Work Text:
Tiada kata tenang di rumah kediaman Kim. Selalu ada saja kejadian yang dialami oleh keluarga kecil itu, seperti pagi ini—Sooyeon, anak tunggal dari keluarga Kim yang setelah dibangunkan untuk mandi dan berangkat ke sekolah, anak itu baru mengingat kalau ia belum mengerjakan PR-nya.
“Papi, Adek belum kerjain PR matematika Adek!” Adu Sooyeon saat papinya mengarahkan anak itu ke kamar mandi.
“Aduh, Adek! Kan Papi udah bilang, kalau ada PR langsung dikerjain, jangan baru dikerjain pagi-pagi gini,” Taerae membawa putrinya ke arah meja makan, dimana suaminya, Jiwoong, sedang melakukan rutinitasnya sehari-hari—minum kopi hitam di pagi hari. “Papa, bantuin dong si Adek, Papi mau masak dulu.”
Jiwoong pun membantu putrinya saat yang paling muda duduk di kursi dan menaruh buku tulisnya, sedangkan Taerae bergegas ke dapur untuk menghangatkan makanan sisa kemarin ditambah telur ceplok, karena anaknya rewel kalau melewatkan sarapan dengan telur mata sapi.
Setelah beberapa menit, Taerae kembali memanggil putri semata wayangnya. “Adek! Ayo mandi dulu, nanti telat ke sekolah loh.”
Taerae pun membawa buah hatinya ke kamar mandi untuk membantu memandikannya, meninggalkan Jiwoong seorang diri di meja makan.
Jiwoong melihat ke arah dapur, dimana kompornya masih menyala. Pria itu bergegas untuk mematikan kompornya, menghidangkan makanan yang sudah dimasak oleh Taerae di meja makan, lalu membantu memasukkan buku tulis dan tempat pensil ke dalam ransel Labubu ungu milik Sooyeon.
Jiwoong tersenyum mendengar pertikaian kecil dari dua orang yang paling ia sayangi itu. Jiwoong merasa sangat beruntung memiliki keluarga kecilnya ini.
