Actions

Work Header

Rating:
Archive Warning:
Category:
Fandom:
Relationship:
Characters:
Additional Tags:
Language:
Bahasa Indonesia
Stats:
Published:
2025-06-27
Updated:
2025-06-27
Words:
1,418
Chapters:
1/4
Comments:
6
Kudos:
28
Hits:
482

The Downside of Being Tsundere

Summary:

With the constant teasing and unserious remarks, Jihoon thought there was no chance for his long-time crush to like him back. On the other hand, the quiet senior he met in the after-school club seems to take care of him more often until it doesn't feel subtle anymore.

So he moved on 🤷‍♂️ (or at least he tried).

Notes:

My first fic (in Ao3) wrote in Indonesian! Awalnya memang niatnya ditulis dalam bahasa Inggris, tapi aku rasa bakal lebih "ngena" kalau pakai Bahasa Indonesia aja.
Oh iya, di sini, selain Shinyu, semuanya seumuran yaa! Semoga tidak bingung <3 Selamat membaca, semoga suka.

(See the end of the work for more notes.)

Chapter Text

“Jihoon! Jangan lari di tangga, Nak!” Mama Han memperingati anak bungsunya, yang secara mengherankan punya energi terlalu banyak untuk jam setengah tujuh pagi di hari Senin. Yang dinasihati hanya bisa nyengir.

“Bentar lagi aku telat. Kalau Tuan Muda Aneh Jelek Menyebalkan Kim Dohoon itu datang dan aku belum siap, aku bisa jadi sate!!”

“Adek! Masa temennya dibilang jelek gitu sih? Awas naksir, lho.” Mamanya memperingatkan. Tak lama kemudian suara klakson motor terdengar dibunyikan dari luar.

“Emang udah naksir, kok!” jawab Jihoon lalu mencium pipi mamanya. “Aku sekolah dulu, bye!”

 

.

 

“Tumben udah siap? Biasanya aku masih harus tungguin kamu pakai sepatu,” ucap Dohoon sambil menyerahkan helm untuk dipakai Jihoon.

“Nanti kalau kita dihukum aja kamu ngomelin aku 3x24 jam” jawab Jihoon, yang kemudian membuat Dohoon terkekeh.

“Topi udah?” tanya Dohoon.

“Udah.”

“Dasi?” 

“Ini lho, aku udah pake! Kebiasaan deh gak merhatiin!” 

“Iya kan kamu gitu, suka kelupaan. Sarapan udah, kan?” tanya Dohoon skeptis. Ia sangat yakin setidaknya ada satu hal yang Jihoon akan lupakan sebelum upacara wajib setiap Senin.

“...Hehe, yang itu belum.” jawab Jihoon sambil nyengir.

“Jihoon..” hela Dohoon yang langsung dipotong Jihoon.

“Iya kan aku takut telat!! Udah ah jalan dulu, nanti aku jajan dulu, janji deh!” belanya.

“Engga usah, nanti makan roti ku aja. Aku udah tau kamu bakal bandel!”

 

.

 

Untungnya, sesi Upacara Bendera berjalan lancar tanpa terjadinya hal yang tidak Dohoon inginkan.

Misalnya, seperti Jihoon yang dihukum karena atribut kurang lengkap.

Atau Jihoon yang pingsan karena lupa sarapan.

Atau Jihoon yang ditegur OSIS karena terlalu berisik di barisan.

Sekarang mereka sedang menunggu untuk mata pelajaran Kimia, yang sebelumnya sudah diingatkan oleh Pak Kim bahwa ia akan telat sekitar 20 menit karena ada urusan dengan kepala sekolah. 

Beliau sudah berpesan agar anak-anak boleh duduk manis dan membaca buku, omong-omong. Tapi…

“Yah!! Gue udah bilang, lu jangan lewat dari batas penggaris ini!” protes Dohoon sambil mendorong barang kepunyaan deskmate nya dengan siku. 

 

Yang tidak perlu ditebak siapa. Sudah pasti Jihoon.

 

“Dohoon, apaan sih? Nitip sebentar, gue lagi nyari catatan Kyungmin yang gue pinjem kemarin!” jawab Jihoon dengan nada yang sama nyolotnya.

“Lagian ngapain sih nyari sekarang? Ketemu Kyungmin kan juga masih jam istirahat nanti! Geser ah, gue buang nih kotak pensil lu!” balas Dohoon.

“‘Kan mau gue salin sekarang!”

“Lah, lu minjem Jumat kemarin, baru mau disalin sekarang?” tanya Dohoon sambil mengernyit heran. “Oon lu!”

“SHUUUUUTTT!!” interupsi Youngjae yang duduk di depan mereka berdua. Ia berbalik menghadap ke belakang sambil mengerutkan keningnya. “Bisa gak sih, sehari aja, eh enggak, satu jam aja, gak usah berantem?!”

“Youngjaeeeee~~” ujar Jihoon sambil pouting dan nada sok imut - berniat mengadu. “Dohoon galak, sih, sama Jihoon. Marahin dong…”

“Gak mempan di gue hari ini, Hoon.” jawab Youngjae sambil menghela nafas. “Dohoon, lu jangan kasar gitu, Jihoon ‘kan sibuk lomba kemarin. Jihoon, lain kali kalau gak sempet nyalin catatan, difoto aja dulu. Udah ya, diem. Kalau berani ribut lagi, gue seret kalian berdua ke BK”

 

Untungnya, kalau Youngjae sudah bersabda, keduanya langsung nurut.

 

.

 

“Yoje, yuk!”

Bel istirahat sudah berbunyi. Kebetulan Dohoon dan Youngjae tergabung dalam OSIS, dan anak-anak OSIS sudah janjian untuk rapat sebentar di jam istirahat.

“Enggak makan dulu?” tanya Jihoon yang masih duduk di kursinya, menengadahkan kepalanya untuk menatap Dohoon yang sudah berdiri, bersiap untuk keluar dari ruang kelas.

“Takut telat.” jawab Dohoon. “Istirahat sama Kyungmin dulu, yaa…” lanjutnya sambil mengacak rambut Jihoon pelan, lalu langsung keluar dari kelas.

Yang rambutnya diacak-acak merasa hatinya ikut diacak-acak. 

 

.

 

Rapat yang seharusnya selesai dalam 10 menit ternyata meleset dari perkiraan. Saat Dohoon kembali ke kelas, ternyata jam istirahat hanya tersisa 2 menit. Ia pun segera kembali ke mejanya bersama Jihoon.

 

Yang ternyata sudah menyiapkan susu, onigiri, dan jajanan-jajanan tinggi gula di bagian meja Dohoon.

“Cepet makan dulu. Bagi sama Yoje kalau kebanyakan.” suruh Jihoon.

Dohoon pun tersenyum lebar dan mencubit pelan pipi Jihoon dengan gemas. “Baiknyaaa anak kecil ini yaa”

“Udah cepet ah!!” ujar Jihoon sambil menyingkirkan tangan Dohoon, yang sebenarnya berniat untuk menyembunyikan pipinya yang memerah. “Nanti keburu masuk gurunya!!”
“Iyaa, iya.. Makasih, ya!”

 

.

 

Setelah jam sekolah formal berakhir, Jihoon, Dohoon, dan Youngjae langsung melangkahkan diri ke ruang ekskul tari. Guru mereka berjanji untuk menraktir mereka frozen yogurt dan jajanan lain (yang super tinggi gula) hari ini karena kemenangan Jihoon dan Kyungmin, anak kelas sebelah, di perlombaan cover dance antar sekolah hari Sabtu kemarin. 

 

“Saya sudah putuskan,” ujar pelatih mereka, Pak Min, memulai pembicaraan. “Untuk pensi sekolah bulan depan, untuk cover dance , kita pakai formasi 6 orang saja, ya. Dohoon, Youngjae, Hanjin, Jihoon, Kyungmin. Junghwan ikut cover juga, ya. Untuk tari tradisional kita samakan dengan tim FLS2N kemarin, sisanya backup !” 

 

“Sehabis ini, tim cover dance boleh mulai hafalin koreo sendiri-sendiri dulu. Agak cepetan makannya.” titah sang pelatih, yang membuat anak-anak muridnya langsung mengerang dan protes.

 

“Ah, paakk” ujar Kyungmin. “”Kan saya sama Jihoon baru selesai lomba, Pak. Nggak boleh libur dulu nih, pak?” pintanya.

“Terus kalau libur latihan, berarti agenda hari ini makan dessert aja?” tanya Pak Min, yang langsung diangguki seluruh anggota.

“Enak aja!” tolaknya, yang langsung disoraki. “Lima menit lagi kita mulai, ya!”

 

.

 

Meskipun diawali dengan mengeluh, sesi latihan berjalan dengan lancar. Karena dance yang akan mereka cover adalah ide dari Jihoon, ia ditunjuk untuk menjadi choreography leader hari ini. 

 

And he nailed it well .

 

Sebagai ace dari ekskul tari, memang tidak mengherankan bahwa Jihoon akan menguasai koreo baru jauh lebih cepat dari teman-teman yang lain.

 

Seseorang tersenyum kecil sambil memperhatikan Jihoon. Sebagai anggota yang baru bergabung selama beberapa bulan, dia sangat terkesan dengan cara Jihoon menjelaskan gerakan-gerakan dengan gampang dan memudahkan mereka untuk mengikuti.

 

Yang tak orang ini sadari, kegiatannya memperhatikan Jihoon juga sedang diperhatikan oleh Dohoon dengan tatapan tajam. 

 

.



Tak lama kemudian, Pak Min mengizinkan mereka istirahat sebentar. Mereka pun langsung menepi ke pinggir untuk duduk, minum, dan mengatur nafas. Anak-anak tari tradisional sudah berpindah ke lapangan karena mereka perlu space yang lebih besar, sehingga di ruang latihan hanya tersisa mereka. Dohoon segera berjalan mendekati lokernya untuk mengambil botol minum.

 

Setelah selesai, dia berjalan mendekati Jihoon dan berniat untuk membagi air minumnya kepada temannya tersebut, sebelum…

 

“Hey, minum dulu, nih.” ujar seseorang sambil membukakan botol air minum kemasan kemudian menyerahkannya kepada Jihoon.

“Eh… Kak Junghwan?” tanya Jihoon, kaget. Junghwan tersenyum kemudian memberi sinyal dengan matanya agar Jihoon menerima air pemberiannya.

“Thank you, kak.” jawab Jihoon sambil tersenyum dan memperlihatkan eyesmile nya. “Tau aja aku lagi males jalan ke lokerku.” 

 

Mereka pun melanjutkan pembicaraan berdua, yang sebenarnya topiknya normal saja, mengingat mereka juga terpaut satu tahun dan belum terlalu dekat. 

 

Dohoon menatap interaksi mereka berdua dengan sinis. 

 

“Kayaknya bentar lagi ada yang sold out , nih,” Hanjin, yang belum sadar akan ekspresi gelap temannya pun seperti menambahkan api pada kekesalan Dohoon. Kerutan di dahinya semakin dalam.

 

“Cuma ngomong biasa, kok, itu. Lu kan juga tau, si Jihoon se ramah apa sama orang.” ujarnya ketus. 

 

Di sisi lain…

 

“Kamu bawa kendaraan sendiri atau diantar jemput, Hoon? Eh, kakak boleh panggil Hoon aja, kan?” tanya Junghwan dengan nada lembut.

“Eh, boleh, kak.” jawab Jihoon ramah. “Aku nebeng temen sih, kak.”

 

Dohoon yang diam-diam menguping mengernyit bingung, tidak mengerti arah pembicaraan Junghwan dan Jihoon. Namun ia masih mencoba yakin terhadap kepercayaannya, bahwa mereka berdua hanya sedang basa-basi.

 

“Kalau kakak anter pulang sore ini, mau nggak, Hoon?” 

 

That’s it.  

 

Dohoon rasa, ia harus segera menginterupsi sebelum hal yang tidak dia inginkan terjadi.

 

“Han Jihoon!” panggilnya sambil mendekati Jihoon dan merangkul bahunya. “Tadi Bunda nitip belanjaan, bantuin gue, ya. Banyak banget soalnya,” pintanya.

“Oh, iya?” tanya Jihoon bingung. “Sore ini gue sama Dohoon, deh, Kak Junghwan. Biasalah, anaknya emang gak bisa functioning tanpa gue.” ujarnya pada Junghwan yang kemudian diangguki oleh lawan bicaranya.

Dohoon hampir saja tersenyum puas sebelum kata-kata Junghwan kembali membuatnya terbakar.

 

“Kalau gitu, nanti malam kakak chat, ya. Mau minta tolong review freestyle dance yang kakak coba-coba kemarin.”

 

Sebelum Dohoon sempat memotong Junghwan dengan kata-kata ketus nya, Pak Min kembali ke ruangan dan meminta mereka untuk melanjutkan latihan sebentar sebelum diperbolehkan pulang.

 

.

 

“Kok belok kiri? Kita nggak jadi ke supermarket?” tanya Jihoon bingung. Ia dan Dohoon sudah berada di atas motor sekarang, latihan sudah selesai sejak 10 menit yang lalu. 

“Supermarket apa?” tanya Dohoon, lupa akan permintaannya (yang sebenarnya bohong) tadi.

“Ih, tadi katanya Bunda kamu nitip belanjaan!”
“Oh.. Oh!!” jawab Dohoon. “Emmm… itu… Oh, katanya Bunda udah dibeliin sama Abang!” lanjutnya sedikit keras, sambil berharap Jihoon menerima excuse nya yang jelek itu.

Jihoon yang dibonceng hanya mengangguk, kemudian melirik ke kiri kanan sambil menikmati pemandangan padat kota yang mulai dihiasi sinar oren khas sunset. Tanpa ia sadari, Dohoon memperhatikannya dari spion sambil tersenyum.

 

.



“Jajan cilok dulu sebelum ke rumah, mau nggak?” 

“MAAUUUU”

 

.

Notes:

How's chapter 1?
Btw, ini plot nya sudah selesai ditulis sampai ending. Kemungkinan juga selesai dengan total 3-4 chapters. Sampai ketemu di hari libur berikutnya untuk updatenya :)