Actions

Work Header

Rating:
Archive Warning:
Category:
Fandom:
Relationship:
Characters:
Additional Tags:
Language:
Bahasa Indonesia
Stats:
Published:
2025-06-28
Words:
3,878
Chapters:
1/1
Comments:
2
Kudos:
17
Bookmarks:
1
Hits:
226

Pelangi Bulan Juni

Summary:

Nattakit hadir di hidup Chayanon dan seketika hidupnya terus dipenuhi oleh sosok indah itu. Meski sempat meragu, Chayanon berakhir dengan perasaan yang bersambut.

Notes:

This is my very first Thainex work please be kind to me (シ_ _)シ This work is highly inspired by Sapardi Djoko Damono’s poet "Hujan Bulan Juni" dan ditulis dalam rangka merayakan Pride Month serta ThaiNex di Paris Fashion Week.
Enjoy :D

(See the end of the work for more notes.)

Work Text:

Tak ada yang lebih tabah

Dari hujan bulan Juni

Dirahasiakannya rintik rindunya

Kepada pohon berbunga itu

 

Seumur hidupnya Chayanon hanya pernah mengasosiasikan kata cantik dengan perempuan.

Selalu seperti itu.

Hingga Nattakit ada.

 

Chayanon pertama dihantam perasaan tak terdeskripsi di tahun kedua sekolahnya ketika bersibobrok dengan tatapan bosan Nattakit, anak baru berkacamata yang kelewat tinggi dari teman-teman sebayanya sehingga harus berdiri di paling belakang dengan anak lain yang tak kalah tinggi.

Cantik , pikir Chayanon.

Padahal si anak baru sudah begitu lusuh karena seharian mengikuti kegiatan dari sekolah, tapi bisa-bisanya hal pertama yang muncul di kepala Chayanon adalah betapa indahnya sosok itu.

 

Sejak hari itu, entah bagaimana caranya, Chayanon selalu saja bisa menyadari presensi Nattakit di tiap sudut sekolah.

 

Nattakit yang berjalan di gerbang sekolah seraya menutupi mulutnya yang menguap lebar. Cantik.

Nattakit yang tengah berpikir keras memilih antara membeli cilok atau cilung, padahal keduanya sama-sama olahan tepung kanji yang hanya berbeda cara sajinya. Cantik.

Nattakit yang penuh peluh karena berlarian di lapangan untuk mengejar bola basket dengan teman sekelasnya. Cantik .

Nattakit yang serius membaca buku di sudut taman yang jarang dilalui murid-murid. Cantik .

Nattakit yang memojok di belakang rombongan temannya di tongkrongan karena kehabisan energi untuk bersosialisasi. Cantik .

 

Dan momen lainnya yang sudah tak bisa Chayanon hitung dengan jari jemarinya.

 

Tak ada orang yang tak menikmati hal-hal yang indah. Begitu pun dengan Chayanon. Nattakit tak pernah tak jadi indah di matanya.

Mudah bagi Chayanon untuk merangkul perasaan yang merasukinya tiap kali menyaksikan kecantikan Nattakit.

Tapi Chayanon juga tau, tidak semua orang akan memahami keindahan Nattakit dan caranya memuja hal itu. 

Tidak dengan masih tertanamnya misogini dan maskulinitas beracun di sekitarnya. Bahwa adjektiva yang biasa digunakan untuk menjelaskan perempuan, akan jadi merendahkan ketika disematkan pada pria.

 

Padahal Nattakit begitu indah.

 

Tiap kali netra Chayanon menangkap Nattakit, dirinya selalu berharap bisa menjadi pujangga yang dapat menjelaskan keindahan Nattakit. Pujangga dengan tulisan yang mampu membawa Nattakit terhanyut dalam untaian kalimat puja dan dambanya, seperti pada bacaan kesukaan yang lebih muda itu. (Chayanon sempat sibuk berkeliling di perpustakaan sekolah untuk menemukan buku-buku dengan sampul yang sama dengan yang pernah dilihatnya di pangkuan Nattakit)

 

Untuk saat ini, biarlah Chayanon cukup berteriak “ cantik” di dalam kepalanya tiap kali Nattakit terlihat.



Tak ada yang lebih bijak

Dari hujan bulan juni

Dihapusnya jejak-jejak kakinya

Yang ragu-ragu di jalan itu



Chayanon tak kaget melihat sosok Nattakit di sisi Pak Yong, guru pembina tim debat sekolah, di kumpul sore itu. 

Nattakit selalu menjadi salah satu sosok yang paling blak-blakan menyatakan ketidakminatannya dengan kegiatan Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah hingga ditandai oleh beberapa teman Chayanon yang menjadi panitia. Nattakit berani menyatakan pendapatnya dengan lantang dan lugas, tanpa ada rasa takut terhadap senior yang memiliki kuasa lebih di atasnya.

 

Mungkin karena itu Chayanon semakin ditarik oleh pesona Nattakit.

 

Chayanon tak berharap banyak dengan keberadaan Nattakit. Ia hanya bersyukur bisa memandang Nattakit sedikit lebih lama dari hari-hari biasanya.

Mana Chayanon tahu kalau berdebat dengan Nattakit akan menjadi hal yang paling ia sukai selain kegiatan menatap Nattakit dari jauh. Bukan hanya berdebat dalam rangka melatih kemampuan mereka untuk lomba suatu hari nanti, melainkan juga debat remeh seperti bubur diaduk atau tidak, apakah mint choco itu rasa pasta gigi, atau tentang durian yang digadang sebagai buah terenak sedunia.

 

Chayanon semakin jatuh pada Nattakit setiap harinya. Ia terus menantikan adu mulut dengan Nattakit lewat tingkah polahnya. Penghuni di sekolah juga kini hapal suara teriakan Nattakit tiap Chayanon kembali “mengganggu” yang lebih muda.

 

Satu sekolah akhirnya bisa melihat Chayanon dan Nattakit berdebat serius ketika bulan bahasa tiba. Kedua adam yang sudah jelas adalah anggota tim debat sekolah langsung dipercaya oleh masing-masing kelasnya untuk membawa kemenangan. Kepercayaan itu pun berakhir baik ketika mereka berhadapan di final. Sayang tak ada euforia di diri Chayanon ketika hanya selangkah lagi kelasnya bisa meraih gelar juara.

 

Sudah beberapa hari kepala Chayanon penuh sejak membaca daftar topik debat untuk mempersiapkan diri sebelum hari H. Pikirannya terus terpaku pada satu kata yang menjadi topik lomba di babak final. 

LGBT

Chayanon tahu ajang seperti ini tak selalu menggambarkan pendapat asli dari pesertanya. Bahkan ia sudah beberapa kali harus menyampaikan argumen yang bertentangan dengan pandangannya sendiri. Tapi untuk yang satu ini, Chayanon tak yakin apa dirinya punya hati untuk berdiri pada posisi yang berlawanan dengan identitas yang diakuinya dalam diam.

 

Semoga pro. Semoga pro. Semoga pro.

 

Chayanon tak pernah memohon seperti ini di lomba-lomba lain sebelumnya. Jadi untuk kali ini, dia berharap dengan rendah hati agar Yang Maha Kuasa mau mengabulkan keinginannya. Padahal lomba kali ini bukanlah lomba resmi yang akan menyokong daftar riwayat hidupnya. Tapi pintanya seperti ia butuh bantuan di lomba debat dunia saja. Maka ketika pembawa acara mengumumkan bahwa kelasnya menjadi tim Pro, tanpa sadar Chayanon mengepalkan tangannya. Selebrasi kecil atas terkabulnya keinginannya.

Yang Chayanon lupakan adalah ia akan berhadapan dengan argumen berlawanan keluar dari bibir Nattakit. Lagi, Chayanon sadar kalau saat itu ia berada di tengah perlombaan. Tapi apa ada yang bisa menjamin bahwa segala ucapan yang Nattakit sampaikan bukan berasal dari hati yang lebih muda. 

Nattakit begitu lihai menyanggah dan menjelaskan opininya yang kontradiktif dengan opini Chayanon terkait keberadaan orang-orang dengan orientasi seksual dan identitas gender yang terus menjadi perdebatan di masyarakat. Bukan salah Chayanon jika ia menangkapnya sebagai serangan terhadap dirinya sendiri yang juga bagian dari orang-orang itu. Bukan juga salah Nattakit yang menangkap celah dari tutur pendapat Chayanon hingga berhasil meraih kemenangan dari kompetisi hari itu.

 

Sisa hari itu Chayanon lalui dengan kepala penuh asumsi liar terkait Nattakit. Apa lomba tadi merupakan pertanda bagi Chayanon untuk melupakan perasaannya pada si jelita. Apa Nattakit akan membencinya jika tahu bagaimana cara Chayanon memandang sosok yang lebih muda selama ini. Apa Chayanon sedang mengalami patah hati pertamanya.

Dan masih banyak pertanyaan negatif lainnya berputar di kepala Chayanon hingga dingin terasa di pipinya dan membangunkannya dari lamunannya. Ia menoleh dan menemukan si cantik yang memenuhi kepalanya duduk di sisinya sambil menempelkan minuman isotonik ke pipi Chayanon. 

Tak ada respon berapi-api dari Chayanon yang biasanya pasti sudah ia berikan jika Nattakit melakukan hal yang sama di hari kemarin. Tak terusik dengan hal itu, Nattakit kemudian membuka minuman dingin yang dibawanya dan menyodorkannya ke hadapan wajah yang lebih tua.

Chayanon memandang Nattakit bingung. Sedangkan yang dipandangi semakin mendekatkan minuman dipegangannya hingga tepat mengenai bibir Chayanon, yang kemudian menengadahkan kepalanya agar lebih mudah meneguk cairan elektrolit tersebut. 

Setelah perlombaan debat, Chayanon ditarik Jinwook, teman ekstrakurikuler futsalnya, untuk bermain di lapangan. Menghibur dirinya dari kekalahan kompetisi debat, ujar si keturunan Korea Selatan itu. Tapi yang dihibur justru terus menerus mengacaukan permainan sehingga harus digantikan orang lain dan kini hanya bisa terduduk begitu saja di pinggir lapangan.

 

Sampai Nattakit muncul.

 

“Segitu kecewanya lu kalah lawan gue?” 

Suara Nattakit memecah keheningan yang jarang ada di antara mereka.

Chayanon tak menyahut dan kembali memandangi teman-temannya yang memperebutkan bola sepak di lapangan.

“Lu jelas banget tau tadi. Se- pengen itu jadi tim pro. Sampai dikomen Pak Yong gara-gara lu biasanya nggak gitu,” tutur Nattakit.

“Gue sih nggak tau ya lu biasanya gimana kalau di perlombaan beneran. Tapi selama ini kalau kita latihan, lu nggak pernah segitunya mau di tim tertentu dah. Makanya gue langsung ngeh ,” lanjut Nattakit lagi.

Chayanon hanya menanggapi dengan helaan napas berat.

 

“Gue…Gue gay Nat.”

 

Hening lagi-lagi menyelimuti kedua anak Adam itu.

 

“Terus?” timpal Nattakit yang tak diduga Chayanon.

 

“Ya karena gue gay makanya gue gamau jadi tim kontra dari diri gue sendiri, Nat,” balas Chayanon, kini memutar seluruh badannya untuk menghadap Nattakit.

 

Kali ini Nattakit yang terdiam lama sebelum kembali membuka tutup botol minum isotonik yang tadi ia sodorkan pada Chayanon. Yang lebih tua refleks menahan tangan Nattakit sebelum bibir si cantik berhasil menyentuh tepian botol. Nattakit menatap Chayanon heran karena tindakannya.

“Bekas gue itu Nat!” sergah Chayanon.

“Terus?”

Chayanon mengacak rambutnya sendiri frustasi dengan tangannya yang bebas.

“Lu nggak ada jawaban lain apa?” sahut Chayanon dengan nada agak tinggi.

Nattakit menjawab dengan seringai kecil. 

“Nah ini baru Chayanon yang gue kenal. Nggak cocok lu sok diem kayak tadi,” seloroh Nattakit sebelum meneguk botol isotonik dengan lengan yang masih ditahan sebelah tangan Chayanon. “Terus, ini minuman kan gue yang beli. Terserah gue lah kalau mau minum walau bekas dikasih siapa kek ,” lanjutnya.

“Hhh… Serah dah.” Chayanon melepas genggamannya pada lengan Nattakit kemudian merebahkan seluruh badannya ke atas rerumputan di pinggir lapangan dan menumpukan kepalanya pada kedua lengannya. Ia menyerah untuk menyaksikan pertandingan futsal teman-temannya yang sejak tadi tak begitu diperhatikannya. Nattakit terkekeh melihat tingkah Chayanon, lalu ikut merebahkan badan di sebelahnya. Chayanon bisa merasakan suhu adem dari lengan Nattakit yang bersinggungan dengan lengannya.

“Soal lu tadi,” ucap Nattakit pelan.

“Hmm?”

“Najis, sok ganteng lu ‘ ham-hem-ham-hem ’?”

“Bacot banget anjir. Buru, lu mau ngomong apaan?”

Nattakit terkekeh lagi sebelum melanjutkan perkataannya tadi.

“Soal lu yang gay dan gamau jadi tim kontra terhadap diri lu sendiri.”

“Iya, kenapa?”

Nattakit memejamkan matanya karena terik matahari menjelang siang yang menyilaukan.

“Terus gue apaan dong ya?” gumam Nattakit memelan.

Chayanon menoleh ke arah Nattakit heran. “Gimana?” tanyanya.

“Ya, gue yang juga suka cowok tapi gak masalah di tim kontra, mana menang lagi. Gue apaan dong?”

Chayanon tertegun mendengar pengakuan Nattakit.

Si cantiknya sama seperti dirinya.

Dan sejak tadi dia sudah menilai Nattakit dengan buruk.

 

Apa bedanya dirinya dengan orang-orang homofobik yang menilai buruk sesamanya hanya karena orientasi seksual mereka. Chayanon juga menilai Nattakit buruk hanya karena argumennya di perlombaan kecil.

 

“Gue jujur agak kepikiran di awal. Tapi gue inget lu yang suka bilang nggak boleh nilai diri peserta lomba debat cuma berdasarkan argumen mereka pas debat. Karena mereka nggak selalu setuju sama apa yang mereka ucapin,” papar Nattakit.

“Gue inget lu yang selalu aktif ngatain pemerintah di media sosial tapi ternyata juara 1 lomba debat di tim pro pemerintah. Gara-gara lu, gue pikir nggak masalah kalau gue yang bagian dari community ini dapet tim kontra dari identitas gue sendiri,” lanjutnya.

“Jadi yang bener gue harus gimana?” tanya Nattakit sembari menatap Chayanon dalam.

Lagi-lagi keheningan menyelimuti mereka.

“Menurut gue, kita gaada yang salah Nat,” tukas Chayanon. “Mungkin kita sama-sama gay ya. Tapi, kita kan tetep orang yang berbeda dengan pola pikir yang berbeda. Nggak ada manusia yang sama Nat.” jelas Chayanon

“Gue ngotot kepengen tim pro karena gue pikir gue sebagai bagian dari komunitas ini bisa ngejelasin dengan lebih baik hal yang gue tahu dengan baik. Tapi gue lupa kalau ini lomba debat, dan bukan ajang pidato. Gue juga nggak jadi objektif dan kebawa perasaan gue sendiri. Dan lu bisa manfaatin hal itu.”

“Lu yang somehow inget kata-kata gue, dimana lu juga bagian dari LGBTQ, sama kayak gue, mampu ngeluarin argumen yang bertentangan sama diri lu sendiri. Gue juga yakin lu jadi lebih objektif ketika nyusun argumen lu ya karena lu sama pahamnya sama gue tentang topik ini. Karena ini hal sensitif banget buat kita. Makasih udah ngingetin gue sama kata-kata gue sendiri.”

“Gue minta maaf karena tadi gue sempet mikir kalau lu homofobik cuma karena lu yang tim kontra bisa menang dari gue. Setelah gue inget lagi, lu nggak pernah sekalipun nyebut argumen yang ngejelekin dan ngejatuhin our community . Lu bener-bener respectful selama sesi penyampaian lu. Lu deserve kemenangan lu .

Chayanon menepuk-nepuk rambut Nattakit dan mengelusnya pelan. 

Good job, Nat. Congrats , ya,” kata Chayanon lembut.

Nattakit refleks duduk dengan terburu dan memegang kepalanya yang barusan disentuh Chayanon.

Th..thanks . Umm… Gue nanti tampil musikalisasi puisi bareng Phu. Tonton ya?” ucap Nattakit dengan lirih.

“Oke,” sahut Chayanon.

“Oke,” balas Nattakit lagi. “Oke, gue balik kalau gitu. Udah ya,” pamit Nattakit dan bangkit dengan tergesa lalu berlari kecil.

Chayanon terkekeh kecil melihat tingkah Nattakit itu sebelum ujung matanya menangkap botol minuman isotonik yang dibawa Nattakit tadi.

“Nat, minum lu!” teriak Chayanon.

“Buat lu!” balas Nattakit sambil melambaikan tangannya tanpa menengok ke arah Chayanon duduk tadi.

 

 

Tak ada yang lebih arif

Dari hujan bulan Juni

Dibiarkannya yang tak terucapkan

Diserap akar pohon bunga itu

 

Chayanon duduk di barisan paling depan dari beberapa siswa lain yang juga ingin menonton lomba terakhir pada perayaan bulan bahasa kali ini. Musikalisasi puisi. Tak lupa ia seret Jinwook untuk menemaninya setelah mereka selesai futsal tadi. Di genggamannya ada botol minuman isotonik pemberian Nattakit yang sudah tak sedingin saat ditempelkan ke pipinya.

Random banget lu mau nontonin musikalisasi, Thai,” kata Jinwook tiba-tiba setelah penampilan kelas mereka selesai dan berdiri dari duduknya.

“Mau kemana lu?” balas Chayanon sambil mendongak menatap Jinwook. Ia tak mengindahkan ucapan Jinwook sebelumnya.

“Ya balik,” ucap Jinwook dengan nada tak yakin. “Kan kelas kita udah perform. Ngapain lagi lu?” lanjutnya.

“Nat,” jawab Chayanon sekenanya.

Jinwook memutar bola matanya malas dan kembali duduk di sebelah Chayanon. “ Figured ,” sahutnya lalu memainkan ponselnya tanpa memedulikan Chayanon lagi.

Sebenarnya tanpa disuruh oleh Nattakit pun Chayanon akan menonton penampilannya dengan senang hati. Phutatchai sudah sering mengoceh mengenai betapa ketatnya penilaian Nattakit terhadap aransemen musikalisasi puisi yang akan mereka tampilkan. Sebenarnya tak ada aturan yang terlalu rumit mengenai lomba ini karena bulan bahasa tahun ini adalah pertama kalinya diadakan lomba musikalisasi puisi. Para pesertanya dibebaskan menampilkan puisi buatan sendiri atau orang lain, bisa juga menampilkan lagu yang sudah beredar luas di masyarakat asal sesuai dengan tema, “Cinta”.

Nattakit si gila puisi ditambah sifat perfeksionisnya adalah kombinasi mematikan bagi Phutatchai. Ia terpaksa menemani Nattakit di lomba ini karena ia satu-satunya siswa di kelasnya yang bisa memainkan alat musik, padahal niatnya ingin jadi tim hore saja. Tapi akhirnya mereka bisa bekerja sama untuk menyusun penampilan yang sama-sama mereka sukai.

Chayanon sempat mengumpati Phutatchai karena si adik kelas tak mau memberikan spoiler penampilan mereka padanya. Bahkan sebatas puisi apa yang akan ditampilkan mereka saja Phutatchai tutup mulutnya rapat-rapat. Tak mau mengambil risiko diamuk oleh Nattakit.

Tuts pertama keyboard milik sekolah ditekan oleh Phutatchai di atas panggung setelah nama kelasnya dipanggil dan Chayanon langsung paham kenapa Nattakit begitu puas dengan aransemen musikalisasinya.

Nattakit berdiri tegap di tengah panggung dengan mikrofon di genggamannya. Mungkin orang lain tak akan menyadari, tapi bola mata Nattakit bergulir dengan cepat untuk memindai seluruh penonton di depannya dan langsung terhenti ketika bersibobrok dengan netra milik Chayanon. Lalu bait pertama dilantunkan oleh Nattakit tanpa melepaskan tatapannya dari Chayanon.

 

Aku ingin mencintaimu dengan sederhana:

 

Panggil Chayanon delusional, tapi entah kenapa ia merasa kalau kalimat barusan ditujukan padanya.

 

dengan kata yang tak sempat diucapkan

kayu kepada api yang menjadikannya abu

 

Sedetik Nattakit memejamkan matanya lalu kembali melihat ke arah Chayanon dengan lembut lalu melantunkan bait selanjutnya

 

Aku ingin mencintaimu dengan sederhana:

 

Lagi, Chayanon kembali merasa seakan Nattakit berbicara kepadanya.

 

dengan isyarat yang tak sempat disampaikan 

awan kepada hujan yang menjadikannya tiada

 

Belum selesai Chayanon terpana akan penampilan Nattakit, rintik hujan turun membasahi lapangan tempat panggung perlombaan berdiri. Murid-murid berlarian mencari tempat berteduh, termasuk Jinwook yang sudah mau menarik Chayanon menjauh.

 

Langit seakan menjadi figuran tak berbayar dari puisi selanjutnya yang akan Nattakit alunkan. 

 

Tak ada yang lebih tabah

Dari hujan bulan Juni

Dirahasiakannya rintik rindunya

Kepada pohon berbunga itu

 

Tak ada yang lebih bijak

Dari hujan bulan juni

Dihapusnya jejak-jejak kakinya

Yang ragu-ragu di jalan itu

 

Tak ada yang lebih arif

Dari hujan bulan Juni

Dibiarkannya yang tak terucapkan

Diserap akar pohon bunga itu

 

Hujan turun semakin lebat dan Chayanon masih tegap terduduk di depan panggung dengan keadaan basah sendirian. Jinwook sudah tak peduli dan meninggalkannya begitu saja. 

Nattakit terlihat seperti makhluk dunia lain yang tengah memanggil hujan ke bumi. Bulan ini bukan bulan Juni, tapi hujan di bulan Oktober ini–yang memang seharusnya adalah musim penghujan– terasa begitu magis bagi Chayanon.

Dengan perginya para murid lain yang tadi memenuhi lapangan, Nattakit kini benar-benar hanya berfokus pada satu-satunya sosok yang bertahan di bawah hujan. Ia kembali melantunkan puisi pertama yang dibawakannya di awal. Kali ini bukan dengan menyanyikannya, melainkan membacakannya seperti pembacaan puisi pada umumnya.

 

Aku ingin mencintaimu dengan sederhana:

dengan kata yang tak sempat diucapkan

kayu kepada api yang menjadikannya abu

 

Aku ingin mencintaimu dengan sederhana:

dengan isyarat yang tak sempat disampaikan 

awan kepada hujan yang menjadikannya tiada

 

Nattakit dan Phutatchai menutup penampilan mereka dengan membungkuk bersamaan menghadap depan panggung–yang hanya ada sosok kebasahan Chayanon. Lalu, seakan Nattakit yang tadi dirasuki pembaca puisi yang hanya fokus pada penampilannya tanpa memedulikan hal lain, Nattakit yang sudah selesai tampil kemudian dengan panik terburu-buru berlari kecil menghampiri Chayanon yang masih tersihir magis penampilannya dan membawanya pergi dari sentuhan titik air hujan.

“Kenapa nggak neduh sih?!” gerutu Nattakit sambil mengusak rambut basah Chayanon. Nattakit menyeret yang lebih tua ke kelasnya dan mendudukkannya paksa di kursinya untuk mengambil handuk kecil yang biasa Chayanon bawa karena hobinya bermain futsal setiap hari di sekolah. Beruntung handuk itu masih bersih karena Chayanon yang tidak serius bermain futsal tadi.

“Lu… Lu keren banget Nat,” ucap Chayanon sambil menatap Nattakit lekat-lekat. Kepalanya mendongak untuk bisa bertemu pandang dengan Nattakit yang berdiri di hadapannya.

Nattakit menghentikan pergerakannya dan menutupi pandangan Chayanon dengan handuk di pegangannya. “ Thanks ,” cicitnya. Ia melepaskan pegangannya pada handuk di kepala Chayanon dan beringsut duduk menyamping di atas meja di hadapan Chayanon.

Hari ini bisa dikatakan hari bersejarah dimana Chayanon dan Nattakit terus diiringi keheningan. Tapi hening di antara mereka adalah hening yang menenangkan. Ditambah suasana hari yang sejuk karena hujan yang masih belum juga reda. Nattakit memejamkan matanya menikmati situasi saat itu.

“Jujur…” 

Suara Chayanon memecah keheningan di antara mereka.

“Gue nggak begitu paham puisi dan kerumitan bahasa yang biasa dipake di dalamnya. Tapi yang tadi itu…”

Chayanon menggantung ucapannya. Ragu dengan apa yang akan disampaikannya pada si jelita.

Emang kurang jelas ya?” tanya Nattakit pelan. Kepalanya menunduk menatap kedua kakinya yang ia goyangkan bergantian.

“Apanya?” tanya Chayanon balik.

Bibir Nattakit maju beberapa senti karena ketidakpekaan yang lebih tua. Chayanon mendengus geli melihat tingkah Nattakit. Gemas , pikirnya. Sebaliknya, Nattakit menghela napas berat sebelum menoleh, menghadap Chayanon.

“Gue suka sama lu,” aku Nattakit. “Puisi barusan, itu buat lu,” lanjutnya.

Nattakit gigit pelan pipi bagian dalamnya seraya mengumpulkan lebih banyak lagi keberaniannya.

“Lu gimana?” todongnya pada Chayanon. Menyerah menggunakan sindiran halus atau kode lainnya pada Chayanon. Orang ini harus dihadapi dengan kalimat yang jelas sejelas-jelasnya, batin Nattakit.

“Gimana apanya?” tanya Chayanon balik, lagi.

Nattakit membelalakkan matanya tak percaya dengan respon Chayanon barusan. Ia tiup poni yang mulai menutupi matanya dengan penuh emosi. Baru saja ia mau memperjelas ucapannya lagi, tiba-tiba Chayanon tertawa terbahak-bahak hingga matanya tak terlihat saking puasnya tergelak.

Sorry, sorry . Gue nggak sebego itu kok Nat. Tapi gue cuma suka aja sama reaksi lu setiap kali gue isengin. Ya… Kayak barusan ini,” papar Chayanon.

Nattakit membuang mukanya kesal. Sadar kalau yang muda tak menyukai tingkahnya barusan, Chayanon memutar badan Nattakit hingga menghadap dirinya. Meski begitu Nattakit masih kekeh memalingkan wajahnya dari pandangan Chayanon. Yang lebih tua akhirnya menjulurkan kedua lengannya lalu menangkup wajah Nattakit, menuntunnya untuk kembali menatap Chayanon. 

“Maaf ya, hm?” pinta Chayanon. Ibu jarinya mengelus kedua pipi Nattakit pelan, bentuk bujuk rayunya untuk meruntuhkan kekesalan si cantik.

“Anjing lu. Gue lagi serius tau,” ucap Nattakit sebal. Jemarinya sibuk memilin ujung kemeja seragamnya yang mendadak tampak lebih menarik daripada pemuda di hadapannya. “Setengah mati gue ngumpulin keberanian buat ngomong gitu ke elu.”

“Iyaa, tauu. Gue juga setengah mati nahan grogi ini Nat. Maaf ya kalau insting bertahan hidup gue bentukannya ngisengin lu. Maaf ya? Ya?” balas Chayanon sambil menggoyangkan kepala Nattakit gemas.

Nattakit hanya berdeham pelan. “Grogi dari mana coba. Ini aja masih bisa lu megang-megang muka gue,” sahutnya.

“Nat, ini tangan kalau di lepas dari muka lu tuh gemeter sumpah. Nih liatin ya,” ucap Chayanon. Tangannya ia lepaskan dari pipi milik Nattakit dan menunjukkan bahwa perkataannya barusan tak bohong. Tak begitu ketara jika tak diperhatikan baik-baik, tapi memang kedua tangan Chayanon gemetar pelan di depan wajah Nattakit. Yang lebih muda justru khawatir melihatnya dan meraih kedua pergelangan tangan Chayanon.

“Ini mah lu kedinginan anjir,” serunya sambil menghembuskan napasnya ke telapak tangan Chayanon yang terlihat memutih. Ia gosok-gosok kedua tangan itu lalu menghembuskan napasnya lagi. Terus Nattakit ulangi tanpa sadar dengan wajah Chayanon yang memerah karena tindakannya. 

“Lu bawa jaket kan? Ganti baju dulu deh. Di uks kayaknya banyak seragam nggak kepake juga buat ganti celana lu.” Nattakit hendak beranjak dari duduknya, tapi Chayanon balik menggenggam pergelangan tangan Nattakit dan menahannya. Ia sandarkan kepalanya tanpa izin ke pangkuan Nattakit agar yang lebih muda tak pergi dari sana.

“Nanti aja,” dengung Chayanon. 

“Entar sakit heh,” sahut Nattakit sambil menepuk kepala Chayanon pelan. Tangannya lalu perlahan beralih mengelus surai yang masih sedikit lembap itu.

“Biar nggak usah masuk sekolah,” balas Chayanon yang menikmati sentuhan ringan di kepalanya sambil memejamkan matanya.

Nattakit mencibir mendengar jawaban Chayanon dan menepuk kepalanya pelan sekali lagi.

“Nat.”

“Hm?”

“Ih sok ganteng.”

“Emang ganteng.”

“... Iya lagi.”

Nattakit terkekeh kecil karena percakapan mereka barusan.

“Nat,” panggil Chayanon lagi.

“Apa?”

“Gue juga suka sama lu,” gumam Chayanon. “Tapi kalau kita jadian sekarang, kecepetan nggak sih?” lanjutnya.

Well… Nggak masalah sih gue. Nggak ada yang buru-buruin kita juga kok,” sahut Nattakit. “ We could get to know each other on a deeper level since we already know that our feelings are reciprocated ,” terusnya.

Okay ,” gumam Chayanon lagi.

Okay !” sahut Nattakit. “Sekarang,” ucap Nattakit sambil mengangkat kepala Chayanon dari pangkuannya, “lu ganti baju dulu. Ini udah mulai anget badannya.”

 

***

 

Juni tahun selanjutnya

 

Hari itu sekolah lebih ramai dari biasanya, tapi Chayanon dan Nattakit tetap bisa menemukan satu sama lain di antara puluhan manusia yang berada di sana. 

Tanpa perlu mengucap kata, keduanya melangkah dengan ringan ke sudut taman tempat Nattakit biasa menyendiri membaca buku-buku puisinya. 

Sudut itu kini sudah menjadi sudut mereka berdua, karena Nattakit tak lagi sendiri ketika membaca berlembar-lembar sajak di pangkuannya.

 

Hari itu dunia dibasahi oleh tangisan langit. Chayanon segera teringat puisi yang pernah Nattakit lantunkan sebelumnya. Teringat saat dirinya akhirnya demam karena menikmati puisi “Hujan Bulan Juni” yang dinyanyikan di bawah hujan. Sekarang bulan Juni dan sedang hujan. Jadi Chayanon pikir saat itu adalah hari yang tepat untuk berbicara pada Nattakit

 

Hari itu orang-orang sibuk memikirkan hasil pembelajaran mereka selama setahun di sekolah, sementara Chayanon sibuk memikirkan bagaimana harus mengeluarkan isi kepalanya pada si cantik yang telah membuatnya jatuh hati.

Sayang, si cantik tampaknya lagi-lagi mendahului kakak kelasnya itu dalam hal keberanian. Karena ia kini sudah menyodorkan sebuah buku berwarna hijau dengan ilustrasi abstrak dan tulisan judul besar-besar di bawahnya.

“Mau nggak jadi judul buku kumpulan puisi ini?” ucapnya.

Chayanon bisa lihat kegugupan di mata pemuda yang biasanya penuh percaya diri itu. Jadi ia urungkan kebiasaannya mengganggu si cantik untuk melihat respon merajuknya, dan memilih untuk meraih buku itu dan mengangguk kecil. 

Menyetujui permintaan yang hanya bisa seorang Nattakit lontarkan.

Kekasihku , begitu tajuk buku pemberian Nattakit.

Dan Chayanon menyetujui menjadi kekasih Nattakit.

 

***

 

“Oh, by the way itu kumpulan puisi hubungan ibu sama anaknya. Don’t expect anything romantic there .”

“Terus kenapa dikasih ke gue?”

“Biar bisa nembak lu kayak barusan. Kalau lu mau dapat puisi romantis, just ask , I’ll write you everyday. Just like this one .”

Dua sejoli yang baru saja menyematkan status baru pada hubungan mereka berjalan menjauh dari papan mading sekolah setelah memasang satu puisi baru tulisan Nattakit.

 

_______________________________________________________________

 

Pelangi Bulan Juni

 

Sapardi pernah berkata

‘Tak ada yang lebih tabah

Dari hujan bulan Juni”

 

Pikir ku tidak

Ku tahu hal yang tak kalah

Suatu yang kuat hati

 

Kawan yang hidup gentar

Hari-hari diikuti gelisah

Sembunyi dalam lemari

 

Khawatir diperlela

Atau terima sumpah serapah

Temui sulit bertubi-tubi  

 

Meski begitu, mereka kuat

Tak mudah menyerah

Begitu ku kagumi

 

Suatu hari mereka cipta

Pengingat perjuangan tanpa menyerah

Pelangi bulan Juni

 

Semarak bulan bangga

Kala orang tumpah ruah

Rayakan diri sendiri

 

Bangga ‘tuk melela

Melepas seluruh resah

Tak lagi di lemari

 

Memang tak semua

Di dunia penuh bedebah

Bisa ikut bersuka hati

 

Kukirim peluk erat

Semoga temui cerah

Dari Pelangi di bulan Juni

Notes:

Rather than the story, i am more worried about the poem. Ini pertama kalinya aku nulis puisi. I hope i could write something better than this. But anyway, happy pride month everyone :D