Work Text:
Akashi memang paling jago membuat Mayuzumi mendadak terkena serangan jantung. Well, contohnya, Minggu pagi ini—Minggu yang seharusnya tenang malah merusak mood seorang Mayuzumi Chihiro karena bunyi bel apartmentnya yang, demi Tuhan, mengganggu telinga. Dan begitu laki-laki pelit ekspresi ini (terpaksa) membuka pintu, ia tersedak salivanya sendiri ketika iris abunya melihat Akashi Seijuurou, sang Kapten Basket Rakuzan, si Tuan Absolut yang harga dirinya tinggi sekali ini, muncul di depan pintunya mengenakan kostum Kaguya—heroine favoritnya—lengkap dengan wig ungu beserta sepasang telinga kelinci di atasnya—dan, ya ampun, membawa parasol yang sering dibawa Kaguya juga!
Astaga, rupanya kiamat sudah dekat memang bukan omong kosong.
“Jangan rusak karakter Kaguya, Akashi!” Alih-alih menyuruhnya masuk atau sekadar menanyakan alasan Akashi datang ke tempatnya, Mayuzumi malah melontarkan kalimat sinis. Serius, nyawanya belum pulih seratus persen sehabis tidur semalam, malah dikejutkan dengan kelakukan aneh adik kelasnya ini. Heh, ia yakin kalau batok kepala si Kapten retak—atau karena sindrom kelas duanya kumat? Ugh.
Akashi menyeringai sengak yang membuat Mayuzumi ingin meninjunya. Oke, meskipun ia akui kalau Akashi yang sedang cosplay—serius dia cosplay?—ini cukup manis, tapi tetap saja sifat menyebalkannya tidak hilang. Oh, ya Tuhan, rencana busuk apa yang ada di pikiran Akashi sampai-sampai si pengidap megalomania itu rela membuang harga dirinya dengan crossdressing?
“Hee ... Chihiro tidak mempersilakan aku masuk, eh?” tanya Akashi sarkastis. Laki-laki delapan belas tahun ini mendengus jengah dan akhirnya menyerah dengan menyuruh bocah sialan itu masuk.
Serius, Mayuzumi masih tidak paham maksud kedatangan alien berkepala merah ini berkostum mirip Kaguya. Well, shit, kenapa harus Kaguya? Oke, memang sama-sama alien—tapi, duh, hancur sudah karakter heroine favoritnya yang manis ini (yah, padahal diam-diam Mayuzumi berharap kalau Akashi cosplaying Sasha—salah satu heroine di kenototo, novel kegemarannya, yang memiliki iris ganjil (satu biru dan sisi lainnya hijau), karena, serius, Mayuzumi pikir mereka mirip; secara fisik dan sifat benar-benar cocok).
“Mau apa kau kemari?” Akhirnya pertanyaan itu meluncur juga dari mulut Mayuzumi. “Dan, astaga, otakmu hilang atau kau sedang kesetanan bisa cosplaying Kaguya, eh?”
“Serius, Chihiro, hari ini ulang tahunmu! Memberimu sedikit kejutan, enggak apa-apa, ‘kan?” Cengiran Akashi semakin berkembang. “Lagipula, Kaguya ‘kan memang heroine favoritmu.”
“Kejutan pantatmu!” Mayuzumi kesal—inginnya ia pergi dari tempat, tetapi kedua matanya ternyata tidak setuju dengan syaraf sensoriknya; sepasang iris abu itu betah melirik Akashi yang, well, cukup seksi? Sial. “Aku yakin ada yang enggak beres di balik rambut merahmu itu.”
Akashi bersandar di sofa, melepas hak sepatunya yang terasa menggaggu dan melemparnya sembarang (“Eh, itu maksudnya apaan!? Memangnya ini rumahmu, rich bastard!?” jerit Mayuzumi dalam hati). Si alien ini malah menyeringai, menatap si pemilik apartemen seduktif.
“Apa lihat-lihat? Kau jatuh cinta padaku, yaaa? Mata kiriku ini bisa lihat, lho,”
Laki-laki yang saat ini berulang tahun itu kemudian sadar dari lamunannya, dan menyumpah serapah begitu mendengar kalimat asal yang keluar dari mulut kouhainya itu. “Sejak kapan Kaguya jadi chunni? Jangan buatku tertawa, Akashi!”
“Hee ..., mulutmu selalu manis seperti biasa, ya? Sampai aku ingin menyumpal dengan kaus kaki Eikichi,” Akashi terkekeh sarkastis, kemudian sepasang mata heterokrom itu menatap Mayuzumi tajam. “Aku rela membuang harga diriku dengan menggunakan aksesoris sampah ini untuk ulang tahunmu, asal kautahu. Bisakah kau menghargai usahaku?”
Mayuzumi tidak tahan lagi untuk tertawa. Tertawa sinis.
“Pfftt ..., itu kendengarannya seperti ‘aku mencintaimu. Maukah kau jadi pacarku, Chihiro? Jangan tolak aku, kumohon.’ bagiku, Obocchan.” Mayuzumi pasang tampang datar mengejek, membuat Akashi yang duduk di seberangnya tersenyum kesal dan kentara sekali ada garis empat siku-siku di pelipisnya.
“Wow, kaupunya imajinasi yang luar biasa, Chihiro! Tapi, sayangnya, aku tidak pernah punya niatan untuk berkata omong kosong seperti itu. Malah, sebaliknya, kau akan jatuh cinta padaku.”
“Cih, dalam mimp—“
Mayuzumi tiba-tiba merasa kalau darahnya mengalir sangat deras dari ubun-ubun ke bawah begitu kedua bibir hangat milik si alien itu mengapit bibirnya. Ia juga merasa kalau jari-jari Akashi menjambak jutaan helai rambut sewarna awan kelabunya. Berengsek. Mayuzumi lengah—tidak sadar kalau Akashi sudah menyerangnya duluan. Heh, akhirnya ia terkena jebakan si setan kecil ini.
“Aku bertaruh dengan Reo dan Kotaro,” kata Akashi, menangkup wajah Mayuzumi, sesekali mengecup bibirnya lagi. Sungguh, kalau Mayuzumi lihat cermin, ia yakin kalau wajah dan telinganya sudah semerah pantat bayi yang alergi sekarang. “Kotaro bilang kalau kau itu hetero dan Reo mengiramu aseksual, tapi aku akan buktikan pada mereka: mulai saat ini Mayuzumi Chihiro tidak selurus yang ia kira,” lanjutnya, dengan cengiran durjana menghias wajahnya, sebelum ia melumat Mayuzumi lagi.
Bangsaaaaaat, suara hati Mayuzumi melolong pilu. Ia benar-benar dikalahkan oleh si bocah yang selalu menggembor-gemborkan ‘i always win’ dengan mulut besarnya ini. Ah, tapi, Mayuzumi bukanlah orang bodoh yang tidak bisa melawan sama sekali. Bagaimanapun juga, sebagai seorang yang mencintai dirinya sendiri, ia tidak rela jika ada seseorang yang mendominasinya. Intinya, Mayuzumi hanya harus menjadi yang dominan, bukan? Dan kemudian laki-laki pelit atensi ini menggigit bibir bawah bocah berambut merah yang tengah duduk di pangkuannya ini.
“Sakit, Chihiro!” keluh Akashi, kesal. Ia menjauhkan wajahnya dari Mayuzumi, mendecih sebal begitu lelaki yang dikenal dengan miskin ekspresi itu menyeringai. “Wah, lihat, rupanya seorang Akashi Seijuurou berhasil membuat Mayuzumi Chihiro luluh.”
“Tutup mulutmu, Sasha!” balas Mayuzumi malas mendengar omong kosong kapten basketnya ini. Kemudian ia mendorong kepala kouhai yang sering ia sebut si raja kesepian itu untuk mendekat lagi. Mereka kembali berciuman.
“Aku pikir kau harus pergi menemui dokter mata karena aku yakin penglihatanmu bermasalah. Aku ini lagi menjadi Kagu—“
“Sudah kubilang tutup mulutmu, Sasha!”
Mayuzumi memblokir mulut Akashi yang, well, terus berceloteh dengan mulutnya. Mereka berdua mungkin sering bersilat lidah, tapi kali ini mereka bersilat lidah secara literal dan menikmatinya hanya berdua. Lidah saling bertemu. Bertukar saliva. Bahkan saling jambak rambut pun terjadi.
“Kau benar-benar merusak karakter manis Kaguya, Akashi!” gerutu Mayuzumi, di sela ia menjamah rongga mulut si kapten yang masih di pangkuannya ini. “Kubilang juga apa—kau itu Sasha, odd-eye."
“Fetishmu mengerikan, ew,” Akashi terkekeh, menjambak kasar rambut Mayuzumi sampai si pemilik surai abu itu meringis. “Aku Akashi Seijuurou, bukan Sasha. Dan, lihat, penismu mengeras ‘tuh.”
“Bodo amat. Bagiku kalian itu sama saja. Dan, bocah, jangan lihat bagian privasi orang!”
Mereka melanjutkan acara bercumbu mereka yang entah sampai kapan ini bakal berakhir karena, astaga, mereka malah semakin panas dengan posisi Akashi terbaring di sofa dan Mayuzumi di atasnya, bahkan sampai mengabaikan suara bel yang berbunyi lebih dari tiga kali.
