Actions

Work Header

Rating:
Archive Warning:
Category:
Fandom:
Characters:
Additional Tags:
Language:
Bahasa Indonesia
Series:
Part 1 of Go-Home Club
Stats:
Published:
2016-04-17
Updated:
2017-10-15
Words:
36,168
Chapters:
13/?
Comments:
44
Kudos:
28
Hits:
767

Go-Home Club

Summary:

Klub Pulang ke Rumah

Deskripsi: Klub yang dibentuk untuk memastikan semua anggotanya segera pulang ke rumah setelah jam sekolah berakhir agar dapat mengerjakan pekerjaan rumah dengan baik dan menghindari masalah yang mungkin terjadi jika berkeliaran di jalanan terlalu larut.

Guru Pembimbing: Lee Jinki

Ketua: Lee Taemin

Anggota:
1. Lee Taemin
2. Choi Minho
3. Kim Kibum

[TIDAK DILANJUTKAN]

Chapter 1: Go Home Club: First Meeting

Chapter Text

Sejak awal, Lee Taemin tahu keputusan untuk mendaftarkan dirinya di sekolah paling baik bukanlah hal bijaksana. Tes masuk yang sulit adalah satu hal (dan tidak membuatnya khawatir karena ia cukup beruntung), tapi keharusan tak tertulis untuk menjadi anggota klub tertentu adalah hal lain yang membuatnya merutuki matahari yang terbit setiap harinya. Ia tidak bisa naik kelas tanpa terdaftar sebagai anggota klub; tidak bisa lulus jika ia berhasil naik kelas, bagaimanapun caranya; dan, yang paling buruk, selalu dicerca oleh semua guru yang berpapasan dengannya.

“Lee Taemin, kudengar kau belum mengumpulkan lembar pendaftaran klub. Masuklah klub astronomi saja,” sapa Nona Kim, guru sains, ketika kebetulan Taemin membantunya mengangkut tumpukan buku tugas ke ruang guru. Taemin hanya meringis.

“Lee Taemin, bergabunglah dengan klub sepak bola kalau kau belum menjadi anggota klub mana pun,” cetus Tuan Jung, guru olahraga, saat Taemin baru saja menyelesaikan lari jarak pendeknya. Masih terengah-engah, Taemin sekadar tersenyum sopan.

“Lee Taemin, kau tidak bisa menyia-nyiakan waktu; kemarilah, jadi anggota klub catur,” ujar Tuan Choi, penjaga perpustakaan, ketika Taemin datang untuk mengembalikan buku. Apa pula hubungan buku dengan catur; Taemin membalas perkataannya dengan cengiran tanpa makna sebelum buru-buru keluar dari perpustakaan.

Dan sekarang bahkan masih pertengahan semester satu. Entah bermaksud menyindir atau benar-benar tulus mencoba menolongnya, sejujurnya semua panggilan itu membuat Taemin muak. Karena hal yang sama, namanya dihafal oleh sebagian besar guru—terutama yang menjadi pembimbing klub tertentu. Rasanya Taemin ingin berteriak pada mereka bahwa ia sama sekali tidak tertarik dengan klub; ia membenci perkumpulan banyak orang; ia tidak suka mengulur waktu setelah sekolah berakhir dengan mondar-mandir di gedung raksasa ini.

Ia mengentakkan langkahnya di sepanjang koridor setelah guru matematika menawarinya menjadi anggota klub kasti. Percuma saja mendekam di kelas saat jam istirahat karena semua teman sekelasnya akan bertanya kenapa dia tidak makan siang bersama klubnya. Sudah cukup, ia muak. Kepalanya berdenging dan, meski masuk ruang kesehatan akan berarti satu serangan lagi dari penjaganya, setidaknya ia masih bisa membaringkan tubuh.

Kalau dipikir, ini adalah pertama kalinya ia berkunjung ke ruang kesehatan. Imunitasnya yang secara mengejutkan sangat tangkas, serta kenyataan bahwa ia memang tidak punya alasan kelelahan di sekolah, membuat ruang kesehatan sama asingnya dengan ruang kepala sekolah bagi Taemin. Tapi persetanlah. Ia mengembuskan napas keras sambil menyentuh pegangan pintu gesernya.

Belum sempat ia mendorongnya ke samping, pintu itu telah melesat dengan sendirinya. Taemin terperanjat, matanya segera bertumbukan dengan jas putih serta dasi yang dipasang sekenanya.

“Oh, aku hendak mengunci ruang kesehatan,” kata pria itu. Guru kesehatan, Taemin yakin. Taemin mengangguk mengetahui sekarang waktunya makan siang.

“Bisa izinkan aku berada di dalam? Tidak apa-apa jika Anda menguncinya dari luar,” sahut Taemin. “Aku sedikit lemas sejak pagi ini.”

Guru kesehatan itu, seorang pria di akhir usia dua puluhan dengan rambut acak-acakan dan mata yang terlihat nyaris menutup, menatap Taemin ke atas dan bawah penuh penilaian, lantas mengangkat bahu dan menusukkan ibu jarinya ke udara di belakang bahu.

“Kalau begitu, masuklah. Jangan sentuh obat-obatan sampai aku kembali.”

Taemin mengembuskan napas lega, sebagian karena lelaki itu tidak mengungkit masalah Taemin-tanpa-klub yang menjadi topik panas sejak awal tahun ajaran baru. Tapi, mungkin penjaga ruang kesehatan memang tidak mengurus hal itu. “Terima kasih, seonsaengnim,” ujar Taemin.

“Dan buka jendelanya. Aku tidak menyalakan pendingin ruangan saat aku keluar.”

“Aku mengerti.”

Pria itu membiarkan Taemin masuk, kemudian menggeser pintu hingga hanya separuh tubuhnya yang terlihat. Selama beberapa saat ia memperhatikan si pemuda yang sedang membuka gerendel jendela. “Lee Taemin, bukan?”

Gerakan tangan Taemin sejenak berhenti; ia mulai mengendus apa yang akan dikatakan guru kesehatan. Ia membiarkan jendela masih tertutup dan membalikkan badan. “Benar.”

Lagi-lagi hening. Tak ayal Taemin terkejut ketika guru kesehatan melangkah masuk lagi dan berganti menutup pintu di belakangnya. Ia masih membelalakkan mata begitu mendengar ‘klik’ lembut yang berasal dari selot pintu. Tatapannya beralih pada wajah yang mendadak tampak angkuh itu, dan hal pertama yang dipikirkannya adalah: sialan.

“Aku sudah mendengar banyak soalmu,” kata pria itu seraya melangkah menghampiri Taemin, hanya berhenti dua atau tiga ubin dari si pemuda. “Lee Taemin, anak yang tidak tergabung dalam klub apa pun.”

Taemin menahan napas saat pria itu menjangkaukan tangan, tapi segera mengembuskannya lagi ketika menyadari guru kesehatan hanya bermaksud meraih punggung kursi dan mengenyakkan tubuh di sana. Entah sejak kapan punggung Taemin telah menempel di kaca jendela, dan ia mati-matian merutuki kenapa tidak sempat membukanya karena kini pria itu memutar kursi menghadapnya.

“Aku yakin kau tidak masuk tanpa mengetahui peraturannya—atau setidaknya ceramah kepala sekolah di awal tahun ajaran sudah memberi tahu banyak. Kau tahu kalau tidak tergabung dalam klub mana pun bisa membuatmu tinggal kelas, bukan?”

“Y-ya, aku tahu.”

Pria itu mengayun-ayunkan kursi ke kanan dan kiri. “Jadi, kenapa?”

“Aku hanya—” Taemin menurunkan pandangan ke kakinya sendiri. “Sebenarnya tidak ada alasan...”

“Tidak ada? Tapi kau cukup aktif di SMP, bukan?” Taemin segera saja mengembalikan tatapan pada pria di depannya. “Menjadi anggota komite sekolah, sekretaris klub kesehatan, anggota taekwondo,” sebut pria itu dengan nada santai seolah semua orang sudah seharusnya mengetahui masa lalu Taemin. “Aku tidak melihat ‘tidak ada alasan’ bagi anak sepertimu.”

Taemin merapatkan bibir. Satu tangannya mulai naik dan mengusap-usap tengkuk, kebiasaannya saat gelisah.

“Yah, aku tidak bermaksud menginterogasimu, sih—aku juga sebenarnya tidak tertarik dengan hal yang sudah berlalu,” desah pria itu setelah beberapa menit berlalu dalam keheningan. Ia mengangkat tubuhnya berdiri dengan tumpuan kedua tangan di lengan kursi, menjulang beberapa sentimeter di atas Taemin. “Sebenarnya aku hanya bermaksud menawarimu masuk ke dalam satu klub.”

Taemin melayangkan sorot mata tidak suka. Jadi benar, pada akhirnya semua orang hanya tertarik pada klub dan klub. Dirinya yang tidak terikat pada organisasi mana pun akan sekadar dipandang sebagai target empuk untuk menambah jumlah anggota.

“Aku yakin kau bakal menyukai klub ini, jangan khawatir,” kata pria itu lagi sambil tersenyum lebar. Dahi Taemin pasti transparan hingga isinya dapat ditembus dengan mudah. “Klub ini tidak membutuhkan kemampuan apa pun, tidak memiliki kegiatan yang merepotkan, dan, yang paling menyenangkan, tidak melibatkan banyak orang.”

Kening Taemin mengernyit seiring benaknya mulai menyortir semua kemungkinan klub yang memenuhi deskripsi pria itu. Klub catur membutuhkan kemampuan, klub berkebun cukup merepotkan dengan tanah dan cacing, klub bahasa Inggris sangat melibatkan interaksi dengan orang lain. Jadi—

“Itu adalah klub pulang ke rumah.”

Taemin mengangkat alis, tapi keterkejutannya hanya bertahan dua detik. Selanjutnya, ia mendengus. “Terima kasih untuk leluconnya,seonsaengnim. Aku merasa jauh lebih baik,” katanya sarkastik, kemudian berjalan melewati pria itu ke arah pintu.

Bodoh sekali. Seharusnya ia tahu suatu saat nanti semua persuasi itu akan berubah menjadi sindiran dan ejekan. Anak-anak yang mengajaknya bergabung ke klub akan mengisolasinya dan menindasnya. Keheranan tentang mengapa dia tidak kunjung masuk suatu klub akan mengambil bentuk keirian karena dia tidak perlu memikirkan urusan selain pelajaran sekolah.

Tapi, apakah itu mengganggu mereka? Aturan itu bahkan tidak tertulis: kepala sekolah hanya menginginkan prestasi sebanyak mungkin, yang membuat para guru terpacu untuk menggiatkan aktivitas klub, yang kemudian diadopsi oleh murid-murid, dan pada akhirnya menjadi semacam keharusan.

Terlalu marah untuk bersikap sopan, Taemin memutar anak kunci yang masih tergantung dan menggeser pintu—hingga satu tangan menghantam bidang pintu keras-keras. Taemin menghela napas.

“Maaf, seonsaengnim. Aku akan kembali ke kelas.”

“Bukankah kau bilang tidak enak badan? Duduklah.”

Taemin menggertakkan rahang.

“Aku serius, Lee Taemin. Duduk.”

Mempertimbangkan bahwa ia berurusan dengan guru, dan bahwa posisi ini sangat tidak menguntungkan, Taemin melesakkan bahu turun dan merunduk di bawah juluran lengan guru kesehatan untuk duduk di ranjang tinggi yang terdekat dengan pintu. Pria yang lebih tua darinya mengangguk puas dan kembali mengempaskan badan di kursinya.

“Dengarkan aku sampai selesai,” kata pria itu. “Aku tidak bermaksud menghinamu atau apa pun—aku serius soal klub yang kubicarakan.”

Tapi semua orang sudah tahu Taemin adalah anggota tunggal klub pulang ke rumah, dan itu bukan sesuatu yang benar-benar menakjubkan untuk dibahas. Taemin menunduk untuk memperhatikan kakinya yang berayun pelan di udara.

“Sebenarnya aku berada dalam kondisi yang tidak jauh berbeda darimu: aku adalah satu-satunya guru yang tidak memegang klub, dan mereka berkata aku bisa saja tidak akan mendapatkan kenaikan gaji jika begini terus sampai akhir semester.”

Akhirnya Taemin mendongak. Pria itu menampilkan tampang muak yang terlalu familier bagi Taemin. Rasanya seperti bercermin.

“Tapi aku tidak suka menghadapi kegiatan merepotkan atau anak-anak dekil, jadi aku memutuskan membuat klub baru. Dan satu-satunya kandidat paling tepat untuk klub baru ini adalah kau, Lee Taemin.”

Taemin menyipitkan mata skeptis. “Klub pulang ke rumah?”

Yeah.”

“Maafkan aku, tapi Anda terdengar seperti lelucon, seonsaengnim.”

“Terima kasih, aku mengapresiasi kejujuranmu—poinku di sini adalah,” kata pria itu, lantas mengacungkan jari telunjuknya di udara, “ini bisa menguntungkan kita berdua: kau bisa naik kelas dan aku bisa mendapat kenaikan gaji yang sudah lama kubutuhkan. Plus, bukankah klub pulang ke rumah sebenarnya dibutuhkan oleh semua orang? Kau pulang ke rumah tepat waktu, bisa makan malam bersama keluargamu, punya cukup tenaga untuk mengerjakan tugas—mereka yang terlalu sibuk dengan klub-klub besar seperti basket telah kehilangan tiga manfaat di atas.”

Taemin menghela napas, tidak yakin bagaimana mungkin tidak tergabung dalam klub mana pun dapat terdengar sangat mulia seperti itu. “Seonsaengnim, sejujurnya aku tidak mengerti kenapa Anda harus berbuat sejauh ini. Secara harfiah klub yang kau bicarakan tidak memiliki kegiatan apa pun.”

Alih-alih menanggapi, pria itu justru memandangi Taemin dengan badan dicondongkan ke depan. “Kau sedari tadi memanggilku ‘seonsaengnim’, apa kau tidak tahu namaku?”

Taemin tidak berkedip saat menjawab, “Tidak.”

“Itu sedikit menyakitkan,” aku pria itu sambil memutar kursinya menghadap meja, kemudian kembali berayun ke arah Taemin dengan papan nama yang diacungkan di depan dada. “Namaku Lee Jinki, dan panggil aku ‘hyung’.”

“... hyung?”

“Toh sejak awal aku tidak berniat jadi guru.”

Taemin merasa menemukan kerumunan tanaman di bagian belakang kelas, dan itu bukan sebuah pujian. Di sekolah yang menjunjung tinggi kerja keras serta kompetisi sehat antar siswa, aneh rasanya mendapatkan orang semacam Lee Jinki bergelung di ruang kesehatan seperti ini. Semua yang dikatakannya tentang klub, dan terutama undangannya yang terkesan jauh lebih memaksa dibanding semua guru lain, benar-benar baru bagi Taemin. Lagi-lagi, itu bukan pujian.

“Bagus, berarti kau jadi anggota klub yang pertama,” mendadak Jinki menceletuk, dan Taemin segera bangkit dari lamunannya.

“Tunggu, aku tidak pernah bilang setuju,” protesnya sambil melompat turun. “Klub yang Anda bicarakan terkesan sangat dipaksakan. Apakah ada orang yang percaya dengan klub semacam ini?”

“Percaya atau tidak, itu terserah mereka.” Jinki membenamkan tangan ke dalam saku celananya dan mengeluarkan lipatan kertas yang sudah renyuk. Ia menyerahkannya pada Taemin. “Tapi yang paling penting bagi kelangsungan klub adalah persetujuan kepala sekolah. Kau bisa lihat, kepala sekolah sudah setuju dengan keberadaan klub kita.”

Taemin ingin menukas bahwa tidak ada ‘kita’ dari mereka, tapi ia masih terlalu tercengang dengan stempel kepala sekolah di bawah formulir pengajuan klub baru tersebut. Seabsurd apa pun sebuah klub (main kartu, misalnya; Taemin selalu curiga itu hanya cara meloloskan diri dari tertangkap bermain kartu di tengah pelajaran), ‘pulang ke rumah’ jelas-jelas bukan sesuatu yang bisa dijadikan klub. Kau hanya pulang ke rumah, kemudian tamat.

“Kegiatan kita hanya berkisar dari pulang ke rumah tepat waktu—dan merupakan hal yang kita lakukan tiap hari. Jadi, ini bukan sesuatu yang sulit, kan?”

“Tetap saja...” Taemin tidak tahu bagaimana harus berargumen lagi. Ini terlalu aneh, terlalu tiba-tiba, terlalu memaksa. Tapi lagi-lagi Jinki berhasil membaca pikirannya. Lelaki itu beranjak berdiri dan mengambil kembali kertas dari tangan Taemin.

“Yang membuat kepala sekolah setuju adalah karena klub kita memastikan semua anggotanya sampai rumah dengan selamat dan tidak menimbulkan masalah sepanjang perjalanan. Itu sesuatu yang penting, ya kan?” Lantas, Lee Jinki mencengir. “Lihat, aku bahkan sudah menulis namamu sebagai ketua klub.”

“Ap—aku belum bilang setuju!”

“Aku bisa melihat isi hatimu, kau lebih dari setuju.” Seolah berkonspirasi dengan Jinki, mendadak bel masuk berdering sebelum Taemin sempat membuka bibir. “Oh, sudah waktunya masuk. Segeralah kembali ke kelas; jangan lupa segera pulang setelah semua pelajaran berakhir, hm?”

Jinki mendorong-dorongnya keluar dari ruang kesehatan, dan Taemin masih separuh melayang saat melangkah kembali ke kelasnya.

Klub pulang ke rumah... ini lelucon, kan?