Actions

Work Header

Rating:
Archive Warning:
Category:
Fandom:
Relationship:
Characters:
Additional Tags:
Language:
Bahasa Indonesia
Stats:
Published:
2025-06-29
Words:
1,311
Chapters:
1/1
Kudos:
4
Hits:
56

hermione's confession

Summary:

Berisi pengakuan Hermione tentang perasaannya terhadap Ron Weasley.

Work Text:

Hermione menyukai Ron Weasley. Bukan sebagai sahabat. Hanya itu kesimpulan yang bisa dia tarik dari reaksinya belakangan ini. Rasa-rasanya setiap hal kecil yang dilakukan, bahkan dikatakan lelaki itu mampu menggetarkan sesuatu di hatinya. Rasa-rasanya setiap kali Hermione berusaha menentang getar itu, mengubur, terkadang mengabaikannya, dia akan muncul berulang-ulang kali lagi.

Sejak kapan perasaan ini muncul? Untuk itu, Hermione kurang tahu. Dia dan Ron sudah saling kenal sejak lama, sejak semester pertama di kelas 7. Masih segar di ingatannya rumus Matematika keliru yang Ron tulis dan bagaimana Hermione mengoreksinya dengan nada ‘agak’ sok tahu. Saat itu, jangankan suka, berkawan pun tak mau. Ron tak tampak seperti lelaki yang mampu mengimpresinya: dia tak cerdas, kekanak-kanakan, kasar, impulsif, bukan gentleman pokoknya.

Akan tetapi—entahlah—mungkin benar kata orang bahwa hidup tak pernah tertebak, selalu penuh dengan kejutan. Ujung-ujungnya Hermione dan Ron berkawan, lebih dari itu bahkan, mereka bersahabat. Bertiga bersama Harry. Hermione sudah lupa bagaimana detailnya. Yang pasti, semuanya berawal dari pesta perayaan halloween pada kelas tujuh. Tiba-tiba saja, secara kebetulan, Ron dan Harry berpapasan dengan Hermione yang sedang menyendiri di lapangan. Mereka bertukar tatap dan berbisik entah apa sebelum menghampirinya, mengajaknya bicara.

Awalnya, Harry yang banyak memimpin percakapan, Hermione hanya menjawab pasif dan Ron sesekali menyeletuk. Namun, seiring detik berubah jadi menit dan menit berkumpul jadi jam, semakin lancar mereka bercerita dan bertukar informasi tentang masing-masing. Saat itu, pendapat Hermione tentang Ron yang terbentuk kira-kira dua bulan silam bergeser sedikit: Ron adalah orang yang lucu, memang tidak piawai dalam pelajaran tapi cerdas saat melempar candaan. Meski kekanak-kanakan dan ‘sedikit’ kasar, Ron enak diajak bicara. Dia mendengar dengan saksama cerita darinya dan Harry, lalu memberi balasan terbaik. Sebagian besar sukses mengocok perut.

Sejak malam itu, Hermione, Ron, dan Harry menjadi sangat dekat. Mereka duduk berdekatan di kelas. Selalu bertemu di kantin saat jam istirahat. Beberapa kali bermain atau hang out bareng. Meski Hermione mulai memiliki kawan lain—yang omong-omong adalah perempuan, spesifiknya adik perempuan Ron—tetap tak ada yang menandingi keakrabannya dengan Ron dan Harry.

Lalu tiba-tiba saja, seiring berjalannya waktu, perasaan ini muncul. Mungkin tak se-tiba-tiba itu juga. Mungkin perasaan ini adalah kulminasi dari momen-momen kecil sebelumnya, momen-momen yang hanya memunculkan getar sesaat. Getar yang masih bisa ditentang, masih bisa dikubur.

Momen seperti ... saat dia, Ron, dan Harry janjian untuk hang out bersama di salah satu mall. Karena ada urusan mendadak, Harry memutuskan untuk pulang lebih awal. Akibatnya, Hermione dan Ron memiliki sisa waktu kurang lebih satu jam untuk mengelilingi mall itu. Berdua. Sebetulnya, baik Ron maupun Hermione bisa langsung pulang saja. Hermione bisa memesan taksi online dan Ron, dia bisa mengendarai motor sendiri. Akan tetapi, di antara mereka, tak ada yang mengutarakan ide itu.

Seusai Harry pergi, Ron malah langsung mengajaknya menuju toko buku. Toko buku. Seorang Ron Weasley yang alergi membaca (selalu menghindari kegiatan membaca, kecuali jika terpaksa) ngide mencari hiburan di toko buku. Tawarannya membingungkan Hermione.

“Hah? Yakin kau? Bukannya kau tak bisa baca?”

“Orang bisa berubah, Hermione.”

Hening sejenak. Untuk beberapa detik, Hermione mencerna ajakan Ron, sebelum mengiyakannya.

Selama di toko buku, Ron mengintil Hermione seperti anak kecil mengintil ibunya. Dia akan berpura-pura membaca buku dari rak yang sama dengan buku yang diambil Hermione, lalu berceloteh asal tentang isinya.

“Hebat sekali siapapun yang menulis buku ini. Mampu mendokumentasi sejarah seperti punya mesin waktu.”

Hermione terkekeh pelan sebelum membalas, “Memang ada segelintir orang yang dilahirkan untuk itu.”

Sesekali, Hermione mendapati pandangan Ron jatuh ke arahnya. Ini membuat otaknya macet, tak mampu mengolah isi dari buku di genggamannya. Rasa ini asing sekali, Hermione tak merasa seperti dirinya. Dia jarang sekali tak fokus saat membaca. Pernah pun karena hal buruk menimpa, sehingga atensinya terbelah.

Kali ini, rasanya, bukan hal buruk yang memecah atensinya. Kepalanya tak terasa berat. Hatinya pun tak gelisah. Dia tak tahu nama dari getar yang kini membungkus hati dan mengaburkan fokusnya. Tak tahu nama dari hangat yang kini menjalar di sekujur tubuh. Yang jelas, pemecah atensi kali ini jauh berbeda dari biasa.

Lalu, sebelum mereka pergi, Ron bersikeras membelikan Hermione buku yang tadi dia baca. Tak ada gunanya menolak kala Ron sudah bergegas menuju kasir sambil membawa satu kopi buku tanpa mengindahkan sedikit pun bantahannya.

“Ron, sumpah, kau tak perlu.”

“Tak apa, Hermione. Harganya tak mahal juga, kok.”

“Tak usah, sumpah, Ron—”

Lelaki itu cepat sekali berlalu mendahuluinya.

Tak sampai di situ saja, saat tiba waktunya untuk pulang, Ron menawarkan boncengan untuk Hermione. Dan karena lidahnya sudah kelu untuk menolak, dia pun mengiyakan saja.

Byee! Hati-hati, Hermione!” ucap Ron seusai menurunkan Hermione pada gedung apartemennya.

“Iya, kau juga!”

Di unit apartemennya, Hermione membuka bungkus buku yang dibelikan Ron. Dia berusaha membaca isinya, tetapi kepalanya tak bisa fokus. Setiap kalimat mengembalikan ingatan tentang kejadian di mall tadi, dari toko buku sampai mereka pulang .... Buku itu membawa balik getar di hati dan hangat di sekujur tubuh yang memecah atensi. Momen pada hari itu meninggalkan jejak yang—singkatnya—baru, aneh, dan asing pada Hermione. Walau Hermione tak bisa jamin bahwa hari itu adalah kali pertama rasa ini datang.

Lalu lucunya, setelah hari itu, Ron jadi sering mengajak Hermione keluar dengan motor miliknya. Berdua. Kadang-kadang, dia membawanya makan bakso di tengah kota—bakso terenak di wilayah itu kata Ron, atau soto yang letaknya dekat dengan rumahnya, atau sate di tepi jalan, atau nasi padang di kedai makan tradisional. Dan lelaki itu tak pernah absen menawarkan untuk membayar semuanya. Hermione selalu menolak, tentu saja. Terkadang, lelaki itu menuruti keinginannya, tapi tak jarang pula dia tetap membayarkan.

Selain mengajak makan, Ron pun kerap membawanya ke taman kota. Hanya untuk berjalan santai sambil menikmati jajanan dan bercengkrama berdua. Terkadang untuk menaiki sepeda atau scooter yang disewakan. Di beberapa kesempatan, mereka juga menonton film—atas rekomendasi Hermione—di bioskop dan mengunjungi pasar malam musiman.

Pertemuan-pertemuan yang semakin sering ini membuat Hermione terbiasa, bahkan nyaman dengan getar di hatinya dan hangat di sekujur tubuhnya—rasa yang awalnya dianggap baru, aneh, dan asing. Rasa yang muncul setiap pandangan Ron jatuh ke arahnya. Yang terbit setiap jari-jari mereka terkait. Serta menguasainya setiap mereka berdua menghabiskan waktu bersama. Rasa yang mengantar Hermione pada kesimpulan ini. Bahwa dia tertarik pada Ron Weasley.

Momen di mall waktu itu mungkin memang mengawali hubungan intim mereka, tetapi jelas, ketertarikan Hermione terhadap Ron muncul sebelum itu. Pendapatnya tentang Ron sudah berubah drastis dari enam tahun lalu sejak entahlah kapan. Dia masih orang yang sangat lucu, tapi tak kekanak-kanakkan lagi. Ron adalah orang dengan hati yang besar, sangat peduli—tampak dari bagaimana lelaki itu mengingatkannya untuk selalu mengutamakan kesehatan, tak belajar berlebihan. Dan ketika Hermione jatuh sakit, Ron—kadang bersama Harry atau kawan Hermione yang lain—tak pernah absen menjenguknya.

Ron juga berani dan protektif. Sudah sering sekali dia membela Hermione saat direndahkan oleh anak kota rasis. Atau saat dikatai sok tahu oleh guru “gila hormat” seperti Pak Snape. Bukan berarti Hermione tak bisa membela diri sendiri, tapi melihat Ron melakukan itu selalu ... menarik.

Terus—tak perlu disangkal lagi—menurut Hermione, Ron cakep. Terutama sejak remaja. Dia tinggi sekali. Punya mata yang indah. Senyum yang lembut. Bintik merah menawan di sepanjang pipinya. Tangan dan genggaman yang hangat. Hermione bisa lama-lama memandang wajah Ron dan tak bosan-bosan.

Hidup memang lucu. Kadang, takdir memang main-main. Bisa-bisanya lelaki yang dulu jauh sekali—bertolak belakang bahkan—dengan tipe ideal Hermione, justru menjadi lelaki pertama yang mampu mengimpresinya. Tak masuk akal, tetapi begitu realitanya.

Hubungan antara dirinya dan Ron ini tidak bernama—belum. Dan sejauh ini, Hermione tidak masalah. Mereka tak perlu terburu-buru, masih ada satu-dua tahun lagi sebelum lulus. Tak apa untuk berdiri sesaat di garis tipis antara sahabat dan sesuatu yang lebih.

Orang lain mungkin melabel ini sebuah hubungan tanpa status (yang tak sepenuhnya tak disetujui Hermione), tetapi dia tak suka dengan istilah itu, maka tak akan digunakan untuk mendeskripsikan hubungan dia dan Ron. Tidak ketika Hermione sendiri sudah yakin dengan perasaannya.

Besar harapan Hermione agar perasaan ini tak pudar, serangkaian momen ini tak hilang, dan Ron Weasley tak berubah.