Actions

Work Header

Rating:
Archive Warning:
Category:
Fandom:
Relationship:
Characters:
Additional Tags:
Language:
Bahasa Indonesia
Stats:
Published:
2025-05-24
Words:
803
Chapters:
1/1
Comments:
2
Kudos:
27
Bookmarks:
1
Hits:
237

Ragamu yang Menyembuhkanku

Summary:

Harua sakit, namun ayah dan papanya ada untuk menjaganya.

Work Text:

Harua menghembuskan napas bosan. Diputar-putarnya korden jendela kamarnya, sebuah upaya mengusir rasa bosan. Sungguh, hari-hari seperti ini adalah yang terburuk, Harua tidak suka sakit. Membuatnya harus berbaring sepanjang hari, membunuhnya dengan kebosanan.

 

"Adek,"

 

Muncul dari balik pintu adalah ayahnya, Yudai. Menenteng sebuah mug berlogo team bola favoritnya yang berisi cokelat panas, Yudai masuk dan duduk di sisi dipan kasur Harua.

 

"Gimana, masih pusing?"

 

Harua bergerak tak nyaman dibawah selimutnya, kepalanya menggeleng lemah.

 

"Bohong, Ayah tahu, kok, Rua pasti masih pusing. Dahinya udah kayak kakek-kakek begitu!"

 

Sang anak hanya merengut sebal.

 

"Yah,"

 

"Hum?"

 

Yudai dengan telaten mengelap keringat yang bercucuran di sisi leher Harua, mencoba membuatnya lebih nyaman.

 

"Dulu pas kecil, aku pernah sakit?"

 

Yudai menatap ke atas, ucapan Harua membawanya berpikir tentang masa lalu. Masa dimana ia dan Fuma baru saja menikah, setahun kemudian mengadopsi anak yang lucu, dengan segala kesulitan yang ada. Kala itu, sungguh, yang menjadi kekuatan baginya adalah melihat Harua ceria dan sehat. Maka ketika anak satu-satunya itu sakit, Yudai dan Fuma pastilah merasa gagal menjadi orang tua. Ironis, padahal belum lama waktu yang mereka habiskan dengan Harua.

 


 

Sebagaimana orang tua muda lainnya, mereka adalah keluarga kecil dengan rumah sederhana yang nyaman di tengah kota. Dekat dengan tempat kerja keduanya, fasilitas yang memadai, semuanya hampir sempurna. Namun tak lengkap rasanya menjadi tetangga baru tanpa menjadi topik hangat obrolan setiap sore.

 

Mulanya tak ada masalah, tidak ada yang tahu kalau mereka telah menikah. Mungkin jika dilihat dari luar, Fuma dan Yudai lebih mirip roommate yang kebetulan menyewa rumah untuk ditinggali. Namun ketentraman itu hancur ketika mereka mengadopsi Harua.

 

Karena roommate mana yang mengadopsi anak lelaki untuk diasuh bersama?

 

Yudai sempat cemas di awal, mempertanyakan apakah pilihannya benar, apakah semua ini sebanding dengan berat yang harus mereka pikul?

 

Namun pertanyaan itu sempurna sirna ketika suatu malam ia berbaring dengan Fuma, menatap matanya yang tersirat rasa khawatir, sembari mengusap rambutnya dengan gerakan repetitif yang nyaman, Fuma bicara;

 

"Kita bakal baik-baik aja, okay? Kamu nggak usah khawatir, ada Aku. Aku yang bertanggungjawab atas keluarga ini."

 

Yudai dengan main-main memasang wajah cemberut.

 

"Hey, aku juga ada disini. Jangan berani-beraninya tidak menganggapku. Aku juga bisa membantu kamu untuk hal apapun. Jangan pernah bilang begitu lagi."

 

Fuma tertawa kecil. Ia bersyukur dengan usaha Yudai untuk membuat suasana lebih ringan. Sungguh, mereka hanya punya satu sama lain, dan untuk saat ini hal itu rasanya sudah cukup.

 

Dan dengan dekapan erat, dua insan itu saling menyegel presensi yang ada. Tangan Fuma yang memeluk pinggangnya membuat Yudai merasakan untaian pikirannya perlahan mulai terurai.

 


 

Malam yang dingin di bulan Oktober, rembulan ditaklukkan langit hitam; di atas sana tak nampak cahaya yang berarti. Di kamar yang memiliki wallpaper biru lembut—kamar Harua—Fuma terduduk dengan sebelah tangan menggenggam thermometer.

 

"Berapa suhunya?"

 

"38 celsius.. Lumayan panas."

 

Yudai secara reflek mendekap badan mungil Harua yang tertidur, tangannya dingin dan warna mukanya pucat. Ia tidak tega melihat anak sekecil ini menggigil ditengah malam.

 

"Rua, jangan khawatir, ya? Ayah sama Papa ada disini."

 

Dipan yang difungsikan untuk diisi satu orang itu kini dipaksa menanggung beban tiga orang. Yudai memeluk kepala Harua yang bersandar pada dadanya, sementara Fuma memeluk Harua dari belakang, memastikan punggung anak itu tidak terekspos udara dingin.

 

"Shhh, Rua, maafin Papa, ya? Kalau saja sakitnya Rua bisa pindah ke Papa,"

 

Mendengar itu Yudai hampir meneteskan air mata, betapa Ia bersyukur memiliki Fuma sebagai pasangan hidup. Dengan sedikit usaha, ia mengecup puncak kepala lelaki itu dengan sayang. Dia, mereka, sudah melalui banyak hal.

 

Kenyamanan yang menyelimuti membuat mereka cepat tertidur. Tak peduli selimut yang tak menjangkau kaki dua lelaki dewasa yang menggantung dari dipan, menggerogoti kulit yang terbuka dengan udara dingin.

 

"Yah, Ayah,"

 

Yudai terbangun dari tidurnya yang tak direncanakan, ia melihat wajah Harua yang memenuhi pandangnya.

 

"Kenapa, sayang? Butuh sesuatu?"

 

Harua menggeleng. Ditunjukkannya thermometer di tangan, 35 celsius.

 

"Wah, hebat anak ayah! Cepat sekali sembuhnya."

 

"Tentu saja, kan, mirip Papanya."

 

Pintu terbuka, menampilkan Fuma dengan celemek gambar kelinci—pilihan Harua.

 

"Ayo, makan malam. Aku buatin kesukaan kalian."

 

Senyuman yang terukir di wajah Fuma saat itu begitu tampan, entah Yudai masih terbawa suasana nostalgia, atau karena sungguh ia sangat jatuh cinta dengan lelaki dihadapannya ini; mungkin keduanya.

 

"Fuma,"

 

Yudai bangun dan memeluknya, menghirup dalam aroma rempah yang menempel dari kegiatan masak Fuma.

 

"Aku nggak diajak?"

 

Yudai membuka sedikit rengkuhan itu,

 

"Sini, Rua. Ayo peluk Papanya!"

 

Dan dengan begitu Harua bergabung dengan kehangatan yang tercipta. Ia tak tahu apa yang terjadi, tapi senang rasanya mengetahui ia masih dapat memeluk orangtuanya tanpa perlu segan. Karena ia menyayangi Ayah dan Papa, karena ia paham usaha mereka membesarkannya hingga saat ini.

 

Fuma menepuk ujung kepala dua orang itu, dua orang paling penting dalam hidupnya.

 

"Sudah pelukannya, ayo, kita makan sebelum dingin."

 

Senyuman tak luput hadir di wajah tiga anggota keluarga itu. Mereka punya banyak sekali hal yang patut disyukuri, dan mungkin ini baru permulaan dari kebahagiaan yang lebih besar.