Work Text:
Perasaan sayang secara romansa itu terdengar asing bagi Sakura. Dari bagaimana cara mendeskripsikannya, dijabarkannya, mengatakannya, dan lain sebagainya. Mungkin jika dipikir, sayang itu juga punya bentuk: apakah bentuknya sama seperti saat kamu menyatukan kedua tangan dan membentuk menggunakan jari-jari. Namun nyatanya, ketidaktahuan Sakura tentang rasa sayang itu tidak pernah divalidasi atau tervalidasi hingga saat ini. Dia juga tidak memaksakan diri untuk harus mengetahuinya. Karena sedikit gengsi.
Lelaki dengan surai dwi warna sendiri tidak kuat jika berada di situasi mendengar obrolan—mau itu disengaja atau tidak—romansa yang diceritakan teman-temannya. Contohnya saat Tsugeura membicarakan hubungan romansa temannya yang terdengar seperti dongeng, membuat Sakura mengeratkan genggaman minuman kalengnya sehingga kaleng tersebut sudah tidak dalam bentuk semula. Juga ketika Kiryu mengulas komik bertema kisah cinta saat mereka sedang berkumpul, wajahnya memanas, jantungnya berdetak kian kencang dan akhirnya dijadikan bahan godaan teman-temannya.
Sakura berpikir: bagaimana jika dia mati konyol hanya karena mendengar kisah cinta yang bahkan belum pernah dialaminya?
Mati konyol dan itu bukan disebabkan perkelahian hebat yang diidamkan Sakura—lagipula dia tidak berniat untuk kalah, bahkan sebelum dia bisa menemukan kisahnya sendiri. Tapi, terpikirkan saja sebenarnya tidak. Karena benak Sakura selama ini telah dikabuti keinginan untuk berada di puncak, itu juga disebabkan ‘melarikan diri’ dari keterlibatan perasaan manusia yang kompleks. Dan salah satunya adalah cinta.
Akal sehat Sakura masih berpikir bahwa dia tidak pantas mendapatkan rasa sayang dari segi pandang apapun—secara keluarga, teman, kekasih dan lainnya. Masih ada takut menjadikan pandangannya berkabut, gelap menjadikannya gelagap, sehingga akses keingintahuan dari perasaan tersebut diberi garis batas, menjadikannya buntu. Maka dari itu, perasaan sayang masih terdengar asing bagi Sakura.
“Sakura.”
Yang merasa memiliki nama menoleh pada sumber suara, menghentikannya dari kegiatan lap keringat di pelipisnya. Sebuah tangan terulur dengan botol minum di tangannya, hampir mengenai pangkal hidung si dwi warna.
Suo melukis senyum di wajahnya, di latar belakangi matahari yang akan segera berganti menjadi malam. Jika diberi deskripsi seperti adegan novel romansa remaja, senyum Suo adalah pahatan yang Tuhan sendiri lakukan, matahari di belakangnya memberikan kesan dramatis seolah hanya ingin menyorot sosok pangeran utama. Definisi sempurna.
Namun Sakura hanya berpikir itu adalah senyuman yang menyebalkan, hampir seperti senyum dengan arti tersembunyi.
“Bukankah bermain kejar-kejaran seperti ini terasa menyenangkan?” Suo duduk di sebelah setelah lelaki dwi warna itu menerima botol minum darinya.
Dalam sesaat, tangan Sakura terasa kesemutan, wajahnya yang sudah memerah karena rasa lelah hanya membuatnya semakin seperti tomat cantik dari kebun Umemiya.
Yang lelaki berpenutup mata itu kira bahwa Sakura akan segera mengelak seperti biasanya, ternyata membuat mimik wajah Suo berubah sesaat.
“Ya… aku pikir tidak buruk juga.” cicitnya menggaruk pelipis penuh keringat yang tidak gatal.
Senyum Suo melebar kala perasaan lega mengisi penuh hatinya, tatapannya masih sama, tidak melepaskan pandangan dari si dwi warna itu.
Rambut hitam putih milik empunya terlihat sedikit lepek karena keringat yang masih turun ke pelipis hingga dagunya. Dari wajah, telinga dan lehernya berwarna merah padam—kontras dengan warna kulit Sakura. Dadanya kerap naik turun sedikit agresif, seolah berusaha meraup semua oksigen agar jantungnya kembali stabil.
Berbeda dengan keadaan Suo, sama sekali tidak ada keringat di pelipisnya. Keadaan bajunya juga masih sangat rapi seolah dia sama sekali tidak berlari sedikitpun.
Jika bukan karena permainan tiba-tiba yang direncanakan anak-anak kelas 1-1 untuk bermain kejar-kejaran di hari libur sekolah, tengah hari pula, Sakura mungkin tidak akan seperti ini. Dan juga jika bukan karena hadiah untuk pemenang dari kejar-kejaran: dapat makan omurice gratis selama tiga hari berturut-turut, Sakura sepertinya tidak akan menganggap permainan ini begitu serius secara diam-diam.
Meski jika tidak ada hadiah untuk pemenang di permainan sekalipun, Sakura tentu tidak akan kalah semudah itu.
Sebenarnya cukup mudah bahkan untuk bersembunyi saja, karena entah kenapa, syarat yang diperbolehkan adalah: bermain di sekitar Makochi. Kau bisa berlari sejauh mungkin, bersembunyi dimanapun asalkan masih berada di sekitar Makochi.
Hanya saja pelajar Furin itu benar-benar tidak bisa dianggap sepele, buktinya jika memang mudah, seorang Sakura tidak akan dibuat basah dimandikan peluh begini. Lari mereka begitu kencang seperti angin sehingga Sakura hampir saja kewalahan.
Jika saja tadi dia tidak berpapasan dengan Suo—yang membawanya pergi ke taman, mungkin Sakura akan tertangkap karena hampir tersandung konyol. Kini di sini lah keduanya berada, taman yang entah kenapa—Sakura pikir—sangat sepi, seharusnya ada beberapa juga dari mereka yang lain untuk bersembunyi atau beristirahat di sini.
Begitu Sakura telah meminum setengah dari isi botol di genggamannya, dia mendengar Suo berbicara hampir seperti sedang bergumam sendiri. “Sakura seperti kucing yang sedang diajak bermain, ya? Begitu bersemangat sampai penuh peluh begitu. Imut, lho.”
Rasanya ingin sekali Sakura menyemburkan minum yang telah dia telan itu.
Sakura berdiri dari duduknya, menunjuk ke arah Suo dengan botol yang sudah dia minum. “Apa!? T-tidak!”
Otaknya berhenti bekerja dalam sekejap, suasana di sekitarnya juga terasa lebih sesak dan lembab, suhu tubuhnya terasa naik lagi. Kini jantungnya berdegup lebih kencang daripada saat Sakura tengah melarikan diri dari tiga orang sekaligus.
Sebenarnya sudah lumayan lama—tidak ingat persis—Sakura merasakan suasana dan sifat tidak familiar ketika berada di dekat Suo. Terkadang jika yang mereka lakukan hanya berdiri bersebelahan tanpa suara, Sakura akan mengambil langkah besar guna memberi jarak, dan berpura-pura melihat keadaan sekitar.
Tapi Sakura juga tidak bodoh, Suo pasti akan sadar jika Sakura bersikap aneh ketika dirinya memperlihatkan gelisah.
Meski perasaan yang asing, bukan sesuatu yang Sakura benci, bukan sesuatu yang Sakura tolak. Hanya sedikit aneh berujung sedikit candu.
Rasanya Sakura akan mati saat ini juga.
Setelah berdiri menatap Suo lumayan lama untuk menenangkan diri, Sakura merasa canggung sendiri. Sedangkan yang ditatap hanya tersenyum, menaikkan alis, berekspresi ‘memangnya apa yang telah aku katakan tadi?’, lalu menyilangkan tangan di dadanya.
Seperti kucing yang akhirnya luluh untuk berada di sekitar manusia, Sakura kembali duduk, hanya saja sedikit lebih jauh dari Suo.
Lelaki dengan penutup mata itu terkekeh, tidak berhenti mengatakan lucu dalam kepalanya.
Di sisi lain, Sakura kebingungan, berpikir ke mana arah perasaan yang tadi sempat singgah sehingga membuatnya hilang akal pikir. Rasanya seperti saat Sakura digoda teman-teman lain, dia juga akan bereaksi sama: wajah memerah, malu. Namun jujur saja jika Suo yang melakukannya, rasanya seperti sengatan listrik mengalir dari buku jari hingga perutnya.
Tapi bukankah itu sama saja? Sakura sama-sama malu, tidak bisa begitu membedakan mana yang dalam artian malu biasa atau malu yang— tunggu, memangnya malu itu ada berapa tingkatan?
Apakah malu yang disebabkan Suo sehingga terdapat sengatan listrik di perutnya adalah pertanda buruk… karena dia jarang bereaksi seperti ini. Apa sebenarnya dia hanya sakit perut?
Rasanya Sakura benar-benar akan mati sekarang juga.
Namun sepertinya pingsan lebih baik, agar dia bisa lebih mencari tau perasaan apa ini secara diam-diam.
Begitu asyik bergumul dalam pikiran, Suo menyentuh telinga Sakura dengan jari telunjuknya. Tersengat geli cukup mengalihkan akal sehat Sakura kembali pada realita, terkesiap sambil terbata ingin mengatakan sesuatu, tapi tenggorokannya enggan mengeluarkan suara.
“Jika kau merasa aneh dengan semua reaksi yang selama ini kau rasakan denganku, ketahuilah bahwa artinya itu lebih istimewa, Sakura.”
Pernyataan Suo menjadikan suasana di sekitar mereka terasa lembab—bagi Sakura. Telapak tangannya gatal untuk sekedar digaruk, ingin rasanya dia menggigit telapak tangan sendiri untuk menghindari sensorik aneh ini.
Botol plastik di tangannya diremas tanpa sadar, arah pandang berkeliaran ke semua sisi namun tidak untuk sekedar menatap sedetik pada surai Suo.
Tapi lawan bicara Sakura masih tidak menyerah untuk mencoba mengalihkan pandangan seutuhnya milik Sakura padanya, “Setidaknya jangan mencoba untuk menyangkalnya, karena siapa tau perasaanmu itu mutual.”
Jari-jari Sakura tidak bisa cukup diam saja selama terperangkap dalam keadaan genting seperti ini, membuka tutup botol namun tidak untuk diminum. Dia melakukan ini bermaksud agar rasa geli di telapak tangannya segera pergi.
“Jangan bicara seperti itu, lagi pula apa yang kau maksud dengan mutual—” ah, tunggu, apa maksudnya yang mutual? Rasa malunya atau apa?
Selagi Sakura akan melakukan pergumulan dalam pikiran, tangan Suo terulur, mengapit dagu lelaki dwi warna guna jari telunjuk dan ibu jarinya. Warna mata anggur itu mencoba mengalihkan perhatian lelaki yang diapit, mencoba menenggelamkan akal sehatnya.
“Hah—!?”
“Sakura,” suara Suo yang hampir seperti bisikan itu akhirnya berhasil mengambil penuh atensi Sakura.
Pemilik nama merasa tersihir, semula tubuhnya menegang kini sedikit santai, caranya mengambil napas juga lebih tenang dari sebelumnya. Hanya saja bohong jika Sakura tidak merasakan jantungnya menggila, jika tidak segera diberi validasi—ketenangan, maka tidak perlu kaget Sakura kehilangan nyawa, yang awalnya ada sembilan, kini tersisa delapan.
“Jangan mengalihkan pandangan lagi.”
Perasaan romansa begitu asing bagi Sakura. Tapi mungkin jika Sakura mau untuk menjelajahinya, setidaknya dia akan lebih berani untuk menerima perasaan asing seperti ini di lain waktu.
Maksudnya lebih berani untuk menghadapi Suo seperti ini.
Sakura tidak menyadari bahwa jarak antara mereka semakin dekat, padahal Sakura sudah yakin tadi duduk berjarak lumayan jauh dari Suo. Selain jarak duduk yang mendekat, wajah mereka juga cukup dekat.
Tiupan angin sesekali menyapu wajah keduanya, rambut Suo yang tidak basah seperti keadaan Sakura saat ini terbawa arah angin, menjadikannya sungguh seperti tokoh utama layak disukai banyak orang di dunia.
Paniknya Sakura kembali datang karena Suo sudah mengikis jarak antara bibir mereka, bergerak sedikit saja mereka akan…
Berciuman!? Ini yang biasanya ada di film barat yang pernah dia tonton, kan? Saat kedua karakter saling menyukai dan mereka menyampaikan perasaannya lewat ciuman. Apakah Suo bermaksud melakukannya sekarang!?
Batin Sakura menjerit seperti orang gila, mulutnya hampir menganga lebar, hanya saja entah kenapa matanya mengkhianati dengan hampir terpejam penuh untuk merasakan bagaimana rasa peraduan antar bibir itu terjadi.
Sayang, semua tidak berjalan sesuai keinginan keduanya—apalagi Suo. Karena Sakura baru saja menyemburkan sisa air di dalam botol yang telah diminum setengahnya ke arah wajahnya sendiri.
Wajah lelaki dwi warna itu kembali basah, lebih basah dari mandi keringat sebelumnya. Suo sudah memberikan jarak antara kedua wajah mereka, namun masih menatap Sakura, dengan wajah terkejut atas serangan air yang tiba-tiba. Tangan Suo masih bertengger di dagu Sakura, pakaian lengannya ikut basah karena air tadi.
Semua dikarenakan ego Sakura berhasil mendominasi tubuhnya untuk menghentikan—nyaris—ciuman tadi. Dalam hati paling dalam, bohong jika Sakura tidak menyayanginya. Nasi sudah menjadi bubur, maka biarkanlah.
Kini keduanya menyisakan keheningan yang… sedikit canggung. Angin yang sebelumnya hanya mengusap punggung Sakura, sekarang terasa seperti pukulan yang membuatnya malu setengah mati.
Tiba-tiba terdengar suara dengusan kecil, Sakura mengira itu adalah pertanda Suo kesal karena Sakura baru saja menggagalkan rencana ciuman pertamanya. Namun Sakura dapat menghembuskan napas lega saat melihat Suo baru saja tertawa lepas, lebih ekspresif dari tawa yang biasa Suo perlihatkan.
Perutnya ikut merasakan geli untuk ikut tertawa hanya karena melihat Suo tertawa.
Apakah perasaan seperti ini adalah salah satu yang Sakura cari?
Di sela tawa yang belum kunjung akan berhenti, Suo mengusap air di wajah Sakura dengan ibu jarinya. “Sakura, sekarang wajahmu jadi lebih basah. Bagaimana ini?”
Semu merah kembali hinggap di pipi Sakura, meninggalkan rasa kesemutan dan pegal, kali ini Sakura tidak menjauh begitu saja. Tangannya meraih pergelangan Suo yang masih mengapit dagunya.
“J-jangan gila, tiba-tiba seperti itu…”
Baru saja Suo akan mengucapkan maaf, Sakura mengeratkan sedikit genggaman di pergelangan Suo, “Maksudku jangan disaat seperti ini. Bagaimana jika ada yang melihat?”
Suo menyunggingkan senyum, “Kalau begitu, saat di perjalanan pulang tidak apa-apa?”
“Kau gila, ya!? Lagi pula kenapa— jangan saat aku basah keringat begini!”
“Sakura,” dagu Sakura merasakan sentuhan yang jatuh, karena pipi lelaki dwi warna itu kini dieratkan kedua tangan Suo, “Maaf, itu karena Sakura begitu lucu. Aku jadi tidak tahan.”
Giliran Suo yang memperlihatkan rona merah di wajahnya, meski samar, Sakura dapat melihatnya secara jelas. “Katakan jika tidak merasa nyaman.”
“Tidak! Maksudnya—”
“Aku tau, Sakura juga ingin merasakannya, kan? Ciuman dariku.” usil Suo dengan senyum menyebalkannya itu.
Sakura membelalakkan matanya, lalu berdiri dari duduknya lagi. Sudah tidak terhitung berapa kali perasaan mungil nan lemahnya ini diusili Suo, tapi yang pasti Sakura ingin sekali lari dari Suo sejauh mungkin untuk mengubur rasa malunya. Maka Sakura benar-benar melakukannya, egonya sekali lagi menang mengambil alih kuasa tubuhnya.
Terserah jika Sakura akan dipanggil cupu karena perasaan asing yang tidak dia mengerti itu, yang penting sekarang dia harus menyelamatkan jantungnya terlebih dahulu.
Mungkin dia akan menghubungi seseorang yang lebih berpengalaman juga soal ini, jika Tsubaki tidak keberatan, Sakura harus bertanya padanya!
Belum sejauh lima meter, Sakura berbalik untuk menemukan senyum Suo yang belum juga luntur dari wajahnya, seolah memang dipahat seperti itu sejak awal. “Awas kau, Suo Hayato! Akan ku buat kau merasakan malu hingga rasanya akan meledak juga!”
Keinginan Suo untuk kembali mengusili Sakura kian meningkat. “Apa? ‘Juga’? Jadi selama ini kau benar-benar akan meledak karena aku? Sungguh sebuah kehormatan.”
“Sial! Jangan— Ah, aku tidak peduli! Kau kembali dan aku akan melayangkan pukulan!”
“Tunggu, Sakura. Bagaimana jika kau ditemukan dan ditangkap?” sia-sia Suo menahan Sakura modalkan suara saja, karena sosoknya semakin jauh tidak terlihat.
Tidak apa-apa, mau bagaimana lagi. Memang tadi itu terlalu cepat untuk mereka yang masih berstatus teman ini. Terlebih, sekarang bukan itu yang harus dipermasalahkan—
Suo mengarahkan pandangan pada bangunan rumah di belakangnya. “Keluarlah. Mau sampai kapan kalian bersembunyi di belakang?”
Lalu orang-orang yang bersembunyi perlahan memperlihatkan batang hidung mereka, memperlihatkan ekspresi ‘tidak melihat apa-apa’, menggaruk belakang kepalanya tidak kalah canggung.
“Tadi itu adegan yang luar biasa, Suo. Seperti aku baru saja melihat kisah komik romansa.” celetuk Kiryuu.
Nirei yang sedari tadi sibuk menatap langit akhirnya angkat bicara. “Tapi aku tidak menyangka Sakura akan membasahi dirinya sendiri seperti itu. Bahkan larinya lebih kencang daripada saat dia bermain kejar-kejaran.”
Tsugeura menggelengkan kepala, mengatakan sesuatu sehingga hampir seperti kalimat semangat secara tidak langsung. “Padahal Suo benar-benar sudah menunjukkan auranya di depan Sakura.”
Suo menimpali perkataan mereka dengan pertanyaan pengalihan. “Kenapa kalian ada di sini? Bagaimana dengan permainannya?”
“Yang lain bilang permainannya akan dimainkan ulang saat di sekolah saja. Berlarian sekitar Makochi terlalu besar sehingga sulit dan membutuhkan waktu yang lama,” Nirei mengeluarkan ponsel dan memperlihatkan pesan grup. “Lihat, bukankah sebentar lagi matahari akan benar-benar turun? Sebaiknya kita pulang saja.”
Kiryuu juga mengeluarkan ponsel dan jarinya bergerak cepat di layar ponsel. “Aku juga akan mengabari Sakura lewat telepon, karena kalian tadi tidak membaca pesan grup.”
Suo hanya mengangguk paham dan tersenyum. “Jadi itu sebabnya kalian mencari aku dan Sakura?”
Semuanya mendadak kelu, saling melempar tatapan dan mengelak. “Eh? Tidak juga, tadi kita hanya lewat, kan, Kiryuu?”
“Oh? I-iya, kita juga tadi berpapasan saat belokan….”
“Ngomong-ngomong,” Tsugeura mengalihkan pembicaraan. “Tadi itu hampir saja, ya?”
Mereka bertiga—selain Suo—berpikir sejenak dalam diam, lalu saling melempar tatapan lagi, namun kini dengan ekspresi kecewa dan membuang napas gusar. “Benar juga, sayang sekali….”
“Kenapa jadi kalian yang lebih kecewa daripada aku?”
