Work Text:
Schmidt menuangkan teh dari teko ke cangkir. Uap panas mengepul melawan udara dingin teras rumah. Masih ada dua puluh menit sampai cahaya matahari muncul. Biasanya, pada jam-jam ini, ia duduk bersama Jolenta. Namun, malam ini sang istri tidak pulang karena ada hitungan yang harus diselesaikan bersama Oczy dan Badeni.
Saat menentukan rumah untuk ditinggali, keduanya cepat sepakat memilih rumah di atas bukit. Selain tanah yang luas dan jarak ke rumah sebelah berjauhan, alasan utama terpilihnya rumah ini adalah pemandangan langitnya. Mereka bisa menghabiskan sepanjang malam sampai terbitnya matahari duduk di kursi teras. Pun, pemandangan langit biru saat siang hari tidak kalah indahnya.
Selesai menghabiskan cangkir pertama, Schmidt mendengar kasak-kusuk langkah kaki berjalan dari bawah. Jolenta, masih dengan kemeja dan blazer, melambaikan tangan dan berlari kecil. Schmidt berdiri lalu membuka tangannya seperti ia menyambut matahari terbit.
Dalam tiga ketukan, Jolenta sudah lompat ke pelukannya.
“Aku pulang!” serunya, “Rafal ikut membantu, jadi lebih cepat selesai.”
Jolenta menyandarkan kepalanya di bahu sang suami. “Aku merindukanmu.”
Schmidt tersenyum sambil mengeratkan pelukannya. Jolenta beraroma tinta dan kertas dan segala yang Schmidt rindukan sepanjang malam. Diciumnya puncak kepala Jolenta, “Selamat datang di rumah.”
Di tempat Schmidt berdiri, langit masih gelap, tapi mataharinya sudah ada di sini.
