Work Text:
When your legs don't work like they used to before
And I can't sweep you off of your feet
Hajirin menyalakan keran air, membiarkan air itu meluncur kearah piring yang ternoda oleh minyak dan bumbu-bumbu masakan yang di santapnya bersama Arthur malam itu; yang selalu dikatakan Arthur sebagai masakan rumahan biasa yang selalu di hidangkannya untuk menyambut Hajirin sepulang ia bekerja di kantornya. Tetapi bagi Hajirin, segala sesuatu dari tangan Arthur itu istimewa, bahkan jika hanya sebatas telur ceplok yang di buat asal-asalan oleh Arthur ketika sedang merajuk.
Sudah menjadi kesepakatan mereka sedari awal, jika Arthur memasak, maka Hajirin yang akan membersihkan piring-piring bahkan panci yang di pakai Arthur. Bukannya Arthur keberatan, ini justru merupakan permintaan Hajirin sendiri yang tidak ingin Arthur kelelahan.
Will your mouth still remember the taste of my love?
"Yang bersih nyucinya," secara tiba-tiba Arthur memeluk Hajirin dari belakang, melingkari pinggang Hajirin dengan lengannya yang lebih kecil. Arthur harus berjinjit sedikit untuk melihat pekerjaan yang tengah dilakukan Hajirin karena perbedaan tinggi badan mereka (yang terkadang membuat Arthur kesal, sementara Hajirin menganggap hal tersebut menggemaskan).
"Aman sayang." Rinz menoleh, menunduk sedikit, untuk mengecup puncak kepala Arthur sementara yang di kecup hanya mendengus sambil tersenyum.
Will your eyes still smile from your cheeks?
"And darling I will be loving you 'til we're seventy." Hajirin menyenandungkan baris pertama dari bait kedua lagu Ed Sheeran yang tengah di putarnya saat ia sekarang tengah mengusap bekas nasi yang menempel pada piringnya.
Arthur menyeringitkan dahinya sedikit, menatap kearah Hajirin yang masih bersenandung mengikuti lagu yang tengah di putarnya. Arthur mengingat salah satu video yang lewat di fyp tiktoknya soal lagu tersebut.
"Nanti kalo kita udah 71 tahun, kamu ga cinta aku lagi, Rin?" Arthur menempelkan wajahnya pada lengan Hajirin, ia bertanya dengan nada penasaran yang membuat Hajirin menghentikan usapannya pada piring untuk melirik kearah Arthur.
"Hmm, maksudnya gimana sayangku?"
"Itu, lagunya, kamu nyanyiin bakal cinta aku sampe 70 tahun aja." Arthur menunjuk Hajirin dengan dagunya sambil cemberut, tangannya yang semula hanya memeluk longgar tubuh Hajirin sekarang mencengkram kaus navy yang dikenakan Hajirin.
Hajirin terdiam sebentar, alisnya tertekuk sementara otaknya berpikir, sebelum akhirnya dia tertawa keras, kedua pipinya terangkat sementara matanya menyipit. Tangannya yang basah melepaskan piring dan meletakkannya pada dasar wastafel, dia memegang tangan Arthur agar dia dapat berbalik menghadap pasangan kecilnya itu.
Hajirin tersenyum, menatap lembut kearah Arthur kemudian mendekap pipi Arthur diantara kedua tangannya. "Cuma lagu sayangku, aku bakal cinta kamu 700, 7000, bahkan gak terbatas, selama-lama-lamanya!"
Arthur masih cemberut, bibirnya masih dimajukan membuat Hajirin gemas sendiri dan pada akhirnya memajukan wajahnya untuk mencium bibir yang menggoda itu. Arthur membelalakkan matanya, tubuhnya membeku, respon yang diberikan pada ciuman tiba-tiba itu meskipun mereka sering melakukannya— bahkan lebih.
And baby my heart could still fall as hard at 23
Ketika Hajirin melepaskan ciuman dari bibir Arthur, Hajirin memperhatikan wajah putih Arthur telah sepenuhnya berubah menjadi merah yang membuat Hajirin tertawa.
"Ish, apaansih! Udah sana lanjutin nyuci piringnya, ini juga kenapa sih kamu pegang muka aku, tangan kamu kotor itu kena sabun cuci piring sama bekas makanan!" Arthur melepaskan paksa tangan Hajirin dari pipinya, mulutnya mendumel sementara dia berbalik menjauh dari Hajirin sambil menghentakkan kaki yang membuat Hajirin hanya menggelengkan kepalanya sambil tersenyum sayang.
Ketika melihat Arthur menghilang di balik tembok ruangan, Hajirin membalikkan badannya, fokus kembali pada tugasnya mencuci sambil bersenandung. Sementara Arthur mengintip dari balik dinding, tersenyum kecil memandang punggung Hajirin.
And I'm thinking 'bout how people fall in love in mysterious ways
Maybe just the touch of a hand
Oh me I fall in love with you every single day
And I just wanna tell you I am
Arthur menangis tersedu-sedu sementara kedua kakinya berlari di koridor rumah sakit, tepat di sebelah ranjang dimana Hajirin di bawa oleh para dokter dan perawat di sekelilingnya.
So honey now, take me into your loving arms
Kiss me under the light of a thousand stars
Place your head on my beating hear
Ketika pada akhirnya mereka sampai pada pintu ruangan IGD yang tidak bisa di masuki oleh Arthur, seluruh kekuatan meninggalkan tubuh Arthur yang merosot begitu saja ke dinding rumah sakit, meratap kepergian Hajirin yang di bawa diatas ranjang pasien.
Bahkan saat akan masuk ke dalam ruangan, pandangan Hajirin yang seperti akan kehilangan kesadarannya tetap terpaku pada Arthur yang sekarang terlihat begitu hancur.
I'm thinking out loud
Maybe we found love right where we are
Arthur memandang jauh ke dalam ruangan ICU tempat Hajirin sekarang berbaring. Dinding kaca membatasi mereka, tangan Arthur yang bersarung tangan di letakkan diatas dinding kaca itu, ingin memegang Hajirin seperti yang seharusnya.
Beginikah maksudnya Hajirin akan mencintai Arthur hingga umur mereka tepat ketujuh puluh? Beginikah yang di maksud Hajirin, setelah Arthur baru merayakan ulang tahunnya yang ke tujuh puluh satu tepat seminggu yang lalu?
When my hair's all but gone and my memory fades
And the crowds don't remember my name
Arthur memejamkan matanya, menundukkan kepalanya sebelum dia menatap kembali kearah Hajirin yang juga menatapnya dengan tatapan sayu— seolah kehidupan mulai terenggut darinya pada setiap detiknya.
When my hands don't play the strings the same way, mm
I know you will still love me the same
Bahkan Arthur tetap merasakan cinta Hajirin dibalik tatapannya yang lemah itu. Bahwa bagaimanapun keadaannya, Hajirin akan selalu melihat Arthur.
Hajirin pernah berkata bahwa dia sangat amat menyukai senyum Arthur, menurutnya hal itu adalah sebuah harta berharga yang ingin selalu Hajirin lihat. Maka, Arthur menurunkan masker yang sekarang ia kenakan, menunjukkan wajahnya kearah Hajirin yang masih menonton.
Senyum itu terasa berat, Arthur perlu menarik sudut-sudut bibirnya sekuat tenaga, tetapi demi Hajirin, Arthur tersenyum lebar. Senyum bahagia seperti pada hari jadi pertama mereka, hari pertama pernikahan mereka, seperti tiap-tiap momen yang telah mereka habiskan sepanjang usia.
Air mata perlahan membasahi wajah Arthur, turun sedikit demi sedikit di matanya yang sudah bengkak. Tetapi Arthur menolak menghilangkan senyumnya.
Jari telunjuk dan tengah Hajirin bergerak, seolah ingin meraih Arthur meski ia tidak bisa, seolah ingin menghapus air mata itu untuk terakhir kalinya meski tak mampu.
Arthur menyesal karena air mata ini telah mengkhianatinya. Tetapi setidaknya meski ada air mata, Arthur masih tersenyum bahagia, cantik. Seperti yang selalu, dan selamanya menjadi kesukaan Hajirin.
Dan begitulah hal terakhir yang dilihat Hajirin, senyum Arthur, di umur mereka yang sama-sama tujuh puluh satu tahun.
'Cause honey your soul can never grow old, it's evergreen
Baby your smile's forever in my mind and memory
