Chapter Text
Langit yang mulai menggelap menjadi pemandanganmu ketika kau membuka pintu ruangan sekre UKM Musik yang sekaligus merangkap jadi studio latihan itu. Kau mengeratkan pegangan pada case gitarmu agar tidak jatuh saat membenarkan tali sepatu.
"Bisa ga jangan halangin pintu?"
Kau menegakkan punggung dan membalikkan tubuh menghadap ke asal suara yang lebih dari familiar itu. Siapa lagi kalau bukan Umemiya Hajime, Ketua Pelaksana Diklat UKM Musik yang akan diadakan sebulan lagi sebagai bentuk penyambutan pada para mahasiswa baru dan anggota baru UKM ini.
"Banyak bacot lu."
"Aduhai takutnyoo garang ya Mbak,"
Pemuda tinggi besar yang sekarang sedang menempuh pendidikan di prodi Agroteknologi semester 5 itu nyengir kuda sambil menggodamu seperti biasa. Kau yang sudah mengenalnya dari semester 1 itu hanya bisa menghela napas dan menepis tangannya menjauh.
"Mau ke mana Mbak?"
"Balik kos,"
"Mau dianter ga Mbak?"
Kau mengerutkan kening. "Gue bawa motor?"
Umemiya berjalan mengiringimu keluar dari area ruangan sekre UKM menuju parkiran motor. "Gue bawain gitar lu,"
Tanpa banyak omong kau menyerahkan case itu ke Umemiya dan membiarkan pemuda itu mencangklongkannya ke bahu. Kalo bisa ngomong, kayaknya itu gitar bakal protes soalnya udah sering dioper-oper antara kau dan Umemiya. Kadang ngendap di kosmu, Sekre, atau kos Umemiya.
"Gue ga ikut mentoring besok," Celetukmu. Umemiya menoleh.
"Kenapa Cil?"
Mulai. Panggilan itu selalu sukses membuatmu berdecak dan membuat Umemiya tertawa. Kau meliriknya malas sementara Umemiya masih mempertahankan senyumnya di wajah.
"Bisa ga stop panggil kek gitu?"
Umemiya menjulurkan lidahnya, tangannya mengacak rambutmu. "Kan lu masih kecil nih, segini." Jawabnya sambil memperagakan gestur kecil dengan jari telunjuk dan jempolnya.
Kau menepis tangan Umemiya dan rambutmu dan menggerutu sambil merapikan rambut. "Ah udah ah. Besok full asistensi. Semalem gue ga tidur tau garap animasi tai. Cape gue masuk prodi ini,"
Umemiya menepuk pundakmu prihatin, padahal ia sendiri juga sibuk ngelaprak.
"Padahal gue seneng kalo panit bareng elu,"
Kau menggelengkan kepala, heran. "Ya karena gue doang yang kerja."
"Tuh tau,"
Beberapa helai rambut keperakan Umemiya jatuh ke dahinya selagi ia sibuk tertawa. Kau menunjuk gitarmu dengan dagu. "Titip dia dulu."
"Oke. Lu ati-ati pulangnya ya Cil,"
Kau naik ke atas jok dan mengenakan helm. "Aman."
Ia menyelamu dengan menggapai stang motormu agar kau tidak bisa memundurkan motor.
"Gue serius anjir lu kalo naik motor kaya naik speedboat."
"Apaan sih Jimmm,"
Iris biru cerah Umemiya yang menusuk dalam matamu membuatmu tidak lagi berkutik. Kau memutar bola mata hanya untuk menemukan bahwa Umemiya masih menatapmu.
"Iyaa Hajime. Gue pelan-pelan, 45 nih maksimal."
"Apaan 45. 30!"
Baru saja hendak menutup visor helm ke bawah, kau menaikkannya kembali. Yang benar saja.
"Mending gue pulang naek odong-odong dah kalo gitu."
Umemiya tersenyum. "Mending gue anter sih,"
Sumpah ya Umemiya harus berhenti membuat candaan seperti ini. Untungnya ia selalu bersikap seperti ini denganmu yang sudah kebal. Bayangkan kalau pemuda itu kelepasan seperti ini dengan maba yang polos dan tidak tahu apa-apa, apa gak baper tuh pasti.
"Najis."
Tawa Umemiya yang khas itu menggelegar. Ia kembali menatapmu lagi -yang membuatmu merasa aneh, bisa tidak sih ia menatapmu dengan biasa? Kau mengernyitkan kening ketika menyadari jemari Umemiya bergerak ke wajahmu untuk menyelipkan beberapa rambut di sana ke dalam helm.
"Kalo motoran dikuncir napa Cil rambutnya,"
"Ngatur. Udah ah gue pulang dulu. Byeee,"
"Kabarin kalo udah sampe!"
Kau cuma melambaikan tangan kiri sambil melihat tubuhnya yang makin mengecil dari kaca spion. Perjalanan dari kampus ke kosmu hanyalah sepuluh menit. Begitu melepas helm dan kunci motor, entah kenapa hal pertama yang kau keluarkan adalah ponsel untuk mengambil fotomu sendiri.
Sebelum sempat memberi tanda bukti bahwa dirimu sudah sampai di kos, ternyata Umemiya sudah mengirim pesan duluan. Kau tertawa kecil seperti orang tolol.
Hajime Agrotek '22 sent a pic
Hajime Agrotek '22: Nemu pisang 🍌
You: Najis bgt jim jangan dimakan
Hajime Agrotek '22: Yah telat cilll
You: GBLK ANJIRRR 😭
You sent a pic
Hajime Agrotek '22: YH KOK ONCE SEEN KN MAU GUE AIB
Hajime Agrotek '22 replied to your text: kn gw laper gmn dong
You: Laper makan om
Hajime Agrotek '22: Penyetan depan print biasa yuk
You: KN GW UDH SMPE KOS? KNP GK DR TD
Hajime Agrotek '22: Gw jemput
Hajime Agrotek '22: Lu duduk manis aja tungguin d teras
Hajime Agrotek '22: Bentar gw plg dl k kos mo mandi dl
You: Lah tolol brutal
You: jgn lm lm Jim gw ngntuk
Hajime Agrotek '22: ngatur
You: lah kocak
You: jim ntar gw yg byr aj y bwt gnti duit titip print kmrn
Hajime Agrotek '22: aman gampang
Hajime Agrotek '22: udh kelar mandi gw mo otw dl
You: lu mandi apa nyemplung doang sih cepet bgt
Hajime Agrotek '22: salah mulu gw
You: yaudah cpt
Hajime Agrotek '22: sabar princess ini lg nyari kunci
Hajime Agrotek '22 sent a pic
Hajime Agrotek '22: otw
Ngomongin soal bagaimana Umemiya bersikap, memang kau pernah melihatnya begini dengan perempuan lain?
(.)
"Hai, Choji."
Pemuda bertubuh pendek yang rambutnya dicat pirang itu melambaikan tangannya padamu saat ia keluar dari ruangan Sekre UKM. Kau baru saja sampai di sana sambil mengecek giliran shift studio di papan samping pintu. Seharusnya band Choji sudah selesai latihan jam segini. Tak lama, Togame keluar dari ruangan sambil menenteng case bassnya yang entah kenapa tampak seimbang dan tidak terlihat besar ditenteng laki-laki itu.
"Yoo. Mau latihan?" Tanya Togame basa-basi busuk. Kau mengangguk.
"Oke lah. Gue sibuk, mau kerjain jokian Nirmana adting."
"Anjir lu buka joki?" Tanyamu. Kau satu fakultas dengan mereka di FSRD beserta dengan satu anggota bandmu yaitu Tsubakino alias Tsubaki yang memegang Keyboard di band, namun Tsubaki berada di prodi Seni Rupa Murni sementara kau dan dua orang di hadapanmu ini merana di DKV.
"Ya dari mana lagi gue dapet duit kalo bukan dari buka jokian."
"Keren-keren. Gue mau latihan tapi percuma juga Hajime belom dateng."
"Hm...?"
Alis Togame naik sebelah dan ia tersenyum dengan cara yang entah kenapa sangat menyebalkan, seolah sedang mocking kata-katamu barusan. Seolah ada yang tidak kau ketahui.
"Toga cepetannnn!"
Suara Choji menggema. Togame menghela napas dan melambaikan tangannya untuk mengakhir obrolan. "Duluan ya, gue nebengin dia soalnya."
Kau kembali mengangguk dan membalas lambaian tangannya. Pintu Sekre akhirnya kau buka dan kau menemukan Hiiragi, bassist bandmu sedang duduk di lantai untuk menyetem instrumennya.
"Hiiragi,"
Laki-laki yang kau panggil berhenti menyetem bass-nya. Kau menghampirinya dan ikut duduk di lantai.
"Rundown Diklat dari Sie Acara udah kelar?"
Hiiragi memijit pelipis. "Ada revisian kemarin pas mentoring."
"Kok notulensi ga dikirim?"
"LUPA."
"Gimanesi lu kan Koor Acara kocak. Udahlah mundur aja gue jadi BPH pusing gue."
Hiiragi meletakkan bass-nya ke lantai. "Eh jangan napa kalo bukan elu siapa lagi yang ngatur?"
"Ada Hajime."
Tatapan Hiiragi berubah ketika kau menyebut nama Umemiya. Sudut bibirnya naik.
"Ouuhh iya-iya 'ada Hajime'." Ujarnya menyikutmu. Kau ber-hah bingung melihatnya.
"Hah?"
"Tolol."
Hiiragi tidak berkata apapun lagi dan meninggalkanmu dengan rasa bingung. Tidak lama kemudian, pintu Sekre terbuka menampilkan Umemiya yang langsung setengah melempar gitarmu ke kursi.
"Napa lu?" Tanyamu yang hanya disahuti dengan senyuman kecil.
Hiiragi mengendikkan bahu. "Biarin aja palingan lagi revisian laprak."
Umemiya mengeluarkan stick drumnya dari case. Ia menatapmu dan Hiiragi.
"Ini kita mulai besok apa sekarang?"
"Tsubakino belom dateng.."
"Kita mulai besok apa sekarang?"
Kau segera berdiri dan memplug-in gitarmu. Anjir ngeri juga Umemiya mode laprak ga diACC dosen. Setelah kau dan Hiiragi sudah berada di posisi, kau menoleh pada Umemiya yang duduk di belakang drumsetnya. Pemuda itu membalas anggukanmu singkat dan memulai beat pertamanya. Lagu latihan kali ini adalah lagu wajib semua UKM Musik di seluruh penjuru negeri a. k. a Separuh Nafasku.
Untungnya kau sudah melakukan vocal warm-up, jadi suaramu tidak rusak amat saat belting bagian chorus. Begitu lagu berakhir, kau buru-buru berjalan menuju Umemiya dan menjewer kupingnya.
"Aw aw!"
"Lu kenapa sih Jim?" Pertanyaanmu terlontar bersamaan dengan tanganmu yang melepas telinganya. Umemiya mengelus pelan di sana dan cebrut alias cemberut brutal tapi kau tahu ia tidak sedang serius.
"Biasa. Revisian."
Hiiragi bergumam 'tuh kan gue bener' di bawah napasnya yang tidak kau indahkan. Kau menggelengkan kepala pertanda heran, sebuah kebiasaan kecil yang diam-diam dinotis Umemiya. Ia menumpukan siku di pahanya dan menyandarkan wajah di telapak tangannya.
"Kenapa? Khawatir ya lu?"
"Khawatir khawatir enteng banget lu kalo ngomong. Lu minimal tanya gue udah warm up apa belom sebelum nyanyi kocak, gue sih lebih khawatir ama suara gue."
Umemiya berkacak pinggang sambil bangkit dari kursinya. Ia membuka ransel laptop gaming legendnya itu dan mengeluarkan tumblr air besar dari sana.
"Nih minum. Lu pasti ga bawa air,"
Tanpa babibu kau segera menenggak air di dalam tumblr itu. "Kok lu tau?" Tanyamu setelah mengelap bibir.
"Apal banget gue pattern lu dari semester satu."
Suara dehaman Hiiragi membuatmu batal menanggapi kalimat Umemiya. Kau menyodorkan botol itu padanya. "Serak Om? Nih minum."
Hiiragi menggeleng. "Aman. Umemiya tuh, mau kayanya."
Kau bisa mendengar Umemiya mengatakan 'tai lu' dengan pelan, nyaris seperti bisikan yang ditujukan pada Hiiragi. "Lu mau Jim? Nih, makasih ya. EHH bentar gue cek dulu takut ada bekas lipbalm jir di pinggirnya."
Sebelum sempat melakukannya, botol itu sudah disambar oleh Umemiya. Kau hanya bisa bengong ketika sisa air di dalam ditenggak habis.
"Jorok banget sih, kan baru mau gue bersihin..."
"Kelamaan Cil, gue keburu aus. Udah ah yuk lanjut!"
Hiiragi kembali berdeham aneh dan kau bersumpah tadi sempat melihat rona muda di pipi pucat Umemiya. Latihan berjalan dengan lancar sore itu. Seperti biasa, kau dan Umemiya berjalan bersama menuju parkiran dengan latar langit keunguan yang sepertinya lebih sering kau lihat daripada dirimu melihat keluargamu sendiri.
"Eh lu bisa anterin gue ga ke FP? Motor gue di situ, tadi gue nebeng ke Sekre bareng temen soalnya dia sekalian keluar,"
"Dapet apa nih gue?" Tanyamu iseng.
Ada jeda beberapa detik sebelum ia menghaturkan jawaban paling ngawur. "Dapet gue,"
Kan. Kan. Kau paling malas kalau Umemiya sudah bertingkah seperti ini. Kau hanya melirik Umemiya dari ekor matamu dan terkekeh kecil berharap dia menghentikan lelucon konyolnya itu. Masalahnya kau pun tidak buta, kau tahu Umemiya tidaklah buruk rupa. Kau perempuan, kau juga bisa baper tahu. Mengeluarkan kunci motor, kau memundurkan motor dibantu dengan Umemiya yang menarik motormu dari belakang.
"Kirain dapet duit."
"Kalo dapet gue benefitnya lebih gede."
"MLM lu? Udah ah ayo naik, gue tinggal nih."
Pemuda bongsor itu melompat ke jok belakang dengan semangat membuatmu nyaris ambruk.
Jujur kau malas sekali ke area FP yang berada di bagian paling belakang kampus dan memiliki banyak area hijau itu apalagi ini maghrib-maghrib agak ngeri ya say. Berhubung Umemiya yang memintamu, kau jadi tidak enak untuk menolak.
"Gue turunin sini aja ya," Katamu berhenti di depan Fakultas Ilmu Komputer. Umemiya meremat bahumu protes membuatmu geli.
"Lu yang bener aja dong masa gue jalan dari sini!"
"Yaudah santai napa- ih anjing jangan di situ ah geli,"
Jari jemari Umemiya yang menyapu tulang selangkamu membuatmu berjengit. Kau mengendikkan bahu untuk menepis tangannya karena tanganmu sendiri sedang sibuk mengendalikan stang motor.
Padahal cuma ujung jari, namun rasanya kau seperti disengat listrik jutaan volt. Aneh rasanya. Kau meringis mengingatnya dan berharap Umemiya tidak melakukan hal bodoh lainnya yang membuatmu berpikir tidak-tidak, contohnya seperti jika Umemiya menyukaimu. Aneh-aneh saja. Tidak mungkin.
"Lu sensitif ya di situ?"
Suara Umemiya yang menggema langsung ke dinding terowongan telingamu karena bibirnya berada tepat di dekat cuping telingamu dengan napasnya yang menghembus hangat sukses membuatmu kembali berjengit, kali ini lebih hebat. Wah sudah gila Umemiya ini. Bisa kau lihat dari spion ia sedang tertawa hebat karena berhasil menggodamu.
"Jim lu gue turunin di depan gerbang masuk kampus mau ga?"
"Eh jangan dong-"
"Yaudah makanya jangan aneh-aneh!"
Akhirnya Umemiya menghentikan aksi-aksi anehnya sepanjang sisa perjalanan menuju Fakultas Pertanian. Kau menghentikan motormu tepat di depan gedung Fakultas Pertanian dan Umemiya melompat turun dari motor dengan senyum lebarnya itu. Ia mengeluarkan ponsel dan mengerutkan alisnya.
"Duh mana ya, padahal udah gue suruh tunggu di depan,"
Huh. Siapa tuh, kau gatal ingin bertanya.
"Lu nungguin orang, Jim?"
"Iya, harusnya dia udah kelua-"
"Kak Jim!"
Sebuah suara perempuan membuatmu menoleh. Seorang gadis dengan potongan rambut pendek dan tote bag yang ia pakai di bahu berjalan keluar dari balik pintu kaca gedung. Wow.
"Aku udah nungguin dari tadi, lama banget sih." Protes gadis itu sambil memasukkan ponselnya ke dalam tas. Kau hanya bisa tersenyum awkward.
Umemiya terkekeh. "Iya maaf ya. Aku tadi abis dari Sekre UKM. Kenalan dulu sama katingmu nih dari prodi DKV, seangkatan sama aku."
Aku-kamu banget nih?
Gadis itu mengulurkan tangannya. "Halo Kak. Aku Kotoha, Maba FP tapi beda prodi sama Kak Jim hehe, aku Agribisnis."
Kau menyambut uluran tangannya dan mengeluarkan balasan yang sekiranya necessary saja. Setelah bolak-balik melirik Kotoha dan Umemiya secara bergantian, kau menggelengkan kepala diam-diam pertanda heran.
"Yaudah gue balik dulu."
"Oke. Tiati yak,"
"Yoi."
Umemiya tidak pernah memberitahumu bahwa ia punya pacar? Mana cakep banget lagi pacarnya, tidak kau sangka Umemiya is into berondong, tapi ya sudahlah, who are you to judge. Toh, apa urusanmu dengan mereka. Lagipula dirimu ini siapa sampai Umemiya harus memberitahumu segala yang sedang berlangsung di hidupnya.
Benar, apa urusanmu? Kau kan bukan siapa-siapa. Bahkan Umemiya tidak mengenalkanmu sebagai temannya kepada Kotoha. Mungkin selama ini kau cuma kenalan satu UKMnya selama lima semester ini. Mungkin ini juga pertanda kau harus menjaga batasan dengan Umemiya. Namun sebenarnya di antara dirimu dan Umemiya, siapa yang harus menjaga batasan?
(.)
