Work Text:
Aku ingat hari itu. Saat matahari sedang terik-teriknya menyengat kulitku. Aku melihatmu. Berdiri dengan diam. Tampak memikirkan banyak hal. Raut wajahmu terihat muram. Walau, aku sendiri tidak tahu apa yang membuatmu merasa seperti itu.
"Sako?"
Aku memanggil namamu dan kau pun menoleh. Namun, kau tidak tersenyum. Bahkan, menjawab sapaanku pun tidak. Aku jadi berpikir. Apakah ada sesuatu yang terjadi denganmu tapi aku tidak mengetahuinya?
"Ternyata kau di sini ya?" Alih-alih menanyakan kondisimu, aku malah bertanya hal bodoh seperti itu. Reaksimu tentu saja langsung mengernyit dengan marah. Namun, jujur saja, apa ada hal yang benar-benar terjadi padamu sehingga kau menampakkan raut wajah seperti itu? Karena, sejauh ingatanku, kau adalah orang dengan senyum paling bersinar di antara yang lainnya.
"Bukan urusanmu."
Kau menjawab seperti itu. Membuatku tambah heran. Jadi, setelah beberapa detik yang hening. Akhirnya, aku memutuskan untuk mengajukan pertanyaan lagi kepadamu, "Kalau begitu aku akan menanyakan hal lain. Kenapa kau tidak ikut kami ke Furin?"
Kau tampak lebih marah saat mendengar pertanyaan keduaku. Lalu, aku pun mengetahui alasannya setelah mendengar penjelasan darimu. Ternyata, semua itu terjadi karena kau merasa bahwa Hiragi-san sudah tidak membutuhkanmu lagi. Ah, sebenarnya aku juga mendapat kalimat yang sama dari Hiragi-san. Dia bilang kalau aku tidak perlu mengikutinya lagi, tapi aku tetap mengikutinya, karena itu adalah keputusanku. Jadi, aku juga menjelaskannya kepadamu.
Waktu itu, kau akhirnya meninggalkanku. Membawa amarah yang kau pendam sendiri. Sembari mengatakan, "Kalau begitu, kau adalah orang bodoh," kepadaku. Aku hanya diam saat punggungmu perlahan menjauh. Aku hanya diam saat keberadaanmu perlahan-lahan mulai menghilang dari kehidupanku. Padahal, dulu kita sering berjalan berdampingan di belakang Hiragi-san persis seperti anak bebek yang mengikuti induknya. Kadangkala, aku merasa rindu dengan masa-masa itu.
Waktu terus berjalan dan banyak hal telah berlalu. Aku yang menjadi ketua kelas saat memasuki tahun pertamaku di Furin. Aku yang akhirnya menjadi kakak kelas dan menolong adik kelasku seperti yang Hiragi-san lakukan kepadaku dahulu. Lalu, aku yang akhirnya kalah melawan Banjo dari Noroshi. Saat itu, semuanya terasa kabur dari indraku. Aku hanya merasakan sakit di sekujur tubuhku. Juga rasa kecewa yang memenuhi pikiranku, karena aku tidak bisa melindungi hal-hal berharga. Kupikir, aku sudah gagal, tapi Hiragi-san menghiburku dan mengatakan kalau aku sudah melakukan yang terbaik.
Yang aku tidak sangka. Kau juga ikut datang untuk membantuku saat itu. Aku bisa melihat punggungmu saat menghajar musuh. Aku bisa melihat tubuhmu yang sekarang sudah tumbuh. Ah, kau sudah tambah tinggi, ya? Lalu, saat sedang asyik-asyiknya menatap punggungmu. Tiba-tiba aku teringat saat kau bilang kalau aku adalah orang bodoh karena terus mengikuti Hiragi-san.
"Heh," aku berniat untuk tertawa, tapi tenggorokanku sakit. Belum lagi sudut bibirku juga sepertinya sobek. Jadi, yang keluar dari mulutku hanya dengusan kecil saja. Dasar Sako. Sekarang siapa yang terlihat seperti orang bodoh? Tapi tidak mengapalah. Ini terlihat seperti kau sudah berbaikan dengan Hiragi-san. Aku senang. Lain, kali saat kita sudah berteman kembali. Aku akan mengucapkan terima kasih karena kau sudah menolongku hari ini.
Lalu, ayo kita makan permen bersama-sama!
