Actions

Work Header

Rating:
Archive Warning:
Category:
Fandom:
Relationship:
Characters:
Additional Tags:
Language:
Bahasa Indonesia
Stats:
Published:
2025-05-20
Words:
1,342
Chapters:
1/1
Kudos:
4
Hits:
82

Amore mio

Summary:

Jatuh cinta itu bukan tipe jatuh yang bikin sakit. Paling perih dikit, kayak habis dicubit.

Work Text:

Kamu pernah melihat aroma Rumah? Mungkin ini akan terdengar memaksa, tapi Hinata Shoyo tahu betul bahwa aroma yang sedang ia hirup dan lihat ini adalah tempatnya untuk pulang, manis dan segar, manakala yang ada di hadapannya hanyalah manusia lain, seorang wanita dengan wajah masam dan pipi merah tomat. Kalau di kartun-kartun, mungkin ia sudah mengeluarkan uap panas dari dalam kupingnya. Debu-debu mengudara, beterbangan setelah Hitoka Yachi membuka salah satu pintu lemari di ruang TV yang sudah lama tak dibuka. "Gila, ini mah namanya kamu pelihara penyakit," gerutu Hitoka, sedangkan si pelaku yang dimaksud hanya menggaruk kepala yang bahkan tak terasa gatal sama sekali. Wanita itu lekas mengeluarkan beberapa tumpuk dus dan juga peralatan olahraga lama tak terpakai. Aduh, lama-lama Hinata juga, nih, yang Hitoka buang! Hinata ikut menghela napas berat, siap diberi sumpah serapah selama itu semua Hitoka yang mengucapkan. Bodoh! Kemudian, pria itu pergi untuk mengambil sapu dan kawanannya. Diberikan masker dan sarung tangan kepada Hitoka, ketika salah satu telapak tangannya terbuka meminta. Masih dengan tatapan sinisnya, Hitoka kembali berujar, "Selama aku di sini, kamu harus aku latih untuk jadi pribadi yang tegas. Barang-barang kalau udah nggak dipakai, buang aja, sih. Toh, kamu bakalan tetap miskin juga." Memang, ya, mau sejauh apapun jarak sempat memisahkan mereka dalam hubungan ini, Hinata tidak pernah kenal dengan yang namanya bosan. Selalu ada kejutan di tiap tingkah laku yang Hitoka lakukan.

Hinata tentu saja tak tinggal diam. Dengan senang hati ia turut membantu, karena bagaimanapun, ini memang tanggung jawabnya. Jika boleh jujur dan beralasan, Hinata sudah berniat untuk membersihkan lemari tersebut dari jauh-jauh hari, tapi time flies so fast, Men. Hinata belum mampu terbang secepat waktu, jadi surprise! Hitoka datang tanpa pemberitahuan terlebih dahulu, dan dengan gesitnya langsung menuju tempat di mana nyawa Hinata akan dipertaruhkan. Singkatnya, Hinata memang gemar menunda-nunda. Jangan ditiru, ya, teman-teman. Gosok, gosok, gosok, siram, siram, siram, keringkan yang di sana, di pojok kiri juga, lalu langit-langit dalam lemari jangan lupa, tempat di mana sarang laba-laba senang berdiam. "Kamu kalau bersih-bersih suka seboros ini kah, Ta? Itu kasih air aja, deh, wadahnya. Terus masukin sabun beberapa tetes aja. Kalau kayak gini mah, nggak sekalian bersihin dosa kamu juga?" Hinata tergelak. Tutur kata Hitoka lagi-lagi berhasil menghilangkan lelahnya.

"Kamu belum makan, ya? Abis ini mau dimasakin atau makan di luar atau mau pesan online aja?" tanya Hinata di sela-sela kegiatannya, sedangkan Hitoka meregangkan ototnya sejenak.

"Mau masak sendiri, boleh nggak? Nanti kamu yang jadi jurinya, tapi jangan galak-galak," balas Hitoka seraya tersenyum walau masih menggunakan masker, lalu kembali melanjutkan aktivitas memilah barangnya.

"Mau masak apa? Biar aku cek bahan-bahannya. Kalau nggak ada, aku pesan online dari sekarang. Jadi waktu ini selesai, kita udah siap." Setelahnya, sepasang kekasih itu sibuk berdiskusi soal hidangan yang akan disajikan nanti, seraya terus membersihkan kekacauan yang sudah Hinata buat. Satu jam, dua jam, tiga jam, tak disangka membersihkan satu lemari, berakhir jadi membersihkan seluruh area rumah. Terlanjur, kenapa nggak sekalian aja? kalau kata Hitoka. Bersamaan dengan selesainya pekerjaan, bahan-bahan untuk memasak datang. Hitoka yang sedari tadi terus bersungut, akhirnya tenang juga. Emosinya berganti menjadi suatu ketegangan, tepat ketika Hinata Shoyo berdiri tegap dengan kedua tangan bergerak ke belakang, sikap sempurna istirahat di tempat. "Kamu punya waktu 2 jam untuk menyelesaikan hidangan ini. Memasak, dimulai!"

"Siap, Chef!"

Hari ini Hitoka akan memasak Aglio Olio yang sebenarnya sudah ia coba di rumah, jauh sebelum ia memutuskan untuk datang ke kediaman Hinata. Padahal, tadi pagi ia sangat amat percaya diri dengan kemampuannya, tapi, kok, sekarang malah blank gini, ya? Alih-alih memasak, Hitoka rasanya mau menangis saja. Siapapun tolong Hitoka sekarang! "Oke, pelan-pelan. Waktu yang dikasih banyak banget, Chi, kamu pasti bisa," ucapnya menyemangati diri sendiri. "Masukin oil dan garamnya udah, ini airnya udah cukup mendidih lah, ya? Rebus spaghettinya berapa menit, aduh, lupa. Oh, mending kita sekalian tumis bawang putih, cabe, oil tadi di mana, ya? Lupa nyimpen huhuhuhuh." Gumam Hitoka semakin sering dan jelas untuk didengar oleh Hinata. Tapi pria itu tahu, bahwa Hitoka akan berhasil menyelesaikannya. Lagian, mau gagal atau berhasil, mau jadi Aglio Olio atau tiba-tiba Abon Ayam sekalipun, Hinata akan tetap habiskan, kok. Cuma.....

"Emang konsep Aglio Olionya kering gitu, ya, Cantik? Kok airnya nggak ada?" Hitoka membelalak, sebab terlalu sibuk dengan cenondiment lain yang tengah ia siapkan sebaik mungkin. Air rebusan di dalam panci, telah sirna entah kemana.

"Ta, tolong ambilkan handphone-ku, dong. Please, butuh banget!"

"Kamu lupa resepnya, apa gimana?" tanya Hinata penuh khawatir.

"Please, minta tolong banget. Ini penting!" Tak mau menambah kehebohan yang sudah ada, Hinata lekas membawakan ponsel milik Hitoka yang kemudian diambil cepat dari tangannya. Jari-jari kecil wanita itu terlihat gemetaran, entah mengetik apa, dengan peluh yang sedikit demi sedikit mengalir di keningnya.

"Tarik napas, Cantik. Kamu nervous gitu. Kita udahin aja masaknya, biar aku yang lanjut."

"Nggak mau. Apa yang udah aku mulai, harus aku selesaikan." Hitoka menaruh ponselnya ke dalam saku celana. Dengan mata berkaca-kaca, ia melanjutkan masakannya, meski jauh di dalam lubuk hati, ia ingin sekali memulai semuanya dari awal, tapi 'kan malu! Waktu terus berjalan, situasi sudah tidak se-menegangkan tadi. Hitoka terus mengerjakan sesuatu yang sebetulnya agak mencurigakan bagi Hinata. Ya sudahlah, apapun yang si Cantik kerjakan, Hinata akan selalu support. Hingga tak berapa lama kemudian, terdengar suara ketukan pintu dari arah luar dan Hinata beranjak dari tempatnya guna menghampiri tamu yang datang.

"Ini, Mas, makanannya." Seseorang dengan atribut pengantar makanan, berhasil membuat Hinata menegerutkan keningnya sejenak.

"Saya nggak pesan apa-apa, Pak. Salah alamat mungkin rumah sebelah yang Bapak maksud."

"Nggak, kok, Mas. Benar di sini," sanggah kurir, sembari memperlihatkan layar ponselnya yang berisi alamat, daftar makanan yang dipesan, dan nama customer.... Hitoka Yachi.

Tuh kan.

Hinata Shoyo lantas mengambil pesanan tersebut, tak lupa memberi tip, dan masuk kembali ke dalam rumah. Ditemukannya Hitoka Yachi yang sudah menunduk dalam merasa kecewa terhadap dirinya sendiri dengan sepiring Aglio Olio di atas meja makan. "Aglio Olio nyemek ini mah namanya huhuhuh Ta, maaf, ternyata aku sepecundang itu," ujar Hitoka sebelum akhirnya ia menangis tersedu-sedu. Hinata kemudian ikut menaruh paket makanan yang tadi ia ambil, di tempat yang sama, lalu beralih menuju posisi di mana Hitoka berdiri dengan bahu kecilnya yang bergetar. Kedua tangan pria itu terbuka, menarik Hitoka ke dalam pelukan, dan mendekapnya hangat. Diusap lembut punggung sang kekasih, meskipun air mata dan lendir dari hidung Hitoka bercampur jadi satu di bajunya. Basah di dada tak mengurangi kadar kehangatan yang Hinata berikan melalui pelukannya.

"Kamu lagi capek dari pagi udah bantuin aku ngurus ini itu, padahal dari kemarin kayaknya kamu kepengin masakin aku, ya? Maaf, aku yang salah, aku yang kurang peka," terang Hinata, Hitoka menggelengkan kepalanya.

"Aku capek karena ekspetasiku sendiri yang ketinggian. Aku emang payah banget, ya, Ta? Please buang aja Aglio Olionya, aku muak huhuhuhu. Tau gitu masak mie nyemek langsung aja."

"Mau Aglio Olio nyemek kek, mie nyemek kek, tetap aku habiskan. Look kan nggak menjamin rasanya bakalan nggak enak juga. Kamu makan yang sudah dipesan aja. Minumnya aku buatkan strawberry milshake biar mood kamu agak baikan," jelas Hinata lagi dengan penuh hati-hati, sebab Cantik-nya tengah sensitive, namun nihil yang didapat. Bukannya mereda, tangis Hitoka justru semakin menjadi. Pelukan Hinata kali ini berbalas dan tak kalah kuatnya sampai Hinata bisa merasakan kulit punggungnya yang terasa perih akibat Hitoka mencubitnya gemas. Ini punggung aku ada jerawat apa gimana, ya? Sakit banget.

"Hinata Shoyo," lirih Hitoka.

"Iya, Hitoka Yachi?"

"Kayaknya sekarang aku udah tahu apa penyebab aku mau-mau aja dilahirkan ke bumi, sewaktu malaikan bertanya sampai 77 kali."

Duh, mau gombal, ya, si Cantik ini? Bentar, Hinata siap-siap dulu. 

"Karena kamu akan dipertemukan sama cowok pengertian kayak aku, makanya kamu mau?" jawab Hinata sumringah.

Ya iyalah, masa ya iya, dong! Karena apa lagi gitu, lho?

Mendengar penuturan asal Hinata, Hitoka jadi memutar bola matanya malas, sebelum akhirnya berucap, "Salah. Tapi karena di masa depan aku akan menjadi orang pertama yang mencetuskan Aglio Olio nyemek dan memperkenalkannya kepada dunia hahahahaha. Benar kata kamu, look nggak menjamin menggambarkan rasa yang sebenarnya. Kamu mau bantu aku buka bisnis Aglio Olio nyemek-nya, kan?"

Tuhan.... jangan biarkan orang Italia mengenal Hitoka Yachi. - Doa paling tulus, dari Hinata Shoyo (29 tahun).