Work Text:
hidup di ibukota memang bukan untuk semua orang, apalagi untuk orang lemah yang tidak bisa tahan dengan panasnya matahari, polusi menumpuk di atmosfir, berdesakan di kereta ataupun terjebak di kemacetan jalan. charles menganggap dirinya begitu berani mengambil langkah itu, mengambil langkah untuk hidup di ibukota sebatang kara tanpa siapapun.
lagipula, kehidupan jadi orang dewasa itu tidak menyenangkan. kehidupannya seperti berada dalam lingkaran setan yang tidak pernah habis, mulai dari bangun tidur sampai bekerja tak kenal waktu dilakukan berulang-ulang sampai ajal menjemput.
charles benci momen ia duduk menunggu krl, ia harus berdesak-desakan dengan banyak kepala dan berbagai macam bau badannya belum lagi jika kedapatan seseorang yang mengesalkan, rasanya ingin hilang dari bumi detik itu juga.
kutukan entah datang dari tuhan agama mana sampai hidupnya seperti ini, umur 28, baru saja diterima kerja (lagi) di perusahaan kecil jauh dari rumah, tidak punya mobil mewah dan kekasih hatinya meninggalkan dirinya.
dadanya semakin sakit setiap mengingat hal tersebut, seperti ditumbuk oleh berbagai macam beban berat, kulitnya terkoyak. charles pernah berpikir, bahwa dunia akan luluh lantak saat carlos meninggalkannya, tetapi tidak, dunia berjalan sama. tidak berhenti sama sekali, bahkan tidak memberikan waktu kepada dirinya untuk menerima keadaan dan kenyataan.
charles juga pernah mimpi saat sang dambaan hati meninggalkannya, hal itu akan menjadi mimpi buruk, neraka, semua akan berteriak kepadanya karena tidak dapat mempertahankan carlos dan tidak. carlos meninggalkannya dengan rasa manis tertinggal di bibir dan memori-memori baik dalam apartemen yang sudah ditempati mereka selama 3 tahun.
lamunannya mulai masuk ke dalam masa-masa kelam itu. saat pertengkaran besar mulai dari hal-hal kecil yang tidak terduga.
"sayang, aku nggak bisa terus-terus begini." ucap carlos saat makan malam.
'begini' yang dimaksud carlos adalah dirinya yang tertutup, susah terbuka dan malas untuk menceritakan apa hal yang dialaminya, hal bahagia sekalipun.
charles tersentak sedikit mendengar kalimat tersebut, ia tahu malam buruk itu akan datang. malam buruk di mana carlos mulai lelah dengan dirinya, malam buruk di mana carlos sudah tidak kuat lagi menggenggam seluruh jari-jemarinya demi melawan dunia, malam buruk di mana carlos tidak lagi punya keberanian dan kemauan untuk mencintainya.
"aku sayang banget sama kamu, les. sayang banget, tapi kalau terus-terusan begini, aku nggak bisa." carlos menyudahi kegiatan makannya dan lebih memilih menatap charles tepat di bola mata warna hijau tersebut.
layaknya charles pada hari-hari biasanya, ia menghindar dan mengelak dari pembahasan tersebut, biasanya ia akan berpura-pura tak dengar ataupun membelokkan percakapan. hari ini berbeda, seperti dirinya terpaku dalam kursi.
charles menggelengkan kepalanya. "nanti aku nggak akan kayak gitu lagi." ujarnya pelan, tatapannya turun melihat piring putih berisikan setengah porsi ayam cabe hijau langganan.
helaan napas berat terdengar dari seberang, buat charles semakin takut.
"kamu sudah ngomong itu hampir lima ratus kali, charles. tapi nggak pernah kamu lakuin." tambah carlos, ia menarik kursi dan berdiri dari duduknya. kakinya dibawa pelan pada charles di hadapannya.
carlos bersimpuh di dekat charles, membawa tangannya untuk menyentuh tubuh charles dengan lemah lembut. "charles, sayang, boleh ke sini tatapannya?"
suara carlos yang seperti merintih memohon kepada charles, buat charles tak bisa lagi lari dari kenyataan. segenap berani ia kumpulkan dalam dada sebelum menatap sang kekasih hatinya.
charles berani menaruh pandangannya pada carlos yang sudah matanya sudah berkaca-kaca yang bisa kapan saja turun. hati charles semakin remuk, tak berbentuk, merasa sangat bersalah, menyayangkan bagaimana dirinya selalu bersikap selama ini.
padahal carlos selalu baik kepadanya, tak pernah lupa akan dirinya, hal-hal kecil seperti pergi lari keliling gor olahraga pasti pulangnya membawa risol mayo untuk charles. carlos yang selalu terbangun di saat dirinya pulang kerja lalu menyiapkan makanan ataupun carlos yang selalu mengerti dirinya padahal ia juga menyimpan luka.
charles pikir, carlos tak pernah lelah untuk memberikan dirinya kata-kata manis, carlos tak pernah lelah untuk memeluknya di saat dunia sedang tidak berpihak kepadanya, carlos pun tak pernah melepaskan genggamannya walau dunia membenci mereka. pikirannya salah besar.
carlos bukan superhero, carlos juga manusia sepertinya yang merasakan sakit dan marah, tapi ia terlalu baik.
tangan carlos dibawa untuk mengusap wajah charles, ia tersenyum. "this is my last question ever, bisa nggak, kamu jangan selalu lari dan menyendiri tiap ada masalah? you can lean on me, you can cry in front of me. kamu bisa teriak, kamu bisa lakuin apapun."
charles terdiam. bibirnya bergetar mendengar pertanyaan dari carlos.
"do you love me?" tanya carlos.
charles mengangguk, ia mencintai carlos sepenuh hatinya, seluruh hidupnya dan separuh nafasnya. matanya sudah siap menumpahkan air mata kapanpun itu.
"but if you can't lean on me, aku juga nggak ada alasan lagi buat bertahan sama kamu, charles." ujar carlos dengan tenang, tanpa meninggikan suara seperti seseorang yang memendam perasaannya dari lama.
dan dengan satu kalimat tersebut, charles menumpahkan tangisan hebatnya sampai-sampai carlos harus berdiri memeluknya. mungkin terlihat seperti kekanak-kanakan, dia yang membuat masalah, dia juga yang menangis.
terasa sangat lucu di kepalanya bahwa malam-malam buruk di belakang kepalanya kini terjadi. bahwasanya, carlos tidak lagi kuat menahan semua emosi yang dipendamnya.
tangan besar carlos mengusap rambutnya pelan, membiarkan dirinya menumpahkan tangisannya pada bahu yang biasanya ia abaikan untuk menangis, tetapi kali ini berbeda, mana mungkin ia berlari lagi. mana mungkin ia menolak untuk menangis. bahunya naik turun, napasnya susah, hidungnya merah, tapi charles belum bisa menuntaskan tangisannya.
carlos hanya diam, tidak berusaha menenangkannya juga, ia lebih memilih untuk charles merasakan dan menikmati semua emosinya.
charles tahu betul, bahwa cinta yang dirasakan carlos seharusnya tak begini, di saat ia sudah memberikan dirinya sepenuhnya pada charles, tetapi dirinya sering kali tertutup tentang perasaannya. ada malam-malam di mana carlos harus mengetuk pintu kamar berkali-kali dan memanggil namanya penuh khawatir, tetapi ia tidak menghiraukannya, lalu saat pagi bersikap seperti tidak ada apa-apa.
sehabis itu, charles tidak ingat lagi apa yang terjadi, mungkin dirinya pingsan, terkapar dan tak berdaya. tetapi, ia masih ingat bagaimana carlos menarik koper berisikan perlengkapan penting miliknya keluar dari apartemen itu, meninggalkan ciuman manis terakhir dan membisikkan kalimat, "aku sayang kamu," untuk terakhir kalinya.
hari-hari berikutnya, charles seperti hidup dalam neraka, tak ada lagi ketukan pintu saat ia menangis, tak ada lagi yang menyeduhkan teh melati saat pagi dan tak ada lagi senyuman carlos kepadanya setiap hari.
hidupnya berantakan, ia terpuruk, melahap semua perasaan sedih itu seperti dunia hanya berjalan pada hal berakhirnya hubungan mereka. ia tak lagi datang ke pekerjaannya, buat dirinya diberhentikan secara tak terhomat, mengangkat kaki dari apartemen bersamanya dengan carlos yang tak lagi ia sanggup untuk membayar harga sewanya.
pakaiannya tak lagi seharum saat dahulu bersama carlos, kamarnya juga tidak lagi sebersih dahulu bersama carlos. memang, memang hanya carlos yang ia punya di hidupnya ini untuk bertahan, tetapi tanpa sadar ia juga menarik diri dari carlos, tanpa sadar ia juga membuat carlos tersiksa.
layaknya cerita motivasi, hidup harus tetap berjalan, charles mulai mencari pekerjaan, ia tidak merasa harus hidup, seringkali ia berharap bahwa dirinya seharusnya mati, seharusnya tak lagi menghirup udara, menghabiskan jatah oksigen orang-orang yang lebih pantas untuk hidup.
ia pikir, nantinya ia mungkin mempunyai keberanian sebesar dunia untuk menghubungi carlos lagi dan berteriak lantang bahwa dirinya siap berubah 180 derajat dan tidak akan lari dari masalah ataupun mau menghargai keberadaan carlos seutuhnya sebagai pasangan yang bisa dibagikan kisah suka maupun duka.
nyatanya, saat ia kembali melihat nomor telepon carlos, nyalinya hanya sekecil biji jagung, percuma saja. ia bahkan tidak tega untuk menelpon carlos dan memberitahunya bahwa hidupnya tak lagi indah dan berwarna seperti dahulu.
yang kini ia bisa lakukan adalah membayangkan bagaimana jika ia tidak menyerah, bagaimana jika ia tidak dikuasai oleh rasa egois bahwa ia bisa menyelesaikan masalahnya sendiri dengan kakinya sendiri, padahal ia sudah memiliki pasangan yang siap mendengarkan dan turut menyelesaikan masalah tersebut.
mungkin jika dirinya tak menyerah dan belajar untuk membuka diri, sekarang di umur 28 ia mempunyai pasangan hidup yang memeluknya kala pulang kerja dan memasak bersama di akhir pekan, lalu berjalan kaki mengelilingi area komplek rumah bersama anjing pompom warna cokelat dan juga melihat cinta menyala layaknya api abadi yang tidak pernah mati. mungkin ia dan carlos nanti akan membangun rumah dengan 2 lantai—
"mas, saya boleh duduk di sini tidak? lagi hamil soalnya."
charles kembali dari angan-angannya, ketika seorang perempuan yang sedang hamil bertanya kepadanya. dengan tergesa ia berdiri agar tidak mendapat tatapan sinis dari orang lain karena membiarkan seorang perempuan berdiri di stasiun yang ramai.
charles menghela napasnya panjang dan lebih memilih untuk menatap gedung-gedung tinggi dari gerbong stasiun manggarai.
ah memang semua hanya bisa dibayangkan.
