Actions

Work Header

Jihoon Pirang Mingyu Meriang

Summary:

Mingyu seharian gabisa fokus gara-gara pacarnya berubah blonde.

Notes:

(See the end of the work for notes.)

Work Text:

Mingyu pusing, sepusing-pusingnya. Sedari tadi siang Mingyu mudah hilang fokus, sering menjatuhkan benda, dan matanya seliweran jika sedang diajak berbicara. Entah sudah berapa banyak teguran yang Mingyu dapat saat tak sengaja membentur orang saat berjalan. Pokoknya Mingyu bener-bener dibuat pusing sama Lee Jihoon.

Gimana enggak? Jihoon yang rambutnya sudah sebahu itu tiba-tiba menyuruh Mingyu untuk menjemputnya di sebuah salon, dan saat sang kekasih keluar bangunan matanya yang setengah mengantuk itu langsung melotot segar. Jihoon merubah warna rambutnya menjadi pirang, seirama dengan skin tonenya yang berkilau bagai emas di bawah sinar matahari. Seperti melihat malaikat datang dari surga, seperti melihat wujud nyata disney princess, seperti percaya bahwa Aphrodite memiliki anak lanang dan anak itu adalah Lee Jihoon.

Kata Kim Mingyu si paling alay.

Rasanya ingin sekali Mingyu menarik lengan Jihoon kedekapannya, mencium aroma obat pemutih rambut sedalam-dalamnya sampai tersedak, helai-helai rambut kekasihnya di antara jari-jemarinya, sambil membisikkan betapa cantiknya sang kekasih. Namun tidak bisa, tidak dengan adanya selusin laki-laki yang sedang sibuk sendiri di sekitar mereka.

Seperti drama "Romeo dan Juliet", Mingyu rasa jarak antara dirinya yang di sini dan Jihoon yang di sana sulit untuk ia gapai, padahal hanya beberapa meter. Di sini dia, Soonyoung, Seokmin, dan Chan sedang bermain UNO, dan di sana Jihoon sedang mendiskusikan lirik lagu dengan Joshua dan Vernon. Jihoon yang di sana berlutut di lantai, terlihat cantik dengan rambutnya yang digerai, sesekali poninya dijepit di belakang telinganya, mengenakan kaos hitam Mingyu yang tak seorang pun peduli itu punya siapa, dengan serius menulis ide di buku catatannya.

Gawat, Mingyu kehilangan fokus gara-gara kecantikan pacarnya! Lagi!!

"...gyu....Mingyu....KIM MINGYU!!"

Suara motor Seokmin mengalihkan fokus Mingyu—pun semua orang di ruangan—dari sesi menatapi Jihoon. Ia sontak menoleh, tiga member yang bermain UNO dengannya sudah berwajah masam, dan Mingyu hanya bisa cengengesan.

"Hehehe...giliran gue, ya?" Cengirnya sambil meletakkan kartu bertuliskan +4 di tumpukkan kartu di tengah mereka. "UNO! Oke gue kelar, gue duluan, ya."

Dengan itu Mingyu segera bangkit dari duduknya dan berlari kecil ke arah Jihoon yang sudah tidak dikerumuni orang, tidak menghiraukan rengekan Chan dan tawa terbahak Soonyoung dan Seokmin.

Sampainya dia di depan sang kekasih, ia menunduk lurus ke arah Jihoon yang masih fokus pada buku catatannya. Mingyu diam, mengatur nafasnya setelah berlari kecil tanpa mengatakan sepatah kata apapun dan menunggu yang di bawah menoleh ke atas. Mungkin Mingyu akan mati di tempat jika Jihoon mendongak lalu mengunci mata dengannya, di antara kakinya, seperti sedang memberikanya blo—

Merasakan seseorang datang, Jihoon melirik ke sepatu orang itu sebentar sebelum kembali mencatat. "Tiap waktu aku ndongak buat ngomong sama kamu, sekarang aku capek. Mau apa?" Ucap Jihoon, ya, tanpa mendongak.

"....mas, sebenernya aku udah ga tahan daritadi," gerutu Mingyu, mencoba untuk berbisik dan berakhir terdengar seperti rengekan. Lututnya bergetar karena tidak kuat lagi berakting macho, melihat Jihoon berlutut di bawahnya seperti ini saja sudah membuatnya lemas.

"Kenapa? Kebelet pipis? Ya, sana."

Mingyu benar-benar merengek kali ini, dan Jihoon sedikit tertawa.

Buku catatan itu ditutup, dipeluk di depan perut Jihoon sambil—akhirnya—mendongak. Poninya jatuh ke belakang dengan perlahan, kulit putih Jihoon bersinar di bawah lampu, dan matanya yang berkilau bertemu dengan Mingyu yang sudah terlihat seperti anjing kebelet kawin. Mingyu sendiri sudah berada di tepi jurang saat melihat Jihoon mendongak di bawahnya—ah, anjir, hidungnya dekat sekali dengan resleting celananya—di dorong sedikit lagi dan Mingyu akan jatuh, bersujud di depan Jihoon, memohon untuk mengacak-acak rambut barunya.

"Mas, aku serius...!!" Rengek Mingyu, tangannya jatuh pada kedua bahu kekasihnya, memberinya gambaran akan betapa 'lemah'nya Mingyu sekarang. "Please, please, please...!"

Dan Jihoon, dia sangat suka ketika anjingnya memohon-mohon.

"Ijin dulu ke anak-anak sana."

Hanya dengan satu kalimat itu, Mingyu langsung bersemi dan buru-buru mengemas barang-barang Jihoon.

"Guys, gue sama mas Ji duluan, ya, cari makan!" Teriaknya sambil menggenggam erat tangan kekasihnya. Tanpa menunggu jawaban dari yang lain, ia langsung berlari keluar ruangan bersama Jihoon.

Hampir setengah dari orang di ruangan itu tidak peduli dengan kepergian Mingyu dan Jihoon, begitu juga Minghao. Shit, harusnya Minghao ikutan ga peduli, tapi tanpa keduanya sadari, Minghao—yang duduk bersila dua langkah dari Jihoon—sedaritadi mendengar dan menyaksikan obrolan keduanya. Bagaimana Mingyu merengek, bagaimana Jihoon mendongak...anjir, Minghao ngeri sebadan.

Notes:

BLONDE LONG HAIR WOOZI APPRECIATION POST BECAUSE WE (gue) NEED IT TO LIVE!1!1!