Actions

Work Header

The Witch of Purple Rose's Birthday

Summary:

Sembilan Juni. Menghabiskan hari sambil ditemani anggur dan kenangan lama seharusnya tidak jadi masalah besar. Walau tentu saja, kehadirannya secara langsung tetap menjadi kejutan yang menyenangkan.

Notes:

Salam! Tulisan ini dibuat atas permintaan melalui komisi. Selamat ulang tahun Lisa Minci!

Work Text:

“Terima kasih banyak, manis~” Sepasang manik zamrud tengah bersembunyi di balik kelopak mata. Membentuk lekukan bagaikan pelangi sementara bibirnya mengulas lengkung yang berkebalikan. Tangannya bergerak membolak-balik lembaran secara asal dari buku yang secara kebetulan tengah membuka di hadapannya, sementara tangan yang satu tengah menumpu kepalanya sendiri.

 

“Sama-sama, Lisa.” Yang dipanggil manis membalas. Turut mengulaskan senyum di wajah yang berpeluh. Kala zamrud membuka, tangan yang tadi bermain dengan lembaran buku beralih meraih sapu tangannya sendiri. Bukan untuk dirinya, tentu saja, tapi untuk penolong kecil yang sudah mau direpotkan dengan tugas yang seharusnya dia kerjakan sendiri selaku penjaga perpustakaan Favonius.

 

Senyum di wajah Lumine melebar. Sapu tangan tersebut diterima dengan senang hati dan langsung digunakan untuk mengusap wajahnya. Tidak banyak dan hanya seperlunya, sapu tangan tersebut langsung dikembalikan kepada yang empu.

 

“Kamu tidak mau menemaniku dulu? Aku bisa membuatkan teh untuk kita berdua.” Saputangan diterima kembali, diganti dengan sebuah pertanyaan yang juga menyerupai pinta. Tidak ada paksaan dalam nada bicaranya, hanya setitik harapan yang munculnya pun hanya sekilas. Seolah-olah paham bahwa pada akhirnya penolakan adalah kemungkinan paling besar atas tawarannya.

 

“Aku ingin, tapi sayangnya tidak bisa. Aku sudah berjanji untuk pergi memancing bersama Paimon dan Klee sehabis ini.”

 

Sudah kuduga. Tidak apa-apa.

 

Lisa mempertahankan senyumnya. Bahkan ada kekeh ringan yang dikeluarkan karena apa yang menjadi alasan Lumine harus pergi cukup lucu. Sangat menggemaskan, walaupun dia sendiri yakin bahwa memancing yang dimaksud akan lebih banyak menggunakan bahan peledak daripada alat pancing dan kailnya.

 

“Luangkan waktumu lain kali untukku, ya~” Lumine terkekeh sebelum mengangguk mantap. Pekerjaannya di sini sudah selesai, dan sekarang dia sudah harus pergi karena ada orang lain yang menunggunya. Titel ksatria terhormat yang disandang tidak hanya mencakup tentang perang dan pertahanan kota tapi jauh lebih luas daripada itu.

 

“Lisa.” Pintu sudah terbuka. Satu kaki sudah berada di luar pintu. Lisa yang tadinya sudah mengalihkan fokus pada buku di meja akhirnya kembali mendongak ke sumber suara.

 

“Selamat ulang tahun.” Belum sempat Lisa menjawab, yang mengucap selamat sudah melambaikan tangan dan meninggalkan ruangan. Kekehan kembali lolos dari bibirnya. Ringan dan hanya bertahan untuk beberapa saat. Tidak boleh terlalu ribut di perpustakaan walau di kala senja seperti ini, penghuninya hanyalah Lisa dan Lisa saja.

 

Dengan hening yang mulai menyelimuti, yang dituangkan ke dalam gelas bukanlah teh yang biasa ditegak untuk memanjakan indra pengecap. Cairan yang ini berwarna merah dengan konsistensi yang tetap menyerupai air biasa. Tidak pekat, tapi aromanya jelas tercium berbeda daripada biasanya. Lisa tidak sering minum anggur, bukan berarti dia tidak pernah menegak satu atau dua gelas dalam hari istimewa atau kala hati tengah membutuhkan sedikit bantuan.

 

Anggur kali ini pun tidak langsung diminum begitu saja. Masih dengan sengaja diputar dan dimainkan di dalam gelas, sementara tangan satu lagi yang bebas masih asik membolak-balik lembaran dari buku yang sedari tadi menyita perhatiannya. Bukan hanya sembarang buku ternyata, melainkan buku tahunan dari masa Akademiya.

 

Entah kenapa, rasanya dia sedikit rindu. Mengenang masa lalu harusnya tidak apa-apa, ‘kan?

 

“... Oh?”

 

Seperti yang tertangkap pada foto yang ini, contohnya.

 

Ada Lisa, tentu saja. Tersenyum lebar sambil merangkul rekan sesama murid Akademiya kala itu. Kontras antara rambut keduanya cukup ketara. Walaupun warna hijau dari seragam mereka sudah mendominasi, helaian biru yang bersanding dengan coklat cukup membuat keduanya begitu menonjol. Ditambah dengan dua pasang manik sewarna delima serta zamrud yang begitu cemerlang. Lisa terkekeh sejenak sambil mulai meminum anggurnya secara perlahan. Hendaknya membalik halaman tersebut, tapi geraknya terhenti kala dia menyadari ada sosok lain yang tertangkap gambar. Bukan bagian dari objek foto utama seperti dia dan rekannya yang terlihat jelas, sosok hijau yang satu ini bahkan buram. Butuh beberapa detik bagi Lisa untuk mengenali siapa sosok tersebut. Kala gambaran jelasnya sudah muncul di kepala, ada ahh~ singkat yang lolos dari belah bibir.

 

Lembaran yang hampir dibalik kembali diletak begitu saja. Tangan beralih mencari secarik kertas yang sekiranya layak untuk dijadikan surat. Buku tahunannya tidak ditutup, hanya digeser untuk memberikan ruang menulis yang lebih leluasa. Niatnya ingin mengambil pena, tapi geraknya terhenti kala melihat pintu perpustakaan yang membuka.

 

“Master.”  Dan siapa yang kini sudah berada di depan mejanya.

 

“Halo, Razor~” Lisa balas menyapa. Meminum anggurnya barang dua kali tegukan sebelum meletakkannya di ujung meja yang berlawanan dengan posisi lawan bicara. “Ada apa?” Dan tanyapun dilayang. Bukan karena dia tidak senang karena dikunjungi oleh muridnya, tapi karena dia paham kalau Razor tidak akan datang tanpa alasan.

 

“Master, ulang tahun?” Lisa mengangguk. Razor balas mengangguk. Tangan kanannya meraih pergelangan tangan Lisa, sementara tangan yang kiri menunjuk kearah luar.

 

“Kami rayakan ulang tahun Master Lisa. Cat’s tail dengan lupical. Ayo.” dan sang Penyihir Mawar Ungu tidak bisa menahan tawanya. Apakah dia lupa mengajari muridnya atas konsep rahasia dan kejutan sebelumnya?

 

Tawanya mereda tapi tidak langsung sirna kala dia merasakan genggam Razor yang semakin gencar menariknya. Kira-kira apa yang diinstruksikan oleh mereka yang menunggu di Cat’s tail? Panggil  Lisa kemari, tapi jangan beritahu kalau ada kue di sini? atau panggil dan bawa Master Lisa kemari. Kita rayakan ulang tahunnya bersama. Perintah manapun yang dia terima, nampaknya dia sendiri turut merasa senang dan bertanggung jawab atas tugasnya. Binar matanya tidak bisa berbohong.

 

“Baik, baik!” Anggurnya ditinggalkan, begitu pula dengan surat yang bahkan belum sempat digores tinta. Diselipkan di antara halaman buku tahunan yang kini dia tutup sempurna. Bangkit dia dari singgahsananya, dan lantas membiarkan Razor menyeret dan memimpin jalan mereka menuju Cat’s Tail.

 


 

Cat’s Tail sudah dihias sedemikian rupa dengan berbagai macam ornamen mawar dan berbagai gradasi dari warna ungu. Lengkap dengan konfeti dan kue cantik dengan lilin di pucuknya. Begitu pintu dibuka dan tokoh utama hari ini akhirnya muncul, tepuk tangan dan ucapan selamat ulang tahun langsung memenuhi ruangan.

 

“Selamat ulang tahun, Lisa!”

 

“Selamat ulang tahun.”

 

Selamat ulang tahun~”

 

Razor menarik Lisa ke tengah ruangan. Kembali dia mengucap selamat sebelum mengarahkan lengannya kearah pisau di sebelah kue.

 

“Ada yang tidak sabar ingin makan kue, ya?” Ditanya seperti itu, Razor langsung menggeleng kuat. Langsung melepas tangan Lisa dari genggamannya dengan kepala yang masih menggeleng beberapa kali. Lucu. kala jarak di antara mereka belum terlalu jauh, karena Razor mulai bergerak mundur untuk menghindari kontak mata, Lisa sempatkan diri untuk mengulurkan tangan kosong dan mengusap pucuk kepala si anak serigala.

 

“Selamat ulang tahun untukku.” Lilin ditiup hingga padam. Asap tipisnya mengudara beberapa saat sebelum akhirnya hilang dari pandangan. Sambil kembali diiringi dengan tepuk tangan dan ucapan selamat serta doa baik atas usia yang baru, kue ulang tahunpun akhirnya dipotong.

 


 

Yang berulang tahun tadinya tengah menikmati kue sambil berbincang dengan Jean. Bukan topik yang berat, karena Lisa jelas tidak ingin membahas hal tersebut di hari istimewanya. Bahkan kalau lawan bicaranya adalah Jean yang termasuk workaholik.

 

“Ini ulang tahunku, Jean.” Dan Jean bisa saja menangkisnya, tapi dia memilih untuk hanya mengangguk dan mengangkat gelas minumannya. Mengajak Lisa untuk bersulang dan langsung diikuti pula oleh Lisa.

 

“Master.” Lisa menoleh dan kembali menemukan Razor. Kalau tadi yang terpancar dari sepasang maniknya adalah perasaan senang dan bersemangat, binarnya sekarang meredup. Seolah ada rasa curiga dan tidak percaya. Lisa tahu tatapan itu tidak ditujukan untuknya, tapi alasan dibaliknya sudah cukup untuk membuat duduknya yang tadi sedikit bersandar kembali menjadi tegak sempurna.

 

“Ada apa?”

 

“Orang asing di luar. Katanya kenal Master Lisa?” Alis terangkat. Yang bersangkutan menoleh kearah Jean yang kebetulan juga mendengarkan. Hanya dengan berbagi tatapan, keduanya bisa mencapai satu keputusan: mencurigakan.

 

“Duduk di sini dengan Master Jean, oke?” Nada bicaranya lembut. Diusahakan tidak berbeda dengan nada yang biasa digunakan kala tengah berkomunikasi dengan anak serigalanya. Dan dia mengangguk patuh. Begitu Lisa bangkit dari duduknya, Razor langsung menempati tempat duduknya. Lisa kembali bertukar tatap dengan Jean. Dalam dua kali anggukan yang saling berbalas, tungkai langsung melangkah lebar menuju pintu depan Cat’s Tail. Kalau memang ada bahaya yang menunggu dibalik pintu ini. Maka dia-

 

“Halo, Lisa.”

 

… Maka dia harus apa?

 

Pintu di belakang punggung di tutup rapat. Dia tidak pernah meragukan keamanan dan keselamatan baik dirinya ataupun orang lain di dalam kota Mondstadt, bukan berarti dia tidak akan mengambil barang satu langkah pencegahan kalau ada barang setitik niat buruk dari sosok yang ada di hadapannya.

 

Surai birunya masih sama. Hal yang serupa tidak bisa dikatakan untuk wajahnya yang sekarang sudah ditutupi oleh topeng sepenuhnya. Tapi, yang lain masih sama.

 

“Zandik.”

 

Yang lebih tinggi langsung tertawa. Bersandar dia pada pembatas di dekat tangga, seolah-olah tawanya tadi sempat mengganggu keseimbangannya. Kala tawanya reda, wajah yang bertopeng kini menggeleng beberapa kali.

 

“Nama itu sudah lama aku tinggalkan. Dan aku yakin kau tahu aku siapa sekarang.” Lawan bicaranya memang memakai topeng, tapi Lisa masih bisa merasakan bagaimana mereka bertemu pandang kala topeng tersebut menoleh kearahnya. Kalau dia bersandar pada pembatas, maka Lisa sendiri bersandar pada pintu.

 

“Jadi, ada perlu apa?” Matahari sudah mulai tenggelam. Ujung barat sudah berwarna oranye pekat sementara sisi yang lain sudah didominasi gelapnya malam sekaligus bintang yang perlahan-lahan mulai menunjukkan binarnya. Dan Lisa melempar tanya dengan senyum yang masih mengulas di wajahnya. Walau memang ada kewajiban yang memintanya untuk menjaga jarak, sosok yang ada di hadapan bukanlah orang asing. Paling tidak untuknya.

 

“Penyerahan informasi dari agen lapangan.” Yang bertopeng mendongak. Menatap warna langit yang sudah bergradasi dan akan berganti. Tangannya merogoh saku, seolah-olah hendak memastikan bahwa apa yang seharusnya ada di sana, tetap ada di sana.

 

“Aku sudah dapat informasinya. Kalau aku tidak melihatmu ditarik kemari oleh seorang anak kecil, aku akan langsung angkat kaki.” Tangan yang berdiam di dalam kantong dikeluarkan. Nampak menggenggam sesuatu. Sulit untuk ditebak, karena memang bentuknya sama sekali tidak terlihat.

 

Lisa mengangguk beberapa kali sambil mendengarkan. Memang seharusnya tidak ada yang harus ditakutkan atau dikhawatirkan akan kehadirannya di kota mengingat beberapa bawahannya masih bisa berkeliaran dengan leluasa. Dan dia temannya. Bahkan dengan pilihan jalan yang berbeda, apakah berarti mereka sudah tidak bisa berteman lagi?

 

“Apa mau aku ambilkan minuman atau kue? Kita bisa mengobrol di sini kalau kau tidak mau masuk.” Lisa memberikan tawaran. Sudah tidak lagi bersandar pada pintu tetapi tengah meraih gagangnya. Sudah siap untuk membuka kalau saja tangan sang lawan bicara tidak lebih cepat menahannya.

 

Zandik menutup jarak yang tadinya cukup ketara di antara mereka. Menahan Lisa untuk membuka pintu dan menyuguhkan barang sekedar jamuan sederhana. Kepalanya juga menggeleng beberapa kali. Sebelum akhirnya dia kembali mendongak dan melihat langit yang sudah semakin gelap.

 

“Terima kasih atas tawarannya, tapi aku dikejar waktu.” Tangan yang tadi menahan tangan Lisa kini menariknya mendekat. Membuka telapak tangannya sebelum meletakkan sebuah kotak kecil yang ternyata bersembunyi di balik genggamannya. “Selamat ulang tahun,” ditambahkan sambil melepas kontak fisik sederhana di antara mereka.

 

Yang diberi hadiah lantas memperhatikannya dengan sesama. Kotak kecil yang terbuat dari kayu. Polos tanpa corak di setiap sisinya kecuali engsel yang menunjukkan arah kotak tersebut membuka.

 

“Terima kasih.” Ucapannya tulus. Begitu juga dengan senyum yang kembali menghiasi wajahnya. Mengingat dia yang tiba-tiba merindu sore tadi, dan malam ini langsung dibayar tuntas, sulit rasanya bagi Lisa untuk tidak menahan senyum yang berkembang.

 

“Aku pamit. Selamat ulang tahun sekali lagi, Lisa.” Tidak ada lambaian tangan, hanya dua kepala yang saling mengangguk guna mengiyakan. Kala suraian birunya sudah tidak lagi tertangkap pandangan, fokus dari sepasang zamrudnya kini teralih pada kotak yang ada di tangannya. Kotak tersebut tidak memiliki kunci ataupun teka-teki. Terbuka dalam satu kali percobaan dan yang ada di dalamnya adalah sepasang anting. Bentuknya seperti butiran air mata dengan pertama yang berwarna hijau. Persis matanya.

 

Mungkin memang pada dasarnya, walau sudah lama tidak bersua, tidak banyak yang berubah dalam pertemanan yang terjalin dengan bantuan tekanan Akademiya.

 


 

“...an?”

 

“Tuan…?”

 

Oh.

 

Yang dipanggil berkedip beberapa kali, lantas menoleh ke sumber suara dan mendapati Timaeus yang nampak sedikit khawatir.

 

“Apakah ada yang mengganggu Anda? Atau mungkin membuat tidak nyaman karena suasana yang gelap?” Dia menggeleng. Rantai kacamatanya ikut bergoyang dan menimbulkan bunyi samar yang entah kenapa sudah menjadi suara penenang bagi yang empu.

 

“Apakah sedang ada perayaan di sana?” Jarinya menunjuk kearah bangunan Cat’s Tail. Di saat yang bersamaan, siluet seorang wanita dengan topi lebar yang ada di pintu depan akhirnya menghilang. Sepertinya dia sudah kembali masuk untuk menikmati apapun yang tengah dirayakan di dalam bangunan tersebut.

 

“Ah, iya. Hari ini hari ulang tahun nona Lisa Minci. Mereka sedang merayakannya di sana.” Kepala yang ditumbuhi surai hijau itu mengangguk beberapa kali. Seolah mengiyakan apa yang diucapkan sementara kepalanya masih memutar gelagat dua bayangan yang tadi dilihat sebelum hari semakin gelap.

 

“Mengingat reaksi alkeminya tidak akan muncul sampai besok, apa boleh kalau kita lanjutkan diskusi ini besok? Mengingat hari juga sudah gelap, Anda pasti sudah lelah karena perjalanan dari Liyue untuk sampai ke sini.” Yang dimaksud hanya tersenyum tipis sebelum mengangguk. Usai bertukar info singkat untuk jam perjanjian besok serta penginapan yang sekiranya bisa dia tempati malam ini, mereka pun beranjak.

 

Timaeus beranjak semakin jauh, sementara lawan bicaranya tadi masih terhenti di depan air mancur. Bukan itu yang membuatnya berhenti, karena kepalanya menoleh kearah Cat’s Tail. Selebrasi di dalam bangunan tersebut tidak bisa didengar, tapi cahaya dan gerak bayang-bayang dari jendela yang terbuka sudah cukup menyiratkan bahwa mereka yang ada di sana masih bersenang-senang dan bercengkrama satu sama lain.

 

Apa boleh dia datang sebagai tamu tak diundang? Toh, dia mengenal orang yang tengah berulang tahun.

 

“Baizhu?” Ular yang beristirahat pada lehernya memanggil. Mungkin karena merasakan keraguan dan perang batin yang tengah terjadi dalam diri pemiliknya. Sosok yang saat ini kembali menoleh kearahnya dengan senyum tipis.

 

“Bukan apa-apa, Changsheng. Ayo kita cari penginapan yang tadi disarankan oleh Tuan Timaeus.”

 

dan selamat ulang tahun, Lisa Minci.