Actions

Work Header

This Isn't a Goodbye

Summary:

Singkat, namun berarti.

Pertemuan mereka memang diawali dari 'ketidaksengajaan.' tapi, tidak berarti perpisahan pun demikian.

Notes:

(See the end of the work for notes.)

Work Text:

Malam di Kastil Aberleen selalu terasa begitu mencekam. Suasana di sepanjang jalan diselimuti oleh hawa suram, belum lagi dengan gemuruh yang menggetarkan langit dan isinya. Awan gelap menggulung, turut serta membawa angin yang menyapu pelan dedaunan dan papan gantung di setiap bangunan.

Para penjaga berlalu lalang, berpatroli. Tak memperdulikan cuaca buruk di atas kepala mereka.

Dan di antara dua bangunan yang menghimpit gang kecil, terdapat dua pria yang mengendap-endap di balik bayangan. Bersembunyi dari pandangan dunia. Enggan menampakkan kehadiran mereka.

“Wilayah kekuasaanmu benar-benar terasa suram, Yang Mulia.” salah satu dari mereka mulai berbicara, memecah kesunyian yang sedari awal sudah menyelimuti di antara mereka.

Yang diajak berbicara melemparkan tatapan tajam, sebelum dirinya menghela napas. “Kamu adalah orang pertama yang berani mengatakan itu di hadapanku langsung, Natan,”

Natan—pria yang baru saja mengomentari Aamon tertawa lugas. “Ya, semoga ucapanku ini bisa menjadi pengingat untukmu, Yang Mulia.”

Aamon memutar bola matanya malas. “Oh, kamu dan mulut pedasmu itu.”

Natan, sekali lagi, hanya tertawa. Tawa beratnya menyapu indera pendengar Aamon, membuat sang Duke termangu sesaat. Selang beberapa saat setelah para penjaga berjalan menjauh, mereka lekas mencuri langkah keluar dari gang kecil tersebut.

Langkah demi langkah mereka ambil di atas jalanan berbatu marmer itu. Tak ada obrolan lebih lanjut, karena keduanya menikmati suasana seperti ini. Perlahan, awan yang menggulung pada kanvas gelap di atas memecahkan keributan yang dibuatnya; membawa serta air berjatuhan dan membasahi bumi.

“Oh, sial,” Aamon mengumpat, ia berhenti melangkah untuk menengok pada Natan, berusaha memastikan keadaan sang penjelajah waktu.

Natan mendongak, tak sadar dengan tatapan Aamon yang jatuh pada dirinya. Perhatiannya hanya tertuju pada langit gelap yang perlahan menjatuhkan buliran air. Tangan kanannya bergerak ke atas, berusaha menangkup air tersebut.

Lembut, tak menyakiti. Begitulah air hujan turun perlahan, membasahi kedua insan yang berusaha bersembunyi dari dunia.

“Natan,” Aamon memanggil, menyadarkan Natan dari lamunannya.

“Aah, maafkan aku,” sahut Natan, perhatiannya kembali pada sang Duke. “Di masa depan, aku tidak bisa menikmati saat-saat seperti ini. Jadi, rasanya sedikit spesial.” tatapannya menyendu begitu ia melontarkan kalimat terakhir.

Aamon tak mampu memberi balasan melalui kalimat, namun, ia melepas mantel bertudung miliknya. Yang selalu ia kenakan setiap kakinya melangkah keluar dari kastil. Yang selalu ia jaga dengan baik karena benda ini juga menjadi salah satu senjatanya—memberikan dirinya kemampuan untuk tidak terlihat. Lalu, dengan tidak berbicara, Aamon memberikan Natan mantel miliknya.

Natan mengernyit heran, jelas tak paham dengan tindakan Aamon yang begitu tiba-tiba.

Aamon menyadari bagaimana Natan keheranan, pun, ia berdeham. “Gunakan ini. Kita tidak ingin satu-satunya penyelamat masa depan kita ini jatuh sakit, ‘kan?”

Natan menatap mantel yang disodorkan padanya, lalu menatap Aamon. Masih keheranan. “Lalu bagaimana denganmu?”

Aamon mendengus, membalas, “Aku jarang jatuh sakit, jadi kamu tidak perlu memikirkan kondisiku.”

Mata Natan memicing curiga, sebelum akhirnya ia mengambil mantel tersebut. Mengenakannya tanpa berkomentar, pria yang juga menjadi pemimpin Eruditio di masa depan itu tersenyum kecil. “What a gentleman.”

“Shut up.”

.

.

.

Hujan yang semula turun malu-malu itu berubah menjadi badai. Mengguyur tanah dengan deru angin yang menggesek permukaan atap tanah liat dengan ribut. Aamon membawa Natan ke sebuah penginapan kecil di pojok pemukiman. Penginapan kecil yang tak memperdulikan siapa dan apa yang menginap di sana.

Koin emas yang dibawanya malam itu hanya cukup untuk menyewa satu kamar. Satu ranjang besar menanti, lengkap dengan kamar mandi di dalam. Walau dinding kayu dan furnitur yang menghiasi sudah reot, Aamon tetap tak bisa berharap banyak.

“Haah, tidur di penginapan seperti ini terasa jauh lebih baik ketimbang tidur di atas batang kayu Tuan Belerick,” Natan meregangkan tubuhnya yang terasa kaku. Mantel Aamon sudah kembali pada sang pemilik.

Aamon, yang masih berdiri di ambang pintu, ikut menyusul Natan yang sudah terlebih dahulu duduk di pinggiran kasur. Tidak seempuk kasur di kastil, tapi ini sudah lebih dari cukup.

Hening. Kesunyian merayap di antara mereka sekali lagi. Hanya ada suara hujan di luar yang menemani. Disertai suara angin yang berdesir riuh.

Hingga selang beberapa detik yang terasa menyiksa, keduanya akhirnya membuka suara, memanggil secara bersamaan.

“Yang Mulia.”

“Natan.”

Natan terkejut, begitu pula dengan Aamon. Lantas, Natan tertawa pelan. “Silakan, kamu duluan,” ujarnya.

Aamon menarik napas perlahan, lalu mengembuskan melalui mulut. Ia memutar tubuhnya. Kini, keduanya saling berhadapan. Aamon menghindari tatapan Natan. Tatapan yang membawanya tenggelam ke dalam lautan penuh tanda tanya. Tatapan yang membuat dirinya merasa… ragu.

“Setelah urusan adikku selesai,” Aamon memulai, menatap ke arah lentera di belakang Natan yang menyala. “apakah kamu benar-benar akan kembali ke masa depan?”

“Apa kamu berniat untuk menahanku di sini?” Natan menimpal tiba-tiba. Ekspresinya tenang, seolah pertanyaan yang barusan Aamon lontarkan tidak membuat jantungnya berdegup lebih kencang. Khawatir.

Aamon menunduk, kembali menghindar dari menatap sang penjelajah waktu di depannya. “Bukan… tidak seperti itu,” gumam Aamon, tak yakin dengan perasaannya sendiri.

Terdengar embusan napas berat dari Natan. Kedua tangannya terulur, menangkup wajah Aamon, membuat perhatian sang Duke jatuh padanya. “Yang Mulia, aku tidak ditakdirkan untuk hidup di sini,” tutur Natan, perlahan.

“Yang Mulia,” Natan memanggil, suara beratnya terdengar rendah. Sayup-sayup di antara ributnya hujan. “kamu, dan aku. Kita memiliki alur hidup masing-masing.”

Natan tak melanjutkan perkataannya. Ia hanya bergerak mendekat, menyatukan dahinya dengan dahi Aamon. Matanya terpejam, embusan napasnya menepuk pelan wajah sang Duke.

Aamon tak melawan, juga tak menaruh niat untuk melawan. Ia ikut memejamkan matanya. Tangan kanannya naik menggenggam pergelangan Natan, tidak mencengkeram, hanya berpegangan.

“Natan,” Aamon berbisik lirih, memanggil nama Natan dengan suara yang bahkan ia sendiri tidak tahu terdengar begitu rapuh. Tidak, setelah kematian kedua orang tuanya. Tidak, setelah ia tahu kesialan apa yang menimpa pada sang adik, Gusion.

“Aamon…” Natan membalas, ibu jarinya mengelus wajah Aamon perlahan. Mengungkapkan setiap rasa yang tak mampu diucapkan.

Selanjutnya, tak ada kata yang terucap di antara mereka. Hanya ada rasa hangat, cinta, dan rasa takut yang dibungkam paksa.

Malam itu mereka berbagi kehangatan, juga berbagi rasa sakit yang selama ini mereka sembunyikan.

Kadang kala, cinta tidak selalu berarti untuk memiliki. Karena bagi Aamon, cinta adalah apa yang sempat berlabuh, namun tak memiliki kesempatan untuk menetap.

.

.

.

Aamon bangun ketika waktu sudah berganti pagi. Hujan tak lagi mengguyur dan menabuh kaca jendela. Hanya ada sisa embun pagi yang menggantung di udara.

Kepalanya tertoleh ke arah kiri, mengharapkan Natan masih terbaring di sana. Namun harapannya pupus begitu kenyataan menyapa. Tak ada Natan. Tak ada satu barang pun yang ditinggalkan oleh sang penjelajah waktu.

Aamon terbangun dalam kesepian yang menusuk. Kedua tangannya mengusap kasar wajahnya. Sebuah tawa miris keluar. Terdengar pilu bagi siapa pun yang dapat mendengarkan.

Ia bangkit setelah beberapa saat tenggelam dalam lamunan. Tubuhnya telanjang, pakaiannya sudah lama berserakan di atas lantai. Aamon menghela napas dan lekas mengambil pakaiannya yang berhamburan.

Hingga dari sudut matanya, di atas nakas yang berada di ujung ruangan, Aamon mendapati sebuah kertas yang ditindih sebuah vas kecil.

Setelah berpakaian seadanya, Aamon lekas mengambil dan memeriksa kertas tersebut.

Matanya melebar sesaat setelah tahu apa isi dari kertas itu. Surat dari Natan, yang entah kapan pria itu tulis.

Dengan napas memburu Aamon segera membaca. Matanya bergulir perlahan di setiap baris. Ia berusaha menyerapi setiap torehan tinta Natan di atas kertas tua itu.

———

Untukmu, 1,300 tahun di masa lalu…

Yang Mulia, aku tidak tahu bagaimana caranya menuliskan surat perpisahan. Karena sejatinya aku sendiri tidak ingin berpisah.

Yang Mulia, aku ingin kamu mengetahui, bahwa aku menikmati di setiap waktu kita bisa bersama. Yaa, bahkan ketika kamu menendangku saat pertama kali kita bertemu. Atau ketika kamu mendorongku untuk menjauh. Aku tidak marah, aku memahami perasaanmu saat itu.

Yang Mulia, maafkan aku.

Maafkan aku karena sudah membuatmu mengenal diriku. Karena sudah membayangi hidupmu dengan janji palsu yang tak dapat aku tepati. Maafkan aku karena sudah membuatmu berharap. Bahkan kurasa, kalimat maaf yang ku tulis pun terasa tidak cukup, ya?

Jika kamu tahu, jika dunia tahu, aku sebenarnya egois. Aku menginginkan kehidupan tenang tanpa perang. Alasanku membuat mesin waktu adalah untuk memperbaiki masa lalu… atau setidaknya itulah yang ku pikirkan.

Bertemu denganmu mungkin adalah kesalahan terbesar dalam hidupku. Namun, aku tidak ingin menyesalinya. Juga tidak berharap kamu akan menyesal. Jika aku bisa, jika aku cukup kuat, mungkin aku akan menetap. Andai saja perasaan yang membuat kita tersiksa ini cukup untuk melawan takdir, tapi sayangnya tidak.

Yang Mulia, aku tahu ini konyol, tapi di kehidupan kita yang selanjutnya, ayo bertemu sekali lagi. Tidak sebagai Aamon Paxley yang menaruh beban keluarganya sendirian di bahunya. Tidak juga sebagai Natan yang perlu menyelamatkan dunia… masa depan. Tapi sebagai dua pasang jiwa yang bebas, yang menantikan satu sama lain.

Yang Mulia, aku akan selalu menemanimu di antara lautan bintang. Dan di setiap detik jam yang berdetak, itu adalah saat ketika aku masih mencintaimu.

Aamon Paxley, aku mencintaimu. Hari ini, esok, dan mungkin ketika hari di mana Abyss akhirnya berhenti melahap kebaikan, aku akan masih mencintaimu.

 

Hiduplah dengan cinta,
Dariku, 1,300 tahun di masa depan.

 

———

Notes:

sshhh, follow aku di wp @/lettelate

atau tiktok juga boleh @/cygnsss_