Work Text:
Made by Grey, created on 02 March 2025 and published 30 May 2025
Lampu-lampu jalanan mulai menerangi gemerlap malam. Perkotaan sedang ramai oleh penduduk yang pulang ke rumah. Bulan bersinar terang di langit. Beberapa gedung masih menyalakan lampunya, termasuk gedung besar berdinding bata merah yang berada di tengah kota Yokohama tersebut.
“Aku dan Kyouka pulang dulu, ya!”
“Ya, pulanglah duluan.”
Perlahan, para pegawai yang berada di kantor satu per satu pulang ke tempat tinggalnya masing-masing. Ruang kantor mulai terasa sepi. Hanya ditemani oleh suara dokumen yang ditaruh di tempat semestinya, atau suara mesin penghancur kertas yang sedang bekerja.
Dia selalu bertugas untuk merapikan kantor setiap malam, menyusun berkas agar tetap tersusun rapi. Kantor ini harus dirapikan setiap saat agar tetap nyaman digunakan. Dialah Kunikida, yang pasti pulang agak akhiran karena merasa bertanggungjawab.
Masalahnya, dia sedang bersama satu sosok yang kehadirannya sama sekali tak diinginkan. Berbaring saja di atas sofa.
“ Hoammm… Hari ini melelahkan, ya,” ucapnya. Yakni Dazai yang sumbangsihnya di kantor ini hanya menempati sofa di ujung kantor.
“Kenapa kau tidak pulang?”
“Lebih enak tidur di sofa ini.” Dazai membalikkan badannya, mencoba mencari posisi paling nyaman. Walau tubuhnya panjang dan tidak muat di sofa itu, dia tetap memuat-muatkan. Sehingga kakinya ditaruh di pegangan sofa dan menjuntai bebas.
“Kau serius? Lama-lama aku tinggalkan saja kamu disini. Tetapi jangan berantakkan kantor ini dengan percobaan bunuh dirimu!” peringat Kunikida di akhir. Seluruh tugasnya selesai sudah.
Namun, sebetulnya ada yang janggal. Dan Dazai duluan menyadarinya walau ia sedikit jauh dari Kunikida, tetapi ia masih bisa memperhatikan hal kecil.
“Hmm… Kunikida,” panggilnya. “Biasanya buku yang kau anggap seperti kitab suci itu, kau selalu letakkan di sisi kananmu…
“Aku lihat, bukunya tidak ada di sampingmu.”
Kunikida awalnya tidak mendengarkan, tetapi karena menyebut-menyebut ‘bukunya’ dan kata ‘tidak ada’ dalam satu kalimat membuat telinganya terangkat. Kalimat itu tentu tidak biasa bagi Kunikida yang orangnya selalu berhati-hati dan teliti, bahkan mengejutkan.
Ia menoleh ke arah kanannya. Tidak ada.
Kiri. Tidak ada.
Sampai ia memutar badannya dan mengangkat barang-barang di mejanya. Tidak ada sama sekali.
“Nah, baru sadar, kan.”
“Tidak mungkin…” Kunikida merogoh sakunya, membuka laci meja, melihat meja-meja lain. Berlutut, memeriksa bawah meja. Wajahnya perlahan memucat, seperti kehilangan dompet atau setengah jiwanya di pasar malam. “Dazai. Agendaku. Tidak ada.”
“Ya, aku tahu. Kan, aku sendiri yang bilang.”
“CEPAT BANTU AKU CARI!! JANGAN BARING-BARING DI SOFA SIALAN ITU!!”
“Akhirnya, Kunikida menjadi heboh adalah hiburanku sepanjang masa~” Dazai menyengir lebar, seperti siap menonton kartun anak-anak yang akan menyenangkan hatinya.
Kunikida memutar-mutar ruangan dengan panik dan fokus mengecek sisi barang-barang. Setelah putaran ketiga, ia mencoba membuka kulkas, takutnya bukunya secara absurd terletak di sana saat ia ingin mengambil makanan atau minuman. Sedangkan Dazai, ia memutar bola dunia, takutnya buku Kunikida mendarat di negara-negara yang jauh seperti Amerika Selatan. Kelihatan aneh dan tidak jelas yang mereka lakukan itu, tetapi namanya juga berusaha.
Namun di tengah-tengah penyelidikan secara tiba-tiba itu. Lampu ruangan seketika mati.
Kunikida yang menundukkan kepala mencari di bagian bawah sontak terantuk meja. Saat menoleh untuk melihat situasi, ada sosok jangkung di belakangnya dengan wajah datar.
“AHHHH!!! SIAPA KAU?!” teriaknya spontan.
Itu Dazai yang datang dengan senter di tangannya. “Apaan, sih, Kunikida. Malu-maluin banget, deh, takut sama partner -nya sendiri.”
“Kau membuat wajah yang menakutkan! Dengan senter di bawah dan tatapan datar… siapa juga yang tidak kaget!” protes Kunikida, perlahan ia bangkit dengan tubuh agak gemetaran setengah menggerutu kesal. Suasana kantor jadi lebih dingin dan mencekam ketika seluruh lampu redup. (Loh, padahal AC mati.)
“Kalau dilihat dari jendela, sepertinya hanya kantor kita yang mati. Jadi ada masalah listrik di kantor ini.”
Kunikida paham maksud Dazai, artinya mereka harus mengecek bagian listrik. Saat Dazai mengarahkan senternya ke depan, kursi kerja Kunikida dan Dazai bergeser secara tiba-tiba tanpa mereka sentuh, tidak ada siapapun yang menggesernya, dan itu terlihat jelas di mata mereka berdua.
“Wah~ kursi kita ajaib.”
“K-KENAPA BERGERAK?!”
“Sudahlah, Kunikida. Apa kau baru tahu kantor ini sudah ada penunggunya sejak dulu?”
“JANGAN BICARA TENTANG HANTU!!”
DUM. Suara itu jelas terdengar di dekat mereka. Dan ada suara aneh dari meja kerja, karena tidak disorot oleh senter yang dipegang Dazai maka mereka tidak tahu asal suara aneh itu apa. Tetapi itu sudah cukup membuat Kunikida pengin ngompol sekarang juga.
“Sepertinya ini pembalasan para hantu yang dendam dengan jadwal pribadimu—”
“Ini bukan waktunya bercanda! Cepat pergi dari sini!!”
Kunikida tentu menarik tangan Dazai dengan kencang agar keluar dari ruangan kantor, kemudian menutup pintunya keras-keras, ia juga menguncinya.
“Hantu tidak mempan dengan ruangan yang dikunci.”
“Sudah kubilang jangan sebut-sebut nama itu!!” seru Kunikida kesal ke Dazai. Sebab ia merasa pintu kantor tidak bisa dikunci. Aneh sekali!
Dazai pun jadi diam sambil terus memegang senter yang mengarah ke tangan Kunikida. Akhirnya pintu kantor terkunci. Mereka berdua mulai melanjutkan perjalanan di tengah gelapnya bangunan kantor Biro.
“Kita harus menelusuri kantor ini. Pertama, nyalakan dulu listrik, dan cari bukuku.” Kunikida menjelaskan dengan tegas.
“Atau sebenarnya bukumu itu diam-diam melarikan diri dan dia yang sebenarnya mematikan listrik kantor sekarang saat ini?”
“Bisakah kamu sekali-sekali diam.”
“Aku hanya membantu membuat teori atau hipotesis, Kunikida. Aku paling jago di hal itu.”
Mereka berjalan menyusuri lorong. Saat di ujung untuk menuju lift. Mereka melihat ada bayangan yang lebih hitam atau lebih gelap melewati mereka, lalu masuk ke dalam kamar mandi.
“DAZAI.” Kunikida reflek mencengkram lengan rekannya. “Kau… lihat itu?”
“Tentu.” seringainya. “Sepertinya ini akan menarik.”
Mereka berdua saling pandang sehabis itu, sebelum Dazai berbisik. “YOLO.” Dan ia berlari kencang meninggalkan Kunikida.
“Dazai!! TUNGGU!!”
—📗
Dazai ternyata hanya masuk dalam kamar mandi. Kunikida sempat panik dan akhirnya berlari menyusulnya, soalnya Dazai si sialan itu meninggalkan dirinya sendirian dalam tengah kegelapan, oh tentu Dazai membawa senternya itu. Siapa yang gak takut, coba? Sekarang ia agak ngos-ngosan karena tiba-tiba lari.
Tetapi di sana. Kunikida melihat bukunya yang disorot oleh senter Dazai. Sontak matanya jadi jernih dan berbinar.
“Itu…” Tangannya langsung terangkat untuk mengambilnya.
“Ya, kita akhirnya menemukannya duluan.”
Baru saja Dazai menyelesaikan ucapannya. Lampu tiba-tiba menyala kembali termasuk di ruangan kamar mandi itu.
Dan belum juga Kunikida mengambil buku hijau tersebut. Kunikida hampir dibuat kaget setengah mati.
Ada sebuah spanduk besar yang tergantung tepat di atas bukunya dengan tulisan yang serba kapital, yang tambah menakutkannya tulisan itu berwarna merah. ‘AGENDA BUKAN SEGALANYA.’ Dazai reflek membacakannya dan ia meneguk ludahnya sendiri.
“Uhh… Kunikida…?” Kunikida tidak usah ditanya dan dijelaskan lagi. Ia ingin sekali terjatuh, terkulai, terpingsan, apapun itu. Tulisan itu mungkin menghantam dirinya sangat keras.
Dazai mencoba meraba spanduk itu. “Tulisan ini dari spidol berwarna merah, bukan darah. Hmm~ padahal kalau pakai darah, pasti drama banget.”
“Ini… APA MAKSUDNYA?!”
“Susah sekali untuk mencerna peristiwa ‘spanduk merah’ ini. Sepertinya ada sosok yang ingin mengancam hidupmu yang terlalu serius—”
“TIDAK MASUK AKAL!!” pekik Kunikida. “Tidak ada jejak yang tertinggal di lorong, jendela masih terkunci, dan kamera CCTV—!”
Mereka berdua pun tersadar. Seperti satu pikiran, Kunikida dan Dazai menuju ruangan CCTV untuk mengecek rekaman selama 24 jam ini.
Saat mati lampu tadi, yang hanya mereka dapatkan adalah suara…
“Tinggalkan… tinggalkan agendamu… lupakan… rebut bukunya…”
Kunikida hanya terbeku di tempat. Dazai masih mencoba mencari hal yang ditangkap CCTV, tetapi hanya itu yang ditemukan. Sebelum semua rekaman terkorup, tidak dapat diakses lagi. Hanya rekaman di malam ini.
“Aku… tidak bisa mempercayai hal aneh ini… Aku benci.”
Ia duduk perlahan di kursi ruangan itu, mengacak rambutnya sendiri dan perlahan melepas kacamatanya sebentar. Dazai menatapnya lamat-lamat dan lekas duduk di sampingnya.
“Dari semua hal yang kita hadapi hari ini, mungkin kalau masuk ke laporan, akan menjadi ‘aneh tetapi malas ditulis di laporan’ atau ‘Harus dilaporkan tetapi tidak tahu mau menjelaskan seperti apa’.”
“... Kau tidak takut?”
“Takut?” Dazai malah bertanya balik. “Kalau seperti ini, sih, aku malah tertarik. Dunia nyata ini terlalu membosankan. Kalau ada kejadian seperti ini, jadi bisa lebih menyenangkan.”
Pikirannya dengan pikiran Dazai berseberangan sekali. Kunikida hanya menghela napas. Tentu dirinya lelah. Kalau dilihat di jam tangannya pun, sudah menunjukkan waktu sebentar lagi tengah malam.
Melihat rekannya nampak lesu itu. Dazai pun bangkit dari posisinya, meregangkan tubuhnya perlahan. “Aku selama ini tidak terlalu peduli seberapa penting buku itu untukmu—ya pentingnya karena buku itu adalah kekuatanmu—cukup itu saja yang kutahu. Tetapi, kalau hilang sehari saja, aku sudah bisa membayangkan seberapa stresnya Kunikida.
“Jadi kita harus cepat-cepat menyelesaikannya. Ayo, jangan menyerah dulu.”
Yah… apapun itu, mereka harus kembali berusaha untuk menghentikan gangguan-gangguan tidak menyenangkan ini. Entah harus menghadapi hantu atau semacamnya.
Mereka berdua diam sejenak, hingga suara dari CCTV mulai terdengar.
“Rebut bukunya kembali… REBUT—!”
“SUDAH CUKUP!!” Kunikida seketika memukul meja komputer. Lantas ia bergegas pergi dari ruangan itu dan menuju kamar mandi lagi, mengambil dan memeluk bukunya, dan menuju ruangan CCTV kembali.
Dazai agak terheran-heran melihat tindakan Kunikida berikutnya. “Aku tidak tahu siapa kau! Tetapi, berhenti menggangguku dan dengarkan aku baik-baik! Aku TIDAK AKAN PERNAH MENYERAH dengan prinsipku! Diganggu hantu atau apapun itu, KALIAN TAK BISA MENGAMBILNYA DARIKU!!”
“Wah, gila, sudah seperti kata-kata bijak dari superhero tapi versi penggila kerja ala Kunikida.” Dazai bertepuk tangan sekaligus tertawa kecil, didengar-dengarnya tadi itu cukup menakjubkan makanya ia mengapresiasinya.
Tiba-tiba, lampu kantor menyala dan seluruh peralatan berjalan normal. Tak terdengar suara-suara aneh seperti suara dari CCTV. CCTV di kamar mandi memperlihatkan tidak ada spanduk merah yang tadi mereka temukan, seperti menghilang begitu saja saat mereka sempat teralihkan oleh lampu yang menyala.
Mereka berdua terdiam di tempat masing-masing.
“Apa kita barusan… mengalami semacam uji mental?”
“Bisa jadi.”
“Dan tidak ada cukup bukti untuk menjelaskan kejadian barusan.”
“Ya, memang. Pasti kita akan dianggap sedang berbual. Tetapi itulah serunya.”
— 📗
Pagi hari, sehabis kejadian aneh itu di kantor. Burung berkicau merdu dan suasana kantor masih sedikit tenang.
Kunikida hanya terduduk di tempatnya. Membuka kembali buku andalannya, lantas membacanya seperti membaca sebuah surat wasiat. Perlahan-lahan ia mulai menulis.
“Pagi, Kunikida. Aku bawa secangkir teh relaksasi, cocok untuk orang yang habis mengalami uji mental~” Siapa lagi kalau bukan Dazai yang seperti ini. Ia masuk ke ruangan kantor dengan dua buah cangkir di tangannya, baunya lumayan harum.
“Kau tidak memasukkan yang aneh-aneh di sini seperti obat tidur, kan?”
“Woah, kau memberikanku ide baru, Kunikida.”
“Jangan sekali-sekali kau mencobanya!”
Dazai hanya terkekeh, ia akhirnya meletakkan cangkir teh itu di meja kerja Kunikida. Kunikida meraihnya dengan perasaan sedikit was was. Matanya agak mendelik ke orang yang ada di sampingnya. Masih saja makhluk aneh itu senyum-senyum seakan minta ditonjok. Kunikida minum dengan perasaan gusar.
“Selamat pagi. Wah, Kak Kunikida dan Kak Dazai pagi sekali datangnya!” Terdengar sebuah suara ceria dari pintu kantor. Datang dua anak yang merupakan pekerja di Biro ini juga. Atsushi dan Kyouka, datang dengan penampilan mereka yang seperti biasanya.
“Kak Dazai tumben tidak datang siang-siang?” tanya Kyouka dengan suara pelan.
“Aku sendiri tidak tahu kenapa aku datang lebih pagi. Mungkin karena ingin bertemu dengan Kunikida~” Kunikida sontak bergidik ngeri ketika Dazai nyolek-nyolek bahunya.
Pada akhirnya, mereka tidak menceritakan kejadian tadi malam itu ke siapapun, hal itu menjadi rahasia mereka berdua saja. Walau terkadang ada salah satu dari mereka menjadikannya itu candaan yang hanya dimengerti oleh mereka berdua saja.
“Aku sudah mendaftarkan Kunikida ke kelas yoga agar dia tidak terlalu stres!”
“Oh? Tiba-tiba sekali, Kak Dazai.”
“Apa. Katamu. Tadi??”
“Ya, habisnya biar Kunikida tidak diganggu makhluk-makhluk penunggu di kantor ini lagi. Sebagai teman kerja yang baik dan pengertian, aku harus mendaftarkannya pada kelas yoga, terutama kelas yoga bersama ibu-ibu karena sedang ada promo.” Dazai menjelaskan sembari mengeluarkan kertas pendaftaran yang harus ditandatangani oleh Kunikida.
“AKU TIDAK PERNAH MEMINTANYA! BATALKAN PENDAFTARAN ITU!!”
Mereka berakhir kejar-kejaran di dalam kantor.
Sore hari setelah kejadian heboh Kunikida mengamuk tidak mau didaftarkan ke kelas yoga ibu-ibu, dengan ending dia berhasil merebut dari Dazai dan merobeknya. Mereka semua keluar dari kantor karena pekerjaan sudah cepat diselesaikan, dan Kunikida menjaga anak-anak pekerja untuk pulang, tetapi malah ketempelan satu makhluk yang tidak diinginkannya.
“Jangan tinggalkan aku sendirian di kantor!” seru Dazai dari kejauhan, berlari menuju rombongan.
“Selesaikan tugasmu dulu—! Argh! Lepaskan!!”
Dazai pun ikut, berjalan di samping Kunikida yang mulai menulis bukunya dengan perasaan kacau. “Berani sekali Kunikida meninggalkanku untuk diteror lagi oleh makhluk-makhluk halus itu.”
“Sudah kubilang jangan sebut-sebut lagi kejadian tadi malam itu,” kecam Kunikida.
“Tapi itu romantis banget loh. Cuman kita berdua aja yang tahu kejadian itu. Kita saja tidak melaporkan ini ke bos, kan?”
“Karena itu tidak penting!”
“Tapi aku suka, loh, kalau kita bisa menghabiskan waktu berdua saja. Lain kali begitu lagi, ya? Kita sudah jarang satu misi bersama.”
Kunikida menghela napas gusar, diam sejenak. Yang dikatakan Dazai itu benar juga. Tapi, kok, rasanya tidak pas sekali.
“... Jangan bilang hal seperti itu di depan mobil polisi. Ayo cepat jalan sebelum kita ditangkap.”
“Romantis, gak, sih?”
“SUDAH AKU BILANG JANGAN BILANG BEGITU DI DEPAN MOBIL POLISI!!”
End .
