Work Text:
Terik mentari siang itu masuk ke dalam kelas Harua dan mengusik tidur gadis itu. Guru sejarah masih menjelaskan di hadapan sana namun Harua tak ada niat sedikitpun untuk menaruh atensinya pada materi yang dibawakan gurunya saat itu. Semalam ia begadang hingga dini hari untuk menyelesaikan drama tontonannya dan Harua sedikit menyesal sebab sekarang rasa kantuk benar-benar menguasainya.
Harua bergumam kecil memaki terik mentari yang menyengat wajahnya dan mengganggu tidur tenangnya. Ia mengubah wajahnya menghadap ke arah yang berlawanan agar sinar mentari tak lagi menyilaukan pandangannya. Harua bersungguh-sungguh dengan niatnya untuk tidur sampai jam pulang tiba—
Sebelum niatnya itu dibatalkan oleh rungunya yang menangkap pembahasan menarik dari bangku di belakangnya.
"Katanya senior kita mau bikin maid cafe gitu buat festival budaya nanti."
"Eh? Bukannya tahun lalu angkatan mereka juga udah bikin maid cafe gitu, ya?"
"Iya, tapi tahun ini bakal beda, bukan maid cafe kayak biasanya."
"Apanya yang beda?"
"Engga tau sih.. Aku belum dapat info lagi dari senior kenalanku.."
"Memangnya kelas mana yang mau ngadain?"
"Kelasnya Kak Yu—"
"Yang di belakang sana! Jangan ribut. Fokus ke buku kalian!"
Obrolan dua gadis itu diinterupsi oleh guru mereka membuat Harua kini merubah posisinya jadi duduk tegap sebab guru mereka ikut melirik dirinya yang asik merebahkan kepalanya di atas meja. Setelah mendapatkan gurunya kembali menghadap papan tulis, Harua mendengus. Ia bosan sekali dengan mata pelajaran ini. Tangan kanannya naik ke atas meja untuk menggambar acak di pinggiran buku sedangkan tangannya yang satu lagi memangku dagunya. Harua sebenarnya tak terlalu peduli dengan obrolan teman-temannya tadi, namun mengingat pacarnya pun bagian dari angkatan senior mereka membuat Harua ingin tau kelas siapa yang mereka bahas.
Ah, membahas tentang senior—Harua jadi ingin cepat-cepat pulang dan bertemu pacarnya. Hari ini hari Selasa, dan biasanya pada hari Selasa kakak pacarnya itu akan mengajaknya ke rumah kemudian bermain game bersama dan saling bertukar komik terbaru yang mereka baca.
Harua menarik senyuman tipis, hari ini mau main game apa ya dengan Kak Yuma...
Sekarang sudah jam pulang dan Harua sedang mengganti sepatunya di depan loker ketika ia mendapat tepukan di bahunya dari belakang. Harua menoleh, ternyata kakak pacarnya.
"Kok di sini? Bukannya kakak ada agenda sama osis?" tanya Harua, sebab beberapa jam yang lalu kakak pacarnya itu mengiriminya pesan bahwa agenda mereka hari ini terpaksa batal karena Yuma harus menggantikan ketua kelasnya menjadi delegasi kelas dalam rapat osis untuk membahas festival budaya minggu depan.
Yuma menggeleng dan memeluk satu lengan Harua.
"Engga jadi, ternyata ketua kelasku jadi ikut. Sekarang aku agendanya sama kamu aja," jawab Yuma dihiasi senyum lebar hingga matanya tak terlihat, Harua ikut tersenyum dibuatnya.
"Ayo pulang, hari ini mau main game baru yang dikasih sama temanku."
Yuma menarik lengan Harua untuk ikut beranjak dari sana bersamanya, namun Harua justru menahan lengan Yuma.
"Tunggu."
Yuma menatap bingung melihat Harua seperti mencari-cari sesuatu di dalam tasnya. Setelah didapatnya barang yang ia cari, Harua menunjukkannya pada Yuma, ternyata jepitan rambut dengan hiasan kucing di atasnya. Harua memaikannya di rambut pendek Yuma kemudian tersenyum bangga setelah melihat hasilnya.
"Cantik," pujinya.
Yuma berkaca di layar ponselnya, betul kata Harua—cantik.
"Lebih cantik mana aku sama Nana Komatsu?"
Harua tertawa, pertanyaan tidak masuk akal. "Cantikan Nana Komatsu," jawabnya, membuat Yuma layangkan cubitan kecil di pinggangnya.
"Kurang ajar! Aku sama kamu juga cantikan aku ya!"
Harua tertawa meledek walau dalam hati ia membenarkan ucapan Yuma.
"Sudah ah, ayo beli eskrim nanti mini marketnya tutup!" Yuma menarik lengan Harua.
"Engga mungkin, kan masih sore?"
"Kasirnya malas lihat kamu makanya dia mau tutup."
Harua mencibir Yuma di belakang dan buru-buru mengganti mimik wajahnya menjadi senyuman ketika kakak pacarnya itu menoleh ke belakang.
"Aku tau, ya, kamu tadi ledekin aku!"
"Engga tuh."
Yuma mengacak-acak rambut panjang Harua dan buru-buru kabur.
"Ada tai burung di rambut kamu! Aaaa kabur, ada orang jorok!"
Harua yang tak terima langsung mengejar Yuma. Mereka kejar-kejaran sampai di depan mini market dan Yuma masih tetap menyebut Harua "jorok" hingga orang-orang menatap mereka dan Harua yang merasa malu itu harus membekap mulut Yuma dan menyeretnya masuk ke dalam mini market.
Sekarang hari Kamis, dan hari ini jadwal pembelajaran akan dikosongkan agar para murid bisa fokus mempersiapkan kelas mereka untuk kegiatan festival budaya hari Jumat besok.
Kelas Harua berencana akan membuka stan makanan di dekat gerbang utama sehingga ia saat ini disibukkan dengan kegiatan melukis dan membuat hiasan untuk stan kelas mereka nanti. Sudah pukul 3 sore dan ia belum bertemu Yuma sejak pagi. Harua mendesah malas dan sedikit memajukan bibirnya sebagai bentuk rasa kesalnya karena harus disibukkan membantu anak-anak kelasnya. Padahal ia ingin bersama dengan Yuma, jika begitu pasti mereka akan berkeliling sekolah dan mengganggu kelas lain yang sedang menyiapkan stannya.
"Harua yang betul dong gunting kartonnya, itu miring!"
Harua menoleh pada temannya dengan wajah linglung, kemudian menatap karton di tangannya. Betul sih, bentuknya sekarang jauh sekali dari pola yang diberikan oleh temannya. Harua melempar karton dan gunting itu ke pahanya dan merengek hingga seluruh kawan kelasnya menoleh kepadanya.
"Engga mau gunting-gunting, ah! Capek!" rengeknya.
Ketua kelasnya tertawa melihat Harua merengek seperti bocah berumur 5 tahun. Ia pun beranjak mendekati Harua dan memberikan secarik kertas berisi list bahan makanan yang akan kelas mereka olah dan jual nanti.
"Nih, kamu ke stan aja sana. Cek bahan udah lengkap atau belum, soalnya malam nanti teman-teman yang lain mau olah bahannya."
Harua melompat dari posisi duduknya dan tersenyum senang. Apapun akan ia lakukan asal tidak harus mendekam semalaman di kelas hanya untuk menggunting-gunting karton.
"Siap!"
Harua dengan wajah sumringahnya berjalan menuju gerbang utama. Di koridor, ia banyak menyapa orang-orang. Walau terlihat pendiam, Harua ini sebenarnya lumayan banyak kenalannya. Ia sempat aktif mengikuti ekskul debat dan mencetak prestasi beberapa kali sebelum akhirnya memutuskan mengundurkan diri dari ekskulnya sebab ia sibuk membantu ibunya berjualan kudapan di pasar. Sebagai orang yang benci disibukkan oleh banyak hal, Harua akhirnya memilih untuk membantu ibunya saja. Lagian, meski tanpa mengikuti ekskul pun, Harua masih bisa melatih skill debatnya bersama pacarnya yang (sangat) tidak-mau-kalah-dalam-berargumen itu.
Saat melewati koridor kelas senior, Harua mendengar ramai sekali teriakan para gadis di sana. Ia penasaran penyebab dari teriakan-teriakan itu tapi karena malas menerobos kerumunan, akhirnya ia lanjutkan saja langkahnya menuju destinasi awalnya. Harua tak tau saja, gadis itu berteriak heboh karena gemas melihat Yuma mencoba kostum maid yang sudah dibeli oleh anak-anak kelasnya.
"Yuma lucu banget! Cafe kita besok pasti ramai," ucap teman kelasnya dan disetujui oleh yang lain.
Yuma terkekeh malu, teman-temannya memang hampir semua memujinya, namun Yuma merasa tak nyaman karena rok nya terlalu pendek. Sedari tadi ia terus mencoba untuk menarik roknya agar tak terlalu naik dan mengeskpos pahanya meski sepertinya tak ada yang memperhatikan kiatnya barusan.
"Uhm.. Makasih pujiannya, haha. Tapi ini... roknya engga kependekan?"
Salah satu temannya menggeleng, "Engga kependekan, itu sudah pas sekali kok, Yuma. Besok 'kan yang dari sekolah lain juga bakalan datang, mereka pasti bakal mampir ke cafe kita kalau lihat maid-nya cantik-cantik dan seksi."
Yuma ingin memaki saja rasanya. Niat dia bukan untuk menggoda pelanggan mereka. Lagian dia sudah punya pacar yang cantik dan lucu, maka tentu saja Yuma sudah tak tertarik lagi dengan yang lainnya.
"Oh iya, Yuma, besok mantan kamu datang juga, engga?"
"Hah? Yuma punya mantan?"
Temannya yang tadi bertanya menganggukkan kepala, "Mantan Yuma ganteng tau, namanya Jo, ya, kalau tidak salah?"
"Woowww, Yuma punya mantan ganteng!"
Yuma tersenyum masam. Apa-apaan pula mereka tiba-tiba membahas mantannya?
Ia meninggalkan teman-temannya dan masuk ke dalam bilik ganti ala-ala yang dibuat oleh anak-anak kelasnya menggunakan tirai di pojok ruangan. Yuma menatap dirinya pada cermin panjang di dalam sana. Pahanya terekspos, bahunya apalagi. Entah apa yang akan dikatakan Harua ketika melihatnya dijadikan penglaris cafe oleh teman-temannya.
Yuma menghela napas panjang.
"Kalau pelanggannya Rua, sih, telanjang juga aku mau," gumamnya sembari melepas kostum maid di tubuhnya.
Besoknya festival budaya akhirnya resmi dimulai. Setelah menerima sepatah-dua kata sambutan dari kepala sekolah, semuanya langsung berhamburan. Ada yang sibuk menjaga stan kelasnya, ada yang menunggu kerabat dan temannya datang di gerbang, ada yang sedang asik berpacaran di taman, dan ada yang sibuk berkeliling mencoba semua stan.
Harua merasa senang karena acaranya dimulai dengan lancar dan tanpa hambatan. Meski ia sendiri punya hambatan saat ini; harus menjaga stan kelas dan tak bisa bertemu dengan Yuma.
Bahkan saat jam 11 ke atas, Harua sudah tak dapat lagi bergerak dari stannya. Para pengunjung terus-terusan berdatangan. Ada yang hanya mencoba sampel tester, namun lebih banyak yang memborong jualan mereka. Harua benar-benar serius melayani pelanggan mereka. Menerima pesanan, membuat pesanan, menerima uang, dan memberikan kembalian. Selama tiga jam, Harua bahkan tak ada waktu untuk duduk dan menarik napas.
Tepat jam 3 sore, barulah ia dapat duduk tenang karena shift nya sudah berakhir dan teman-teman kelasnya yang lain yang kini bergantian menjaga stan mereka. Setelah beristirahat sejenak, Harua beranjak dari stannya, ia berencana mengunjungi kelas Yuma dan melihat apa yang sedang dilakukan oleh pacarnya itu.
Pagi tadi mereka sudah bertukar pesan, Harua sudah bilang pada pacarnya bahwa kemungkinan ia akan mengunjungi kelas Yuma pada siang atau sore hari karena harus menjaga stan kelasnya. Yuma berkata oke dan Harua membalas lagi dengan bertanya apa yang akan dilakukan oleh kelas seniornya itu tetapi Yuma belum membalasnya hingga sekarang. Maka Harua pun memutuskan untuk langsung saja mengunjungi kelas Yuma tanpa mengiriminya pesan terlebih dahulu.
Di tangga, Harua melihat Jo, mantan Yuma. Ia menggerutu kecil buat apa sih orang itu ke sini dan memberinya tatapan sinis. Harua pernah sekilas melihatnya dari foto yang ditunjukkan oleh Yuma saat mereka saling bertukar cerita mengenai masa SMP mereka. Meski hanya sekilas, namun wajah itu melekat di ingatan Harua dan ia tandai sebagai orang yang harus ia jauhkan dari jangkauan Yuma.
Melihat Jo menuju kelas Yuma, Harua mempercepat langkahnya dan bersembunyi di balik jendela kelas Yuma guna melihat apa yang akan pemuda itu lakukan di kelas pacarnya. Namun saat akan menjalankan aksi memata-matainya itu, netranya membelalak mendapati pacarnya memakai kostum maid.
"Hah? Kak Yuma...?"
Harua melihat kawan kelas Yuma yang lain menggoda pacarnya saat melihat Jo mendekati Yuma. Alis Harua menukik tajam, tangannya mengepal kuat dan napasnya menghembus keras tak beraturan—Harua marah.
Maka tak dipedulikan lagi yang lainnya, Harua langsung masuk ke dalam kelas seniornya dan menarik tangan Yuma untuk beranjak dari sana. Tak peduli akan di cap sebagai junior yang kurang ajar dan perusak suasana, bagi Harua justru mereka yang kurang ajar dan merusak suasana. Yuma itu pacarnya! Untuk apa mereka menggoda pacarnya bersama mantannya? Harua betul-betul tak suka. Ia bawa pacarnya itu menuju toilet di ujung koridor lantai dua dan masuk ke dalam sana kemudian mengunci pintunya. Ia sudutkan pacarnya di tembok dan tatap mata Yuma berapi-api.
"Kamu ngapain, sih, ngundang mantanmu itu?"
Yuma mendelik tak suka mendengar Harua tak memanggilnya dengan sebutan kakak dan pacarnya itu bahkan hampir membentaknya.
"Kamu engga manggil kak? Jangan mentang-mentang kamu pacarku, jadi kurang ajar ya!"
Harua terkejut mendengar Yuma membentaknya balik, buru-buru ia mengubah mimik wajahnya menjadi lebih lembut ketika menyadari dirinya lupa memanggil Yuma dengan sebutan kakak tadi.
"Maksud aku—kakak ngapain, sih, ngundang mantan kakak itu ke sini?" ulangnya dengan nada yang lebih tenang.
Yuma mendengus dan mengalihkan wajahnya, memilih menatap bayangan Harua melalui cermin daripada harus menatap orangnya langsung. Yuma tak pernah suka Harua marah padanya, meski pacarnya itu lebih muda darinya namun jika ia ditanya siapa yang lebih menyeramkan ketika marah maka Yuma akan dengan lantang menyebut nama Harua.
"Bukan aku yang undang dia, kamu jangan nuduh sembarangan," gumamnya, untungnya masih dapat didengar oleh Harua.
"Kak Yuma lihat aku."
Yuma menggeleng, menolak untuk patuh.
"Oke, maafin Rua tiba-tiba marah engga jelas sama Kak Yuma. Rua cemburu lihat teman-teman kakak godain kakak sama dia. Rua engga suka. Maaf, ya?"
Yuma memandang Harua sekilas namun masih urung menatap pacarnya.
"Kak Yuma lihat Rua dulu~" Harua menggenggam tangan Yuma dan merengek memohon pada Yuma untuk menatapnya.
Yuma diam saja meski dalam hati ia ingin tertawa puas melihat Harua begitu frustasi ingin mendapatkan perhatiannya. Yuma sebenarnya sudah tak marah pada Harua, ia paham dan memvalidasi rasa cemburu pacarnya sebab jika ia berada di posisi Harua pun pasti ia akan menjadi bocah tantrum dan mencakar siapapun yang berani mendekati pacarnya. Yuma hanya ingin menggoda Harua saja dengan tetap memainkan peran marah-marahnya itu.
"Lihat aku atau aku cium?"
"Kayak berani aja."
"Berani," jawab Harua.
"Engga percay—"
Menginterupsi Yuma, Harua memegang pipi kiri Yuma dan menghadapkan wajah pacarnya itu ke arahnya kemudian tanpa membuang sedetikpun waktu Harua langsung mencium bibir Yuma. Mata Yuma membola lebar, tak menyangka Harua akan betul-betul menciumnya. Ngomong-ngomong, ini ciuman pertama mereka.
Harua melepaskan tautan bibir mereka dan menatap Yuma yang masih terkejut. Harua tertawa dan mengelus pipi Yuma dalam genggamannya.
"Kan sudah aku bilang, bakal aku cium."
Yuma gelagapan, matanya mengalihkan pandangan kesana-kemari asal tak bertemu dengan mata Harua yang memandangnya lembut.
"R-Rua..."
"Iya, Kak Yuma?"
"Jangan di sini..."
"Apanya?"
Yuma menggeram kesal sebab Harua tak berhenti menggodanya. Maka ia lingkarkan tangannya di leher Harua dan mencium balik pacarnya itu.
Mereka memejamkan mata, tangan Harua sigap menggendong Yuma dan mendudukkannya di penyanggah wastafel. Yuma memekik terkejut dengan aksi Harua, ia melepaskan ciuman mereka dan menutupi pahanya dengan tangannya.
"Kenapa, Kak Yuma?"
"Roknya kependekan, paha atasku kelihatan..."
Harua menatap bagian rok Yuma, memang betul roknya kependekan dan Yuma terlihat sangat tidak nyaman. Harua tersenyum dan menarik tangan Yuma untuk kembali melingkar di lehernya. Jantungnya berdegup kencang begitu menyadari pacarnya terlihat sangat cantik dan panas dengan kostum gilanya ini. Sekarang Harua menyesal harus menjaga stan kelasnya dari pagi dan meninggalkan Yuma yang begitu cantik ini melayani orang-orang di kelas seniornya itu.
"Cantik banget. Bajunya beli?" tanya Harua.
Yuma mengangguk, "Dibeli sama anak-anak kelasku."
"Kak Yuma ambil aja terus simpan di rumahku. Nanti pakai, ya, tiap nginap di rumahku."
"Sembarangan!"
"Ih, seriuuss. Cantik banget..."
Harua kembali mencium bibir Yuma dan melumatnya. Tangannya menahan tangan Yuma yang akan menarik roknya untuk menutupi paha pacarnya itu. Harua menggeleng kecil dalam ciuman mereka dan beralih menggenggam tangan Yuma dan menyalipkan jari-jarinya di antara jemari Yuma.
Harua baru melepaskan ciumannya ketika Yuma mencubit pinggangnya.
Ia meringis kesakitan dan buru-buru menepis tangan Yuma, kakak pacarnya itu senang sekali mencubitnya.
"Jangan dicubit kakak! Sakit, sshh..."
Yuma mengelus bekas cubitannya di pinggang Harua sembari cengengesan. "Hehehe, habisnya kamu ciumnya kayak engga ada hari lusa aja!" ia membela diri.
"Ih terlalu lama kalau nunggu lusa, nanti aku kalah saing sama mantan kakak," Harua merengut.
Yuma tertawa dan mencubit gemas pipi Harua. Ia menyampirkan rambut panjang Harua di telinganya dan mengecup pucuk hidung gadis itu.
"Engga akan, aku punya kamu. Hari ini, besok, lusa, dan lusa malamnya lagi."
"Kalau minggu depan?"
"Punya Rua juga."
"Kalau bulan depan?"
"Tetap punya Rua juga."
"Tahun depan?"
Yuma mendengus, "Banyak tanya, ah!"
Harua tertawa kencang kemudian memeluk Yuma. Ia beri kecupan-kecupan ringan di bahu dan puncak pacar manisnya itu yang terekspos.
"Aku mau cium kakak," ujarnya masih sembari memeluk Yuma dan menatap bayangan pundak Yuma di cermin.
"Cium aja."
"Nanti. Di kamar aku, ya? Kostumnya jangan dilepas."
Yuma tersenyum dan mengangguk, ia balas memeluk Harua meski sambil mencubit pinggang pacar kecilnya itu beberapa kali. Tidak sakit kok, Harua saja yang berlebihan dalam memberi reaksi.
