Actions

Work Header

let my arms be ur cape (nothing can harm u here)

Summary:

flashback of sunghoon and jaeyun first meet; school life.

"two young souls daring to dream, though fate keeps twisting their paths."

Notes:

(See the end of the work for notes.)

Work Text:

Sim Jaeyun.

Bagi Sunghoon, nama itu terdengar seindah puisi yang meluncur lembut dari bibir seorang penyair.

Ada sesuatu dalam nama itu—sesuatu yang terasa hangat, manis, dan sulit untuk dijelaskan.

Wajah Jaeyun lembut, dengan pipi bersemu merah muda seperti langit senja yang pelan-pelan menyambut kemunculan bintang. Tawanya mengalun seperti nada-nada yang terdengar magis dan mempesona.

   


 

Pertemuan pertama mereka terjadi di bangku Sekolah Menengah Pertama.

 

Hari itu, kelas Sunghoon kedatangan murid baru—anak laki-laki berambut cokelat terang, dengan logat Korea yang masih terdengar kaku dan lucu. Belakangan Sunghoon tahu, anak itu berasal dari Australia.

 

“Sim Jaeyun,” katanya sambil tersenyum kikuk saat memperkenalkan diri di depan kelas.

 

Kesan pertama Sunghoon?

 

Jaeyun seperti magnet—secara ajaib menarik perhatian semua orang di kelasnya itu.

Dia ramah, cerewet—dalam artian yang menyenangkan, dan penuh rasa ingin tahu. Meskipun bahasa Koreanya belum lancar, kehadirannya membuat suasana jadi lebih hidup. Tapi justru karena itu pula, dia terlihat berbeda. Unik.

 

Sementara itu, Sunghoon muda saat itu sedang tenggelam dalam dunianya sendiri. Dunianya penuh dengan lompatan-lompatan es, musik klasik, dan mimpi besar untuk menjadi atlet figure skating. Ia terlalu fokus pada latihan dan persiapan kompetisi, hingga rasanya tak ada ruang dalam hidupnya untuk sosok baru seperti Jaeyun.

Bukan karena tak tertarik, tapi lebih karena waktu yang terasa terlalu sempit untuk membuka hati pada hal-hal yang tak terjadwal.

 

Tapi diam-diam, dari bangkunya yang terletak di pojok kelas, Sunghoon memperhatikan.

Matanya kadang mengikuti gerak-gerik Jaeyun yang sibuk bertanya ini-itu, tersenyum pada siapa saja, atau tertawa lepas saat tidak mengerti apa yang guru katakan.

 

Jaeyun ceroboh. Penuh energi. Kadang terlalu banyak bicara untuk ukuran orang yang belum fasih berbahasa. Tapi selalu tersenyum. Selalu berusaha menyapa siapa saja. Selalu tertawa meskipun ucapannya sering kali sulit dimengerti. 

 

Dan Sunghoon… adalah kebalikan dari itu semua.

  


 

Namun takdir memang suka bermain dengan cara-cara yang tak terduga.

 

Entah bagaimana mulanya—Sunghoon pun tak yakin—tapi Jaeyun, bocah ceroboh dari Australia itu, justru tampak sangat tertarik padanya.

 

Ia selalu yang lebih dulu menyapa, lebih dulu mendekat, dan lebih dulu bercerita—seolah Sunghoon adalah satu-satunya orang di dunia yang layak untuk mendengarkan.

 

Kadang tentang sarapan yang gosong, kadang tentang anak anjing yang dilihatnya di halte bus, kadang tentang hal-hal aneh yang bahkan tak dipahami Sunghoon karena bahasa Korea Jaeyun masih berantakan.

 

Tapi ia tetap bicara. Dengan mata yang berbinar dan semangat yang tidak bisa ditolak.

Seolah Sunghoon benar-benar peduli. Seolah telinga Sunghoon diciptakan untuk mendengarkan celotehnya.

Dan anehnya... Sunghoon memang mendengarkan.

 

Meski tak selalu menanggapi, meski hanya mengangguk atau mengeluarkan suara pendek seperti “Hm,” atau “Oh,”—dia tak pernah pergi saat Jaeyun bicara.

 

Dan yang lebih aneh lagi, ia tak pernah bisa menolak kehadiran Jaeyun. Seolah ada sihir halus yang menenun ketenangan dalam setiap langkah Jaeyun yang selalu menempel padanya.

 

Jaeyun, dengan kecerobohannya yang hangat.

Jaeyun, dengan tawanya yang ceria dan keras kepala yang menyebalkan.

 

Dialah yang memaksa Sunghoon ikut klub baca, meskipun Sunghoon lebih suka lembar es daripada lembar buku.

 

Dialah yang menyeret Sunghoon berenang dan bermain sepak bola setiap akhir pekan, meski Sunghoon tak pandai menendang bola dan tak suka basah-basahan.

 

Dan yang paling mengejutkan—dia mulai muncul di arena latihan Sunghoon.

Awalnya duduk jauh, lalu semakin dekat. Duduk bersila sambil membawa termos teh dan camilan.

Menyemangati dengan teriakan yang salah waktu, tapi tulus.

 

Sunghoon tak pernah benar-benar mengizinkan, tapi juga tak pernah menyuruhnya pergi.

Karena diam-diam, kehadiran Jaeyun mulai terasa seperti sesuatu yang selalu ada di sana—seperti musik pengiring saat ia meluncur di atas es. Tidak mengganggu, justru mengisi kekosongan yang sebelumnya tak ia sadari.

 

Sejak saat itu, perlahan tapi pasti, semua orang tahu: di mana ada Sunghoon, di situ pasti ada Jaeyun.

Begitu pula sebaliknya.

Mereka seperti dua kutub yang tak pernah benar-benar serupa, tapi justru saling tarik-menarik dengan caranya sendiri.

Dan tanpa Sunghoon sadari, hari-harinya mulai berubah. Tidak lagi hanya diisi sunyi dan kesibukan, tapi juga suara tawa, ajakan yang tiba-tiba, dan keberadaan seseorang yang selalu berjalan setengah langkah di belakangnya—tak pernah jauh, tapi juga tak pernah memaksa.

 


 

“Aku cuma seneng main sama kamu.”

Itu yang Jaeyun katakan suatu hari, saat Sunghoon akhirnya bertanya kenapa anak itu selalu muncul di rumahnya setiap akhir pekan—seolah waktu luang miliknya memang diciptakan hanya untuk dihabiskan bersama Sunghoon.

 

Kalimat itu ringan, keluar begitu saja tanpa jeda atau ragu. Tapi di dada Sunghoon, kalimat sederhana itu bergema lebih dalam dari yang seharusnya.

 

Hari itu, kamar Sunghoon terasa lebih hangat dari biasanya.

Jaeyun tengah tengkurap di atas kasurnya, sibuk membaca buku yang bahkan sepertinya tak terlalu ia pahami. Buku pilihan klub baca yang ia paksa Sunghoon untuk ikuti.

 

Sunghoon, yang baru selesai mandi, melangkah masuk ke kamar dengan rambut masih setengah basah. Tanpa berkata apa-apa, ia menjatuhkan tubuhnya ke kasur, tepat di sebelah Jaeyun. Lembut dan pelan, hingga tubuh mereka bersentuhan sedikit.

 

Ada jeda diam yang nyaman, sebelum ia bertanya,

“Cita-cita lo nanti kalo udah gede apa, Yun?”

 

Jaeyun tak langsung menjawab. Ia hanya mengangkat sedikit alisnya tanpa menoleh.

“Hmm…” gumamnya, seolah berpikir, tapi jawabannya keluar cepat sekali:

“Jadi manajer kamu. Kalo kamu udah jadi atlet.”

 

Sunghoon tertawa pelan. Bukan karena jawabannya lucu, tapi karena itu terdengar terlalu Jaeyun.

“Kalau gue nggak berhasil jadi atlet?” tanyanya lagi, setengah serius.

 

Pertanyaan itu membuat Jaeyun akhirnya menoleh, dan mata mereka bertemu dalam diam yang singkat.

Jaeyun tersenyum, seperti biasa—lebar, jujur, dan tanpa beban. “Yaudah,” katanya, “Jadi apa aja... asal bisa bareng sama kamu terus.”

 

Sunghoon menoleh pelan ke arahnya, sedikit tercengang tapi tidak menunjukkannya. Dan sebelum ia sempat menanggapi, Jaeyun menambahkan dengan suara lebih pelan, namun lebih dalam.

 

“Serius deh. Kamu nggak jadi apa-apa juga... I’ll always be by your side kok. Jangan sedih kalau kamu mikir aku bakal pergi.” 

 

Sunghoon terdiam. Hatinya seperti ditarik pelan ke arah yang belum pernah ia jamah. Rasanya hangat, seperti duduk di bawah sinar matahari pagi setelah terjebak dalam musim dingin yang panjang.

Ia tertawa kecil, pura-pura menertawakan ucapannya.

Tapi Jaeyun ikut tertawa, dan tawanya seperti biasa—lepas, renyah, dan mempesona.

 

Bagi siapa pun yang mendengar, mungkin itu terdengar seperti candaan. Atau mungkin memang hanya candaan, karena Jaeyun memang sering bercanda seperti itu.

 

Tapi bagi Sunghoon, ia berharap kalimat itu nyata. Ia berharap, dalam semesta yang luas ini, kata-kata Jaeyun bisa jadi janji yang sungguh-sungguh.

 

Terutama bagian di mana ia berjanji tak akan pernah meninggalkan sisi Sunghoon.

Ia tak tahu kenapa—mungkin karena selama ini tidak ada yang pernah berkata begitu padanya. Tidak ada yang dengan ringan bilang ingin terus berada di sisinya, tanpa syarat, tanpa rencana, tanpa takut kecewa.

 

Dan malam itu, untuk pertama kalinya setelah sekian lama, Sunghoon berdoa lagi. Kepada Tuhan yang selama ini hanya ia sebut dalam hati.

Ia berdoa agar Jaeyun tetap tinggal.

Agar tawa itu tetap ada di sampingnya.

Agar tangan yang ringan menyentuh pundaknya setiap pagi tak pernah pergi.

Ia tak tahu apakah Tuhan mendengar, tapi untuk pertama kalinya, ia sungguh berharap… Tuhan bersedia menjawab.

 


 

Lucunya, Jaeyun benar-benar menepati ucapannya waktu itu.

 

Tentang selalu berada di sisi Sunghoon—apa pun yang terjadi, bahkan kalau Sunghoon tak jadi apa-apa.

 

Dan kalimat itu, yang dulu terdengar seperti gurauan manis, berubah menjadi kenyataan paling serius dalam hidup mereka.

 

Karena takdir, dengan caranya yang paling kejam dan tak pernah bisa ditebak, mematahkan impian Sunghoon begitu saja.

 

Itu terjadi beberapa minggu setelah lomba terakhir Sunghoon.

Mobil yang ditumpanginya bersama sang pelatih tergelincir di jalan tol yang licin. Dentuman keras, jeritan logam yang beradu—lalu gelap.

 

Saat ia sadar, dunia sudah tidak sama.

Ia tidak bisa merasakan lutut kirinya. Kaki yang selama ini menjadi sayapnya, kini terasa mati. Tak lagi bisa menari di atas es, tak lagi bisa melayang bebas seperti dulu.

 

Dan dengan begitu kejamnya, dunia Sunghoon runtuh dalam senyap. Hidupnya berubah abu-abu. Tak berwarna. Tak berbentuk.

 

Ia berhenti masuk sekolah. Berhenti bicara. Berhenti menemui siapa pun.

 

Ia bahkan tak lagi melihat bayangan dirinya di cermin, karena yang ia lihat hanyalah sisa-sisa dari mimpi yang kini sudah tak utuh lagi. Ia juga berhenti merawat dirinya sendiri—rambutnya dibiarkan panjang dan kusut, tubuhnya mengurus, matanya selalu kosong.

 

Namun di tengah kehancuran itu—ada Jaeyun.

 

Masih sama seperti dulu. Masih dengan rambut cokelatnya yang berantakan, dan langkah cerobohnya yang tak pernah tenang.

 

Ia tetap datang. Tetap duduk di samping tempat tidur Sunghoon. Bahkan sejak malam sebelum Sunghoon sadar dari kecelakaan itu, Jaeyun sudah ada di sana—menunggu dengan mata bengkak karena terlalu banyak menangis.

 

Bagaikan mentari, Jaeyun datang setiap hari.

 

Entah membawa makanan, buku, kabar dari sekolah, atau hanya dirinya sendiri. Kadang dengan senyum ceroboh dan mata sembab usai tangisnya yang berusaha disembunyikan.

 

Ia tidak pernah memaksa Sunghoon untuk bicara. Tapi ia tetap berbicara, tetap mengisi ruang yang kosong itu dengan suara, dengan tawa, dengan kehadirannya.

 

Ia duduk di lantai, menyandarkan punggung pada ranjang Sunghoon. Kadang membacakan buku keras-keras meski Sunghoon tampak tak mendengarkan.

 

Kadang bercerita panjang lebar soal kabar teman-teman di sekolah, tentang guru baru yang galak, tentang kantin yang kini menjual es krim rasa pisang.

Kadang juga ia hanya datang untuk duduk diam di lantai kamar Sunghoon, mengerjakan PR-nya sambil sesekali mencuri pandang.

 

Suatu malam, Sunghoon tiba-tiba menangis tanpa suara.

Air matanya mengalir deras, tubuhnya gemetar hebat. Dan Jaeyun, yang sedang tertidur di lantai, langsung terbangun dan memeluknya erat tanpa bertanya.

 

“Kenapa harus gue… kenapa bukan orang lain aja…?” suara Sunghoon lirih, patah, penuh rasa marah dan kecewa yang selama ini ia kubur dalam-dalam.

 

Jaeyun memeluknya lebih erat, bahkan ketika bajunya basah oleh tangis Sunghoon.

“Karena kamu kuat,” katanya, meski suaranya sendiri ikut bergetar, “Karena dunia belum selesai sama kamu. Dan aku juga belum selesai sama kamu, Hoon…”

  

Sunghoon tidak menjawab. Tapi malam itu, untuk pertama kalinya, ia membiarkan seseorang menangis bersamanya.

 

Hari-hari berikutnya tetap berat.

Kadang Sunghoon mengusir Jaeyun. Berkata kasar, membentak, menyuruhnya pergi.

Tapi Jaeyun tetap datang esok harinya. Seolah tidak terjadi apa-apa.

Ia tetap ada, bahkan ketika Sunghoon tak pantas untuk ditemani. Ia tetap duduk di samping ranjang, tetap memeluk, tetap bercerita, tetap memaafkan.

 

Dan perlahan—sangat perlahan—warna mulai kembali merayap ke dunia Sunghoon. Ia mulai membuka jendela. Mulai memotong rambutnya. Mulai mengganti bajunya sendiri.

 

Sampai akhirnya, ia kembali sekolah. Kembali menatap langit pagi tanpa ingin memejamkan mata. Dan di setiap langkah kembalinya, Jaeyun selalu ada. Seperti nafas yang tak pernah meninggalkannya.

 

Sejak saat itu, keberadaan Jaeyun menjadi sesuatu yang istimewa dalam hidup Sunghoon. Bukan sekadar sahabat, bukan sekadar teman. Tapi cahaya kecil yang menuntunnya keluar dari kegelapan.

 

Dan diam-diam, di dalam hati yang mulai hangat lagi, Sunghoon berjanji—akan membuat Jaeyun tertawa lebih sering, menangis lebih jarang. Ia berjanji akan menjadi rumah bagi anak ceroboh itu, seperti Jaeyun telah menjadi cahayanya saat dunia terlalu gelap untuk dilihat.

 

Jaeyun pernah bilang, "I’ll always be by your side."

Dan sekarang, Sunghoon mengucapkannya kembali—pelan, tapi sungguh-sungguh:

"Gue juga, Yun. Sampai kapan pun."

  

 


 

Waktu terus berjalan, dan seperti segala hal yang tumbuh, mereka pun ikut bertumbuh.

Memasuki masa sekolah menengah atas, satu kabar datang bagaikan badai yang tak diundang: keluarga Jaeyun memutuskan untuk kembali menetap di Australia.

 

Kabar itu menghantam Sunghoon tanpa aba-aba. Ia tidak menunjukkannya, tentu saja. Tidak menangis, tidak memohon. Tapi ada rasa perih yang mengendap dalam diamnya, seperti dulu saat ia kehilangan mimpinya—bedanya kali ini, ia takut kehilangan Jaeyun.

 

Namun ternyata, Jaeyun pun merasa hal yang sama.

Anak ceroboh itu—yang kini mulai beranjak remaja—menolak dengan suara gemetar. Ia memohon kepada kedua orang tuanya, mengatakan bahwa hidupnya ada di Korea. Bahwa hatinya tertinggal di sana, bersama seseorang yang tak ingin ia tinggalkan. Ia bahkan bersikeras tinggal sendiri jika perlu.

 

Tentu saja, itu tidak mudah. Tak ada orang tua yang dengan ringan hati melepas anaknya tinggal di negeri asing saat usia mereka baru belasan seorang diri.

 

Namun malam itu, Sunghoon memberanikan diri datang ke rumah Jaeyun, berdiri dengan tegap di depan orang tua sahabatnya dan memohon,

"Please, let him stay. I promise I'll take care of him. No matter what."

Dan entah karena ketulusan Sunghoon atau keyakinan diam-diam yang terpancar dari matanya, akhirnya izin itu diberikan.

 


 

Mereka pun tumbuh bersama di SMA yang sama. Duduk di kelas yang sama, seperti dulu. Namun kali ini dengan dunia yang perlahan berubah. Tidak lagi bermain-main seperti anak-anak, tapi mulai meraba masa depan yang ingin mereka ciptakan.

 

Sunghoon yang dulu hanya tahu es dan dingin kini mulai jatuh cinta pada dunia di balik lensa.

Ia masuk ekskul fotografi—kamera menjadi matanya yang baru, cara lain untuk melihat dan menyampaikan isi hati.

Dan diam-diam, ia mulai bermimpi: ia ingin menjadi sutradara.

Membuat film, menangkap cerita, menghadirkan keindahan lewat potongan gambar yang bergerak.

 

Sementara Jaeyun, si anak penuh cahaya itu, mulai bersinar lebih terang. Dengan visual luar biasa, kepribadian ceroboh yang menggemaskan, dan aura yang tak bisa disembunyikan, ia mulai melangkah ke dunia modelling.

 

Tak butuh waktu lama hingga sebuah agensi besar meliriknya dan mengajaknya bergabung sebagai trainee

 

Mereka mulai menapaki jalan masing-masing—berbeda, tapi saling bersisian.

 

Di sekolah, Sunghoon memotret Jaeyun untuk tugas-tugas fotografinya.

Di rumah, Jaeyun membaca naskah buatan Sunghoon dan menirukan dialog sambil tertawa-tawa.

 

Mereka membicarakan masa depan seolah waktu akan menunggu.

 


 

Suatu sore di balkon apartemen Jaeyun, angin pelan menyapu tirai dan aroma teh dari gelas yang diletakkan di meja kecil di antara mereka. Matahari tenggelam perlahan di balik gedung-gedung tinggi, memantulkan warna jingga keemasan di kaca jendela.

 

Jaeyun bersandar santai di pagar balkon, tatapannya lurus menatap garis langit yang tak berujung,

If I become a celebrity someday,” katanya pelan, maniknya ia alihkan untuk menatap wajah Sunghoon dari samping, “you have to be my director. Okay?”

 

Sunghoon meliriknya sekilas, lalu kembali menatap langit yang mulai redup, "Do I have a choice?"

 

Jaeyun tertawa, menyenggol bahunya, "Nope. You're stuck with me."

 

Sunghoon menghela napas pelan, tapi bibirnya melengkung membentuk senyum kecil. "Alright then. It's a deal."

 

Jaeyun menatapnya serius, sedikit lebih dalam kali ini.

"Promise me we’ll chase our dreams together. Don’t leave me behind, okay?"

 

Sunghoon terdiam. Tidak menjawab, tidak langsung menatap balik. Tapi ia bisa merasakan nada sungguh-sungguh dari suara itu—bukan candaan, bukan basa-basi.

Setelah beberapa detik, ia menjawab lirih, "I won’t... selama lo juga nggak ninggalin gue."

 

Jaeyun tersenyum, lalu mengulurkan kelingkingnya.

 "Pinky promise."

 

Sunghoon menatap jemari itu sejenak, lalu mengaitkannya dengan miliknya.

 

Dan di bawah langit yang mulai berubah ungu, mereka mengikat janji sederhana—yang mungkin terdengar seperti mimpi, tapi bagi mereka, rasanya nyata dan penting.

 

Sebuah janji yang mereka harap tak akan pernah patah.

 


 

Sunghoon kadang bertanya-tanya sejak kapan waktu begitu cepat berlari. Sejak kapan Jaeyun yang dulu hanyalah seorang bocah berambut cokelat terang yang berbicara dengan aksen lucu itu berubah menjadi sosok remaja laki-laki dengan paras menawan dan senyum yang entah kenapa makin sulit diabaikan.

 

Di tengah kesibukan masing-masing, mereka masih selalu menemukan waktu untuk berbagi ruang. Kadang hanya duduk berdua di kamar, tak perlu berbicara, cukup saling hadir.

 

Dan di salah satu sore yang terlalu sepi untuk usia remaja mereka, sunyi menyelimuti kamar Sunghoon.

 

Jaeyun sedang membaca—atau pura-pura membaca—sementara Sunghoon, berbaring di lantai berkarpet, memperhatikan Jaeyun diam-diam.

 

Garis rahangnya lebih tegas sekarang, matanya tidak lagi sebulat dulu. Tapi cara dia tersenyum, cara dia tertawa, tetap sama—riang dan hidup, seolah dunia tidak pernah memberatkan bahunya.

 

"Yun," panggil Sunghoon pelan.

 

Jaeyun menoleh, "Hmm?"

 

"Have you ever realize," katanya sembari menatap ke langit-langit, "Lo tuh tumbuh jadi... cantik banget."

 

Jaeyun tertawa kecil, “Apaan sih,” mengira itu lelucon.

 

"Serius," lanjut Sunghoon, masih menatap langit-langit. "Tapi bukan cantik yang aneh. Just—there’s something about you that makes it hard for people to look away.”

 

Sunyi kembali.

 

Jaeyun menutup bukunya perlahan, lalu turun dari ranjang, duduk di lantai di samping Sunghoon. Mereka diam sebentar. Nafas mereka tipis-tipis terdengar. Pun sekarang rasanya jarak diantara mereka terlalu dekat dari biasanya.

 

Lalu entah kenapa, Sunghoon berbisik, "Gue pengen nyoba sesuatu."

Jaeyun menatapnya, tidak menjawab. Hanya menunggu.

 

Dan di saat berikutnya, tanpa persiapan, tanpa aba-aba, bibir mereka bertemu.

Lambat. Diam.

 

Bukan ciuman penuh gairah, tapi ada intensitas yang terasa. Ada kegugupan. Ada debar. Ada rasa penasaran yang terjawab sebagian—dan sisanya dibiarkan terbuka.

 

"...That was weird," bisik Jaeyun, lalu terkikik.

Sunghoon ikut tertawa kecil, "Yeah. Super weird."

 

Kemudian mereka tidak membahasnya lebih jauh. Tidak membiarkan ciuman pertama bagi keduanya itu menjadi beban atau pertanyaan.

 

Bagi mereka, itu bukan tentang cinta atau romansa. Itu hanya bagian dari rasa penasaran remaja.

 

Bahwa di dunia yang penuh kegaduhan dan tuntutan untuk menjadi "normal", mereka bisa saling menjadi tempat pulang yang tenang. Tanpa label. Tanpa perlu mengerti semuanya. Tapi penuh rasa aman.

 


 

Tahun ketiga sekolah menengah atas datang seperti angin yang terlalu cepat bertiup—membawa mereka ke ambang akhir masa remaja.

 

Sunghoon makin sibuk dengan naskah-naskah film pendek dan persiapan ujian universitas, sedangkan Jaeyun…

 

Jaeyun bersinar. Setidaknya dari luar. Wajahnya makin sering muncul di pemotretan-pemotretan kecil agensinya, langkahnya makin dekat dengan debut.

 

Tapi tidak semua hal seindah itu.

 

Jaeyun kini punya pacar. Seorang laki-laki dari kelas atas, populer dan tampan, tapi memiliki sorot mata yang membuat dada Sunghoon terasa sempit setiap kali melihatnya.

 

Ia bukan cemburu. Bukan. Hanya... tidak nyaman. Ada sesuatu yang salah—dan sayangnya, perasaannya benar.

 

Sunghoon beberapa kali melihat laki-laki itu berbicara dengan nada tinggi pada Jaeyun. Kadang dengan umpatan kasar. Bahkan pernah saat Sunghoon berniat untuk mengantar makanan titipan orang tuanya, ia melihat lelaki itu mendorong bahu Jaeyun di lorong apartemennya.

 

"Dia cuma lagi capek," kata Jaeyun waktu Sunghoon menegur dengan lembut.

 

"Capek bukan alasan buat nyakitin orang, Yun," ucap Sunghoon. Tapi Jaeyun hanya tersenyum kecil—senyum yang tidak menyentuh matanya.

 

Dan Sunghoon tahu, ia tak bisa memaksa Jaeyun melepaskan seseorang yang tampaknya ia cintai. Jadi ia memilih untuk tetap di samping Jaeyun. Menjaga, dari jauh. Meskipun hatinya tak tenang.

 

Minggu berganti bulan. Bulan berganti tahun. Dan dunia terus berjalan, membawa mereka ke tahun terakhir di masa sekolah.

 

Sunghoon makin sibuk mempersiapkan ujian masuk universitas. Jurusan film. Impian yang perlahan ia rajut lagi sejak hari gelap di masa SMP dulu.

 

Jaeyun juga bersiap untuk penilaian akhir di agensinya—ujian terakhir sebelum debut.

 

Mereka masih sering menghabiskan waktu bersama. Makan malam di restoran favorit, menonton film larut malam, menginap di apartemen Jaeyun. Rutinitas mereka tetap hidup, meski kadang dunia mencoba meretakkannya.

 

Tapi malam itu terasa aneh.

 

Hujan turun malam itu. Gerimis tipis membasahi trotoar kota yang biasanya ramai, kini sunyi dalam kilau lampu jalan. Sunghoon memandangi layar ponselnya yang menunjukkan waktu: pukul 19.42.

 

Sudah hampir satu jam sejak Jaeyun seharusnya menemuinya di bioskop kecil langganan mereka. Dan Jaeyun belum juga mengangkat telepon—padahal biasanya, suara dering pertama saja sudah langsung dijawab dengan tawa kecil, “Sorry, gue telat lagi, ya?

 

Khawatir, Sunghoon melangkah cepat ke apartemen Jaeyun. Ia mengetuk pintu, memanggil nama temannya, tapi tak ada jawaban. Namun suara dering dari balik pintu terdengar jelas. Ponsel Jaeyun ada di dalam.

 

Tanpa pikir panjang, Sunghoon memasukkan password yang ia hapal sejak lama. Klik. Pintu terbuka.

 

Sunghoon membeku di ambang pintu.

 

Tubuh Jaeyun tergeletak di lantai ruang tengah, tak sadarkan diri.

Wajahnya lebam. Bibirnya sobek. Ada bekas darah kering di ujung alis dan sudut bibirnya. Baju tidur yang ia pakai compang-camping di bagian leher. Ponsel tergeletak di dekatnya. Layarnya retak, seakan dilempar keras ke lantai.

 

Sunghoon terhuyung, lalu berlari dan jatuh berlutut di samping tubuh sahabatnya. Tangannya gemetar saat menyentuh bahu Jaeyun yang penuh luka.

God, Jaeyun.. Wake up!

Napasnya tercekat, tangannya panik menepuk pipi Jaeyun perlahan.  "Please.. open your eyes. It's me... I'm here... I’m here, okay?"

 

Jaeyun menggeliat pelan. Kelopak matanya terbuka sedikit.

“...Hoon?”

 

Yeah, I’m here. I got you, okay? Gue di sini, Jaeyun.”

 

 Air mata menggenang di mata Sunghoon saat ia meraih tubuh sahabatnya, memeluknya seolah takut jika Jaeyun akan menghilang jika ia lepas.

“Gue bawa lo ke rumah sakit, oke? Lo butuh ditangani—”

 

“...nggak.” Jaeyun menarik tangan Sunghoon lemah. “Please, jangan rumah sakit...”

 

Sunghoon menatap wajah temannya dengan mata merah. “Kenapa? Lo luka, Yun... Parah.”

 

“Kalau gue ke rumah sakit... nanti dia makin marah.”

 

Sunghoon membeku.

Dia. 

Sialan itu lagi.

   

** 

 

Beberapa jam kemudian, Jaeyun sudah berbaring di tempat tidurnya. Luka-luka ringan diobati seadanya oleh Sunghoon—dengan tisu basah, air hangat, dan perban dari kotak P3K yang hampir kadaluarsa.

 

Sunghoon duduk di lantai, memegangi tangan Jaeyun yang kini menggigil dalam diam.

“Dia yang mukulin lo?” suaranya rendah, nyaris bergetar. Tapi mata Sunghoon menatap lurus. Dingin. Sakit.

 

Jaeyun mengangguk perlahan.

 

Why..” Sunghoon bertanya, lebih pelan lagi. “Why did he do this to you?

 

Dan saat itu, air mata Jaeyun mengalir, “Karena gue... masih ikut agensi.”

 

Sunghoon menahan napas.

 

“Dia marah... gue bilang gue tetap mau debut. Dia bilang... gue bukan siapa-siapa... that I’m just some pretty face with no real talent...” kata Jaeyun pelan sambil terisak. Bibirnya bergetar, nyaris tak terdengar.

 

Sunghoon menutup matanya, menahan amarah yang mendidih.

 

“Dan dia... dia bilang... no one’s ever gonna take me seriously as a model. Katanya gue cuma ilusi doang. Jadi dia... dia pukul gue... supaya gue ngga bisa dateng ke evaluasi akhir besok.”

 

Jaeyun menangis lagi, kali ini lebih keras.

“Dia bilang gue harus milih—antara dia atau impian gue.”

 

Sunghoon menarik tubuh Jaeyun ke pelukannya lagi, lebih erat. “You’re going to be okay. I won’t let him touch you again. I swear.”

 

Jaeyun terdiam sejenak di dada Sunghoon.

“Gue keluar dari agensi,” katanya, pelan sekali. “Gue batal debut... I gave up everything.

 

Sunghoon menarik napas dalam-dalam, lalu dengan suara serak ia menjawab,

 “No, you didn’t. Dia yang ngerenggut semuanya dari lo. Tapi lo belum selesai, Yun. We’ll start again.”

 

Sunghoon meletakkan tangan Jaeyun di dadanya, menatap mata sahabatnya yang penuh luka dan air mata.

“Ingat waktu gue jatuh dulu? You stayed, every single day. You held me together. Sekarang, giliran gue. Gue yang jagain lo. Gue yang bantu lo bangkit.”

 

Jaeyun menatapnya, mata sembab tapi ada setitik kepercayaan di sana.

Hoon, I’m scared…

 

I know,” Sunghoon membelai rambutnya pelan. “But you’re not alone. Never again.”

 

Malam itu, Sunghoon tidak tidur. Ia duduk di lantai, bersandar di tempat tidur, sementara Jaeyun tertidur karena lelah menangis. Luka di tubuhnya mungkin akan sembuh perlahan. Tapi luka di hatinya—itu yang ingin Sunghoon rawat dengan sabar.

 

Karena di dunia yang sering kejam ini, Sunghoon bersumpah: Jaeyun tidak akan terluka sendirian lagi.

  


 

Waktu seperti berlari tanpa menoleh.

 

Satu tahun berlalu sejak malam terburuk dalam hidup Jaeyun, dan meski luka-luka itu tak sepenuhnya hilang, ia sudah jauh lebih kuat dari sebelumnya. Bersama Sunghoon, ia perlahan membangun ulang dirinya.

 

Mereka akhirnya lulus SMA.

 

Di tengah kebahagiaan teman-teman mereka yang sibuk memilih universitas dan merancang masa depan, Jaeyun datang pada Sunghoon dengan mata berbinar, membawa satu keputusan besar:

I think... I need to go back to Australia."

 

Sunghoon hanya diam, menatap sahabatnya yang kini berdiri di hadapannya dengan lebih tegap, rambut sedikit lebih panjang, wajahnya sedikit lebih dewasa, cantik—dan senyum yang tetap sama.

 

"I don’t want to stay trapped here. In a place that’s filled with memories of him. I need to let go... completely."

 

Sunghoon mengangguk pelan. “Gue ngerti.”

 

“Gue mau kuliah di sana,” lanjut Jaeyun, suaranya mulai terdengar ringan. “Gue mau belajar jadi make-up artist. Jadi suatu hari nanti, kalo lo udah jadi sutradara terkenal... I’ll be the one behind the scenes—helping your actors look flawless.”

Ia tertawa kecil. “Biar kita tetep bisa kerja bareng, kayak janji kita dulu."

 

Sunghoon tidak langsung menjawab. Tapi ia menarik Jaeyun ke dalam pelukan hangat dan lama, seolah ingin menyimpan wangi dan kehadiran itu dalam ingatannya.

 

You better become the best MUA in the world,” bisiknya, suaranya sedikit serak. “Gue akan nunggu lo. Jadi waktu lo balik nanti, kita bisa ketemu lagi—udah sama-sama jadi orang hebat.”

 

Jaeyun tersenyum lebar, matanya berair. “I’ll come back, Hoon. Gue janji. Nggak peduli berapa tahun, gue pasti nemuin lo lagi.”

  


 

Dan hari itu pun tiba. Hari ketika mereka harus berpisah.

 

Bandara dipenuhi suara pengumuman dan derap langkah orang-orang. Tapi di antara keramaian itu, dunia Sunghoon terasa sunyi.

 

Di depan gerbang keberangkatan internasional, mereka berdiri berhadapan—dua anak laki-laki yang tumbuh bersama, melewati luka dan mimpi, kini harus berjalan di jalan yang terpisah.

 

Please jaga diri lo di sana, Yun,” kata Sunghoon pelan. “Eat well. Rest enough. And don’t forget to call me.”

 

“Gue bakal spam lo tiap hari, tenang aja,” jawab Jaeyun, tertawa kecil di antara air matanya.

 

Sebelum berpisah, Sunghoon mendekat. Tangannya menyentuh pipi Jaeyun lembut, lalu ia mengecup kening sahabatnya—hangat dan penuh kasih.

“Thank you for staying with me this whole time,” bisiknya. “I love you, Jaeyun. In a way only you and I understand.”

 

Jaeyun tersenyum, lalu memeluknya erat—lebih erat dari pelukan mana pun yang pernah mereka bagi. Dan sebelum melangkah masuk, ia berjinjit, lalu mengecup pipi Sunghoon dengan pelan.

See you again, Hoon.”

 

Sunghoon mengangguk, memeluk Jaeyun sekali lagi kemudian menatap kepergiannya sampai bayangan Jaeyun lenyap di balik pintu imigrasi. Ada perih yang menggantung di dada, tapi juga harapan yang hangat.

 

Karena mereka tahu, di dunia yang luas ini, jika dua hati saling menunggu, mereka pasti akan bertemu lagi.

 

 

Notes:

*pingsan*