Work Text:
Jadi naif itu, gampang ya. Tengok pada sekelompok anak kecil yang tengah bermain , hanya terdengar canda dan tawa renyah. Nagumo juga mau, kalau terus-terusan bisa denial perihal apa yang sedang terjadi. Kalau, ya. Sayang dia bukan lagi bocah berumur 7 tahun yang sering diejek perkara punya senyum yang aneh dan menyeramkan. Tugas sebagai anggota The Order tak pernah berikannya waktu tuk hirup nafas dan nikmati apa yang dunia ini tawarkan—meski apa yang ia korbankan sepadan dengan pundi emas yang didapatnya.
Kesal, jadi ditendangnya bungkus kaleng pipih yang hampir menyatu dengan aspal di pinggir jalan. Eh, langsung meringis kalanya temui balasan berupa rintihan kecil—disertai umpatan tak senonoh setelahnya.
“Dungu, ya!?”
Duh, sial.
“Maaf, maaf. Enggak sengaja, serius deh!”
Si rambut hitam berhambur menembus rerimbun rumput panjang—hampir seperti rawa, yang mengantarnya pada pesisir sungai. Ada sosok lain di sana—dari perkiraan sok tau nya, si lawan bicara miliki umur tak lebih tua darinya.
“Eh, lagi ngapain? Jangan mancing di sini, enggak akan dapat ikan.”
Si empunya surai pirang memutar mata dengan malas sebelum melempar sebuah sepatu usang kepada Nagumo. Enggak sopan, tapi dia maklum sih—toh, ucapannya asbun banget, serasa tengah bercakap santai dengan teman akrab. Padahal, kenal saja enggak.
“Buta ya, ada lihat aku megang alat pancing gak?”
Eh, lucu banget.
Jadilah, Nagumo terkikik kecil sebelum duduk di sebelah pria pirang itu. Netranya mengawang ke pemandangan di depannya—sungai yang cukup bersih, namun tidak terawat. Ada jembatan merah besar tidak jauh dari tempat mereka duduk. Hari sudah mencapai petang, rombongan burung yang akan kembali ke sarangnya berbaur apik dengan potret hangatnya warna jingga di sore hari.
“Kok sore-sore masih di sini? Boleh tau namanya gak?”
Tanya dari Nagumo dihadiahi keryitan oleh sang lawan bicara. Dia sendiri sih, sudah biasa dianggap aneh sejak kecil. Jadi enggak masalah kalau yang satu ini juga menganggapnya sebagai orang sok akrab.
“Shin.”
“Shin aja? Kok ada nama orang pendek banget?”
Bocah bersurai pirang itu—Shin, lantas hanya mengangguk. Sebenarnya, enggak ngerti juga kenapa dia enggak ngomel—seperti biasanya, sambil usir orang lain sebab lancang masuk teritorialnya.
Shin kira, laki-laki disampingnya akan lanjut mengoceh enggak jelas. Eh, tapi suasana di sore hari agaknya memang enggak bisa ditolak. Dia cuma menghela nafas kecil, ikut Nagumo celingukan—lihatin langit yang sebenarnya gitu-gitu aja, sih.
“Kenapa deh, fokus banget ngelihatin langitnya?”
“Suka-suka dong, mau banget diajak ngobrol ya?”
Goda Nagumo dihadiahi sebuah lemparan sepatu merah yang sudah usang—lagi. Dia terkekeh, netranya curi pandang pada telapak kaki milik Shin yang tak dilapisi alas kaki apapun.
“Sepatunya ditaruh di mana?”
Shin terlihat kaget, enggak duga bahwa Nagumo akan bertanya demikian. Malu-malu, bocah itu menunjuk ke arah di mana jembatan merah berada. Lirik ekspresi sang pria berambut hutam— yang hanya anggukan kepala sambil tersenyum kecil.
“Gimana kalau nanti diambil sama orang, sepatunya?”
“Nggak apa, sedekah.”
Nagumo balas dengan tawa—yang kali ini terdengar lebih tulus, sambil anggukan lagi kepalanya beberapa kali. Diambilnya beberapa camilan yang kebetulan sempat dibeli dari toserba dekat tempatnya terakhir bekerja—taruh bungkusan dengan beragam warna itu diantara dia dan juga Shin. Namun, Nagumo tak tawarkan snack-nya kepada Shin . Pun , bocah pirang itu juga tidak mengatakan apapun. Jadilah Nagumo menyeruput kotak kecil berisi susu dengan rasa stoberi sambil asyik makan stik pocky dengan rasa serupa dengan susu yang ia minum, jatuhnya seperti tengah piknik di tempat yang salah.
“Shin tuh, artinya identik sama sesuatu yang baru kan? Tapi kalau ditambah satu aja huruf U di belakang, artinya langsung berubah."
“Ya iya."
“Serem ah, aku mau panggil kamu 'si kecil' aja boleh gak?"
“Ngomong sama sepatu sana."
Shin membuang muka, jawab pertanyaan Nagumo dengan ketus. Sudah dongkol, tapi tetap saja dijawab. Biasanya, dia cuma ngomel sambil pergi begitu saja, kalau dihadapkan dengan model percakapan enggak berbobot seperti ini.
“Tapi 'baru' sama 'mati' itu hampir enggak ada bedanya, enggak sih? Aku gak tau sih ya, soalnya enggak percaya sama yang namanya afterlife atau rebirth. But for some people who believe in it, dying means you will be reborn as something new.”
Dapat Nagumo lihat bahwa Shin tersenyum kecil — duh, jadi enggak tega. Yang lucu dan imut begini, harusnya sekarang lagi habiskan waktunya dengan nikmati masa muda bareng teman sejawatnya.
“Susah sih, gaada yang tau konsep reinkarnasi betulan ada atau enggak. Tapi kalau mati cuma untuk hidup lagi jadi sesuatu yang baru, wouldn't that mean defying the existence of heaven and hell?”
“Iya juga ya. Mungkin di-reveal nya nanti, pas sudah kiamat."
Shin cekikikan, Nagumo jadi ikut tersenyum lihatnya. Aduh, sebetulnya bukan niatnya tuk bawa percakapan dengan topik berat seperti ini. Nagumo mengutuk dirinya dalam hati, namun Shin seperti bisa membaca apa yang tengah Nagumo fikirkan.
“Berarti aku harus nunggu di sini sampai dunia ini kiamat, dong?"
“Nanti aku temenin."
Shin terkekeh kecil. Biarkan jeda berupa keheningan seakan jadi perantara semua ucapan yang tak akan dapat ia sampaikan secara langsung. Lihat bagaimana matahari telah tenggelam sepenuhnya , diganti oleh sang bulan yang cahayanya langsung memantul diriak sungai.
“Udah malam, enggak mau pulang?”
Nagumo menoleh, pertanyaan Shin seakan jadi pengusiran lembut dari sang pirang—yang tidak bisa ia sanggah. Dia mengangguk, memikul tasnya kembali dipunggung. Ia sodorkan camilan dan minuman yang masih tersisa kepada Shin.
“Nih, buat kamu”
“Loh, repot-repot. Aku udah enggak butuh makan padahal, tapi makasih ya!”
Nagumo mengangguk sembari berdiri, coba bersihkan pakaian—terutama celananya, dari noda tanah sebab duduk di pinggir sungai terlalu lama.
“Sepatu sama tasnya mau dibiarin aja? Atau—?”
Tanya Nagumo tergantung, menunggu jawaban dari Shin. Si surai pirang terlihat ragu beberapa saat sebelum kembali menjawab.
“Iya, dibiarin aja. Enggak ada yang nunggu kok di rumah.”
Nagumo mendongak, curi pandang ekspresi Shin yang ulas senyum tipis. Tak ada kata yang bisa ia rangkai, namun harap banyak bahwa waktu singkatnya bersama Shin dapat membuat yang lain merasa lebih naik.
“Aku pulang dulu, ya. Besok main ke sini lagi, boleh?”
Shin tak bergeming, tubuhnya hanya membeku selama beberapa saat. Tenggorokannya tercekat sakit, ingin rasanya menyalahkan Tuhan sebab mengapa Ia baru mempertemukannya dengan orang sebaik Nagumo ketika dia sudah tidak berada di sini? Dadanya terasa berat . Tidak—dia bahkan tidak tahu apakah Nagumo adalah orang baik. Yang dilakukannya hanya duduk dan menemani Shin dengan obrolan yang tidak jelas topiknya. Tapi baginya—yang eksistensinya tak pernah dilihat. Bagi Shin yang telah dilupakan dunia, hal-hal kecil menjadi begitu menyentuh baginya.
Hanya—jika. Jika Nagumo ada di sana lebih awal, mungkin pria aneh ini bisa mengubah takdirnya beberapa waktu yang lalu. Ah, tapi yang lalu biarlah berlalu. Dibilang menyesal atas keputusannya pun, Shin tak bisa mengiyakan. Ada ketenangan tersendiri, walau tak ada yang bisa dia ajak bicara. Agak ironis, sih—dia sendiri yang memilih untuk pergi dari satu-satunya pelindung yang ia punya. Profesor yang sekaligus merupakan ayah angkatnya sangat baik kepada Shin, dia bisa membayangkan betapa patah hatinya sang pria tua itu ketika tau kabar bahwa anak yang telah ia asuh—ternyata tidak setangguh apa yang selama ini ia lihat. Katakan bahwa egonya setinggi langit dan sekeras baja, untaian benang kusut miliknya tak bisa ditafsirkan oleh mereka yang coba tuk membantunya. Pada akhirnya, ini bukan salah siapapun. Ya, kan?
Shin menatap punggung Nagumo yang mulai menjauh, berjalan menuju jembatan tuk mengambil sepatu dan juga tas miliknya di sana—mungkin ingin membawa benda terakhir milik Shin bersamanya. Netranya mengintip pada bungkusan snack yang diberikan oleh pria itu—tersenyum seperti orang dungu setelahnya. Ia jelas sudah tak bisa makan, tapi pemberian kecil seperti ini membuatnya senang bukan kepalang. Ternyata begini ya rasanya dapat sesajen?
Shin berdiri, hendak berpindah tuk cari posisi yang nyaman baginya malam ini. Bocah itu sedikit bergidik ketika melirik sekelibat tubuhnya yang terendam di dalam sungai. Hah, sungguh pucat dan mengenaskan. Dasar bocah naif, fikir Shin kepada dirinya sendiri—juga kepada puluhan pasang sepatu usang yang berada di pinggir sungai.
Tapi, mau bagaimana lagi. Menjadi naif itu gampang.
