Actions

Work Header

Free Trial

Summary:

“Aku mau nawarin free trial buat tiga hari, sampai kita balik ke Korea. Biar kamu bisa mutusin mau nerima aku atau nggak.”

“Free trial? Kaya software?”

Minho mengangguk santai. “Iya. Sebelum kamu beli full version, bisa coba dulu. Kalo crash ya tinggal uninstall.”

Notes:

Another canon setting (again)… cause I can’t help myself. Sorry not sorry 😂

Work Text:

Seorang laki-laki duduk sendirian di lantai dua sebuah cafe di daerah Ueno, Tokyo. Cafe kecil yang nyaman, dindingnya dipenuhi lukisan-lukisan kecil, perabotnya dari kayu, menciptakan suasana hangat seperti di rumah. Di lantai satu ada rak buku besar berisi novel dan komik berbahasa Jepang yang bebas dibaca pengunjung.

Dari arah stasiun, seorang laki-laki memakai masker dan kepala tertutup hoodie berjalan cepat. Dia berhenti sebentar di depan cafe untuk membaca papan nama, lalu masuk dan langsung naik ke lantai dua. Tanpa menoleh ke kanan-kiri, dia menuju meja paling pojok, tempat seorang laki-laki yang sejak tadi duduk sendiri menikmati iced americano.

Laki-laki itu menurunkan tudung hoodie dan membuka maskernya, tersenyum bangga sambil memamerkan bungkusan yang ia dapat setelah mengantri setengah jam.

“Woh, banyak banget hyung belinya,” Jisung melongo melihat kantong yang ternyata berisi lima puding.

“Segini mah nggak banyak. Nanti malem juga udah habis,” Minho menjawab enteng sambil duduk, lalu menyeruput matcha latte yang sebelumnya dia titip Jisung untuk dipesan.

Tak lama kemudian, waitress datang mengantarkan makanan mereka. Satu strawberry shortcake milik Jisung, tiga canelés milik Minho.

Obrolan pun mulai mengalir ringan. Tentang acara launching album Jepang yang sedang mereka jalani, tentang kejadian lucu dengan staff, atau bagaimana kemarin pre-recording sambil menahan ngantuk karena harus berangkat pagi-pagi dari Incheon.

Sore itu mereka sengaja menyempatkan diri untuk jalan-jalan ke Ueno karena jadwal hari itu sudah selesai. Sayangnya, saat itu musim sakura sudah lewat, jadi mereka tidak bisa hanami di Taman Ueno. Jadi mereka memutuskan untuk melihat-lihat museum, mampir ke cafe, dan tentu saja, berburu puding kesukaan Minho.

Jisung melirik ke arah canelés Minho yang baru dimakan satu. Dia menelan ludah pelan. Minho yang melihatnya langsung terkekeh, “Mau? Mukamu udah mupeng banget.”

Jisung mengangguk cepat.

Minho mengangkat satu. “Aaa…” menyuapkannya langsung ke mulut Jisung yang terbuka. Jisung langsung mengunyah dan tersenyum puas, kepalanya bergoyang-goyang kecil. Dia lalu lanjut makan shortcake miliknya, tidak sadar ada krim yang tertinggal di sudut bibirnya.

Minho meraih tisu dan mengusap krim itu. “Belepotan banget kaya anak balita.”

Jisung sempat terkejut dengan sentuhan Minho yang tiba-tiba, tapi cuma tertawa dan nyeletuk asal, “Hyung, kalo kamu kaya gini terus, aku bisa-bisa ngira kamu beneran suka sama aku loh.”

Minho cuma mengedip dua kali, “Emang.”

“Hah?”

“Hah?” Minho menaikkan dua alisnya, wajahnya polos.

Mereka sama-sama melongo. Jisung merasa jantungnya jedag-jedug, tapi otaknya langsung menyela, Minho pasti lagi bercanda nih. Jadinya dia cuma tertawa dan memukul bahu Minho seperti biasa.

“Emang bener kok,” ulang Minho tenang, sebelum kembali menyeruput matcha latte-nya, seolah barusan dia tidak menjatuhkan bom yang mengguncang isi kepala Jisung.

Jisung bengong, senyumnya membeku. “Hyung, nggak lucu ah…”

Minho hanya melirik sambil tersenyum tipis, “Emang aku keliatan kaya lagi bercanda?”

Deg. Kali ini Jisung benar-benar terdiam. Pipinya langsung memerah, mulutnya tak bisa berkata apa-apa. Di bawah meja, kakinya mulai bergoyang-goyang gelisah. Matanya menatap Minho penuh selidik, tapi Minho terus bercerita tentang puding-puding yang pernah dia coba, yang mana yang paling enak.

Setelah menghabiskan makanan, mereka jalan kaki balik ke hotel. Udara hari itu sejuk, suasana juga tidak begitu ramai karena bukan musim liburan. Di pinggir taman, mereka melihat truk es krim dan akhirnya tergoda membeli, walaupun mereka sudah kenyang dessert. Jisung memilih rasa coklat, dan Minho memilih rasa strawberry.

Mereka berjalan santai sambil menikmati es krim. Tapi Jisung masih terus kepikiran kata-kata  Minho di cafe tadi.

“Hyung, kamu tuh bercandanya kadang kayak beneran,” gumam Jisung. 

Minho menoleh, lidahnya menjilat es krim. “Atau benerannya kadang kayak bercanda?”

Jisung tak menjawab, hanya fokus menjilat es krimnya. Sampai tiba-tiba…

“Belepotan lagi kan,” kata Minho. Tapi kali ini dia tidak mengambil tisu. Dia mengelap sudut bibir Jisung dengan jempolnya. Lalu, seperti adegan slow motion, Minho memasukkan jempol itu ke mulutnya sendiri. Dijilat.

“Manis.”

Minho tersenyum tipis lalu berjalan mendahului Jisung. Jisung masih membeku di tempat, wajahnya memerah sampai ke telinga. Otaknya nge-glitch dan terus memutar adegan jempol tadi. Bahkan rasa es krim di lidahnya pun mendadak hilang.

Tiba-tiba Minho menoleh. “Jadi gimana?”

Jisung berkedip, masih bengong di tempat. “Ha?” Dia perlahan kembali ke kenyataan. “Gimana apanya?”

“Yang di cafe tadi. Jadinya kamu mau nerima aku nggak?”

Jisung membuka mulut, lalu menutupnya lagi. “Hyung… kamu serius?”

Minho mengangguk, matanya menatap Jisung dengan tenang.

“Serius. Kalo kamu mau, ya ayo. Kalo enggak, ya udah… kita balik temenan.”

Jisung masih bingung. Lalu tiba-tiba dia tersenyum dan mencolekkan es krim ke pipi Minho. “Aku pikir-pikir dulu deh.”


Malamnya, bel pintu kamar hotel Jisung berbunyi. Jisung yang sedang asik main game di tempat tidur menggerutu, lalu bangkit dengan malas-malasan ke pintu. Begitu mengintip lewat peephole—

“Anjir!”

Dia langsung terlonjak kaget. Sebuah mata besar melotot dari sisi luar, nyaris menempel di peephole.

“Kaget, ege!” Jisung setengah berteriak sambil membuka pintu dengan kesal.

Minho berdiri di sana, nyengir lebar tanpa dosa dengan kedua tangan masuk ke kantong hoodie. Jisung hanya melirik tajam, lalu masuk kembali ke kamar tanpa bicara dan langsung menjatuhkan diri ke kasur. “Nyebelin banget sih,” gumamnya sambil lanjut main game.

Minho menutup pintu dan ikut rebahan di samping Jisung.

“Mau ngapain hyung? Aku belum bisa ngasih jawaban sekarang,” kata Jisung tanpa mengalihkan pandangan dari layar ponselnya.

Minho tersenyum, lalu berbaring miring sambil menopang kepala dengan satu tangan. “Aku mau nawarin free trial buat tiga hari, sampai kita balik ke Korea. Biar kamu bisa mutusin mau nerima aku atau nggak.”

Jisung berhenti ngegame, lalu menoleh pelan. “Free trial? Kaya software?”

Minho mengangguk santai. “Iya. Sebelum kamu beli full version, bisa coba dulu. Kalo crash ya tinggal uninstall. No hard feelings.”

Jisung tertawa kecil, akhirnya ikut masuk ke permainan konyol Minho. “Dapet fitur apa aja di free trial?”

“Hm…” Minho pura-pura mikir. “Cuddle and kiss. Mau coba yang mana dulu?” Tanya Minho sambil menaik-turunkan alisnya genit.

“Cuddle boleh deh.”

Minho langsung bergerak, merapikan bantal dan menarik selimut agar mereka bisa bersandar nyaman. Dia mematikan lampu lalu mulai membuka Netflix di TV hotel. Pilihannya akhirnya jatuh ke film The Conjuring. Dia tahu Jisung penakut kalau nonton film horor begini, biar bisa sekalian modus.

Mereka duduk bersandar di tumpukan bantal. Saat adegan seram mulai muncul, Jisung perlahan merapat ke Minho, lalu bersandar ke dadanya. Bukan hal yang aneh sebenarnya, mereka sudah biasa begini di dorm. Tapi kali ini rasanya agak berbeda. Lebih deg-degan.

Jisung makin merapat, lalu melingkarkan lengannya ke pinggang Minho. Minho menoleh perlahan, menatap wajah Jisung.

“Mau coba fitur ciuman nggak?”

Jisung menahan napas, lalu mendongak pelan, menatap Minho sejenak. Minho masih menunggu.

“O-oke… tapi dikit aja…” kata Jisung dengan suara lirih.

Tangan Minho menyentuh pipi Jisung, lalu mendekatkan wajahnya. Bibir mereka bersentuhan lembut. Ringan. Tapi efeknya tidak ringan sama sekali. Jisung merasa sekujur tubuhnya perlahan seperti dialiri sesuatu yang hangat. Jantungnya berdegup makin keras. Rasanya tidak ingin berhenti.

Saat Minho menjauhkan wajahnya, giliran Jisung yang mengejarnya. Mereka pun kembali tenggelam dalam ciuman. Kali ini lebih dalam, lebih lama. Tangan Minho menekan tengkuk Jisung, dan Jisung mencengkeram hoodie Minho erat. Sampai akhirnya ciuman itu terlepas karena mereka kehabisan napas. Wajah mereka sama-sama memerah dengan bibir setengah basah.

Minho menyeringai, menjilat bibir bawahnya. Napasnya sedikit berat. “Jadi gimana trial-nya?”

Jisung hanya bisa berbisik, setengah tak percaya, “Nggak nyangka bakal seenak ini…”

Minho mengangkat satu alis, “Mau langsung upgrade ke full version nggak?”

Jisung menggigit bibir bawahnya, lalu menyandarkan kepala ke bahu Minho. “Kan masih ada dua hari lagi hyung. Boleh dong aku manfaatin free trial-nya dulu.”

“Mau lanjut sampe pagi juga boleh.”


Paginya, Minho dan Jisung turun bersama ke resto hotel untuk sarapan buffet. Mereka memilih meja paling pojok yang jauh dari keramaian. Sambil menikmati omelet dan kopi, mereka ngobrol santai, sesekali cekikikan kecil.

Tiba-tiba, Changbin datang. Satu tangan membawa piring berisi salad dan dada ayam panggang, tangan lainnya membawa gelas jus jeruk. Tanpa basa-basi, dia langsung bergabung di meja mereka sambil nyeletuk, “Pagi-pagi enaknya gangguin pasangan bucin dulu nih.”

Minho dan Jisung hanya melirik sebentar, lalu lanjut makan tanpa komentar, seperti sudah terbiasa dengan keisengan Changbin.

Setelah makan beberapa suap, Changbin kepikiran mau mengajak mereka ke gym hotel setelah sarapan. Baru mau membuka mulut untuk bicara, matanya menangkap sesuatu yang aneh. Dia menatap piring mereka, tidak ada makanan pedas. Lalu matanya berpindah ke wajah mereka.

“Kalian… kenapa bibirnya jontor gitu dah?” Changbin memicingkan mata curiga. “Habis suntik filler?”

Jisung hampir tersedak dan buru-buru meraih gelasnya. Minho menatap Changbin tanpa ekspresi. “Habis makan buldak,” ujarnya datar, lalu lanjut menyeruput kopi.

Jisung menunduk cepat, berusaha menahan tawa di balik gelas. Pipinya sudah merah padam.

Changbin masih menyipit curiga, belum puas. Masa iya pagi-pagi udah makan buldak? Tapi belum sempat menginterogasi lebih jauh, tiba-tiba terdengar suara familiar memanggil.

“Minho-hyung! Akhirnya ketemu juga!” Jeongin mendekat ke meja mereka. Dia baru saja masuk ke resto dan langsung mengenali tiga kepala yang duduk di meja pojok. “Ih, semalem hyung ke mana? Aku mencet-mencet bel kamarmu mau ngembaliin charger, tapi nggak dibukain. Ditelpon juga nggak diangkat.”

Changbin langsung bersandar, menyilangkan tangan di depan dada. Alisnya terangkat tinggi dengan senyum setengah meledek.

“Oh… habis makan buldak ya…” Tatapannya berpindah dari Minho ke Jisung. “Buldaknya dipeperin di bibir Jisung ya…”

Kali ini Minho dan Jisung langsung terbatuk-batuk. Jisung buru-buru menutup mulut dengan tisu, sementara Minho memalingkan wajahnya dari Changbin dan Jeongin.

Jeongin berdiri mematung. “Apaan sih?” gumamnya pelan, bingung melihat tiga hyung-nya yang mendadak bertingkah aneh.


Pesawat yang mereka tumpangi baru saja mendarat di Bandara Incheon. Begitu menginjakkan kaki di terminal kedatangan, Minho langsung berjalan di sisi Jisung, tak terpisahkan seperti magnet, sumpit, yin-yang, atau apapun lah sebutannya. 

Di bagian imigrasi, antrian untuk scan paspor mulai mengular. Sambil menunggu, Minho merapatkan badannya ke belakang Jisung, lalu menunduk dan berbisik pelan.

“Free trial-nya udah habis hari ini. Mau uninstall atau lanjut upgrade ke full version?”

Jisung menoleh perlahan, menurunkan setengah maskernya. “Kalau upgrade full version, dapet fitur apa aja?”

Orang sekitar yang mendengar percakapan itu, pasti akan mengira mereka sedang membicarakan software atau aplikasi. Padahal… ehem.

Minho menangkupkan tangannya di telinga Jisung, lalu membisikkan sesuatu. Wajah Jisung seketika memerah, tangannya refleks meninju bahu Minho pelan. “Mulutnya tolong dijaga ya,” kata Jisung sambil tertawa.

“Oke nggak fitur premiumnya?” tanya Minho sambil cekikikan.

“Boleh juga…” gumam Jisung. “Kalo gitu… aku mau upgrade. Bayarnya gimana?”

”Bayar pake cinta,” jawab Minho santai, lalu mengedipkan satu mata. “Masa berlaku seumur hidup.”

“Idih, cringe banget!! Huek!” Jisung pura-pura memasang wajah jijik. Minho juga ikut tertawa geli begitu menyadari betapa cringe-nya dia tadi.

“Kalo di tengah-tengah ada bug gimana?” tanya Jisung sambil menatap ke depan.

“Tenang. Nanti langsung aku kirim patch-nya di update terbaru.”

Jisung tersenyum geli mendengar betapa konyolnya obrolan mereka.

Minho melanjutkan, setengah berbisik. “Tapi aku serius. Kalo kamu mau, kita bisa upgrade ke full version permanen.”

Jisung menoleh cepat. Tidak ada lagi tawa cekikikan di antara mereka. Matanya menatap Minho lama.

Setelah beberapa detik, Jisung akhirnya bicara. “Oke. Aku juga bukan user yang gampang uninstall.”

“Bagus, berarti aku nggak perlu nyediain tombol uninstall.”