Actions

Work Header

Gelebah

Summary:

Sekuel Residu, dari sudut pandang Sasuke.

Gelebah: sedih/gelisah. Karena itulah yang dirasakan Sasuke selepas kepergian Naruko.

Notes:

Naruto punya Masashi Kishimoto. Fanfiksi ini dibuat untuk kepuasan pribadi dan bukan untuk kepentingan komersil.

Alias: menyakiti diri, part 3

(See the end of the work for more notes.)

Work Text:

 

There’s always that one stupid mistake that changes everything.


Gelebah


ix

.

Naruko marah padanya. Sasuke yakin seratus persen bahwa satu kampus (setidaknya yang mengenali mereka) tahu hal ini. Sebab, kali ini Naruko terang-terangan menghindarinya. Bukan sebaliknya, seperti yang biasa terjadi.

Tetapi, Sasuke tak ambil pusing. Sebab, tak seperti dia yang minim minat bersosial; kawan Naruko tersebar di berbagai jurusan dan kalangan. Naruko masih bisa tertawa walau Sasuke tak ada bersamanya. Itu cukup.

Seharusnya itu cukup.

Thanks and Goodbye, Sas.

Makasih udah mau jadi keluarga gua saat gak ada yang nganggep gua ada. Sayang banyak-banyak, pokoknya.

Ini tidak cukup.

Satu bogem dari Kiba tidak cukup untuk menyingkirkan rasa tidak percaya Sasuke.

Ini bohong, kan?

Tidak mungkin. Sasuke pasti belum bangun. Kabar telepon itu pasti tak nyata. Walau terasa ngilu, tonjokan Kiba juga hanyalah bagian dari mimpi buruk ini.

Sasuke jelas melihat Naruko tertawa lepas beberapa hari yang lalu, bersama Kiba dan kawan lain. Tawanya terdengar renyah. Begitu lepas dan bebas. Bahagia.

Seolah … dengan melepas Sasuke, lepas pula semua beban yang memberatkan pundaknya.

Tidak mungkin Naruko—

.

viii

.

“Sasuke, dia benar-benar tidak menceritakan apa-apa padamu?”

Sasuke mengerjap. Fokusnya—yang semula penuh oleh tangisan Ibu dari kamar—berpindah pada sang Kakak yang entah sejak kapan duduk di sebelahnya.

“Tidak ada. Kami … sedang bertengkar, belakangan ini. Maaf, Kak.”

Kak Itachi menghela napas. “Kenapa kau minta maaf? Ini bukan salahmu.”

Sasuke hanya menggumam. Tak tahu harus jawab apa.

(Dari isi surat itu … bukankah Sasuke yang salah?)

“Kupikir dia sudah membaik. Terakhir menelepon, dia terdengar sangat ceria.”

Sasuke mengeritkan gigi.

(Sasuke tahu Naruko berbohong soal perban di tangannya. Seharusnya dia curiga—)

“Kupikir juga begitu, Kak.”

“Aku … masih tidak bisa percaya. Rasanya terlalu tiba-tiba—”

Tidak. Tidak ada yang tiba-tiba.

Naruko bisa membual, bisa menampakkan senyum seolah dialah manusia paling bahagia di dunia. Tapi, tubuh dan pancar matanya tak pernah bisa membohongi Sasuke. Seharusnya Sasuke membuka mata. Peka. Bukannya sibuk sendiri.

Ini salah Sasuke.

.

vii

.

“Widih, lihat si mahasiswa teladan. Kaya gak ada dosa banget, ya?”

Hari baru, sindiran baru. Berulang terus begitu, tidak ada habisnya.

“Nyadar gak sih lu, si Naru bundir gara-gara siapa?”

Sasuke tahu.

Tetapi, sudah cukup.

Sasuke tidak bisa membuat keluarga yang tersisa ikut kecewa.

(“Jangan jadikan ini pengganggu kuliahmu, oke? Naru juga pasti ingin kau lulus di kampus impian kalian dengan nilai yang bagus, mewakilinya.”)

.

vi

.

“Gak usah dipikirin mulu. Ini bukan salah Ayang.”

Shut up.

“Beneran bukan salah Ay. Dia aja yang bego, gak bersyukur. Pisaunya juga di tangan dia, kan? Ini bukan salahmu.”

… gak bersyukur?

Tidak, itu tidak benar. Bukan Naruko yang tidak bersyukur.

Tapi, Sasuke.

Sepertinya … Sasuke tahu harus melakukan apa.

“KOK MALAH PUTUSIN AKU?”

“Pikir sendiri anjing. Pusing gua.”

Langkah selanjutnya … mungkin terapi?

.

v

.

“Lu temen yang bangsat, tapi bukan manusia bangsat.”

Sasuke mendengkus mendengar kata-kata Kiba. Memangnya itu beda, ya?

“Lagi goblok aja lu-nya, Sas. Lupa sepenting apa dia.”

Sasuke menggeleng. “Gua gak lupa, Kib.”

Sasuke selalu tahu se-penting apa posisi Naruko. Itu yang membuatnya diam-diam tetap memantau Naruko dari jauh. Memastikan dia tetap tertawa. Tetap bersenang-senang.

“Gua ulang, gua gak lupa. Gua cuma gak mikir kalau gua juga se-penting itu buat dia. Gak nyangka bakal ditinggal … dengan cara gini.”

“Ini kalo gua tonjok, lu bakal marah ga?”

“Gapapa, tonjok aja. Seratus kali kalo perlu, Kib. Gua emang tolol.”

“Gak deh. Males bat, gua. Nonjok lu sampe ompong juga gak bakal bikin Naru idup lagi.”

“ … “

“JANGAN NANGIS, ANJING! GUA JADI PENGEN NANGIS JUGA ELAH!”

.

iv

.

“Ini bukan salahmu, Sasuke.”

“Salahku, Dok. Seharusnya—"

“Bukan salahmu, Sasuke. Kamu berbuat salah sebagai teman? Ya. Seharusnya kau ada di sisinya? Ya. Tetapi, pilihan mengakhiri perjuangan itu ada di tangan Naruko. Itu di luar kuasamu. Ini adalah kekalahan Naruko atas perang terhadap penyakit mentalnya, bukan kesalahanmu.”

“Gak, Dok. Ini salahku.”

“Perlu saya ingatkan? Naruko itu sakit, Sasuke.”

“ … “

“Relakan dia pergi, Nak. Apa yang terjadi, sudah terjadi. Kamu tidak bisa menenggelamkan diri pada ribuan kemungkinan jika kau merubah sikap atau melakukan hal yang berbeda. Kau tidak bisa mengubahnya, karena semuanya sudah terjadi.”

No.

“Ikhlaskanlah, Nak Sasuke.”

No fucking way!

“Kamu melakukan kesalahan, memang. Tetapi, kamu juga tidak boleh lupa apa saja yang sudah kau lakukan untuknya. Syukuri, kau sudah memberi Naruko alasan dan kekuatan untuk berjuang sejauh ini.”

Itu tidak cukup.

“Doakan saja.”

Doakan apa? Semoga dia bahagia karena telah mengakhiri nyawanya? Saat aku pernah menjanjikan aku akan menemaninya hingga ia bisa menikmati hari tanpa awan mendung lagi?

“Lepaskan, Sasuke. Itu pilihan Naru. Kau juga berhak bahagia.”

Benarkah begitu? Meski aku telah membuat sahabat yang sudah kuanggap keluarga sendiri memilih mati?

.

iii

.

Satu tahun penuh.

“Kib, habisin makannya.”

“Tolol. Bangsat. Bajingan.”

“Paksain, ayo.  Dikit banget lu makannya. Hinata yang masak tuh.”

“Keparat.”

Sasuke menghela napas. “Apa perlu gua nari hula-hula, telanjang, di depan gedung rektorat?”

“Pfft! Apaan sih anjir.”

“Serius nih gua. Asal lu ketawa. Gak apa-apa ketawa menghina juga.”

Desperate banget, Njing.”

Kiba tidak tertawa. Tetapi, bibirnya sempat berkedut menahan senyum. Dia juga lanjut menyantap sarapan. Sasuke anggap ini sebuah kemenangan.

Semoga saja, kawan mereka yang lain berhasil membuat Kiba tertawa.

Dia tidak boleh berhenti tertawa.

.

Sasuke takut.

Suara tawa Naruko mulai memudar dari ingatannya.

.

ii

.

“Selamat wisuda, Sasuke Sayang!”

Sasuke tidak percaya mantannya masih punya muka untuk menghadiri acara wisudanya.

“Lu ngapain ke sini?”

“ … aku kira Ayang minta putus karena mau fokus kuliah. Kuliahnya kan udah selesai, jadi—"

“Lu tolol, ya?” Sasuke mendengkus. “I broke up with you because you disrespect my sister.”

“Loh? But you don’t have any sister … ?”

“Punya, tapi meninggal. Lu lupa? Mana lu viralin lu fitnah bisa kaya gitu karena patah hati perasaannya tak berbalas.”

“ … masih juga bahas dia? Bohong ya? Lu beneran sayang sama Naruko!”

She’s my sister! Of course I love her! Sumpah, gua gak tau apa yang lu lakuin sampe bisa bikin gua bucin tolol dan ninggalin dia saat dia butuh gua. Pergi lu! Muak banget gua liat muka kecentilan lu!”

.

“Angjay, Brosuke. Pertunjukan yang sangat fantastis! Bangga banget gua jadi sohib lu, ha ha!”

“Diem, Kib. Malu anjir.”

.

“Menurut lu … Naru bakal bangga sama gua, gak?”

“Setelah sikap lu sama si Ratu Iblis itu? Wah … bangga banget dia, Sob!”

“ … ok.”

“Yah … paling ngejek dikit karena lu mewek.”

“ … “

“Si Anjir nangisnya makin kenceng.”

“Gua kangen Naru, Kib.”

“ … sama. Udah, Sialan. Jangan bikin gua mewek juga.”

.

i

.

“Yo, Nar. Gua baru balik dari nikahan Kiba sama Hinata. Lu kalau liat, pasti seneng banget sih. Mereka keliatan cocok dan saling melengkapi. Apa tuh kata lu waktu itu? Power couple?

Tentu saja, tak ada balasan. Sebab, yang Sasuke hadapi adalah nisan tak bernyawa.

“Gua ikut bantu nyiapin, wakilin lu. Tiap mampir ke rumah ortu, abis dari rumahnya si Kiba, Ibu selalu nanya giliran guanya kapan.”

Sasuke menghela napas, memejamkan matanya. Berusaha menghadirkan bayangan sosok Naruko.

(Tidak berhasil. Bahkan dengan bantuan foto, semua bayangan itu tetap mengabur dalam ingatannya.)

“Jujur, gua gak tahu harus jawab apa. Atau bagaimana menjelaskannya. Gua gak terpikir ke sana, Nar. Rasanya … gimana ya. Lu kan pengen jadi flower girl di pernikahan gua. Kalau diganti … gua enggan.”

Berulang kali berusaha mengatur napas, Sasuke tetap tercekat sendu. Dia berlutut, merengkuh nisan dingin, mengelusnya lembut. Berharap semua itu—kasih sayangnya—dapat tersampaikan dengan jelas pada pemilik nama.

“Gua kangen lu, Naru. Kangen banget.”

.

“Gua janji gua bakal lanjut melangkah. Tapi … plis jangan ngarep terlalu banyak. Apalagi kalau minta gua bahagia, kaya yang lain.

 

“—gua gak sanggup. Gak ada lu yang bakal nemenin ngerayain kebahagiaan itu.”

.

.

.

It’s hard to turn the page when you know someone wont be in the next chapter. Unfortunately, the story must go on.

 

Notes:

udah aja ya, perih sekali nulis enih :''''''

Series this work belongs to: