Work Text:
Ini adalah misi pertama bagi prajurit baru di divisi 1, di dampingi oleh para senior. Suara ketua operator masuk ke telinga masing-masing. Saat itu pula Narumi merasa merinding.
Raungan Kaiju menggema dari kejauhan, mengoyak langit yang kelabu seperti denting peringatan akan akhir. Tanah bergetar, dilanda ledakan yang memecah sunyi, seolah bumi sendiri mengerang kesakitan. Di tengah kehancuran yang nyaris menjadi simfoni sehari-hari, Narumi Gen berdiri sebagai prajurit baru di barisan paling depan—unit elite Pasukan Pertahanan, tempat orang-orang pilihan menggadaikan hidup demi sisa-sisa kemanusiaan.
Sebagai Alpha muda dengan feromon yang begitu kuat untuk usianya, Narumi dikenal angkuh. Bukan tanpa sebab, bakatnya dalam memburu Kaiju lebih dari sekadar menjanjikan, ia adalah bintang yang naik terlalu cepat dan terang. Tak banyak yang berani mengkritiknya, paling hanya Direktur Shinomiya Isao sang Kapten Divisi 1, dan sesekali wakil kaptennya.
Sebelumnya, ia dipasangkan dengan Kurusu sebagai operator pemandu. Tapi Kurusu sering mengeluh karena suara tak didengar dan strategi diabaikan. Narumi bertarung dengan naluri, bukan instruksi. Seperti peluru yang menolak dikendalikan arah.
Akhirnya, kepala operator menarik napas panjang dan memutuskan bahwa Kurusu diganti. Sebagai gantinya, diturunkan nama yang membuat beberapa ruang kontrol menegang hening—
Hoshina Soshiro.
Operator legendaris dengan catatan militer yang nyaris tanpa noda, ketua operator Divisi 1. Sosok yang lebih dikenal lewat jejak perintahnya yang presisi, dan strategi yang menari di medan perang seperti bayangan matahari di permukaan pedang.
Narumi belum pernah melihatnya langsung. Belum.
Yang ia tahu, pria itu lebih tua darinya, dan bahwa nama Hoshina dibisikkan dengan rasa hormat oleh operator lain.
Ketua operator berseru melalui sambungan komunikasi khusus kepada seluruh prajurit yang diturunkan ke medan pertempuran hari ini.
"Kita telah sampai di zona merah, daikaiju dengan kekuatan cukup besar, berskala 7.6 dengan perkiraan 120 kaiju kecil tipe C yang datang bersamaan. Kepada prajurit, mohon dengarkan arahan dari operator masing-masing. Good luck haha"
Suara Hoshina menggema di telinga prajurit divisi 1 sebelum mereka diizinkan bertarung. Semua orang berpencar dengan formasi yang sudah dibisikkan oleh operator masing-masing. Termasuk Narumi dengan muka malas mendengarkan.
Narumi mengenakan earphone miliknya, menyesuaikan saluran—dan saat itulah semuanya berubah.
“Narumi, aktifkan sistem komunikasi. Operator Hoshina, tersambung,” kata Hoshina.
Narumi untuk beberapa detik membeku, suara yang masuk ke telinganya tegas dengan logat yang unik dan entah mengapa minat untuk mendengarkannya meningkat. Padahal ini bukan pertama kalinya ia mendengar suara Hoshina, ketua operator itu selalu memberi briefing sebelum mereka bertempur, namun mendengarnya secara pribadi seperti ini terasa... Aneh.. terlebih suara yang digunakan tidak seperti biasanya, lebih dalam dan menuntut.
"Hoshina? Dimana Kurusu?"
Tanya Narumi setelah berdeham kecil.
“Prajurit Narumi, ada banyak keluhan tentang dirimu, jadi mulai sekarang aku yang akan mengambil alih peran operator pemandumu. Fokus pada sinyal thermal Kaiju, abaikan suara bising. Aku akan pandu dari sini.”
Suaranya.. datar, dalam juga jelas dan memberikan ketenangan. Tak seperti suara lain yang pernah Narumi dengar. Ada irama dalam nada bicaranya, semacam candu yang tak membosankan.
Narumi membeku sejenak. Pheromonenya melonjak, namun ia mengendalikannya cepat. Bukan karena rut atau dorongan Alpha, tapi karena... tertarik. Dalam cara paling tidak masuk akal.
Ia tidak tahu seperti apa wajah Hoshina. Ia bahkan belum pernah berbicara langsung sebelumnya. Tapi suara itu memenuhi pikirannya dan menancap di sana.
“Narumi? Fokus. Deteksi Kaiju di arah timur laut. Bergerak sekarang.”
“Dimengerti.” Narumi langsung melompat ke posisi, jantungnya masih berdebar bukan karena Kaiju.
Misi hari ini pikiran Narumi sering kabur entah kemana, ia tidak fokus, meski begitu, ia tetap menyelesaikan pertempuran dengan kemenangan.
Selama perjalanan para prajurit kembali ke markas, Hoshina menegurnya melalui sambungan komunikasi sebelum diputus.
"Ada apa hari ini, Narumi? Kau rindu pada Kurusu?"
Tanyanya sarkastik.
"Aku hanya kurang tidur."
Jawab Narumi tenang.
"Oya? Kalau begitu, beristirahatlah dengan tenang"
"Kau berbicara seakan aku sudah mati"
"AHAHAHAH—"
Suara tawa Hoshina menggema di telinga Narumi yang beberapa detik kemudian sambungan terputus, terlalu keras hingga terasa sakit namun tanpa ia sadari, sudut bibirnya tertarik sedikit.
Mata Wakil kapten Hasegawa membulat, tidak percaya pada yang baru saja ia lihat. Narumi tersenyum.
.
.
Misi berikutnya datang terlalu cepat, seperti hujan deras yang tidak sempat diprediksi. Kaiju tipe destruktif muncul di area industri tua, tak jauh dari pemukiman sipil. Kota itu kini hanya deretan gedung pecah dan aspal yang menganga bagai luka belum kering. Tim Divisi 1 turun dan untuk pertama kalinya, Narumi tak bergerak sendirian.
Kali ini, ia membawa suara di telinganya.
“Zona barat daya bersih tapi aku curiga ada pergerakan di belakang pabrik tua. Jangan masuk dari depan, Narumi. mereka akan menunggumu di sana.”
Suara Hoshina terdengar jernih di saluran komunikasi, tenang dan padat makna. Bukan sekadar instruksi, tapi irama. Narumi mendengarnya seperti alunan melodi asing yang—anehnya—pas di langkah kakinya.
Ia mengalihkan jalur, berlari melintasi lorong sempit penuh puing, kakinya nyaris tidak menyentuh tanah. Seperti predator yang tahu persis di mana mangsanya bersembunyi.
“Atap gedung sebelah kiri, dua tingkat di atas. Fokus pada bayangan. Dia suka menyamar di siluet.”
Setelah itu Hoshina bergumam, bersenandung kecil.
Narumi mendongak, secepat kilatan, dan melepaskan peluru ke langit-langit yang tampak kosong.
Satu detik.
Lalu Kaiju itu jatuh menghantam tanah dengan dentuman kasar, tubuhnya mengejang.
“Nice shot~” suara Hoshina terdengar dengan nada menggoda di ujung katanya.
Narumi membalas dengan dengusan singkat, tapi ada sesuatu dalam dirinya yang menghangat. Ia tidak terbiasa diberi arahan, apalagi mengikuti tanpa perlawanan. Tapi Hoshina... ia tidak mengatur. Ia menari bersamanya, gerakan demi gerakan, titik demi titik.
“Jangan habiskan energi dengan mengamuk di area depan, Narumi. Gunakan tepi koridor saja, Aku sudah buka jalur lewat sisi kanan.... Tunggu— oke masuk dan eksekusi.”
Narumi menuruti. Tanpa berpikir. Tanpa ragu.
Tubuhnya bergerak seperti lanjutan dari kalimat yang diucapkan Hoshina, mereka bergerak bagai busur dan anak panah. Mereka bukan dua entitas.
Mereka adalah satu tarian dalam medan penuh kehancuran.
Dan saat Kaiju terakhir mengaum, mencoba lari, Narumi sudah lebih dulu berada di punggungnya. Pisau bayonetnya menancap dalam, dan detak bumi kembali tenang. Hanya napasnya yang memburu, keringat menetes dari pelipis, dan... suara itu kembali di telinganya.
“Aku tidak mengira kau lebih mudah untuk dipandu, gerakanmu cepat sekali dan sangat presisi.”
Puji Hoshina.
Narumi menyeka darah dari dagunya, tersenyum kecil meski tak ada yang melihat. Kesombongan dalam dirinya terasa dipenuhi.
“Aku memang yang terkuat, kau cocok jadi pemanduku. Berbahagialah karena aku orangnya pilih-pilih.”
Hening sejenak.
Lalu suara Hoshina kembali, lebih ringan kali ini.
“Hati-hati, Narumi. Kalau kamu mulai suka diarahkan olehku, nanti kamu ketagihan.”
Narumi tidak tahu apa maksud dari perkataan Hoshina, tapi ia tertawa. Sebuah tawa yang lepas di tengah medan yang masih hangus.
Ia tak tahu apakah itu bentuk bahaya atau awal dari keterikatan.
Tapi untuk pertama kalinya, ia merasa seperti bukan hanya bertarung untuk menang.
Melainkan untuk kembali ke suara itu.
Suara yang tahu cara membaca medan, cara membaca tubuhnya, dan entah bagaimana cara membaca dirinya.
.
.
Narumi selalu membayangkan sosok Hoshina Soshiro sebagai bayangan di balik layar—seseorang yang hidup lewat gelombang suara, grafik taktis, dan kode komando. Ia tidak mengira akan bertemu langsung. Apalagi... dalam suasana sehangat ruang briefing dengan lampu yang berkedip malas dan aroma peluh yang menua di udara.
Ketika pintu terbuka dan seseorang melangkah masuk, waktu seolah berhenti sebentar hanya untuk memastikan semua orang sadar siapa yang baru datang.
Tidak ada iringan musik dramatis. Tidak ada efek cahaya. Hanya langkah ringan dan sikap terlalu santai untuk seseorang yang bisa masuk ruangan prajurit kelas A+. Tangan di saku. Kemeja sedikit tergulung di lengan. Ekspresi wajah yang nyaris malas—tapi mata itu, terlihat seperti menyembunyikan rahasia, bahkan Narumi tidak tahu dia sedang memejamkan mata atau tidak, menyapu ruangan sejenak sebelum akhirnya jatuh tepat pada Narumi.
Narumi mengerjap. Sedikit lebih cepat dari biasanya.
Omega? Benarkah?
Bukan.
Eh mungkin iya.
Saat itu, mata Narumi membulat ketika seseorang yang sekarang tengah berdiri di tengah ruangan briefing itu membuka suaranya.
"Mungkin beberapa prajurit baru atau yang belum satu bulan pindah dari divisi lain ke divisi 1 belum mengenalku"
Ia sangat mengenal suara ini, yang dua minggu ini memenuhi telinganya. Satu nama yang muncul di otak Narumi. Hoshina Soshiro.
"Aku Hoshina Soshiro, ketua operator di divisi 1, maaf satu bulan ini aku tidak memberikan laporan secara langsung dan hanya ku kirimkan melalui email, asistenku sedang cuti, jadi aku tidak sempat membuatkan lembarannya."
Katanya sambil tersenyum, gigi taringnya mengintip sedikit dibalik bibir ranumnya.
Semua orang di ruangan menyambutnya hangat, beberapa prajurit yang sudah lama berada di divisi 1 berbincang dengan akrab, Hoshina menyampaikan evaluasi terhadap serangan dan formasi mereka, sedangkan prajurit baru ataupun prajurit pindahan menyimaknya dengan tenang.
Hoshina terlihat pintar dari caranya berbicara, sangat tertata sehingga mudah dipahami, terlihat ramah dan mudah didekati namun disaat bersamaan mengintimidasi dan berwibawa.
"Prajurit Narumi, ini catatan dariku."
Ucapnya menyodorkan sebuah kertas berisi laporan pergerakan Narumi.
Narumi, yang terbiasa memegang kendali sendiri, hanya bisa berkedip.
“Kau membuat catatan untuk semua prajurit sendiri?” tanyanya, lebih refleks daripada meragukan.
Hoshina menggeleng pelan.
“aku meminta pemandu masing-masing membuat laporan, sebagai bahan evaluasi mingguan, lalu semuanya ku rangkum untuk evaluasi tim. Ini laporan dariku sebagai pemandumu. Sebelumnya, kau tidak pernah membaca laporan dari Kurusu ya?"
Katanya ada sedikit nada tidak suka.
Narumi mengernyit, memang dia tidak pernah membacanya, itu juga alasan ia selalu dimarahi Hasegawa.
"Hei rambut mangkuk, aku bukannya tidak membacanya —"
Kata-katanya terpotong. Karena Hoshina tidak mau mendengarkan alasan Narumi.
"Jangan terlalu banyak gaya. Aku tahu kamu hebat, Narumi-kun, tapi kalau kau bikin aku harus naik tekanan darah tiap lima menit, aku tidak akan ragu untuk mengunci alat komunikasimu dan membuatmu terbang buta di lapangan.”
Kalimat itu seharusnya terdengar seperti peringatan. Tapi bagi Narumi, rasanya seperti... gatal di dada yang sulit dijelaskan.
Bukan karena takut. Tapi karena, untuk pertama kalinya, ada seseorang yang tidak memberi ruang pada egonya.
Dan anehnya ia merasa tertantang.
“Biasanya aku kerja sendiri,” balas Narumi, mencoba tetap menjunjung tinggi harga dirinya.
“Langsung di lapangan. Aku tak terlalu cocok dengan pemandu, kalian berisik.”
Lanjutnya.
Hoshina mengernyitkan dahinya, menimbang. “Kalau begitu, mari kita anggap ini latihan mencocokkan diri. Aku akan menyesuaikan, sebatas kau tidak membahayakan dirimu sendiri ataupun tim.”
Narumi memiringkan kepalanya. Lalu Hoshina menambahkan dengan nada ringan, “Kalau kau bisa membedakan taktik dengan akrobat.”
Godanya jahil.
Perempatan imajiner muncul di dahi Narumi. “Kau tahu, kau jauh lebih sinis dari yang kukira.”
“Aku cuma jujur,” sahut Hoshina sambil berbalik. “Jangan membuatku merasa rugi telah menginvestasikan waktuku padamu.”
Narumi mendengus mendengarnya, ia kemudian duduk bersandar membaca laporannya, sangat detil dan tersusun rapi. Hoshina duduk di sampingnya, dekat, cukup untuk mendengar helaan napas. Senyumnya samar, seperti kabut pagi di kota kosong.
Narumi yang kepalanya entah mengapa bergerak sendiri, menoleh ke arah Hoshina, begitu dekat, jika Narumi maju satu senti saja, ia pasti bisa mencium pipi Hoshina.
"Kau omega yang aneh"
Gumam Narumi, menurutnya, Hoshina tidak seperti Omega yang pernah ia lihat, dengar, atau bahkan bayangkan. Tak ada aroma manis mengambang dari tubuhnya. Tak ada gerak-gerik lembut yang menunduk pada struktur. Yang ada hanya ketenangan yang seperti menghancurkan tatanan. Dominan. Penuh percaya diri. Seolah dunia perlu menyesuaikan irama napasnya dengan langkah Hoshina.
'cup'
Huh??
Suara kecil. Ringan. Nyaris tidak nyata. Tapi cukup untuk menghentikan waktu.
Hoshina terdiam, membatu. Bibirnya sempat bersentuhan dengan bibir Narumi—tanpa maksud, tanpa rencana—hanya karena sudut dan jarak yang terlalu dekat, dan dunia yang terlalu pelan untuk memperingatkan.
Narumi berkedip.
Sekali.
Hoshina mundur satu inci, secepat kedipan itu, dengan wajah yang tetap dingin... tapi telinga yang mulai memerah secara mencolok.
“Aku—tidak sengaja,” ucapnya, nyaris datar namun ada kegugupan disana, seperti seseorang yang menutup luka dengan selotip bening, masih terlihat jelas.
Narumi tidak menjawab. Ia hanya menatapnya lama. Bibirnya masih sedikit terbuka, seolah kejadian itu belum selesai secara emosional.
Huh??
Narumi berkedip lagi, tidak tahu apa yang barusan menempel di bibirnya.
"Lagipula, kenapa wajahmu begitu dekat?? Kau mau mencium pipiku kah?"
"Hah??"
Narumi masih memasang wajah bodohnya yang membuat Hoshina mendecih.
"Lupakan, aku pergi dulu."
Kemudian Hoshina buru-buru kembali berdiri dan keluar dari ruangan, ia tak tahu apakah tadi ada yang melihatnya atau tidak.
Ia melewati lorong, menoleh ke arah kaca jendela. Terlihat pantulan dirinya.
Ciuman itu, hanya satu detik. Tapi Hoshina kini sudah seperti kepiting rebus di bayangan jendela itu.
Sedangkan Narumi? Ia baru sadar yang baru saja terjadi. Pipinya memanas. Tangannya terangkat menutupi wajahnya.
Narumi tidak akan mengakuinya, tentu saja. Tapi sejak hari itu, ia mulai menunggu suara dari saluran komunikasinya lebih dari yang seharusnya.
Bukan karena strategi. Bukan karena perintah.
Melainkan karena suara Hoshina memiliki sesuatu yang sulit didefinisikan, suara tenang, tajam, dan nyaris membuat detak jantungnya lupa bagaimana cara berjalan biasa.
.
.
.
Misi mereka berikutnya seharusnya sederhana. Patroli perimeter di wilayah semi-aman. Nyaris tidak ada ancaman besar. Tapi suasana... berbeda.
Narumi berdiri di lapangan peluncuran sambil menyetel peralatan. Hoshina seperti biasa, mengenakan perlengkapan standar, ekspresi datar dan serius. Tapi... keduanya tampak terlalu fokus pada apa pun selain satu sama lain.
“Ada gangguan sinyal dari barat laut. Kau perlu turun ke bawah jembatan distribusi untuk periksa manual,” ucap Hoshina di sela penjelasan taktis.
Narumi mengangguk terlalu cepat. “Siap. Aku—aku bisa buka jalan.”
Lalu kembali diam dan mereka tenggelam dalam ketercanggungan.
Mereka bekerja seperti profesional, tapi kali ini seperti dua komet yang terlalu sadar akan orbit masing-masing. Seakan ada sekat, yang dulu terasa biasa, kini seperti ruang hampa yang mendesis pelan-pelan.
“Jangan terlalu dekat ke tepi. Fondasinya rapuh.”
Hoshina memperingatkan.
“Baik.”
Narumi menjawab sopan seperti kadet tahun pertama.
Lalu, dari headset terdengar suara bising mendadak—semacam interferensi gelombang, cukup membuat mereka berhenti sejenak.
Namun tak ada kaiju yang muncul.
Suara sambungan kembali normal
"Tes tes, kau dengar aku, prajurit Narumi?"
Tanya Hoshina, tak ada jawaban
"Narumi?"
“Jangan cium aku lagi tanpa izin,” ucap Narumi tiba-tiba.
Hoshina mengerjap. “Aku tidak menciummu. Itu kau yang—”
“Kau yang menoleh.”
“Kau yang bicara terlalu pelan!”
“Kau yang terlalu dekat!”
“Bukan salahku kepalamu terlalu besar!”
Diam. Lalu—
Narumi menunduk. Bahunya berguncang.
Hoshina menduga ia sedang menahan amarah. Tapi saat suara tawa lolos dari bibir Narumi, tawanya terdengar jujur, renyah dan agak memalukan—Hoshina hanya bisa menghela napas, menutup wajah dengan satu tangan.
“Astaga,” gumamnya. “Kita sungguh tidak dewasa.”
“Tapi kita efektif di medan tempur,” Narumi menambahkan di sela tawanya. “Jadi kurasa kita diampuni.”
Hoshina hanya geleng-geleng, tapi senyuman kecil terselip di sudut bibirnya tanpa Narumi ketahui. Mereka melanjutkan langkah, sedikit lebih ringan dari sebelumnya, dengan ruang yang entah bagaimana terasa lebih nyaman.
Suasana belum kembali seperti semula.
Tapi tak ada lagi yang benar-benar ingin kembali seperti semula.
.
.
.
Tiga hari kemudian mereka kembali ditempatkan dalam misi. Semua berjalan seperti biasanya namun Hoshina merasa ada yang salah.
Di balik dinding monitor yang redup biru, dalam ruangan pendingin udara yang tak pernah benar-benar hangat, ia duduk. Tangan bertumpu di meja kontrol. Matanya terpaku pada layar yang menampilkan live feed—mata Narumi.
Bukan hanya dari kamera tempur yang dipasang di maskernya, tapi juga dari sensor biosistem di dalam seragam tempurnya: detak jantung, suhu tubuh, gerakan pupil, respon adrenalin.
Hoshina bisa melihat semuanya.
Dan sesuatu hari itu terasa… berbeda.
“Sinyal bersih. Area aman. Tapi tetap waspada. Lokasi Kaiju terakhir masih belum bisa dipastikan.”
Suara Hoshina masuk melalui kanal privat yang hanya terhubung ke Narumi. Lembut, datar tapi jelas memiliki kedalaman tertentu. Seperti suara di dalam kepala Narumi sendiri.
“Aku tahu,” gumam Narumi dari medan, nadanya agak berat.
Sesuatu dalam suaranya membuat Hoshina mengetik cepat. Ia periksa data biologis.
||Suhu tubuh: 38.4°C. Detak: 126 bpm saat diam. Kelembapan napas meningkat.
Hoshina menyipitkan mata.
“Ini... bukan hanya kelelahan.”
“Narumi.”
Ia berbicara lagi, kali ini perlahan. “Apa kau merasa tidak stabil?”
“Aku masih bisa bertarung,” jawab Narumi cepat.
“Kepalaku hanya... agak panas. Tapi semuanya terkendali.”
Tapi dari layar, Hoshina melihat sesuatu yang lebih jujur dari suara.
Pupil Narumi melebar. Nafasnya pendek. Dan ketika ia menoleh ke arah timur, pandangannya terganggu oleh hal yang tidak terlihat di layar, Sensasi dan naluri.
Rut.
‘Gejalanya mulai,’ pikir Hoshina. Namun ia tetap tenang, suaranya hanya sedikit menurun nadanya.
“Fokuskan napas. Jangan biarkan stimulus mengambil alih. Aku akan bimbing dari sini okey? Kamu dengar aku?”
“Selalu.”
Dan mereka melanjutkan misi.
Kaiju muncul secara mendadak, menyelinap dari celah dermaga tua. Narumi melesat, lincah seperti biasa tapi Hoshina bisa melihat gerakan tubuhnya yang sedikit lebih agresif dan lebih... liar.
“Jangan buru-buru. Tunggu mereka mengepung. Ambil posisi kiri—bukan kanan. Dinding sebelah kanan terlalu lemah.”
Hoshina bicara cepat, hampir seperti mantra.
“Pakai granatnya. Tiga detik. Lempar sekarang.”
Narumi menuruti tanpa berpikir.
Boom. Ledakan sempurna. Dua Kaiju jatuh sekaligus.
“Bagus,” ucap Hoshina. “Kau masih presisi.”
Narumi terkekeh. “jangan remehkan aku dasar okkapa.”
Diam sebentar di antara mereka, suara angin saja yang mengisi jeda itu di frekuensi komunikasi.
“Narumi...”
Nada Hoshina kali ini berubah sedikit. Terasa penuh perhatian dengan nadanya yang rendah itu.
“Ini sudah hampir mulai. Bukan?”
Tanyanya khawatir.
“Ya,”
jawab Narumi perlahan, akhirnya jujur.
“Aku bisa merasakannya. Tubuhku terasa tidak nyaman, ku kira aku hanya demam.. ternyata sedang menuju rut.”
“Kau harus kembali ke markas.”
Narumi tertawa pendek, miris.
“Kalau aku kembali sekarang, aku hanya akan mengurung diri. Tapi mendengarmu... melihatmu bicara yang terasa berbisik... rasanya membuatku ingin—”
Ia berhenti. Napasnya tercekat.
Hoshina memandangi monitor. Di sana, wajah Narumi sebagian tertutup masker, tapi Hoshina bisa melihat garis rahangnya mengencang. Pipi yang sedikit memerah. Gerakan leher yang tak nyaman.
Ia tidak bisa menyentuh Narumi. Tapi ia bisa memandu.
Dan dari kursinya, ia bersandar pelan, jari menyentuh tepi layar.
“Dengar aku, Narumi.”
Suaranya turun nyaris seperti bisikan.
“Pusatkan pikiranmu padaku. Bukan pada nalurimu.”
Narumi mengangguk di medan. Perlahan. Dalam layar, pupilnya mengecil sedikit. Stabil. Tapi hanya sebentar.
||Detak jantung meningkat.
Hoshina tahu ini tidak akan bertahan lama.
“Jika aku kembali ke markas,” ucap Narumi perlahan,
“dan kamu masih yang memanduku... aku tak yakin bisa menahan naluri.”
“aku akan menjauh, tenang saja”
Nada suara Hoshina rendah.
Narumi terdiam. Lalu menjawab sepelan desir angin dan sedikit bercanda. “Aku akan mengejarmu.”
Dan di dalam ruang operator yang dingin, Hoshina hanya menatap layar itu. Wajah Narumi terpampang, berkeringat dan terengah, namun sorot matanya terang dan liar penuh sesuatu yang hanya bisa lahir saat dua hal di dalam tubuh mulai runtuh: kendali dan jarak.
“Kalau begitu, cepatlah kembali,” gumam Hoshina. “Sebelum aku berubah pikiran.”
Narumi terkejut. Detik berikutnya ia tersenyum nakal dan berlari secepat kilat menuju markas.
End
