Actions

Work Header

not so jealous (yes you are)

Summary:

Just grandpa jealous about the foxball and then poof! He became a fox.

Notes:

happy late birthday grandpa

(See the end of the work for more notes.)

Work Text:

Hidup ratusan tahun membuat Kuya tidak mudah cemburu walaupun sedari awal pribadinya bukan tipe yang seperti itu. Bahkan saat melihat tuan mudanya dikerubungi dan bercumbu dengan klan member yang lain tak pernah terbesit di fikirnya untuk menghanguskan mereka. NAMUN (ya memang harus kapital) rasa iri hati itu selalu muncul tiap kali Eidennya bertemu dengan versi dirinya yang lain. Alias Kuya tidak suka jika harus berebut atensi Eiden dengan dirinya sendiri.

 

Menyebalkan tahu? 

 

Sudah cukup bertemu masa lalu dirinya saat gerhana bulan kembar, sekarang malah ada 1 buntalan menyebalkan yang selalu muncul mengikuti dirinya dan Eiden. Mengambil alih perhatian tuan mudanya dari ia. 

Dan Eiden, berani beraninya ia menyamakan mereka? Tak terhitung sudah berapa kali Kuya membakar buntalan berwarna ungu itu tapi ia selalu kembali dengan utuh, mengejek Kuya bahwa ia tidak akan mudah disingkirkan. "Buah tidak pernah jatuh jauh dari pohonnya eh," Ucap Eiden dan api ungu langsung mengelilingi dirinya.

 

"Aduh duh, Kuya! Ampun ampun!"

 


 

"Selamat ulang tahun Master Kuya!" Seru Eiden ketika ia membuka pintu dan rumahnya telah didekorasi dengan balon dan lampu kelap kelip. Pantas saja serigala kecil itu mengajaknya ke hutan, berdalih minta diajarkan sesuatu rupanya untuk mengalihkan perhatiannya.

Padahal sudah berulang kali ia mengatakan ulang tahun tidak begitu spesial untuk dirinya tapi baiklah kudos kepada tuan mudanya yang selalu berusaha tiap tahun. Sebuah ide terlintas dipikirnya.

 

"Hm, karena ini ulang tahunku, aku bisa minta apa saja bukan padamu, Eiden?"

 

"Yah, selagi aku bisa mengabulkannya untukmu, Master Kuya."

 

Kuya terkekeh melihat perubahan ekspresi Eiden antara takut dan...? Bersemangat. "Oh, berarti tidak masalah aku melakukan ini?"

 

"Lakukan ap—"

 

Belum selesai Eiden bertanya, Kuya sudah berganti ke wujud rubah utuhnya. Bukan hanya telinga dan ekor tapi seluruhnya. Eiden tak bisa tak takjub melihatnya, sebab ini pertama kalinya Kuya menunjukan wujud rubah aslinya. Eiden ingat betul Kuya tak suka menunjukkannya ataupun mengeluarkannya karena merasa tidak kompeten dalam mengendalikan kekuatannya. Siapa sangka sekarang ia menjadi rubah besar.

 

"Oh, Kuya you are ... majestic." Eiden terpana, ia mengusap bulu siluman itu dan merasakan bulu bulu halus bersentuhan dengan telapak tangannya membuatnya memekik kegirangan, "oh oh oh lembut! lembut banget!"

 

Eiden melemparkan tubuhnya ke Kuya, menenggelamkan wajahanya di lautan bulu yang lembut. Namun Kuya mendorongnya hingga terbaring di kasur, ia menatap Eiden yang ada di bawah kurungannya. 

 

"Lebih halus buluku atau si buntalan itu? Kerenan aku yang besar ini atau si bola mini itu yang bahkan tidak bisa dipeluk?"

 

Eh?

 

Eiden terdiam tak bisa langsung menjawab, duh ia tak ingin kepedean karena ini KUYA tapi serius nih? Kuya cemburu? Ke buntalan ungu itu?

 

"Tuan muda kalau tidak cepat menjawab, aku kasih hukuman ya." Kuya menarik baju Eiden ke atas mengekspos perut dan dadanya lalu mulai menjilati tubuhnya dengan mulut terbuka lebar seolah akan menerkam dirinya.

 

 

23 tahun Eiden hidup ia tidak pernah ada diposisi seperti ini, walaupun Sooley sering kali mengajaknya bermain tapi ia lebih kecil dibandingkan Kuya, mau tak mau sedikit buat tubuhnya bergetar karena takut, tapi hei ini Kuya. Eiden menaruh kepercayaannya seratus persen pada Kuya.

 

"Tentu saja Master Kuya yang paling lembut bulunya, dan yang paling keren! Hei tidak biasanya kau membandingkan begini. Cemburu ya?" 

 

Kuya mendengus, "Oya, tuan muda seolah paling tahu isi hatiku." ia masih terus menjilati Eiden dari perut hingga ke leher meninggalkan garis kemerahan akibat taringnya yang bersentuhan dengan kulit Eiden membanjiri tuan mudanya dengan air liur miliknya.

 

Kuya lalu bangkit membuat gerakan memutar lalu duduk, memberi isyarat pada Eiden untuk bersandar di tubuhnya dan Eiden menurutinya yang mana langsung diselimuti oleh ekor tebal Kuya, Eiden tentu saja berguling guling kesenangan.

 

"Oh Kuya ini ulang tahunmu yang paling menyenangkan!"

 

Sementara itu ada yang menatap Kuya kesal karena ia tak bisa masuk ke dalam rumah dan bergelung bersama Eiden, dan Kuya? 

 

Ah, jangan ditanya egonya sudah terpuaskan.

 

Kuya 1 - Foxball 0

Notes:

the whole licking scene is inspired from @eidenfirsthubby tweet