Actions

Work Header

A Lifetime Promise

Summary:

Gavin berusaha menyembunyikan lukanya setiap dia terluka. Tapi Asakura justru merasa terkhianati setiap Gavin melakukannya.

Dedicated for #JuneBrideEmojiChallange

Work Text:

A Lifetime Promise

.

.

.

Mr Love Queen Choice Fanfiction 

Disclaimer: Papergames

Gavin x Asakura (OC)

Gavin owned by Papergames

Asakura owned by me

Happy Reading!

.

.

.

.

.

 

 

Asakura melangkahkan kakinya dengan mantap menyusuri lorong kantor STF yang agak lenggang. Dia terlihat tenang, tidak buru-buru. Tapi absennya senyum hangat yang selalu menghiasi wajah manisnya, tentu membuat orang yang sangat mengenalnya tahu.

 

Wanita itu tengah menahan emosinya.

 

“Eh?! Aneki?!”

 

Tang Chao yang melihat kehadiran Asakura di markas STF terlihat kaget dan gugup.

 

Asakura menatap Tang Chao. Menyadari ada balutan perban di pergelangan tangan rekan kerja suaminya.

 

“Di mana Gavin?”

 

Suara Asakura yang terdengar tenang itu justru membuat Tang Chao bergidik takut. Tak ada kehangatan dan kelembutan sama sekali. Sorot matanya tenang namun Tang Chao tahu bahwa ketenangan itu menyimpan badai dahsyat.

 

“Uhm…”

 

Tang Chao perlu waktu untuk berpikir. Karena beberapa saat yang lalu, dia menerima perintah dari suami wanita di depannya untuk tutup mulut soal dirinya.

 

Asakura melipat lengannya, cukup hafal jika Tang Chao sedang ragu.

 

“Tang Chao, kau tahu aku tidak akan selamanya menunggu jawabanmu, bukan?”

 

Oh baiklah, persetan dengan perintah Gavin. Melihat Asakura yang tenang dan nyaris tanpa emosi begini cukup menakutkan bagi Tang Chao sehingga dia memilih mengkhianati komandannya.

 

“Di-dia ada di ruang kesehatan STF. Saat ini ada kapten Eli yang menemaninya. Jadi Aneki tidak perlu khawa…”

 

“Antar aku ke sana.”

 

Asakura memotong ucapan Tang Chao cepat. Membuatnya lagi-lagi tak berdaya dan hanya bisa menuruti perintah istri sang komandan.

 

“Ba-baiklah. Ayo ikut aku.”

 

Dengan langkah berat, Tang Chao mengantar Asakura ke ruang kesehatan STF.

 

Dibilang ruang kesehatan, tapi fasilitas di sana hampir sama seperti Rumah Sakit canggih yang cukup mewah. Dengan gedung besar terpisah dari kantor utama STF. Ruang kesehatan STF memang dirancang layaknya rumah sakit untuk perawatan dan pertolongan para anggotanya.

 

Bunyi lift berdenting pelan saat Asakura dan Tang Chao tiba di lantai tempat Gavin dirawat. Sesekali Tang Chao melirik Asakura takut-takut. Tapi wanita itu ekspresinya tenang dengan langkah yang mantap.

 

Hampir sama seperti suasana laut yang tenang sebelum badai besar.

 

“Ehm, di sini ruangan tempat Komandan dirawat.”

 

Tang Chao dan Asakura berhenti di depan salah satu pintu di koridor RS tersebut. Belum sempat Tang Chao melanjutkan ucapannya, Asakura membuka pintu ruangan.

 

Di dalamnya, ada Gavin yang tengah duduk di salah satu ranjang. Di sampingnya ada Eli yang berdiri. Sepertinya keduanya tengah membicarakan sesuatu dan terkejut saat melihat Asakura sudah berdiri di depan pintu.

 

A-aneki?!”

 

Eli yang pertama kali bersuara. Ia melirik Tang Chao yang berdiri di belakang Asakura yang menatapnya balik dengan tatapan, ‘Aku tidak bisa menolaknya karena aneki sepertinya marah besar.’.

 

Gavin sendiri gelagapan dan buru-buru mengancingkan baju pasien khas rumah sakit untuk menutupi perban lukanya.

 

“A-Asakura? Kenapa kau ada di sini?”

 

Asakura tak menjawab. Ia berjalan ke arah ranjang Gavin. Suara detak sepatunya terdengar menggema di ruangan tersebut.

 

“Bagaimana keadaan Gavin, Eli?”

 

Asakura tahu Gavin tidak akan jujur dengan keadaannya jadi dia memilih bertanya pada Eli yang berdiri di sampingnya. 

 

Mendengar nada tenang tanpa kehangatan dan kelembutan khas Asakura membuat Eli paham kenapa Tang Chao memilih untuk mengantar istri sang komandan ke sini daripada menaati perintahnya.

 

“Uhm…tenang saja, keadaannya…”

 

“Eli.”

 

Bahkan saat Asakura memanggil namanya dengan tegas membuat Eli meneguk ludahnya takut. Ia menatap Asakura dan Gavin bergantian. Dilema antara menuruti perintah Asakura atau sang komandan.

 

“Asakura, aku baik-baik saja. Mungkin besok atau lusa aku sudah bisa pu…”

 

“Sebagai pasien, tolong tutup mulutmu.”

 

Haruka memotong ucapan Gavin dengan tegas. Kalau sudah begini, yang bisa dilakukannya hanya menuruti perintah sang istri. Tatapan Asakura kembali ke Eli. Masih menunggu jawaban dari pertanyaannya sebelumnya.

 

“...Salah satu tulang rusuknya patah dan ada beberapa luka luar yang cukup parah. Tapi tenang saja, dokter sudah mengusahakan yang terbaik. Dan seperti katanya dia bisa pulang besok atau lusa!”

 

Eli buru-buru menambahkan sebelum Asakura bisa menyelanya. Wanita itu hanya menghela nafas pelan melihat tingkah Eli.

 

“Begitu ya? Baiklah. Kau bisa keluar sekarang bersama Tang Chao. Maaf sudah merepotkanmu, Eli.”

 

Asakura membungkuk pelan. Eli hanya menggelengkan kepalanya.

 

“Tidak perlu formal begitu, kami tahu apa yang kami lakukan.”

 

Eli melirik Gavin dengan tatapan, ‘Semoga anda selamat’ sebelum berjalan keluar bersama Tang Chao yang hanya memperhatikan karena takut mengusik mereka tadi.

 

“Baiklah, komandan… apa anda punya pembelaan atas ucapan Eli barusan?”

 

Asakura berbalik menghadap Gavin. Dengan suara tenang nyaris tanpa emosi ia bertanya sambil melipat kedua tangannya di atas dada.

 

Gavin menatap Asakura memelas. Dia ingin membantah, mengatakan bahwa dia baik-baik saja. Bahwa lukanya ini sama seperti luka-luka sebelumnya yang akan sembuh dengan sendirinya…

 

Tapi melihat tatapan Asakura, seluruh kata-katanya terhenti di ujung lidahnya. Sebagai gantinya, dia hanya menggeleng pelan menanggapi ucapan Asakura.

 

“Buka bajumu.”

 

Gavin menatap Asakura sambil mengernyit.

 

“Tadi kan Eli sudah bilang lukaku sudah dirawat dokter…”

 

“Buka bajumu.”

 

Suara tegas Asakura lagi-lagi membuat Gavin tak berdaya. Dengan helaan nafas pasrah, ia membuka piyama khas pasien rumah sakit dan memperlihat tubuhnya yang nyaris penuh dengan perban. Beberapa bagian terlihat sedikit memerah karena darah meskipun sudah dibersihkan.

 

Asakura hanya diam menatap luka-luka itu dan Gavin bisa menebak apa yang ada di pikiran isterinya.

 

“Asakura, sayang… aku baik-baik saja. Ini luka yang sama seperti sebelumnya. Nanti juga akan segera sembuh kok. Kamu tidak perlu khawatir, ya?”

 

Gavin memegang salah satu tangan Asakura. Mengelus punggung tangannya dengan lembut menggunakan ibu jarinya. Namun Asakura hanya diam.

 

Kini, Gavin menarik pelan tangan Asakura agar naik ke ranjang pasien dan mendudukkannya tepat di depannya.

 

“Asakura…”

 

“....Kenapa? Kenapa kau selalu berbohong setiap kau terluka?”

 

Asakura memotong ucapan Gavin dengan suara tercekat karena menahan tangis.

 

“Karena aku membenci diriku sendiri jika aku membuatmu menangis karena mengkhawatirkanku.”

 

Asakura mendongak dan menatap Gavin tajam membuat Gavin terkesiap karena selama dia menjadi suami Asakura, ia tidak pernah ditatap begitu oleh sang istri.

 

Asakura mengulurkan tangannya dan menangkup pipi Gavin. Memaksa netra madu sang suami menatap mata kelabunya.

 

“Gavin Bai, apa kau lupa dengan janjiku terhadapmu di depan altar? Aku akan menemanimu baik susah maupun senang, sehat maupun sakit sampai maut memisahkan kita. Dan sekarang kau berusaha membuatku untuk mengingkari janjiku sendiri?”

 

Gavin mengedipkan matanya beberapa kali. Ia nyaris tidak bisa berkonsentrasi dengan ucapan Asakura karena tangan mungil nan hangatnya menangkup pipinya.

 

“...A-Asakura, aku…”

 

“Jika lain kali kau membuatku mengingkari janjiku, akan kupastikan aku sendiri yang akan mengingkarinya.”

 

Mata Gavin membulat. Apa? Asakura ingin mengingkari janji mereka di depan altar? Apa itu berarti… Asakura akan meninggalkannya?!

 

“Tu-tunggu, kau tidak bisa begitu saja…”

 

“Ya, aku bisa.”

 

Asakura memotong dengan tegas dengan tatapan tajam ke Gavin. Membuat lelaki itu kehilangan kata-katanya.

 

“Makanya lain kali kalau kau terluka, kabari aku… setidaknya… aku tidak ingin kau merasakan sakit sendirian.”

 

Asakura menambahkan dengan nada lebih lembut. Ia tersenyum tipis dan membelai pipi Gavin dengan ibu jarinya.

 

“Janji kau akan jujur padaku jika kau terluka? Tidak bohong lagi?”

 

Sebenarnya Gavin tidak yakin bisa berjanji tentang hal ini karena bagaimanapun juga, prioritas hidupnya adalah membuat Asakura bahagia. Bukan membuatnya mengkhawatirkan dirinya. Tapi melihat senyum Asakura dan tatapan lembutnya, membuat hati Gavin luluh hingga tak kuasa menolak.

 

“Aku… akan mengusahakannya. Kau tahu sendiri jika aku tidak suka membuatmu khawatir ataupun menangis karena aku.”

 

Asakura mengangguk membenarkan.

 

“Tapi setidaknya kau harus mencobanya. Karena itu janjiku padamu di altar.”

 

Gavin tersenyum hangat. Ia memegang tangan Asakura yang menyentuh pipinya dan menariknya perlahan untuk dipertemukan dengan bibirnya.

 

Wajah Asakura sedikit memerah namun ia tersenyum senang karena Gavin mulai mengerti bahwa dia tidak harus menanggung lukanya sendirian.

 

“Beristirahatlah. Maaf sepertinya tadi aku mengganggu percakapanmu dengan Eli saat aku datang?”

 

Gavin menggeleng pelan.

 

“Eli hanya membacakan laporan hasil misi terakhir.”

 

Asakura menuntun tubuh Gavin agar berbaring di bed pasien sebelum duduk di sampingnya sambil memegangi tangannya. Gavin sendiri membalas genggaman tangan Asakura dan tersenyum.

 

Ah, meskipun hanya digenggam tapi Gavin sudah merasa tenang dan bahagia. Tapi sudut kecil hatinya yang serakah, paham, ini tidaklah cukup.

 

“Asakura…”

 

“Hm?”

 

“....Kau mau berbaring di sampingku?”

 

Asakura menatap Gavin sambil mengerutkan keningnya.

 

“Kau tidak memintaku untuk berbaring bersamamu di bed pasien ini kan? Bagaimana kalau ada perawat yang masuk?”

 

Gavin terkekeh mendengarnya.

 

“Perawat dan dokter punya jadwal kapan mereka mengunjungi pasiennya. Dan terakhir kali perawat memeriksa infusku adalah sebelum kau datang lagi. Jadi… kurasa tidak masalah.”

 

“Tapi…”

 

“Asakura, kumohon….”

 

Ah, Asakura selalu tidak berdaya dengan tatapan memelas dan memohon Gavin. Dengan sedikit ragu Asakura menuruti keinginan Gavin. Ia ikut berbaring di samping Gavin. Pria itu dengan segera menarik Asakura kedalam pelukannya. Mengabaikan rasa nyeri yang menjalar di sekujur tubuhnya. Kehangatan Asakura, aroma tubuhnya… sudah lebih dari cukup sebagai anestesi seluruh rasa sakitnya. Ia hanya merasakan damai dan tenang saat Asakura berada dalam rengkuhannya.

 

Ia mengecup pelan pucuk kepala Asakura. Ah… ini yang dia rindukan. Aroma rumah, tempat dia seharusnya kembali.

 

“Aku pulang, Asakura.”

 

Asakura tersenyum dan melingkarkan tangannya dengan pelan dan hati-hati di tubuh Gavin, takut menyentuh lukanya sebelum akhirnya membelai pelan punggung suaminya. Memberikan kehangatan yang bisa ia berikan.

 

“Selamat datang kembali, Gavin.”

 

***Fin***

 

 

Series this work belongs to: