Actions

Work Header

Rating:
Archive Warning:
Category:
Fandom:
Relationship:
Characters:
Additional Tags:
Language:
Bahasa Indonesia
Stats:
Published:
2025-06-19
Words:
4,817
Chapters:
1/1
Comments:
4
Kudos:
33
Bookmarks:
2
Hits:
341

Try to follow what your dad says

Summary:

Hyeongjun memutuskan meninggalkan kehidupan kota dan kembali ke desa tempat dia lahir dan dibesarkan. Ternyata ayahnya masih berperan andil membantu jalan hidupnya ke depan termasuk jodohnya.

Notes:

terlalu banyak momen dan konten junie sebagai anak perempuan gunil makanya aku sampe kepikiran cerita ini hahaha.

Work Text:

Muak.

Mungkin ini akhir dari segalanya. Hyeongjun menemukan fakta bahwa dia sudah muak dengan kehidupan perkotaan, gemerlapnya yang sebetulnya sangat memanjakan jiwa siapa saja termasuk dirinya. Di pagi ini, seharusnya dia masuk bekerja, pergi ke kantor dengan setelan formal dan bertemu rekan-rekan yang kebanyakan tidak mau dia kenal. Justru dia sedang mengemasi barang-barang yang sekiranya bisa dibawa pulang dan mana yang bisa dijual lagi atau buang begitu saja.

“Hah lo serius? Jun?”

Juni adalah nama panggilannya di sini. Dan salah seorang teman yang paling dekat dengannya, bernama Jiseok, teman seperjuangan sejak kuliah hingga mereka bekerja di satu kantor yang sama tapi beda divisi. Sore hari Jiseok mampir ketika siangnya dapat kabar dari Hyeongjun sendiri kalau dia akan pindah.

“Serius.” Hyeongjun membalas dingin, seperti biasanya, tapi lebih karena dia sedang dalam mode muak.

“Lo cuti aja, kan? Bukan resign?” Jiseok berusaha meyakini pikirannya sendiri, baginya seperti sedikit mustahil Hyeongjun mau berhenti ketika dialah yang mengajak Jiseok untuk bekerja di kantor mereka sekarang.

Hyeongjun yang sebetulnya sedang mengemas kardus terakhir yang akan dibawa pulang, lalu berkata, “Resign. Gue capek, Ji.”

“Cowok lo?”

“Putus. Udah seminggu putus, udah jangan nanya gue soal itu!” jawab Hyeongjun cepat seperti ultimatum.

Baiklah jika begitu Jiseok pikir dia tidak bisa bertanya lagi padahal dia ingin. Kali ini dia baru membantu Hyeongjun untuk membereskan barang-barang yang tersisa. Melihat beberapa koleksi gelas lucu milik Hyeongjun, seolah tahu isi hatinya langsung disuruh untuk mengambil yang dia inginkan.

“Terus lo balik ke rumah abis itu mau ngapain?”

Sebagai orang dewasa yang seharusnya sudah dapat berpikir panjang, Jiseok wajar bertanya seperti itu. Dan Hyeongjun yang sama dewasa sepertinya ternyata dia tidak atau belum berpikir demikian. Sekarang di benaknya hanya dia ingin segera kembali ke rumah, menikmati kehidupan membosankan di rumah yang dia paham sekali sangat berbeda dengan kehidupan di kota padat seperti tempatnya sekarang. Meski ini adalah tempat yang dulu sangat dia idamkan.

Karier cukup bagus, teman baik ada, percintaan bisa dikatakan lancar, tempat tinggal nyaman, fasilitas mumpuni, entah apa yang Hyeongjun mau cari lagi. Percintaannya lumayan lancar tapi Hyeongjun tidak menemukan jalan untuk melaju, pacarnya atau kita sebut mantannya sekarang, seolah hanya diam di tempat bersamanya. Hyeongjun tak melihat masa depan, dan keadaannya sekarang juga menjadi faktor yang semakin memperberat.

“Gue mau nangis,” aku Jiseok dengan kedua mata berkaca, “nanti gue kangen lo gimana?”

Hyeongjun yang tidak seperasa Jiseok, hanya menjawab, “main aja ke rumah gue, Ji? Gak akan gue usir. Bokap gue baik jadi santai aja.”

Meski nada bicaranya begitu, Jiseok tetap merasa terhibur mendengarnya. “Iya, deh. Tapi jangan putus komunikasi ya sama gue?”

Dua sahabat itu pun saling menatap kemudian berpelukan untuk perpisahan mereka di hari yang melelahkan untuk keduanya.

Angin bertiup tenang di pagi hari yang mataharinya mulai naik, di bawah pohon mangga yang sedang tidak berbuah dengan bawahnya sebuah saung berbahan dasar bambu. Dua orang terlihat sedang sama-sama fokus pada papan hitam-putih dengan pion-pion yang sudah teracak.

“Ke sini bisa, Dek.”

“Ah, enggak, Pak. Nanti saya kalah, dong?”

Orang yang lebih tua mengikik mendengar reaksi yang lebih muda. Berlalu hening hanya sebentar dan dipecahkan oleh suara lain yang sanggup membuat mereka berdua sama-sama terkesiap.

“AYAH! AKU PULANG!”

Dua pasang mata langsung tertuju padanya. Hyeongjun sengaja turun sedikit lebih jauh dari rumahnya agar bisa berjalan dan memberi kejutan pada sang ayah yang dia tahu pasti ada di rumah ketika masih pagi begini. Menghampiri saung yang sekarang sudah jauh lebih baik dari terakhir dia melihatnya. Hyeongjun menghampiri sang ayah, memeluknya sementara sang ayah duluan merentangkan tangan untuk menyambutnya.

“Aduh!”

Hyeongjun hanya tertawa setelah sengaja mendorong ayahnya dalam pelukan, memeluk ayahnya hingga berbaring di atas saung. Belum juga menyadari keberadaan orang lain yang memperhatikan mereka berdua dengan jarak sama dekat.

“Kangen Ayah!” ungkap Hyeongjun dengan sangat ceria, kalau teman-temannya di kota melihat ini pasti mereka akan sangat kaget karena tidak pernah Hyeongjun seceria ini kecuali bersama sang ayah.

“Kangen juga sama Inces,” balas sang ayah, Gunil dengan senyum hangatnya, mengusap lembut rambut panjang sang anak sebentar.

Puas berpelukan untuk melepas rindu. Hyeongjun kembali berdiri, sedikit tidak enak membuat ayahnya kaget dan terbaring begitu kemudian dia terperanjat saat baru sadar kalau sang ayah tidak sendirian. Seorang laki-laki sedari tadi duduk di depan ayahnya dan sekarang menonton mereka berdua tanpa bergeming.

Gunil yang kembali duduk, melihat situasi lantas segera memperkenalkan, “Inces, ini kenalin tetangga sebelah.”

Kalimatnya berlangsung bersama Hyeongjun yang berlari masuk ke dalam rumah, tidak tahu mendengar kalimatnya atau tidak. Gunil langsung memanggil anaknya lagi tapi tidak diacuhkan. Dia pun mendecak melihat kelakuan sang anak, menoleh pada tetangganya dan memberi senyum rasa bersalah.

“Maaf ya, Dek. Anak saya emang pemalu kalau sama orang baru.”

“Enggak apa-apa, Pak, biasa itu.”

“Oh, iya kamu beda berapa tahun sama anak saya?”

Laki-laki itu kemudian berpikir sebentar, “saya tiga satu, Pak.”

Gunil mengangguk. “Anak saya tiga puluh. Beda setahun, ya.”

Lalu mereka melanjutkan permainan mereka yang sempat terhenti.

Sementara itu, Hyeongjun masuk ke kamarnya dengan segera, menutup pintu dan bersandar di sana. Tubuhnya merosot hingga ke lantai, memegang kepalanya dengan isi pikiran yang memutar kembali kejadian barusan. Acara temu kangen dengan sang ayah, dia yang bertingkah sangat manja, belum lagi panggilan sang ayah yang memang dia dapatkan sejak kecil, dan itu semua dilihat oleh orang asing; menurutnya tapi kata sang ayah tadi itu adalah tetangga.

Hyeongjun tidak tahu tetangga itu siapa, sudah lebih dari sepuluh tahun dia meninggalkan rumah. Tanpa pernah pulang karena Gunil yang lebih rela mendatanginya ke kota. Kalau ditanya kenapa, karena sang ayah takut dia tersesat jika pulang sendiri dan Hyeongjun sendiri juga malas pulang ke rumah. Lalu sekarang dia malah pulang ke rumah dan mau menetap di sini entah sampai kapan.

“Bego, bego, gue ngapain tadi di depan orang malah kaya gitu?!” Hyeongjun mengacak rambutnya sedikit frustasi, dia sangat malu sekarang, kalau bisa dia ingin punya kekuatan menghapus ingatan orang lain.

Dan tubuhnya sudah lelah sekarang karena menghabiskan perjalanan yang cukup panjang sejak pagi buta. Selalu takjub pada sang ayah yang rela menyetir jauh sendirian untuk menjenguknya bahkan bisa pulang malam sendirian juga. Pagi ini Hyeongjun memutuskan untuk tidur lagi, berharap kejadian barusan terlupakan begitu saja dan hanya ada kejadian-kejadian baik ke depannya.

“Ayah masak ayam kecap.”

“Yey!”

Meski tanpa diberitahu pun Hyeongjun sudah bisa mengenali aroma yang tercium saat dia memasuki ruang makan yang langsung terhubung dapur. Duduk di kursi meja makan, menunggu sang ayah yang sedang memasak seperti biasanya. Dia terbangun beberapa jam setelahnya dan tepat memasuki jam makan siang. Sepiring nasi hangat sudah dia ambil sendiri, dan kini sang ayah menaruh piring berisi beberapa potong ayam kecap favoritnya sepanjang masa.

“Kenapa tadi lari-lari pas Ayah mau kenalin sama tetangga?” Gunil langsung bertanya meski anaknya baru memulai makan.

Hyeongjun yang berusaha mati-matian menghilangkan ingatan kejadian itu, dan sang ayah tersayang malah memanggilnya ingatan itu lagi.

“Taukan itu gak sopan?”

Seketika dirinya merasa ciut. Hyeongjun memakan dengan perasaan sedikit bersalah. Dipikir lagi iya, sekarang dia malah kepikiran bagaimana perasaan si tetangga yang mungkin berpikir dia tidak mau kenal. Tapi sebetulnya iya, karena Hyeongjun malas saja berkenalan.

Sebagai anak yang baik, Hyeongjun mengaku salah. “Tau, Yah. Aku minta maaf.”

Hanya kalimat itu sudah cukup meluluhkan amarah kecil sang ayah. Gunil tersenyum hangat seperti biasanya, mendorong kecil piring ayam kecap buatannya meminta sang anak untuk mengambil lagi.

“Jadi kenapa pulang?”

“Aku resign!”

Dan dimulailah cerita panjang lebar Hyeongjun dari awal hingga akhirnya dia memutuskan untuk berhenti bekerja. Lalu mengatakan akan pindah ke rumah dan menganggur entah sampai kapan. Semula takut jika sang ayah murka atau kecewa padanya atau mungkin malah mengusirnya meski yang terakhir sepertinya tidak mungkin mengingat dia anak satu-satunya dan pewaris tunggal.

“Ya, udah oke. Take your time, Nak. Tapi disini bosen gak ada apa-apa.”

Hyeongjun sudah tahu itu. Dan zaman sudah canggih, dengan segala alat elektroniknya dia bisa menyibukan diri di sana atau mencari hobi baru atau mencoba hal-hal lain. Semua bisa dia lakukan sendirian.

“Akhirnya ayah sekarang bisa masak macem-macem lagi.”

Hyeongjun tahu kedatangannya dan kembali tinggi di rumah adalah kabar baik yang menggembirakan untuk sang ayah.

Hari pertama menghabiskan waktu di kamar seharian. Sang ayah sebetulnya punya usaha seperti toko bangunan dan kelontong. Biasanya dari siang sampai malam ke sana untuk mengawasi atau berbelanja kebutuhan toko. Jadi waktu bersama mereka adalah pagi dan malam. Ketika sarapan dan makan malam.

“Hah, gue kangen banget suasana gini,” gumam Hyeongjun sambil membuka kaca jendela kamarnya yang menghadap depan rumah, susana perkampungan tempat dia tinggal masih asri dan juga sejuk.

Tidak ada pemandangan padat bangunan, suara berisik kendaraan, atau lampu-lampu gemerlap. Hanya ada ketenangan dan hijau-hijau yang memanjakan mata. Hyeongjun meraih buku gambarnya, berniat untuk menggambar sembari duduk di depan jendela.

Hari kedua, Hyeongjun mulai membereskan barang-barangnya yang baru saja datang. Dibantu sang ayah yang langsung pulang dari toko di siang hari karena ingin membantunya. Ketika seluruh kotak-kotak sudah ditaruh, dia pun mulai membukanya satu persatu masih bersama sang ayah.

“Loh tanaman hiasnya dibawa juga?” ujar Gunil ketika membuka sebuah kardus dan berisi tanaman-tanaman hias berukuran kecil yang jumlahnya banyak.

Hyeongjun yang sedang membuka kardus-kardus lain langsung sadar begitu melihat sekeliling rumah mereka sudah penuh tanaman hias. Berpikir lagi seharusnya dia kasih tanaman hiasnya pada Jiseok, dan dia lupa kalau rumahnya sudah penuh tanaman hias.

“Jual aja, Yah?” tanyanya asal.

Dan jawaban ayahnya bagi Hyeongjun lebih asal.

“Kasih tetangga sebelah aja. Rumahnya masih sepi sama tanaman.”

“Oh, oke,” balas Hyeongjun biasa saja, tidak masalah, tanaman tidak begitu berharga dan tidak sulit mengurusnya selama ini.

“Inces yang kasih langsung, ya.”

“Ih gak mau!”

Hari sudah malam, setelah makan malam sang ayah masih mendesaknya. Hyeongjun yang tidak bisa melawan terus dan berpikir Gunil tidak akan mengalah kali ini. Berujung pasrah menggendong kardus berisi tanaman-tanaman hias sambil membawanya ke rumah sebelah. Rumah yang terhubung dengan rumah mereka dari halaman depan yaitu berupa pohon mangga dan saung di bawahnya.

Seingat Hyeongjun rumah sebelah berisi sebuah keluarga, suami istri yang tidak punya anak, lalu rumah itu sempat kosong selama Hyeongjun SMA. Dan setelah SMA dia memutuskan kuliah di kota, Hyeongjun tidak pernah tahu lagi kabar rumah itu. Ketika dia sampai di sana, keadaan luarnya rapi tapi terkesan kosong.

Begitu dia berdiri di depan pintu, Hyeongjun tidak langsung mengetuk pintu melainkan berusaha mengumpulkan tenaga untuk mengetuk dan mengobrol dengan orang baru. Ini keadaan yang sering dia benci, karena rasanya sulit. Kenapa dia tidak bisa langsung merasa nyaman dan sudah kenal semua orang pikirnya.

Belum selesai mengumpulkan tenaganya, ternyata pintu rumah itu dibuka oleh pemiliknya. Seorang laki-laki menyambutnya, terlihat sedikit terheran sembari memiringkan sedikit kepala dan tidak bersuara. Mereka saling menatap, tidak ada yang bersuara, orang itu menunggu Hyeongjun yang bersuara duluan.

“I-ini....” Nada bicaranya tergagap, Hyeongjun memperhatikan lagi, orang itu berdiri sambil memegang pintu yang dia buka.

Laki-laki dengan rambut pendek dan cepak, berwarna hitam, sedikit lebih tinggi dari Hyeongjun, bajunya hanya kaos tanpa lengan berwarna hitam dan celana hitam pendek selutut, kaosnya membuat biceps dan tricepsnya terlihat jelas. Sial, kenapa mata Hyeongjun langsung terkunci ke sana.

“Ini kardus?” ujar laki-laki itu sambil menunjuk kardus di tangan Hyeongjun.

“Iya kardus,” balas Hyeongjun merasa konyol, “ini ada tanaman hias di dalamnya,” lalu dia melihat ke sekitar, “lumayan buat ngisi teras lo biar gak gugup.”

Hyeongjun tidak tahu laki-laki itu seusianya atau tidak.

“Oalah,” reaksi laki-laki itu terdengar ramah dan santai, langsung mengambil alih kardus yang sebenarnya lumayan berat dan berat sekali untuk Hyeongjun.

Menaruh kardus itu di sebelah pintu. “Makasih anaknya Pak Gunil.”

Kejadian dua hari lalu teringat lagi, Hyeongjun merasa bersalah. Mereka belum berkenalan, Hyeongjun juga lupa bertanya pada sang ayah siapa nama tetangganya ini.

“Hyeongjun.”

Tidak disangka-sangka reaksi laki-laki itu begitu antusias setelahnya. Mengulurkan tangan pada Hyeongjun mengajak berkenalan, ketika tangannya dijabat baru dia menjawab, “Seungmin.”

Hanya itu. Tidak ada percakapan lagi. Hyeongjun menunduk kecil lalu pamit dengan senyum canggung dan tanpa tahu malu berlari menuju rumahnya melewati halaman rumah Seungmin padahal barusan dia jalan memutar lewat jalan depan rumah.

“Udah kasih tanamannya, Nak?” Gunil langsung bertanya begitu Hyeongjun pulang saat dia sedang menonton tv di ruang tengah dan melihat anaknya langsung berjalan masuk ke dalam kamar dan menutup pintu.

“Udah!”

Hyeongjun sangat malu sekarang. Sangat malu.

Paginya ketika sarapan, suasana begitu tenang dan hangat. Hyeongjun dan ayahnya yang makan berdua. Menu pagi ini nasi kuning yang ayahnya beli di dekat pasar. Hyeongjun makan dengan sedikit lesu karena baru bangun, memperhatikan sang ayah yang makan sambil membaca koran digital kemudian dia terpikir sesuatu.

Mengapa ayahnya tidak memberi tahu kalau sekarang bertetangga dengan laki-laki dewasa yang hot. Hyeongjun hanya mampu mengatakan itu dalam hati, dia malu. Meski pagi saat dia pulang sang ayah hendak memperkenalkan tapi kenapa tidak dari awal sejak laki-laki itu datang. Kenapa seperti disembunyikan dan ada apa.

“Yah.”

“Ya?”

Gunil langsung menoleh padanya, Hyeongjun mengunyah dengan pelan, “itu tetangga sebelah, udah dari kapan tinggal di sini?”

“Baru setahun. Dia sama kaya kamu tuh, resign dari kota terus tinggal di sini.”

Hyeongjun mengernyit. “Emang orang sini, Yah?”

“Bukan,” balas Gunil lalu minum kopi hitamnya, “dia cari rumah di desa-desa dan ternyata dapat di sini.”

“Oh gitu,” ujar Hyeongjun paham

“Kamu sama dia beda setahun. Tuaan dia.”

Dalam hatinya Hyeongjun cukup lega, berarti semalam dia cukup sopan berbicara demikian.

Siangnya ditinggal sang ayah pergi, kali ini Hyeongjun ingin menggambar di saung. Menikmati semilir angin, cuaca di desanya ketika cerah tidak akan terasa terik atau panas apalagi di rumahnya. Selain itu dia juga ditemani semangkok buah semangka yang sudah ayahnya potongkan tadi pagi.

Pintu rumah sebelah terdengar terbuka, Hyeongjun yang duduk menghadap rumah refleks melihat rumah sebelah. Terlihat si tuan rumah, Seungmin keluar dengan membawa kardus yang semalam Hyeongjun beri. Tidak melihat keberadaannya sama sekali. Lalu terlihat mengeluarkan tanaman-tanaman kecil yang cukup banyak itu, langsung menyusunnya di depan teras yang memang terlihat kosong.

Dalam diam Hyeongjun memperhatikan, si tetangga yang sekarang kaosnya berlengan. Syukur saja pikir Hyeongjun jadi dia bisa lebih fokus memperhatikan wajahnya yang tampak tenang. Setelah selesai menyusun tanaman-tanaman hias, Seungmin kembali berdiri dan membawa kardusnya masuk.

“Rajin,” gumam Hyeongjun lalu kembali menggambar.

Saat dia sedang fokus-fokusnya menggambar.

“Lagi gambar apa?”

“HAH APA?!”

Saking terlalu fokusnya menggambar, Hyeongjun sampai tidak sadar seseorang sudah berdiri di sebelahnya dan sudah memperhatikan halaman buku gambarnya.

“Eh semangka kamu jatuh!”

Panik. Hyeongjun terlalu panik dan rasa malunya melambung tinggi melewati batas. Langsung turun dari saung dan berlari masuk ke rumah. Tidak peduli mangkok berisi semangka di dekat kakinya terjatuh dan isinya berceceran sebagian. Menutup pintu rumah sampai sedikit dibanting. Seungmin yang melihat kejadian itu begitu cepat hanya mematung, menatap tumpahan semangka di depannya dengan perasaan iba.

“Sayang banget semangkanya.”

Malamnya Hyeongjun menceritakan semuanya pada Jiseok melalui video call. Dan reaksi Jiseok hanya tertawa ngakak dan cekikikan mendengar ceritanya.

“Dia mau pdkt sama lo tuh!”

“Gila!”

Jiseok masih tertawa, sedikit geli mendengar cerita Hyeongjun tapi menurutnya juga lucu. “Dia mau kenalan elah. Jangan jual mahal begitu, Jun. Nanti kena karmanya.”

“Karma apa?”

“Jatuh cinta.”

Hari selanjutnya Hyeongjun memutuskan tidak akan berdiam diri di luar lagi kecuali bersama sang ayah. Takut terulang lagi, bukan takut pada Seungmin tapi dia belum siap untuk mengobrol atau berbincang hanya berdua dengan laki-laki itu. Bukan karena Seungmin seperti orang jahat atau nakal, Hyeongjun cuma belum siap saja sumpah.

Lalu hari ini Gunil terlihat duduk di saung dan bersama Seungmin bermain catur. Hyeongjun mengintip dari jendela kamarnya, melihat pemandangan yang asing baginya. Lalu menghela napas ketus, padahal biasanya sang ayah bermain catur dengannya.

Dan saat makan malam, Hyeongjun langsung menunjukan kecemburuannya.

“Ayah main catur kenapa gak sama aku?!”

“Emang masih bisa main catur?”

Menyebalkan. Hyeongjun memang hanya bermain catur bersama sang ayah. Di kota tidak ada yang mengajak dan dia tidak inisiatif mengajak. Karena raut mukanya yang tampak prengat prengut, Gunil menatapnya.

“Mau main sekarang?”

“Enggak. Udah males,” balas Hyeongjun judes.

Dua minggu di sini Hyeongjun mulai jengah terus berada di kamarnya. Sudah menyusun barang-barang yang dia bawa, merapikan seisi rumah meski sudah rapi, menonton, atau melakukan hobi lain. Semua sudah terasa bosan, Hyeongjun tidak tahu kenapa tapi dia butuh suasana baru.

“Sana main sama Seungmin.”

Di siang cerah sebelum ayahnya berangkat, Hyeongjun menatap marah sang ayah. “Emang aku masih kecil?! Main apa juga lagian?!”

Gunil terkekeh melihat tingkah anaknya. “Dia punya ternak sama kebun. Minta aja dibawa ke sana.”

“Gak.”

Semakin keras Hyeongjun menolak, itu tidak berarti apa-apa oleh sang ayah.

“Udah sana, main lagi ke kebun kaya pas kecil. Jangan sosoan gak pernah tinggal di kampung aja Inces.”

Hyeongjun merengut pada ayahnya, yang sudah menjebaknya dengan sangat cerdas. Setelah sarapan pagi menyuruhnya untuk mandi dan bersiap, berkata akan mengajaknya pergi. Dan setelah siap ternyata orang yang paling dia hindari alias tetangganya sudah menunggu di depan.

“Ayah gitu sama aku!” Hyeongjun melotot marah, tapi sang ayah malah mendorongnya pelan keluar rumah.

Tidak pernah terbayangkan olehnya akan pergi bersama tetangga sebelah. Meski mereka seumuran. Hyeongjun berjalan di sebelah Seungmin, mereka bisa tiba di kebun yang dimaksud tanpa harus naik kendaraan. Hyeongjun tahu memang ada beberapa lahan kebun di dekat rumahnya.

Dan mereka tiba di sebuah kebun stroberi. Tidak begitu luas tapi terlihat subur.

“Pernah metik stroberi?” tanya Seungmin lembut, mereka memasuki sebuah gubuk kecil tempat menyimpan barang.

Hyeongjun mengambil ember kecil di dekatnya. “Gue dari umur lima tahun juga udah pernah panen stroberi,” balasnya ketus.

Tapi hebatnya reaksi Seungmin terlihat biasa saja, tidak tersinggung sama sekali. Kemudian mengajaknya ke kebun kecil stroberi yang sepertinya hari ini panen. Dan mereka pun mulai memanen buah merah manis asam itu. Hyeongjun dengan cepat menikmatinya, kegiatan berkebun memang mengasyikan dan dia sudah lama tidak melakukannya. Memetik stroberi satu persatu yang sudah matang sampai akhirnya sudah dipetik semua. Menghasilkan dua ember kecil yang tidak terisi penuh.

“Buat kamu aja yang kamu petik barusan.”

“Lo gak rugi? Ini buat dijual, kan?”

Seungmin menggeleng kecil. Mengambil plastik putih dan memberikannya pada Hyeongjun satu. “Dikit banget kalo dijual. Lagian emang aku suka stroberi.”

Kenapa ikut-ikutan, batin Hyeongjun sambil melirik sinis Seungmin yang tidak melihatnya.

“Mau semangka gak?”

“Semangka?”

Ada deretan kebun semangka di belakang kebun stroberi. Dan sekarang Hyeongjun di sana, tepatnya di belakang Seungmin yang sedang memeriksa apakah ada semangka yang matang hari ini dan ternyata ada satu di paling ujung. Memetik semangka itu dan terlihat handal, Hyeongjun langsung menerka-nerka apa pekerjaan Seungmin sebelumnya atau apa pekerjaan dia sebelum memutuskan untuk berhenti dan menetap di desa.

“Lumayan nih,” ujarnya sambil membawa semangka bulat berwarna cantik, mengetuk-ngetuk pelan dan terdengar suara redup dan dalam.

Keduanya langsung berucap, “ini pasti manis.”

Langsung sama-sama membuang muka, lebih tepatnya mereka sedikit salah tingkah. Seungmin yang tidak mau mereka berlama-lama seperti itu memilih mengajak Hyeongjun untuk meninggalkan kebun.

“Lo punya kebun apa aja emang?”

Seungmin yang menutup pintu gubuk kecil miliknya kemudian menjawab, “kalau yang baru jadi, ada semangka sama stroberi. Sebelah semangka tuh ada sawi nah baru aku tanam minggu kemarin.”

Hyeongjun langsung melihat kebun yang dimaksud. “Loh terus yang di depan sawi itu punya lo?”

“Punya Bapak kamu.”

“Sejak kapan Ayah mau berkebun?”

Seungmin melihat kebun yang Hyeongjun maksud. “Sebenarnya Bapak kamu nyuruh aku, katanya dia males, mau hasil panennya aja.”

“Kok lo mau aja?”

“Sekalian, kan satu petak sama kebun aku.”

Hyeongjun menganalisis, dipikir lagi tidak salah juga sih apalagi dengan latar belakang waktu yang Seungmin punya itu banyak. Dan tidak terlalu melelahkan karena petak kebun ini terbilang kecil ketimbang yang lain.

“Aku mau ke kandang kamu mau ikut?”

Matahari sudah kian naik, Hyeongjun berpikir kalau dia pulang sang ayah pasti masih di rumah dan mungkin akan memarahinya jadi dia menjawab, “ikut.”

“Kamu ada sepeda gak? Ke sana lumayan jauh kalau jalan kaki.”

Dan akhirnya tetap saja dia balik ke rumah dan tahu sepeda Seungmin tidak punya tempat duduk di belakang. Gunil seolah penyelamat sekaligus mak comblang malah memberi ide.

“Pake satu sepeda aja kan ini ada tempat duduk di belakangnya. Kamu udah lama gak naik sepeda nanti jatuh. Jalan ke sana jelek,” jelas Gunil sambil membawakan sepeda dengan keranjang dan tempat duduk di belakang.

Keduanya, apalagi Hyeongjun selaku anak kandung tidak bisa menolak. Meski dia tahu Seungmin seperti memberi kode agar dia mengambil sepedanya sendiri nanti tapi ujungnya mereka pergi dengan satu sepeda. Hyeongjun yang duduk di belakang, sempat bingung mau berpegangan ke mana dan akhirnya ke pinggir tempat duduknya sendiri. Duduk menyamping entah karena apa, dan membiarkan Seungmin memboncengnya.

“Jelek, kan jalannya?”

“Iya jelek.” Hyeongjun melihat jalanan bertanah dengan batu-batu besar dengan pinggiran lahan sawah yang luas.

Setelah mereka melewati jalanan yang lebih rata dan sampai di sebuah lahan yang tertutup pohon bambu. Seungmin memarkirkan sepedanya di dekat pohon bambu. Kemudian mereka berjalan masuk ke dalam.

“Lo punya sapi berapa?”

“Enam.”

Banyak juga, batin Hyeongjun kemudian melihat kandang yang dimaksud. Cukup takjub karena terlihat rapi dan bersih. Meski tetap memiliki aroma khas, Hyeongjun melihat sapi-sapi tersebut tampak terawat dan sehat. Diperhatikan lagi Seungmin yang mulai memberi makan sapi-sapinya dari rumput dalam karung.

“Lo ngarit sendiri?”

“Iyalah.”

Hyeongjun langsung membayangkannya dan dia malah jadi salah tingkah sendiri. Memutuskan untuk berjalan sambil melihat-lihat. Kandang ini adalah sebuah lahan dekat dengan sungai yang dibatasi beberapa pepohonan. Melihat sekelilingnya yang adem dan tenang, Hyeongjun memutuskan untuk menghampiri sungai kecil yang airnya masih jernih.

Memutuskan duduk di pinggir tepatnya di sebuah batu besar di pinggir sungai, menatap aliran sungai yang sepertinya terlihat segar kalau dia masuk ke sana sekadar bermain air karena sungai itu cukup dangkal. Tak lama kemudian Seungmin menyusul dan duduk di sebelah.

“Mau turun?” tawarnya seperti bisa membaca pikiran.

Hyeongjun menggeleng sambil memanyunkan bibir tanpa sadar, “gue baru mandi.”

“Tinggal mandi lagi.” Seungmin menatap aliran sungai yang saat ini sedang tenang.

“Tidak.”

Mereka pun saling terdiam, ditemani suara aliran air sungai dan sapi yang saling bersahut sesekali. Hyeongjun melihat sekitarnya seperti menonton, pemandangan yang sudah lama tidak dia dapatkan padahal dulu sering menemani masa kecilnya. Menoleh ke sebelah, Hyeongjun menemukan Seungmin terlelap dengan posisi terduduk sehingga kepalanya menunduk.

“Kenapa dia tidur?” gumam Hyeongjun lalu menoleh ke belakang, melihat sapi-sapi sedang makan lalu melihat lagi ke arah si tetangga yang masih terlelap.

“Min?” panggil Hyeongjun akrab, menoel bahunya tidak ada reaksi, sampai Hyeongjun mendorong bahunya pelan.

“Eh iya?” balas Seungmin terkaget begitu bangun dari tidurnya.

“Lo tidur...?”

Seungmin memejam sebentar, mengusap wajahnya kemudian menggeleng kecil. “Sorry, semalam aku begadang.”

“Ngapain?”

“Nonton.”

Tersadar hari semakin siang dan cerah, Seungmin pun mengajak pulang.

“Makasih udah mau ngajakin gue ke kebun sama ternak lo,” ujar Hyeongjun kali ini sopan, setelah Seungmin menaruh sepedanya kembali di garasi.

“Makasih juga tanaman hiasnya. Lucu-lucu tau,” balas Seungmin senang.

Setelah itu mereka berpisah.

Esoknya Hyeongjun tidak ke kebun dan kandang lagi. Dia bangun siang, melewatkan sarapan pagi bersama sang ayah. Terlalu siang bangun tapi ternyata hari ini ayahnya tidak pergi ke toko. Melainkan bermain catur bersama Seungmin di tempat biasa. Keduanya terlihat fokus, dan Hyeongjun yang menonton dari jendela kamar.

“Makin jago mainnya ini,” komentar Gunil yang dibalas tawa bangga dari Seungmin setelah dia menggerakan pionnya.

Tiba-tiba seseorang menghampiri mereka, Hyeongjun datang di tengah-tengah mereka, menaruh semangkok semangka dan stroberi yang sudah dia potong-potong. Kemudian duduk di sebelah sang ayah yang membelakanginya.

“Makasih, Inces,” ujar Gunil tersenyum bangga pada anaknya kemudian diikuti Seungmin yang mengucapkan hal sama tanpa akhiran.

Mereka pun melanjutkan permainan hingga berakhir kali ini Seungmin yang menang.

“Nah, sekarang lawan Inces. Yang menang nanti Ayah ajak jalan-jalan,” ujar Gunil memberi ide, membuat Hyeongjun yang semula sedang tiduran langsung bangun dan tangannya ditarik begitu saja untuk menggantikan posisi sang ayah.

“Apaan, Yah? Aku gak bisa,” tolak Hyeongjun tapi Gunil malah tersenyum lebar sambil mengambil mangkuk berisi buah yang baru dimakan sedikit, duduk di depan papan di sisi sebelah sambil bersandar pada pohon.

“Atau yang kalah harus nembak, nembak kan ya kalo ngajak pacaran?”

“Pak, kalo pacaran harus pendekatan dulu,” balas Seungmin malah meladeni.

Gunil mengangguk. “Ya udah, yang menang nanti ajak pendekatan.”

Hyeongjun kalau boleh mau membanting papan catur di depannya. Tapi itu sama saja mengundang emosi. Sementara itu Seungmin malah sudah mengatur pion-pion catur, secara halus mengajaknya untuk bermain.

Hasilnya Hyeongjun kalah.

“Tuhkan, aku udah lama gak main, Ayah.”

Gunil tertawa melihatnya, “kemarin-kemarin bukannya cemburu Ayah gak ngajak kamu main catur?”

Ketahuan juga. Hyeongjun yakin kalau Seungmin sudah tahu semua sisi yang selama ini dia sembunyikan dari siapapun terhadap ayahnya.

“Mau main lagi gak? Siapa tau menang abis ini,” ajak Seungmin seperti ingin menghiburnya.

Permainan kedua pun hasilnya sama.

“Pusing, ah kepala,” keluhnya setelah tiga kali berturut-turut kalah.

Mengundang tawa puas dari ayahnya yang mengejek sementara Seungmin hanya tersenyum.

Akibat dari kekalahan telaknya dalam catur, Hyeongjun mendapat tugas untuk menemani Seungmin selama dua minggu penuh. Tidak lain tidak bukan atas ide sang ayah karena berkata agar dia tidak bosan dan Seungmin tidak kesepian. Jadi setiap pagi setelah sarapan, mereka akan berjalan ke kebun kemudian naik sepeda ke kandang. Dua hari sekali setiap sore Hyeongjun menemani Seungmin untuk mencari rumput.

“Kenapa sapi-sapi lo ini gak dilepas aja? Biasanya juga gitu kok di sini,” jelas Hyeongjun sambil membawa karung terisi setengah, berbeda dengan Seungmin yang sanggup membawa dua di pundak.

“Kalo mereka kabur gimana?”

Hyeongjun merasa lucu mendengarnya. “Enggaklah. Kalo lo takut dicuri gak akan ada yang nyuri.”

Mereka menaruh karung-karung tersebut di dekat kandang.

“Hyeongjun,” panggil Seungmin, “aku takut gak bisa ngenalin sapi aku yang mana kalo mereka gabung sama punya orang lain.”

Saat itu juga tawa Hyeongjun pecah mendengarnya.

“Gimana, sih? Lo yang punya masa gak hafal?”

“Emang kamu bisa?”

Hyeongjun berhenti tertawa, “bisa aja tapi gue gak punya sapi jadi gak bisa bedain.”

“Ya udah, kamu kan dua minggu ini ngasih makan mereka terus, harusnya udah hafal jadi kalo dilepas bisa bedain, kan?”

Saat itu juga Hyeongjun menyesali tawanya yang mengejek.

“Oke, jadi mana?”

Memutuskan untuk melepas dulu satu dan tidak sengaja bertemu kawanan sapi lain yang sedang memakan rumput. Mereka melepasnya tadi pagi dan berniat menjemputnya di sore hari. Dan Hyeongjun merasa mencari orang baru tidak sesusah mencari sapi punya orang lain.

“Itu gak sih?” tunjuk Hyeongjun pada satu sapi yang makan menyendiri.

“Yakin itu?” tanya Seungmin ragu.

“Dia sendirian, tuh. Biasanya sapi suka gerombol.”

“Itu juga sendiri,” tunjuk Seungmin tidak jauh dari sapi yang mereka omongkan.

Dilihat lagi ukuran kedua sapi itu sama, warnanya juga mirip-mirip. Hyeongjun mulai cemas, bagaimana jika mereka tidak bisa membawa pulang sapi Seungmin yang pasti harganya lumayan. Uangnya menipis sekarang meski sebenarnya sang ayah bisa membayar.

“Itu, deh kayanya,” ujar Hyeongjun masih tertuju pada sapi pertama, “bersih itu, lo kan rajin ngerawat mereka.”

Dan ketika mereka putuskan untuk mendekati sapi yang Hyeongjun maksud, terlihat jinak dan menurut saat mereka tuntun untuk pulang. Walau sepanjang perjalan mereka berdua masih ragu apa ini benar sapi yang tadi pagi mereka lepas karena rasanya berbeda dengan yang tadi pagi.

“Tuh, bener. Dia aja peka langsung masuk kandang,” celetuk Hyeongjun melihat sapi yang mereka bawa masuk begitu saja.

“Ya sapi siapa aja dimasukin kandang nurut aja sih,” balas Seungmin sebetulnya masih ragu.

“Ah udah deh, kalo salah juga nanti yang punya nyariin! Udah ayo pulang.”

Seungmin langsung menatap sebelah tangannya yang ditarik oleh Hyeongjun, membawanya menuju sepeda yang sudah menunggu di dekat pohon bambu. Setiba mereka di sana, Hyeongjun melepas tangannya dan Seungmin masih terdiam merasakan sisa-sisa sentuhan Hyeongjun pada tangannya yang hangat.

“Ayo pulang, Min. Udah mau malem ini,” tutur Hyeongjun melihat Seungmin hanya terdiam.

Sejak hari itu, kedekatan mereka semakin terjalin. Meski sudah dua minggu berlalu, itu sudah menjadi rutinitas Hyeongjun untuk menemani Seungmin mengurus kebun dan ternaknya. Bahkan mereka sudah ke rumah satu sama lain untuk sekedar menghabiskan waktu bersama. Seperti membuat selai stroberi, membersihkan tanaman, atau sekedar bermain catur tanpa ditemani Gunil.

Seperti air yang terus mengalir ketika ada jalan, hubungan mereka seolah terus menemukan jalan. Seperti didukung oleh semesta dan jajarannya.

Mendapati anaknya mulai dekat dengan tetangga sebelah. Gunil merasa tugasnya sudah selesai, ternyata dia tidak perlu mengambil banyak peran. Sampai suatu sore, setelah selesai bermain catur bersama Seungmin, laki-laki itu mengatakan sesuatu padanya.

“Pacaran? Nikah aja sekalian mau gak? Umur segini masih pacaran aja.”

Gunil yang sedari awal sudah tahu arahnya kemana tapi dua insan itu saja yang masih bermain-main seperti layaknya kaula muda umur dua puluh awal. Seungmin diberi tahu begitu mengusap tengkuknya kikuk, salah tingkah, malu, dan tidak enak. Padahal dalam hatinya berteriak kencang mau.

“Emang... mau ya Hyeongjun-nya, Pak?”

Gunil menoleh ke belakang, ke arah jendela kamar Hyeongjun yang terbuka dan tepat sekali seseorang mengintip di sana dan langsung bersembunyi setelah bertatapan mata dengannya.

“Mau aja kayanya,” ucap Gunil santai, “tapi anak saya pengangguran. Pengangguran gitu kebutuhannya lumayan mahal, sanggup?”

“Ah....”

“Saya bercanda. Dia anaknya gak banyak minta kok tapi agak aneh aja,” lanjut Gunil sambil tertawa berkelakar.

Seungmin yang mendengar itu sebetulnya sedang berusaha menata hatinya yang sempat berantakan karena mendapat serangan lampu hijau.

Malam harinya, Hyeongjun langsung bertanya.

“Ayah bilang apa tadi sore?” tanyanya penasaran karena tidak mendengar semuanya.

Dia hanya tahu ayahnya sempat menyebut kata nikah.

Gunil membalas santai, “suruh Seungmin nikahin kamu aja,” kemudian melanjutkan, “Ayah capek kamu di sini setiap hari. Kalau nikah kan berarti kamu tinggalnya di sebelah, ke sininya sesekali aja.”

“Ayah gitu ngusir anaknya?!”

“Mau gak? Daripada pacar kamu yang kemarin-kemarin gak ngasih kepastian.”

Oh Hyeongjun hampir lupa, Gunil tahu cerita hubungan terakhirnya dan dia baru ingat lagi kalau dia memang sempat mengharapkan hubungan yang serius.

“Mau...,” ujarnya tiba-tiba, terdengar sedikit merengek dengan nada manja.

“Besok kita omongin langsung, ya,” balas Gunil yang diangguki anak semata wayangnya.

~