Work Text:
Kehidupan sebagai seorang istri dan ibu sekaligus memang tidaklah mudah. Tidak banyak orang yang mengerti tentang ini sayangnya. Entah berapa banyak orang yang enggan untuk mengerti tentang hal tersebut; sekedar menyisihkan waktu untuk mendengar keluh-kesah seorang istri dan ibu dalam waktu yang sama saja enggan. Mempunyai lingkungan yang setidaknya mengerti akan kerja keras seorang wanita sudah termasuk sebuah hak istimewa, walaupun itu bisa termasuk dibilang sesuatu paling minimum di kehidupan sosial sesama makhluk hidup.
Bagaimana dengan kehidupan Yoon Jeonghan sendiri? Seorang wanita karir yang masih bersikeras untuk bekerja, bersamaan dengan mendidik ketiga anak kandungnya di rumah. Jeonghan tentu saja berbohong jika ia menceritakan tentang kehidupan keluarganya tanpa ada rasa pahit maupun tangis. Miskomunikasi dan banyaknya argumen antara dirinya dengan sang suami bukan hal yang jarang terjadi. Walaupun keduanya sering memperlihatkan kehidupan suami-istri yang akur dan bahagia, hal itu tidak luput dengan perbedaan pendapat dari banyak perspektif tentang kehidupan rumah tangga.
Jeonghan kini sedang mengandung anak ke-4 di keluarganya yang sudah tidak bisa dibilang kecil lagi. Rai dan Ren, kedua anak kembar laki-lakinya itu sudah perlahan tumbuh besar. Tinggi tubuh mereka semakin menambah garis-demi garis di dinding khusus pengecekan angka yang selalu dicek oleh Seungcheol setiap dua kali sebulan. Si bungsu, yang tidak akan menjadi bungsu lagi, Sasa juga sudah memperlihatkan perkembangan nya sebagai calon murid perempuan di sekolah barunya beberapa bulan lagi.
Umur kandungan Jeonghan masih dibilang tergolong muda. Belum masuk di mana ia harus mengambil cuti panjang sembari menunggu waktu lahiran. Walaupun ada opsi tersebut, Jeonghan masih tidak ingin meninggalkan kewajiban nya di perusahaan di mana ia bekerja. Mempertahankan kesetaraan kewajiban nya sebagai seorang istri, ibu, dan juga wanita karir merupakan sesuatu yang amat sangat penting di kehidupan seorang Yoon Jeonghan semenjak dulu ia memutuskan untuk menikahi Choi Seungcheol.
Untuk Seungcheol sendiri, ia pusing tujuh keliling menghadapi sang istri. Jeonghan sudah natural sebagai perempuan yang keras kepala. Ditambah dengan hormon nya kini yang sedang di gebu-gebu oleh kondisi hamil anak ke-4 mereka. Ditambah sudah beban emosional Seungcheol yang harus selalu menjadi orang tua penyabar di rumah mereka.
Salah satunya seperti keadaan di rumah malam ini. Seungcheol mendapatkan kesempatan untuk pulang lebih cepat. Lebih tepatnya sang ayah memberi banyak keringanan saat mengetahui menantu keduanya itu sedang hamil cucu ke-4 untuk keluarga besar mereka. Semenjak keributan rumah tangga paling terakhir mereka terjadi, Seungcheol menyisihkan banyak waktu dari biasanya untuk pulang ke rumah lebih cepat dan merevisi kegiatan-kegiatan kerjanya yang sekiranya tidak harus diselesaikan semua di dalam hari yang sama.
Menyempatkan diri untuk menjemput sang istri di kantornya, memastikan anak-anak juga sudah pulang dari jadwal les mereka kepada asisten rumah tangga yang mulai bekerja semenjak Jeonghan kembali hamil lagi. Memarkirkan mobil di lobi gedung kantor itu, Seungcheol meraih ponselnya yang tergeletak nyaman di saku dasbor. Membuka layar ponsel untuk segera mengirim pesan singkat kepada sang istri, menghiraukan pukul waktu yang menunjukkan bahwa dirinya sudah telat sekitar 20 menit. Dahi Seungcheol mengernyit, menatap beberapa pesan dari Jeonghan yang baru saja ia buka karena sibuk menyetir.
hani🪽: mas kamu di mana
hani🪽: mas jadi jemput gasih?
hani🪽: mas lupa ya punya istri
hani🪽: mas kamu lagi ciuman sama mingyu kah
hani🪽: EH SEUNGCHEOL MANA SIH
seungcheol: BARU NYAMPE INI MAAF SAYANG
seungcheol: macet tadi maaf aku ngga megang hp
seungcheol: ini udah di lobi ayo pulang yuk jangan marah2 lagi please
hani🪽: 😒
seungcheol: utuk utuk baby girl jangan bete gitu dong nanti adek bayinya juga ikutan bete sama ayahnya
hani🪽: bagus
seungcheol: eh jangan gitu ngapa sih elah salah apa lagi aku😞
hani🪽: bentar aku nyelesein ini dulu berapa halaman lagi
hani🪽: gausah protes
hani🪽: kamu yang telat jadi aku mending nyelesein kerjaan aku aja tadi nanggung
seungcheol: iya iya😞
Seperti itu lah kehidupan rumah tangga mereka saat ini. Memang seharusnya begitu sejak dahulu kala, sebelum Seungcheol sibuk tenggelam dengan kesibukan pekerjaan nya. Bisa dibilang ia sudah keluar dari neraka itu dan mulai kembali mencoba untuk pulang ke rumah melainkan ruang kerja. Kembali bersama keluarganya melainkan dengan klien-klien bisnis di gedung pencakar langit dari jam 8 pagi-5 sore.
Kaca mobil sedan nya itu diketuk beberapa kali, Seungcheol otomatis menurunkan kacanya untuk mendapati satpam dari gedung kantor Jeonghan yang menghampiri di mana ia sedang parkir. “Malam, pak,” Seungcheol mengangguk, “Lagi mau jemput orang?” kepalanya dianggukan lagi, “Istri saya kerja di sini, pak. Saya lagi jemput aja, nggak bakal lama kok.” Satpam terdiam sejenak sebelum bertanya lagi, “Istrinya siapa pak kalo boleh tau?” Seungcheol mengusap ceruk lehernya, tertawa kecil seraya menjawab, “Yoon Jeonghan, pak. Sekiranya bapak kenal, tapi kayaknya kenal sih soalnya dia emang beda dari yang lain.” Mendengar nama Jeonghan, sang bapak satpam mengeluarkan kata ah seperti mengerti apa maksud dari Seungcheol, “Oalah, ibu Jeonghan. Iya, iya, saya kenal kok. Bapak suaminya? Kadang dia banyak ngedumel soal bapak tau. Kayaknya sekarang ngedumel lagi soalnya tadi sempet ke lobi, nanyain mobil sedan sama nomor platnya juga, udah dateng apa belum. Saya jawab aja belum.”
Seungcheol terdiam seribu bahasa. Hm, cewek gila emang, tutur Seungcheol dalam hati setengah menggurau. Seungcheol hanya bisa mengulas senyum simpul di bibir seraya mengangkat kaca mobil itu setelah pak satpam izin pamit untuk kembali bekerja. Melirik sekilas ke layar ponsel yang memperlihatkan foto keluarga mereka berlima paling terakhir diambil saat liburan sekolah Rai dan Ren, Seungcheol mengajak mereka untuk pergi ke studio foto terdekat di rumah dengan posisi Jeonghan yang juga sedang mengandung.
Tidak lebih dari 3 menit, kaca mobil dari pintu penumpang diketuk berapa kali. Seungcheol menoleh untuk mendapati Jeonghan yang sudah sampai di lobi. Membuka kunci otomatis mobil sedan itu dan segera membiarkan Jeonghan duduk di jok penumpang. Melanjutkan perjalanan pulang mereka, Seungcheol tidak lupa juga untuk menyapa satpam yang mengajaknya berbincang sebelumnya.
“Tumben nyapa pak satpam,” ujar Jeonghan setelah sudah memasang sabuk pengaman di sekitar tubuh rampingnya. Seungcheol memutar stir mobil dengan tangan kanan nya, memastikan tidak ada mobil yang melaju kencang sebelum mobilnya dibelokkan. “Tadi abis ditanya lagi ngapain markir di lobi, terus bilang aku mau jemput kamu. Satpamnya kenal kamu,” balas Seungcheol, “terus apa deh maksudnya nyebut plat mobil aku? Kan aku bilang bakal tetep jemput nanti. Tadi tuh macet parah, sayang.” Jeonghan memastikan dirinya bersandar dengan nyaman di tempat duduk penumpang mobil sedan milik sang suami, senyum kecil terulas di bibir seraya ia perlahan menutup kedua matanya, “Nggak apa-apa. Mau pamer aja kalo punya suami orang kaya.”
Selama perjalanan, Jeonghan memutuskan untuk istirahat sejenak. Suara lagu dengan volume suara yang tidak terlalu kencang menyelimuti bagian dalam mobil sedan itu. Bagaimana Seungcheol mengendarai mobilnya juga membantu Jeonghan agar bisa tertidur pulas. Karena semua beban yang sedang ia terima di dunia ini sama sekali tidak bisa dibandingkan dengan apa yang Jeonghan lalui saat ini.
Sesekali Seungcheol meraih kepala Jeonghan agar diusap-usap dengan lembut saat menunggu lampu lalu lintas berubah dari merah ke hijau dalam beberapa detik. Kedua mata Jeonghan tertutup rapat, kepalanya bersandar ke sandaran jok penumpang. Karena umur kehamilan nya yang belum terlalu tua, namun perubahan dari bentuk tubuhnya sudah terlihat jelas. Seungcheol menggumam lembut sejenak, menempatkan dagunya di atas stir mobil seraya menatap lurus ke arah jalan di depan.
Apa yang harus ia lakukan sebagai seorang suami saat istrinya sedang hamil seperti ini? Bisa dibilang Seungcheol sudah lupa apa yang biasanya dilakukan saat terakhir kali Jeonghan masih mengandung Sasa waktu itu. Sudah beberapa tahun terlewati dan hari-hari yang terlewat juga dipenuhi oleh banyak kerjaan maupun hal-hal lain. Pikiran nya mulai berkelana ke ide-ide di mana sepertinya ia bisa membawa Jeonghan istirahat sepenuhnya di waktu dekat dari pekerjaan nya. Karena sebenarnya, Jeonghan sama sekali tidak setuju dengan pernyataan ini, kehidupan mereka sedikit bertukar; dengan Jeonghan yang lebih sering berkutat dengan pekerjaan nya, sedangkan Seungcheol lebih sering menghabiskan waktu bersama anak-anak mereka.
Namun, tentu saja, Jeonghan tidak sampai melupakan keberadaan anak-anak mereka. Tidak seperti Seungcheol saat itu. Karena Jeonghan sendiri sedang mengandung anak mereka. Tidak mungkin juga ia sampai melupakan darah dagingnya sendiri.
Sesampainya di rumah, setelah memarkirkan mobil di garasi rumah mereka, Seungcheol membantu Jeonghan untuk keluar dari mobil. Jeonghan hanya bisa tertawa renyah, “Ngapain, mas? Kayak nggak pernah liat aku jalan sendiri aja.” Seungcheol mendengus, masih melingkarkan lengan kekarnya di pinggang sang puan, tentu Jeonghan akan terus membiarkan nya memberi afeksi fisik seperti ini. “Emang se-nggak boleh itu kah aku takut kamu kenapa-kenapa? Kamu lagi hamil loh,” tutur Seungcheol seraya membuka pintu rumah mereka yang bersambung dengan garasi, “Iya, iya. Aduh, ngambek mulu sih. Orang bercanda juga.”
Mendengar suara pintu rumah dari samping itu terbuka, terdengar juga gema beberapa kaki berlari ke arah mereka. Bahkan Seungcheol belum sempat menutup pintu dan memastikan semuanya terkunci terlebih dahulu saat Jeonghan hampir menjerit.
“Bunda!”
“Hai, halo, anak-anak bunda.”
“Bunda, bunda, aku hari ini menang lomba lari!” Rai mulai merentet menceritakan tentang harinya. Mencoba mendorong Ren yang mengangkat kedua tangan ke arah Jeonghan, “Bunda, bunda, gendong. Bunda, aku juga dapet 100 hari ini ngerjain Matematika.” Ibu dari ketiga anak Seungcheol itu hanya bisa tertawa dan menyembunyikan ekspresi wajah kelelahan nya demi kesenangan buah hatinya sendiri. Seungcheol hanya bisa menghembuskan napas pelan, menarik tubuh Jeonghan agar tidak terlalu dikerumuni oleh kedua anak kembar mereka itu, “Abang-abang, ini udah malem loh. Kalian udah makan malem? Mana mbaknya? Bukan nya kalian harus ngerjain tugas-tugas jam segini? Ditinggal pasti mbaknya.”
Rai dan Ren mencoba menjawab dengan waktu bersamaan yang otomatis membuat Seungcheol mengangkat tangan kanan nya. Otomatis kedua anak kembar itu langsung terdiam. Jeonghan harus menahan tawanya setiap Seungcheol memberanikan diri untuk memperlakukan anak-anak kembarnya itu dengan tegas. Karena jika boleh jujur, Seungcheol adalah orang terakhir yang enggan melakukan hal tersebut kepada jagoan-jagoan nya.
“Ganteng-gantengnya ayah, kalian kerjain tugas-tugas dulu. Bundanya mau istirahat dulu, ya? Nanti ayah kasih tau kalo kalian boleh ke kamar. Bunda kalian tuh bau, kerja mulu seharian – aduh! Aduh, eh buset,” Seungcheol meringis saat telinganya dijewer sampai perih oleh Jeonghan. Rai tertawa lepas dan Ren hanya bisa mengedipkan kedua mata bingung. “Ih, ayah cemen,” tutur Ren yang membuat Seungcheol cemberut seketika, “Emang cemen ayah kalian tuh. Bisanya ngejek doang,” timpal Jeonghan sembari menjulurkan lidahnya mengejek ke arah sang suami. Seungcheol menghembuskan napas pasrah, “Udah, kamu istirahat dulu. Ayah ganti baju sebentar terus nanti ayah masak, ya. Abis itu ayah mau cek tugas-tugas kalian biar si mbak nemenin bunda sama Sasa.”
Jeonghan mendukung perintah Seungcheol dengan mengacungkan ibu jarinya kepada Rai dan Ren. Walaupun kedua anak kembarnya itu membalas dengan dengusan halus, mereka tetap mengikuti apa kata sang ayah. Berjalan kembali ke ruang tamu untuk melanjutkan kewajiban mereka sebagai murid-murid teladan. Asisten rumah tangga mereka menyapa pasangan suami-istri itu dan Jeonghan segera memberitahu perempuan itu tentang perintah Seungcheol sebelumnya.
“Sasa di kamar dia, bu, pak. Terakhir saya ke kamarnya cuman kasih roti sama susu aja. Dia sibuk belajar sendiri,” tutur asisten rumah tangga mereka. Jeonghan bergumam pelan, “Nggak apa-apa. Kasih tau aja saya udah pulang, nanti dia pasti minta cek PR-nya ke saya kok.” Keduanya pun masuk ke kamar pribadi mereka, di mana Seungcheol langsung membuka tiap kancing kemeja kerja, merasa gerah karena sudah harus menghadapi jalanan macet semenjak pulang dari kantor. “Kamu mau aku bikinin apa?” tanyanya pelan seraya mencari keberadaan handuk untuk ia mandi nanti, “Teh anget aja. Kalo bisa roti juga, biar makan bareng sama Sasa nanti,” balas Jeonghan seraya membaringkan tubuhnya di atas kasur, “Duh, enak banget dah kasur kamar kita. Rasanya mau tidur aja terus duit ngalir dari kamu.”
“Bukan nya emang udah gitu, ya?”
“Kamu lagaknya kayak aku cuman lonte doang dah.”
“Lah, emang.”
Jeonghan mendengus, namun ia tidak bisa menahan semburat merah yang bersemi di kedua pipinya. Seungcheol menyadari keheningan yang menyelimuti kamar itu dan langsung menunjuk ke arah perempuan di kasur. “Nggak, nggak – lo lagi hamil. Gue mau jadi kepala rumah tangga yang bertanggung jawab kepada anak-anaknya malem ini,” ujar Seungcheol menahan rasa malu yang mulai tersebar ke sekujur tubuh. Jeonghan mendelik, kancing kemeja kantornya sudah terlepas semua, memperlihatkan perut dan payudara yang masih tertutupi oleh bra, “Iya, iya. Terserah lo deh malem ini mau gimana.”
Cewek gila, cewek gila, Seungcheol menggelengkan kepala, mencoba menghiraukan tawa licik dari Jeonghan seraya ia menutup pintu kamar mandi. Kegiatan bersih-bersihnya hanya berlangsung selama 3 menit, cepat? Memang, karena ia tidak harus ngapa-ngapain sebenarnya. Hanya membiarkan air itu mengalir ke tiap sudut lekuk tubuhnya dan diusap dengan sabun. Cukup itu saja Seungcheol sudah merasa segar dibantu oleh bau parfum dari sabun yang ia pakai.
Saat Seungcheol keluar dari kamar mandi, Jeonghan sudah mengganti pakaian nya. Asisten rumah tangga mereka kini sedang membuka lemari baju bagian khusus sang istri, merapikan beberapa helai pakaian yang sepertinya sudah tidak terpakai. Di sebelah Jeonghan yang masih berbaring, Sasa sedang menjelaskan apa yang sedang ia lakukan. Mendengar pintu kamar mandi terbuka dan asap air hangat yang menyelimuti sebagian dari kamar tidur itu, membuat Sasa menolehkan kepalanya.
“Ayah!”
“Halo, cantik – aduh. Bentar, ayah baru selesai mandi, sayang.”
Sasa berlari dan harus melompat dari kasur tidur itu. Hampir membuat jantung dari 3 orang dewasa di kamar tidur loncat dari dalam tubuh mereka masing-masing. Seungcheol menggendong bungsu perempuan nya itu, membiarkan Sasa memeluk lehernya erat-erat. Mulai menceritakan apa saja yang ia lakukan hari ini selama kedua orang tuanya sedang sibuk bekerja.
“Aku jalan-jalan sama mbak juga. Mbak ke toko bunga gitu, terus tangan aku hampir kena duri mawar,” tutur Sasa dengan penuh antusias. Kedua tangan nya bergerak menjelaskan secara fisik bagaimana harinya berlalu. Seungcheol, dengan masih menggendong Sasa, menggantung handuk itu di tempat seharusnya seraya menganggukkan kepala berkali-kali. “Terus, gimana? Sasa tahu nggak kalo duri mawar itu bisa bikin tangan Sasa sakit?” Sasa menganggukkan kepalanya mengerti pertanyaan dari sang ayah, “Tau, tau. Mbak ngasih tau, terus tadi aku juga nanya sama bunda. Katanya ayah dulu pernah ngasih bunda mawar, terus tangam bunda sakit karena saking senengnya.”
Ah, ya, Seungcheol masih ingat momen itu. Kedua pandangnya melirik sekilas ke arah Jeonghan yang kini hanya tersenyum lebar. Entah apa maksudnya ia melakukan itu dan tiba-tiba menceritakan kejadian tersebut kepada Sasa. Namun Seungcheol tidak ingin sedang terlalu memikirkan hal-hal yang membuat kepalanya pusing.
Setelah itu ia izin pamit untuk memasak di dapur. Mengkonfirmasi pesanan belanjaan yang sebelumnya Seungcheol meminta asisten rumah tangganya untuk dibelikan dan perempuan itu mengangguk. Hendak berdiri untuk menemani Seungcheol ke dapur, namun sang kepala keluarga menolak permintaan tersebut. Mementingkan presensi sang asisten rumah tangga bersama Jeonghan yang lebih membutuhkan nya untuk saat ini.
Selama Seungcheol di dapur, memang jarang ada yang menemaninya. Kadang-kadang saja ia meminta tolong kepada kedua jagoan kembarnya itu. Namun karena mereka sedang sibuk mengerjakan tugas masing-masing, hal yang bisa Seungcheol lakukan adalah membuat mereka nyaman dengan membuat makanan maupun minuman. Membawa iPad yang tergeletak secara sembarangan (lagi, sudah beberapa kali Seungcheol mendapati iPad ini tidak berada di tempat seharusnya) di atas meja makan, membuka aplikasi catatan di mana ia sering menyimpan hal-hal tentang petualangan masaknya di sana.
Seungcheol juga lebih memilih untuk diam dan dapurnya sunyi selama memasak. Hanya ada suara pensil bergerak di atas kertas yang terdengar dari belakang tubuhnya. Mengetahui kedua anak kembar itu masih sibuk dengan pekerjaan rumah mereka. Itu yang dipikirkan Seungcheol sebenarnya, sampai di mana 15 menit sejak mulai memasak, tiba-tiba ia menemukan Ren berdiri di sebelahnya.
“Ampun, abang, Ya Tuhan,” Seungcheol hampir melempar panci yang sedang digenggamnya erat-erat. Ren mengangkat kepalanya dan menatap Seungcheol dengan tatapan penuh ingin tahu, “Masak apa, yah?” tanyanya polos. Seungcheol menatap ke arah beberapa potong daging yang masih merah, memberitahu bahwa kondisinya belum masak sempurna. “Masak daging, sayang. Ayah mau bikin saosnya sebentar, ya. Kamu kenapa ke sini? Udah selesai emang tugasnya?” Ren menganggukkan kepalanya, “Rai lagi ke belakang, liatin ikan. Ngajak aku main tapi aku mau nemenin ayah. Kasian soalnya sendirian.”
Hati Seungcheol memang mudah untuk merasa hangat saat ia mendengar kalimat seperti itu keluar dari mulut salah satu anak-anaknya. Seperti apa yang sudah ia lakukan dulu kala membuatnya tidak berhak mendengar kata-kata itu dari anak kandungnya sendiri. Suatu momen di mana Seungcheol mengecewakan kepercayaan yang dipegang erat oleh mereka, khususnya Ren. Seungcheol merasa dirinya sangat dekat dengan anak-anaknya, namun dengan Ren, anaknya yang satu ini memiliki kasih sayang yang berbeda jika sang ayah berada di dalam konversasi.
“Nggak apa-apa, sayang. Ayah bisa masak sendiri kok. Kamu main aja sama Rai, ya? Nanti ayah panggil kalo udah selesai masaknya. Nanti kita makan bareng,” ujar Seungcheol seraya mengusap lembut pucuk kepala anaknya itu. Awalnya Ren cemberut, dahinya merengut karena tidak menerima balasan dari sang ayah. Namun pada akhirnya, ia menuruti perintah Seungcheol. “Ren sayang ayah,” tutur Ren sembari memeluk pinggang Seungcheol sekilas sebelum berlari ke bagian belakang bangunan rumah mereka.
Seungcheol memutar tubuhnya sejenak, melihat Ren yang berlari sampai figurnya terlihat di halaman belakang. Tubuhnya sedikit berjinjit untuk melihat apa yang Rai sedang lakukan. Rai, dengan menggerakkan kedua tangan nya, memberitahu Ren apa yang baru saja ia temui di kolam ikan mereka. Sedangkan Ren hanya mendengarkan dengan sesekali menganggukkan kepala.
Pemandangan tersebut mengukir senyum kecil di bibir Seungcheol. Ia kembali melanjutkan sesi memasaknya dengan masih tersenyum. Memasak daging untuk 3 porsi memang diekspektasikan untuk mengambil banyak waktu. Seungcheol masih berniat untuk memasak 1 porsi lagi untuk Jeonghan dan Sasa yang sepertinya akan berbagi nanti, namun mengetahui bungsunya yang sudah selesai makan malam terlebih dahulu dan sepertinya juga ia akan tidur sebentar lagi.
Seperti apa yang Seungcheol janjikan sebelumnya, ia memanggil Rai dan Ren seraya menempatkan kedua piring dengan daging itu di atas meja ruang tamu. Tidak lupa juga ia menuangkan susu putih ke tiap gelas khusus diberikan kepada anak-anaknya, seraya melihat mereka berlari kembali masuk ke dalam rumah. Seungcheol memastikan Rai untuk mengunci pintu yang langsung tersambung dengan bagian belakang rumah mereka.
“Wah, daging,” ujar Rai dengan penuh antusias, kedua matanya menatap ke arah Seungcheol yang baru kembali ke ruang tamu membawa 2 gelas berisi susu itu untuk mereka, “Yah, minum susu banget? Udah malem tau, yah.” Seungcheol membalas tatapan si sulung dari kedua anak kembarnya dengan tatapan datar. Rai mendengus pelan, “Biar badan aku tingginya kayak om Mingyu sama om Junhui. Iya, tau, inget kok.” Seungcheol menghela napas panjang, “Kamu sendiri bang yang mau tingginya sama kayak mereka. Udah dikasih tau juga sama bunda kalo kunci buat tingginya setinggi om Mingyu itu banyak-banyak minum susu.”
“Tapi kalo abis minum susu tuh selalu ngantuk.”
“Ya, itu juga tujuan nya kenapa harus minum susu malem-malem.”
Ren sudah kembali duduk di posisinya, menggenggam sumpit yang dipersiapkan oleh Seungcheol. “Udah lah, Rai. Duduk aja terus makan. Kapan lagi ayah mau masak buat kita. Nanti ayah sibuk kerja lagi, kamu sendiri yang sedih nggak bisa ketemu ayah,” ujaran Ren sukses membuat mulut Seungcheol menganga terbuka saking terkejutnya dengan apa yang baru saja ia dengar. Rai mendengus pelan, namun ia tetap mengambil posisi duduk di sebelah Ren. Keduanya bersamaan menatap ke arah Seungcheol, seperti menunggu sang ayah untuk mengucapkan sesuatu, “Yaudah, makan aja, sayang. Ayah makan juga ini. Nanti ayah cek tugasnya satu-satu.”
Anak-anak kembarnya itu pun memakan porsi makan malam mereka masing-masing dengan teratur. Gelas yang berisi air putih dan susu itu pun perlahan mengurang seiring waktu terlewati. Seungcheol mengukir senyum simpul di bibir saat Ren tidak henti-hentinya memberi tahu bahwa makanannya lezat. Walaupun masih jauh dengan kualitas masakan Jeonghan.
Seungcheol mulai mengecek hasil tugas mereka berdua saat Rai dan Ren sudah selesai makan. Rai yang kini menunggu balasan dari sang ayah yang sedang membaca jawaban-jawaban nya, sedangkan Ren sibuk menghabisi susu dari gelasnya sendiri. Metode Seungcheol membantu anak-anaknya dalam akademik memang belum sempurna, ia juga mencoba untuk tidak mengulang bagaimana ayahnya dulu mendidiknya. Tidak dengan kekerasan fisik dan lain-lain, namun kalau kata Jeonghan, ceramahnya dia panjang.
Sekitar 30 menit Seungcheol menemani kedua anak kembarnya itu mengerjakan tugas sampai mereka selesai dan tidak ada kesalahan lagi. Ren berkali-kali mengecek hasil jawaban nya yang sudah dicek oleh Seungcheol, masih sedikit ragu dengan bagaimana ia menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut. Sedangkan Seungcheol sudah membawa kembali piring-piring dan gelas di atas meja ruang tamu untuk dibersihkan di dapur. Rai menguap, sudah tanda-tanda mereka harus tidur.
“Ayah,” panggil Rai yang dibalas dengan gumaman pelan dari Seungcheol, “Ayah nemenin kita sampe tidur lagi nggak? Apa ayah mau langsung ke bunda?” tanya si sulung. Seungcheol sedang sibuk mencuci piring-piring tersebut, hitung-hitung mengurangi beban cucian di esok pagi sebelum Jeonghan bangun dan mengambil alih dapur seperti biasa. “Mau ditemenin ayah dulu? Ayah masih lama sih tidurnya. Tadi Sasa udah balik juga ke kamarnya sama mbak. Mbak juga butuh istirahat udah nemenin kalian dari pagi,” balas Seungcheol seraya mematikan wastafel dan mengeringkan kedua tangan. Rai mengusap kedua matanya yang sudah terasa sangat mengantuk, sedangkan Ren masih berbinar-binar saat Seungcheol menunjuk ke arah di mana lantai kamar mereka berada, “Ayo, jagoan-jagoan ayah. Ayah temenin sampe kalian tidur, ya.”
Seungcheol sebenarnya tidak pernah melewati fase di mana ia harus diceritakan dongeng terlebih dahulu sampai tertidur. Dulu, waktu kecil, ia hanya langsung tidur dan meninggalkan pekerjaan rumah yang masih bisa dikerjakan esok hari. Bukan nya ia kurang kasih sayang dari kedua orang tua, tapi memang begitu kehidupan nya. Bukan hal yang memalukan juga, karena bukan budaya didikan keluarganya.
Jeonghan sebenarnya yang memulai tradisi ini. Setiap Seungcheol harus pulang malam dari kantor, saat itu Rai dan Ren masih jauh lebih muda dari umur mereka sekarang, ia selalu mendapati Jeonghan menceritakan beberapa dongeng lokal kepada kedua anak kembar itu. Terkadang dongengnya juga berasal dari negara-negara lain. Menghasilkan Rai yang cukup hafal dengan karakter-karakter fantasi dan memiliki banyak buku cerita di kamar mereka.
Untuk malam ini, Seungcheol akan menceritakan tentang legenda dari negara Korea Selatan. Ia yakin kedua anak mereka, terutama Rai, sudah hafal dengan cerita ini. Namun keduanya tidak pernah memperlihatkan kebosanan setiap ingin diceritakan cerita yang sudah pernah mereka dengar. Karena yang terpenting bagi mereka adalah presensi Seungcheol dan Jeonghan sampai keduanya terlelap.
Menyaksikan kedua mata Rai dan Ren yang semakin mengantuk, sampai akhirnya mereka tertidur mengukir senyum simpul di bibir Seungcheol. Ia mengembalikan buku dongeng itu kembali ke rak terlebih dahulu sebelum memastikan kedua anak kembarnya terlindungi di bawah selimut tebal nan nyaman itu. Seungcheol menatap pemandangan di hadapan nya itu untuk beberapa detik, banyak sekali perasaan yang bergejolak di dalam hatinya saat ini. Menghembuskan napas pelan, Seungcheol mematikan lampu kamar tidur dan menutup pintu.
Seungcheol kembali menemukan dirinya di dapur. Kompor kembali menyala dan meletakkan potongan daging itu di panci. Entah apa rencananya malam ini, tapi ia memiliki ide di dalam kepala. Jam sudah menunjukkan pukul sekitar 09:30 malam, walaupun baginya itu masih siang.
Menempatkan potongan-potongan daging itu di piring, ditambah ia menyeduh teh hangat sesuai permintaan Jeonghan sebelum diletakkan semuanya di atas nampan. Dengan hati-hati, Seungcheol membawa nampan itu masuk ke dalam kamar tidur mereka. Jeonghan masih berbaring di atas kasur, helai rambutnya menunjukkan bahwa ia menyempatkan diri untuk membersihkan tubuh beberapa momen lalu. Sepertinya saat Seungcheol sibuk menghabiskan waktu dengan Rai dan Ren.
“Bentar, aku ambil mejanya –”
“Nggak, nggak. Aku aja yang ngambil. Kamu diem aja.”
“Terus piringnya gimana, ganteng?”
Seungcheol meyakinkan Jeonghan bahwa ia sedang tidak melakukan hal bodoh saat ini, “Bisa, bisa. Bentar, ini cepet kok.” Jeonghan menahan tawanya saat Seungcheol bersikeras untuk membuka meja kecil itu di atas pahanya, membantu sang istri agar lebih tegak bersandar ke sandaran kasur besar milik mereka berdua. “Oh, masak daging?” tanya Jeonghan seraya menatap nampan di hadapan nya dan Seungcheol bergantian, “Kamu ngasih anak-anak makan daging malem-malem, mas?” sang suami hanya membalas dengan mengusap tengkuknya canggung, “Emang mau dimasakin apa lagi? Sering kok mereka makan malem pake daging.” Jeonghan mengangkat sebelah alisnya, sebelum akhirnya ia tertawa renyah, “Iya dah, terserah kamu. Ini enak sih, kamu selalu enak kalo masak daging.”
Seungcheol duduk di samping kasur itu, menyaksikan Jeonghan memakan suap-demi suapan dari masakan yang sudah ia persiapkan. Meneguk teh hangat sesuai permintaan nya, bergumam panjang seraya kedua mata melebar karena Seungcheol menyeduhnya dengan sempurna. Seungcheol beranjak sejenak untuk membuka laci dari lemari baju mereka. Meninggalkan Jeonghan yang terlalu sibuk dengan makan malamnya.
Saat Seungcheol kembali duduk di samping kasur mereka, sedikit lebih mendekat di mana Jeonghan sedang bersandar. Jeonghan sedang di tengah aktivitas mengunyah daging tersebut saat ia sadar apa yang Seungcheol genggam saat ini. Di genggaman tangan nya terdapat sebuah kotak kecil – seperti kotak cincin, namun Jeonghan tidak ingin berpikiran sejauh itu. Sebelah alisnya terangkat, dahi merenggut karena bingung.
“Mas?” panggil Jeonghan pelan, menatap Seungcheol dan kotak yang digenggam lelaki itu bergantian. Seungcheol menghembuskan napas pelan dan membuka kotak itu, memperlihatkan cincin di dalamnya. Jeonghan terdiam seribu bahasa, masih belum tahu reaksi apa yang pantas diberikan olehnya di momen seperti ini. “Kamu mau nikah lagi?” tanya Jeonghan yang dibalas oleh tatapan datar Seungcheol, “Lah, salah ngomong aku? Kenapa tiba-tiba liatin cincin?” lanjut sang istri yang tidak tahu-menahu tentang apa yang direncanakan oleh suaminya sendiri, “Aku beliin kamu cincin aja. Nggak ada alesan spesial atau apapun itu. Cuman apresiasi sebagai wanita hebat buat keluarga kita.”
Perempuan itu masih terdiam, kedua mata bergerak untuk mencerna informasi yang sedang disuguhkan di depan nya saat ini. Tidak mungkin Choi Seungcheol baru saja membelikan nya sebuah cincin setelah mereka sudah menikah beberapa tahun. Bahkan Jeonghan sekarang sedang mengandung anak ke-4 mereka. Sudah banyak tahun dan argumen yang dilewati oleh mereka berdua sampai sekarang.
Seungcheol memberikan cincin itu yang masih tersimpan nyaman di dalam kotak tersebut kepada Jeonghan. Istrinya memiringkan kepala, mencoba untuk melihat lebih jelas cincin itu seraya mengerutkan dahi. Masih tidak percaya dengan apa yang sedang ia lihat sekarang. Perlahan ia mengambil cincin tersebut dan memutarnya ke kanan maupun kiri di bawah sinar lampu kamar tidur mereka.
“Seung… cheol…” Jeonghan mencoba membaca tulisan di cincin itu. Rasa hangat segera tersebar di dalam tubuhnya, Jeonghan menghembuskan napas panjang, menahan tangis yang selama ini secara tidak sadar ditahan olehnya. “Mas,” panggilnya tidak percaya dan Seungcheol hanya bisa mengusap tengkuk, “Iya, aku udah pesen itu dari lama. Baru bisa aku kasih sekarang. Sebenernya agak takut juga sih kamu tiba-tiba nemu aja di lemari. Soalnya kan aku juga nggak pernah larang kamu buat buka-buka laci lemari bajuku, kan? Udah pasrah aja aku tuh. Cuman setiap pulang, aku cek ke laci, itu cincin masih ada aja.” Jeonghan mengerucutkan bibirnya, “Sebenernya aku liat kotak ini pas aku nyari dokumen kamu itu buat persiapan Sasa masuk sekolah, kan. Registrasi ulang gitu-gitu juga buat abang-abang, cuman nggak pernah kepikiran ini tuh kotak cincin sumpah. Kayaknya karena aku lagi ribet juga deh waktu itu.”
Seungcheol hanya bisa tertawa pelan. Telapak tangan nya bergerak untuk mengusap dengkul Jeonghan dengan lembut. Jeonghan masih sibuk terpukau dengan cincin di genggaman nya. Membandingkan cincin itu dengan cincin pernikahan mereka yang masih terpasang di jari manisnya.
“Boleh aku pake?”
“Ya, aku kasih buat dipake, sayang.”
“Oh, kirain mau digadaiin.”
“Sini dah balikin elah,” Seungcheol mencoba untuk mengambil kembali cincin itu dari tangan Jeonghan, namun sang istri menarik tangan nya lebih cepat. Jeonghan menjulurkan lidahnya mengejek, tertawa lepas seraya menikmati ekspresi kesal dari sang suami. “Makasih ya, sayangku. Ini kayaknya hadiah karena udah bikin aku emosi terus selama beberapa bulan,” tutur Jeonghan seraya memakai cincin itu di jari manisnya, bersamaan dengan cincin pernikahan mereka. Seungcheol menghembuskan napas pasrah, “Itu salah satu alesan nya, cuman serius aku ngasih karena apresiasi juga. Kamu udah ngelewatin banyak hal sebagai istri sama seorang ibu. Apa yang aku rasain selama ini nggak bisa dibandingin sama apa yang kamu lewatin.”
Jeonghan mengerucutkan bibirnya lagi, ia pun meminta Seungcheol untuk menempatkan meja kecil itu sejenak agar ia bisa memeluk sang suami. Namun air mata sudah jatuh lebih dulu ke pipi dan ia pun menangis lebih cepat dari ekspektasi. Pemandangan tersebut membuat Seungcheol harus tertawa sejenak dan mendapatkan erangan protes dari sang istri. Seungcheol menempatkan meja kecil itu sekaligus makan malam yang sudah diselesaikan oleh Jeonghan bersamaan dengan teh hangatnya dan memeluk Jeonghan erat-erat.
“Aku sayang banget sama kamu,” bisik Jeonghan di sela isak tangisnya, menyembunyikan kepala di ceruk leher Seungcheol, “Sayang banget, banget, banget. Makasih udah mutusin buat nikah sama aku beberapa tahun lalu. Makasih udah tetep tinggal sama aku padahal aku banyak nyusahin nya.” Seungcheol menggelengkan kepala, menarik diri dari pelukan itu untuk menyeka air mata di wajah sang istri. “Nggak, nggak. Jangan ngomong kayak gitu lagi ah. Udah berapa kali aku harus ngasih tau kalo semua hal yang kita ributin itu emang ada alesan nya. Aku salah, kamu juga salah, kita perbaiki bareng-bareng,” tutur Seungcheol sembari menatap kedua pandang mata Jeonghan lekat-lekat, “Aku sesayang itu sama kamu sampe kalo kita ribut sebentar dengan alesan sepele nggak bakal bikin aku mau ninggalin kamu. Karena semua permasalahan kita masih bisa diobrolin dan diselesaiin baik-baik, Jeonghan. Bukan nya itu alesan kita kenapa bisa sampe nikah kayak sekarang? Sampe kamu ngandung dan ngelahirin anak-anak kita? Itu semua dari rasa sayang sama percaya kita ke satu sama lain.” Jeonghan masih menangis, menganggukkan kepala karena ia juga mengerti apa yang dimaksud oleh Seungcheol, “Jadi jangan ada ngomong kayak gitu lagi, ya? Ribut kita itu cuman 1 dari 1000 hal yang kita lewatin bareng-bareng. Dibanding ribut juga kita lebih banyak seneng-seneng bareng, kan? Aku masih nggak lupa momen kita ribut sih, tapi kamu ngerti kan maksudku kayak gimana?” pertanyaan Seungcheol membuat Jeonghan harus memukul dadanya sampai meringis kesakitan, “Oke, iya, maaf, maaf. Biar nggak sedih-sedih banget. Harus bercanda hidup tuh, cantik.”
Cowok gila, Seungcheol pikir apa yang Jeonghan pikirkan sekarang, iya tapi gue gila cuman buat lo doang. Dari semenjak mereka menjalin kasih sejak SMA, memang hubungan keduanya tidak luput dari banyak argumen. Hal sepele sampai serius, sebelum menikah pun mereka masih banyak ribut. Menjelang pernikahan saja mereka masih banyak hal yang berbeda opini terhadap sesuatu.
Jeonghan berbohong jika ia tidak pernah dibuat stress oleh rencana dan proses pernikahan mereka. Beberapa kali ia harus mengambil banyak waktu istirahat dan sama sekali tidak bertukar kabar dengan sang calon suami. Seungcheol juga membiarkan dirinya tenggelam dengan banyak pekerjaan, karena ia baru saja memulai karir di perusahaan sang ayah setelah berkelana sendiri. Ribut, berantem, apapun itu, sudah menjadi bagian dari hidup mereka.
Toh, mereka juga sama-sama baru pertama kali hidup di dunia ini. Siapa yang langsung bisa jago hidup, sih? Kalo ada, tolong hubungi Choi Seungcheol.
Jeonghan menyeka sisa air matanya, tertawa lagi saat Seungcheol mengusap cincin barunya di jari manis bersamaan dengan cincin pernikahan mereka. “Kamu nggak ada cincin baru tapi,” ujar Jeonghan seraya masih mengusap sisa air matanya, “Nanti aku beliin juga. Aku kasih tau dulu, nanti kamu pura-pura kaget ya.” Seungcheol pun tertawa mendengar pernyataan Jeonghan yang tidak pernah disaring selama 2 kali itu. Namun ia tetap berujung menganggukkan kepala, “Iya, iya. Nanti aku kaget banget terus lompat ke kolam ikan biar makin wah – aduh, iya, maaf, maaf. Bercanda dikit kenapa sih, Han.”
“Jelek banget humornya lagian.”
“Daripada ribut-ribut mulu.”
“Nggak mau ribut-ribut mulu.”
“Yaudah ciuman ayo.”
Keduanya menutup hari masing-masing dengan berciuman, sesuai permintaan Jeonghan yang akan selalu dituruti oleh Seungcheol. Dengan membisikkan pernyataan-pernyataan penuh kasih dan afeksi di tengah cumbuan mereka, sampai salah satu dari keduanya terlelap merasa disayang lebih dari apapun yang Tuhan ciptakan di dunia ini.
