Work Text:
Suasana malam dan dinginnya malam diperbukitan tampaknya tidak membuat dua sejoli itu beranjak dari tempat mereka. Kedunya tampak menikmati pemandangan dari atas bukit, jauh dari hingar bingar perkotaan, udara malam yang bersih juga pemandangan langit malam yang indah tanpa adanya gangguan dari panjangnya kabel listrik yang semrawut seperti di kota.
“Sayang…” panggil salah satu remaja laki-laki kepada remaja laki-laki lain yang bersandar pada bahunya.
“Hmm, kenapa, Ta?”
Sosok yang memanggil itu tidak langsung menjawab, ia tersenyum kecil sebelum bersuara. “Aku cinta banget sama kamu,” ucapnya kemudian.
Sosok lain itu balas tersenyum, tampak senyumnya yang lebih lebar. “Aku cinta kamu juga, Ta. Banget!” tukasnya.
Ya, mereka berdua adalah pasangan kekasih yang sangat romantis. Walaupun hubungan mereka bukanlah hubungan yang dapat dikatakan ‘normal’ pada umumnya, namun mereka berdua tetap menjalin hubungan atas dasar cinta. Mereka berdua adalah Semi Eita dan Suna Rintarou. Sudah terhitung tiga tahun mereka menjalin hubungan sebagai sepasang kekasih, sejak kelas satu SMA hingga sekarang mereka telah duduk di kelas tiga SMA saat ini.
“Rin.” Eita kembali memanggil nama kekasihnya.
“Kenapa, Ta?” tanya Rintarou.
Eita terdiam, tidak langsung bersuara. Entahlah Eita akhir-akhir ini merasa dirinya tidak tenang. Entah karena apa, Eita masih belum bisa menjelaskan perasaan tidak tenangnya dengan kata-kata.
“Ta, kok malah diem? Ada apa?” tanya Rintarou menyadarkan Eita dari keterdiamannya.
“Kalau misalnya aku udah nggak ada, kamu bakalan nangis nggak?” tanya Eita kemudian. Eita bahkan tidak tahu kenapa pertanyaan itu tiba-tiba ia tanyakan kepada kekasihnya.
Rintarou mengernyit, kepalanya sontak menoleh untuk menatap Eita. “Maksud kamu apa, sih? Tiba-tiba tanya kayak gitu?” tanya Rintarou bingung.
Eita terdiam, terkekeh kecil. “Enggak apa-apa. Cuma penasaran aja. Kalau suatu saat aku udah nggak ada lagi, aku penasaran kamu bakal nangis apa nggak.” Eita menjelaskan.
Rintarou mendengus. “Kamu nggak boleh ngomong kayak gitu! Kayak mau ke mana aja! Kamu harus janji sama aku, bakal di sampingku terus, selalu nemenin aku!” tukas Rintarou.
“Tapi kalau aku nggak bisa nepatin janjiku, gimana?” tanya Eita.
Rintarou mengerucutkan bibirnya, sebal dengan pertanyaan yang ditanyakan kekasihnya. “Kamu harus janji, Ta. Nggak mau tau!” tukas Rintarou.
Eita akhirnya terdiam. Dirinya sangat takut jika suatu saat ia tidak bisa menepati janjinya pada Rintarou, sang kekasih.
“Eita… kamu janji, kan?” tanya Rintarou, kembali membuyarkan lamunan Eita.
Senyum samar Eita berikan. Perasaannya terasa berat entah karena apa. Melihat ekspresi Rintarou yang menatapnya dengan tatapan penuh harap, Eita menganggukkan kepalanya. Meski ragu-ragu, Eita tetap mengangguk dan tersenyum kepada Rintarou. Eita bukan ragu akan cintanya kepada Rintarou, namun ada perasaan lain yang membuatnya ragu entah apa.
“Janji?” tanya Rintarou mengulurkan jari kelingkingnya kepada Eita.
Eita terkekeh. Kekasihnya ini sungguh menggemaskan. Eita kemudian menautkan jari kelingkingnya pada jari kelingking Rintarou.
“Iya. Janji.” Eita berucap.
Rintarou tersenyum lebar menatap Eita. “I love you, Eita.” Rintarou langsung memeluk tubuh Eita di sampingnya.
“I love you too, Rinta.” Eita tersenyum, balas memeluk tubuh Rintarou yang lebih kecil dari tubuhnya. Ia membubuhkan sebuah kecupan sayang di pucuk kepala Rintarou.
“Ta, lihat deh bintang itu...” Rintarou tiba-tiba menunjuk ke langit, tepat pada arah dua bintang yang paling terang di antara yang lainnya, “mereka serasi ya?” tanya Rintarou. “Yang itu aku, terus yang satunya itu kamu,” ucap Rintarou.
Eita mengangguk. “Iya, mereka serasi banget. Suatu saat nanti aku bakal jadi bintang buat kamu juga, Rin,” ucap Eita mempererat pelukannya pada tubuh Rintarou. “Rin, udah malam banget, kita pulang yuk!” ajak Eita tidak lama kemudian.
Rintarou mengangguk setuju. “Hmm ayo, aku juga udah berasa dingin. Ayo kita pulang!”
Area perbukitan tempat mereka menghabiskan waktu saat ini cukup jauh dari rumah Rintarou. Namun karena Eita yang mengajak Rintarou ke tempat itu, maka Eita juga akan mengantar Rintarou pulang ke rumahnya. Eita harus memastikan Rintarou sampai di rumahnya dengan aman. Sesampainya di rumah Rintarou dan bertegur sapa sebentar dengan kedua orang tua Rintarou, Eita berpamitan untuk pulang.
“Hati-hati di jalan ya, Eita.” Rintarou berpesan kepada Eita.
“Siap!” Eita memperagakan gerakana hormat kepada Rintarou yang membuat Rintarou terkekeh melihat tingkah kekasihnya. “Aku pulang dulu, ya!” tukas Eita kemudian.
Rintarou mengangguk, “selamat malam, Eita. Tidur yang nyenyak, ya,” ucap Rintarou.
Eita mengangguk, “pasti nyenyak, dong. Apalagi kalau mimpiin kamu,” balasnya.
“Dih gombal!” tukas Rintarou. Meskipun begitu, Rintarou merasakan pipinya menghangat setelah mendengar gombalan dari kekasihnya itu.
Cukup berbasa-basi, Eita kemudian kembali menyalakan mesin mobilnya. Sejurus kemudian Eita bersama mobilnya sudah hilang dari halaman rumah Rintarou juga dari pandangan Rintarou.
***
Sinar matahari masuk melalui celah-celah kecil kamar Rintarou. Bulan telah digantikan matahari, mengisyaratkan kepada Rintarou bahkan pagi hari telah datang dan Rintarou harus segera bangun dari tidur malamnya.
“Udah pagi aja.” Rintarou berbisik, masih mengucek pelan kedua matanya. “Perasaan baru aja tidur, udah pagi lagi,” ucapnya.
Rintarou kembali menguap, kemudian menggeliat untuk merenggangkan tubuhnya.
“Ngghh… nggak nyangka udah mau lulus aja gue. Nggak sabar buat ngerayaan kelulusan nanti,” ucap Rintarou.
Rintarou segera beranjak dari ranjangnya. Ia berjalan menuju kamar mandi yang ada di dalam kamarnya. Segera bersiap untuk menjalani hari ini. Ia tidak sabar juga ingin bertemu dengan kekasihnya di sekolah nanti.
***
Hingar-bingar kebahagiaan tampak begitu terasa di aula sekolah. Hampir semua murid kelas tiga SMA di sekolah tersebut menangis dan berteriak bahagia. Kepala sekolah mereka baru saja mengumumkan jika murid di sekolah pimpinannya lulus serratus persen. Termasuk Eita dan Rintarou di dalamnya.
“Makasih Tuhan gue lulus!”
“Nggak sia-sia gue belajar siang-malam buat ujian!”
“EMAKKKK ANAKMU LULUS!”
“See you on top, my friends!”
“WOY SEMUANYA SINI FOTO!”
“Nggak sabar jadi anak kuliahan gue!”
Rintarou tidak bisa berhenti tersenyum ketika melihat berbagai ekspresi bahagia dan mendengar banyak kalimat syukur dari teman-temannya. Hatinya bahagia akhirnya ia bisa menyelesaikan kewajibannya sebagai seorang pelajar SMA. Namun di sisi lain, Rintarou juga sedikit sedih dan terharu, ia telah lulus SMA, artinya ia dan teman-temannya akan melanjutkan mimpi-mimpi mereka. Rintarou cukup sedih artinya ia harus berpisah dengan teman-teman yang selama tiga tahun ini selalu bersamanya dan berbagi kisah juga kenangan dengannya.
“Rin, ikut aku bentar, yuk!” ajak Eita pada Rintarou di tengah kerumunan murid yang sedang bersuka cita.
“Eh, Eita? Ke mana?” tanya Rintarou.
“Kita ke taman, yuk! Aku pengen ngomong sesuatu sama kamu!” ajak Eita.
Rintarou mengangguk semangat. Ia meraih tangan Eita dan menarik Eita menjauhi aula sekolah mereka. Eita terkekeh. Perasaan yang mengajak Rintarou tadi adalah dirinya, namun lihatlah siapa yang paling semangat pergi bersama dirinya.
Setelah sampai di taman sekolah yang cukup sepi, Eita mengajak Rintarou untuk duduk di bangku putih yang sering mereka duduki jika sedang berada di taman itu.
“Rin, buat merayakan kelulusan kita, nanti malam dinner sama aku mau nggak?” tanya Eita to the point. Sejujurnya Eita sudah memikirkan banyak sekali rencana untuk merayakan kelulusan bersama dengan kekasihnya. Salah satunya adalah makan malam romantis yang sudah dari beberapa hari lalu Eita rencanakan.
“Serius, Ta, kamu ngajak aku dinner malam ini?” tanya Rintarou dengan nada sumringah. Senyum lebar ia tunjukkan kepada Eita, kekasihnya.
Eita mengangguk, “iya, gimana, mau nggak?” tanya Eita.
Rintarou mengangguk semangat. “Iya, mau banget!” tukasnya lalu memeluk tubuh Eita di hadapannya.
Eita terkekeh kecil, lantas membalas pelukan kekasihnya. “Ya udah. Tapi kayaknya aku nggak bisa jemput kamu,” ucap Eita merasa bersalah.
Rintarou menggeleng pelan, “nggak apa-apa. Aku bisa datang ke tempat dinner sendiri, kok,” balasnya.
“Maaf, ya.” Eita semakin merasa bersalah.
“Ihh, nggak apa-apa. Kamu nggak harus selalu jemput aku, tau. aku bisa ke sana sendiri,” jawab Rintarou.
Eita tersenyum lebar. Ia mengelus pelan rambut Rintarou kemudian membubuhkan ciuman singkat pada kedua pipi Rintarou. “Makasih, ya. Udah ngertiin aku,” ucap Eita.
Rintarou tersenyum, ikut membalas memberikan ciuman di kedua pipi Eita.
“Kamu juga udah banyak ngerttin aku, kok. Kita harus saling, kan?” tanya Rintarou.
“Ya udah kalau gitu, nanti aku tunggu kamu jam tujuh malam di restoran, ya. Aku kirim alamatnya nanti ke kamu,” ucap EIta dengan senyum di sudut bibirnya.
Rintarou mengangguk. “Oke, Sayangku Eita.”
***
Rintarou yakin ia bukanlah seorang gadis yang baru pertama kali kencan. Namun, Namanya kencan tetaplah kencan, ia tetap ingin tampil maksimal untuk dirinya dan pasangannya. Entah sudah berapa lama dia berdiri di depan cermin dan lemari pakaiannya. Berbagai pakaian ia coba untuk acara kencan serta makan malam bersama Eita malam ini. Tetapi rasanya ia belum menemukan pakaian yang cocok untuk ia kenakan.
Rintarou mendengus, mengacak pelan rambutnya. “Aduh, pakek baju yang mana? Bingung!” tukas Rintarou pada dirinya yang masih mengobrak-abrik isi lemari pakaiannya.
Cukup lama Rintarou mencoba berbagai macam pakaian dari dalam lemari pakaiannya. Akhirnya ia bisa menemukan setelan yang menurutnya cocok dan tidak terlalu berlebihan untuk acara kencannya hari ini.
Tidak menunggu waktu lagi, Rintarou segera berpamitan dengan kedua orang tuanya dan langsung bergegas pergi menuju alamat yang sudah Eita berikan kepadanya sebelumnya.
Rintarou mulai resah. Rintarou yakin Eita bukanlah orang yang suka ingkar pada janjinya. Jika Eita sudah berjanji, maka Eita akan berusaha untuk menepatinya. Namun kali ini Rintarou mulai resah. Bukan tanpa alasan, pasalnya hampir dua jam ia sampai di restoran dan menunggu Eita, Rintarou tidak kunjung melihat kedatangan Eita. Beberapa pelayan sudah berkali-kali menanyakan pesanannya, namun Rintarou terus berkata ia akan pesan menu begitu Eita datang.
Perasaan Rintarou tiba-tiba menjadi tidak enak dan tidak karuan.
Ke mana sebenar Eita? Kenapa sosok kekasihnya itu tidak kunjung datang menemuinya?
Bunyi nada dering ponsel yang tiba-tiba berhasil mengejutkan Rintarou. Rintarou segera mengambil ponselnya dan melihat siapa yang menghubunginya. Ia menghembuskan napas lega ketika melihat caller id di layar ponselnya.
“Halo, Eita. Kamu di mana? Aku udah nunggu kamu dari tadi!” tukas Rintarou begitu menempelkan ponsel ke telinganya.
“…”
Raut wajah yang tadinya lega tiba-tiba langsung berubah. Jantungnya berdebar cepat, suaranya tercekat.
“Sekarang dia ada di mana?” tanya Rintarou mulai menangis
“...”
“I-iya, saya segera ke sana.”
Tanpa menunggu waktu lagi, Rintarou langsung bangkit dari kursi. Ia berlari keluar dari restoran.
***
Rintarou sampai di rumah sakit dengan selamat. Hatinya resah, sepanjang perjalanan ia hanya bisa menangis. Namun ia masih bisa mempertahankan kewarasannya hingga bisa sampai di rumah sakit dengan selamat. Ia berlari sepanjang koridor rumah sakit, tidak peduli orang-orang menatapnya seakan Rintarou adalah orang gila. Tapi Rintarou tak mempedulikan semua itu, yang ia pedulikan saat ini hanya bagaimana keadaan Eita.
“Eita…” panggil Rintarou setelah sampai di ruang rawat Eita.
“Rin,” suara Eita terdengar sangat lemah.
Rintarou berjalan mendekati Eita. Tangannya langsung menggenggam tangan Eita yang terasa dingin. “Aku di sini, Ta.” Rintarou mulai menangis. Sangat menyakitkan ketika melihat bagaimana keadaan Eita saat ini. entah seperti apa kecelakaan yang Eita alami sebelum bertemu dengannya beberapa waktu lalu. Namun, melihat bagaimana keadaan Eita kini yang penuh dengan perban dan masih terlihat beberapa bekas darah, Rintarou yakin itu bukanlah kecelakaan kecil.
“Ja-jangan nangis, Rin. K-kamu harus jan-ji nggak boleh nangis gara-gara aku,” ucap Eita berusaha menghapus air mata Rintarou di pipi.
Rintarou menggeleng. Bagaimana ia tidak menangis jika melihat keadaan Eita saat ini. “Kamu harus kuat, Eita!” tukas Rintarou semakin menggenggam erat tangan Eita.
Eita hanya tersenyum membalas ucapan Rintarou. “Ri-Rin, bo-boleh aku minta sesuatu dari kamu?” tanya Eita.
Rintarou segera mengangguk, “apapun, Ta. Kamu mau minta apa?” tanya Rintarou.
“Ci-cium aku, Rin.”
Tanpa berpikir panjang atas permintaan Eita, Rintarou langsung mendekatkan wajahnya pada Eita. Hingga akhirnya bibir mereka berdua menyatu, awalnya hanya menempel namun kemudian berubah menjadi sebuah lumatan pelan tanpa napsu. Setelah beberapa menit mereka berciuman, Rintarou merasa ciuman Eita mulai melemah dan semakin lemah. Rintarou melepaskan ciuman mereka. Air mata telah jatuh di pipinya. Wajah pucat Eita adalah hal yang pertama kali Rintarou lihat begitu ia membuka mata. Eita telah pergi meninggalkan dirinya.
“Eita... bangun, Ta... kamu janji akan selalu nemenin aku, kamu janji akan selalu di samping aku! Eita, bangun, bangun!” ucap Rintarou mengguncangkan tubuh Eita.
“Eita, bangun...” suara Rintarou melirih. Isak tangis semakin terdengar. “Jangan tinggalin aku.”
Malam itu, malam yang Rintarou kira akan ia habiskan dengan kencan manis bersama Eita. Nyatanya menjadi malam di mana terakhir kali ia melihat Eita, kekasihnya.
—END
