Actions

Work Header

Rating:
Archive Warning:
Category:
Fandom:
Relationship:
Characters:
Additional Tags:
Language:
Bahasa Indonesia
Stats:
Published:
2025-06-18
Words:
285
Chapters:
1/1
Kudos:
14
Hits:
206

pucuk malam yang dirajut tangan pengrajin cupang

Notes:

tidak ada yang mabuk kecubung di sini

Work Text:

“Kalau ngerokok, mikirin apa?” tatapan Seungmin nanar ke depan, wajahnya dihembusi asap tipis bau tembakau bakar. 

“Nggak mikirin apa-apa.” Hyunjin mengetukkan rokok di asbak, menoleh menghadap Seungmin. 

“Kalau lagi ciuman mikirin apa?” tatapan Seungmin masih lurus ke depan, menghadap motor dan mobil berlalu lalang. 

“Mikirin kamu, lah,” jawab si laki-laki yang tersenyum tipis sekarang, bibirnya naik separuh kaya emot roblox. 

“Dih,” respon Seungmin, sama seperti penulis tulisan ini. 

“Serius,” rengek Seungmin yang sebenarnya hanya bercanda, tapi membuat darah Hyunjin mengalir deras terutama ke bagian–

“Aku serius,” jawab Hyunjin serius. “Aku mikirin kamu, mikirin dan menahan diri supaya nggak semakin sange.”

Alis Seungmin mengernyit mendengar jawaban yang menurutnya sangat jorok itu. “Jorok,” katanya, sambil pasang wajah ‘ew…’

“Kamu yang bikin aku mikir jorok terus,” kata Hyunjin, meraih tangan Seungmin yang semula ada di pangkuan Seungmin sendiri. Hyunjin membawa punggung tangan Seungmin menyentuh bibirnya. ‘Cup,' bunyinya. 

Wajah Seungmin makin tak terkondisikan. “ Sir, what are you doing??????? ” protesnya brutal. Tidak mungkin bibir yang habis menyesap rokok dan liurnya bau asap itu menyentuh kulitnya. Tidak boleh. Tidak bisa. 

“Hahaha!” Hyunjin tertawa. “Maaf ya, Pangeran. Suka lupa aku,” katanya, mengambil tisu basah dan hand sanitizer yang selalu dibawa bersama dompetnya. Dan bersama rokok dan bersama korek. Hilang martabat tisu bau bayi itu, sekarang bau tembakau yang belum dibakar, bau balita (bawah limapuluh tahun). 

Hyunjin mengambil selembar tisu basah dan mengusapkannya ke tangan Seungmin. Setelah itu dia semprotkan hand sanitizer bau melati. Setelah itu dia usap kembali menggunakan tisu basah. 

“Kamu harus traktir aku puding,” kata Seungmin sambil mengerucut bibirnya. 

“Okai,” kata Hyunjin, tersenyum sampai matanya menyabit. Dia masuk ke supermarket yang terasnya mereka bajak,

 

lalu keluar dengan dua batang es krim, dua mangkuk puding, dan satu kotak rokok yang baru.