Actions

Work Header

Rating:
Archive Warning:
Category:
Fandom:
Relationship:
Characters:
Additional Tags:
Language:
Bahasa Indonesia
Stats:
Published:
2025-06-07
Words:
1,006
Chapters:
1/1
Kudos:
17
Bookmarks:
2
Hits:
224

kutemukan makna hidupku di sini

Summary:

Kenyataannya, maut gak selamanya berupa teror yang berkunjung. Ia buat kamu kenakan duka seperti kaos yang terbenam di laci kedua lemari; ia juga serangga yang menghinggapimu tanpa disadari—tanggalkan yang pasti sebelum akhirnya terbang kembali. Kematian mengetuk pintu bak kurir sambil mengatakan bahwa kita sudah bukan kekasih lagi.

Notes:

Based on Gemini by Jun. Title from Membasuh by Hindia ft. Rara Sekar. Written for The8 of Jun (happy anniversary to those who celebrate!).

Work Text:

 

 

 

Junhui kerap bertanya soal kematian.

Selama hampir tiga puluh tahun menjalani kehidupan, jawabannya bikin bulu kuduk meremang kaku. Orang-orang berkata demikian; ajal adalah entitas berwujud semu. Eksistensinya bagai rumah tanpa tamu dan kehadirannya perlu ditakuti selayaknya hantu. Sekalipun tidak ditolaknya sebab memang aslinya begitu.

Sampai selesainya waktu hampir setahun yang lalu. Benar kalau Junhui punya tendensi untuk melebih-lebihkan, kendati peristiwa yang ini buat ia gagal meluapkan setetes perasaan. Hal-hal yang disuguhkan bikin kelu di tempat dan anggukan cuma mempercepat datangnya kiamat. Apalagi ketika percakapannya lantas disudahi dengan kecup di dahi untuk yang terakhir kali; sesuatu tentang kita gak mungkin nerusin ini serta kita sebenernya ngapain, sih, begini? Ia menutup malam dengan Minghao yang pamit undur diri, kini tanpa pertanyaan tentang kematian yang baru saja menghampiri. 

Kenyataannya, maut gak selamanya berupa teror yang berkunjung. Ia buat kamu kenakan duka seperti kaos yang terbenam di laci kedua lemari; ia juga serangga yang menghinggapimu tanpa disadari—tanggalkan yang pasti sebelum akhirnya terbang kembali. Kematian mengetuk pintu bak kurir sambil mengatakan bahwa kita sudah bukan kekasih lagi.

Tamat. Habis. Selesai. Kesadarannya meranggasi raga. Sudah seharusnya ia tolak saja, sudah seharusnya ia kejar Minghao walau ke ujung dunia. Sesal yang disimpannya menjadi kosong, kosong, kosong.

Sekiranya memang Junhui rasakan neraka, ada yang disadarinya tanpa sengaja. Putus baik-baik tidak bikin lega seperti yang ia sangka.

 

 

 

 

 

 

Sudah 15 menit ia berdiri di lorong. Junhui pandangi plakat nomor di tembok, kaki berpindah tumpuan mengikuti detak dari jam tangan sekaligus jantung yang menyingsing keterlaluan. Sebuket bunga terpampang di genggaman, diikuti dengan plastik berisi makanan; teh ceylon panas tanpa gula, mie goreng dari restoran di seberang kota, dan—

Ah, kesukaan Minghao yang ia hafal di luar kepala.

Mengenai putusnya mereka adalah bahwa Junhui masih memupuk cinta di sela rusuk tanpa berusaha untuk menghentikannya. Pikirnya tentang elok yang mekar dan berbunga setia digenggamnya, serupa dengan mawar sekuntum yang lambat laun penuhi sisa rongga di sana. Masalahnya, ia gagal perhitungkan bahwa patah hati ialah perkara yang agung; eksistensinya siram kebun jadi layu tak bersisa, sendunya rawat bangkai hingga semerbaknya menusuk jiwa.

Pekan demi pekan, Junhui temukan diri semakin tercekik. Realita terasa jauh dari jangkauan dan ia hanya sanggup memberi panggung untuk emosi yang berkelana. Kadang, Junhui harap ia punya alasan yang hina; apapun yang bisa jadi kausa untuk membencinya karena mungkin, mungkin, mungkin, hidup akan lebih pengasih kepadanya. Adapun semua ditelannya dalam diam sebab Minghao sekarang balik menjadi teman. Agenda tetap berjalan; dari latihan buat tur, sampai berdiri bersebelahan karena keadaan mengharuskan. Puncaknya tatkala ia melihat sang mantan pacar pasca tiga lagu berurutan, masih dengan peluh di dahi dan wajah separipurna bidadari. ‘Cantik’ spontan meluncur keluar mulut dan tatapan yang didapatnya buat ia rasakan relung di dada.

Unit 818.

Ia tekan bel dan detik terus berjalan tanpa suara. Reka ulang skenario yang direncanakannya; taruh makanan di meja, titip bunga yang dibelinya, lalu—

Pintu di depan terbuka lebar.

“Jun?”

Mampus.

 

 

 

 

 

 

Bukan pertama kali ia melangkah ke apartemen milik Minghao selama enam bulan belakangan, kendati asingnya mengalahkan memori yang lama-lama. Satu yang pasti; cinta sulap mereka jadi tiada. Bohong kalau renggang yang dirasa hanya sekadar khayalan belaka sebab keduanya kian terbiasa akan hening yang menyapa.

“Ini, teh sama mie kesukaan lo.”

Minghao berlagak sibuk sembari membelakanginya, mata hanya tertuju pada gawai di tangan. “Taro aja di sana. Thanks,"

Junhui tahan keinginan untuk menghela napas.

Ada sekian situasi di mana ia rela mengamini pepatah tentang dapur sebagai jantung dari rumah; bagaimana kehidupan bermuara dari masakan yang merekah—sampai harapannya kadung pecah. Junhui tak lelah juga mendamba dan faktanya, mereka bukan lagi mengejar romansa. Ruangan yang dipijak sisa latar tak bermakna. Pojok yang semula dijadikan poros putaran dunia kini berubah jadi tempat singgah sementara.

How was it? The shooting, I mean.

Basa-basi. Yang lebih tua tetap jawab penuh atensi. “Dua bulan lagi beres, kayaknya. Gue bisa langsung ikut schedule sama grup abis itu.”

Cool,

“Gue bawain bunga buat vas di kamar,” ia alihkan pembicaraan. “Kalo ditinggal lebih dari seminggu suka mati, ‘kan?”

Senyap datang menghampiri sebelum Minghao balik bersuara.

You don’t have to do this, you know.” Masih dengan punggung setengah menghalangi, samar-samar tampak kerutan alis yang lebih muda. Sekarang, ia alihkan kesibukan menata kotak sekali pakai isi makanan di meja; sisihkan punyanya seorang dan tuangkan sisanya berselang.

“Serius, Jun. Kita udah putus.”

Bukan lagi sayang, bukan tangan yang menyapa lapang. Junhui menyinggungkan senyum kelewat kecut. Tiga tahun lalu, ia izinkan Si Scorpio menata hatinya bak properti milik pribadi, begitu pula sudutnya yang belum terjamah rapi. Minghao-nya yang nyalakan perapian dengan hati-hati, Minghao-nya yang berikan segudang afeksi. Hidupnya tak lagi diisi hampa, hayatnya telah mengorbit pada kasih Minghao cuma-cuma. Dicampakkan secara tiba-tiba buatnya sengsara dan ia binasa karenanya.

“Minghao,”

Barangkali dilarang untuk menjatuhkan bom di atas piring makan, ia taruh belati bergagang tulang yang haus akan angan-angan: “Kita beneran udah gak bisa, ya?”

Jika ada hal yang bikin si lawan bicara memandangnya, itu adalah pertanyaan Junhui barusan. Sedekade tumbuh bersama gagal mempersiapkannya untuk tebak reaksi yang Minghao beri.

“Goblok,” seakan yang ditanyakan sangat ofensif, ia mengenakan ekspresi yang enggan dijahitnya teliti. “Goblok.

Langkah selanjutnya dilampiaskan pada kemeja yang dipakainya. Tanpa sedikitpun aba-aba, Junhui dicium Minghao menabrak meja. Si Gemini masih memproses yang baru saja terjadi, pun bibir yang dicapnya bagai ekstasi. Mulutnya diraup dan lumatannya menuntut.

Junhui merenggut Minghao terlalu erat bak takut dipisahkan neraka. Nirwana menjajah lapisan kulit milik yang lebih muda dan ia janji lewati akhirat demi meraihnya. Ah, bajingan. Siapa bilang surga cuma dihadiahi bagi pengikut yang berbakti? Buktinya, Minghao bagai malaikat dengan rambut tak tertata ketika yang lebih tua jelas tempat banyak dosa.

Jun,” namanya terus diulang seperti doa.

“Jun, maaf. Aku minta maaf.”

Kalah. Dunia bisa menjatuhkan segala malapetaka suatu hari dan seribu solusi akan ia cari buat sang pujaan hati. “Let’s start over,” 

Junhui bawa sorot jadi sejajar untuk bertemu dengan matanya. “Mau, ya?”

“Mau.”

Yang lebih muda tertawa parau. Rautnya kian melunak dan senyumnya kembali merekah sedia kala. Junhui tanggalkan sepuluh kecup ringan; dua di dahi, dua di buku tangan kiri, dan enam di bibir seolah sedang berkata cinta. Aku tetap cinta. Aku selalu cinta.