Actions

Work Header

Lasting Alone

Summary:

Namping sudah cukup lelah, dia bertahan sendirian, dan ini saatnya Keng melepaskannya.

Notes:

(See the end of the work for notes.)

Work Text:

Tawa ringan terdengar dari sudut ruangan dengan pencahayaan yang tidak begitu kuat. Tirai berwarna putih cerah itu seolah membuat ilusi tidak ada siapapun dibaliknya, namun jika di tarik langsung terlihat jelas pemandangan lampu perkotaan yang dari teras lantai teratas, berbeda dengan gelapnya langit malam yang mungkin sebentar lagi akan menurunkan hujannya. Suara orkestra yang mengiri pernikahan hari ini membuat suasana terlihat begitu meriah, tapi terdengar lemah di tempat keduanya berada.

"Gak nyangka kita bisa kayak gini, padahal dulu kamu paling benci sama aku,"

Namping, lelaki yang tengah memutar kecil gelas wine merahnya menatap dengan binar cerah putaran wine yang semakin dalam.

Keng di sisi lain masih memasang wajah datar. Dirinya tetap berdiri tegak seperti biasanya.

Namping yang tidak melihat reaksi satupun dari lelaki disebelahnya, mendengus, sudah terbiasa. Ia juga masih membenci sorot kedua mata lelaki itu yang seolah menatapnya layaknya pusaka berharga.

"Kasih reaksi dikit, kek, aku kayak ngomong sama batu, lho,” Ketus Namping, Keng menghela nafas, sedikit tersenyum ketika Namping mengangguk, menikmati gelas wine ditangannya.

“Itu wine kesukaanmu, Ping,” lirih Keng. Namping melirik sekilas sebelum meletakkan gelas wine itu di langkan balkon.

Eh, jadi inget waktu aku minta tolong kamu buat ngijinin bolos hukuman guru BK dulu,"

Tawa renyah itu kembali terdengar, menghiraukan kalimat yang baru saja diucapkan Keng. Namping memandang jauh pada kelipnya lampu kota, mengingat dirinya yang dulu waktu SMA yang nakal, dan Keng Harit adalah anak OSIS yang kesempurnaannya sering dipuja-puja.

Ada begitu banyak momen lucu tentang Namping dan Keng remaja, keduanya yang selalu berada di kubu berbeda. Keng yang bertugas mendisiplinkan Namping dan kawan-kawannya selalu berakhir di ruang Kepala Sekolah.

Entah itu acara bolos Namping yang berakhir dengan lututnya berdarah, dan Keng terpaksa membawanya ke klinik sekolah oleh guru olahraga. Keng yang melaporkan Namping karena kurangnya kelengkapan sekolah, malah berakhir menggendong Namping ke klinik sekolah untuk kedua kali minggu itu.

Tentang masa lalu mereka, dimana Namping berlarian keliling sekolah menghindari Keng yang menangkap dirinya merokok di atap sekolah. Ketika mereka dihukum bersama, membereskan buku perpustakaan karena keduanya menjatuhkan vas bunga Kepala Sekolah.

Atau, ketika Namping yang Keng pikir sedang memalak adik kelas malah terlihat ternyata hanya sedang bertingkah genit kepada perempuan itu. Ah, disitu Keng pertama kali merasa dadanya sesak ketika melihat remaja nakal yang ia benci.

Di sisi lain, Namping merasa kesal ketika Keng terlihat mengabaikannya, padahal dia terlambat ke sekolah. Dia juga pernah merasa kecewa ketika Keng lebih mempercayai anak sekolah lain dan tetap memarahinya padahal dirinya tidak bersalah dan sedang menahan sakit.

Keng melirik Namping yang masih semangat menceritakan kebodohan mereka dimasa SMA dulu. Dia ikut mendengarkan seksama, sesekali masih memandang sosok tercantik yang pernah ia temui. Kalimat yang mungkin tidak pernah terpikir untuk mendeskripsikan seorang laki-laki.

"Huh, andai aja kamu gak ke gudang belakang, kayaknya kita masih gak kenal, deh, waktu itu, rasanya udah lama,"

Namping melirik Keng yang masih menatapnya. Senyum mengembang di wajah cantik Namping.

"Dulu kamu juga begini, lho, minimarket inget gak?"

Keng mengangguk kecil, jelas dia ingat.

Saat itu kelulusan mereka dekat, ujian nasional telah usai, dan menyisakan sisa fokus pada ujian masuk universitas. Keduanya jarang bertemu, terlebih Namping yang lebih banyak menghabiskan waktu mengulang materi yang tidak pernah dia dengarkan di kelas tambahan.

Keng dengan keberanian yang begitu besarnya mengajak Namping jajan di minimarket dekat dengan sekolah mereka. Menikmati angin sore sekaligus meringankan otak mereka.

Posisi mereka juga sama Namping yang bercerita tentang beberapa hari terakhir saat mereka tidak bersama, dulunya Namping dengan es krim vanila. Keng yang tidak membeli apa-apa dan hanya mendengar seksama Namping.

Sampai dipertengahan cerita Keng memandang Namping begitu dalam. Sebegitu dalam hingga Namping merasa canggung untuk pertama kalinya.

"Ping, aku suka kamu,"

Ujar Keng saat itu seperti petir di siang bolong bagi Namping.

"Kamu gak salah?"

Keng merengutkan alis.

"Apanya yang salah? Aku suka kamu, aku gak tau sejak kapan, tapi yang aku tau, kalau aku gak ngomong ini sekarang, aku gak tau kapan lagi aku bisa ngungkapin hal ini, aku—"

"Shhuuush, diem, Harit bego,”

“Aku belum siap dengerin penjelasan kamu," senyum Keng merekah di sela jari tangan Namping yang membekap mulutnya diam.

Untuk beberapa menit Namping menenangkan dirinya. Keng setia menunggu. Masih dengan senyum tipis dan sorot mata yang Namping benci itu. Membuatnya memerah padam tanpa tau bagaimana tatapan itu memutar isi perutnya.

Angin sore menerbangkan ramput Namping yang mulai memanjang. Keng terlihat melamun dalam kekaguman entah keberapa kali. Harusnya dia tidak meminta wali kelas mereka untuk memotong pendek rambut itu, bisa dibayangkan rambut yang lebih panjang dari sekarang memeluk wajah cantik Namping. Membuatnya terkadang lupa cara bernafas.

"Namping,"

Lirikan malu diberikan pemuda yang lebih muda beberapa bulan, membuat Keng ingin sekali menatanya lebih baik. Seberapapun suka dirinya dengan rambut panjang itu, dia lebih memilih untuk melihat binar matahari sore di kedua mata Namping.

"Aku gak tau kamu suka aku atau enggak, tapi kalau seumpama perasaanku berbalas," Jeda Keng berikan, tangannya gatal menyingkap poni Namping. Setelah menyematkannya di balik kuping, tangannya beralih mengelus pipi Namping singkat.

"Ayo, bersama untuk waktu yang lama! Mungkin selamanya, mungkin dikehidupan yang selanjutnya, aku ingin kita seperti ini selamanya, kamu mau?"

Suara kendaraan berlalu lalang seakan melemah di kedua indra mereka. Hanya degupan jantung tidak teratur menggebu-gebu, membuat Namping tertunduk.

Dan Keng hampir saja berseru ketika melihat anggukan kecil yang diberikan. Keduanya tersenyum bahagia dengan detak jantung beriringan bersama kupu-kupu yang meledakan perasaan membuncah tak jelas diperut mereka.

Dulu dan sekarang.

Keduanya masih merasakan hal yang sama.

"Aku inget, Ping,"

Jawaban Keng terlihat serius, tak berbohong bahwa peristiwa itu membuatnya sesak nafas karena rasa senang berlebihan. Seperti diremas begitu kuat namun melegakan.

Hening terjadi beberapa saat, Namping memilih diam daripada menanggapi. Tangannya mengambil gelas wine yang ia letakkan, memutar gelas wine, menggantung keterdiaman itu lebih lama. Setelahnya Namping menengguk kasar gelas itu, ketika selesai nafasnya memburu dan tatapan marah Namping layangkan pada gelas itu, sebelum akhirnya membanting gelas itu ke lantai.

Keng terkejut dan menjauhkan Namping dari pecahan gelas, namun, Namping memberontak dalam pelukan itu.

"Ping, dengerin dulu,"

"Lepas, lepasin aku, Keng,”

Namping dengan sepenuh kekuatannya akhirnya berhasil melepaskan diri.

“Don’t touch me with your filthy hands!” Nafas Namping menggebu, matanya memerah dengan rasa amarah dan tangis yang mungkin bisa keluar secara bersamaan.

"Lucu, ya, kamu,” Namping menelan ludahnya, memejamkan matanya, berusaha mengontrol emosinya yang bisa membuat kepalanya pecah.

“Kamu masih mau dengerin masa lalu, disaat kamu nyambut masa depan tanpa ngasih tau aku, dan gilanya kamu pake wine yang aku pengen untuk di hari pernikahanku, gila kamu? Sakit,"

Namping tidak berteriak ataupun kembali berontak seperti tadi. Suaranya lebih terdengar datar dan jauh dari nada yang biasa Keng Harit dengar.

"Sepuluh tahun, Keng, sepuluh tahun kita bareng, jatuh bangun bersama, aku selalu percaya sama kamu, tapi apa?”

Suara Namping pecah diakhir, matanya berkaca-kaca, tapi dia menahan perasan sesak yang jelas berbeda dengan dulu.

"Cukup semalam kamu hancurin itu semua. Semalam dan kepercayaanku hancur berantakan. Apa itu bisa dibanding dengan janji yang kamu beri dulu? Apa bisa dibanding dengan kenangan yang kita buat? Apa menurutmu aku—"

Pelukan erat Keng membuat suara Namping terhenti. Dia kembali meronta meminta untuk dilepaskan. Pada akhirnya dia hanya bisa memukul pasrah punggung Keng.

"Kamu jahat, Harit, orang terjahat!”

Dugh.

"Kenapa kamu bikin aku dan Harit-ku kayak gini?”

Dugh.

"Harit-ku kemana? Kenapa dia tega nyakitin aku?"

Dugh.

Setelah pukulan Namping berhenti, Keng melepas pelukannya. Dia menangkup wajah Namping, walau langsung ditepis.

"Ping?”

Don’t call me that!” Keng terdiam, menghela nafasnya. Bukan hanya Namping yang sakit disini.

“Namping, denger, liat aku sekali aja, tolong sebentar aja,"

Setelah merasa agak tenang, Namping mendongak untuk melihat wajah tampan yang selalu menjadi pujaan hatinya selama ini, namun malam ini wajah itu membuatnya muak. Sorot mata itu membuat Namping berani sumpah akan menjadi mimpi buruknya.

"Aku tetep Harit kamu, gak ada Harit lain, aku juga gak mau, Namping,” Lagi mulutnya berhenti, melihat airmata yang mengalir pelan di pipi yang selalu menjadi favoritnya membuatnya sakit.

“Tapi dia hamil, Namping, aku gak bisa apa-apa," Lirihnya di akhir.

Tamparan keras Namping arahkan di pipi tirus Keng. Dia mendengus.

"Gak bisa apa-apa atau kamu emang bodoh? Sebegitu bodoh sampe percaya cewek itu, dia mungkin aja nipu kamu, mana kamu tau dia hamil anak cowok lain,"

Keng mengerutkan alisnya, tak suka dengan bagaimana Namping menuduh perempuan yang akan menjadi istrinya malam ini.

"Namping, jaga bicara kamu!"

Teguran itu membuat dada Namping semakin sesak. Ada seribu kenangan tentang dirinya dan lelaki dihadapanya, tapi ucapan itu seolah perlahan menghapus ingatanya.

"Aku tau kamu marah, tapi bukan berarti nuduh dia benerin tindakan kamu yang marah,"

"Heh, bagus, bela aja, belain dia, kan yang salah disini tuh aku yang percaya,"

Keng kembali menghela nafas. Sejujurnya dia juga kalut, andai saja kecelakaan malam itu tidak terjadi, segelas wine itu tidak akan dinikmati layaknya menelan duri. Keduanya mungkin bertukar love shot, berdansa di tengah ruangan, memeluk dan mencium di depan Tuhan setelah mengikrarkan janji, dengan Namping bukannya orang lain.

"Namping, aku minta maaf, aku minta maaf karena kita berakhir kayak gini,"

Tangisan dalam diam Namping tidak membuat rasa sakitnya berkurang, apalagi sejak pembelaan Keng. Kepalanya terasa sakit karena emosi yang juga memakan satu per satu kewarasannya saat ini. Sama halnya dengan Keng, dadanya terasa berat, seolah terisi dengan batuan yang mengiris jantungnya, ia tau dirinya salah disini, tapi tidak bisakah Namping melihat bahwa dirinya juga tidak mau, dia mencintai Namping semestinya, dan kesalahan ini tidak lah membuat rasa cintanya buruk.

"Maaf? Kita? Kamu bisa mikir ga kamu minta maaf buat apa? Emang siapa sih 'kita'?"

Namping terlihat menjauh dari Keng.

"Kamu tau maaf kamu cuma kedengeran kayak alesan di telingaku, ‘kita’ yang kamu maksud juga mungkin aslinya ga ada di kepala kamu, kamu cuma bodohin aku, selama ini kamu cuma pengen main-main sama aku, kan?”

“Namping, tolong jaga ucapan kamu, aku tau kamu marah, tapi aku ga pernah main-main sama kamu!”

“Tapi, kamu kayak main-main sama aku, Keng!” Namping berteriak kesal, isak tangisnya terdengar.

“Dia bukan satu-satunya alasan, Keng. Kamu pikir aku ga tau kamu belum ngomong sejujurnya sama mama? Menurut kamu aku ga tau orang kantor kamu pikirin tentang aku? Mereka pikir aku lelaki gay murahan penyuka lelaki straight, dan kamu ga pernah sekalipun benerin rumor itu, menurutmu aku ga tau? Bertahun-tahun dan kamu ga pernah sekalipun dengan jujur memilih aku, selama ini kamu percaya kepada kepura-puraanmu mencintaiku, padahal kamu ga pernah sayang sama aku,”

Keng tercekat, lidahnya kelu. Ia tidak berfikir bahwa Namping mengetahui itu.

“Tapi, aku ga pernah menganggap itu serius, karena apa? Karena sepuluh tahun ini aku percaya sama kamu. Dan kepercayaan itu terbayar percuma. Sepuluh tahun dengan hebatnya kamu masih berpura-pura, sampai aku juga ikut percaya kamu juga mencintaiku. Mungkin seharusnya dulu aku ga mengiyakan ajakan bodoh kamu, apa itu bersama? Selamanya? Kehidupan selanjutnya? Hahaha, kamu pasti melihatku sebagai lelucon terbesarmu, kan?” Keng menggeleng, mencoba meraih tangan Namping.

Namping ikut menggeleng, mencoba melepaskan genggaman Keng.

“Ping, aku cinta sama kamu, aku minta maaf soal mama dan orang kantor, tapi aku sayang sama kamu, Ping,”

“Percuma, Keng, malam ini seribu maaf dan alasan kamu ga akan bisa mengembalikan rasa percayaku, apalagi janjimu yang kamu ingkari sendiri, kamu menyuruhku bertahan sendirian bertahun-tahun, Keng, dan saat ini aku udah muak, dan kalaupun aku masih mencintai kamu, kamu bukan lagi milikku, Keng,”

Dengan begitu Namping melenggang pergi. Meninggalkan Keng dengan kesendiriannya.

Keduanya terlihat biasa sesudahnya, tapi hati kedua meraka memendam perasaan dangkal yang sulit disangkal. Keduanya memandang langit yang sama, menatap langit dan bintang, bertanya dalam hati.

Kenapa janji keduanya begitu mudah dipatahkan? Bagaimana keduanya menjadi seperti ini? Kesalahan siapa hingga akhirnya mereka berjalan di jalan yang berbeda?

Begitu banyak pertanyaan, namun jawaban mereka semakin rancu dan sulit diutarakan.

Alasan demi alasan.

Pada akhirnya mereka hanya bisa meratapi. Jika bahkan waktu bisa berputar, apakah keadaan mereka berubah? Atau semakin parah?

Notes:

lagi, ini tuh draft lama dengan judul yang sama, dan ketika hyperfixationku ke knp entah kenapa langsung keinget fic ini, apalagi that spesific episode. cocok aja gitu.