Actions

Work Header

Rating:
Archive Warning:
Category:
Fandom:
Relationship:
Characters:
Language:
Bahasa Indonesia
Stats:
Published:
2025-05-28
Words:
1,110
Chapters:
1/1
Kudos:
10
Hits:
108

Love is a test, Yukie didn't study.

Summary:

Communication is key, they said.

Notes:

Part of short socmed fic on X.

Work Text:

Duh, paham nggak, sih, kalian? Bokuto sudah menahan tawanya sedari tadi. Ini bukan karena dia merasa Yukie bodoh, ya. Lagian mana mungkin seorang Bokuto menganggap Yukie bodoh, kalau Yukie ngupil saja, Bokuto justru makin jatuh cinta sejuta kali lipat! Tapi, dikarenakan rasanya seru sekali bisa merasakan hal-hal manis dengan tambahan topping mendebarkan seperti ini. Sudah lama sekali Bokuto tidak jatuh cinta. Maklum, terlalu sibuk membangun karir sampai punya cabang bebek goreng di mana-mana. Jam kerja sudah selesai, Bokuto masih setia menunggu Yukie keluar dari resto, mengabaikan Akaashi dan Alisa yang sedang menggodanya dari jarak beberapa meter di dalam mobil mereka, sebelum akhirnya memutuskan untuk pulang terlebih dahulu. Sekarang saatnya, Bokuto. Tunjukkan pesonamu. Yukie ada di sana. Melengos, berpura-pura tak melihat Bokuto yang jelas punya tubuh tinggi dan kekar itu. Namun, baru saja ia akan memesan ojek online, Bokuto dengan senyuman khasnya sudah berdiri di sana, di hadapan Yukie, dengan harapan wanita ini mau menatap ke arahnya.

“Nggak ingat gue di sekitaran sini ada pohon beringin,” celetuk Yukie, upaya Bokuto berhasil. Yukie mendongak sempurna. Masih penuh pengharapan, Bokuto meminta izin untuk meminjam waktu yang Yukie punya. Berniat membawa wanita itu masuk ke dalam mobilnya, guna meluruskan banyak hal yang tak sempat mereka bicarakan akibat kelalaian masing-masing. Yukie sendiri, sih, mau-mau saja, ya. Cuma, kalau mengingat betapa baiknya Alisa tadi saat mengunjunginya, rasa bersalahnya justru kian membesar. Juga, kenapa pula Bokuto ini malah diam menunggu kehadirannya alih-alih pulang bersama Alisa? Mungkin ini adalah kesempatan terakhir yang Yukie punya, sebelum akhirnya ia benar-benar melepas bayang-bayang lelaki di depannya ini. Begitu pikirnya.

Yukie mengangguk, lalu berjalan tepat di belakang Bokuto, yang kemudian membuka pintu mobil di sebelah kursi pengemudi. Kalian tahu apa yang terjadi selanjutnya? Yukie oleng terlihat hampir saja pingsan, kalau Bokuto tidak cepat-cepat meraih pundaknya. “Kenapa, Kie? Kamu nggak kuat cium bau mobil, ya? Mau aku belikan antimo?” tanya Bokuto khawatir, jelas wanita itu menggeleng dan berhasil duduk dengan aman di kursi penumpang. Pasalnya, Yukie malu jika harus menjawab dengan jujur. Ini bukan soal ia yang punya masalah kesehatan, tapi ini perihal kakinya yang tiba-tiba lemas tidak bisa diajak kompromi, karena seisi
mobil itu berisikan aroma milik Bokuto. Wangi segar yang akan selalu Yukie ingat apabila ia merindukan Bokuto. Eh, gimana? Tuh, kan. Kalian para pembaca pasti bisa membayangkan betapa budak cinta-nya seorang Yukie Shirofuku ini, padahal belum ada status apa-apa dari mereka berdua.

Mobil berjalan dengan normal. Membelah jalanan yang cukup ramai sekaligus macet, sebab masih memasuki jam pulang kerja, meskipun dari pihak Yukie maupun Bokuto, terlihat sangat menikmati momen-momen tersebut. Hingga tak lama kemudian, Bokuto memulai semuanya. Masih dengan kondisi mobil yang sesekali berhenti di tengah kemacetan. “Mbak Ica itu kakak sepupuku kalau kamu mau tau, Kie.” Petir di siang bolong? Nggak, itu berlebihan, karena ini sudah memasuki Indonesia Bagian Malam. Yukie justru merasa seperti ditoyor tepat di belakang kepalanya.

“Apa? Mbak Ica siapa? Alisa yang model itu?” tanya Yukie memastikan, Bokuto mengangguk mantap. Sumpah, Yukie rasanya mau banget turun dari mobil dan menari di tengah jalan, biar tidak hanya Bokuto, tapi seluruh warga Indonesia tercinta ini tahu kalau ia sudah mulai gila akibat rasa malu yang besar. “Oh.... oke. Terus?” Yaelah, Kie. Masih aja bloon, ucap Konoha jika ia ada di sini sekarang.

“Semenjak insiden salah confess di SMA itu, aku nggak pernah dekat sama cewek lain in romantic way, Kie. Aku sibuk dengan pendidikan dan karirku. Apalagi aku yang harus switch dari atlet voli dan menjadi owner bisnis rumah makan. Semua itu nggak akan bisa aku lakuin maksimal juga kalau bukan karena bantuan Mbak Ica dan Akaashi. Aku juga udah sempat pesimis bakalan ketemu kamu lagi, tapi Konoha yang waktu itu dinas di luar dan makan siang di salah satu cabang punyaku, dengan senang hati mau mempertemukan aku dengan kamu lagi. Tapi aku nggak nyangka, dari sekian perempuan, kamu malah ngira aku ada hubungan sama Mbak Ica. Lucu banget,” jelas Bokuto dengan tatapan masih fokus pada jalanan. Sedangkan Yukie.... nggak tahu, deh. Kalau Bokuto orang yang jorok dan suka menyimpan sampah di mobil, mungkin lalat sudah masuk ke dalam mulut Yukie yang tengah melongo itu. Semuanya terjadi dengan cepat. Otak Yukie yang kalau kata Konoha bloon, benar-benar kesulitan untuk mencerna, mana bagian jantungnya yang berdebar hebat itu juga tidak cukup membantu.

“Aku jelasin ini sekarang, karena nggak mau ada kesalahpahaman berkepanjangan gini lagi. Ini nggak cuma tentang mengganggu keseharianku, tapi kamu, Kie. Setidaknya kalau aku dan kamu nggak jadi apa-apa, nggak menjadi kita, kamu selalu merasa nyaman dan aman. Entah ada aku atau nggak, aku mau kamu hidup baik-baik aja, Kie. Maaf,” tutur Bokuto lagi.

Bisa tidak lelaki di sebelahnya ini diam sejenak? Rasa malu yang sempat mendominasi itu kini berubah jadi rasa hangat yang mencengkram. Sepasang mata Yukie memanas, bulir air matanya siap jatuh kapan saja, jika ia tidak menggigit bibirnya kuat-kuat. Jadi begini, lho, teman-teman. Perseteruan dingin antara Bokuto dan Yukie, pada dasarnya dipicu oleh asumsi Yukie sendiri, tanpa adanya penegasan dan komunikasi terlebih dahulu. Yukie kira, dengan penjelasan di awal tadi, Bokuto seharusnya marah balik atau minimal menertawakan Yukie tepat di depan mukanya. Tapi, pandangan Bokuto terhadap dirinya, Yukie tidak menyangka akan selembut ini. Seolah-olah Yukie adalah cangkang telur yang bisa pecah kapan saja. Rapuh dan ringkih. Yukie dicintai sebegitu besarnya.

“Yukie... aku minta maaf, ya?” Sewaktu Yukie bilang Bokuto punya character development yang keren, Yukie tidak bohong. Bahkan kata sempurna sepertinya masih belum cukup menggambarkan lelaki di sebelahnya ini. Satu kalimat tanya tadi nyatanya berhasil meruntuhkan pertahanan Yukie. Wanita ini menangis dengan kedua telapak tangan menutup wajahnya. Yang ini, Yukie tidak ingin melepaskannya. Untuk kali ini, Yukie ingin egois sekali saja.

“Kamu nggak salah tau, kan aku yang tolol. Maaf juga udah suudzon nuduh kamu lelaki kardus,” ujar Yukie seraya menghapus air matanya dengan selembar tisu.

“Jadi, clear nih masalah kita?” pinta Bokuto untuk yang kesekian kalinya.

“Iyalah! Nggak mau aku berantem lagi sama kamu. Entah itu sebagai teman lama atau sebagai anu.”
“Anu?”

Yukie berdeham. “Jadi, kita ini sekarang apa? Masa udah ngomong panjang lebar, aku dan kamu nggak menjadi kita?”

So, di sini posisinya siapa yang confess sekarang? Bokuto, Yukie, atau pembaca di rumah? Benar-benar, deh, sepasang manusia ini tidak ingin melewatkan kesempatan sedikit pun. Hari ini dimulai, maka hari ini juga harus selesai. Lantas, kenapa tidak dari dulu saja? 'Communication is key' never fail.

“Iya, aku mau.”

“Mau apa?”

“Mau aku dan kamu menjadi kita.” Cie.

Setelahnya, seakan semesta ikut merayakan kebersamaan mereka yang telah resmi, jalanan berubah menjadi lancar tanpa macet sedikit pun. Menyisakan rahang Yukie yang pegal karena tak bisa berhenti tersenyum, naiknya suhu tubuh Bokuto akibat merasa lega, dan selembar tisu yang apabila ia hidup dan punya mulut, ia akan mengumpat sebab nyamuk lebih baik daripada dirinya sekarang.