Work Text:
I would peel off my heart from my body, bit by bit
and hand it to you, and you could have all of it so-
Take the ruby out of my sword-hilt, the sapphire out of my eyes
Just leave the leaden heart by my side.(Yorushika - Left-Right Confusion)
"Ayo kita putus, Tsukasa-kun."
Kalimat itu diucap secara tiba-tiba dan terdengar begitu enteng yang membuat Tsukasa terkesiap. Ia menoleh pada pria di sampingnya yang masih menatap lurus ke depan. Pandangannya jauh melewati danau yang memantulkan langit muram dan pepohonan yang daunnya telah berubah warna menjadi kuning kecoklatan.
"Hah?" hanya itu yang bisa Tsukasa katakan.
Tsukasa sama sekali tidak paham akan kalimat yang baru saja didengarnya. Ia hanya berdiri mematung di situ, dengan mata melebar yang membuatnya terlihat seperti orang bodoh.
"Apa yang kau ka-"
Sebelum Tsukasa sempat menyelesaikan kalimatnya, pria di sampingnya itu membuka mulutnya duluan, "aku rasa lebih baik kita akhiri semua ini dan kembali menjadi teman baik."
Tsukasa tetap tidak mengerti.
Hari ini seharusnya berjalan seperti biasanya, seperti hari libur yang langka disela tugas akhir, latihan, dan jadwal pentas. Mereka berdua pergi di pagi hari, mengunjungi cafe baru yang direkomendasikan Saki, lalu berjalan santai di sekitar pusat perbelanjaan atau menonton film, dan barang kali mampir ke taman dan berbelanja di supermarket bersama sebelum pulang.
Tsukasa pikir, seharusnya hari ini akan seperti itu. Akan tetapi begitu mereka saling terdiam menikmati angin musim gugur yang mulai dingin, tiba-tiba pria berambut ungu mencolok di sampingnya itu bilang bahwa dia ingin mengakhiri hubungan mereka begitu saja. Begitu saja, tanpa aba-aba, tanpa pertanda.
Tsukasa menghembuskan napas perlahan. Entah mengapa, pikirannya justru tenang. Ia bahkan terkejut dengan dirinya sendiri yang tidak berteriak atau mengeluarkan rentetan kalimat pertanyaanーdan mungkin sedikit umpatanーsetelah mendengar kalimat itu.
"Boleh aku tau alasanmu?" kata Tsukasa akhirnya, suaranya lebih rendah dan dingin dari yang ia harapkan.
Pria di sampingnya, Rui Kamishiro, akhirnya memutar badan dan menghadap Tsukasa. Dia tersenyum sedih.
"Aku... hanya berpikir bahwa sebaiknya kita kembali menjadi teman baik saja, menjadi sesama rekan di Wonderlands x Showtime. Hanya menjadi seorang aktor dan seorang director. "
Tsukasa hanya balas menatap, tidak mengatakan apapun. Menunggu sampai Rui berani memuntahkan segala isi pikirannya yang rumit itu.
Rui menarik napas dan melanjutkan, "demi masa depan kita, masa depanmu. Tsukasa-kun, kau adalah bintang masa depan. Aku percaya bahwa kau akan mewujudkan hal itu. Aku percaya kau akan berdiri di banyak panggung, bersinar terang dan membuat banyak orang tersenyum. Aku percaya bahwa suatu hari nanti, bukan, di masa depan yang dekat sekali, namamu dan aktingmu akan menjangkau lebih banyak orang, lebih dari yang bisa kita bayangkan saat ini. Jadi.. jadi..."
Rui menghembuskan napas panjang yang ditahannya dari tadi. Ia mengangkat bahunya dengan pasrah, "jadi sebaiknya kita tidak punya hubungan ini sama sekali."
Aku tidak ingin melihat kau tersakiti, lanjut Rui dengan amat lirih. Suaranya seakan hilang dibawa angin.
Tsukasa hanya menunduk. Ia memandang dedaunan di sekitar kakinya dan merasakan tubuhnya bergemetar. Ia tahu dirinya tidak sepintar Rui. Ia mungkin juga lebih naif. Tapi ia paham betul maksud pembicaraan Rui.
Ia ingin membantah setiap kata yang Rui ucapkan. Ada banyak hal dalam pikirannya saat ini yang bisa ia katakan untuk menyangkal Rui. Bahwa Rui salah, bahwa dia telah meremehkan seorang Tenma Tsukasa. Karena Tsukasa tidak selemah itu. Pun jika ia terluka, jika ia terdorong jatuh dan terjerembab, ia percaya diri dapat bangkit kembali dengan cepat.
Ia percaya jika pandangan atau perkataan orang lain tidak akan mengganggunya meraih mimpi-mimpi. Ia akan tetap dan terus berdiri di atas panggung, tidak peduli apa kata orang. Persetan jika orang lain mengganggapnya aneh dan tidak normal, toh Tsukasa sudah dijuluki sebagai Si Aneh Nomor 1 sejak SMA.
Ia tidak peduli. Asalkan Rui bisa terus tersenyum di sampingnya, ia mampu menghadapi apapun yang menghadangnya.
Tapi Tsukasa tak mampu berkata apapun. Tak sepatah pun bisa ia utarakan. Karena ia tahu, apapun yang akan ia katakan saat ini tidak akan mengubah keputusan Rui.
Tsukasa tahu betul, pasti Rui telah banyak berpikir, telah bergelut dalam kekhawatiran, dan menghitung segala kemungkinan sebelum mengambil keputusan. Ia yakin bahwa Rui telah terombang-ambing dengan berbagai pilihan, menimbang mana yang terbaik untuk mereka berdua. Terutama untuk Tsukasa.
Tsukasa tahu. Ia tahu dengan pasti.
Maka, Tsukasa pun mengangkat wajahnya. Ia memandang langsung ke arah mata Rui yang terlihat berkaca-kaca dan terluka. Tsukasa tersenyum, senyum lembut yang khusus ia tujukan untuk Rui.
"Baiklah kalau begitu," ia menahan agar suaranya tidak bergetar. "Terima kasih banyak atas segalanya, Rui. Aku benar-benar bahagia selama bersama denganmu."
Rui mengangguk. Tsukasa melihatnya berusaha membuat senyuman. Senyuman khusus untuknya yang mungkin akan ia lihat untuk terakhir kalinya.
"Aku juga bahagia. Maafkan aku, Tsukasa-kun. Maafkan aku.."
"Aku pulang!" Tsukasa berteriak setelah menutup pintu apartemen di belakangnya. Sudah menjadi kebiasaannya untuk mengatakan 'aku pulang' meski tidak ada siapapun di rumah. Ia melepas sepatu dan menatanya rapi di rak kemudian beranjak untuk mencuci tangan dan berkumurーjuga kebiasaan dari kecilーsebelum masuk ke ruang utama.
Saat Rui masih berbagi ruang bersamanya di apartemen ini, tepat ketika pintu tertutup dengan bunyi klik, Tsukasa pasti akan melihat kepalanya melongok dari ruang tamu. Rui akan menyambutnya dengan senyum merekah. "Selamat datang kembali, Tsukasa-kun," katanya.
Akan tetapi saat ini hanya sunyi yang menyambutnya.
Tsukasa masuk ke ruang tamu, meletakkan tasnya ke sembarang tempat lalu menjatuhkan dirinya ke sofa. Ia lelah sekali. Akhir-akhir ini, Tsukasa disibukkan oleh berbagai hal. Pentas terakhirnya untuk klub teater di kampus tinggal hitungan hari, latihan pun jadi lebih intens dibanding biasanya. Ia juga masih punya beberapa sesi di workshop akting. Belum lagi aktivitasnya di Wonderlands x Showtime dan juga tugas akhir yang menunggu untuk dikerjakan. Di tengah lelahnya, mata Tsukasa menangkap beberapa tumpukan kardus di sudut ruangan dan mengerang.
Oh iya, batinnya. Masih ada banyak barang yang harus dikemas.
Tsukasa menyewa apartemen ini bersama dengan Rui sebelum tahun pertama kuliah dimulai, ketika hubungan spesial mereka baru terjalin selama beberapa minggu. Tsukasa saat itu tidak terpikir sama sekali untuk menyewa apartemen sendiri. Baginya, tidak masalah tetap tinggal dengan orang tuanya meski jarak rumah dengan universitas agak jauh. Akan tetapi, pikiran itu langsung berubah ketika ia mendengar rencana Rui untuk mulai tinggal sendiri saat kuliah.
Tsukasa ingat ia berteriak di dalam sebuah cafe karena saking terkejutnya.
"KAU??!! Tinggal sendiri??!! Rui, memangnya kau akan baik-baik saja??"
"Tsukasa-kun, tolong ingat kalau suaramu keras," Rui tidak menjawab dan memberi gestur kalau pengunjung lain mulai melirik ke arah mereka.
Tsukasa berdeham kecil dan membenarkan posisi duduknya, "maaf." Ia melanjutkan, "tapi kau yakin Rui? Kau kan tidak bisa bersih-bersih. Kau juga tidak bisa masak. Aku yakin kau pasti hanya akan makanan instan. Kau juga tidak makan sayuran. Terus kau juga suka begadang karena terlalu asik memikirkan soal show. Kalau kau tinggal sendiri aku yakin kau bisa tidak tidur berhari-hari..."
Tsukasa menyerocos tanpa henti lalu tiba-tiba terdiam. Dia memandang horor ke arah Rui, "kau bisa-bisa mati cepat??!"
"Tsukasa-kun jahat, memangnya kau pikir aku ini apa..." Rui menutup mata dan pura-pura menangis yang dilebih-lebihkan.
Rui kemudian melanjutkan, "tidak perlu khawatir Tsukasa-kun. Aku memang payah bersih-bersih, tapi kalau mau aku bisa usahakan. Oh atau aku buat saja robot untuk melakukan pekerjaan rumah ya... Hmm mungkin ide yang bagus, kurasa sudah ada bagian yang bisa aku gunakanー"
"Jangan alihkan pembicaraannya!"
Rui tertawa kecil. "Maaf maaf. Pokoknya soal bersih-bersih dan makanan, tenang saja. Aku bisa kerjakan walau tidak sebaik dirimu. Soal sayuran tentu saja tetap mustahil. Kalau begadang... yah, akan aku usahakan deh."
"Pasti kau tidak berniat begitu kan?!" Rui hanya terkekeh kembali dan menenangkan Tsukasa dengan gestur tangannya.
Tsukasa mengembuskan napas. Ia tahu banyak orang mulai tinggal sendirian ketika masuk kuliah. Jika memang itu yang ingin Rui coba, ia juga tidak ingin menentang keinginannya. Hanya saja bagi Tsukasa, kekasih di depannya ini sama sekali tidak bisa dipercaya dapat hidup sendiri dengan baik. Mungkin sesekali ia bisa mengecekー
Oh. Oh iya. Mungkin cara itu lebih baik.
"Rui aku ada ide."
Rui yang sedang menyesap kopi yang dipesannya menaikkan alis. "Hm?"
"Bagaimana kalau kita tinggal bersama? Bukannya itu ide yang bagus?!"
Rui tersedak. Ia buru-buru meletakkan cangkir kopi kembali ke tatakannya sambil terbatuk-batuk. Tsukasa sedikit panik, "kau tidak apa-apa?!"
"Tidak apa-apa kok. Maaf, hanya sedikit terkejut," katanya setelah tenang. "Memangnya tidak apa-apa?"
Tsukasa memiringkan kepalanya, tak mengerti pertanyaan Rui. "Kenapa tidak boleh? Aku awalnya memang tidak ada rencana untuk tinggal sendiri, tapi kurasa orang tuaku dan Saki tidak akan keberatan. Lagipula! Setidaknya aku lebih jago masak dan bersih-bersih, jadi kita bisa bagi urusan pekerjaan rumah secara adil. Terus kita juga bisa melihat dan berdiskusi soal show setiap hari! Gimana? Bukankah itu akan menyenangkan?!!"
Rui tersenyum lembut. "Kedengarannya sangat menyenangkan."
"Betul kan!" Tsukasa membusungkan dadanya. Tentu saja, ini kan ide seorang Tsukasa Tenma, tidak mungkin tidak menyenangkan.
"Kalau begitu, ayo cari bersama apartemen yang cocok."
"Oke! Mohon bantuannya, Rui!"
Tsukasa tidak percaya sudah hampir empat tahun berlalu sejak hari itu. Rasanya baru kemarin. Tidak lama setelah itu Tsukasa dan Rui menemukan apartemen ini, yang tidak terlalu luas dan tidak juga terlalu sempit untuk berdua. Tidak terlalu jauh dari pusat kota dan dari stasiun strategis.
Tsukasa menyukai apartemen ini. Ia sebenarnya tidak ingin pindah, tapi setiap sudutnya mengingatkan akan keberadaan Rui. Mengingatkannya akan setiap momen yang pernah mereka lalui bersama.
Di sofa ini misalnya, adalah tempat Tsukasa dan Rui menghabiskan waktu berjam-jam menonton dan membicarakan show. Baik Tsukasa maupun Rui adalah maniak teater, ketika satu diantaranya mulai berbicara soal itu, maka mereka tidak akan pernah kehabisan topik. Tsukasa soal akting dan Rui soal produksinya. Mereka dapat terus berbicara hingga lewat tengah malam. Hingga Tsukasa terkantuk-kantuk dan Rui memaksanya untuk masuk ke kamar tidur, berjanji akan melanjutkan pembicaraan esok hari.
Tsukasa penasaran apakah Rui rindu momen-momen itu seperti dia merindukannya saat ini.
Lamunan Tsukasa buyar akibat suara perutnya yang berbunyi. "Ah," ia teringat jika dirinya belum makan malam.
Tsukasa lalu bangkit dari sofa dan meregangkan tubuhnya lalu beranjak ke dapur. Ia membuka kulkas, persediaan bahan makanannya sudah menipis. Ia tidak begitu ingin menyetok ulang karena toh sebentar lagi Tsukasa akan pindah.
"Masih ada telur, daun bawang... Cukup untuk membuat omurice."
Tsukasa langsung menyiapkan segala bahan yang ia butuhkan dan menyalakan kompor. Ia hanya perlu memasak untuk satu porsi.
Begitu selesai, Tsukasa membawa piring berisikan omurice di atasnya ke meja makan. Ia juga sempat membuat semangkuk kecil sup miso untuk dirinya. Meja makan itu kecil, dengan dua kursi yang saling berhadapan. Hanya dengan satu porsi makan malam Tsukasa, entah kenapa meja itu tiba-tiba terlihat luas.
"Selamat makan!" Tsukasa mengatupkan kedua telapak tangan lalu menyantap makan malamnya.
Sepi. Hanya bunyi denting peralatan makan yang saling beradu. Tsukasa menatap kursi yang kosong di hadapannya. Kursi yang pernah diduduki oleh Rui yang selalu memuji masakannya.
"Wah, baunya enak." Rui muncul di dapur dan langsung menuju ke rak berisi piring dan mangkuk. Pria ini mengambil beberapa diantaranya lalu mengelap dan menyiapkannya di dekat Tsukasa.
Tsukasa tersenyum bangga. "Menu hari ini adalah hamburg spesial ala Keluarga Tenma! Tunggu sebentar, sedikit lagi matang."
Setelah hidangan tertata rapi di atas meja, Rui dan Tsukasa duduk berhadapan. Keduanya mengatup tangan, "selamat makan!"
Akan tetapi Tsukasa tidak langsung menyantap hamburg yang sudah dimasaknya. Ia justru menatap Rui dengan antusias. Matanya berkilauan dan ia pun bertanya dengan semangat, "bagaimana, Rui? Enak kan?!!"
"Sangat enak, Tsukasa-kun," jawab Rui setelah satu suap.
"Ayo coba makan lagi! Rasanya tidak aneh kan? Teksturnya? Teksturnya juga tidak ada yang aneh kan?!"
Rui terlihat kebingungan tapi ia menyendok lagi hamburg-nya. "Enak kok? Seperti hamburg yang biasa Tsukasa-kun buat."
Mendengar jawaban Rui, Tsukasa tersenyum lebar. "HA HA HA!! Rasakan kemenanganku, Kamishiro Rui!!!"
Rui hanya balas menatap dengan raut wajah kebingungan. Ia memiringkan kepalanya, tidak mengerti soal kemenangan apa yang dibicarakan Tsukasa.
"Kau tahu, Rui! Sebenarnya aku memasukkan bawang bombay dan wortel di hamburg itu!! Bagaimana??! Sebuah rencana yang begitu sempurna, kan?!"
"Eh? Yang benar?"
Tsukasa mengangguk-angguk dengan semangat.
"Aku sama sekali tidak menyadarinya..." Mata Rui melebar, ia menatap hamburg-nya setengah tidak percaya.
"Tentu saja! Aku berusaha keras supaya warna dan rasanya tersembunyi dengan sempurna, tahu!" dengus Tsukasa.
"Tapi kenapa tiba-tiba, Tsukasa-kun?"
"Karena aku ingin kau sehat dan bisa hidup lama," jawab Tsukasa tanpa memandang Rui, ia mulai menyantap hamburg yang tersaji di depannya. Tsukasa menggumam kecil membenarkan kata Rui, rasa sayurannya tersembunyi sempurna diantara daging cincang dan bumbu-bumbu, sama sekali tidak terasa. Ia tersenyum bangga dengan hasil makanannya ini.
"Tapi kan aku selama ini sehat tanpa makan sayur. Aku juga tumbuh setinggi ini," ucap Rui.
"Eeii!! Berisik! Pokonya aku ingin kau sehat jadi aku bisa bersamamu selama mungkin!"
Rui terdiam. Ia menutup wajahnya dengan telapak tangan lalu menghembuskan napas pelan. "Itu curang, Tsukasa-kun..." gumamnya lirih.
"Apanya?" balas Tsukasa di tengah kunyahannya, tidak mengerti maksud Rui.
"Tidak, tidak apa-apa kok."
Setelah itu, Tsukasa berulang kali berusaha membuat makanan yang dapat menyembunyikan rasa dan warna sayur dengan sempurna. Yah, meskipun usaha itu tidak selalu berhasil. Ia teringat ketika salah satu percobaan masakannya masih terdapat rasa sayuran yang cukup kuat, tetapi Rui bersikeras untuk tetap memakannya. "Tsukasa-kun sudah berusaha keras membuat ini, jadi aku juga akan berusaha memakannya... ugh..." katanya sambil mengunyah perlahan. Wajahnya terlihat lucu saat itu, seakan bisa menangis kapan saja. Sebagai ganti usaha itu, Tsukasa memasak makanan kesukaan Rui untuk keesokan harinya.
"Terima kasih atas makanannya!" Tsukasa menepukkan telapak tangannya lalu bangkit dan membereskan meja makan. Ia membawa peralatan makan yang kotor ke wastafel dan mulai mencuci. Dalam sekejap, keheningan di ruang apartemennya digantikan dengan suara air yang mengalir dari keran.
Dulu, mencuci piring dan membereskan dapur adalah tanggung jawab Rui karena Tsukasa telah bertugas memasak. Suatu waktu, Rui pernah membuat robot untuk membantu tugasnya itu. Akan tetapi entah ada masalah apa dengan mesinnya, robot itu justru malah membuat air menciprat kesana kemari dan dapurnya jadi tambah berantakan. Tsukasa ingat dia sedikit berteriak memarahi Rui untuk mematikan robotnya sedangkan yang dimarahi malah tertawa dengan asik seperti anak kecil.
Setelah selesai membersihkan dapur, Tsukasa beranjak ke kamar mandi. Ia membasuh seluruh tubuhnya dan mandi dengan cukup cepat. Ada sedikit godaan untuk berendam, tetapi ia terlalu malas dan lelah saat ini. Mungkin lain kali. Setelah selesai mandi, Tsukasa kemudian masuk ke kamarnya. Rambutnya sudah kering, pajamanya sudah ia kenakan. Tinggal mengatur alarm lebih pagi untuk besok.
Tsukasa berbaring di atas ranjang, menatap langit-langit kamarnya di tengah gelap. Ia berkali-kali mencoba memejamkan mata, tetapi tidak kunjung bisa terlelap. Padahal matanya mengantuk dan tubuhnya sudah berteriak lelah, tetapi pikirannya malah berkeliaran kemana-mana.
Bukan, bukan kemana-mana. Lebih tepatnya ke satu orang.
Lagi-lagi Tsukasa ingat, ketika tidak bisa tidur atau terlalu lelah, ia akan membuka pintu kamar Rui dan menubrukkan tubuhnya begitu saja ke tubuh Rui. Rui pasti sedikit terkejut tapi akan langsung memeluknya dengan hangat. Atau terkadang, Tsukasa yang akan mengajak Rui untuk tidur bersamaーyang jarang Tsukasa lakukan karena sejujurnya dia agak malu. Sebagai seorang kakak dan pemimpin di troupe kecil mereka, Tsukasa lebih terbiasa memanjakan alih-alih dimanjakan. Jadi, ajakan tidur bersama adalah sesuatu yang sangat langka yang membuat Rui langsung menghentikan apapun aktivitas apapun yang sedang dilakukannya lalu menuju ke salah satu di antara kamar mereka.
Tsukasa tersenyum kecil ketika teringat bahwa pertama kali mereka tidur bersama, dirinya tidak sengaja menendang Rui hingga jatuh dari atas tempat tidur. Tsukasa punya posisi tidur yang sangat buruk dan akan banyak bergerak sepanjang malam. Tempat tidur mereka juga mungkin agak sempit untuk digunakan dua lelaki dewasa. Tapi Rui terus memaksa agar mereka tidur bersama meski Tsukasa telah memperingatkan berkali-kali kalau dia pasti akan menendang atau memukulnya saat tidurーyang benar terjadi.
Seiring berjalannya waktu, posisi tidur Tsukasa mungkin menjadi lebih baik karena terbiasa tidur bersama dengan Rui. Dekapan Rui begitu nyaman hingga dapat membuat Tsukasa tenang dan diam sepanjang malam. Meski Tsukasa benci mengakuinya, postur tubuh Rui yang lebih tinggi membuat pelukannya terasa begitu pas untuk dirinya. Begitu hangat, begitu tentram. Posisi ini juga memungkinkan Tsukasa untuk menghirup bau khas Rui yang begitu ia sukai, yang tercampur dengan wangi floral dari pewangi yang sama-sama menempel pada kaus mereka berdua.
Tsukasa menghembuskan napasnya perlahan. Ia tidak menyangka jika tanpa Rui, apartemen ini akan terasa begitu sepi, dingin, gelap, dan begitu luas.
Tsukasa dan Rui berdiri berhadapan membelakangi pintu depan. Rui telah berpakaian rapi, sepatunya juga telah dia pakai sempurna. Disampingnya, terdapat satu koper besar berwarna abu-abu. Sedangkan Tsukasa hanya memakai apa yang biasa ia pakai sehari-hari, kaus polos dan celana pendek.
Rui mengulurkan sebuah kunci dengan gantungan akrilik bergambar wajah kucing yang tersenyum. Tsukasa yang memilihkan gantungan itu di sebuah toko oleh-oleh ketika mereka berlibur bersama. Wajah kucing itu entah kenapa mengingatkannya pada senyuman Rui. Sebagai gantinya, Rui saat itu juga memilihkan gantungan lain untuk Tsukasa. Alih-alih kucing, Rui menunjuk ke satu gambar anjing dan berkata kalau 'yang ini mirip Tsukasa-kun.'
"Ini, Tsukasa-kun. Maaf telah banyak merepotkan."
Tsukasa menerima kunci tersebut dan menggelengkan kepalanya. "Tidak sama sekali. Aku juga minta maaf jika banyak mengomel padamu."
Rui hanya tersenyum kecil. Keduanya lalu terdiam beberapa saat, tak yakin apa yang harus diucapkan.
"Kalau begitu aku pamit," Rui yang pertama membuka suara. "Aku.. benar-benar bahagia bisa tinggal bersamamu. Bersama dengan Tsukasa-kun setiap hari sangat menyenangkan."
Tsukasa hanya mengangguk. "Aku juga."
"Mungkin bukan tempatku mengatakan ini tapi... Tsukasa-kun, aku tidak masalah jika kau mau melupakan segala hal tentang kita, tentang apapun yang terjadi di apartemen ini. Maksudku, kau tahu," Rui terbata-bata. Tsukasa melihatnya mengepalkan kedua tangannya dengan kuat.
"Maksudku, jika segala kenangan itu, yah, kau tahu, justru menyakitimu.."
Tsukasa sedikit kaget dengan perkataan Rui. Mungkin tubuhnya juga mulai gemetar, tapi ia berusaha sekuat mungkin untuk menyembunyikannya agar Rui tidak tahu. Dia tidak ingin memperlihatkan barang sedikit saja kelemahannya di hadapan Rui. Tidak untuk saat ini.
Karena kalau lemah, ia mungkin tidak dapat membiarkan Rui pergi.
"Tidak apa-apa, Rui. Tidak apa-apa." Tsukasa tidak yakin apakah kata-kata ini menjadi jawaban yang tepat untuk perkataan Rui. Dia juga tidak yakin jika ini ia tujukan untuk Rui atau justru untuk dirinya sendiri.
"Sekali lagi aku minta maaf, Tsukasa-kun. Dan terima kasih banyak. Aku pergi dulu," ucap Rui terakhir kalinya.
"Hati-hati, Rui. Aku juga berterima kasih banyak padamu."
Dengan satu senyuman terakhir, Rui membuka pintu dan menarik kopernya keluar apartemen. Tsukasa hanya menyaksikan punggungnya menjauh hingga satu klik kemudian, pintunya tertutup kembali. Rui telah pergi meninggalkan Tsukasa sendirian yang terdiam di tempatnya hingga entah berapa lama.
"Mana mungkin aku bisa lupa, dasar bodoh..."
Tsukasa merasakan matanya memanas. Ah, sialan, batinnya. Mengingat kepergian Rui membuatnya ingin menangis.
Setelah putus, Tsukasa dan Rui kembali menjadi teman baik, persis seperti yang Rui inginkan. Mereka masih bertemu dalam banyak kesempatan, terutama saat bersama dengan Wonderlands x Showtime. Tsukasa berusaha sekuat mungkin untuk bersikap biasa saja dan dia juga tahu bahwa Rui mungkin melakukan hal yang sama. Meskipun dia akui bahwa tetap ada sedikit canggung di antara mereka berdua yang kemudian dirasakan oleh Nene dan Emu. Tsukasa merasa bersalah telah membuat kedua teman perempuannya itu khawatir.
Tapi toh tidak banyak yang bisa dia ceritakan karena baik Rui maupun Tsukasa merahasiakan hubungan spesial mereka sejak awalーatas permintaan Rui.
Tsukasa meletakkan lengannya di atas mata. Air matanya tiba-tiba mengalir tanpa bisa ia kendalikan. Ia tidak tahu apa yang dirasakannya terhadap Rui. Sedih, marah, kecewa, dan bingung semuanya bercampur menjadi satu. Ketiadaan Rui telah membuatnya linglung, Tsukasa tidak tahu lagi mana yang benar dan yang salah dari hubungannya dengan Rui.
Mungkin hubungan ini sejak awal memang sudah salah. Mungkin perasaan yang Tsukasa tujukan khusus untuk Rui sejak awal juga sudah salah.
Di atas segalanya, Tsukasa sebenarnya lebih kesal pada dirinya sendiri. Tsukasa kesal bahwa segala hal, segala kenangan bahagia, yang telah dia lakukan bersama dengan Rui tak cukup meyakinkannya. Tak cukup untuk menghapus segala resah dan kekhawatiran yang dirasakan Rui. Ia kesal karena tidak menyadari ketakutan yang dipendam Rui dan tidak bisa berbuat apapun untuk mengusir rasa takut itu. Ia kesal bahwa ketika Rui berkata ingin mengakhiri hubungan mereka, Tsukasa tidak bertingkah seperti seharusnya seorang Tsukasa Tenmaーmenyangkal permintaan putus dari Rui, menggegam tangannya, lalu merapal segala hal yang dapat membuat Rui percaya kalau dirinya akan baik-baik saja. Bahwa segalanya mungkin tidak akan mudah, tapi mereka berdua akan baik-baik saja.
Tsukasa menyesal tidak mengatakan itu. Ia menyesalkan dirinya yang langsung mengiyakan permintaan Rui lalu berlindung di balik alasan kalau Rui pasti tidak akan mengubah keputusannya. Padahal Tsukasa tahu bahwa dia masih punya sedikit kesempatan untuk masuk ke bagian paling dalam hati Rui dan meyakinkannya jika permintaan Rui adalah hal yang salah dan pasti akan mereka berdua sesali di masa depan.
Tapi ia tidak melakukan itu dan justru merelakan Rui untuk pergi menjauh.
Tsukasa kesal, kesal karena ia sudah siap untuk memberikan segalanya, kepada Rui. Setiap bagian dari hatinya, setiap tangis dan tawanya, setiap sisi yang tidak ia tunjukkan kepada siapapun selain Rui, segalanya. Segalanya sedia ia berikan tapi ternyata masih tidak cukup untuk membuat Rui percaya akan masa depan hubungan mereka.
"Rui bodoh, dasar kau bodoh.." gumam Tsukasa pelan diantara tangisnya yang tertelan malam yang semakin larut.
Tsukasa menatap apartemennya yang sekarang sudah benar-benar kosong. Barang-barangnya sudah diangkut menuju rumah barunya. Yang tersisa dari ruangan ini selain debu hanyalah kenangannya bersama dengan Rui.
"Ruuuiiii!!!! Sudah berapa kali aku bilang keringkan rambutmu dengan benar!! Air dari rambutmu banyak menetes di lantai!!"
"Oh ya? Maaf Tsukasa-kun. Aku tiba-tiba punya ide baru untuk pentas kita. Omong-omong, kalau aku tambahkan fitur baru ini pada Nenerobo apakah dapat membuat pentas kita lebih menarik?"
"Oh? Coba aku liha--heiii!!! Jangan alihkan pembicaraan!!
"Tsukasa-kun masakanmu enak sekali~"
"Hmph! Tentu saja! Ini kan kare dengan resep spesial ala keluarga Tenma yang rasanya manis dan penuh dengan potongan sayur yang besarー "
"Ah, sayurnya tidak perlu."
"Oi!"
"Rui?? Kau masih bekerja? Sudah berapa kali kubilang jangan begadang.."
"Maaf Tsukasa-kun, tapi masih ada hal yang ingin kulakukan. Kau tidur duluan saja jika sudah mengantuk."
"Hmm.. yasudah kalau begitu. Sayang sekali, padahal aku ingin tidur bersamamu. Kalau begitu selamat ma-"
"EH?! Tidak kok Tsukasa-kun! Aku sudah selesai!! Tidak ada yang ingin aku kerjakan lagi! Ayo tidur bersama!"
"O-oh... kalau kau bilang begitu.."
"Tsukasa-kun, tidak baik tidur di sofa, nanti kau bisa sakit. Ayo pindah ke kamar."
"Mmm tapi.. Masih mau menonton show... dengan Rui..."
"Kita bisa menonton lagi besok. Ini sudah malam untukmu yang suka tidur tepat waktu."
"Kalau gitu mm... angkat aku..."
"Fufuu, sepertinya hari ini ada anak manja, ya. Tapi tidak masalah. Sini, Tsukasa-kun."
Setiap sudut mempunyai kenangan tersendiri yang untuk beberapa waktu setelah putus, membuat Tsukasa merasa sesak. Setiap ia bergerak, pikirannya akan selalu mengingatkannya tentang segala hal yang dulu pernah ia lakukan bersama Rui di sini. Rui benar bahwa kenangan-kenangan ini menjadi sedikit menyakitkan bagi Tsukasa. Akan tetapi ia tidak bisa melupakannya. Betapa kerasnya dia mencoba, Tsukasa tidak mungkin bisa lupa.
Karena Tsukasa tidak ingin melupakannya. Ia tidak ingin menghapus segala yang telah ia bagi bersama Rui hingga saat ini. Ia tidak ingin menganggap hubungan spesialnya dengan Rui menjadi seolah tidak ada sama sekali. Setidaknya ia ingin menyimpan kenangan-kenangan itu untuk dirinya sendiri. Tersimpan rapat, di sudut hati dan pikirannya yang paling dalam.
Oleh karena itu, Tsukasa juga memilih untuk pergi dari apartemen ini. Ia ingin bisa mengingat segala kenangan bersama Rui dengan hati baru, perasaan baru. Tsukasa ingin ia bisa mengingatnya dengan penuh kasih, alih-alih dengan rasa sesak yang menyiksa. Ia ingin bisa merindukan segala momennya dengan senyum yang dapat mengantarkannya melangkah maju ke depan.
Dengan sapuan pandangan terakhir, Tsukasa mengembuskan napas panjang. Ia bergumam kecil, terima kasih banyak. Tsukasa membuka pintu lalu melangkah keluar, meninggalkan apartemen yang penuh kenangan dan segala rasa sakit hatinya.
"Selamat tinggal."
I thought that your heart and my heart,
would be as one forever.(Yorushika - Left-Right Confusion)
Fin.
