Actions

Work Header

Abadimu dalam Kata

Summary:

Tatap mereka bertemu, Changmin dengan alisnya yang mengerut, seperti siap meledakkan amarahnya kapanpun yang syukurnya tidak akan terjadi karena rasa kesalnya hilang begitu saja ketika si murid baru, Juyeon, memberikannya senyuman kecil, tanda perkenalan, bonus dengan tatap yang begitu… Ajaib.

Andai bintang bisa bersuara, aku sangat yakin dengan pasti, ia akan mengeluh bagaimana binar matamu mengalahkan cerah-nya.

Ajaibnya, seporsi senyuman kecil dan tatap dapat memunculkan bait puisi pada ingat Changmin, lebih baik daripada menggigit ujung pena.

Notes:

This may or may not be inspired by Sombr's song: Would've been you, jadi aku merekomendasikan untuk memutar lagunya saat membaca, ya! Enjoy :)

(See the end of the work for more notes.)

Work Text:

Andai bintang bisa bersuara, apa yang akan dikatakannya?

“... Kelas kita kedatangan anak baru asal …”

Andai bintang bisa berlagak seperti manusia, apa yang akan dilakukannya?

“... Juyeon, Lee Juyeon. Salam kenal, semuanya!”

Terus… Apa lagi, ya?

Pena yang digenggam itu tak lagi bergerak menorehkan tinta pada halaman buku kecil di bawahnya, hanya terisi dua bait puisi, setidaknya untuk sekarang. Suara sorakan tersebar bebas dalam ruangan itu, namun tak sedikitpun menganggu isi kepala.

Bintang… Bintangnya ngapain lagi?

Ujung pena yang malang itu digigit kecil, alisnya mengernyit, pertanda sang empu sedang tenggelam dalam imajinasinya.

“Kamu bisa langsung duduk di bangku kosong di sebelah kanan Changmin, ya, nak.” Ucap sang wali kelas mempersilahkan Juyeon, si murid baru, untuk duduk di bangkunya.

Andai bintang bisa bersuara, pasti bintang akan dengan bangga berbicara akan betapa bersinarnya ia.

“... Changmin?”

Terus… Bintang… Bintang itu… Bin-

“Changmin!”

“E-Eh? Hadir!” Matanya terbuka lebar, kaget.

Wali kelas dengan kacamata kotak itu menggelengkan kepalanya ditemani dengan hembusan nafas pelan, lalu ia bersuara, “Haduh… Lain kali dengarin saya kalau lagi bicara di depan.”

Changmin, oknum yang diomeli, hanya cengengesan dari bangkunya dengan kepala yang mengangguk kecil, mengucapkan maaf.

“Nah, nak Juyeon, itu tadi yang namanya Changmin, kamu langsung duduk saja di sana, ya.” Ucap sang wali kelas yang dibalas oleh senyuman dan ucapan ‘terima kasih’ dari Juyeon.

Kaki jenjangnya melangkah perlahan dengan seragam barunya yang masih kaku, setiap langkah kaki membawanya pada bangku yang berada di sebrang bangku milik Changmin.

Changmin kembali menggigit kecil ujung pena nya dengan harap satu bait puisi akan muncul begitu saja pada ingatnya. Namun, suara rusuh pada bangku sebrang membuatnya tidak bisa meraih fokus. Dengan alis yang mengerut, kepalanya ia bawa untuk menoleh ke asal suara.

Tatap mereka bertemu, Changmin dengan alisnya yang mengerut, seperti siap meledakkan amarahnya kapanpun yang syukurnya tidak akan terjadi karena rasa kesalnya hilang begitu saja ketika si murid baru, Juyeon, memberikannya senyuman kecil, tanda perkenalan, bonus dengan tatap yang begitu… Ajaib.

Ah, pastinya Changmin membalas senyuman kecil itu, entah setelah bengong berapa lama.

Andai bintang bisa bersuara, aku sangat yakin dengan pasti, ia akan mengeluh bagaimana binar matamu mengalahkan cerah-nya.

Ajaibnya, seporsi senyuman kecil dan tatap dapat memunculkan bait puisi pada ingat Changmin, lebih baik daripada menggigit ujung pena.

 

. . .

 

Juyeon, Lee Juyeon, si murid baru yang dengan mudah mendapat teman mulai dari satu kelas baru nya sampai ke kelas-kelas lain. Selain karena faktor visualnya yang begitu menarik perhatian, banyak yang mengantri untuk menjadi temannya karena Juyeon yang sangat ramah, semua orang selalu ia respons, tanpa terkecuali.

Setidaknya, itu hasil analisis Changmin—yang interaksinya dengan Juyeon bisa dihitung jari karena ia malu—dengan bangkunya yang sering menjadi korban pinjaman teman-teman Juyeon untuk menongkrong saat jam istirahat.

“Kenapa gak lesehan aja, sih, mereka semua?” Gumam Changmin, kakinya kini sedang berjalan ke arah perpustakaan karena lagi-lagi bangkunya telah menjadi korban.

Sebenarnya, Juyeon selalu menawarinya untuk ikut mengobrol bersama, bahkan ia juga sempat menyuruh temannya untuk mengembalikan bangku Changmin. Tapi, ya… Changmin menolak.

“Eh, hai Changmin!” Juyeon melambai ke arah Changmin yang baru saja masuk ke dalam kelas. Lambaian tangan itu dibalasnya dengan senyum kikuk, malu.

“Aduh, yang punya bangku udah datang, kamu ambil bangku lain di sana aja, punya Changmin tolong dikembaliin—”

“E-Eh.. Gak usah, Juyeon, gua… Mau keluar lagi, kok, abis ini.”

“Oh? Gak ikut ngobrol disini?”

“Hehe, enggak dulu, ya, lain kali.”

“Ah… Yaudah, deh, Changmin.”

Seperti yang telah diceritakan sebelumnya, bukannya Changmin tidak ingin berteman ataupun mengobrol dengan Juyeon, hanya saja dia merasa lebih malu dari biasanya saat berinteraksi bersama Juyeon. Toh, Juyeon pun temannya sudah cukup banyak, kan? Sekiranya begitulah jalan pikir Changmin.

Namun, ternyata masih ada alasan lebih lanjut di balik rasa malu Changmin yang menurutnya cukup tidak masuk akal.

Akhir-akhir ini, setiap Changmin ingin menuliskan sesuatu… Tanpa kendalinya, Juyeon terus bermunculan dalam isi kepalanya, kejadian ini terjadi semenjak tatap mereka bertemu saat hari pertama Juyeon di kelas ini.

Sekali lagi, menurut Changmin ini cukup tidak masuk akal.

Changmin benci bagaimana lancarnya dia saat menulis ketika Juyeon ada dalam bayangannya. Menurutnya, segalanya dari Juyeon itu… Cantik, bahkan eksistensi dari Juyeon sendiri pun patut untuk ditulis—dipuisikan dengan indah.

Dan Changmin lebih benci lagi bagaimana dirinya yang terlalu malu untuk menjadi lebih dekat dengan Juyeon, tidak dengan isi kepalanya yang terus dipenuhi oleh Juyeon.

Changmin benci bagaimana Juyeon begitu memengaruhinya.

 

. . .

 

Hari terus berlanjut, hidup terus berjalan, begitu pun dengan isi keapala Changmin, Juyeon terus bermunculan. Mau seberapa kerasnya Changmin mendistraksi diri, Juyeon masih saja muncul dalam ingatnya, hadir dengan begitu indah.

Walaupun begitu, hari-harinya terus Changmin jalani seperti biasa, Changmin masih menulis seperti biasa, Changmin masih malu—untuk dekat dengan Juyeon—seperti biasa.

Menurutnya, yang tidak seperti biasa akhir-akhir ini adalah bagaimana keadaan disekitarnya yang menjadi… Lebih tenang dari biasanya?

Changmin akhir-akhir ini pun bisa menduduki kursinya di saat jam istirahat, tidak seperti biasanya.

Selain itu… Juyeon terlihat lebih menyendiri akhir-akhir ini, tidak seperti biasanya.

Namun, Changmin tidak ingin berpikiran yang aneh-aneh perihal ‘keanehan’ yang bukan urusannya.

 

 

 

 

 

 

Beribu hati dengan suka rela dicongkel untuk diberikan kepadamu. Mereka dengan segala kesempurnaannya, memintamu untuk menerima hati yang t’lah dicongkelnya itu.

Pena yang digenggamnya terus menorehkan tinta demi tinta, kata demi kata, sesekali mencuri pandang pada sosok di seberangnya.

Terlihat begitu tenang, begitu cantik, begitu indah, Juyeon.

Namun, bolehkah ‘ku berharap ragamu tanpa ragu ‘kan memilih untuk berlari kepadaku? Memilihku—sang kemarau yang disumpah-serapahi oleh bundaran etinitas pada bentala ini.

Sorot pandang itu tak lagi berisi rasa penasaran—ingin tau lebih dalam, digantikan dengan pandang penuh harap, seakan meminta sesuatu yang begitu mahal harganya.

Bolehkah ‘ku berharap, dirimu, sang penghujan, ‘kan tetap memilih gersangku? Menjadikanku ke—

Berisiknya bel jam istirahat membuyarkan segala fokus Changmin, bukunya tak sengaja tercoret, kakinya terpentok meja, kepalanya tak lagi dapat melanjutkan pada bait selanjutnya. Paket lengkap.

Helaan nafasnya terdengar cukup kencang, kesal. Kendati demikian, siapa, sih, yang dapat menolak jam istirahat?

Dengan begitu, jelas Changmin langsung berdiri dari singgasananya, mencuri pandang sekali pada sosok di seberangnya yang sedang menenggelamkan kepala pada kedua lipatan tangannya. Changmin masih belum terbiasa melihat Juyeon yang tidak dikelilingi oleh teman-temannya, terlihat begitu kesepian.

Suara perut yang mengeluh kelaparan membuyarkan lamunannya. Dengan sedikit rasa malu, pada akhirnya, pandang kembali Changmin alihkan dari sosok Juyeon, membawa langkahnya untuk keluar dari dalam kelas dan menuju kantin.

Namun, Changmin tidak dapat menyangkal bahwa isi kepalanya, lagi-lagi, terisi dengan nama Juyeon, Juyeon, dan Juyeon.

Langkahnya terlihat tenang, namun isi kepalanya terus muncul seratus pertanyaan yang sama.

‘Ajak Juyeon gak ya… Aduh, ajak Juyeon gak ya…’

Bahkan sebelum Changmin selesai berpikir, tubuhnya lebih dulu bergerak guna berjalan kembali kearah bangku milik Lee Juyeon. Badannya berdiri di samping bangku Juyeon dengan kedua tangan yang dimasukkan kedalam saku celananya, menghalangi Juyeon dari teriknya sinar matahari siang itu.

Changmin menarik nafas pelan, menenangkan degupan jantung yang cepatnya di luar kendali, “Ke kantin, gak?” Tanya Changmin setelah beberapa detik mengatur nafas.

Mendengar suara yang sedikit familiar, Juyeon dengan cepat mendongakkan kepalanya, matanya sedikit melebar setelah melihat adanya sosok Changmin di hadapannya sekarang.

“Hah… Kamu ngajakin aku…?”

Changmin mengangkat alisnya kebingungan, lalu menjawab, “Iyalah… Siapa lagi?” Pandangannya menyapu seisi ruangan kelas yang hanya terisi mereka berdua.

Juyeon mengangguk kecil, benar juga, “Kenapa ngajakin aku?”

Setelah alis Changmin yang terangkat kebingungan, kini dahinya mengerut lebih kebingungan lagi karena pertanyaan Juyeon yang baru saja dilontarkan. Karena Changmin tidak memiliki alasan yang pasti dan perutnya yang semakin meronta, dengan pelan Changmin menggenggam tangan Juyeon, mengajaknya berdiri lalu berjalan kearah kantin.

“Aneh lu, ikut aja.” Ucap Changmin tanpa menengok kebelakang.

Setelah langkah mereka menginjak lantai koridor, Changmin merasa tangan Juyeon pada genggamannya perlahan dilepas. Entah apa alasannya, Changmin tak ingin berpikir banyak.

“Ibuk, mau nasi goreng merahnya dua, ya!”

Dengan begitu, setelahnya, mereka dengan tenang menghabiskan masing-masing satu porsi nasi goreng merah itu. Andai Changmin tau, bukan hanya nasi goreng saja yang merah dan hangat saat ini. Wajah Juyeon pun, merah dan hangat.

Walaupun keadaan di kantin sangatlah ramai dan bising, namun suasana diantara keduanya benar-benar… Hening, tidak ada yang bersuara dan tidak ada yang ingin memulai percakapan lebih dulu. Changmin fokus menyuapkan nasi goreng ke dalam mulutnya, sedangkan Juyeon sama sibuknya sembari menatap handphone yang entah sedang menayangkan apa.

Changmin bingung.

Seingat Changmin, Juyeon merupakan pribadi yang berteman dengan siapapun, bahkan mengobrol dengan siapapun. Namun, keadaannya saat ini sangat berbanding terbalik, Juyeon terus menatap ke meja, makanannya, handphone-nya, atau sesekali menatap Changmin dengan senyum kikuk jika keduanya tanpa sengaja saling bertukar tatap.

Selain itu, Changmin pun merasa sedikit aneh karena dia sesekali melihat orang di sekitarnya menatap ke arah bangku mereka dengan waktu yang terbilang cukup lama, ditambah eskpresi yang… Entahlah. Tidak mungkin kan jika alasan mereka menatap selama itu karena Changmin? Changmin tidak merasa se-terkenal itu untuk mendapatkannya.

Kalau Juyeon? Sangat masuk akal, tapi yang membuat Changmin bingung, kenapa mereka hanya menatap tanpa menghampiri Juyeon seperti biasanya?

“Changmin…”

Suara pelan yang memanggil namanya itu membuat Changmin sedikit terkejut dan keluar dari ruang imajinasinya. Dengan cepat tatapannya ia arahkan pada asal suara, Juyeon, dengan netranya yang tanpa Changmin sadar melekat kearahnya.

Setelah menelan kunyahan nasi goreng—dan gugupnya, Changmin menjawab, “Iya?”

“Aku kembali duluan, ya? Mau ke toilet sekalian.” Ucap Juyeon setelah mendapatkan jawaban dari sang lawan bicara.

Diam-diam Changmin merasakan sedikit rasa sedih dalam dirinya—karena masih ingin ditemani Juyeon—namun kepalanya tetap dianggukan tanda menyetujui perkataan Juyeon.

“Oh… Iya, gak apa, nanti gue nyusul.”

Juyeon tersenyum tipis, “Iya, Changmin, pelan-pelan aja makannya kayak tadi.” Lalu langkah kaki itu mulai menjauh dari meja yang tadi diduduki oleh keduanya untuk makan.

Kayak tadi…?

Changmin memikirkan apa maksud dari perkataan Juyeon, mungkin yang dimaksud adalah bagaimana dirinya yang sedari tadi mengunyah makanan dengan… Cukup lama.

“Auk ah.”

 

. . .

 

Ternyata nasi goreng merah yang hanya tersisa seperempat porsi itu cukup memakan waktu Changmin untuk dihabiskan. Kini, Changmin sudah berada di depan kelasnya, berharap melihat Juyeon duduk di bangku saat dia masuk kedalam, namun nihil, tak ada keberadaan Juyeon di dalam, hanya kursi kosong tanpa sang majikan.

“Juyeon mana?” Tanya Changmin pada temannya yang duduk berdekatan dengan pintu.

“Ya… Enggak tau? Ngapain sih lu nyari dia?”

“Masalah?”

Temannya menatap Changmin dengan pandangan tidak percaya, “Lu ngapain dekat sama dia dah, Min? Jangan-jangan lu sama kayak dia?” Ucap temannya itu.

“Maksud lo sama kayak dia?”

“Lu gak tau?” Changmin membalas dengan gelengan kepala, lalu temannya melanjutkan, “Rumor dari sekolah dia yang dulu nih, ya, Juyeon tuh… Gak bener.

Mendengar itu, emosi Changmin rasanya akan meledak, “Lu bisa ngomong yang bener, gak, sih?”

“Ah! Masa gua harus ngomong langsung, sih.” Temannya melihat sekitar lalu mendekat kearah Changmin, “Katanya, Juyeon belok.” Bisiknya.

“Bayangin aja, dah, hih! Lu jangan deket-deket sama J—”

“Jaga omongan lo.” Temannya mencoba untuk melanjutkan perkataannya sebelum terpotong begitu saja oleh Changmin yang setelahnya lelaki itu berjalan menjauh dari kelas, emosinya hampir pecah, nafasnya memburu, pikirannya entah telah terbang kemana, langkah kakinya ia bawa menuju toilet—tempat terakhir yang disebut oleh Juyeon.

“Jujur, lu tuh asik banget, tapi gue takut ketularan.”

Disusul tawa.

“Ah, apa jangan-jangan lu naksir gue? Jangan please.”

Tawa itu terdengar semakin keras.

Emosi yang sedari tadi ditahan Changmin kini sepenuhnya telah pecah, langkah kakinya ia bawa masuk kedalam toilet pria, disana terlihat satu murid dan… Juyeon, kedua tatap total langsung tertuju kearahnya,

“Juyeon...” Bisik Changmin dengan pelan.

Changmin dengan sigap berjalan kearah Juyeon dan menggandeng pergelangan tangannya, tanpa memedulikan sosok lain di dalam toilet itu.

Sebelum sempat mereka keluar dari dalam toilet, si murid itu kembali bersuara,

“Lu belain dia?”

Ibu jarinya bergerak lembut, usapannya diperuntukkan pada pergelangan tangan Juyeon yang digenggamnya.

“Memangnya kenapa? Toh, Juyeon masih tetap manusia.” Jawab Changmin, rahangnya mengeras menahan emosi.

“Ah, orang aneh kayak dia lu belain sebegitunya? Naksir, lu?” Suaranya terdengar begitu meremehkan. Merendahkan.

Usap. Menenangkan.

“Lo sadar, gak, sih? Kalo begini, kelihatan kan, siapa disini yang bukan manusia?”

Changmin menarik lengan Juyeon, genggamannya masih terpaut erat pada pergelangan tangan Juyeon, membawanya pergi meninggalkan mereka yang tak penting, berharap, setidaknya elusan jarinya pada Juyeon akan menyembuhkan sedikit luka yang didapat.

 

. . .

 

Siang itu berlalu dengan aneh untuk Changmin.

Changmin tidak melanjutkan tulisannya, Changmin dengan segala macam topik dalam pikirannya, dan Changmin yang tidak bisa fokus sampai bel pulang berbunyi.

Murid-murid mulai berhamburan keluar dari kelas, menyisakan beberapa murid, Juyeon, dan Changmin yang tatapnya tidak pernah lepas dari gerak-gerik Juyeon. Changmin hanya duduk, menempelkan pipinya pada meja, menatap ke arah Juyeon, sebelum akhirnya Juyeon berdiri dan melangkah keluar kelas. Changmin dengan sedikit terburu mulai ikut berdiri dan melangkah sedikit lebih jauh di belakang Juyeon.

Tak memedulikan lirikan mata sekitar, langkah Juyeon perlahan membawanya keluar dari sekolah, lebih tenang.

“Kamu kenapa ngikutin aku?” Ucap Juyeon tiba-tiba, juga dengan langkahnya yang terhenti, tubuhnya tetap menghadap lurus kedepan.

Changmin panik, mencoba mencari alasan yang masuk akal, apapun yang muncul di kepalanya, tolong.

“Ah… Anu, gue… ini—”

“Sekarang kamu udah tau rumornya, kan?”

Changmin terdiam, hening.

Dari sisi Juyeon terdengar hembusan nafas keras, “sekarang kamu bisa jauhin aku kayak mereka.”

Sakit. Suara itu terdengar sakit.

“Gak.” Jawab Changmin singkat, langkahnya ia bawa kedepan, menuju hadapan Juyeon.

‘Andai bintang bisa bersuara, aku sangat yakin dengan pasti, ia akan mengeluh bagaimana binar matamu mengalahkan cerah-nya.’

Changmin menatap Juyeon tepat pada sepasang netranya.

Tapi, bila binarmu meredup, bagaimana aku bisa menjalani gelapnya malam dengan sendiriku?

“Gue masih mau jadi teman lu, kok, Juyeon.” Ucap Changmin dengan tegas, nadanya tidak menerima penolakan.

Changmin ingin melindungi Juyeon, walaupun kini tinggi badan Changmin terlihat jomplang dengan Juyeon, membuatnya seperti tidak meyakinkan, tapi Changmin yakin, ia bisa. Karena melihat Juyeon sedih bukanlah pemandangan yang Changmin inginkan.

“Kenapa kamu masih mau temanan?” Tanya Juyeon dengan netranya yang terus menatap sosok Changmin.

Soalnya gue gak suka jauh dari lu, gue suka kalo ada lu di samping gue. Changmin bisa saja menjawab sedemikian, tapi mana mungkin?

Changmin terlihat kikuk, pupilnya bergerak ke segala arah kecuali kedua netra Juyeon. Tidak mendapatkan jawaban apapun, akhirnya Juyeon berjalan melewati Changmin dengan hembusan nafas kasar.

“G-Gue gak tau!” Suara itu cukup mengejutkan Juyeon dan membuatnya membalikkan badan, menghadap Changmin dengan rona merah tipis yang menghiasi pipinya.

Changmin melempar pandangannya kebawah, memandang batako yang detik ini terasa lebih menarik dibanding Juyeon.

“Gue gak peduli soal rumor apapun itu, gue gak melihat apapun yang salah dari diri lu, gue mau temenan sama lu, Juyeon.” Nafas Changmin terdengar menggebu-gebu begitu ia menyelesaikan perkataannya.

Hening menemani udara di sekitar mereka untuk beberapa detik, sebelum Changmin mendengar kekehan dari oknum yang berada di depannya. Suara kekehan itu membuat Changmin mengangkat kepala untuk membawa pandangannya kearah Juyeon.

Changmin melongo.

Juyeon tersenyum, tertawa, matanya menyipit karena senyumannya, kemudian membuka suara, “Makasih, ya, Changmin.”

Changmin terpaku di tempat, tanpa sadar terus menatap Juyeon yang kini dibuat sedikit malu oleh tatap Changmin.

“Em… Aku harus pulang, Changmin… Ketemu besok lagi…?” Ucap Juyeon dengan sedikit salah tingkah.

Mendengar itu Changmin tersadar dari lamunannya, kepalanya dengan otomatis mengangguk mengiyakan. Namun, sebelum sempat Juyeon membalikkan badannya, Changmin melempar pertanyaan.

“Ini… Kita temenan, kan?”

Juyeon terkekeh, sialan, senyuman itu kembali muncul.

“Iya, Changmin, kita temenan.” Dengan begitu, Juyeon akhirnya membalikkan badannya dan membawa kakinya untuk melangkah menuju rumahnya setelah memberikan Changmin lambaian tangan dan ucapan ‘hati-hati di jalan’ yang sialnya membuat Changmin lagi-lagi terpaku di tempat beberapa detik sebelum kemudian berlari mengejar Juyeon.

“Sebentar, Juyeon! Rumah gue juga searah!” Teriak Changmin.

Sore itu, ramainya kendaraan berlalu-lalang dan kerasnya klakson yang bersautan tidak akan mengganggu Juyeon juga Changmin. Tenang telah mereka dapat hanya dengan gelak tawa satu sama lain.

 

.  .  .

 

Esok hari dengan cepat menghampiri, suasana sekolah masih sama melelahka nnya, rumor masih tetap tersebar dari mulut ke mulut, banyak pandang yang masih dilemparkan tanpa alasan.

Setidaknya kini Juyeon memiliki Changmin di sampingnya. Setidaknya kini segala hal tidak semenakutkan itu.

Seharian ini, tidak seperti biasanya, Juyeon dan Changmin membicarakan banyak hal. Mulai dari makanan kesukaan, hewan peliharaan, sampai ke hobi.

Dan dari situlah, mereka belajar banyak hal tentang satu sama lain.

Changmin menemui satu fakta baru tentang Juyeon yang suka memotret pemandangan, hasil foto yang diberikan Juyeon benar-benar membuat Changmin terus melongo.

Kini, saat waktu pulang telah menghampiri, keduanya memutuskan untuk menetap di kelas yang telah kosong untuk sementara waktu sebelum pulang ke rumah masing-masing.

Changmin sibuk dengan pena dan buku kecilnya, menuliskan satu bait dua bait yang muncul dalam pikiran, begitu pula Juyeon yang sibuk dengan kameranya, memotret segala hal yang ingin ia ambil gambarnya. Mereka pun sesekali mengobrol untuk mengisi keheningan di antara keduanya.

“Juyeon, lu kenapa suka banget fotoin pemandangan begitu?” Tanya Changmin sembari menengokkan kepalanya kearah Juyeon dengan kamera di genggamannya.

“Soalnya cantik, Changmin. Aku suka foto-foto semua yang cantik.”

“Oh…”

Juyeon menengok kearah Changmin yang menganggukkan kepalanya setelah mendengar jawaban Juyeon sebelum pandangannya kembali ke arah buku di meja dan pena yang ia genggam.

Cekrik!

Flash kamera Juyeon yang memotret menyinari kehadiran Changmin sore itu. Mungkin cahayanya memantul karena kaca, pikir Changmin. Tetapi, setelah itu cahaya khas kamera memotret terus terarah kepadanya, membuat Changmin mau tak mau kembali memfokuskan pandangannya kearah Juyeon.

“Kok lu jadi fotoin gue terus, sih?” Changmin mengerutkan dahinya kebingungan.

“Soalnya kamu cantik terus.

Hening kembali menghampiri bersamaan dengan masing-masing pipi dari keduanya yang memerah memalu, netra tak berani kembali menatap sesama. Malu.

“Ehm, p-pulang yuk?” Ajak Changmin yang kemudian dibalas anggukan hening oleh Juyeon.

 

 

 

 

 

Harusnya Changmin sudah hafal akan Juyeon yang selalu menanyakan tentang segala hal, dan harusnya juga Changmin sudah hafal untuk menyiapkan jawaban tentang segala hal.

Sudah terhitung seminggu semenjak mereka bertukar cakap mengenai satu sama lain, juga sudah terhitung seminggu lamanya Juyeon melemparkan pertanyaan kepada Changmin semenjak Juyeon mengetahui bahwa menulis puisi dan kawanannya adalah hobi Changmin.

“Kamu pertama kali menulis tuh kapan, Changmin?”

“Kamu kok bisa jago banget menulisnya? Pasti otak kamu isinya kamus bahasa Indonesia, ya?”

Dan masih banyak lagi, lebih banyak dari yang bisa dibayangkan dari seorang Lee Juyeon.

Namun, terkadang beberapa perkataan dari Juyeon dapat membuat Changmin… salah tingkah.

“Kamu kalo lagi fokus menulis gitu aku suka ngelihatinnya, deh, Changmin.”

Changmin hanya diam, mengabaikan Juyeon yang berada di sampingnya. Entah wajahnya menghangat karena sinar dari matahari atau perkara ucapan Juyeon barusan.

“Lu mending… Diem, deh.” Ujar Changmin singkat, wajahnya ia alihkan kearah jendela, dalam diam tersenyum tanpa sepengatuhan teman di sebelahnya.

Hari demi hari tak terasa kini mereka lewati bersama, dan ajaibnya buku kecil Changmin—yang berisi tulisan-tulisannya—sudah mulai terisi penuh, melewati hari bersama Juyeon membuat segala ide akan tulisan indah muncul dalam kepalanya.

Mungkin karena Juyeon lah yang indah, pikirnya.

Hal ajaib lainnya pun dapat Changmin rasakan, setelah menjalani hari bersama Juyeon membuatnya tersadar, bahwa… Rasa yang ditempatkannya pada Juyeon bukan hanya untuk seorang teman.

Changmin ingin terus melindungi Juyeon dari segala buruknya dunia. Changmin ingin terus memandang senyum pada paras indah Juyeon. Changmin ingin terus mengabadikan Juyeon dalam tulisannya. Changmin ingin terus menyimpan indahnya Juyeon selamanya.

Tapi, dunia ini terlalu rumit, ketika apa yang diinginkan Changmin hanyalah sesederhana terus berada di samping Juyeon.

 

. . .

 

Sore itu berakhir seperti biasa, menetap sementara di kelas yang kosong mulai menjadi kebiasaan Juyeon dan juga Changmin. Mereka akan melakukan bermacam hal, mulai dari mengobrol santai, Changmin yang menulis puisi dengan Juyeon di sampingnya atau kamera di genggamannya—memotret Changmin yang katanya terlihat tenang—atau bahkan membiarkan suasanya diisi keheningan tanpa ada yang membuka suara, hanya nyaman dan tenang.

Sore ini mereka memilih untuk menulis puisi, dan mereka yang dimaksud adalah Changmin yang menulis dan Juyeon yang menemani.

Diam dan menjadi inspirasi, kata Changmin.

“Changmin, kamu menulis kayak begitu tuh, buat siapa, sih?” Tanya Juyeon setelah dirasa bosan mulai menguasai tubuhnya.

Changmin menghentikan sejenak torehan tinta pada bukunya, pipinya bersemu, “Ini… Buat… Orang yang jadi inspirasi dari tulisan-tulisan gue. Gimana? Cantik gak, tulisan gue?”

“Cantik, selalu cantik.” Ucap Juyeon yang entah diperuntukkan pada pertanyaan Changmin atau kepada sang penanya, karena tatapnya tak meninggalkan sosok Changmin sedetik pun.

“O-Oke, makasih… Juyeon.”

Changmin merasa pipinya semakin memanas, ia harap sinar mentari sore itu dapat menyembunyikan merah pada pipinya.

Kemudian hening kembali mengisi ruang kelas sore itu, Changmin sepenuhnya meletakkan pena yang ia genggam, tak sanggup untuk melanjutkan tulisannya.

Beberapa detik setelahnya, Changmin tiba-tiba membuka suaranya kembali, “Tulisan gue cantik, tuh… Soalnya gue nulis buat orang yang lebih cantik lagi.” Orang itu lu, Juyeon. Andai Changmin berani menambahkan.

Mendengar itu Juyeon tersenyum, pandangannya sesekali diarahkan kepada Changmin, sesekali memandang ke luar jendela. Sama indahnhya.

“Seneng banget ya pasti jadi orang yag kamu tulisin.” Ucap Juyeon.

Hening.

Lalu Juyeon melanjutkan perkataannya, “Aku mau juga, jadi inspirasi kamu buat menulis, Changmin. Aku mau berubah jadi tulisan kamu juga.” Senyumnya masih tersemat pada wajah.

“Ya…?” Changmin merasa detak jantungnya berpacu jauh dari kata normal, begitu pula dengan Juyeon.

“Changmin…” Dua pasang netra itu bertemu, dengan wajah bersemu dan jantung berpacu hebat, angin sore itu berhembus pelan meniup helai rambut mereka berdua.

“... Aku suka kamu.”

Rasanya dunia terhenti detik itu juga, Changmin mengedipkan matanya berulang, mencoba menyadarkan dirinya jika apa yang baru saja terjadi hanyalah khayalannya semata.

Sayangnya, semua itu nyata.

Changmin akhirnya kembali mengambil nafas setelah menahannya tanpa sadar.

“Juyeon… Maaf, lu tau, kan… Kita gak bisa?”

“Kenapa?” Ucap Juyeon dengan cepat sedetik setelahnya.

Changmin hanya diam, entah tidak tau ingin menjawab apa atau tidak ingin menjawab.

“Kamu takut rumornya bakalan makin parah?” Lanjut Juyeon setelah hanya mendapat diam dari sang lawan bicara.

Changmin mengalihkan pandangannya, menatap mata Juyeon saat ini terasa membutuhkan tenaga lebih, “gue gak mau semuanya semakin jahat ke lu.” Ucapnya pelan.

Mendengar ucapan Changmin, tatapan Juyeon pada sosok Changmin melembut.

“Aku enggak peduli Changmin,” Juyeon membuang nafasnya kasar sebelum melanjutkan, “You’re too scared to hurt me, yet I’m willing to kill a part of who I am, just to keep you on my side.”

Hening kembali menghampiri dan Changmin merasa tercekik, bahkan suara angin sore dan kipas angin yang mengisi ruangan kelas tidak membantu apapun.

Akhirnya, Changmin kembali menolehkan kepalanya kearah Juyeon, tubuhnya melemas ketika menatap Juyeon dengan binar mata penuh harap.

Andai Changmin bisa menjawab iya tanpa takut.

Andai Changmin dapat mengabulkan harap itu.

Andai Juyeon tau, semua tulisan Changmin selalu tentangnya.

Maaf, Juyeon.”

“Changmin, aku minta maaf.

Keduanya bersuara di waktu yang sama, sama-sama mengucap maaf, tentang bagaimana ia yang tak dapat memberi jawaban dan ia yang merasa telah melewati batasan.

“Mau pulang?” Ucap Juyeon mengajak Changmin, juga memecah keheningan. Ajakan itu dibalas dengan anggukan kepala dan jawaban mau pelan dari Changmin.

Perjalanan pulang sore itu terisi dengan ramainya kendaraan yang berlalu-lalang, langkah kaki keduanya, dan isi pikiran masing-masing.

Changmin mengedarkan pandangannya pada langit jingga, menarik nafas dalam sebelum menghembuskannya perlahan.

Apakah tidak seharusnya dia membuat keputusan yang sedemikian? Benar kata Juyeon, dia terlalu takut untuk menyakitinya, dia takut jika dia memilih utnuk bersama Juyeon… Dia akan memperburuk keadaan, dan Juyeon hanya akan menerima luka yang lebih.

Memang, pada akhirnya, Changmin terlalu takut.

“Kamu tau, Changmin… Aku minta maaf,” lagi-lagi Juyeon memecah keheningan, “harusnya aku enggak ngomong kayak begitu, kamu gak perlu pikirin itu.”

Kemudian Juyeon melanjutkan ucapannya lagi setelah hanya mendapat diam dari Changmin,

“Tolong, jadi temanku terus, ya?”

Changmin menoleh kearah Juyeon yang pandangannya lurus ke depan dan senyuman yang terpatri pada paras indahnya.

“Iya, selalu.” Ucap Changmin. Maaf, lanjutnya dalam hati.

Aku bukan penulis cerita fantasi, tetapi jika menulis satu, aku akan menulis cerita fantasi dimana tangan kita yang saling menggenggam, terpaut, terangkat tinggi-tinggi di tengah ramainya manusia. Tanpa takut, tanpa khawatir menyakiti, aku akan berteriak betapa aku mencintaimu kepada seluruh dunia.

Maaf, ya, andai aku bisa seberani dirimu, mungkin aku sudah menggandeng tanganmu sekarang juga.

Beribu kata yang ingin Changmin ucapkan, namun hanya hembusan nafas yang dapat ia keluarkan.

Notes:

Halo! Terima kasih sudah membaca sampai akhir, it really means a lot to me ;) hehe, bagaimana? Jangan lupa beritau aku perasaan kalian please!

TMI sedikit, aku menulis ini tuh lumayan memakan waktu yang panjang, tapi pada akhirnya jadi juga, deh! Aku cukup puas sama hasilnya, walaupun masih ada yang kurang sreg, tapi aku udah bangga dan aku super duper enjoy menulisnya hahay (I tried my best). Aku harap kalian juga bisa enjoy membacanya... Dengan ending yang ambigu :3

 

Twitter
Neospring