Work Text:
"Kak Yeonjun, aku suka kakak," ungkap seorang lelaki berwajah kelinci dengan malu-malu—ia sangat gugup hingga rasanya ingin melebur.
Bagaimana tidak, entah apa yang merasuki dirinya hingga ia berani mendatangi gedung tempat perpisahan untuk para siswa yang telah lulus dari sekolah, hanya untuk mengungkapkan isi hatinya pada salah satu siswa di sana.
Choi Yeonjun.
Dikenal dengan pribadinya yang dingin dan kaku, selalu terlihat serius walau sesekali tersenyum, dan Soobin telah menaruh hati padanya sejak ia masuk ke sekolah yang sama dengan Yeonjun.
Kala itu, masa pengenalan lingkungan sekolah. Soobin mengenal Yeonjun saat ia memperkenalkan diri sebagai ketua dari organisasi siswa intra sekolah. melihat bagaimana vokalnya Yeonjun dalam hal bicara di depan khalayak ramai dan banyaknya kemampuan yang ia kuasai dalam bidang lain—seorang multitalenta. Soobin dibuat jatuh hati dengan pria bermata rubah itu.
Ia hanya ingin mengungkapkan perasaan yang telah lama dipendamnya, sebelum si pencuri hati pergi dari jangkauan atau mungkin dirinya yang bisa saja pergi tanpa sepatah kata, di hari kelulusan ini Soobin dengan berani—dan gemetar—menyampaikan perasaannya. Dengan dibantu sedikit oleh ide gila dari sang sahabat: Beomgyu, yang berkata: saran gue konfes aja ke Kak Yeonjun biar lega, hidup cuma sekali, dan lo gak bakal tau kapan bisa ketemu dia lagi, mumpung masih ada orangnya.
Berbekal niat dan tekad, ia mendatangi tempat berpijaknya sekarang. menunggu dengan sabar hingga dua bola matanya menemukan presensi Yeonjun di sela keramaian.
" ... Lo mau gue jadi pacar lo?" Balas Yeonjun mendengar pengakuan si pria kelinci, mereka tengah menjadi pusat perhatian omong-omong, Soobin sudah berkeringat dingin merasakan berbagai tatapan yang dilayangkan padanya dan Yeonjun.
"Ah, itu, aku cuma mau ungkapin perasaan aku aja kak ... " ujarnya pelan, sambil meremat ujung bajunya dengan erat, ia mengakhiri kalimatnya dengan menundukkan kepala—menggigit bibirnya gelisah, tak mampu menatap sepasang mata dihadapannya.
" Oh, okay, from now on kita pacaran,"
"Eh? Kak???” Matanya membulat sempurna, bibirnya terbuka hendak mengatakan sesuatu tetapi kembali terkatup, ia tak sanggup.
“Mulai sekarang—hari ini, Choi Soobin jadi pacar Choi Yeonjun,” perlahan tepukan tangan mengiringi ucapan Yeonjun. Semua yang ada di sana menjadi saksi terjalinnya ikatan antara dua insan tersebut.
Maka terbitlah senyuman di bibir merah muda milik si pria kelinci. Dua lesung pipi yang timbul ikut mengetahui bagaimana perasaannya sekarang ini. Penuh, meledak-ledak, menggebu-gebu. Bak sebuah balon yang terus-menerus diisi oleh angin. Tak ketinggalan dua buntalan mochi itu ikut berubah warna menjadi merah muda.
Sedang Yeonjun, ia tersenyum tipis melihat wajah merona kekasih barunya. Ah, kekasih, seperti apa rasanya memiliki kekasih. Mungkin ia akan sedikit berguru dengan sahabat karibnya mengenai hal ini, dengan harapan ia bisa memperlakukan Soobin dengan baik dan tidak pernah menyakitinya. Wajah itu terlalu indah untuk meneteskan airmata, kebahagiaan lebih cocok disandingkan dengan Soobin.
Dan begitu awal dari hubungan mereka.
°°°
Tujuh tahun.
Terhitung sudah tujuh tahun lamanya hubungan mereka terjalin.
Dalam tujuh tahun itu, banyak hal telah berubah. Terutama tentang Yeonjun, Yeonjun yang dulu lebih pemikir sekarang ia mampu memperlihatkan perasaannya. Bukan yang selalu menutup rapat semuanya, memendamnya jauh didasar. Ia lebih hidup, dan Soobin senang akan hal itu. Ia tahu betapa sulitnya hal tersebut bagi Yeonjun, tetapi setidaknya ia mencoba. Yeonjun sudah mencoba.
Soobin kerap kali bertanya pada Yeonjun, mengapa ia mendeklarasikan hubungan mereka sesaat setelah Soobin mengungkapkan perasaannya tujuh tahun silam. Yeonjun selalu bilang bahwa ia merasa kasihan pada Soobin apabila mereka tidak menjalin hubungan setelah Soobin mengungkapkan perasaannya, Yeonjun bilang Soobin akan menanggung malu nantinya. Percakapan tersebut selalu berakhir dengan Soobin yang mengerucutkan bibirnya karena terus digoda oleh Yeonjun.
Namun, dibalik itu semua Soobin menemukan ketulusan dalam setiap ucapan yang Yeonjun lontarkan dan ia merasa beruntung akan hal itu.
°°°
Sepuluh hari lagi pernikahan akan dilangsungkan.
Persiapan hampir matang sempurna. Tersisa hal-hal kecil yang masih berproses. Namun ada satu hal yang masih tersembunyi, dan Soobin harus segera mengatakannya pada Yeonjun sebelum terlambat. Tentang dirinya yang akhir-akhir ini berubah lebih pucat, selalu mengurung diri didalam kamar, dan menghindari pertanyaan Yeonjun yang tertuju pada keadaannya.
Jawabannya akan selalu sama, aku nggak apa-apa kak Yeonjun, jangan khawatir. Lalu dilanjutkan dengan pembicaraan mengenai hal lain.
Soobin ingin meminta maaf sebesar-besarnya kepada Yeonjun akan hal itu.
°°°
Lima hari menjelang pernikahan.
Sembilan puluh delapan persen telah siap. Undangan telah dibagikan, mungkin tinggal menunggu hingga acara berlangsung. Kian hari Soobin makin merasakan takut yang begitu besar. Ia takut akan respon yang akan Yeonjun tunjukkan mengenai keadaannya. Setelah semua persiapan yang hampir matang, ia tak bisa menghancurkan euforia yang tengah berlangsung. Jadi yang ia lakukan, kembali menutup rapat rahasia itu.
°°°
Dua hari menjelang pernikahan.
Kondisinya memburuk, sakit kepala yang selalu muncul tiba-tiba, rasa mual tak tertahankan, tubuhnya terasa sakit, dan untuk menutupinya ia selalu merias diri. Memoles sedikit warna pada wajah pucatnya. Yeonjun tak berkomentar, ia selalu memuji penampilan Soobin, tapi mungkin ia menahan hal yang ingin ia ucapkan sebenarnya.
Bahkan Yeonjun sering sekali menegurnya karena ia selalu larut dalam pikirannya. Beberapa panggilan dari mulut Yeonjun yang keluar tak ia indahkan, dan Yeonjun mulai mengkhawatirkan hal tersebut.
Sore itu Yeonjun berangkat untuk mengambil cincin pernikahan seorang diri, Soobin berada dirumah dengan alasan ia terlalu malas untuk pergi keluar, tentu bukan alasan yang jujur. Ia hampir tak sanggup membawa tubuhnya sendiri.
Soobin menunggu, di depan televisi yang menampilkan sebuah drama yang namanya sedang melejit naik. Tiga puluh menit telah berlalu sejak Yeonjun pergi. Dan Soobin, entah mengapa perasaannya tak tenang, ketakutan menghantuinya. Berkali-kali ia mengirim pesan pada Yeonjun dan dibalas oleh si empu, hal tersebut lantas tak menghapus rasa takut di sudut hatinya.
Lantunan nada dering dari ponselnya membuat Soobin terkejut, melihat nama dari si pemanggil ia langsung menjawabnya tanpa berpikir.
“Kak Yeonjun , ada apa? Kenapa menelpon?”
“Binnie, kamu ada yang mau di beli? Kakak mau jalan pulang,” sahut suara di seberang.
“Nggak ada kak, Soobin lagi gak ingin apa-apa. Maunya kak Yeonjun cepat pulang,” mengatakan hal tersebut membuat hatinya teriris, perasaan takut yang menghantuinya semakin kuat.
“Hm, yakin, nggak mau sweet treats? Kakak lagi di deket bakery langganan kita, you didn't want any else?” Tanya Yeonjun memastikan.
“Nggak—Soobin mau kakak cepat pulang, pulang ya kak,” dadanya menyempit, napasnya sedikit sesak. Soobin memejamkan matanya sejenak, sembari mengambil napas dalam-dalam. Ia tak mengerti mengapa begitu khawatirnya dia dengan Yeonjun .
“Oke oke, kakak bentar lagi pulang.”
“ … “
“Binnie,” Yeonjun memulai.
“Kakak sayang kamu, selalu sayang kamu. Kalau ada kehidupan selanjutnya setelah ini kakak selalu ingin bersama kamu, bareng kamu terus, nemenin kamu, dan bikin kamu senang. Soobinkakak gak tau lagi selain bilang kakak sayang kamu—cinta kamu, nggak ada kata yang bisa ungkapin besarnya perasaan kakak ke kamu,” lanjutnya
Satu persatu air mata meluncur menuruni pipi gembil milik Soobin. Bibirnya bergetar menahan isakan mendengar pengakuan Yeonjun lewat sambungan telepon.
“Kak Yeonjun ... Soobin juga sayang. Sayang, sayang sekali dengan Kak Yeonjun. Kakak, cepat pulang, Soobin tunggu di rumah,” suaranya tercekat, air matanya semakin deras menuruni pipi.
“Promise me, Soobin bakal terus sama kakak di kehidupan sekarang hingga nanti dan seterusnya, Soobinjanji ya sayang?”
“Janji, Soobin janji! Soobin temani kakak terus sampai nanti, sekarang pulang ya kak, Soobin mau peluk kak Yeonjun,” ucapnya masih dengan air mata yang bercucuran. Perasaannya campur aduk.
“Iya, kakak pulang, tunggu ya sayang,”
“Kak Yeonjun, teleponnya jangan dimatikan boleh? Biarin aja sampai kak Yeonjun pulang,” pintanya dengan suara bergetar.
“Boleh, Soobin tunggu kakak ya, sebentar lagi kakak pulang,”
“Hu’um, Soobin disini nungguin kak Yeonjun ,” bisiknya.
Setelah itu hening Yeonjun tak membalas lagi, masih dengan perasaan was-was Soobin menunggu. Ia selalu setia menunggu Yeonjun. Lamanya lima menit dalam keheningan, sebelum suara benturan keras membuatnya terkejut. Ia berusaha untuk tidak panik.
“Kak? Kak Yeonjun? Ada apa? Suara apa itu kak? Kak Yeonjun? Kakak dengar Soobin?” Berulang kali melontarkan pertanyaan yang sama, tetapi ia tak mendapat jawaban atau suara Yeonjun yang membalasnya.
“Kak Yeonjun ada apa? Kakak bisa dengar Soobin?”
“Halo? Kak Yeonjun?”
“Kak—”
Telepon terputus secara sepihak, Soobin menahan napasnya sejenak, kemudian mencoba menghubungi nomor Yeonjun kembali. Tidak ada sambungan, panggilannya diarahkan dalam pesan suara.
Sepuluh kali percobaan hasilnya tetap sama. Nihil, Yeonjun tak menjawab panggilannya.
Ia hendak mencoba lagi sebelum salah satu kontak yang ia kenal menelponnya.
Choi Beomgyu.
Soobin menarik napas sebelum mengangkat panggilan tersebut, belum sempat mengeluarkan sepatah kata, suara Beomgyu dari sana membuatnya terkejut. Tubuhnya membeku, pikirannya seketika kosong. Air matanya jatuh tak tertahankan.
“Bin, kak Yeonjun jadi korban tabrak lari,”
°°°
Aroma obat-obat begitu menusuk saat ia sampai, kakinya melangkah lebar menuju ruang ICU, tempat Yeonjun ditangani. Tubuhnya gemetar ketika sampai disana, ia mendudukkan diri pada kursi tunggu, bibirnya tak henti mengucap doa agar kekasihnya selamat didalam sana.
Selang beberapa menit berlalu, pintu ICU terbuka, Beomgyu dengan balutan jas dokter keluar dari sana, mengambil tempat berlutut di depan Soobin.
“Soobin …” hatinya terasa berat untuk mengatakan hal ini pada sang sahabat.
“Gyu, kak Yeonjun gimana? Baik-baik aja kan?” Soobin dengan wajah penuh air mata, bertanya dengan penuh harap.
Beomgyu tidak bisa, ia lantas memeluk erat tubuh bergetar milik Soobin. Ia menggelengkan kepalanya, “Kak Yeonjun udah pergi …” ucapnya dengan suara parau.
Dunianya seakan runtuh saat itu juga, nyawanya seakan ditarik paksa dari tubuhnya. Ia meronta, mencoba lepas dari pelukan Beomgyu.
“Beomgyu ... Nggak—kak Yeonjun, gak boleh pergi, Beomgyu jangan … Kak Yeonjun bilang mau pulang … Mau peluk Soobin—hiks kak Yeonjun minta Soobin tunggu di rumah, nggak—nggak boleh pergi, hiks Beomgyu kak Yeonjun jangan pergi …” ia menangis menumpahkan kesedihan yang tengah dirasakannya.
Beomgyu turut meneteskan airmata, tak kuasa menahan kesedihan.
“Beomgyu, kak Yeonjun jangan pergi … Jangan, kakak bilang Soobin buat nunggu,” ia meremas bagian belakang jas dokter Beomgyu dengan kuat, air matanya turun dengan deras. Hatinya hancur mendengar berita ini. Kekasihnya, pemilik hatinya, kak Yeonjun nya, telah pergi, meninggalkannya.
“Kak Yeonjun jangan boleh pergi, Beomgyu jangan … jangan boleh pergi,” pintanya putus asa.
Keduanya berpelukan di tengah duka yang mendalam. Soobin terus terisak, mengeluarkan tangisnya. Belahan jiwanya, dunianya, setengah hatinya telah pergi.
Kepalanya berdenyut, rasa sakit itu perlahan menjalar ke seluruh tubuhnya. Ia tak menyadari rematannya pada punggu Beomgyusemakin mengerat, seperti ingin mengoyaknya. Pandangannya mulai kabur, sesuatu keluar — mengalir dari lubang hidungnya. Darah. Hidungnya berdarah, ia mimisan.
Soobin menghapus darah yang berjatuhan menggunakan punggung tangannya, “Beomgyu…” panggilnya lemah. Ia melepaskan diri dari rengkuhan sang sahabat.
“Kenap—Soobin!” Belum sempat ia menyelesaikan ucapannya, tubuh Soobin lebih dulu limbung kedepan.
“Bin! Soobin!” Beomgyumemanggil namanya berulang kali, dengan sigap ia menggendong Soobin menuju kamar periksa. Warna putih jas dokternya bercampur dengan merah darah Soobin.
Beomgyu meletakkan Soobin di atas ranjang rumah sakit dan mulai memeriksanya. Mengecek tanda vital dan lainnya. Memiringkan kepala Soobin menghadap ke arahnya, Beomgyu membersihkan darah di permukaan wajah Soobin dengan perlahan.
Ditengah fokusnya, kelopak mata yang tertutup itu perlahan terbuka. Mengerjap, meringis merasakan nyeri pada kepalanya yang semakin menjadi-jadi.
“Soobin? Lo sadar? Bisa denger suara gue?”
Pertanyaannya dibalas dengungan oleh Soobin. Pria kelinci itu merasakan pandangannya kian mengabur, wajah Beomgyu di hadapannya tak terlihat jelas. Ia menutup mata lalu kembali membukanya.
“Gyu, kak Yeonjun …”
Beomgyu mengembuskan napas, menatap Soobin. dengan lembut, “Soobin, yang kuat, masih ada gue, ya? Gue udah minta orang buat nyiapin pemakaman,”
Soobin tak bisa menghentikan air matanya yang kembali mengalir, ia mengangguk. Beomgyu mengusap lembut helaian jelaga milik Soobin, “Istirahat disini dulu, lo kayaknya kecapean, gue tinggal ngurus pasien gapapa?”
Soobin menjawab dengan anggukan.
“Oke, istirahat ya, gue tinggal dulu,”
Selepas kepergian Beomgyu Soobin langsung membawa tubuhnya untuk pergi kedalam kamar mandi, memuntahkan isi perutnya. Jemarinya meremas pinggiran wastafel dengan kuat, seolah bertumpu pada benda mati tersebut. Setelah merasa cukup, ia berkumur, membasuh wajahnya dengan air.
Ia melihat pantulan dirinya pada cermin, kedua matanya sembab dan memerah, kantung mata juga tercetak jelas, wajahnya pucat pasi, pandangannya nyaris kosong. Ia terlihat seperti mayat hidup. Tak menghiraukan penampilannya, ia keluar dari kamar mandi kembali mendudukan diri diatas ranjang.
Meraih sesuatu dari dalam sakunya, sebuah kotak kecil berisikan obat. Mengambil dua buah obat yang tersisa kemudian menelannya bulat-bulat. Ia memejamkan mata, sebuah pikiran hinggap di kepalanya membuatnya bertanya, kalo nggak sembuh, aku bisa ketemu kak Yeonjun lebih cepat kan?
Satu pemikiran itu membuatnya merasa sedikit lega, bertemu kembali dengan Yeonjun. Ia merebahkan tubuhnya, menyimpan kotak kecil kosong itu digenggaman, duka masih mengelilingi dirinya. Penyesalan dan kesedihan turut bercampur menjadi satu. Mungkin jika ia ikut dengan Yeonjun, kecelakaan itu tidak akan terjadi. Mungkin jika ia menahan Yeonjun untuk tidak pergi ia tidak akan kehilangan sang kekasih hati.
Soobin menangis lagi.
Yang bisa ia lakukan hanya menyesal untuk sekarang. Menangisi Yeonjun yang telah pergi meninggalkannya. Larut dalam kesedihan yang membelenggu dirinya. Yeonjun yang selalu berada disisinya kini sudah tak ada, kini hanya tersisa dirinya seorang diri.
Lelah menangis, kelereng hitam itu perlahan tertutup. Ia jatuh tertidur, dengan perasaan yang akan tetap sama dan sulit untuk dilupa.
°°°
Beomgyu kembali untuk melihat keadaan Soobin. Membawa makanan untuk sang sahabat. Ia harus memastikan Soobin tetap hidup dengan baik.
Ia mendapati Soobin yang masih terlelap, wajahnya penuh dengan gurat kelelahan dan kesedihan. Beomgyu mengambil selimut yang berada di ujung ranjang rumah sakit, menyelimuti Soobin agar tak kedinginan. Matanya tak sengaja melihat sebuah benda pada genggaman tangan si pria kelinci.
Ia mengernyitkan dahi.
Perlahan tangannya teraih untuk mengambil benda tersebut, melihatnya lebih dekat. Ia bergerak pelan agar tak membangunkan sosok yang sedang terlelap.
Berhasil, ia mendapatkan kotak itu di tangannya.
Temozolomide tertulis melabeli kotak kecil itu.
Tubuhnya menegang. Ia ingin bertanya lebih lanjut mengenai hal itu, disisi lain ia tak ingin mengganggu Soobin sedang tertidur. Pikirannya melayang pada kondisi Soobin akhir-akhir ini. Ia lebih sering diam, dan mengurung diri di kamar—bahkan Yeonjun menanyakan hal tersebut padanya.
Kemudian sesaat setelah Soobin sadar dari pingsannya, matanya terus mengerjap seolah tidak bisa memfokuskan pandangannya. Juga, Beomgyumerasa kulit Soobin terlihat lebih terlihat pucat dari biasanya dan tubuhnya selalu dalam keadaan lemas.
Satu persatu kepingan teka-teki itu mulai ia kaitkan satu sama lain, membentuk sebuah kasus yang ia ketahui. Ia menatap tak percaya pada Soobin.
Entah karena merasakan seseorang di sampingnya atau karena sesuatu hilang dari genggamannya, Soobin perlahan membuka matanya. Melihat Beomgyu berdiri di sisi ranjang.
“Beom—”
“Gue mau nanya,” potong Beomgyu dengan cepat.
“Kenapa lo punya obat ini?” Tangan dingin itu menggenggam erat benda kecil tersebut. Menggoyangkannya ditengah-tengah mereka berdua.
Soobin terdiam melihatnya, ah mungkin ini saatnya ia berkata jujur mengenai kondisi tubuhnya.
“Soobin, gue nanya. Kenapa lo punya obat ini?” Beomgyu kecewa, marah, sedih. Hal sepenting ini, Soobin tidak pernah memberitahunya, dan apakah mungkin Yeonjun juga mengetahui hal ini?
“Bin …” panggilnya sekali lagi.
“Gyu maaf,” lirihnya.
Beomgyu mengacak rambutnya frustrasi, “Seberapa parah?” ia mencoba tenang, setidaknya setelah ini dia bisa membantu Soobin untuk menjalani pengobatan.
“Soobin jawab gue,”
“Stadium akhir …” suaranya hampir hilang saat mengatakannya.
Kotak itu terlepas dari genggaman, ia menutup wajahnya dengan kedua tangan, mengusapnya kasar, “Ya tuhan … Soobin…” Soobin menunduk menghindari tatapan penuh rasa kecewa dari Beomgyu. Ia tahu bahwa dirinya salah karena telah menyembunyikan hal seperti ini.
“Beomgyu—”
“Siapa aja yang tahu? Kak Yeonjun tahu?”
Soobin menggeleng.
“Bin? Even kak Yeonjun ? Pasangan lo sendiri? Kenapa lo nggak mau cerita hal sepenting ini? Gue paham kalo misal lo mau sembunyiin ini dari gue, gak masalah. Tapi kak Yeonjun ? Soobin … gue nggak paham lagi …”
Tangisnya kembali pecah, “Hiks, Beomgyu maaf …”
“Nggak perlu minta maaf ke gue. Pikirin gimana perasaan kak Yeonjun kalo liat lo di kondisi ini. Bahkan sampe akhir hidupnya dia nggak tau tentang ini,”
“Maaf … Maafin Soobin…”
“Kenapa sih hal yang kayak gini harus lo sembunyiin? Gimana kalo yang terjadi malah sebaliknya, lo yang tiba-tiba nggak ada terus kak Yeonjun yang nemuin penyebabnya? Dia bakal marah sama dirinya sendiri karena gak tau tentang hal ini, Soobin … Kenapa lo nggak cerita …?” Beomgyu segera menghapus air mata yang berada di pelupuk matanya. Kemudian membawa tubuh bergetar milik Soobin ke dalam pelukannya.
“I'm sorry, I didn't mean to snap at you, gue kalut gak bisa mikir jernih. Gue khawatir Soobin, sahabat gue yang paling deket, punya rahasia sebesar ini yang gue nggak tahu. Gue merasa gagal jadi sahabat lo, gagal jagain lo, gagal nepatin janji gue ke diri gue sendiri, maafin gue Bin …”
“Bukan salah Beomgyu, ini pilihan Soobin, Beomgyu nggak salah apa-apa,” ucapnya di sela isakan.
Keduanya menikmati presensi satu sama lain. Hingga Beomgyu memecah keheningan.
“Setelah ini, lo berobat, biar bisa sembuh, hmm? Mau kan?”
“ … Tapi Beomgyu, kalo Soobin nggak sembuh, bisa lebih cepet ketemu sama kak Yeonjun. Soobin mau bareng sama kak Yeonjun lagi …” ia mengucapkan hal itu dengan penuh harapan. Harapan untuk segera bertemu kembali dengan Yeonjun.
Beomgyu terhenyak mendengarnya, ia mengerti perasaan Soobin yang baru saja kehilangan orang terkasih, “Soobin … hidup dan mati itu bukan di tangan kita, semua udah ditentuin oleh Sang Pencipta. Kalo begini namanya lo usaha bunuh diri, dan kak Yeonjun gak bakal suka itu Bin, percaya sama gue. Kak Yeonjun bakal nungguin lo sampe kapanpun waktunya datang, biar lo bisa bareng lagi sama dia, don't lose hope ya … Masih ada gue Soobin …”
“Mau ya, kemoterapi? Gue yang bakal atur semuanya,” sambungnya.
Soobin masih ragu, “Tapi … Kanker, stadium akhir …”
“Please Soobin, mau ya, usaha biar sembuh. Gue bakal selalu nemenin lo disini, ya?” pintanya sekali lagi.
Soobin menimang-nimang sebelum menjawab, “ … Oke … Tapi kalo Soobin mau nyerah Beomgyu ikhlas lepasin Soobin ya? Jangan anggap itu salah Beomgyu, semua ini pilihan Soobin sendiri,” terangnya pada sang sahabat.
“Iya, gue bakal ikhlas asal lo usaha dulu,” ia menyanggupinya dalam ucapan, hatinya berucap lain. Berat, kelewat berat, tapi setidaknya Soobin sudah mencoba.
“Sekarang siap-siap buat pemakaman kak Yeonjun, lo sanggup dateng Bin?”
“Harus, aku mau liat kak Yeonjun. Untuk yang terakhir,”
“Ah iya,” Beomgyu mengurai pelukannya, untuk mengambil sebuah kotak beludru dari saku jas dokternya.
“Ini, ada pas kak Yeonjun dibawa ke sini,” ia menyerahkannya kepada Soobin.
Cincin yang akan menjadi saksi peresmian hubungan mereka. Soobin tersenyum juga meneteskan air mata melihat benda tersebut. Ia membukanya, dua buah cincin dengan ukiran nama mereka di masing-masing benda. Ia mengambil cincin yang bertuliskan Yeonjun untuk dipakainya di jari manis.
Menyisakan satu cincin yang kemudian ia pakaikan di jari manis milik Yeonjun di pemakaman.
°°°
Satu minggu telah berlalu.
Soobin menepati ucapannya mengenai usaha untuk menyembuhkan penyakitnya. Ia dirawat di rumah sakit yang sama dengan Yeonjun sebelumnya. Beomgyu selalu menyempatkan waktu untuk menengok keadaan Soobin, membawakan makanan bahkan membantu hal terkecil yang Soobin butuhkan. Gue udah janji sama diri gue sendiri Soobin, jawabnya saat Soobin memintanya untuk tak terlalu mengkhawatirkan nya.
Namun Beomgyu tetaplah Beomgyu. Keras kepala. Ia tak mengindahkan perkataan Soobin. Masih terus mendatangi kamar Soobin dengan berbagai barang di tangannya, ia benar-benar menjaga Soobin.
Dan Soobin menyerah menasihati Beomgyu, ia membiarkan Beomgyu melakukan apa yang dia mau.
°°°
Dua minggu berlalu sejak pengobatan.
Soobin tidak merasakan perubahan terjadi, sebaliknya ia merasa tubuhnya semakin lemah. Rambutnya mulai habis karena efek kemoterapi. Ia merajuk pada Beomgyu tentang masalah itu. Namun Beomgyu dengan santainya berucap, rambut doang yang ilang, wajah lo yang cantik itu masih bakal tetep ada. Dan itu berhasil membuatnya tertawa.
Sore itu udara cukup dingin, tapi Soobin bersikeras untuk keluar dari kamarnya. Ia bosan hanya menatap dinding putih didalam sana, dan Beomgyu tidak mampu menolak permintaan Soobin yang diselingi dengan menunjukkan wajah bak anak anjing yang ingin dibuang. Alhasil disini lah mereka sekarang, Soobin duduk diatas kursi roda dengan Beomgyu di sampingnya—menduduki salah satu bangku di sana, tempat mereka berpijak adalah taman rumah sakit.
Beomgyu melilitkan syal pada leher Soobin, tubuhnya sendiri dibalut jaket yang biasa Beomgyu pakai. Ia mengerucutkan bibirnya, Beomgyu terlalu berlebihan.
“Apa? Muka lo gitu banget,”
“Ini berlebihan tau, kan cuma di taman, nggak dingin-dingin banget juga.”
“Yaaa gue tau, kan biar lo anget, serasa di peluk. Gak usah manyun gitu lah, udah baik gue bawa lo kesini,”
“Ih, Beomgyu nyebelin!”
“Mulai mulai, ngambek mulu. Dasar bocil,”
“Beomgyu lebih bocil! Soobin lebih tua dari Beomgyu!”
“Tiga bulan doang, berasa tua banget. Iyadeh si paling tua,”
“Ck, sana ih! Jauh jauh!” Ia mendorong tubuh Beomgyu agar menjauh. Namun Beomgyu tak berpindah dari tempatnya, dorongan Soobin terasa lemah bagi tubuhnya.
“Udah ih, diem aja diem, liat sunset. Udah mau tenggelam tuh,” Beomgyu berkata, mengalihkan perhatian Soobin pada panorama alam dihadapan mereka.
“Beomgyu nyebelin!”
“Iyaaa gue emang nyebelin, udah diem dulu, nikmatin apa yang ada didepan lo,”
Setelah itu senyap.
Soobin meneliti tiap-tiap makhluk hidup disana, pepohonan, bunga-bunga, rerumputan di bawahnya. Binatang-binatang kecil, kupu-kupu turut hadir menemani mereka berdua.
Tiba-tiba pikirannya tertuju pada seseorang. Choi Yeonjun.
Memikirkan namanya membuat perasaan rindu itu kembali datang. Ia bermimpi, Yeonjun berada di sisinya, menemaninya dan selalu bersamanya. Air mata mulai menggenang di pelupuk matanya. Ia menghapus satu yang mulai berjatuhan.
“Gyu, kapan Soobin ketemu kak Yeonjun lagi?” Ia melontarkan pertanyaan kosong.
Beomgyu disebelahnya tak berucap, ia hanya mendengarkan ucapan yang keluar dari bibir Soobin.
“Gyu, Soobin ngantuk,”
“Mau balik ke kamar?”
Tawarannya dibalas gelengan, lantas Soobin menyandarkan kepalanya pada bahu tegap sang dokter. Tiba-tiba rasa sakit itu kembali lagi. Ia mencengkram ujung lengan jaket Beomgyu dengan kuat. Cairan kental berwarna merah mengalir dari hidung Soobin.
“Gyu, Soobin mimisan lagi,” tangannya menadahi darah yang mulai berjatuhan.
“Bin, balik ke kamar ya?”
Soobin kembali menggeleng, “Nggak mau, mau disini liat kak Yeonjun,” ah, ia sering menyamakan sang surya dengan kekasihnya. Yeonjun adalah mataharinya, pusat hidupnya.
“Soob—”
“Beomgyu, kira-kira kak Yeonjun lagi apa diatas sana. Soobin rindu, rindu dengan kak Yeonjun. Mau ketemu kak Yeonjun.”
Beomgyu membawa tangannya untuk ikut membersihkan darah yang keluar. Masih tak menanggapi ucapan yang dilontarkan oleh Soobin.
“Beomgyu, makasih ya sudah jadi sahabat Soobin. Udah mau nemenin Soobin, bisa dibilang hubungan Soobin dan kak Yeonjun bisa terjalin karena Beomgyu yang minta Soobin buat konfes. Makasih banyak buat semua perlakuan baik yang udah Beomgyulakuin ke Soobin, Soobin merasa disayang setiap sama Beomgyu. Maafin Soobin kalo kadang bikin kesel, bikin marah, Soobin juga sering ngeyel kalo dibilangin. Kalo nanti Soobin pergi Beomgyu jangan sedih ya, karena Soobin bakal bahagia bisa ketemu kak Yeonjun lagi. Beomgyu;juga harus bahagia disini karena udah jadi dokter yang paaaaaaling keren. Janji sama Soobin, Beomgyu bakal selalu bahagia nanti, janji ya? Pinky promise?” Soobin mengulurkan kelingkingnya.
Beomgyu menatapnya dalam, mungkin sudah waktunya. Ia mengaitkan kelingkingnya dengan milik Soobin, “Pinky promise,”
“Hehe, Beomgyu the best!!”
“Sekarang Soobin ngantuk, mau bobo tapi disini aja, boleh Beomgyu?”
Tenggorokannya tercekat, ia berdeham sebelum menjawab, “Iya, boleh. Tidur yang nyenyak Soobin.” Ucapnya sesat sebelum ia meneteskan air mata. Beomgyu menyadari hal ini akan segera tiba, dan sekarang adalah waktunya.
“Terimakasih Beomgyu, Soobin sayang Beomgyu,”
Bersamaan dengan tenggelamnya mentari, Soobin ikut terlelap. Menyisakan sebuah raga dingin yang terbalut pakaian hangat. Beomgyu terisak menyaksikan kepergian sang sahabat, senyuman manis terpatri di bibir pucat si pria kelinci. Ia pergi dengan tenang, Soobin pergi dengan damai tanpa penyesalan.
“Gue juga sayang sama lo Soobin, tidur yang nyenyak. Selamat karena lo bakal ketemu sama kak Yeonjun lagi.”
°°°
Omake :
"Kak Yeonjun?"
Sosok yang tengah berkelana di dalam pikirannya kini tersadar, ia mencari-cari darimana asal suara yang memanggil namanya.
"Soobin?" Panggilnya ragu.
"Kak Yeonjun!"
Sesaat setelah ia membalikkan tubuhnya, sesuatu—seseorang menabraknya, membuatnya jatuh tertidur dengan sosok tersebut diatasnya; memeluknya dengan erat. Tangannya terangkat mengelus permukaan kain yang melapisi tubuh seseorang yang memeluknya.
"Kak Yeonjun , Soobin rindu, rindu sekali,"
"Sayangku, kakak juga rindu kamu," Yeonjun membalas, tangannya mengelus rambut hitam milik kasihnya. Membubuhi puncak kepala dalam dekapannya dengan kecupan.
Hari ini telah tiba, hari di mana mereka berdua telah meninggalkan kefanaan yang ada, dan beralih pada suatu yang abadi. Mereka bertemu kembali—Soobin kembali padanya, berada disisinya untuk selamanya. Mereka menepati janji yang telah dibuat; bertemu kembali setelah kehidupan berakhir.
