Actions

Work Header

Rating:
Archive Warning:
Category:
Fandom:
Relationships:
Characters:
Additional Tags:
Language:
Bahasa Indonesia
Stats:
Published:
2025-06-27
Words:
737
Chapters:
1/1
Kudos:
1
Hits:
22

..Gandengan yuk!

Summary:

"Atta, kamu nggak biasa digandeng tangan ya?"

"Hah?! Nggak!"

Atta sama Don bertemu di bawah pohon rindang, di mana pikiran lewat Atta malah nampak menempel di kepalanya di saat Don di dekatnya.

Or: Atta sama Don ketemuan di tempat kece terus mereka berduaan terus huehehehe

Notes:

This is a rush as a result of a brain spill, do pardon my mistakes

(See the end of the work for more notes.)

Work Text:

Pulang dari warung, Atta kepikiran buat coba lewat jalan lain buat pulang. Pas naik becak sama abangnya beberapa hari lalu, dia nyadar kalo ada jalan rimbun nan cantik yang lewat rumah dia.

Pas dia nyampe di sana, iya, keindahan yang sesederhana cahaya siang yang menyempil di antara daun-daun, bisa membuat hati dia berseri-seri lagi. Ditambah angin yang bersepoi sopan menambah nuansa damai yang tak ia tahu bisa senikmat ini.

Sampai-sampai dia mau duduk di salah satu pohon yang rebah ditebang, sedikit peduli dengan celana yang bisa dia sikat lebih kuat nanti. Sembari tersenyum, dia mengayun-ayunkan kakinya seolah mengikuti irama daun yang berjatuhan.

Di saat-saat dia mengambang ke alam mimpi...

"Atta!"

E'eh!? Oh naon toh, si Don.

"Lagi ngapain di sini?" Don mendekat sambil melihat-lihat pemandangan di atasnya. Seketika dia langsung paham, meski masih menunggu jawaban.

"Ini, abis dari warung, nyantai bentar di sini, abis itu baru pulang."

"Ooh, bagus ya di sini pemandangannya." Diapun duduk di sebelah Atta, dengan plastik merah warung di antara keduanya.

Kini dengan Don di sebelahnya, Atta mulai berpikir, 'Berduaan begini, bakal gimana ya rasanya kalo sama cewek? Gapapa sih sama Don, tapi kira-kira aku kapan ya aku bisa kencan sama pacar?'

'Kencan itu ngapain sih?'

Sepengetahuan Atta, kencan itu jalan bareng sambil gandengan tangan, tiap kali ngobrol selalu senyum dan ketawa. Kalo makan sebelah-sebelahan. Terus suka saling ngasih surat sama puisi romantis---

Et tunggu, kalo Atta inget-inget lagi, kayaknya dia udah pernah deh kayak gitu, tapi ya, sama temennya, bukan pacar. 

Kebanyakan juga sama si Don dkk.

Mereka suka jalan-jalan bareng buat main sama pentas. Mereka makan bakal sebelah-sebelahan. Sering juga mereka saling ngasih contoh surat sama puisi buat tampilan pentas mereka nanti...

Ahahahaha, tawa Atta dalam hati. Lain nanti kalo Don jadi cewek. Eh tapi si Mae juga cewek kan? Kepikirannya si Don soalnya paling sering sama dia sih.

Berarti sisa gandengan tangan doang ya--

Tiba-tiba Atta tersigap, menjeda dirinya sebentar. Dia merasakan sesuatu yang aneh-- ...perasaannya? 

Rasanya asing, rasanya salah, tapi ada sedikit rasa manis?

Pas dia mikir mau gandengan tangan sama Don?

Kok bisa gitu sih!?--

"Atta!"

"Hah?! Kaget aku!"

"Eleh, bengong sih! Ini kamu udah mau pulang belom, aku juga mau balik soalnya."

"Oh, ooh." Attapun berdiri dari tempat duduknya. "Yaudah ayuk, dah lama juga di sini."

Jalan sejuk pun menjadi latar perjalanan pulang mereka berdua. Seingin apapun Atta memikirkan jentikan hati tadi, tapi ia merasa itu hanya akan memperparah keringatnya.

Sepanjang jalan, tak biasa, mereka malah tidak membicarakan apa-apa. Herannya itu juga tidak terasa aneh, alami malah.

Rasanya hati mereka sudah saling mencerminkan satu sama lain saat diselimuti keindahan dari satu sumber.

Semakin lama, jalan indah itupun menghilang dari pandangan, dan mereka lanjut berjalan, bersampingan dan hanya bertukar pandang.

 

Plak

"Ah! Atta?!"

Sedikit gesekan dari tangan Don membuat reflek Atta bereaksi instan. Tangan kirinya ia tepis dan satu kakinya sedikit lompat ke belakang. Don pun ikutan kaget.

"Oh! Maaf Atta, kebiasaan aku sama oma!" Don tertawa kecil, berharap bisa mencairkan suasana.

Atta langsung tersenyum, "Oh! Iya, ya, maaf aku kaget barusan." 

"Ahahaha, hahaahahaha!" 

 

"Kamu nggak biasa digandeng ya, Ta?"

"Hah?! Nggak!!"

"Ouh pantes tadi kamu kok kaget banget digandeng doang."

Atta kembali menepis, kali ini pernyataan Don, "Nggak, maksudnya aku sering kok digandeng sama abangku, cuman kan nggak biasa kalo sama temen!" 

Don hanya nyengir, "Oh iya iya, oke deh, sori hehe."

...Terus rasanya aku nggak berani gandeng tangan kamu.

 

"...Gandengan yuk!" Pinta Don.

"Hah?"

"Ya, kalo kamu nggak mau gapapa sih.. Cuman ya, aku sering liat yang lain --biasanya suka gandengan kalo jalan-jalan bareng." Bata-bata katanya benar-benar tidak menutupi apapun.

Jawaban awal Atta tetap ia tegasi, "Yaudah biarin, kita gausah ikut-ikutan." Eh, Atta pikir kayaknya ucapan tadi kesannya agak kasar.

"Iya, gapapa deh." Meski senyum, alis Don nampak sedikit memelas sambil kembali menatap ke depan.

Akh gawat masa Atta bikin temen dia sedih (lagi)

Meski sedikit terkejut, Don merasakan sebuah sentuhan yang dengan segera menghangatkan hatinya.

Telapak tangan Atta dan Don yang saling bertemuan. 

"Ya, maksudnya, kalo kamu mau kan juga gapapa, toh gak salah juga." Kata Atta dengan wajah senyum yang kita meyakinkan kawannya untuk menghiraukan kalimat sebelumnya.

Don bisa melihat usaha Atta dari ketar mulut, alis, dan keringatnya. Namun setelahnya pun, dia membalas dengan senyum dan tawa khasnya.

Dan Atta tak bisa membiarkan dirinya menatap terlalu lama.

Dari tangan sudah cukup, tidak usah ditambah dari mata.

Keduanya pun berjalan pulang sambil bergandengan tangan, dan tidak ada yang melepas sampai salah satu tiba di tujuan.

Notes:

Fun fact: this was made after i felt a little down for deleting one of my unpublished fics , and when i started going raw with this i didn't expected it would have this much fluff, i hope u guys enjoyed.

If any official would like for me to take this down, do let me know.