Actions

Work Header

Rating:
Archive Warning:
Category:
Fandom:
Relationship:
Characters:
Additional Tags:
Language:
Bahasa Indonesia
Stats:
Published:
2025-05-20
Words:
2,808
Chapters:
1/1
Kudos:
3
Hits:
56

Not Enemy

Summary:

Of course Yongha and Yohan are enemies. There is no way they're friend, let alone a lover. No way, right?

Right..?

Work Text:

Sore ini semesta seakan tengah bersedih. Awan gelap berani menutupi cerahnya langit dan sinar mentari, bergemuruh pelan sebelum akhirnya menumpahkan airnya ke muka bumi.

Tak jauh beda dengan suasana hati pemuda yang kini duduk sendirian di kafe persimpangan kota. Dia menghadap ke tembok dengan wajah yang murung, menggenggam gelas minumannya dengan gugup dan gusar. Beberapa kali pandangannya bergerak ke pintu kafe tiap loncengnya berdenting, lalu melirik ponselnya yang ia letakkan di atas meja.

Di luar hujan. Pemuda itu agaknya merasa khawatir seseorang akan kehujanan. Atau malah, seseorang mungkin tak akan jadi ke sini, berakhir dengan dia yang terjebak di kafe sendirian.

Ia menghela napas. Tangannya meraih ponselnya dan kemudian mengirimkan pesan pada seseorang yang ditunggu.

YH

lo di mana..?

“Di sini.”

Pemuda itu tersentak kaget. Kepalanya menoleh cepat kepada sumber suara, mendapati seseorang yang sudah ia tunggu-tunggu mengulum senyum canggung dan mengambil duduk di depannya.

“Maaf terlambat.”

Pemuda itu menggeleng pada yang lain. “Gak masalah. Gue juga belum lama di sini.”

Pemuda yang lain menghembuskan napas lega, tapi senyum canggungnya masih terukir di sana. Tak jauh beda dengan lelaki yang kembali menggenggam gelasnya.

“Lo gak pesen minuman?”

“Gue belum haus. Nanti aja.”

“Aah.. Okay.”

Hening kembali. Hanya ada suara hujan menyapa pendengaran keduanya, beriringan dengan musik klasik yang diputar dari pengeras suara kafe.

“Lo.. apa kabar?”

Pemuda itu bertanya seraya menatap yang lain, memandangnya dari ujung kepala sampai ujung kaki, dan mendapati beberapa perban masih menempel pada kulitnya. Dia meringis pelan. Bibirnya digigit tanpa sadar.

Kembali dadanya sesak lantaran merasa bersalah atas apa yang telah dia lakukan beberapa minggu lalu.

Yang diperhatikan terbatuk pelan. “Baik. Lo?”

“Entahlah,” dia menjawab ragu, tapi arah matanya tidak berpindah dari perban yang ada di lengan kanan lelaki itu.

“Kenapa?” pemuda yang lain terkekeh pelan, berusaha mencairkan suasana yang terasa makin canggung. “Lo keliatan ragu, itu aneh. Kim Yohan yang gue kenal kayaknya hampir gak pernah meragu.”

Yang dipanggil Kim Yohan menghela napas berat. Dia membuang wajah bersamaan dengan genggaman pada gelasnya mengerat. “Emangnya gak boleh kalau gue cuma gak yakin sama kabar gue sendiri?”

“Haha. Bukan gak boleh, cuma aneh aja,” jawab pemuda yang lain, lalu mengulum senyum tipis. “Kayaknya lo gak lagi baik-baik aja.”

“Ya.. kayaknya gitu.”

“Kenapa? Karena habis ngehajar gue?”

Yohan seketika membatu. Ia mendadak tak bisa berpikir apa pun kecuali rada bersalah yang makin bertumbuh di dadanya dan kepalanya sendiri. Gelasnya digenggam makin erat, bersamaan dengan ia menarik napas yang mendadak tercekat.

“Yohan?” pemuda yang lain menyenggol tangan Yohan, membuat Yohan mengangkat kepalanya dengan mata yang berair.

Pemuda itu mendadak kepanikan. “Hey.. Sorry.. gue cuma bercanda..”

“Kenapa malah lo yang minta maaf?” Yohan menarik napas. Ia menyeka matanya sebelum ada air mata yang menetes. “Harusnya gue yang minta maaf ke lo, Yongha.”

Pemuda yang dipanggil Yongha terdiam. Ia menatap Yohan tepat pada matanya yang juga tengah memandangnya sendu. Ada pancaran rasa sedih dan ketakutan dari sana, membuat Yongha ikut merasa bersalah.

Yohan dan Yongha terlibat pertengkaran beberapa minggu lalu. Pertengkaran yang orang-orang ketahui karena keduanya memperebutkan perempuan yang mereka senangi, namanya Kim Sihyeon. Yohan yang punya badan lebih besar dan juga skill bela diri yang lebih terasah, membuat Yongha keteteran melawan serangan lelaki itu. Apalagi keduanya tengah emosi.

Yongha kalah, jatuh tersungkur tapi Yohan masih memukulnya bertubi-tubi sampai pingsan sehingga ia harus dirawat di rumah sakit selama beberapa hari karena cedera dan memar yang cukup parah.

“Maafin gue, Yoo Yongha..”

“Itu sebabnya lo ngajak gue ketemu?”

Yohan mengangguk. Mati-matian dia menahan air matanya agar tidak tumpah. Dasar cengeng. Mengapa dia jadi sesensitif ini sampai mau menangis.

“Gue minta maaf. Maaf, karena bikin lo babak belur cuma karena hal sepele.”

Yongha menggigit bibirnya, tersenyum miring. “Sihyeon apa kabar?”

Yohan mendengus pelan. Dia segera memutus kontak mata dengan Yongha. “Gak tahu. Udah lama nggak lihat dia. Gue diskors, gak inget?”

“Ah, bener. Maaf, gara-gara gue, lo jadi diskors.”

“I deserved that. Don't be sorry.”

Yongha tersenyum. Ia menumpu wajahnya pada meja dan kembali memandang Yohan yang tengah memainkan tangannya sendiri.

Dengan ragu tapi pasti, tangan Yongha terulur untuk mengenggam tangan Yohan, membuat sang empu tersentak dan langsung membuat kontak mata dengannya.

Yongha mengabaikan gelagat Yohan. Malah, ia makin mengeratkan pegangannya pada tangan kecil Yohan.

“Kenapa kita bisa jadi musuh, Yohan?”

Yohan menggeleng kecil. Dengan jantung yang berdegup kencang, Yohan perlahan ikut menggenggam tangan Yongha dan memainkan jari-jarinya.

“Lo gak benci gue, kan?” tanya Yongha.

Yohan menggeleng. “Enggak.”

“Lantas kenapa lo tiba-tiba bikin bendera perang di antara kita?”

Yohan menghela napas. Ekspresinya berubah menjadi kesal tapi wajahnya berubah jadi merah.

“Jangan pura-pura gak tahu.”

Yongha terkikik geli. Dia paham arah pembicaraan yang Yohan maksud.

“Kalau gitu, pilih satu,” Yongha menarik tangannya, menatap jahil pada Yohan yang terlihat kesal tapi juga gugup. “Gue atau Sihyeon?”

“Ah Yongha.. Apaan sih pertanyaan lo..”

Kekehan Yongha makin keras, membuat Yohan mencebik jengkel. Dia mendengus kesal sebelum melotot pada Yongha. “Berhenti ketawa!”

“Maaf,” kata Yongha dengan sisa-sisa tawanya, kemudian kini kembali menatap Yohan tepat pada matanya.

“Tapi gue serius sama pertanyaan gue, Yohan.”

Yohan membeku ditempat.

Orang-orang tahunya mereka bertengkar karena sama-sama menyukai Sihyeon. Itu benar. Yongha maupun Yohan tak mengelak bahwa Sihyeon memang punya tempat spesial di hati keduanya.

Namun tak ada yang tahu, sebuah fakta yang berhasil disembunyikan rapat-rapat di antara keduanya.

Bahwa Yohan dan Yongha saling menyukai satu sama lain.

Sejak kapan? Keduanya pun tak tahu menahu. Hal itu terjadi begitu saja. Menjadi teman dekat sejak masa orientasi, saling menyenangi satu perempuan yang sama..

..tapi kemudian berakhir berpelukan di satu ranjang yang sama.

Bendera perang dikibarkan keesokkan harinya.

Sudah 4 bulan berlalu semenjak kejadian itu. Sudah 4 bulan pula orang-orang berpikir bahwa Yongha dan Yohan mulai berperang sengit memperebutkan Sihyeon—yang jelas-jelas sudah menunjukkan penolakannya karena dia menyukai kakak kelas mereka, Lee Juyeon.

Tapi Yohan dan Yongha mana peduli. Selagi status pacaran belum diikatkan oleh Sihyeon dan Juyeon, mereka masih punya kesempatan untuk mendekati Sihyeon.

Mulanya sih begitu.

Tapi, lama-lama, Sihyeon cuma jadi bahan mengetes perasaan masing-masing.

Sebelum pertengkaran terjadi, Yongha mengajak Sihyeon bicara untuk membahas tugas kelompok mereka. Sayangnya, Yongha mengajaknya sambil memegang tangan Sihyeon, tersenyum hangat bahkan mengajak Sihyeon untuk mengerjakannya di rumah Yongha.

Yohan yang melihat pemandangan itu mengepalkan tangannya erat. Rahangnya mengeras karena kesal. Yeonjun—teman sekelompok Yohan pikir Yohan cemburu kepada Yongha.

Ya, Yohan memang cemburu.

Tapi bukan karena Yongha memiliki kesempatan untuk dekat dengan Sihyeon.

Melainkan karena Yongha mengajak Sihyeon ke rumahnya.

Pertengkaran terjadi karena Yongha justru terkekeh meremehkan saat Yohan melabraknya.

“Kenapa lo ajak Sihyeon ke rumah lo?”

“Emang kenapa?” jawab Yongha sarkastik waktu itu. “Gue sama dia mau kerjain tugas, bukan mau tidur bareng.”

Yohan malu dan marah. Dia tak dapat menahan impuls tangannya yang langsung menonjok Yongha saat itu juga. Membuat Yongha tersungkur dan pertengkaran tak dapat dihindari.

Sepele, bukan? Hanya karena perihal mengajak nugas, Yohan memukul Yongha sampai babak belur.

Bagaimana Yohan tak mau merasa bersalah, saat melihat orang yang disenanginya terluka karena dirinya sendiri?

Mungkin memang aneh. Bagaimana bisa Yohan dan Yongha saling menyukai tapi disaat yang bersamaan juga sama-sama menyenangi Sihyeon.

Tapi bukankah menyukai dua orang yang sama disaat yang bersamaan itu manusiawi? Wajar? Dan bukan kasus satu atau dua kali saja, kan?

“Jangan ngelamun, Yohan,” panggil Yongha, membuat Yohan tersadar dari lamunannya dan langsung menatap Yongha yang rupanya tengah terkekeh manis.

“Sorry,” jawab Yohan seadanya.

Yongha tak menjawab, hanya senyuman lembut yang ditampilkannya.

“Mau main ke rumah?” tanya Yongha kemudian.

Yohan terkejut atas ajakan Yongha yang tiba-tiba. Dadanya bergemuruh hebat karenanya. Ini ajakan main pertama setelah bermusuhan tanpa dasar alasan yang jelas.

“Orang tua lo?”

“Biasa.”

“Ke luar kota?”

Yongha mengangguk mengiyakan. Rupanya Yohan masih mengingat hal-hal tentang dirinya, membuat Yongha berdesir ringan. “Mau gak?”

Bohong bila Yohan tak mau. Jujur ia rindu main ke rumah Yongha—rumah yang menjadi saksi mata pernyataan suka dari keduanya. Tapi dia masih malu.. Dan lagi, cuaca di luar tidak mendukung.

“Tapi hujan.”

“Gue bawa mobil,” jawab Yongha seraya mengangkat kunci mobilnya. “Gue gak bisa nyetir motor saat masih cedera gini.”

Kebetulan Yohan tak bawa kendaraan. Tadi dia jalan kaki ke sini. Maka tahu Yongha membawa mobil, Yohan langsung mengangguk kecil, mengiyakan ajakan Yongha.

“Biar gue yang nyetir. Lo masih sakit.”

Yongha melempar kunci mobilnya pada Yohan. “Ke mekdi dulu. Di rumah gak ada apa-apa.”

“Lo yang bayar.”

“No worries.”

Yohan menggigit bibirnya gugup ketika dia sampai di pintu depan kediaman keluarga Yoo. Sang tuan rumah sendiri masih memasukkan mobilnya ke garasi karena Yohan tak berani, takut bikin mobil orang lecet karena skill mengemudinya yang belum selancar Yongha.

Yongha muncul tak berapa kemudian, kemudian terkekeh saat melihat Yohan masih mematung di depan pintu.

“Kenapa belum masuk?”

Yohan tersentak sesaat, kemudian langsung membuka pintu rumah Yongha sambil membawa plastik penuh makanan.

“Gue menghargai tuan rumah, lah.”

“Bukan karena takut lihat sofa?”

“Bajingan.”

Bisa-bisanya Yongha tertawa lepas saat Yohan memerah malu sekaligus kesal. Sofa di ruang tamu Yongha adalah saksi bisu pertama keduanya menyatakan perasaan masing-masing.

Sebelum akhirnya bibir mereka bertem—

Ah, cukup! Yohan menghela napas berat. Ia menggeleng-geleng cepat guna menyadarkan diri agar tidak memikirkan masa lalu.

“Duduk di ruang tengah dulu. Biar gue ambil air putih.”

“Gak mau gue bantu?” tawar Yohan tak enak. “Sebenarnya tadi kita beli minum. Gak usah ambil minum juga ga masalah. Lagian tangan lo masih sakit.”

“Tetep harus ada air putih, Yohan,” Yongha menjawab sambil mengusak kepala Yohan. “Lo bantuin gue ganti perban aja nanti.”

Yohan diam membiarkan Yongha menghilang menuju dapur, meninggalkannya dengan letupan dada karena gestur sederhana Yongha barusan. Pun dia merasa bersalah, soal perban, karena luka-luka Yongha ada karenanya.

Apalagi dia tak pernah menjenguk Yongha saat lelaki itu dirawat di rumah sakit. Sungguh, dia buruk sekali.

Yongha kembali dengan membawa satu botol besar air putih dan kotak pertolongan pertama.

“Luka lo masih sakit emang..?” tanya Yohan sambil menerima kotak p3k itu.

Yongha mengangkat bahu. Tangannya terulur kepada Yohan, memberi akses pada Yohan yang tengah mengeluarkan krim obat dan kassa.

“Kadang-kadang sakit, kadang-kadang enggak. Tapi dokter bilang harus tetep diperban. Padahal bukan luka besar juga.”

“Mungkin cedera dalemnya, Yong,” Yohan menggumamkan pendapatnya sambil membuka perban yang ada pada lengan kanannya.

Yohan meringis. Memang bukan luka besar, tapi masih ada memar kemerahan di sana. Yohan lantas mengalihkan perhatiannya pada rahang Yongha yang waktu itu dia tonjok sekuat tenaga. Yohan ingat kalau tangannya juga terasa ngilu.

“Rahang lo.. nggak apa-apa?”

“Udah sembuh kalau rahang. Yang masih merah-merah gak jelas itu di lengan sama perut doang.”

Sial. Benar. Waktu itu Yohan juga menendang perut Yongha, dua kali atau tiga kali? Yohan tak ingat. Sinting. Kenapa dia bisa melakukan ini pada Yongha?!

Dengan pelan Yohan mengusapkan krim obat pada lengan Yongha, sangat pelan seakan lengan Yongha bisa rusak bila dia gegabah. Sesekali Yohan melirik ekspresi Yongha yang ternyata datar, terlihat tak merasa sakit sama sekali.

“Gak sakit?”

“Nggak kok,” jawab Yongha, lalu mengulurkan plester kepada Yohan. “Nih.”

“Pegangin kassanya,” suruh Yohan lalu merenggangkan plester, menempelkannya pada kassa yang dia letakkan diatas memar Yongha tadi.

“Yohan.”

“Apa?”

“Lo inget ciuman pertama kita?”

Yohan tersedak ludahnya sendiri.

“A-apaan sih goblok. Kenapa ngomongin itu coba,” jawab Yohan sambil mempercepat penempelan plester di lengan Yongha.

Yang di lengan selesai. Yohan mundur sejenak dan langsung membuang muka dari Yongha yang masih tersenyum jahil padanya.

“Nanya aja.”

“Kalo inget kenapa kalo nggak inget juga kenapa.” jawab Yohan malas dengan mata yang juga berputar malas.

“Kalo inget.. ya bagus,” jawab Yongha sambil terkekeh. “Kalau gak inget, gue bikin inget lagi.”

“A-apa?”

Yohan menerjap cepat ketika Yongha mendorong dia hingga menempel sepenuhnya pada sofa ruang tengah. Wajah mereka memang tak sedekat itu, tapi dengan posisi Yongha yang menahan bahunya, membuat jantung Yohan berdegup kencang.

“Jadi?” Yongha bertanya lagi dengan nada yang lebih berat. Tatapannya tepat pada mata Yohan. “Inget atau enggak?”

Nafas Yohan tercekat. Kepalanya tak bisa diajak bekerja sama untuk berpikir dan melontarkan jawaban.

“G-gue inget,” jawab Yohan pada akhirnya.

Yang membuat Yohan auto menyesali karena kini Yongha semakin mendekatkan wajah mereka.

“Gimana?”

Sungguh, bila bisa berpikir dengan jernuh, Yohan seharusnya bisa langsung mendorong Yongha menjauh. Apa daya kini seluruh tubuhnya membeku bak disihir oleh oknum yang kini membelai rambutnya.

Sial. Yohan yakin wajahnya sangat merah sekarang.

“G-gimana apanya?!” pekik Yohan tertahan tapi nada kesal dan paniknya kentara. “Gue udah jawab gue inget!”

“Iya, yang gue tanya, ciuman pertama kita itu gimana?”

“Jangan nanya aneh-aneh, lo juga pasti inget,” Yohan membalas dengan wajah yang merah padam.

Yongha tersenyum miring, merasa gemas dengan dirinya sendiri dan juga Yohan. Maka detik selanjutnya, Yongha tak bisa menahan diri untuk menempelkan bibirnya pada bibir Yohan—mengecupnya.

Yohan membola kaget. Seluruh tubuhnya terasa panas dan kebas.

Yongha masih tersenyum miring, menatap Yohan dengan penuh perasaan dari lubuk hatinya.

“Anggap aja, itu ciuman rasa kangen gue,” kata Yongha pelan setelahnya. “Lo nggak jenguk gue sama sekali. Lo pikir gue gak kangen?”

Yohan membuang pandangan. Jantungnya masih berdebar kencang tak karuan.

Mana berani dia jenguk Yongha? Yang ada Yohan kejer di rumah sakit. Malu banget kalau sampai ada orang lain tahu kalau Yohan menangisi saingannya sendiri.

“Lo gak kangen gue, Yoh?”

“Emangnya kalo kangen harus bilang-bilang?”

“Ya harus,” Yongha kembali mengecup Yohan pada sudut bibirnya. “Biar gue tahu, gue gak kangen sendirian.”

Yohan merengut. Dadanya tiba-tiba bergemuruh hebat, merasakan sesak namun senang pada saat yang bersamaan.

Senang karena mendengar hal demikian dari orang yang Yohan tak bisa berbohong kalau dia memang sudah sepenuhnya menyukai Yongha.

Tapi sesak karena dia tak dapat mengungkapkannya dengan gamblang atas kegengsiannya.

“Itu gak ada hubungannya sama pertanyaan lo soal ciuman pertama kita.”

“Jelas ada. Ciuman pertama kita, itu juga terakhir kalinya kita jadi temen deket. Setelahnya, lo tiba-tiba musuhin gue,” Yongha terkekeh lirih. Kembali wajahnya ia dekatkan pada Yohan, dan membawa hidungnya menempel dengan hidung Yohan.

“Lo tahu? Gue seneng banget waktu lo kirim pesan ke gue, ngajak ketemu. Meski gue agak takut, kirain lo mau marah sama gue.”

Yohan menutup matanya. Tak kuat dengan perasaan yang meletup-letup karena nafas mereka saling beradu. Bila ditambah saling menatap mata, Yohan rasanya bisa gila.

Yongha menyadarinya. Ia lantas sekali lagi mengecup bibir Yohan, lalu sedikit menjauhkan wajahnya.

“Yohan, tatap gue.”

Yohan menurut. Ia membuka matanya dan kini keduanya saling menatap dengan tatapan yang sulit diartikan. Hanya hati keduanya yang memahami bagaimana bentuk tatapan itu.

Yongha menarik napas. There will be no more perfect timing than this. Tekad Yongha sudah bulat.

“Gue suka lo.”

Yohan menahan nafas saat wajah Yongha kembali mendekat. Kini tangan Yohan digenggam Yongha dan dibawa ke pipi lelaki itu. Perut Yohan rasanya mulas, apalagi ketika Yongha mencium telapak tangannya.

“Let's get over Sihyeon and focus about us?”

Yohan mati-matian menahan senyum bahagianya, tapi tidak bisa. Bibirnya melengkung naik, lebar sekali, sampai Yongha ikut melebarkan senyumnya lalu membawa Yohan ke dalam pelukannya.

“Gue mau mengulang moment waktu itu,” ujar Yongha pelan. Kepala Yohan tak henti-hentinya dikecup penuh sayang.

“Gue suka lo, Yohan.”

“Gue juga suka lo, Yongha. Suka banget,” Yohan menangkup pipi Yongha, lalu menatap lelaki itu dengan bahagia. “Ini yang gue lakuin dulu kan? Nangkup wajah lo—”

“—Terus lo tiba-tiba narik gue ke—”

Belum sempat Yongha menyelesaikan kalimatnya, Yohan sudah lebih dulu membuka mulutnya dan dengan cepat mengulum bibir Yongha. Yongha tersenyum ditengah-tengah ciuman Yohan, kemudian membalasnya dengan lumatan-lumatan kecil yang menuntut.

Persis seperti ciuman pertama mereka 4 bulan lalu.

Manis, namun menuntut. Membuat perut keduanya dihujami kupu-kupu tapi Yongha dan Yohan tak pernah bosan menerima friksi demikian.

Suara lenguhan Yohan mulai terdengar. Yohan meremas kemeja Yongha yang sang empu semakin gencar mencium bibirnya. Dirasa oksigen semakin sulit dihirup, Yongha akhirnya memisahkan ciuman mereka.

Keduanya saling bertatapan.

“Kali ini lo gak akan musuhin gue lagi kan, Yoh?”

Yohan menggeleng sekali, lalu membuang wajah dengan nafas yang masih tersengal. “Nggak.”

“Kalo gitu, kita pacaran?”

Pelan tapi pasti, Yohan mengangguk kecil. “Iya. Kita pacaran.”

“OH SHIT. FINALLY!” Yongha melumat singkat bibir Yohan. “GUE SENENG BANGET. ASTAGA. YA AMPUN.”

“Lebay banget sih anjrit!” keluh Yohan lalu mendorong Yongha menjauh. “Udahlah gue mau makan!”

“Han, tapi lo udah gak suka Sihyeon kan?”

“Masih suka, napa lo?!” cibir Yohan seraya merotasikan matanya malas. “Lo kira gue gak tahu kalau lo juga masih suka Sihyeon?!”

Yongha mendecak. Ingin mengelak tapi itulah kenyataannya. Namun, Yongha tak ingin menjadi lelaki kardus yang suka dua orang pada saat yang bersamaan.

“Meski gitu, gue bisa berubah dan berusaha biar cuma mencintai lo.”

“ALAH CRINGE BANGET ANJIR,” pekik Yohan dengan wajah memerah kesal sambil membuat gestur hendak memukul Yongha. “Lu mending diem terus makan!”

“Tapi serius, Yoh,” Yongha menjeda ucapannya sambil memegang pergelangan tangan Yohan. “Gue beneran cuma sayang sama lo.”

”......Gue juga sayang lo, Yongha.” Yohan menjawab pelan, membuang pandangannya kepada makanan kemudian. “Cepet makan sekarang.”

Yongha terkekeh lalu mengerling jahil. “Lo makan aja yang banyak. Habis ini gue bisa makan lo kok.”

“JANGAN MANCING MINTA DITENDANG LAGI YA YOO YONGHA!?!???”

“EH IYA SUMPAH AMPUN YOH!”

Karena nyatanya, meski Yongha dan Yohan tak akan mengelak bahwa keduanya masih suka Sihyeon..

Tapi keduanya sadar dan yakin.

Kalau keduanya adalah takdir yang mengisi satu sama lain.

“Han, serius gak mau kelon?”

Yohan mendelik malas.

“Mau anjir. Udah diem lu berisik!”