Work Text:
IDOLiSH7 ©︎ Bandai Namco/Bandai Entertainment, Troyca, Arina Tanemura
From Sakura to Lilac ©︎ bellasteils
Selamat membaca
Sepertinya ada kekuatan magis yang menarik Bella ke tempat ini. Padahal baru kedua kali kakinya menginjak lagi ke tempat ini, yaitu golden week dua tahun yang lalu.
Masih teringat jelas dalam benaknya, tempat ini tak banyak berubah. Bedanya tidak seramai sebelumnya. Tentu saja karena golden week sudah usai. Sengaja memang berangkat setelah masa libur panjang kesukaan orang Jepang.
Terima kasih lah kepada kekasihnya yang seorang entertainment. Jadwal di hari libur selalu menumpuk dibanding hari biasa.
Kalau dibilang magis, lebih tepatnya suasana tempat ini mengingatkan pada kampung halaman yang jaraknya 7.999 km, yaitu Islandia. Memasuki bulan Mei, suhu di sini masih dalam kisaran belasan derajat. Tidak panas, juga tidak begitu dingin. Suasana yang tepat untuk keluar menikmati hari.
Taman Odori di pusat kota Sapporo menjadi lokasi yang tepat. Tempat yang awalnya hanya sebuah jalan panjang akhirnya dibuat menjadi taman. Telah banyak festival dan kegiatan yang menyatukan penduduk Sapporo dan wisatawan ke tempat ini setiap musim.
Kelopak sakura yang gugur masih tersisa di tanah yang lembab. Wilayah Utara Jepang baru bisa menikmati mekarnya bunga sakura di akhir April sampai awal Mei. Berbeda dengan wilayah Honshu yang sudah bisa dinikmati di bulan Maret. Di sisi pohon lain telah muncul kuncup bunga lilac yang menjadi salah satu simbol kota Sapporo.
Perpaduan yang memanjakan mata.
Festival Lilac menjadi daya tarik Sapporo di pertengahan bulan Mei. Menandakan mekarnya semua bunga lilac yang tumbuh di sepanjang taman Odori. Bella bisa melihat jajaran kedai yang mulai dibangun sepanjang taman. Menyenangkan sekali kalau jalan-jalan sambil menikmati kuliner ditemani semerbak lilac. Sayangnya Bella dan kekasihnya sudah kembali ke Tokyo waktu festival berlangsung.
Terik matahari menghangatkan di sela angin yang kadang berhembus menembus kulit. Setidaknya sudah persiapan pakaian hangat. Duduk di bangku taman menikmati pemandangan lalu lalang mobil, anak-anak kecil berlarian mengejar air mancur yang timbul tenggelam. Menyenangkan sekali rasanya.
Bella lantas menyadari sesuatu.
"Gaku kemana ya? Kayaknya udah tiga puluh menitan pamit ke toilet." bergumam sambil celingukan mencari keberadaan kekasihnya.
Nihil.
Si rambut perak tidak ditemukan.
Jam di pergelangan tangan dicek kembali. Terakhir Gaku pamit pada jam 11:20, sekarang sudah jam 12:05.
Bella mulai khawatir kalau-kalau ada fans tidak waras yang menyergapnya. Tapi sepertinya tidak mungkin. Hanya orang gila seperti Tsukumo Ryo yang melakukan itu.
Kalau sampai terulang, Bella tak akan segan menguliti hidup-hidup dengan ujung anak panahnya.
Ponsel di tasnya diambil, satu panggilan berdering tapi jawaban tak kunjung datang.
Tidak mau membuang waktu, Bella langsung saja bangkit dari tempatnya duduk untuk mencari keberadaan kekasihnya, Yaotome Gaku. Baru saja ia bangun, pinggangnya ditarik oleh seseorang.
“Oops, kenapa terburu-buru?”
“Gaku!” seru Bella. “Aku khawatir kau lama sekali ke toiletnya.”
“Maaf, tadi ada kendala waktu mau ke sini.”
Bella menyipitkan kedua mata mulai menginterogasi. “Apa ada fans yang mencegatmu?”
Berharap perasaannya salah. Cukup trauma dengan kejadian Tsukumo Ryo.
“Bukan, kau tenang saja. Hanya seorang nenek yang butuh bantuan.”
Bella mencoba percaya, tapi Gaku nampak gelisah dengan bolak balik melirik pada jam digital besar yang terdapat pada Sapporo TV Tower.
12:11
Tanpa memberikan jawaban, Gaku menarik pinggang Bella lebih dekat dalam pelukan. Sebelah tangan Bella digenggam dan dicium dengan lembut. Setelahnya, pemuda rambut silver itu melontarkan kalimat puitis yang tidak akan Bella lupa seumur hidup di jam 12:12.
“Bella, tak cukup kata untuk menggambarkan betapa berartinya kamu dalam hidupku. Bersyukur aku bisa mengenal dan mencintaimu hingga hari ini. Seperti pasir dalam jam pasir, begitu juga hari-hari dalam hidup kita. Dari lubuk hatiku, kuucapkan selamat ulang tahun.”
“…”
Bella tidak segera merespon. Gaku nampak makin gelisah.
“Gaku…”
“Ya?”
“Seharusnya aku merekam kalimatmu barusan.” goda si gadis.
"Apa kalimatku cukup keren sampai kau ingin merekamnya?" tanya Gaku.
Bella terkekeh pelan, respon Gaku memang selalu di luar ekspektasi kalau digoda. “Sudah cukup keren untuk orang yang pernah menyandang predikat 'Pria yang Paling ingin Dipeluk Sejagad'.
Gaku menyunggingkan senyum puas.
“Terima kasih banyak, Gaku.” ucap Bella. “Aku juga bersyukur kita bisa melewati hari-hari bahagia dan sulit sampai saat ini. Semoga kita bisa bersama selamanya.”
Senyum Gaku merekah, kembali ia mengecup punggung tangan si gadis, “Terima kasih sudah hadir di hidupku.”
Gugurnya bunga sakura melambangkan keindahan sesaat, tapi mekarnya bunga lilac membawa pembaruan, kelahiran kembali dan emosi cinta pertama.
Selamat ulang tahun, Bella.
Selesai.
