Work Text:
Namanya… namanya Harina. Itu bukan nama asli paras cantik yang memikat hati saya pada waktu pertama bertemu, itu bukan namanya. Saya hanya ingat ketika remaja pernah membaca sebuah karya sastra kuno tentang seekor hewan mirip rusa yang mereka sebut-sebut sebagai Harina. Saya beri nama itu pada dia, saya sebut ketika sedang sangat mendamba dan membayangkan cumbuan mendarat di bibir.
Saya sungguh menghasrati Harina, karena Harina adalah hasrat itu sendiri. Hasrat yang bergerilya menjamah hingga ke sudut relung hati persis ketika saya berjumpa pertama kali. Saya sendiri juga Harina, karena kadang kala Harina menyatu dalam saya dan kami menjadi diri yang saling menghendaki. Saya mengasihi Harina, sebab Harina selalu suka memendam rindu padahal jiwanya berteriak ingin bertemu. Sebagaimana Harina, saya juga sama merindunya, merindukan Harina adalah penantian yang tidak kunjung usai dalam seumur hidup yang tidak pernah saya sesali.
─── ⋆⋅ ☆⋅⋆ ──
Samuel Maurits Christiaan van Lothringen. Saya sendiri selalu berpikir bahwa nama saya sangat panjang, saya bahkan tidak bisa mengucapkan nama itu dalam sekali tarikan napas dan butuh waktu lama bagi saya untuk mengingatnya ketika masih kanak-kanak. Orang-orang memanggil saya Samuel, mama dan papa, juga pengasuh-pengasuh memanggil saya dengan nama yang sama. Saya lahir di Nederlandsch-Indië, saya dibesarkan di sana hingga waktunya masuk sekolah menengah, lalu papa mengirim ke Nederland.
Saya mengambil studi tentang ilmu humaniora, memberikan saya banyak waktu untuk membaca buku berisi hal yang saya senangi. Papa dan mama memiliki ekspektasi untuk saya agar memilih hukum atau ekonomi, kedua studi itu bakal memudahkan saya untuk mendapat pekerjaan dengan kehormatan tinggi. Saya tidak mau, bukan itu yang saya kehendaki. Saya menyenangi keindahan, saya mengagumi banyak karya sastra dan memiliki banyak kekaguman lain tentang segala keindahan yang disematkan titel seni pada mereka.
Suatu hari surat datang, butuh waktu hingga dua setengah bulan lamanya dari surat terakhir papa yang saya terima. Papa menyuruh saya pulang ketika Zomervakantie, padahal itu masih akan dimulai setengah semester lagi. Ah, mungkin papa memperkirakan waktu kedatangan surat dengan waktu tempuh yang akan saya butuhkan untuk perjalanan dari Nederland ke Indië. Di akhir surat, saya dibuat cukup terkejut dengan permintaan papa yang menginginkan saya agar cuti penuh satu tahun akademik dengan alasan bahwa “anak semata wayang lelaki sudah lama tidak berjumpa dengan kami, mama papa selalu rindu Samuel, di sini.”
Saya tidak keberatan, studi saya bisa dilanjut kapan saja di tahun akademik yang akan datang. Terlebih… Zomervakantie saya akan hilang dengan sia-sia dan hanya bisa dihabiskan melihat pemandangan laut jika papa tidak meminta saya cuti. Saya percaya diri bahwa saya adalah seorang teladan, saya harap mereka tidak mempersulit keputusan yang akan saya buat. Akhirnya… saya pulang, saya sudah sangat rindu dengan semua yang tertinggal ketika terakhir kali menginjakkan kaki di sana. Saya bahagia mengetahui bahwa saya akan bisa segera kembali ke tempat di mana saya dilahirkan, rumah… memikirkannya saja terasa sangat menggembirakan.
─── ⋆⋅ ☆⋅⋆ ──
Kehidupan terus berjalan, saya menempuh studi dengan hati riang karena tahu sudah ditunggu pulang. Pada akhirnya… disinilah saya sekarang. Saya menaiki kapal laut dari Rotterdam menuju Batavia, itu perjalanan yang sungguh amat sangat lama yang membutuhkan waktu tujuh minggu. Tapi tidak mengapa, Batavia seolah mengucapkan selamat datang karena rasanya saya disambut. Aromanya berbeda… sinar mataharinya juga. Saya sungguh tidak sabar karena semakin dekat pada rumah.
Setelahnya saya naik dokar, tidak butuh waktu terlalu lama untuk menuju stasiun Batavia dan memulai perjalanan selanjutnya. Sebagian besar waktu saya gunakan untuk tidur dan membaca buku, banyak buku bacaan dari Nederland yang saya bawa ke Indi ë. Naik kereta terasa cepat, mungkin karena saya sudah terlalu lama di kapal dan seperti selalu terpaku pada langit dan laut lepas, hingga tidak terasa seolah seperti sekejap kedipan mata, saya sudah sampai di Regentschap tempat papa dan mama tinggal serta daerah dimana masa kecil saya banyak dihabiskan.
Sukirno sudah menunggu. Begitu saya keluar stasiun, dia melambai dan menyapa sambil berlari untuk membawakan barang agar bisa segera ditata ke dokar. “Tuan dan nyonya sudah menunggu, mereka tidak putus-putus menggumamkan betapa tidak sabar mereka hendak menyambut kepulangan Tuan kemari.” Saya hanya bisa menggeleng, membayangkan mama dan papa yang pasti sangat girang ketika tahu pada akhirnya saya berhasil sampai tanpa kekurangan sesuatu apapun. “Tuan… katanya akan ada tari-tarian sesaat ketika tuan sudah sampai. Tapi jangan katakan ini pada siapapun, orang-orang berkata kalau ini khusus disiapkan untuk menyambut kedatangan tuan.”
Sukirno, saya harus memanggilnya Bapak karena dia lebih tua daripada saya, tapi suatu ketika dia menolak dan malah mengancam tidak mau mengemudikan dokar untuk saya jika saya tetap bersikeras melakukannya. “Sukirno… kamu tidak berubah, akan berapa banyak rahasia lagi yang kamu bocorkan alih-alih menepati janji untuk diam?” Kami berdua tertawa, Sukirno membawa saya melintasi jalan dan membelah perkebunan yang rindang. Itu sangat menyejukkan mata apalagi ketika jalan mulai menjadi kecil dan sungguh menyempit, seolah hanya ada saya, Sukirno dan satu ekor kuda yang membawa kami berdua.
Ketika sudah sampai di gerbang, banyak pegawai papa yang berlari untuk mengabari bahwa saya sudah tiba dan banyak pula yang menyapa saya hingga mengerubungi dokar yang dikemudikan Sukirno. “Samuel!!” Papa dan mama, orang tua saya yang tidak lagi muda tergopoh-gopoh setengah berlari dengan wajah kegirangan dan bergantian masuk menghambur ke pelukan. “Anakku… Samuel, Samuel…” saya mengejek mama yang menangis, seharusnya tidak ada kesedihan sama sekali dan saya juga tidak akan mengijinkan air mata untuk datang hari ini.
Para pembantu rumah tangga membawakan barang bawaan saya, saya sendiri sudah diseret oleh mama dan papa yang tidak berhenti bertanya tentang kabar-kabar yang mereka dengar dari kerabat tentang Nederland di masa ini. Semenjak menikah, papa dan mama belum pernah kembali lagi ke Nederland karena sibuk mengurus perkebunan, mereka seolah sudah menjadi bagian dari Indië seperti saya yang selalu merindukan untuk kembali ke sini ketika sedang studi di Nederland.
Mama dan papa membawa saya ke aula yang berada di belakang rumah, di sana sudah ramai sekali dengan para pekerja perkebunan dan juga pekerja rumah tangga termasuk Sukirno dan para wanita yang membawakan barang saya dari dokar sebelumnya. Orang-orang bergerombol, saling berbisik dan memperhatikan lalu datang beberapa orang lagi yang akan bergabung dengan kelompoknya masing-masing. Lelaki dengan para lelaki dan wanita pekerja di kebun dengan para pekerja kebun juga, pembantu rumah tangga juga berkumpul dengan sesamanya. Saya melihat calung, beberapa buah gamelan serta kentongan dan angklung, ada juga seseorang dengan seruling dan beberapa wanita yang sudah berhias yang saya asumsikan sebagai sinden untuk acara ini.
Saya tidak tahu apa yang mama dan papa buat, mungkin ini adalah yang dikatakan Sukirno sesaat setelah melihat kedatangan saya dari stasiun yang langsung mengabarkan tentang adanya sebuah tarian yang disiapkan untuk menyambut kedatangan saya. Mungkin ini karena mama dan papa terlalu mengenal saya, keindahan selalu membuat saya tertarik hingga mengantarkan rasa terpukau yang besar, jadi mama dan papa menyiapkan ini semua agar saya merasa senang. Kami bertiga duduk, tempat terbaik untuk melihat agar tidak melewatkan sedikitpun tarian adalah dengan berada di paling depan tepat di tengah-tengah. Papa membuat gesture dengan mata dan anggukan kepala beberapa kali kepada para pemain alat musik dan seketika mereka langsung memulai acara.
Tujuh orang penari masuk, mengenakan selendang merah yang tersampir rapi di bahu. Mereka memberikan penghormatan kepada kami sebelum masuk kepada tarian inti. Tatapan mata yang mengintimidasi dibubarkan oleh senyuman lembut ketika mata saya menabrak netra salah satu dari mereka, mengantarkan perasaan berdebar karena saya juga sangat menantikan. Saya tidak tahu persis apa nama tarian itu, mereka membuat formasi seperti huruf v dengan seorang yang sungguh jelita berada di tengah-tengah. Gerak-geriknya sungguh halus dengan sesekali senyum miring tersungging ketika matanya yang tidak berhenti menatap itu pada akhirnya tertangkap oleh saya sendiri.
Saya berasumsi bahwa jelita yang ada di tengah itu adalah seorang primadona. Orang-orang di sekeliling terang-terangan tidak bisa mengalihkan perhatian hingga melihat dengan mulut setengah terbuka terutama ketika jelita bergerak ke arah dekat mereka. Tidak masalah dengan lelaki atau perempuan karena keduanya seolah terbius oleh penampilan yang lincah dan dinamis tapi juga masih sangat halus yang datang dari ke tujuh penari, tapi saya yakin orang-orang tetap memiliki banyak kesenangan terhadap jelita yang memimpin tarian di paling depan tepat di tengah persis seperti posisi saya duduk sekarang.
Selendang merah itu berulang kali dilempar ujungnya kepada saya seolah mengundang agar menari bersama, si jelita itu yang mengundang namun apalah daya, saya tidak mengerti bagaimana gerak tubuh untuk bisa menari apalagi keindahan ini… saya takut rusak jika saya mencampuri dengan keberadaan saya di sana. Tapi mama dan papa malah menggoda, di dorong kecil bahu saya beberapa kali agar menerima ajakan untuk menari namun saya menolak perlahan karena benar-benar tidak mau merusak keindahan tarian.
Pada akhirnya saya kalah, tiba-tiba saya terpikir tentang mama dan papa yang menyiapkan ini semua khusus untuk kedatangan saya, tentu akan terasa tidak enak jika saya tidak bergabung dan bahkan menolak keinginan mereka yang sungguh sederhana. Maka saya berdiri, menyambut ajakan jelita dengan canggung dan tubuh yang kaku. Orang-orang berteriak ramai, seolah saya merebut kesempatan mereka yang juga sama menginginkan undangan jelita. Dia mengalungkan sebuah selendang kepada saya dan menuntun saya untuk menuju tengah-tengah aula.
Jelita menari, tubuhnya digerakkan menawan dengan jarak kami yang hanya sejengkal. Dia goda dengan selendang yang tersampir di leher saya agar semakin dekat supaya orang-orang yang melihat bersorak semakin kencang karena sungguh… jelita sangat pandai bermain api hasrat untuk menghidupkan tarian.
Saya tetap kaku terdiam, memperhatikan gerakan tubuh jelita yang terpusat dan terporos pada tubuh saya karena sedari tadi tidak sejengkal pun dia berpindah walaupun sebentar. Begitu juga dengan enam penari lain, mereka membentuk sebuah lingkaran yang besar dan menari mengelilingi tubuh kami berdua yang seakan tidak terpisahkan, hingga pada akhirnya Jelita dengan gerak halus melepaskan selendang dan mengantarkan saya untuk duduk, kembali pulang.
Jelita, saya tidak tahu namanya, gerakannya sungguh elok dan anggun serta wajahnya rupawan. Jelita sungguh sangat jelita dengan paras cantik yang tidak pernah saya lihat seumur hidup tinggal di Nederland, semua tentang dia mengingatkan saya tentang sebuah karya sastra kuno berbahasa Sansekerta yang menyebut-nyebut tentang hewan kijang atau rusa sebagai Harina. Jelita itu adalah Harina, dia gemulai namun juga lincah menari dan sangat rupawan. Ingatkan saya untuk bertanya pada papa dan mama tentang sosok asli Harina karena tentu sangat tidak elok untuk saya memanggil dia tanpa nama sebenarnya.
─── ⋆⋅ ☆⋅⋆ ──
“Namanya Rayi. Dia putera seorang pekerja kebun dan suka membantu juga jika papa sedang kekurangan pegawai, dia seorang seniman… setidaknya kami menyebutnya begitu. Banyak waktu dia akan mengajari para anak gadis menari, atau melakukan perjalanan untuk menampilkan tariannya kepada siapapun yang bersedia membayar.” Kami makan malam. Dalam surat terakhir yang saya kirim untuk papa dan mama saya menulis untuk ingin dibuatkan makanan Indië saja. Saya sudah terlalu bosan untuk mengecap rasa Nederland, tapi mama masih saja membuatkan makanan yang masih berbau tanah kelahirannya itu.
Semur lidah sapi, untung saja ini sangat berempah dan manis. Saya makan dengan lahap, dalam ketenangan memakai peralatan makan dan mendengarkan papa bercerita tentang jelita yang sudah saya beri sebutan Harina yang ternyata bernama Rayi. Dalam ketenangan itu sebenarnya saya tidak bisa berhenti heran dan bertanya-tanya tentang dia yang baru saja saya ketahui adalah seorang lelaki, benak saya banyak bergumam sebagai akibat dari betapa menarik informasi yang saya terima dari makan malam kali ini.
Rayi, saya baru tahu kalau lelaki bisa menjadi sangat cantik, sangat indah dengan gerak gerik halus yang menyulut gairah. Berbohong jika saya tidak merasakan sensasi apapun dari tarian Rayi sore tadi, panas… itu lebih menyengat daripada sinar matahari yang terang-terangan mengecup bahu dan leher Rayi yang telanjang. Sungguh, perawakan Rayi sama sekali tidak terlihat seperti seorang lelaki jika sudah dibalut dengan pakaian menari. Terutama jika rambutnya telah disanggul dan pinggulnya terayun ke kanan dan kiri dengan bibir merah yang akan menyunggingkan senyum pengundang birahi, itu sebuah maut yang perlahan menggerogoti saya tadi sore ketika terdiam kaku berdiri di antara hawa panas yang membelai lewat selendang Rayi yang tidak henti-hentinya memaksa agar masuk ke dekapan, ke sela-sela keindahan yang sebetulnya tidak sampai hati saya buat berantakan.
Selesai makan malam papa dan mama menyuruh saya segera beristirahat, tubuh saya memang lelah diterpa perjalanan panjang tapi entah mengapa ketika saya telah benar-benar merebahkan diri di pembaringan, kantuk menghilang dan kepala saya memutar memori beberapa jam yang lalu ketika Rayi, lelaki yang keindahannya sungguh luar biasa itu menampakkan wujudnya pada saya untuk pertama kali, lelaki yang mengantarkan saya pada birahi.
─── ⋆⋅ ☆⋅⋆ ──
Keesokannya saya bangun terlalu siang, matahari sudah tinggi ketika mama membuka tirai jendela dan membuat cahaya mengganggu tidur saya. Papa sudah berangkat mengawasi kebun, entah kebun atau berada di kantor untuk mengerjakan pembukuan, mama bicara terlalu cepat sampai saya terlewat beberapa kali. Hawanya sejuk, hampir kedinginan ketika saya mandi dan akhirnya cepat-cepat menuntaskan itu sebelum menuju ruang makan, saya makan sendirian. Beberapa pembantu rumah menyapa saya dan bercerita sekilas tentang masa kecil yang telah lama berlalu, tapi hebatnya itu seolah masih terjadi kemarin ketika para mbok berbicara.
Ketika mendapat celah untuk kabur, saya pamit undur diri. Mengisi perut dengan apa saja yang terhidang dan bergegas mencari papa untuk ikut melihat-lihat bagaimana beliau bekerja. Rumah ini sangat besar, entah untuk apa papa dan mama membangun rumah sebesar ini jika hanya memiliki keluarga kecil dengan satu anak. Banyak sekali ruangan dengan langit-langit yang pintu dan jendelanya tinggi juga besar sedang terbuka lebar, mungkin agar mama tidak lagi mengeluh bahwa Nederlandsch-Indië suhunya jauh berbeda dengan tempat asalnya.
Saya berkeliling, sesekali menyapa para mbok yang sedang mengerjakan pekerjaan rumah tangga, tidak ada mama di sana. Saya berkeliling lagi, ke berbagai ruangan hingga melewati aula belakang yang kemarin digunakan sebagai tempat penyambutan saya dan tempat pertama kali saya bertemu Rayi, atau seharusnya saya menyebut dia… Harina.
Pada akhirnya saya tidak dapat menemukan papa. Tidak masalah, toh saya juga sudah lelah berkeliling. Saya melangkahkan lagi kaki ke aula belakang, tampak dari kejauhan kebun karet membentang luas sejauh mata saya bisa memandang. Saya bertanya-tanya apakah papa ada di sana, masalahnya adalah papa tidak hanya memiliki kebun karet, namun juga kopi dan teh yang sebarannya bahkan tidak bisa saya ketahui atau perkirakan.
Saya merogoh kantong, mengambil satu bungkus sigaret dan menyulut dengan korek api. Asap tipis membumbung seiring mata saya yang tidak bisa berhenti menatap pemandangan dari aula belakang. Sigaret ini saya bawa dari Nederland, saya belum terbiasa dengan kretek Indië dan mungkin akan terbiasa setelah mencoba beberapa kali lagi. Saya berkebalikan dengan papa, papa menghisap kretek, katanya itu adalah jati diri dia yang sebenarnya.
Selain bertanya-tanya tentang papa, saya juga menyimpan beberapa rasa penasaran tentang alat musik sisa tarian kemarin yang masih ditaruh dengan rapi di sudut aula. Rasa-rasanya saya tidak pernah melihat benda itu ketika kecil atau mungkin itu masih dititipkan dan akan diambil kemudian hari. “Tuan, apa yang sedang dilakukan di sini?” itu Sukirno, dia mengagetkan sekali. “Tidak ada, saya cuma merokok sebentar karena tidak berhasil menemukan papa dan mama. Kau tahu kira-kira di mana mereka?” tampaknya Sukirno telah selesai dengan tugasnya bersama kuda-kuda, peluh membasahi tubuhnya yang sudah dimakan usia tapi masih tegap berdiri seolah masih sangat kuat diterpa angin ribut kehidupan yang merajalela.
“Saya baru saja mengantar nyonya. Sesaat setelah membangunkan tuan, nyonya minta pergi ke gereja untuk melaksanakan pelayanan yang memang selalu rutin dilakukan. Sedangkan tuan van Lothringen pergi mengawasi perkebunan untuk selanjutnya melakukan pembukuan.” Saya tidak heran, papa dan mama orang yang sangat sibuk sekali. Mereka selalu mulai aktifitas pagi-pagi dan bertemu banyak sekali orang, bahkan terkadang mama akan sibuk mendekor ruangan untuk mengadakan perjamuan atau sekedar menyambut tamu-tamu papa yang kebanyakan berasal dari golongan priyayi atau pejabat Nederland dari regentschap yang kami tinggali.
Saya bersandar ke tembok, menghembuskan asap sigaret setelah membiarkan hal itu membakar kerongkongan. Banyak pegawai masih lalu lalang dan sibuk bekerja melakukan beberapa hal di sana sini, hingga awalnya saya tidak menyadari dan menganggap bahwa siluet itu hanya sisa dambaan saya semalam, tapi ternyata tidak. “Tuan, lihat… ada Rayi di sana.” Sukirno meyakinkan sisa pertanyaan dalam kepala saya, ternyata saya memang tidak mengada-ada. Sigaret yang tinggal sedikit itu saya hisap dalam sebelum akhirnya lempar ke tanah, sama sekali tidak ada yang boleh menginterupsi pemandangan yang ditangkap oleh mata saya sekarang ini.
“Apa yang dia lakukan di sana?” Saya bertanya pada Sukirno yang juga masih asik menghisap kretek, ikut menyipitkan pandangan agar tajam untuk bisa menjawab pertanyaan saya. “Mungkin sudah waktunya latihan, tuan. Rayi biasa mengajari anak-anak gadis menari di aula situ, kami semua sangat senang tuan dan nyonya van Lothringen mengijinkan aula belakang dibuat sebagai tempat latihan menari, itu bisa menjadi penghiburan untuk kami saat istirahat siang atau di sela-sela pekerjaan. Rayi itu, sungguh lelaki yang rupawan sekali, tuan. Terkadang beberapa orang akan menggoda dia dengan hanya memanggil ning, ning… karena kecantikannya sudah menyerupai wanita.”
Sukirno tidak keliru sama sekali, apa yang dia ucapkan adalah yang dilihat oleh mata kami berdua tentang rupa Rayi yang sebentar lagi akan menjelma menjadi Harina ketika latihan menari sudah dimulai. Tapi saya tidak suka dengan cara bicara Sukirno, terlepas dari rupa dan perawakan yang menyerupai wanita, tidak seharusnya orang-orang memanggilnya dengan sebutan itu terutama jika hanya berniat menggoda dan tidak Rayi kehendaki. “Berhenti menyebutnya begitu, ya. Toh, dia sendiri punya nama.” Sukirno mengangguk paham dan melontarkan kata maaf pelan.
Setelah kretek itu habis, Sukirno pergi. Saya tidak mencegah dan tidak bertanya lebih jauh karena sudah terdistraksi dengan apa yang netra saya lihat sedari tadi. Harina datang, kali ini rambutnya tergerai panjang, hitam sebahu dengan beberapa helai yang jatuh di dahi dan mata. Memakai selendang juga kain yang menutupi tubuh bagian bawah sampai mata kaki, mirip seperti kemarin. Wajahnya polos, tanpa polesan warna dominan merah yang menghias sebelumnya.
Wajah Rayi anggun sekali, garisnya halus dengan mata yang dingin dan tajam terus memperhatikan beberapa gadis yang tidak bisa berhenti melakukan kesalahan. Saya mendekat, berjalan pelan dari sisi yang tidak bisa mereka lihat dan akhirnya duduk tepat di belakang Harina yang asik bergerak lincah kesana dan kesini memperagakan gerakan tari. Seorang anak gadis melihat saya, dia seolah sedikit takut dan segan namun segera saya beri gesture diam-diam untuk tetap melanjutkan latihan seolah saya sama sekali belum ada di sana. Saya berasumsi mungkin dia akan mengadu kepada Rayi kalau ada orang asing yang masuk ke dalam latihan mereka secara tiba-tiba, saya tidak menghendaki itu, yang saya kehendaki adalah Rayi menyadari keberadaan saya dengan sendirinya.
Tatapannya dingin dan terkesan tidak ramah, nada suaranya lembut tapi saya tidak akan bohong bahwa itu pasti membuat salah satu dari anak gadis itu takut. Harina sosok pelatih yang tegas, tapi sesekali saya akan dibuat takjub oleh pinggang dan pinggulnya yang menari seirama ketukan instrumen yang dia tirukan dengan mulutnya sendiri. Saya tidak tahu apakah begini benarnya, jelita cantik yang belum saya ketahui namanya kemarin hingga akhirnya saya sebut sebagai Harina sungguh berbeda dengan yang saya temui hari ini. Mungkin kali ini dia adalah Rayi yang sebenarnya, sedangkan jelita yang menari gemulai dengan senyum genit dan kepribadian menggoda kemarin adalah Rayi yang lain, Rayi yang seorang penari ketika melakukan tugasnya, Rayi yang saya sebut-sebut sebagai Harina.
“T–tuan. Mohon maaf sekali, saya tidak mengira bahwa tuan berada di sini sedari tadi. Entah kenapa anak-anak itu tidak ada yang memberitahu saya.” Sibuk memperhatikan, lamunan saya dibuyarkan oleh suara manis yang membelai telinga. Rayi telah mengetahui keberadaan saya dan berdiri dengan kepala tertunduk seolah sangat enggan untuk menatap bahkan mencuri pandang. “Oh, tidak masalah. Saya yang melarang mereka untuk memberitahu, saya tidak mau mengganggu hal yang sedang kalian kerjakan. Saya hanya mampir untuk melihat-lihat.” Setelahnya Rayi menyuruh para gadis itu pulang sedangkan dia membereskan beberapa peralatan yang sebelumnya dipakai untuk latihan, saya bersikeras membantu.
─── ⋆⋅☆⋅⋆ ──
ayi sungguh sangat pemalu, dia tidak berani menatap saya sama sekali. Tangannya cekatan melipat beberapa selendang dan menyimpan di dekat alat musik yang terletak di pojok aula. Lagi-lagi saya seolah bertemu dengan Rayi yang lain lagi, Rayi yang pemalu dan mudah tersipu dengan semburat merah muda menjalar pelan di pipi. Hari ini sama seperti kemarin, mataharinya terik dan saya masih juga iri… matahari seolah dengan sengaja mengejek saya karena dia bisa menjadi yang pertama menjamah kulit Harina, mencumbunya.
“Nama saya Samuel, kamu bisa memanggil saya begitu. Saya tahu kamu lebih tua daripada saya.” Itu pertama kalinya saya secara resmi memperkenalkan diri. Rayi memperhatikan saya dengan pandangan yang teduh, bibirnya seolah terbata-bata antara diam mengiyakan atau bicara. “Bagaimana mungkin, saya lancang jika memanggil tuan dengan nama seperti itu.” Saya tidak menghendakinya, lagi pula saya tidak keberatan dan mengapa harus sekali memanggil saya dengan sebutan tuan yang bahkan membuat saya terlihat sudah banyak berusia.
“Kalau begitu… setidaknya gunakan, jika kita hanya berdua.” Tidak ada yang berubah dari sorot mata ataupun bibir Rayi, semuanya masih tampak sama namun satu hal yang berbeda adalah kedua buah pipi yang memerah hingga saya bertanya-tanya apakah sinar matahari siang ini membuatnya demam. Rayi tersenyum kecil, mengangguk pelan dan menyelesaikan pekerjaan yang terakhir, saya minta selendang itu agar bisa menaruhnya di tempat yang sama seperti tadi. “Saya bertanya-tanya apa yang akan kamu lakukan setelah ini.” Saya menggumam lirih, ada perasaan seperti takut jika saya sebenarnya mengganggu atau keberadaan saya di sisinya membuat Rayi tidak nyaman namun tidak berani mengatakan.
“Saya akan istirahat makan siang, tuan. Lalu bergabung dengan ibu, berjaga-jaga jika sore nanti ketika nyonya dan tuan van Lothringen pulang, mereka akan kekurangan orang untuk menyiapkan makan malam.” Saya tidak menjawab lagi, saya mengangguk. Kami berjalan beriringan, tubuh kecil Rayi sudah tidak lagi berporos pada saya, sungguh sangat disayangkan padahal saya mendamba tubuhnya lagi persis seperti kemarin. Awalnya Rayi berjalan di belakang, “tidak sepatutnya seseorang seperti saya berjalan di samping tuan,” katanya. Tapi memangnya kenapa, lagi-lagi saya hanya melakukan yang saya kehendaki, jadi saya tunggu dia dan berikan lambaian tangan agar mendekat dan kami berjalan beriringan.
Kaki kami bergerak seirama, bayangan kami juga sangat serasi ketika melihat tanah yang terkena sinar matahari. Ada sebuah sengatan yang menjalar ketika jari-jari kami tidak sengaja saling bersentuhan, getaran itu seperti listrik statis yang membawa gelombang hasrat dan saya harus menjadi hati-hati agar mereka tidak mengambil kewarasan saya. Namun, sungguh bagaimana bisa, jika pusat dari semua itu terang-terangan sedang berada di sebelah saya tanpa tahu bahwa keberadaannya saja sudah bisa membuat orang lain porak poranda. Harina, saya bertanya-tanya bagaimana jika seandainya saya adalah kekasihnya. Kami kembali ke rumah, para mbok sibuk menyiapkan makan siang dan di situlah saya dan Rayi berpisah.
─── ⋆⋅ ☆⋅⋆ ──
Saya baru bertemu mama dan papa saat makan malam. Kami selalu makan dengan rijsttafel , malam ini saya lihat itu penuh dengan masakan Indië. Para mbok memasak untuk seluruh orang di rumah tapi terkhusus saya dan papa, mama membuatkan makanan dengan tangannya sendiri. Mama sangat terampil, ada sambal dan semur yang menjadi makanan kesukaan saya, juga kudapan lain yaitu kroket dan poffertjes yang diberi taburan gula halus. Mama dan papa bercerita, awalnya mereka tidak melangsungkan rijsttafel dengan hanya menghidangkan bermacam lauk lalu menaruhnya di meja.
Orang-orang Nederland yang tinggal di Indië terdahulu, mereka akan membuat para pembantu berdiri sambil memegang nampan berisikan lauk dan mereka semua hanya akan bergerak saat dipanggil untuk tambah atau ketika makanan itu pertama kali terhidang. Kedatangan awal mama dan papa kemari, mereka melakukan itu namun lama kelamaan itu seperti hal yang tidak elok lagi mereka rasa untuk lakukan. Ketika saya lahir itu juga sudah tidak pernah dilakukan di rumah ini, tapi saya pernah mengalami hal itu ketika mendatangi jamuan di tempat rekan papa.
Itu jamuan besar, belasan atau mungkin puluhan pribumi lalu lalang menghidangkan makanan untuk selanjutnya berbaris rapi menunggu kami. Kata mama dan papa, itu yang tuan rumah lakukan untuk menunjukkan status dan kekuasaan atas regentschap atau wilayah yang mereka tinggali. Mama dan papa tidak menyukai hal yang seperti itu, kami bisa melayani diri kami sendiri untuk makan malam dan itu sudah sangat lebih dari cukup.
“Samuel, maafkan mama dan papa, sayang. Kami akan sangat sibuk untuk beberapa hari karena tuntutan bekerja, kami akan minta kepada Sukirno untuk menemani kamu berkeliling. Ada banyak yang bisa dilihat di sini, kamu pasti sudah kebosanan menatap Nederland setiap hari.” Sebenarnya saya sungguh ingin merajuk, kenapa pula papa minta saya pulang ke Indië jika hanya ditinggal karena kesibukan bekerja, tapi rasa kesal itu perlahan memudar seiring rasa manis semur yang memenuhi mulut.
“Atau… bilang saja, mungkin kamu ingin ditemani oleh seseorang yang lain. Papa dan mama hanya tahu kamu akrab dengan Sukirno di sini.” Sepertinya tubuh saya telah total diambil alih dan mulut saya bergerak lebih cepat daripada yang dapat saya kendalikan atau sadari. “Saya ingin ditemani oleh Rayi.” Tidak ada yang aneh dari reaksi mama dan papa, mereka berdua mengangguk maklum dan masih sibuk dengan garpu dan sendok makan. “Ide yang bagus, saya pikir akan menyenangkan untuk Samuel bisa bergaul dengan teman sebaya. Di sini banyak berisi orang tua, pa.”
Mama menimpali dengan mulus, mendukung saya agar bisa menghabiskan waktu lebih dengan Rayi. “Papa akan beritahu Sukirno besok agar mengantar kalian berdua menggunakan dokar.” Itu tentang Sukirno, mudah saja. Tapi bagaimana dengan Rayi, bagaimana jika dia tidak berkenan atau sudah memiliki hal lain yang akan dikerjakan. Tapi sepertinya saya tidak perlu terlalu risau, jika yang menghalangi Rayi adalah pekerjaan dari mama atau papa maka saya tinggal bilang bahwa itu bukan lagi yang dikehendaki mereka.
Malamnya saya tidak bisa tidur, ini hampir tengah malam tapi mata saya seolah enggan sekali terpejam. Saya khawatir tentang hari besok, saya khawatir tentang Rayi dan bahkan saya khawatir tentang diri saya sendiri. Ini menakutkan, saya terjatuh semakin dalam dan sangat susah untuk bangkit dan seolah tinggal menunggu rasa sakit menyerang. Rayi menguasai saya, dalam diam, dalam keheningan, dalam semburat merah di wajahnya ketika merasa tersipu. Rayi menjerat saya, lewat tatapan mata, lewat suara, lewat gerik halus yang menjebak dan membuat saya enggan bergerak. Saya terbunuh, saya binasa sejak pandangan pertama.
─── ⋆⋅ ☆⋅⋆ ──
Sukirno menyambut ketika saya selesai sarapan dan telah menginjakkan kaki di teras, bersamaan dengan itu mata saya segera terpaku kepada Rayi yang sungguh jelita ikut menunggu berdiri di belakang Sukirno sambil masih enggan menatap, tapi saya senang karena mendapati dia telah berani sesekali mencuri pandang dengan malu-malu hingga membuat saya tersenyum girang. “Kata papa ada sebuah danau dengan pemandangan yang indah, di mana itu?”
Saya bertanya pada Sukirno sambil lanjut berjalan menuju dokar, saya biarkan dua orang itu kebingungan mengikuti langkah kaki saya yang mungkin terlalu cepat karena saya sendiri sudah sangat tidak sabar. “Itu makan waktu mungkin setengah hari, para mbok sudah membuatkan kita bekal, tuan. Semuanya aman jika pun kita harus kembali saat matahari terbenam.” Maka kami berangkat, mengelilingi regentschap dengan dokar yang membelah lalu lalang orang di jalan. Rayi duduk di sebelah saya, sungguh dekat.
Aroma tubuhnya menguar harum hingga membuat saya sedikit gila. Wajah Rayi ketika tidak dipoles sungguh sederhana, matanya sungguh besar sesekali membulat cantik ketika saya menunjukkan sesuatu atau ada sebuah hal yang menarik perhatian kami bertiga. Wajahnya kemerahan terkena cahaya matahari dan saya bisa melihat beberapa titik tahi lalat yang menghiasi rupa eloknya, tidak bisa saya berhenti perhatikan sepanjang perjalanan ini. Lalu ada bibirnya, saya bertanya-tanya bagaimana rasa ketika mendaratkan kecupan di sana. “Sukirno.” Saya membuat sebuah keputusan, hasrat saya terhadap Rayi tidak akan membuahkan apa-apa jika saya selamanya bungkam, maka alih-alih membungkam diri sendiri, saya lebih memilih untuk membungkam Sukirno.
“Saya tahu kamu tidak pandai membuat janji, namun kamu seharusnya tahu apa kiranya yang bisa saya lakukan sebagai seorang Nederland yang juga memiliki papa seorang tuan tanah jika kamu tidak mentaati apa yang kali ini saya minta kamu lakukan.” Hawa menjadi canggung, Sukirno tidak berani menjawab sama sekali sedangkan Rayi sendiri terduduk dengan kaku. “Saya hanya minta kamu tutup mulut. Apapun pembicaraan yang keluar dari mulut saya dan Rayi hari ini, lalu apapun yang sekiranya kamu lihat, hendaknya kamu simpan sendiri. Saya kira… saya sudah membuatnya cukup jelas, Sukirno?”
Sukirno menjawab dengan tegas dan mantap, saya sangat mempercayai dia terlepas dari kepribadiannya yang kadang sembrono. Sukirno sudah menjadi sosok paman yang sungguh dekat dengan saya, beliau yang selalu menemani saya semenjak kecil sebelum papa mengirim untuk studi ke Nederland.
Lalu mata saya teralihkan kepada Rayi yang keheranan, Rayi menatap saya dengan dahi berkerut yang saya inginkan untuk kecup. “Saya tidak bermaksud apapun, saya hanya ingin kita bertiga bisa bebas bersenang-senang hari ini.” Itu mengawali segalanya menjadi menyenangkan, di hari itu… saya seolah benar-benar merasa hidup. Saya bisa menjadi orang yang sungguh terang-terangan, saya bisa menjadi sedikit gila ketika sesuatu sudah sepenuhnya menguasai kepala saya, persis seperti kehadiran Rayi di sebelah saya sekarang.
Mungkin Rayi sedang menyumpahi saya di dalam hati karena sedari tadi saya tidak bisa melepaskan pandangan mata demi menemukan wajahnya yang cantik sedang menahan senyum karena malu. Saya bilang padanya agar senyum itu dilepaskan saja, saya juga telah menegur Sukirno yang tidak sengaja menyebut Rayi hanya dengan panggilan “ning” dan membuat orang tua itu berjanji untuk tidak melakukannya lagi. Saya juga bilang pada Rayi agar dia bersikap biasa saja, terutama karena usia Rayi lebih tua, dia seharusnya yang saya hormati dan bukan sebaliknya.
Kami berhenti untuk makan siang, saya tidak tahu apa yang dibawakan para mbok karena menyuruh Sukirno dan Rayi untuk makan terlebih dahulu karena saya ingin melihat-lihat sekitar. Ada pasar di dekat situ, saya mampir untuk minum air manis dari nira aren dan menghabiskannya dalam beberapa teguk, ada beberapa kudapan ringan juga, kue-kue manis dan kacang rebus, saya membeli beberapa untuk Rayi dan Sukirno yang sepertinya sudah mulai menyantap makan siang. Sekembalinya saya ke dokar, mereka berdua bahkan sudah selesai, Rayi sedang minum air dari perbekalan dan bertanya-tanya tentang keberadaan saya yang menghilang sebentar.
Giliran saya yang tersipu, dengan malu-malu saya serahkan beberapa jajanan manis untuk Rayi dan ketika menerimanya dia sungguh gembira, saya juga sama gembira seperti dia. Sukirno menyuruh saya makan, tapi saya enggan melakukannya. Saya sudah kenyang karena terlalu senang, bagaimana tidak… Rayi sampai mengucapkan terima kasih beberapa kali dan menyantap jajanan itu dengan senyum yang tidak berhenti tersungging, senyuman yang sungguh polos hingga mengingatkan saya pada waktu dulu ketika mama membuatkan taart ketika saya berhasil menjadi anak baik selama jangka waktu tertentu.
Saya kira letak danau itu masih jauh dan akan memakan lebih banyak waktu lagi, namun ternyata tidak. Saya langsung menyadari ketika angin yang berhembus semakin sejuk dan kami sudah masuk wilayah hutan yang sungguh rimbun di kanan dan kiri, setelah dokar berjalan tidak berapa lama, kami bertiga sampai di sana. Saya tercengang, padang bunga terhampar dengan sebuah jalan setapak terhubung ke dermaga kayu kecil yang menjorok langsung ke danau. Rasanya sungguh seperti mimpi, hanya ada kami bertiga di sini diapit oleh hutan dan perbukitan, mengingatkan saya pada karya-karya romansa yang belum habis saya baca setelah membawa bukunya dari Nederland ke Indi ë.
Sukirno berkata bahwa dia tidak bisa menemani saya dan Rayi bersenang-senang di danau, dia berkata bahwa orang tua membutuhkan tidur siang dan saya kira itu akan jadi lebih menyenangkan juga tanpa dia. Tidak ada lagi yang menghalangi saya, jadi saya genggam tangan Rayi dengan sangat lancang dan berharap dalam hati semoga kelancangan itu dimaafkan. Saya mengambil tangan itu dan menggenggamnya erat seolah itu adalah bagian dari diri saya sendiri, kami berdua berlari.
Di antara angin yang berhembus hangat dan suara katak yang entah menggema dari mana, suara Rayi yang tertawa juga ikut mengudara. Saya bahagia, hati saya sungguh penuh dan jika pun dibelah hanya ada Rayi di sana yang menggerogoti saya perlahan lalu selanjutnya saya akan mati dengan senyuman. “Saya senang sekali, tuan!! Saya… saya seperti bermimpi.” Maka pasti saya juga sedang bermimpi dan mencari bagaimana cara agar mimpi itu tidak akan bisa disudahi. Tiba-tiba saya teringat, saya berhenti berlari dan membuat Rayi yang tertawa menjadi bertanya-tanya.
Saya membawanya lebih dekat, menuntun tubuhnya agar bisa perlahan merengkuh pinggang untuk kemudian mengatakan, “panggil saya Samuel jika sedang berdua saja, saya mohon.” Saya menjebaknya, dia tidak bisa menolak, dia juga bukan seperti ingin melepaskan diri dan ketika angin hangat berhembus semakin kencang… itu tidak hanya menggelitik hati saya karena Rayi terang-terangan tersenyum sedemikian indahnya, tapi juga membawa aroma yang mereka sebut-sebut sebagai cinta, karena walaupun dengan malu-malu pada akhirnya, “saya… saya bahagia Samuel.” Rayi menyebut nama saya.
─── ⋆⋅ ☆⋅⋆ ──
Rayi menunggu di dermaga, mengayunkan kaki dan membiarkan dinginnya air membelai kulit hingga dia gembira. Jelita, sungguh tidak sanggup lagi saya berjauhan dari dia tapi saya memberi jarak sebentar karena tidak bisa menahan hasrat untuk mengambil beberapa tangkai bunga yang tumbuh liar untuk diberikan pada Rayi yang sedang menatap air dan menunggu kehadiran saya di sana. Kebanyakan dari bunga itu berwarna merah muda, beberapa berwarna putih dan saya memutuskan untuk mengambil keduanya karena Rayi pasti akan suka.
Pikiran saya melayang jauh, membayangkan akan jadi seindah apabila beberapa bunga itu bisa tersemat di telinga dan menjadi hiasan rambutnya, tentu saya tidak akan berhenti terpesona. Setelah puas memetik beberapa tangkai, saya menuju ke arah Rayi yang telah melihat saya dari kejauhan, wajahnya seolah memohon agar tidak lagi ditinggal sendirian, maka saya setengah berlari karena sudah ditunggu bidadari.
Saya duduk di sebelah, merapatkan jarak dan memastikan tidak ada celah yang akan menginterupsi kami berdua. “Saya petik, untuk kamu.” Rayi menerimanya dengan sukacita. Tangannya terulur untuk menggapai bunga yang saya genggam dan dia taruh bunga itu ke dalam dekapan, tangannya yang tidak sengaja bersentuhan masih terasa sungguh menyengat di kulit saya yang belum terlalu terbiasa, mungkin jika saya masih memiliki cukup kesadaran… genggaman tangan tadi sudah sangat bisa untuk membuat saya binasa.
Di dekat kami ada sebuah tanaman ilalang, mereka juga memiliki bunga yang jika ditiup dapat berterbangan. Saya petik bunga itu dan meminta izin kepada Rayi agar bisa menyematkan pada telinganya, menyempurnakan keindahan yang sungguh terpuji di sebelah saya. Saya sentuh rambutnya, saya bawa itu ke belakang agar tidak menghalangi bunga dan telinga, maka setelah itu tersemat, tersemat pula hasrat yang menggugah sedikit birahi pada diri saya sekarang ini. Pipi dan leher telanjang yang seolah berkata agar saya menjamahnya segera, mereka melambai supaya cepat-cepat bisa disentuh dan ketika itu terjadi, saya akan kembali hilang akal untuk kesekian kali.
“Maafkan saya.” Saya mengatakan itu sembari membelai ringan rambut Rayi yang masih saya genggam, mencari sebuah penghiburan lain di antara kesenangan yang berhasil kami berdua ciptakan. “Untuk apa, Samuel?” Saya tersenyum, Rayi memandang saya sekilas lalu menghidu beberapa tangkai bunga di genggamannya tanpa henti, seperti hidupnya sekarang benar-benar bergantung pada hal itu, keindahan dengan keindahan lainnya. “Untuk semuanya. Karena menggenggam tangan kamu tanpa permisi, juga karena mengancam Sukirno supaya dia tidak membicarakan apapun tentang hari ini kepada orang lain. Saya… saya cuma, saya bahkan tidak tahu harus berkata apa.”
Rayi juga tidak mengatakan apa-apa, senyumannya tipis dan tampak sedikit menyeringai hampir seperti Harina. Jemarinya yang bebas dan tidak menggenggam bunga tiba-tiba merayap tanpa suara dan seketika, dengan pelan namun pasti meraih tangan saya untuk dibawa ke pangkuannya. Dia buka tangan saya, di usap perlahan dan menautkan jemarinya sendiri ke sela-sela jari saya yang bergerak gugup. Rayi masih tanpa suara, atau seharusnya saya panggil dia Harina karena Rayi biasanya sungguh pemalu tapi di bawah sentuhan Harina, saya lah yang akan teronggok kaku seolah Harina punya kuasa yang mutlak pada diri saya yang bahkan bukan miliknya sendiri.
Pandangan Harina melihat kepada kejauhan, kepada bukit yang menyaksikan semua permainan kami berdua sedari awal, lalu kaki itu bergerak. Di bawah air yang dingin dan sungguh bening, kaki Harina merapat kepada kaki saya dan membelai punggung menggunakan jari-jari kakinya yang kecil, saya tersengat lagi… untuk yang kesekian kali. Wajahnya sungguh tenang, dalam keheningan itu dia berkata pelan “saya tahu,” lalu menyandarkan kepalanya ke bahu saya yang ingin tumbang karena telah jatuh dengan sangat hebat dan masuk ke dalam ketidakberdayaan dikarenakan Rayi seorang. Ada sebuah kuasa di sana, kuasa tidak kasat mata yang seolah menguasai saya hingga hanya bisa diam karena sungguh… saya telah ditaklukkan dan terlena dengan sempurna.
─── ⋆⋅ ☆⋅⋆ ──
Hari semakin sore, udara tidak lagi panas dan angin yang berhembus tidak lagi hangat namun menjelma menjadi dingin. Saya memutuskan untuk segera pulang, lagipula saya juga sungguh mengkhawatirkan Rayi karena bisa jadi angin malam membuatnya sakit atau kelelahan jika kembali ke rumah terlalu larut. Sukirno menunggu kami di dokar, tidak mengatakan apapun setelah mendengar titah saya agar segera kembali sekarang juga.
Dokar berjalan menyusuri hutan dan beruntungnya kami bisa keluar dari sana sebelum matahari benar-benar tenggelam. Mungkin Rayi terlalu kelelahan, maka saya biarkan tubuh kecil itu masuk dalam dekapan dan mengistirahatkan kepalanya di paha saya sambil memejamkan mata, sesekali akan saya belai rambutnya untuk mengatakan bahwa semua baik-baik saja dan saya benar-benar selalu akan ada di sisinya untuk membuat Rayi merasa bahagia.
Saya tiba tepat saat makan malam dimulai, para mbok memberitahu bahwa mama dan papa sudah mulai makan terlebih dahulu dan berkata bahwa ada baiknya saya segera menyusul ke sana. Saya sungguh kelelahan, tapi perkataan mbok juga tidak patut untuk saya acuhkan begitu saja, jadilah saya menuju ruang makan dan mendapati rijsttafel lagi-lagi disajikan. Saya bertukar kabar sebentar dengan mama dan papa hanya supaya bisa segera pamit undur diri karena terlalu mengantuk dan letih, mama bertanya apakah saya merasa sakit di sana sini dan jawabannya tidak, saya hanya ingin segera tidur.
Hari itu saya tidur lelap sekali, pertama kalinya dalam beberapa hari sejak kepulangan saya ke Indië. Saya bahkan bermimpi indah, melihat sebuah siluet seorang jelita yang menari di kejauhan, dia menari di antara padang bunga beraneka warna yang saya yakin sekali itu adalah Harina.
Saya bangun dengan sendirinya, mbok yang menyiapkan keperluan saya berkata bahwa mama tidak ingin mengganggu dan menginginkan saya istirahat lebih lama karena terlalu letih semalam. Tapi sebenarnya, sudah tidak apa-apa dan bahkan saya lebih bertanya-tanya bagaimana kabar Rayi. Saya pergi membersihkan diri, berendam sejenak dan segera membilas tubuh sambil berpikir apa kira-kira yang akan saya lakukan untuk menghabiskan hari. Jawabannya tidak ada, saya sedang malas melakukan apa-apa. Pada akhirnya saya berjalan gontai menuju ruang makan, aroma roti yang baru saja matang memenuhi indra penciuman dan perut saya tiba-tiba sangat kelaparan, mungkin karena rasa bahagia semalam hanya tinggal sisa-sisanya saja, itu sudah tidak bisa lagi menghilangkan rasa lapar di perut saya yang kosong.
Saya ambil beberapa potong roti itu, mengolesnya dengan mentega dan mengunyah perlahan, lagi-lagi bayangan Rayi hinggap di kepala, saya bertanya-tanya sedang apa dia, apa yang kira-kira sedang dia lakukan sekarang dan sudahkah dia makan sesuatu pagi ini. Lalu, bisakah dia tidur semalam dan apakah dia bermimpi, karena jika iya mungkin yang saya lihat adalah benar-benar Harina. Saya ingin tahu perasaannya, apakah dia bahagia ataukah dia merasa sedih dan jika dia merasa sedih… bolehkah saya kecup bibirnya karena saya telah berjanji akan selalu berada di sisi dia untuk memberikan segala penghiburan yang dia butuhkan.
Saya berkeliling sebentar, para mbok menawarkan mungkin saja saya mau dibuatkan sesuatu untuk kudapan atau makan siang, tapi saya berkata “nanti dulu, beri saya waktu untuk berpikir.” Lalu undur diri untuk sekali lagi mengitari rumah, dari satu ruangan ke ruangan lain hingga bangunan satu ke bangunan lain. Saya tidak heran lagi jika tidak menemukan mama dan papa karena sudah diberitahu bahwa akan sibuk mengurus ini itu, tapi saya bahkan tidak bisa menemukan Sukirno apalagi Rayi.
Aula belakang yang biasanya akan digunakan saat latihan juga kosong, hanya ada pemandangan alat musik yang masih tertata rapi di sudut dan selendang yang dilipat menandakan bahwa pernah ada keberadaan saya dan Rayi di sana, atau lebih tepatnya… Harina. Maka saya memutuskan untuk kembali ke rumah, membongkar beberapa bawaan dari Nederland terutama buku-buku yang janji akan selesaikan ketika sampai ke Indië, hari itu semua masih berjalan menyenangkan walaupun saya hanya sendirian, saya pikir sesekali berteman dengan kesendirian sama sekali tidak buruk.
─── ⋆⋅ ☆⋅⋆ ──
Sebenarnya, saya tidak mau terburu-buru menyebut bahwa perasaan saya kepada Rayi adalah sebuah cinta. Cinta itu begitu agung, begitu berat rasanya untuk saya pikul sendirian. Begitu suci dan tidak elok saja rasanya menyematkan kata itu untuk perasaan saya yang seperti terbangun tidak lebih dari semalam. Tapi… saya menginginkan Rayi, saya mendamba setiap yang tubuh dan jari jemari Rayi lakukan pada saya, setiap yang dia ucapkan selalu menghantui dan suara itu… suaranya, saya ingin dengar itu untuk waktu yang lama, hingga selama-lamanya jika bisa. Jadi, tidak ada kata lain yang bisa saya sematkan untuk bantu menafsirkan semua yang diakibatkan Rayi pada saya, tidak ada yang lain… tidak ada satupun, saya rasa.
Di antara kata demi kata dari buku yang saya baca, sekelebat bayangan tentang eksistensi Rayi kembali hadir dan saya tidak bisa untuk berpura-pura tidak peduli. Sambil duduk di kursi meja kerja yang menghadap langsung pada matahari, saya tersenyum sendiri. Saya masih membayangkan kilauan matanya, halus rambut dan suaranya ketika menyebut nama saya untuk pertama kali dengan penuh tersipu. Bagaimana bunga dia genggam dan saya sematkan ke telinga, serta kepalanya ketika beristirahat di bahu, semuanya seolah membuat saya ketakutan karena saya rasa… saya sungguh benar-benar tenggelam.
Danau itu seperti diselimuti kabut, namun warnanya merah muda dan keseluruhannya beraroma harum seperti tubuh Rayi, seperti Harina. Mungkin di hari itu kami pada akhirnya menjadi pribadi yang menghendaki satu sama lain, Rayi sama sekali tidak menolak saya atau menunjukkan gelagat bahwa dia takut atau merasa tidak nyaman terhadap apapun yang telah saya lakukan. Saya tahu… bahwa dia benar-benar tahu, tanpa perlu lagi menjelaskan atau bertingkah ini itu. Oh, Harina… kapan kiranya sebuah masa itu datang ketika kamu akhirnya menjadi milik saya seutuhnya.
Selanjutnya saya tidak tahu sejak kapan saya tertidur, hari sudah berubah menjadi petang dengan buku yang menutupi muka dan saya masih terduduk di kursi meja kerja. Ah, saya tidak akan bisa tidur malam ini. Maka saya segera bergegas untuk makan malam, berasumsi pasti rijsttafel lagi-lagi disajikan dan saya harap akan ada semur di sana.
─── ⋆⋅☆⋅⋆ ──
Tiga hari sudah saya tidak bertemu Rayi, saya kira tubuh saya hampir panas dingin dan sungguh tidak sanggup lagi memendam rindu. Saya sendiri heran, bagaimana bisa baru beberapa hari pulang ke Indië perasaan saya sudah dibuat benar-benar tidak karuan. Bertahun-tahun saya tinggal di Nederland, tidak seorang pun lelaki atau perempuan yang pernah membuat saya sedemikian tidak kuasa dan tidak berdaya terhadap diri saya sendiri. Saya seolah hidup bukan lagi seperti Samuel yang biasanya, karena Samuel yang sekarang sungguh membutuhkan Rayi dalam seluruh kehidupan yang dia jalani. Saya beruntung, Sukirno ada di tempat ketika saya memang sedang mencarinya, tidak lain dan tidak bukan adalah untuk mengetahui keberadaan pujaan hati saya barangkali orang tua itu mengetahui.
“Dia sibuk di perkebunan, dari kebun karet ke kebun kopi lalu ke kebun yang lain.” Hanya jawaban yang tidak terlalu memuaskan itu yang berhasil saya dapatkan. Lelah, saya ajak Sukirno untuk merokok dan membagi sigaret untuk dia, tapi terang-terangan dia tolak karena katanya sigaret tidak terasa apa-apa. “Hari ini… tidak akan ada lagi latihan menari, bukan begitu?” Mata Sukirno menyipit lalu terpejam, terlena dengan asap hisapan kretek yang melewati kerongkongannya.
“Saya kira ada, hari ini sudah tidak terlalu sibuk dibandingkan dengan kemarin-kemarin.” Hati saya resah, bagaimana jika ucapan Sukirno itu hanya angin lalu untuk membuat saya merasa lebih baik. Bagaimana jika saya total mempercayai tapi ternyata saya hanya akan dikecewakan nanti. “Tidak bisakah kau sampaikan padanya kalau saya sungguh sedang merindu?” Saya tidak melihat ke Sukirno, saya hanya akan menunggu jawaban apa yang dia lontarkan dari keheningan yang dia bawa sejenak karena tidak langsung menjawab pertanyaan itu. “Dan membiarkan orang-orang tahu?” Giliran Sukirno yang membungkam saya, saya telak mati kutu.
Tapi yang Sukirno katakan itu rupanya-rupanya benar. Itu dimulai sore hari hingga petang, tidak seperti kemarin yang menyelinap ketika Harina dan anak-anak gadis itu sedang berada di tengah-tengah latihan menari, saya menunggu ketika mereka selesai dan Harina lagi-lagi sedang melipat selendang dan membereskan beberapa peralatan. Saya datang dari arah belakang dan walaupun tidak bermaksud, ternyata itu tetaplah membuat dia terkejut. “Tu— Samuel. Kamu mengagetkan saya.” Indah sekali, bagaimana mata itu bercahaya dan suaranya menjadi sungguh girang ketika mengetahui bahwa saya ada di dekat keberadaannya.
“Lama sekali saya tidak melihat kamu.” Saya ambil selendang-selendang itu agar bisa membantu untuk dilipat dan membiarkan dia menunggu saya agar bisa rehat duduk sejenak. “Banyak yang harus saya bantu di perkebunan.” Oh, betapa saya mendamba agar bisa mendengar suara itu lebih lama. Saya sudah lama tidak bertemu Rayi dan ketika bertemu malah akan membebaskan dia begitu saja, tentu tidak bisa. “Saya harap kamu punya waktu setelah ini, mari kita menyelinap.” Saya harap mama dan papa tidak mencari saya karena mungkin belum pulang pada jam makan malam, saya tidak peduli… saya hanya ingin melakukan hal yang saya kehendaki dan saya sungguh menghendaki Rayi malam ini.
Saya menggenggam tangannya. Di tengah langit menjelang malam yang warnanya membias keunguan, kami berdua menyelinap supaya tidak diketahui orang-orang. Rayi bilang kalau di dekat sini ada sebuah bukit yang biasa dia kunjungi ketika hanya ingin sendiri dan kali ini… dia menunjukkan tempat itu pada saya. Itu benar-benar tidak jauh, sedikit dari aula belakang adalah jalan setapak yang sedikit menanjak sampai akhirnya kami berdua bisa melihat pemandangan rumah, sawah serta perkebunan dari puncaknya. Rayi mengajak saya duduk, kami beralaskan rumput dan tanah yang lembut lalu Rayi dengan perlahan mengistirahatkan tubuhnya sambil memejamkan mata.
Saya membelai rambutnya, itu mungkin cukup mengganggu sampai dia harus membuka mata. Mata hitam pekat itu menembus ke dasar hati saya, seolah ingin meyakinkan bahwa pertanyan-pertanyaan tentang cinta yang selama ini cukup lama membayangi adalah tidak benar adanya, yang ada hanyalah saya dan Rayi lalu hati kami yang saling menghendaki. Kerinduan itu sungguh sudah di ujung, rasa senang saya seolah berubah menjadi rasa sakit karena keindahan seorang Rayi akhirnya dapat saya rengkuh kembali, Rayi tidak kemana-mana, tidak akan kemana-mana karena Rayi adalah milik saya.
“Oh, Rayi… kamu adalah yang saya kehendaki, semua hasrat dalam dada dan pertanyaan yang terlintas ketika tidak bisa tidur di malam hari. Saya sungguh menderita, semuanya karena sebuah perasaan yang benar-benar menjebak dan menggerogoti saya perlahan dari dalam. Kerinduan itu menyakitkan namun saya sungguh amat sangat merindu. Rayi… bolehkah saya mencintai kamu?” Saya singkirkan anak rambut yang menutupi wajah dan kedua matanya, netranya berkaca-kaca dan seketika saya dirundung rasa bersalah.
“Rayi, bukan begini… saya tidak ingin kamu bersedih atau merasakan hal yang tidak enak. Hapus air mata kamu.” Tapi seiring dengan tangisan Rayi, dia usap pipi dan mendekatkan wajahnya kepada saya, dia kecup bibir saya perlahan dan seketika kehidupan di dunia ini terasa sungguh menggembirakan.
“Samuel… itu yang harus saya pertanyakan, saya hanya seorang pribumi yang—” saya tidak mau tahu tentang apapun lagi. Saya mencintai Rayi, saya mencintai Harina, saya mencintai jelita yang semua adalah satu orang yang sedang berada di hadapan saya. Di lain itu, saya tidak peduli. Saya bungkam bibirnya dengan ciuman, saya mainkan bibir saya kepada bibirnya yang mengikuti dengan kaku. Saya rapalkan namanya seperti mantra dalam hati saya yang demi apapun saya bersumpah hanya berisi Rayi seorang.
“Rayi… sayangku, bolehkah saya mencintai kamu?” Kali ini itu dibalas dengan anggukan, senyuman berhasil bertengger di bibirnya yang sungguh manis dan menjadi candu baru untuk hidup saya selanjutnya. Malam itu kami banyak bercerita, Rayi membicarakan tentang masa kecil yang sepenuhnya dia habiskan di regentschap ini. Masa kecil Rayi dilalui dengan menyenangkan dan menjadi menakjubkan ketika dia bersentuhan dengan seni. Rayi mengagumi keindahan, maka ketika ada kesempatan untuk mempelajari itu Rayi sama sekali tidak menyia-nyiakan. Rayi berlatih dengan tekun, menjadi seorang penari yang handal dan banyak waktu mempertontonkan kebolehannya di kesempatan-kesempatan tertentu, Rayi penari juga lah yang pada akhirnya bisa bertemu dengan saya hingga saya sendiri dibuat sungguh jatuh hati dan semuanya masih sangat terbayang-bayang hingga kini.
Saya bercerita kepada dia bahwa saya gemar berenang, semenjak di Indië hingga ke Nederland. Rayi tampak antusias sekali, dia berkata bahwa air terkadang membuatnya takut dan saya berjanji, selama ada saya di situ maka air yang membelai kulitnya akan terasa membahagiakan. “Rayi… seperti kamu yang memanggil saya Samuel ketika hanya sedang berdua saja, bolehkah saya juga menyematkan sebuah nama panggilan untuk kamu? Harina, nama itu adalah yang seketika saya pikirkan ketika kita pertama kali berjumpa.” Rayi mengerucutkan bibirnya, seolah menimbang-nimbang apakah itu bagus atau tidak jika bersanding dengan keberadaannya yang menakjubkan.
“Kenapa, Harina?” Saya terkekeh, Rayi juga tertawa kecil dan menyembunyikan wajahnya dalam dekapan dada saya. Kami masih berbaring, sama sekali enggan berpindah. Saya belai kepalanya dan menelusupkan jari di antara rambutnya yang halus. “Awalnya saya pikir kamu seorang wanita, sungguh. Sangat rupawan dengan mata menyorot tajam mengundang saya berkali-kali ke dalam tarian. gerakan kamu sungguh lincah, tetap gemulai dan semuanya halus sekali. Saya belum tahu bagaimana harus menyebut kamu, saat itu. Saya beri kamu nama jelita karena memang sungguh sangat cantik jelita. Tapi saya lebih suka nama Harina, artinya kijang atau rusa. Saya menemukan kata itu ketika membaca sebuah karya sastra kuno. Itu nama yang indah, mengingatkan saya sepenuhnya kepada kamu yang rupawan, menari dengan lincah dan gemulai seolah kamu adalah hewan kijang yang menari bebas di hutan.”
Rayi terkesima dengan penjelasan saya, bibirnya terbungkam dengan mata fokus menatap saya yang sedari tadi tidak bisa berhenti berbicara. “Cantik… cantiknya. Jadi saya Harina, panggil saya Harina. Samuel, coba panggil saya Harina sekarang juga.” Sebelum panggilan itu mengudara saya sempatkan untuk mencuri ciuman dari kedua bilah bibir yang sudah terlanjur menjadi candu untuk saya. “Harina… sayangku, Harina.”
─── ⋆⋅ ☆⋅⋆ ──
Semenjak malam itu kami berdua sering bertemu. Setelah makan malam saya akan menyelinap untuk menunggu Harina di bukit lalu kami akan mulai bercerita lagi tentang satu sama lain. Awalnya saya takut, saya selalu menyelinap tanpa suara di antara bayangan-bayangan malam yang sungguh membutakan mata untuk selanjutnya menunggu Harina di bukit belakang aula. Ada resah yang menyatu dengan udara ketika saya sudah sampai terlebih dahulu namun kekasih saya belum tiba. Banyak waktu ketika menunggu bukan hanya saya habiskan untuk membayangkan kami berdua bertukar peluk dan cium namun juga saya panjatkan doa agar Harina bisa dalam kondisi baik sampai di sini secepatnya.
Ada kalanya Harina kembali menghilang, kerisauan menuntun saya kepada Sukirno yang sudah mengetahui semuanya lalu orang itu akan memberi kabar bahwa mama dan papa lagi-lagi butuh tenaga tambahan untuk bekerja. Ah, seandainya saya adalah si tuan tanah itu, saya akan langsung mengikat Harina menjadi milik saya seutuhnya dan membebaskan dia dari pekerjaan apapun, mensejahterakan kehidupan Harina dan mungkin ikut memboyongnya jika waktu kembali untuk studi ke Nederland telah tiba.
Suatu ketika di salah satu pertemuan rahasia kami, ketika saya sedang sibuk mencium pipinya Harina bilang bahwa dia ingin belajar berenang. Tentu saya akan mengabulkannya segera, bahkan kita bisa berangkat sekarang juga jika memang itu yang dikehendaki oleh hatinya. Tapi Harina terkekeh pelan, berkata agar saya dan dia tidak perlu terlalu terburu-buru dan mencari hari juga alasan yang tepat untuk meminta izin kepada mama dan papa. Saya tidak menurut, saya terlalu terlena dengan kekasih saya yang melontarkan permintaan sederhana, akan sangat menyakiti hati saya sendiri jika butuh waktu lama untuk berhasil mengabulkan.
Keesokan harinya saya berkata pada mama dan papa agar mengatakan pada Sukirno untuk mengantar saya ke danau tempo hari. Saya juga bercerita betapa saya sungguh menggemari berada di antara air, dan berenang selalu saya lakukan ketika berada di Nederland jika memiliki waktu lebih untuk bersenang-senang di sela-sela studi yang sibuk. Selanjutnya, saya juga berkata kepada mereka berdua bahwa ingin ditemani oleh Rayi dengan alasan dia yang telah membersamai saya dalam perjalanan kemarin.
Keduanya mengizinkan, mama dan papa juga berkata bahwa perbekalan dan pakaian ganti akan disiapkan besok oleh para mbok, di antara denting alat makan itu mama menambahkan, bahwa sebaiknya saya berangkat lebih pagi supaya bisa tiba lebih awal untuk mencegah tubuh saya terlalu kelelahan. Saya mengangguk senang, saya sungguh tidak sabar untuk bertemu dengan hari esok, hari di mana akan banyak menghabiskan waktu dengan kekasih saya, Harina.
Saya tidur cepat malam itu, saya tidak membiarkan suatu hal apapun menghalangi saya dari jatuh ke dalam tidur karena ada hal besar yang menanti ketika sudah memasuki pergantian hari. Saya bahkan tidak bermimpi namun saya tahu bahwa ada atau tidaknya mimpi yang saya ingat… sampai ke alam tidak sadar ketika saya tidur pun semua sudah dibelenggu oleh kuasa Harina yang mengakibatkan saya tidak bisa kemana-mana.
Pagi buta saya sudah berendam dan membilas diri, menghindari undangan mama dan papa untuk sarapan karena berdalih sudah dibawakan perbekalan oleh mbok dan memilih untuk makan di jalan. Saya tersenyum tengil, mama dan papa menggeleng pelan lalu melambai mengantarkan dokar yang membawa kami bertiga. Saya senang bahwa Sukirno sudah tahu segalanya, saya tidak perlu lagi untuk bersembunyi ketika ingin sedikit memadu kasih dengan Harina yang duduk berdekatan di sebelah saya.
Harina rupawan dan sungguh jelita seperti biasa, ada aroma harum yang tercium di sana sini seolah cinta bertebaran mengikuti perjalanan dokar kami ke danau. Saya tidak tahan untuk mencium pipinya, jadi saya lakukan itu sembari menggenggam tangannya lalu saya bawa ke pangkuan, menebar kasih sayang yang sungguh penuh dari saya untuk Harina seorang. Sesekali saya akan berbisik manis ke telinganya, bicara hal yang mungkin memuakkan dan terkesan omong kosong tentang apa saja dari Harina yang tidak bisa berhenti untuk terus saya puji. Harina masih sedikit pemalu, mungkin itu karena ada Sukirno dan dokar kami yang belum masuk ke jalan setapak terpencil, tapi tidak mengapa… itu artinya saya harus membuat Harina terbiasa dengan semua cinta yang saya punya.
Hari itu hari yang sempurna. Matahari sama sekali tidak terik bahkan tertutup awan mendung, bukan berarti akan datang hujan, hanya cahaya menjadi sangat teduh dan tidak akan terlalu menyengat rasanya jika harus menelanjangi diri sebelum berenang. Kami tiba sebelum jam makan siang dan saya menghimbau Harina agar makan sedikit saja karena perutnya akan terasa tidak enak jika harus langsung masuk ke dalam air tepat setelah makan. Saya kira para mbok akan membawakan sedikit saja bekal, namun ada beberapa macam yang saya lihat ketika tempat perbekalan itu dibuka.
Khusus untuk saya ada beberapa potong roti isi dan spekkoek , lalu untuk Sukirno dan Harina ada nasi yang dibungkus daun pisang, beberapa lauk dan juga sambal. Saya berkata pada Harina agar makan saja roti isi bersama saya supaya tidak terlalu banyak yang masuk ke perut, kekasih saya setuju dan memberikan makanan miliknya kepada Sukirno dengan imbalan tidak mengganggu kami ketika di danau dan ada baiknya dia diam saja di dokar seperti kemarin, tidur siang.
Saya makan dengan terburu-buru, beruntungnya itu porsi yang sedikit dan setelah menyelesaikannya saya langsung bergegas menuju dermaga untuk melepas sebagian pakaian, meletakkan sembarangan dan mencicipi bagaimana suhu air itu ketika menyentuh kulit. Dingin, sedikit menyengat tapi akan baik-baik saja setelah terbiasa. Saya sudah bertelanjang dada, saya raih air dengan kedua tangan dan menyiramkan di tubuh.
Ah, seketika saya menyadari kalau sudah lama sekali dari semenjak terakhir melakukan hal ini. Tubuh saya akan perlu sedikit peregangan, sebenarnya saya tidak begitu mengingat bagaimana gerakan pastinya karena selalu mencontoh salah satu teman ketika kami berenang di Nederland. Jadi saya bergerak hanya dengan mengandalkan sisa ingatan yang tersisa di kepala, saya sendiri bisa memastikan jika itu pasti sangat menggelikan untuk dilihat karena Harina yang memperhatikan saya dari kejauhan sedang tertawa. Tapi tidak mengapa, terlepas dari hal itu saya cukup percaya diri dengan otot yang terletak pada perut, dada dan lengan. Tubuh saya proporsional, tinggi menjulang dan otot yang tercetak rapi pada tubuh bagian atas. Setelah semua formalitas itu selesai, saya langsung menceburkan diri ke danau. Tenang, sepi dan juga dingin, senyap… lalu ada perasaan yang sedikit hampa ketika saya benar-benar menyelam ke dasar. Sejenak… saya membiarkan tubuh saya sendirian dan tidak terjangkau, lalu bergerak ke atas ketika sudah semakin kehabisan nafas.
Saat kepala saya menyembul, pandangan saya masih sedikit kabur karena air yang masuk ke sela-selanya. Saya terkejut, mendapati Harina yang sudah duduk cantik menunggu saya yang mungkin sudah menyelam terlalu lama. “Kamu lama sekali, saya takut sesuatu terjadi.” Hati saya meletup-letup gembira, “mana mungkin terjadi apa-apa, saya sudah sangat ahli dalam hal ini.” Saya buat percikan-percikan kecil untuk menggoda Harina, dia terkikik ketika air mulai membasahi pakaian yang dia kenakan. Maka saya berenang mendekat, bertumpu pada dermaga kayu dan mengungkung Harina tepat di tengah, menengadahkan kepala agar dia bisa tahu kalau kekasihnya ini ingin sedikit dicumbu, kami berciuman sebentar.
─── ⋆⋅ ☆⋅⋆ ──
“Kamu tidak boleh membuang keseluruhan nafas kamu, kalau kamu melakukan itu maka kamu tidak akan bisa mengambang.” Harina berenang seperti anak anjing kecil, menggembungkan pipi dengan kedua tangan bertumpu pada pundak saya dan kaki yang coba digerakkan ke atas bawah dengan canggung. “Saya—hmph” Harina bahkan tidak bisa membagi antara coba berbicara dan menyimpan udara agar memiliki cukup nafas untuk dirinya sendiri. “Cukup, cukup sayang, Harina...” Kami sudah mencobanya selama beberapa saat, Harina masih saja tenggelam dengan mudah dan saya tidak ingin dia sakit karena terlalu banyak menelan air mentah.
Sepertinya dia sedikit merajuk karena membuang muka, lalu tanpa sadar menjadi lebih tenggelam karena lupa tidak berpegangan kepada saya. “Samuel…” Harina merengek pelan, wajahnya sungguh membuat saya tidak berdaya karena terlalu luar biasa untuk membuat jantung saya berdebar kencang. Maka saya rengkuh pinggang Harina agar dia tidak panik dan membuat gerakan yang mengakibatkan tubuhnya semakin tenggelam. “Harina… aku di sini, kamu tidak akan terluka dan tidak akan saya biarkan kamu minum lebih banyak air lagi.” Harina terkekeh, saya sampai lupa jika pada awalnya Harina berkata bahwa dia tidak membawa pakaian ganti, sedangkan sekarang pakaiannya sudah benar-benar basah hingga saya sendiri tidak yakin apakah masih bisa jika kami menjemurnya di bawah matahari. “Lepas pakaianmu, sayang. Bagaimana bisa kamu tidak membawa ganti dan dengan berani melompat ke dalam air dengan pakaian yang masih lengkap.” Harina hanya tersenyum malu, berkata agar saya tidak melepas rengkuhan di pinggang sembari dia bergulat dengan pakaian yang sudah basah di tubuhnya.
Sungguh, itu sangat mendebarkan. Seperti langit dan bumi bertubi-tubi menghujani saya dengan nikmat untuk menguji keteguhan yang saya punya. Ini bukan pertama kalinya saya melihat bahu telanjang Harina, ini bukan pertama kali saya terdistraksi oleh lehernya yang jenjang dan seolah minta diberi kecupan. Tapi… ini pertama kalinya dalam hidup, saya merengkuh pinggang telanjang seorang yang diberi anugerah keindahan sempurna, membiarkan kulit polos kami saling bersentuhan dan saya sungguh sangat nelangsa ketika melihat pucuk dada Harina karena belum bisa menjamahnya.
Tubuh atas Harina tidak tertutupi apapun, mengambang di air danau dingin yang menjadi panas, saya rasa. Harina diam saja, hanya menatap saya. Mengalungkan leher agar tubuh kami berdua semakin erat, tanpa jarak dan sempurna merasai satu sama lain, saling memiliki tanpa sekat atau belenggu apapun yang semula ada dan menutupi. Saya gugup, saya merasa kepanasan dengan titik keringat yang bisa saya rasakan berada di dahi perlahan turun, saya benar-benar takut jika sekarang juga sebenarnya sedang tersulut birahi. Harina sungguh pintar dalam menggugah hasrat, memantik api kecil itu lalu dengan sangat perlahan membiarkannya berkobar hingga saya tidak sadar sudah benar-benar terbakar.
Saya menelan ludah, tidak bisa berkata-kata dan tidak sanggup melakukan apapun lagi terutama ketika merasakan ada gelombang rasa geli muncul dari perut bawah saya yang menempel erat dengan Harina. Gelenyar itu menjalar pelan ke seluruh tubuh dan membuat bulu kuduk saya berdiri, sungguh… saya berani bersumpah saya orang yang teguh. Namun yang berada di dekapan saya adalah Harina, titik air menetes lembut dari leher dan perlahan ke dada hingga melewati puting susunya, saya hanya bisa menggigit bibir sembari berandai-andai bagaimana jika mulut saya yang berada di sana alih-alih kedua pucuk itu hanya dibiarkan begitu saja. Harina menyulut hasrat, memantik birahi dan membuatnya menjadi api yang membinasakan saya segera.
─── ⋆⋅ ☆⋅⋆ ──
Kami bergegas pulang sebelum Harina kedinginan, saya biarkan dia memakai pakaian saya karena walaupun sudah dijemur, pakaian miliknya sama sekali tidak mengering sedikit pun. Sepanjang perjalanan saya membawa Harina dalam dekapan, membiarkan dia beristirahat di pundak saya sambil tangan saya sesekali akan membelainya ringan di sana sini. Kami berpisah setelah dokar sampai di pintu belakang rumah, saya mencium pipi Harina sekilas kemudian berlari kecil menjauh karena harus segera bersiap untuk makan malam dan bertemu mama dan papa yang pasti akan bertanya kepada saya bagaimana perjalanan hari ini.
Malamnya saya kembali sulit tidur, ingatan tentang Harina menari-nari di kepala saya seperti sebuah puncak dari permasalahan yang sungguh besar di sepanjang usia dua puluhan yang saya telah jalani. Gairah saya kembali membara tanpa bisa berbuat apa-apa dan yang bisa saya lakukan hanya memejamkan mata dan berharap itu sirna dengan sendirinya.
─── ⋆⋅ ☆⋅⋆ ──
Beberapa hari kemudian saya memenuhi janji untuk bertemu Harina lagi, kali ini di tempat kami pertama bertemu yaitu aula belakang. Beberapa kali memperhatikan dia mengajar anak-anak gadis itu membuat saya memiliki sebuah kebiasaan baru. Saya akan menunggu dia, melihat Harina dari kejauhan dan mengeluarkan sebatang sigaret untuk merokok sebentar. Jika rokok itu habis dan Harina masih belum selesai juga, maka saya akan membaca sebuah buku dengan harapan bisa memanfaatkan waktu dengan baik sambil melakukan penantian agar tidak terlalu terasa menjemukan.
Biasanya tidak beberapa lama, ketika mata saya sudah memandang lagi mereka telah selesai. Hari itu saya mengajak dia berbincang santai, hari menjelang petang dan anehnya tidak ada lalu lalang orang. Harina berkata bahwa ada sebuah pertunjukkan tarian di desa sebelah dan papa mengizinkan para pekerja untuk menghadiri sebagai bagian dari penghiburan yang sebisa mungkin papa sediakan. Di sana hanya ada kami berdua, suasana remang dengan langit berwarna orange pekat yang sebentar lagi akan berganti dengan cahaya membias ungu lalu kehitaman. Selendang sudah selesai dilipat dan beberapa peralatan juga sudah diletakkan dengan baik kembali ke tempatnya masing-masing. Kami memadu kasih, saya tidak bisa berhenti untuk mencium ujung kepalanya ketika dia bersandar di bahu, saya juga memegang erat pinggangnya karena sungguh enggan untuk berjauhan. Harina sungguh jelita yang polos, saya sangat yakin dalam beberapa kali melihat matanya pada sebuah kesempatan juga hari ini ketika mendengar permohonannya, “bolehkah saya mencoba sigaret?” boleh, tentu sangat boleh.
Segera saja saya keluarkan sigaret itu lagi dan membakar ujungnya dengan korek api. Saya sedikit tidak menyangka bahwa jelita seperti Harina tidak pernah merokok, seperti sigaret… saya yakin kretek adalah sebuah tradisi juga kebiasaan yang dilakukan tidak hanya oleh Nederland namun juga pribumi, sebuah kehormatan bisa mengantarkan Harina kepada kesempatan pertama menuju hisapan sigaret terutama ketika ini saya bawa langsung dari tempat saya melakukan studi. “Jangan merasa terintimidasi oleh api yang membakar di ujung, saya akan memegangnya untuk kamu. Tenang dan hisap saja perlahan, sayang.” Harina mengangguk, sangat penurut dan cukup percaya diri karena langsung mencoba dalam sekali instruksi.
Dijepitnya ujung sigaret itu dengan bibir dan dia tarik nafas yang membuat api semakin menyala, Harina melakukannya dengan mata terpejam, seolah sedang menikmati asap panas masuk ke dalam dada melewati kerongkongan dan menghembuskan asap itu keluar setelah cukup lama. Setelahnya dia menatap saya, meminta batang sigaret itu agar bisa dia pegang sendiri dan mulai bercerita, “Saya senang sekali bahwa tuan dan nyonya van Lothringen mempercayai saya untuk mengajari anak-anak gadis menari di aula belakang ini, dengan begitu… saya jadi punya kesibukan.” ada kilat resah yang saya lihat berada di matanya, sangat kontras dengan yang saya temui beberapa menit yang lalu ketika dia meminta untuk mencoba sigaret, hal itu membuat saya tiba-tiba ikut merasa terbebani.
“Saya jadi punya alasan menunda ketika disuruh oleh bapak dan ibu untuk cepat-cepat menikah.” Kilat seolah menyambar, saya kaget, saya seperti tidak diizinkan meminta waktu untuk memahami apa yang baru saja terjadi dan itu sungguh amat sangat menyakitkan hati. Saya bodoh, Harina ini seorang lelaki, bagaimanapun kami tidak akan bisa bersama. Kelak, dia akan memiliki seorang istri dan seorang anak lalu membangun keluarga kecil bersama. Tinggal menunggu waktu untuk hal itu terjadi dan Harina akan benar-benar melupakan saya, seperti saya tidak pernah ada dalam hidupnya.
─── ⋆⋅ ☆⋅⋆ ──
Malam itu saya bukan lagi kesusahan untuk tidur, saya terjaga hampir semalaman termenung menatap rembulan dari balik jendela kamar. Indah, bulannya bersinar cantik sekali dan ketika terlalu lama menatapnya… saya tidak sadar bahwa semakin lama pandangan saya semakin memburam, titik air keluar dari masing-masing sudut mata tanpa bisa dikendalikan dan sungguh amat menyedihkan bahwa saya sama sekali tidak memiliki kuasa untuk menghentikan bahkan ketika itu hanya air mata yang jatuh dari netra saya sendiri. Dada saya sakit, leher saya tercekat, rasanya menyesakkan. Dalam kedukaan itu saya hanya bisa menangis terbata-bata, sama sekali tidak bersuara dan ketika saya coba berbicara dalam hati pun yang ada hanya ketidaksanggupan yang membelenggu karena demi apapun saya merasa seperti dikutuk oleh cinta. Oh, kekasihku… Harina, kenapa kemalangan ini menimpa kita berdua.
─── ⋆⋅ ☆⋅⋆ ──
“Saya rasa… sudah saatnya kalian mengakhiri. Toh, tidak mungkin tuan tidak memikirkan kemungkinan dari perbuatan yang telah tuan jalani sendiri.” Saya tidak bertemu Harina hari ini, saya pengecut yang menghindar karena takut akan lebih dirundung duka ketika melihat wajah cantiknya yang pintar berpura-pura bahwa semua masih tetap baik-baik saja. Saya mengajak Sukirno merokok sambil berkeliling taman, tidak lama… karena orang tua itu mengeluh kelelahan dan mengajak saya duduk di beranda sambil minum kopi yang dibuatkan oleh para mbok.
Saya mengerti apa yang dimaksud oleh Sukirno, sungguh paham namun tidak bisa berhenti bertanya-tanya mengapa hal tersebut disampaikan secara tiba-tiba. “Saya tidak mengerti…” Sukirno menghembuskan asap kreteknya pelan, diikuti oleh hisapan lain sebelum melanjutkan. “Semalam, tindakan kalian sungguh ceroboh. Jangan pernah berpikir bahwa sepi berarti semua orang benar-benar menghilang dan kalian bisa bebas melakukan hal yang kalian inginkan di aula belakang.” Saya hanya terdiam, jiwa saya terlalu letih untuk merasa sedih karena sudah menghadapi hal yang semalam terjadi. Jika pun saya ketahuan bermesraan, itu pasti oleh para pekerja atau para mbok yang saya tidak sadari berlalu lalang di antara kegelapan.
“Saya kira… ini benar-benar sudah tamat, tuan.” Lancang, saya menatap Sukirno dengan tatapan tajam penuh ketidaksukaan. Tampaknya pribumi ini mulai merasa bahwa dia boleh bicara sesuka hatinya karena dekat dengan saya juga mama dan papa. “Saya bisa mencelakai kamu jika saya menghendakinya, Sukirno.” Tapi pria tua itu tidak tampak gentar sama sekali dan malah kembali bicara, “Nak… mama dan papamu sendiri yang mengetahuinya.” Sukirno, saya telah menganggap beliau seperti orang tua saya sendiri. Saya sungguh menghormati dan mengenal Sukirno yang sudah membersamai saya dari semenjak kanak-kanak hingga kembali lagi ke Indië setelah dewasa. Saya tidak pernah benar-benar akan menyakiti Sukirno walaupun sesekali berkata lancang dan mempermainkan statusnya yang hanya seorang pribumi, saya mengasihinya.
Maka ketika Sukirno menyebut saya sebagai ‘anak’ saya akhirnya menangis tersedu karena kebingungan tentang konsekuensi yang akan saya tanggung nanti. Tidak… tidak… ini bukan tentang saya saja, tapi utamanya ini tentang kekasih hati saya, Harina. Hari itu saya menangis di pelukan Sukirno, selayaknya seorang anak yang mencari setitik perlindungan dalam lengan bapak yang menyayanginya.
─── ⋆⋅ ☆⋅⋆ ──
Sore harinya saya bersembunyi, lagi-lagi masih menjadi seorang pengecut yang takut dan belum siap untuk dirundung kedukaan lebih banyak lagi. Saya menyulut sigaret, tidak tahu sudah yang keberapa dalam satu hari ini, kepala saya bahkan seolah tidak punya ruang untuk menghitungnya lagi. Saya memperhatikan Harina dari kejauhan, mengajar anak-anak gadis dengan tatapannya yang tegas dan dingin namun sangat lembut jika sudah bergerak untuk mencontohkan tarian. Kepala saya menerawang jauh, bagaimana cara yang sekiranya harus saya tempuh untuk menyelamatkan kami berdua.
Ucapan Sukirno terpaku dalam diri saya, namun apalah ucapan itu jika saya telah benar-benar menemukan cara untuk mempertahankan kebahagiaan Harina. Saya bisa saja membawanya diam-diam ke Belanda, akan tetapi… setelah itu apa yang akan kami berdua lakukan saya juga tidak tahu. Saya hidup dari kekayaan mama dan papa di Indië, ketika mereka berdua menyadari bahwa saya telah melakukan sebuah pembangkangan, saya bisa saja mati karena tidak bisa bertahan hidup akibat tidak ada uang yang dikirim selama melanjutkan studi. Studi saya masih lama, ketika selesai studi saya bisa saja langsung bekerja tetapi bagaimana menghidupi Harina sebelum masa itu terjadi adalah hal yang terus saja saya khawatirkan, bagaimana pula jadinya… oh Tuhan. Tidak ada tempat, tidak ada keajaiban, tidak ada kebahagiaan.
Saya pergi sebelum latihan itu usai, dengan sadar saya pergi menjauh sebelum air mata saya luruh dan akan lebih mudah untuk dicurigai oleh orang-orang yang lalu lalang. Saya perlu bersiap untuk makan malam, saya harus tetap melakukannya walaupun perut saya sama sekali tidak kelaparan dan kesedihan masih menyelimuti saya dimana-mana. Malam itu tidak ada semur, mama dan papa bicara lebih banyak dari biasanya mungkin karena sibuk dengan pembukuan. Saya hanya mendengarkan juga tidak lupa berpura-pura untuk terlihat bahagia seperti hari-hari kemarin. Sesekali saya juga akan menimpali dan minta untuk diambilkan taart oleh mama untuk saya habiskan dengan lambat.
“Rayi itu… dia waktunya menikah.” Papa tiba-tiba memulai percakapan dengan menyebut nama kekasih saya dan taart yang manis seketika terasa hambar. “Saya dengar itu, pa. bapak dan ibunya hendak membuatkan pernikahan tapi tidak memiliki cukup uang. Calon istrinya cantik sekali, dia putri salah satu mbok yang membantu saya biasanya di dapur.” Kepala saya terasa kosong, Harina bahkan sudah memiliki calon istri dan saya baru mengetahui. Saya… saya… “Saya tidak lagi berselera makan, ma… pa. Saya pamit untuk beristirahat.” Saya berdiri dengan air mata yang jatuh, tidak memiliki kekuatan lagi untuk lebih lama berada di sana.
“Duduk, Samuel.” Suara papa dingin dan menakutkan, ini pertama kali saya mendengar suara beliau yang seperti ini. “Saya kelelahan, pa.” Saya tahu sungguh tidak elok ketika membelakangi saat diajak berbicara, tapi hati saya mengambil alih tubuh dan saya sudah tidak bisa apa-apa lagi. “Jangan pernah kamu berpikir bahwa kami tidak tahu menahu, Samuel. Kamu kira mama dan papa hanya akan diam saja ketika mendapati bahwa kamu berhubungan dengan Rayi? dengan seorang lelaki? yang benar saja.” Suara papa sungguh menggambarkan betapa dia menganggap remeh perasaan yang saya punya juga hubungan yang saya buat dengan Harina, itu mengundang setitik kemarahan dan akhirnya saya mencoba membela diri.
“Oh, papa… Saya bersumpah saya benar-benar mencintai dia. Saya mohon, biarkan saya bahagia dengan Harina, papa… saya mohon, mama.” Di detik itu saya berlutut. Di antara ruang makan yang sepi karena hanya berisi kami bertiga dan di antara meja mewah yang membatasi pandangan saya kepada mama dan papa, saya berlutut memohon untuk dibebaskan dari rasa sakit penderitaan cinta yang amat kuat ini, jika saya tidak memohon kepada mereka maka kepada siapa lagi saya harus melakukannya.“Omong kosong, kami mengirim kamu studi ke Nederland bukan untuk kemudian kamu beri hal ini, Samuel. Apa kiranya yang lelaki itu lakukan pada kamu sehingga kamu demikian menginginkannya, saya tidak membesarkan kamu hanya untuk menjadi pria menyimpang yang menyukai orang rendahan macam—”
“MAMA!!! Jangan pernah mama cela dia karena sungguh ini adalah keputusan saya sendiri, saya sungguh mengasihi dan mencintainya.” Saya menangis, saya benar-benar memohon dengan isakan kencang yang menggema berharap akan berhasil menggoyahkan hati mama dan papa. Kemudian papa menghampiri saya, memegang pundak agar bisa kembali berdiri hingga muncul sebuah pertanyaan dalam hati apakah akan berhasil ada harapan setelah semua ini. Tapi, bagaimana bisa saya berharap pada sebuah takdir kehidupan yang kejam, papa mencengkram kerah pakaian saya dan melayangkan tamparan beberapa kali hingga saya tersungkur.
“Kurang ajar, bagaimana bisa seorang dengan status terhormat dan menempuh studi di Nederland meninggikan suara ketika bicara dengan orang tuanya, itu kah yang mereka ajarkan kepada kamu selama di sana? atau jangan-jangan… Rayi yang membuat kamu melakukannya?” Mama menahan papa yang akan melayangkan tamparan lagi, sedangkan saya… saya sudah tidak punya ruang untuk sekedar menangis.
─── ⋆⋅ ☆⋅⋆ ──
Empat hari, saya mengurung diri di kamar selama empat hari tanpa sinar matahari sama sekali. Air mata sudah mengering dan saya seperti tubuh tanpa jiwa yang seolah lama sekali telah menderita. Saya sakit… hati saya sakit, kepala saya sungguh pening hingga beberapa kali terjatuh saat hendak berdiri. tapi diam-diam saya tertawa kecil dalam hati dan bertanya, apa mungkin telah tiba saat semua kesakitan ini pada akhirnya akan membuat saya mati. Saya mendengar orang-orang sungguh sibuk, berlalu lalang tanpa henti hingga memaklumi bahwa itu semua karena pernikahan akan segera dilaksanakan, kekasih saya akan menikah dengan orang lain.
Itu menjadi lumayan ramai dibicarakan karena tidak sepatutnya seorang majikan ikut memberikan bantuan untuk upacara pernikahan seorang pribumi yang hanya berstatus sebagai pembantu rumah. Namun sedari awal Harina memang istimewa, dia seorang penari yang dikenal luas terutama semenjak mama dan papa mengizinkan dia menggunakan aula belakang sebagai tempat latihan, atau itu hanya alibi mereka agar bisa menjauhkan Harina dari saya sesegera mungkin. Saya tidak tahu akan jadi seperti apa dan akan sejauh mana mereka membuat perayaan itu, saya harap mereka melakukannya atas kehendak Harina.
Tubuh saya semakin lemah, saya dirundung duka dan juga disakiti oleh rindu yang sungguh menyiksa, hampir tidak ada lagi kehidupan dalam saya yang hanya menjadi seonggok manusia tidak berdaya, menghabiskan hari-harinya jatuh dalam pembaringan yang bahkan tidak lagi nyaman. Beberapa kali saya bermimpi, saya akan berterima kasih kepada Tuhan jika dalam mimpi itu saya dibuat menderita karena ketika bangun dan membuka mata saya tidak lagi akan terkejut dan bisa kembali bersikap biasa, namun jika saya diberi mimpi bahagia maka saya akan meronta sekuat tenaga dalam mimpi itu karena akan menderita berkali lipat jika bangun dan sadar bahwa semua hanya ilusi semata. Saya juga beberapa kali melihat Harina, sosoknya seolah memeluk saya dan berkata bahwa semua baik-baik saja lalu pergi setelah mengatakan jika dia juga sungguh merindu.
Keesokannya Sukirno menghampiri saya yang masih suka termenung di atas kasur, mengatakan bahwa pernikahan Harina akan diadakan besok lusa. Semua pekerja mama dan papa datang termasuk mereka sendiri, jadi alangkah bagus jika saya juga ikut pergi. Saya tidak mengatakan apapun, saya mempersilakan Sukirno untuk pergi setelah mengatakan hal yang perlu dia sampaikan. Semuanya sudah selesai, semuanya telah berada di penghabisan, setelah ini… tidak akan ada Nederlandsch-Indië karena saya sungguh mengutuk tempat di mana saya dilahirkan.
Saat malam hari saya tidak bisa tidur lagi, hanya butuh hari ini lalu besok dan saya akan bertemu dengan Harina. Itu bukan waktu yang lama, saya sudah terbiasa terjaga di malam hari karena wajah Harina selalu menari-nari dalam kepala. Mungkin akan selamanya seperti itu karena saya amat sungguh mencintai dia. Saya rindu melihat Harina mengajarkan gadis-gadis itu menari di aula belakang, saya rindu bagaimana matanya yang malu-malu seolah enggan menatap saya, saya rindu aroma tubuhnya, pinggang yang biasanya saya rengkuh lalu Harina akan membuat wajah tersipu sambil merapat hingga tubuh kami berdua tanpa jarak, tanpa sekat. Saya merindu bagaimana nama saya terdengar merdu meluncur melalui bilah bibir dan akhirnya membelai telinga lewat suaranya yang halus. Harina… saya tidak bisa berhenti meratap karena awalnya itu semua adalah milik saya dan kini saya hanya menjadi sebuah kisah yang pernah terjadi dan seperti telah lama berlalu.
─── ⋆⋅ ☆⋅⋆ ──
Wajah saya masih kacau, itu terpantul sempurna ketika saya memakai cermin untuk pertama kali mungkin setelah satu pekan. Kantung mata saya menghitam dengan rambut acak-acakan namun saya harus siap dalam beberapa menit untuk menyelinap ke pernikahan Harina lebih awal. Morning suit sudah disiapkan, sebisa mungkin saya menata rambut dan bergegas menuju aula belakang yang orang-orang bilang sebagai tempat pernikahan. Kaki-kaki saya seolah tidak punya tenaga dan sedikit tertatih, dengan susah payah saya mempercepat langkah dan benar saja… aula belakang sudah siap, cantik sekali.
Ada banyak bunga disana sini dan saya yakin mama sendiri yang turun tangan untuk mempersiapkannya, dekorasi itu bernuansa tradisional yang sangat kental dan saya sungguh berharap mama menghiasnya persis seperti yang Harina suka. Banyak sekali mbok yang tidak berhenti berlalu lalang dan saya tanpa basi langsung bertanya kepada salah satu dari mereka, “mbok… di manakah Rayi berada?”
Saya lupa difungsikan untuk apa ruangan itu sebelumnya, ruangan itu tidak jauh dari aula belakang dan hampir seperti tempat menunggu kedatangan pengantin wanita. Di sana sepi, saya berandai-andai apa benar yang dikatakan mbok kalau Harina berada di dalamnya, tapi ketika saya membuka pintu, runtuh pertahanan diri yang saya coba persiapkan untuk hari ini karena di dalam Harina sudah siap dengan pakaian tradisional pengantin yang membalut tubuhnya. Saya mengunci pintu, Harina terkejut dan menutup mulut dengan kedua tangannya sendiri sambil berlinang air mata.
“Saya… Saya kira, saya tidak akan dapat bertemu kamu lagi.” Harina menghambur ke pelukan setelah mengatakannya dengan nada penuh putus asa dan tidak kalah berduka dari saya. “Oh… Harina sayangku, kekasihku. Cantik… jangan menangis, saya mohon.” Saya mengecup seluruh wajah dan tidak bisa berhenti mendekapnya, kami berdua menangis sesenggukan seperti dua orang yang kehilangan akal akibat terlalu merindu satu sama lain. Harina cantik sekali, seperti biasa… sungguh sempurna. Pernak pernik pakaian pengantin itu menghiasi tubuhnya hingga sosok Harina menjadi tanpa cela.
“Maafkan saya, maafkan saya karena tidak pernah menemui kamu lagi… saya menjadi seorang pengecut yang tidak tahu harus melakukan apa lagi semenjak di malam terakhir kita bertemu, Harina… maafkan saya, saya tidak bisa mengeluarkan kamu dari semua kegilaan ini, kehidupan juga seolah membunuh saya perlahan dan saya berduka sampai tidak sanggup mengeluarkan air mata lagi.” Saya mengecup kedua matanya, mata membulat hitam yang selalu berhasil mengusik ketenangan saya kini sangat menyedihkan ketika dilihat. Sama seperti saya, Harina tidak bisa mengendalikan titik air yang membasahi pipi bahkan ketika sudah menahannya kuat sekali. Tiba-tiba pintu diketuk beberapa kali, suara para mbok memberitahu Harina jika pengantin wanita sudah tiba. “Samuel… saya tidak pernah menyesal telah hidup walaupun diberi nasib yang seperti ini, nasib yang menuntun saya untuk bertemu dengan kamu.” Dengan itu, saya mencium bibir Harina untuk yang terakhir kalinya.
Ketika Harina pertama kali keluar dari ruangan tempat menunggu, beberapa mbok menghampiri dan bertanya kenapa matanya sembab dan bertanya lagi apakah dia sedang menangis, Harina mengangguk dan berkata “saya menangis karena terlalu bahagia.” Saya menyaksikan semuanya, saya ada di sana. Saya mengikuti satu demi satu prosesi yang Harina dan pengantinnya lakukan hingga yang paling saya ingat adalah ketika Harina mengecup kening wanita itu, istrinya.
Di titik itu saya sungguh berandai-andai bagaimana jika Harina lah yang menjadi pengantin saya dan alih-alih menjadi pernikahan Harina dengan orang lain, ini adalah hari pernikahan saya dengan Harina. Saya tidak kuat lagi, saya terpaksa undur diri terlebih dahulu dan bergegas ke kamar, ah… banyak sekali barang yang harus saya persiapkan. Dengan sisa waktu yang tidak banyak saya segera berkemas, masih ada makan malam untuk memberitahu mama dan papa terkait rencana saya yang memang tiba-tiba.
Saya sudah mencari tahu lewat Sukirno bahwa ada kapal yang akan berangkat dari Batavia ke Rotterdam dalam beberapa hari, saya tentu butuh waktu untuk naik dokar lalu disambung dengan kereta untuk bisa sampai ke Batavia, maka dari itu saya putuskan untuk pergi besok. Saya kira kembali ke Nederland adalah keputusan yang tepat untuk saya yang pengecut dan terlalu kesakitan ini, dalam perasaan itu saya menulis surat kepada Rayi, tentang seberapa besar cinta saya untuk dia, semoga Sukirno bisa menyampaikan surat itu langsung pada tangan Harina.
Keesokan harinya dokar sudah siap, saya mengucapkan selamat tinggal kepada semua orang tidak terkecuali Harina yang pura-pura tegar. Saya melihatnya, bahkan ketika dokar saya sudah pergi jauh, Harina masih setia melihat saya dari aula belakang. Sukirno mengantar saya sampai stasiun, saya memeluk dia dan sungguh berterima kasih juga berkata “saya tidak tahu kapan lagi akan menginjakkan kaki ke sini.” Itu mengakhiri semuanya, semuanya dalam artian keseluruhan cinta, kebahagiaan dan hidup yang saya miliki, mereka tertinggal pada Harina yang berada di Indië.
─── ⋆⋅ ☆⋅⋆ ──
Itu adalah sebuah ingatan agung tentang kekasih saya yang telah lama tersimpan. Tahun-tahun telah sangat lama berlalu semenjak saya meninggalkan Nederlandsch-Indie, kehidupan tidak memberi kesempatan lagi pada saya untuk berduka dan mereka seolah tetap berjalan bagaimana semestinya, seolah semua baik-baik saja. Saya menjadi seorang pengajar, di tempat dulu melakukan studi dan sebentar lagi akan pensiun, saya masih tetap mengerjakan semua urusan saya sendiri karena memutuskan untuk tidak menikah atau menjalin hubungan romansa dengan seseorang, karena cinta saya sudah habis dan tidak bersisa. Sesekali di waktu luang… saya masih akan tetap mengenang kekasih saya dan membaca surat balasan dia yang akhirnya datang setelah bertahun-tahun.
Di awal surat itu datang… saya sungguh bahagia, mereka datang dalam dua bagian, yang pertama adalah balasan tentang betapa Harina juga mencintai saya, dan kedua adalah surat yang ternyata ditulis Sukirno untuk memberitahu bahwa Harina… kekasih saya… telah meninggal karena penyakit malaria. Tidak mengapa, saya sudah melewati masa duka itu walaupun dengan waktu nyaris satu bulan, tapi sesekali saya juga akan menangis kembali jika membaca surat Harina untuk yang ke… mungkin ratusan ribu kali.
Tidak menjadi masalah, toh akhir-akhir ini saya berjumpa dengan dia lewat mimpi, katanya kami akan bisa bertemu sebentar lagi dan jika itu yang mengatakan adalah Harina… maka selamanya saya akan mempercayai. Harina… saya akan tetap memuja dan menyenandungkan namanya hingga nafas terakhir yang saya punya.
-end.
