Actions

Work Header

Rating:
Archive Warning:
Category:
Fandom:
Relationship:
Characters:
Additional Tags:
Language:
Bahasa Indonesia
Stats:
Published:
2025-05-23
Words:
584
Chapters:
1/1
Kudos:
16
Bookmarks:
1
Hits:
170

Not for The Princess

Summary:

Saat ini, hanya ada kamu, dan aku.

.

Knight! Aamon X Magus! Natan

Notes:

(See the end of the work for notes.)

Work Text:

"Kamu di sini rupanya."

Aamon berbicara sembari melepaskan helm besi yang ia gunakan, lalu menyampirkannya di samping tubuhnya.

Natan, yang berbaring di atas rerumputan hijau itu, tertawa pelan. "Bukankah seharusnya kamu menjaga tuan putri?" sahutnya.

Aamon memutar bola matanya malas. Ia mendudukkan diri di atas rerumputan di bawahnya—sengaja sedikit menjaga jarak dari sang magus.

Ia menatap Natan, lamat. Menangkap ekspresi tenang di wajah yang selalu terlihat serius itu.

Aamon membuka mulutnya, kembali berbicara, "Tuan putri memiliki banyak ksatria. Aku yakin jika satu saja hilang dari pengawasannya tidak akan menjadi masalah.”

Natan mendelik, menatap sang ksatria melalui sudut matanya. Senyum kecil merekah dari bibirnya. “Bagaimana latihanmu hari ini?” Natan bertanya, membuka obrolan dengan pembahasan santai.

Aamon mendesah kecil, kepalanya tertunduk menatap rerumputan yang ia duduki. “Yaa, seperti biasanya. Mengajari calon ksatria, mengawal tuan putri ke pesta minum teh. Haah, terkadang aku bertanya-tanya, apakah aku benar-benar seorang ksatria atau bukan,” Aamon merutuki nasibnya sendiri. Menganggap dirinya yang menjadi “pengawal pribadi” sang putri adalah sesuatu yang… memalukan.

Natan tergelak; tawa dengan suara berat khasnya keluar begitu saja. Aamon, yang mendengar, mengerjapkan mata. Tak percaya dengan reaksi yang Natan berikan.

“Apa kamu… baru saja menertawakan aku?” ucapnya lirih.

Natan masih memegangi perutnya setelah mencoba untuk berhenti tertawa. Ia menarik napas selang beberapa detik, menolehkan kepala pada Aamon. Manik biru kelabu miliknya menangkap siluet Aamon yang sedari tadi memperhatikan dirinya.

“Bukankah itu impian setiap ksatria? Untuk ‘menjaga tuan putri agar kelak bisa meminangnya’?” sahutnya, dengan tawa kecil yang kembali mengiringi.

Aamon terdiam. Kening mengernyit, tidak tahu bagaimana Natan bisa memikirkan hal-hal konyol seperti itu. Pun, ia hanya bisa mendengus, berujar, “Jika aku bisa memilih, aku akan memilih untuk mengawalmu dalam perjalanan menuju Cadia ketimbang mengawal tuan putri.”

Satu alis Natan terangkat. Segera sang magus menumpu tubuhnya untuk bangkit, mengubah posisinya menjadi duduk di atas hamparan rumput tersebut.

“Oh? Ku pikir kamu akan membalas dengan ‘aku lebih baik memilih untuk menjaga keamanan para rakyat dan ikut berperang’, seperti itu,” ucapnya. Kini, senyumannya berubah. Tak ada lagi niat menggoda atau bercanda.

Aamon tak kuasa menahan senyum kecil di wajahnya. “Itu berbeda lagi. Tetapi, sebagai Aamon, aku akan memilih untuk menjagamu dan adik-adikku,” ungkap Aamon, merasa percaya diri dengan jawaban yang ia berikan.

Natan menutup mulutnya, menahan tawa geli yang kembali menggelitik. “Klise sekali,” sahutnya.

Mereka tak berbicara lagi setelah itu. Dengan sengaja membiarkan angin lembut hutan menemani kesunyian di antara mereka.

Natan menikmati embusan angin di wajahnya, lalu menutup kedua matanya. Damai, tenang. Jauh dari hiruk pikuk kesibukan kerajaan.

Tetapi, Aamon tiba-tiba bergerak; mendekat ke arah Natan, menepis jarak yang semula sengaja ia buat. suara gemerisik rumput membuat magus itu membuka matanya.

Ada sirat rasa penasaran di matanya. “Ada apa?” pertanyaan itu terlempar. Natan mengunci tatapannya pada Aamon yang kini duduk di dekatnya.

Aamon menggantungkan pertanyaan natan. Tak menjawab dengan kalimat. Satu tangannya terjulur, mengelus wajah Natan yang terasa dingin dengan ibu jarinya.

Sang magus menikmati elusan tersebut dengan menempelkan wajahnya pada telapak tangan Aamon yang hangat; tak lagi mengenakan sarung tangan.

Perlahan, wajah Aamon mendekat. Natan tidak mundur, tidak berniat juga. Ia hanya menikmati sapuan napas halus Aamon di wajahnya, menikmati kehadiran sang ksatria.

“Aku merindukanmu,” Aamon berbisik, rendah, dalam. Suaranya membuat hati Natan bergolak dengan rasa rindu yang sama.

Natan memberikan perlakuan yang sama seperti apa yang Aamon lakukan sebelumnya; sengaja menggantungkan jawaban. Karena, terkadang, tindakan saja sudah cukup untuk menjadi jawaban yang jelas.

Natan tersenyum tipis, menyatukan dahinya dengan Aamon. Selanjutnya, keduanya menutup mata masing-masing; menikmati kehadiran satu sama lain di sore hari. Saling mendamba dalam kesunyian.

Notes:

you can find me on wp and tt hehehehehh

.

wp: lettelate
tt: cygnsss_