanya dengan menempelkan bibir pada milik nagi. kontak bibir sederhana, namun mampu menghantarkan panas hingga ke daun telinganya.

tidak ada yang bergerak. hanya ada nafas yang saling bertukar di atas filtrum. saling menghirup satu sama lain.

nagi masih tidak bergerak, bahkan saat reo menarik diri untuk mengakhiri kontak bibir. saat manik lila kembali menangkap cahaya, netra nagi sudah lebih dulu terbuka dan menelan reo utuh-utuh dengan tatapannya.

reo menegak ludah ketika malu sudah menyekap akalnya hidup-hidup. ia buru-buru mengalihkan pandang. “uh… yang tadi…”

sisa kata-katanya mengambang di udara saat punggungnya tiba-tiba membentur tanah dengan rerumputan di atasnya.

reo memekik sembari mengernyitkan mata. manik lilanya membola begitu rasakan telapak yang menangkup pipinya. panas, pipinya seakan membara, entah dari telapak yang menangkup pipinya atau tubuh nagi yang berada di atasnya.

tubuh nagi mengapit miliknya dengan kaki yang bertumpu di dekat pinggang. nagi mendekatkan wajah, sangat dekat sampai-sampai surai platinanya menyapu dahi reo. tulang punggungnya meremang seketika. otot-ototnya sontak kaku, termasuk yang tertanam di balik parasnya.

suara parau lah yang keluar ketika mulutnya dipaksa bekerja. “nagi…”

“lagi.”

hari ini, dewi fortuna sedang berada di pihaknya. reo tidak pernah bermimpi bisa menjadi saksi langsung bagaimana nagi memejamkan mata dan mengikis jarak untuk mencium bibirnya yang sedikit terbuka.

selama beberapa saat, sama seperti sebelumnya, nagi hanya menempelkan bibir. hanya itu, tapi benaknya masih membeku untuk bereaksi.

namun, saat bibir nagi mulai bergerak dan memberi kecupan-kecupan kecil pada bibir bawahnya, sekat-sekat yang dibangun atas ragu dan takut serentak luruh.

netra lilanya terpejam. tangan yang semula mengudara pun kembali menemukan tempat seharusnya mereka berada; melingkar di tengkuk nagi. nagi mencium dengan lembut dan tenang dan kukuh, seolah-olah tidak rela untuk melepas reo dari dekapannya. seakan-akan, nagi juga menantikan momen ini. seperti dirinya.

bibir nagi manis. manis permen susu yang selalu ada di kantong depan tas nagi. reo bukan penikmat manis, tapi jika datangnya dari bibir nagi, reo tidak keberatan dibuat candu.

nagi melumat bibir reo seperti sedang mencicipi hidangan paling lezat sedunia. dari cara tangannya menangkup pipi reo dan membelainya dengan ibu jari, hingga jemari yang mencengkam erat pinggang reo.

reo membalas dengan afeksi yang setara. melumat bibir nagi sampai penuh jejak salivanya. surai platina yang dibelai persis bagaimana nagi menyukainya. tangan di tengkuk nagi untuk menjaga jarak agar selalu tiada.

reo baru menyadari kurangnya asupan oksigen untuk tubuhnya ketika ciuman itu terputus. akalnya mulai bekerja untuk benar-benar merasakan sekitarnya, sebab semula terhipnotis oleh euforia yang diciptakan oleh nagi seishiro.

punggungnya kaku berkat tanah rerumputan yang tidak rata. wangi dedaunan bercampur semilir angin yang memenuhi indera penciumannya. belum lagi gulita yang sepenuhnya telah melukis cakrawala.

kemudian, nagi. nagi dengan ibu jari yang masih membelai pipinya. masih juga dengan pendar pada iris kelabu yang mengacaukan irama degup jantungnya.

reo tertawa kecil sembari mendekap nagi, lalu mendorong tubuh keduanya ke depan dengan hati-hati. tubuh nagi dilepaskan usai keduanya kembali terduduk di atas tanah rerumputan.

reo tidak lagi malu berekspresi. senyum lebar kembali merekah hingga otot pipinya sakit. ia menepuk-nepuk dedaunan yang menodai celana putihnya, lalu meraih tangan nagi yang semula bertumpu di rerumputan.

“ayo pulang, nagi.”

kedua alis nagi berkerut. tubuhnya masih enggan bergerak bahkan saat reo menarik-narik tangannya.

“hei, ini sudah larut,” reo coba bicara serius, namun digagalkan oleh gelak tawa yang turut hadir di akhir kalimatnya. tangan nagi diremas.

“uh…” hanya itu yang dikeluarkan nagi, namun reo bisa merasakan keraguannya. kalau dipikir lagi, seorang mikage reo pun bisa rasakan takut jika berhadapan dengan ketidakpastian dari masa yang akan datang.

apakah mereka menyelesaikan ambiguitas yang telah mereka buat sendiri? setelah itu, apakah jalan menuju masa depan muat untuk dilalui dua orang?

reo tidak tahu jawabannya.

menyingkirkan cemasnya sementara, reo kembali mencoba untuk membujuk nagi. “besok pagi, aku jemput tepat di depan kamarmu.”

nagi meremas balik tangannya. “dengan morning kiss?”

reo tertawa lepas mendengar permintaan gamblang dari mulut nagi. ia menggeleng-gelengkan kepala selagi menjawab.

okay, morning kiss. kalau itu mau kamu, nagi.”