Work Text:
Biasanya Yushi akan lebih dulu dengar suara kendaraan roda dua milik Riku sebelum ponselnya mendapat pemberitahuan dari yang tersayang. Tetapi sore ini, pesan “aku udah di bawah, yus” lebih dulu sampai daripada suara mesin yang sudah Yushi hapal di luar kepala.
Yushi sama sekali enggak menyangka bahwa roda dua yang digunakan Riku kali ini tak pakai bahan bakar bensin. Setetes peluh di pelipis Riku menjelaskan bahwa Riku baru saja mengayuh sepedanya dari rumah menuju rumah Yushi.
“Kamu dari rumah naik sepeda…?” Tanya Yushi keheranan. Selembar tisu dari saku celananya dia keluarkan untuk bantu lap peluh pacarnya yang mudah sekali berkeringat itu. Yang ditanya hanya menjawab dengan anggukan dan senyum lebar sampai matanya tak lagi tampak.
Keheranan Yushi mengenai apakah mereka akan pergi membeli ponsel baru Riku dengan mengendarai sepeda, yang terdengar tidak mungkin, terjawab dengan Riku yang menunjukkan depan mata Yushi persis ponsel yang telah dibelinya siang tadi sebelum menjemput Yushi.
“Udah beli pagi tadi soalnya adek rewel pengen ikutan beli. Kita jalan-jalan aja sekarang, Yus. Naik sepeda biar waktu berduanya nggak kerasa cepet habis.” Riku menjelaskan panjang lebar yang diberi respon bibir menekuk tipis oleh Yushi, tepatnya muncul pada kalimat terakhir. Kedua tangan Yushi meraih setang dan mencoba mendorong pelan badan empunya mengenakan tubuhnya agar mau turun dari kursi depan.
“Aku aja deh yang bawa sepedanya, Riku. Kamu capek udah bawa ke sini.”
Riku menggeleng, menolak untuk menyerah pada dorongan tubuh Yushi dan mencengkram setang sepadanya kian erat. Kedua tangan Yushi di atas tangannya enggak bisa berbuat apa-apa kalau sudah seperti ini.
“Biar akuu, Yus. Emang kamu kuat bawa sepedanya boncengin aku? Kamu kayaknya belum tau tapi aku berat, loh, Yus.”
“Kuat kok, disuruh gendong kamu juga kuat. Aku rajin olahraga tau,” Yushi menepuk-nepuk pelan lengan atasnya sendiri dua kali sebelum melanjutkan bicara, “ini isinya otot, asal kamu tau.”
Lagi, Riku menggeleng, kali ini karena enggak percaya sama omongan Yushi yang barusan. Dalam ruang obrolan mereka Yushi enggak pernah pamit mau olahraga. Jadi Riku pikir pacarnya itu hanya mengada-ada. Riku menengok ke belakang mengisyaratkan Yushi untuk segera naik di kursi belakang sepedanya. Kalau Yushi sendiri, sih, memang enggak pernah menolak tawaran Riku. Sehingga sekarang Yushi telah duduk rapi di dudukan penumpang.
Mata Riku membesar mengetahui kedua tangan Yushi terletak di kedua sisi pinggangnya. Atau mungkin, tubuhnya juga memberi reaksi kaget yang berlebihan sampai Yushi lontarkan pertanyaan.
“Boleh pegangan di sini, ngga?”
Terkejut sama sekali bukan berarti Riku enggak suka. Riku amat suka.
“Peluk juga boleh, Yus. Kan kemaren aku udah bilang, apa coba yang enggak buat kamu, Yus? Kalau itu Yuyus, Yushinya Riku, apa aja boleh.”
Dan Yushi enggak buang banyak waktu buat ragu, kedua lengannya langsung melingkar apik di pinggang Riku. Yushi dan Riku memang pernah saling memeluk, tapi waktu itu keduanya sama sama di posisi berdiri, enggak ada salah satu dari mereka yang tangannya berada di pinggang salah satunya. Kali ini, bukan cuma Riku yang terhentak kecil disebabkan terkejut. Yushi juga sama keheranannya soal—
“Pinggang kamu kecil banget, Riku.”
Komentar Yushi barusan sukses buat Riku ragukan keputusannya ambil peran mengayuh sepeda, karena rasa-rasanya, baru ini Riku merasa sebuah komentar terhadap dirinya berhasil hentikan fungsi motoriknya sepersekian detik. Riku betulan enggak tahu harus merespon bagaimana.
"Yahh, maaf de, sisa satu aja. Paling kalau mau ini ada sisanya setengah, gratis aja."
Riku menoleh ke Yushi di sebelahnya yang juga sedang menyimak percakapannya dengan pedagang permen kapas yang mereka temui di taman kota. Cuaca musim semi hari ini terlalu cerah untuk dilewatkan dengan sekadar berada di dalam ruangan. Merupakan ide Yushi yang mengajak Riku untuk mengganti destinasi mereka menjadi taman supaya Riku juga bisa mencoba kamera dari ponsel barunya.
"Gimana nih, Yus?"
"Beli aja, aku yang setengahnya engga apa, kan kamu yang mau."
Riku menekuk dua sudut bibirnya ke dalam sampai cekungan kecil di satu sisi pipinya muncul. Menurut Yushi... siapa yang butuh permen kapas banyak-banyak kalau melihat pacarnya yang ketika sedang menimbang-nimbang lucu seperti ini terasa jauh lebih manis? Enggak, terima kasih, Yushi menolak untuk terkena diabetes di usia muda.
"Aku tunggu di kursi bawah pohon sana ya, Riku." Dan dibalas anggukan dihias poni hitam mengayun lucu di dahinya.
Yushi baru duduk tiga menit sampai terlihat Riku berlari kecil ke arahnya dengan dua tangkai permen kapas dengan perbedaan ukuran gumpalannya yang signifikan. Kalau anak anjing yang baru saja berlari memotong garis Riku dan Yushi saling pandang itu bisa bicara, dia akan bilang lemparan senyum mereka pada satu sama lain adalah sama manisnya seperti gumpalan gula yang dipegang Riku.
Gumpalan yang lebih besar disodorkan Riku tepat di depan muka Yushi sambil mendudukkan diri persis di sampingnya.
“Buat kamu aja yang besar, Yus, nanti kalau gak habis baru kasih ke aku.”
Yushi enggak masalah, dia tahu maksud Riku adalah ingin memanjakan dirinya meskipun Yushi juga tahu kalau milik Riku pasti akan habis duluan dan meminta miliknya. Enggak masalah, Yushi selalu senang berbagi makanan dengan Riku. Beberapa waktu lalu, Riku pernah bilang,
“Pokoknya bilang aja ya, Yus, kalau kamu ada wishlist sebelum berangkat. Nanti aku temenin, aku bakal manjain kamu selama belum berangkat.”
Lucu, menurut Yushi. Karena sesungguhnya di antara mereka, Riku adalah yang paling manja meski kelihatannya enggak begitu. Cuma Yushi yang tahu betapa rewelnya Riku ketika si Maeda frustasi enggak bisa menyelesaikan soal fisika yang diberikan guru mendadak di kelas. Cuma Yushi yang tahu capeknya Riku ada di OSIS kendati Riku selalu jalani dengan sumringah setiap rapat dan program kerjanya. Yushi bisa mengerti kalau Riku tetap jalani semuanya meskipun melelahkan karena Yushi tahu Riku betulan senang menjalani kegiatan organisasi. Beberapa kegiatan memaksa Riku untuk tetap terjaga sampai tengah malam dan paginya Riku akan masuk kelas lesu serta bibir mengerucut, setelahnya duduk di samping Yushi, meletakkan kepala di meja. Bagian yang kalau boleh Yushi bilang paling menyenangkan dari kondisi yang tadi adalah Riku akan memohon pada Yushi untuk pijatkan pelipisnya, atau puk-puk punggung atau belakang kepalanya—biasanya sambil Yushi mainkan rambut hitamnya yang halus di tangan. Yushi enggak tahu sejak kapan Maeda Riku yang memohon padanya sambil mengerucutkan bibir adalah hal yang membuat langkahnya berangkat sekolah jadi jauh lebih ringan.
Sekarang juga begitu, Riku mengerucutkan bibir karena gula kapasnya sudah habis dan dia menolak menghadap Yushi supaya muka pengennya enggak terlalu terlihat oleh Yushi. Yushi terlihat masih menikmati yang tersisa satu genggaman tangan tersebut. Tetapi Yushi dari ekor matanya terlihat jelas kerucutan bibir Riku, lucu sekali pikir Yushi.
Yushi menghadap ke Riku, kapas merah muda itu masih ada di bibirnya. Mata Yushi menajam menatap Riku yang baru saja juga menghadap ke arahnya karena menyadari intensnya tatapan dari Yushi, pipi Yushi yang tak tertutup gula kapas tersebut menampilkan mimik jahil. Riku melihat ada tatapan antara menantang dan penawaran di sana.
Maeda Riku adalah seorang yang handal dalam mengerucutkan bibir, sedangkan Tokuno Yushi pandai sekali dalam membaca sesuatu tanpa banyak bicara. Enggak, kok, Riku enggak sering meminta Yushi buat usap kepalanya sampai Riku tertidur di jam pelajaran kosong. Mulanya minta, sih, beberapa kali. Pernah sekali Riku enggak ada tenaga buat ngomong bahkan sama Yushi, sesampainya di kelas Riku langsung terlelap di mejanya, bangun-bangun Riku bisa merasakan ada tangan di belakang kepalanya sedang mengusap-usap, ketika matanya dibuka, ada Yushi yang kepalanya juga berada di atas meja, menatap Riku yang terlelap. Dari situ Riku tahu, kalaupun dia enggak lagi memohon sebegitunya pada Yushi, Yushi akan tetap mau buat bantu dia hilangkan penat. But he still begs, most of the time, hanya karena dia suka senyum menyerah Yushi.
Senyum yang betul-betul berbanding terbalik dengan yang dilontarkan Yushi saat ini di balik gumpalan kapasnya. Riku enggak pernah liat senyum menawan Yushi yang satu ini. Namun Riku tahu dia bisa dapat jawabannya kalau dia mengiyakan penawaran nonverbal Yushi buat ikut memakan permen kapas yang ada di bibirnya. Bibir mereka bersamaan ada di permen kapas yang sama di bagian yang berlawanan sekarang.
Tahunya tantangannya adalah di kala Riku bisa rasakan bibir Yushi yang semakin dekat dibarengi kapas yang semakin menipis. Mata Riku sayu menatap milik Yushi yang fokus pada jarak di bibir mereka yang dia buat semakin menipis—sekarang kira-kira empat senti, dua senti ke arah Riku, satu senti ukuran tangkai kertas, dan satu senti ke arah Yushi.
Napas Riku seolah dipaksa berhenti ketika bagian milik Yushi telah habis dan bibir Yushi enggak minggir dari tangkai kertas yang sejak tadi dipegang oleh Yushi. Kedua manik Yushi terangkat buat tatap balik Riku.
Sama-sama sibuk menatap satu sama lain sampai Riku enggak sadar kalau bagian miliknya juga telah habis dan bibir keduanya jadi bertemu di tangkai kertas yang masih meninggalkan manis di situ. Riku bisa rasakan kalau Yushi masih mencari manis—bibirnya mencoba jamah gula yang tersisa di tangkai, bergerak pelan mengenai bibir Riku. Perut Riku rasanya geli sekali saat bisa ikut merasakan manis dari benturan seadanya lembut bibirnya dan Yushi.
Riku juga bisa merasakan eksistensi tangkai kertas penghalang keduanya kini pelan-pelan mulai turun. Terus turun sampai enggak ada lagi jarak, bibir mereka benar-benar pada milik satu sama lain sekarang. Riku suka belajar dari Yushi. Maka kini mata sayu yang tadinya masih terbuka mulai menutup, Riku meniru cara bibir Yushi tadi mencari-cari manis, bedanya sekarang langsung di kedua bilah milik Yushi.
Yang dilakukan Yushi sejak tadi adalah mengamati gerakan Riku yang penuh hati-hati. Mereka bukan enggak pernah membicarakan soal ini sebelumnya. Yushi yang enggak punya mantan kekasih jelas belum pernah, sedangkan Riku waktu itu dengan jujur mengaku kalau dia juga enggak pernah ciuman sama mantan-mantannya. Tapi obrolan mereka waktu itu cuma basa-basi, enggak sampai pada keputusan kapan mereka boleh melakukannya. Jadi saat kedua mata Riku hampir benar-benar tertutup dan perlahan membuka bibir dengan penekanan sampai kepala Yushi sedikit terdorong ke belakang, Yushi bergeser mundur setengah meter di bangku yang untungnya berukuran satu setengah meter. Jarak terbentuk dan enggak ada yang berbicara di antara mereka sampai lima detik setelahnya Yushi angkat bicara.
“Emang udah boleh ya, kita kayak gini, Riku? Ini termasuk ‘kalau Yuyus, apa aja boleh’ ngga?”
Yushi sepenuhnya sadar kalau serangkaian kejadian tadi bisa terjadi sebab dia yang menginisiasi. Pertanyaannya terlontar karena Yushi ingin memastikan kalau yang barusan adalah atas keinginan keduanya.
Riku enggak bereaksi banyak, enggak bereaksi, bahkan. Bengong lebih tepat buat deskripsikan apa yang tercetak pada air muka Riku sekarang. Kepalanya sedang menyatukan dan mengurutkan kembali kepingan kejadian barusan. Banyak detail yang perlu Riku rekam baik-baik dibarengi Yushi tengah mencerna kupu-kupu dalam perutnya sambil tetap berusaha pecahkan keheningan.
“Riku?”
“Hey”
Yang dipanggil nggak kunjung merespons sampai pahanya perlu ditepuk oleh Yushi.
“Eh, iya Yus—
boleh.”
Sepertinya Riku benar enggak menyimak pertanyaan Yushi tadi.
“Boleh…?”
Baik Riku maupun Yushi sama-sama memerah sampai ke ujung telinga. Pertanyaan Yushi tadi seperti baru terdengar dengan jelas di kepalanya dan menyadarinya buat jantung Riku seolah akan meledak. Perasaannya nggak stabil, terlalu terobrak-abrik buat jawab pertanyaan serius.
Riku betulan perlu buat menormalkan kembali detak jantungnya. Tubuhnya dibawa berdiri dan tangannya menjulur buat tarik Yushi ikut berdiri yang langsung dituruti oleh Yushi. Pegangannya enggak dilepas.
“Boleh jalan-jalan sambil pegangan tangan, Yus. Udah abis yuk cari minum. Butuh yang seger gak sih, Yus?”
