Work Text:
“Mydei.”
Langkah kakinya terhenti, tubuhnya mendadak kaku saat sepasang matanya menangkap sosok berambut pirang kemerahan itu terjatuh tepat di hadapannya. “MYDEI!” Ia berbalik dan memacu langkah kakinya untuk mengapai sosok tersebut dan meraih tubuhnya, namun sepasang mata sewarna langit itu kembali terbelalak saat dilihatnya sebuah luka yang terbuka lebar di punggung sosok tersebut.
Kenapa? Bagaimana bisa? Tepat di titik lemahnya. Bagaimana ia bisa tahu?
Phainon mengalihkan pandangan ke depan, pada sosok berjubah hitam yang berdiri angkuh tidak jauh dari sana. Ditangannya terdapat sebuah pedang berlumuran daras emas, darah milik Mydei, darah milik kekasihnya. Phainon merasakan amarah mulai menjalari hatinya. Mati. Pencuri api harus mati. Ia memanggil pedangnya dan bersiap menyerang, namun gerakannya dihentikan oleh suara Mydei.
“Phai... non...? Penyelamat... kenapa kau... masih berada... disini?”
“MYDEI! MYDEI BERTAHANLAH, AKU MOHON!”
“Kau... belum jawab pertanyaanku. Ah sudahlah-” Mydei memutus kalimatnya, napasnya terasa berat. “Phainon... pergilah dari sini. Aku mohon.”
Phainon menggeleng, matanya kini berkaca-kaca. “TIDAK! Tidak mungkin aku meninggalkanmu sendirian disini.” Ia mengusap wajah Mydei dengan lembut, menyingkirkan helai-helai rambut yang menutupi wajahnya.
“Phainon... dengarkan aku!” Mydei menghentikan tangan Phainon, lalu menggenggam tangan itu erat. “Aku... sudah tahu... siapa sosok dibalik... pencuri api itu.” Phainon terdiam, sementara Mydei kembali mengatur napas, berusaha mempertahankan kesadarannya sedikit lebih lama lagi.
“Siapa... siapa dia sebenarnya?”
Mydei tidak menjawab, hanya menatap lurus ke arah Phainon. Tatapan itu, apa artinya? Seperti ada sesuatu yang Mydei sembunyikan darinya, tapi apa? Phainon kembali tersadar saat dirasanya cengkeraman Mydei di tangannya mengendur. “Mydei?”
Lelaki itu hanya menggeleng lemah. “Tidak perlu... kamu pikirkan.” Phainon tidak suka mendengar nada suara itu, kenapa suara Mydei terdengar semakin melemah. Tidak. Tidak mungkin, tidak mungkin Mydei menyerah secepat ini.
Melihat Phainon yang tidak bereaksi dan justru terlihat sibuk dengan pikirannya sendiri, Mydei menghela napasnya pelan. Ia menarik kerah baju Phainon dan membawa lelaki itu dalam sebuah ciuman lembut. “Tolonglah Phainon... aku... tidak punya banyak waktu lagi.” Phainon merasakan tubuhnya gemetar hebat dengan air mata yang semakin deras mengalir di pipinya, ia menarik tubuh Mydei dan mendekapnya erat. “Tidak... Mydei, jangan berkata seperti itu.” Mydei menggeleng, sebelah tangannya mengusap punggung Phainon, mencoba menenangkannya. “Aku bahkan belum memberimu bunga lagi sejak kamu pergi ke Kremnos.”
“Heh, disaat seperti ini kamu malah memikirkan hal seperti itu?” Ia tertawa pelan, matanya menatap lurus pada sepasang mata milik Phainon. “Dengar, aku... sangat menyukai... semua bunga yang kamu berikan padaku. Tapi... ada yang lebih penting... untuk saat ini, Phainon.” Helaan napasnya semakin berat, Mydei menyandarkan kepalanya di leher Phainon. “Masih ada... yang harus kamu lakukan... Tugasmu, selesaikan apa yang sudah menjadi jalan hidupmu.”
“Mydei, tolong jangan tinggalkan aku.”
“Aku yakin... kamu bisa, Phainon. Kamu bisa... menyelamatkan Amphoreus... menempa kembali... dunia yang sudah hancur ini.” Phainon mengeratkan pelukannya, ia menggeleng kuat. “Lalu... satu hal yang terpenting... berbahagialah, Phainon... sayangku... kamu sudah terlalu banyak melewati kesedihan... jadi kumohon setelah ini kamu harus bahagia.”
“Tidak, bagaimana mungkin aku bisa bahagia kalau tidak ada kamu.”
“Haahh, ketahuilah... bahwa sesungguhnya... aku tidak peduli... dengan dunia ini... mau rusak atau hancur sekalipun... aku hanya... memedulikan dirimu... jadi aku mohon... apapun yang terjadi... kamu harus bahagia... kalo boleh... aku minta... tolong jangan lupakan aku ya.” Suaranya semakin melemah, bahkan napasnya kini kian berat. “Selamat tinggal, Phainon... semoga di kehidupan yang selanjutnya... jalinan takdir kita masih dapat saling bertemu.”
Hening.
Hanya suara isakan tangis yang terdengar begitu menyayat hati, menggema di tengah dunia yang nyaris hancur itu.
-o-o-o-
“Dei~”
Sebuah suara riang menyapa indera pendengarannya, Mydeimos yang awalnya tengah beristirahat di pinggiran kota langsung menoleh ke arah sumber suara itu berasal. “Heh, memangnya ini sudah waktunya bagimu untuk mengganggu-“ ucapannya terhenti saat setangkai bunga berwarna merah disodorkan tepat di depan wajahnya. “Lagi?” Ia menghela napas. “Kau kira aku ini seorang gadis, heh?” Meski begitu ia tetap menerima setangkai mawar merah yang disodorkan padanya itu.
“Hm, memangnya hanya gadis yang boleh menerima bunga?” Sosok yang memberinya mawar itu, Phainon, terkekeh pelan. Ia menunduk, sebelah tangannya terulur berusaha merapikan rambut Mydei yang sedikit berantakan ditiup angin. Setelah puas, ia kembali berdiri tegak dan langsung berbalik pergi.
“Heh, mau ke mana? Siapa yang izinkan kamu seenaknya datang dan pergi begitu?” Langkah kaki Phainon terhenti, ia berbalik dan tersenyum lebar, membuat Mydei hanya dapat memandangnya dengan malas. “Maaf Yang Mulia, tapi guru Tribbie memintaku untuk menemaninya ke Janusopolis.” Phainon kembali menghampirinya, ia menarik tangan Mydei dan mencium punggung tangannya dengan lembut.
“Tunggu aku ya, tidak akan lama kok. Aku pastikan dua hari lagi akan kembali ke hadapanmu.”
“HKS”
Mydei menarik tangannya dan memukul kepala Phainon pelan. “Hati-hati, jangan sampai kamu jadi makanan gelombang hitam.”
Phainon kembali tersenyum. “Tenang saja, aku akan kembali dengan selamat. Jadi kamu tidak perlu khawatir,” ujarnya riang. Ia mendaratkan kecupan singkat di pipi Mydei, sebelum langsung berlari pergi, menghindari pukulan yang mungkin akan dilayangkan kembali oleh sang putra mahkota Castrum Kremnos.
...
“Lama sekali.”
Sosok yang baru tiba itu berusaha mengatur ritme napasnya yang berantakan sehabis berlari dari Marmoreal Market hingga ke pinggiran kota tempat Mydei menunggunya. “Maaf Dei, tadi ada sedikit kekacauan di pasar. Jadi aku harus membantu mereka dulu.”
“Kekacauan apa? Bukan kerabat titan kan? Ada yang terluka?” ujarnya sambil menarik tubuh Phainon mendekat, berusaha mengecek kondisi tubuh pria itu
“Bukan, hanya pertengkaran antar pedagang saja kok dan aku tidak apa-apa,” ujarnya sambil tersenyum lebar yang tanpa sadar membuat lawan bicaranya juga menghela napas lega. “Tapi, maaf Dei... bunga untukmu jatuh saat kekacauan itu dan rusak.”
“Masih saja-... Sudahlah, itu hanya bunga?”
“Tapi, Dei-“ Phainon menunduk dengan raut wajah sedih yang membuat Mydei kembali menghela napas, ia harus cepat mencari sesuatu untuk mengalihkan pria ini. Ah, sudut bibirnya sedikit terangkat saat kedua netranya menangkap sesuatu di rerumputan tak jauh dari posisi mereka berdiri.
“Sudah jangan cemberut, kamu lihat itu?” Ia berkata dengan sebelah tangannya terangkat, menunjuk pada sesuatu yang dilihatnya tadi. Phainon mengikuti arah yang ditunjuk Mydei, seketika ekspresinya berubah menjadi cerah. Ia mengangguk dengan penuh semangat. “Ambilkan bunga itu, sebagai penganti bunga yang rusak tadi.” Ia kembali mengangguk dengan senyum cerah dan segera berjalan ke arah bunga itu.
“Tolong terima ini, Pangeranku.” Tak butuh waktu lama kini Phainon sudah kembali ke hadapan Mydei, setangkai bunga daisy putih kini terulur di depan wajahnya. ”Tapi bunga ini kecil sekali, tidak apa-apa kah?” Mydei menatap bunga kecil itu sejenak, sebelum fokusnya beralih pada sepasang mata biru milik Phainon.
“Bunga ini aku yang minta kamu untuk ambilkan,” ujarnya sambil mengambil setangkai bunga itu dari tangan Phainon. “Jadi, tentu saja aku tidak akan mempermasalahkan hal seperti itu. Lagipula bunga ini terlalu cantik, ukuran tidak berarti apa-apa untuknya,” lanjutnya sambil mencium ujung kelopak bunga itu. Phainon terdiam, ia merasakan panas mulai menjalari pipinya, menciptakan rona kemerahan di sana.
“Hei, aku sudah terima bunganya. Sekarang kemarilah!” Mydei menarik tangan Phainon dengan tiba-tiba, membuat pria itu kehilangan keseimbangan dan jatuh terduduk disisinya. “Memangnya kamu tidak lelah berdiri terus? Istirahatlah, melerai pertengkaran di pasar juga membutuhkan banyak tenaga.” Ia berbaring di atas rerumputan, sambil menepuk pelan sisi kosong di sampingnya. Phainon terkekeh pelan, ia ikut berbaring namun pandangannya tidak lepas dari sosok Mydeimos disampingnya.”
“Hei, Mydei.”
“Hm?”
“Aku mencintaimu.”
“Ya, aku tahu dan aku pun juga mencintaimu.”
-o-o-o-
Kenangan masa lalu itu terus berputar di pikirannya silih berganti, memberinya kilasan indah namun juga menyakitkan karena sosok yang selalu bersamanya di sana kini telah pergi dan hanya menyisakan raga yang telah terbujur kaku. Phainon menjerit, sekeras yang ia bisa, sekuat yang ia mampu. Namun hal itu tentu tidak dapat mengubah apapun, hanya memberikan rasa sakit yang semakin membakar hatinya.
“Andai saja aku tidak meninggalkanmu,” ujarnya lirih sambil membaringkan tubuh tidak bernyawa Mydeimos dengan lembut. “Kamu tahu Dei, aku masih punya setangkai bunga lagi yang seharusnya kuberikan padamu saat kamu pergi dari Okhema.” Ia kembali berkata lirih, sambil sebelah tangannya merogoh saku celananya mencari setangkai bunga yang ia maksud. Namun kosong, tidak ada apapun disana. Sepasang mata birunya melebar, ia mencoba mengecek saku lainnya, namun tetap nihil. ‘Bagaimana bisa? Ia ingat betul sudah membawa bunga yang sudah diawetkan menjadi pembatas buku itu di saku celananya. Apa jangan-jangan bunga itu terjatuh saat ia bertempur melawan Aquila?’
“Bodoh sekali, Phainon.” Ia tertawa getir, merutuki kecerobohannya yang tidak becus bahkan hanya untuk menjaga sebuah pembatas buku.
“... cukup.”
Phainon tersentak, ia menoleh ke arah sumber suara. Sial, kenapa ia bisa tidak menyadari kalau Flame Reaver masih di sini? Dan kenapa sosok itu hanya diam sejak tadi? Ia memanggil Dawnmaker, bersiap dengan kemungkinan serangan mendadak atau apapun itu.
Tunggu.
Buat apa?
Buat apa ia berjuang sekarang, saat semuanya sudah pergi? Bahkan kekasihnya pun kini telah pergi. Apa lagi yang harus ia perjuangkan di tanah yang akan menemui kehancurannya dalam waktu dekat ini?
“... gagal... cara ini pun... gagal.”
“Siklusnya... tidak berhenti.”
“Gagal... apa lagi yang bisa kulakukan?”
Phainon terkejut, suara itu... Flame Reaver? Ia memperhatikan sosok berjubah hitam yang kini berjalan pelan ke arahnya. Pedang besarnya masih berada di tangannya, namun tidak ada tanda-tanda ia akan menggunakannya. Tapi tunggu, apa yang dia katakan tadi? Gagal? Siklus? Apa maksudnya?
“Hei, kau.”
Phainon mengeratkan pegangannya pada Dawnmaker, tatapannya lurus ke arah Flame Reaver yang kini hanya terpisah jarak lima langkah darinya. Sosok itu menjatuhkan pedang besarnya ke tanah, membiarkannya begitu saja. Ia kembali melangkah, sebelah tangannya terlihat menggenggam sesuatu yang didapatkannya dari balik jubah hitamnya. Langkah kakinya kembali terhenti saat posisinya kini berada tepat di depan tubuh Mydei.
“Kau... mau apa lagi?!”
Sosok itu mengabaikannya, fokusnya tertuju pada sesuatu dalam genggamannya, lalu beralih pada Mydei yang kini terdiam dalam tidur abadinya. Dari jarak sedekat ini Phainon bisa melihat benda apa yang di genggam oleh sosok berjubah hitam itu, setangkai bunga antila yang sudah layu? Flame Reaver kini menunduk dan meletakan bunga layu itu disisi wajah Mydei. Sebelah tangannya terulur, mengusap sisi wajah Mydei dengan lembut. Namun hal itu tidak berlangsung lama, saat sebuah pedang melayang ke arah sosok berjubah hitam itu dan membuatnya mundur beberapa langkah.
Phainon berdiri tegak dengan Dawnmaker yang terangkat tepat di depan wajah Flame Reaver. “Singkirkan tangan kotormu darinya!” Phainon sedikit berteriak, amarah kembali merasuki dirinya. Ia mengeratkan pegangannya pada Dawnmaker, satu ayunan kuat ia layangkan kembali dan kali ini tepat mengenai topeng yang menutupi wajah sosok berjubah hitam itu. Suara dentingan pelan terdengar saat topeng besi yang kini terbelah dua itu jatuh membentur tanah.
“Sudah cukup... Phainon.”
Gerakan Phainon terhenti, Dawnmaker masih menggantung di udara sementara matanya tertuju pada sosok berjubah hitam itu. Kenapa sosok itu bisa tahu namanya? Ia memicingkan mata, berusaha melihat wajah asli yang selama ini tersembunyi. Namun ia menutupi wajahnya dengan tangan, ditambah tudung hitam yang masih menutupi kepalanya, membuatnya sulit terlihat jelas.
“Kenapa diam? Bukannya itu nama yang kamu gunakan di sini?”
“...”
“Gagal... Semuanya gagal... Segala cara sudah aku lakukan untuk menghentikan atau bahkan menghancurkan siklus itu. Namun hasilnya tetap gagal.” Flame Reaver kembali melangkah ke arah Phainon. “Membunuh semua yang terlibat dalam siklus adalah cara terakhir yang bisa kupikirkan-” Sebelah tangannya yang bebas kini terangkat, menurunkan tudung hitamnya hingga kini Phainon bisa melihat helai-helai rambut berwarna putih milik sosok itu. “-tapi seperti yang kau lihat. Sudah sejauh ini... semua orang sudah mati, tapi tetap tidak ada tanda-tanda kalau siklus sialan ini akan berhenti.”
“Siklus? Apa yang kamu maksud di sini adalah siklus seperti yang Profesor Anaxa kata-“ ucapannya terhenti saat Flame Reaver menurunkan tangannya yang semula menutupi wajah. Phainon merasakan tubuhnya membeku saat wajah dibalik topeng itu dapat dilihatnya dengan jelas. Wajah yang sama dengan miliknya?
Sosok itu tersenyum getir. “Menurutmu apa yang membuat ini terjadi, hei Phainon?”
“Kau... siapa kau... sebenarnya?”
Sosok itu tidak langsung menjawab, hanya menatapnya dengan pandangan yang sulit diartikan. Phainon kini merasakan tubuhnya bergetar, apa benar itu dia? Flame Reaver itu sosok dirinya dari garis waktu lain? Masa lalu? Atau jangan-jangan masa depan? Tapi kenapa bisa? Apa yang terjadi?
Berbagai pertanyaan itu terus berputar di kepala Phainon, membuatnya pusing dan hampir kehilangan keseimbangannya.
“Bunuh aku, Phainon.”
“?!”
“Bunuh aku, dengan begitu mungkin kamu akan tahu apa yang aku alami selama ini.” Sosok itu kembali berjalan mendekati Phainon. “Kamu juga bisa membalas dendam atas kematian rekan-rekanmu, juga... kematian orang yang sangat kamu cintai.”
Dawnmaker terjatuh dari genggamannya, menimbulkan suara dentingan yang cukup keras. Tubuhnya oleng namun tangan berbalut zirah perak itu menahannya. Phainon tersentak, ia menatap lurus pada sepasang mata berbeda warna milik sosok Flame Reaver. Lalu wajah itu, bukan hanya mirip tapi benar-benar sama persis jika ia mengabaikan kerusakan dan retakan disana. Kenapa? Darimana retakan itu berasal? Ia merasakan kepalanya sangat penuh kali ini, berbagai pertanyaan tanpa jawaban muncul silih berganti. Hingga ia akhirnya teringat akan sesuatu.
Phainon menepis tangan Flame Reaver, dengan tergesa ia mengambil langkah mundur sementara sepasang matanya mencari sosok Mydeimosnya. Ah ia masih disana, terdiam sunyi dalam tidur abadinya. “Tunggulah sebentar sayang, setelah semua ini selesai aku akan buatkan tempat peristirahatan yang paling indah untukmu.”
Tatapannya kini kembali pada sosok Flame Reaver di hadapannya. Dawnmaker kembali memenuhi panggilannya, tergenggam erat sementara ia menatap tajam pada lawannya di depan sana. “Aku tidak tahu apa yang terjadi padamu, tapi tetap saja apa yang kau lakukan itu salah!” Phainon menggeretakkan giginya, amarah kembali menguasai dirinya. “Sekarang lawan aku! Biar aku balas semua yang telah kamu perbuat.”
“...”
Tidak ada respon, Flame Reaver tetap terdiam di tempatnya berdiri.
“...”
“Tidak perlu buang-buang tenagamu Phainon, aku sudah minta kau untuk membunuhku.”
Kenapa? Kenapa tatapannya seperti itu? Hal mengerikan macam apa yang disembunyikan dibalik tatapan kosong milik mata dwiwarna itu? Kejadian apa yang membuatnya menjadi seperti saat ini? Berbagai pertanyaan lagi dan lagi memenuhi isi kepalanya Phainon, hingga ia tidak menyadari sosok Flame Reaver kini mendekat ke arahnya. Ia memanggil kembali pedang miliknya dan melemparkan senjata itu ke arah Phainon.
“!”
Phainon refleks menangkisnya, menimbulkan suara dentingan keras. Senjata itu terlempar kembali pada pemiliknya, yang langsung ditangkapnya dengan satu tangan. “Baiklah kalau itu maumu. Majulah Phainon, kita akhiri semua omong kosong ini sekarang!”
Phainon kembali mengeratkan pegangannya pada Dawnmaker bersiap untuk bertempur. “Kau yang akan berakhir disini, Flame Reaver.”
Setelahnya hanya suara dentingan pedang yang terdengar saling bersahutan di tanah yang nyaris hancur itu. Mereka akan saling menghunuskan pedang masing-masing hingga salah satu jatuh dan kalah.
-o-o-o-
Entah sudah berapa lama mereka saling mengayukan pedang. Phainon tidak peduli, ia hanya tahu saat bilah tajam Dawnmaker akhirnya menembus tubuh Flame Reaver. Darah emas mengalir keluar dari luka itu, dan semakin deras saat Phainon menarik bilah Dawnmaker dari tubuhnya. Akhirnya selesai, tapi apakah benar ini semua telah selesai? Bahkan setelah Flame Reaver dikalahkan?
“Sudah selesai, Flame Reaver.”
“Ya, akhirnya selesai.” Sosok itu menatapnya, ia tersenyum seiring dengan retakan di wajah dan tubuhnya yang semakin membesar. Phainon balas menatap sepasang mata dwiwarna ini, berusaha mencari kebohongan atau apa pun. Namun nihil, yang ia temukan di sana hanya amarah, keputusasaan, dan kesedihan. Sedih? Memangnya apa saja yang sudah dilaluinya selain menjadi tokoh antagonis dalam kisah ini?
Berbagai pertanyaan kembali berputar di kepalanya, namun tidak ada satu pun yang ia lontarkan dari mulutnya. Phainon hanya menatap tubuh Flame Reaver yang mulai remuk dan menghilang ditelan angin, hingga sepasang mata itu kembali menatapnya. “Aku lupa satu hal.” Ia memalingkan pandangannya pada sudut yang cukup jauh dari mereka, lebih tepatnya sudut di mana Mydeimos terbaring tenang dalam tidur abadinya. Lima detik, waktu yang digunakan Flame Reaver untuk menatap ke arah sana, sebelum ia mengembalikan fokusnya pada Phainon.
“Kamu harus buatkan tempat peristirahatan yang terbaik untuknya.”
Phainon menoleh, menatap sosok sang kekasih di kejauhan sana. “Kenapa? Atas dasar apa kamu mengatakan itu? Setelah bilah pedangmu merenggut nyawanya, kini kamu berkata seolah kamu peduli padanya?”
Hening.
“Jawab aku, Flame Reaver!” Phainon menoleh hanya untuk mendapati sepasang mata milik Flame Reaver itu menatapnya dengan sayu. Ia tersenyum bersamaan dengan setetes air yang mengalir keluar dari matanya. Air mata itu menguap bersamaan dengan tubuhnya yang remuk, menyatu dengan angin yang membawa ratapan kesedihan dari sedikit orang yang masih bertahan di tanah itu.
“Tunggu-.”
Kalimatnya tertahan, bersamaan dengan menghilangnya tubuh Flame Reaver ia merasakan ada yang tidak beres pada tubuhnya. Seperti ada sesuatu yang kuat mengalir masuk ke dalam tubuhnya. Ia tidak tahu apa yang terjadi, juga tidak bisa berpikir jernih karena kepalanya seolah berkabut dengan berbagai ingatan yang menyerang tanpa ampun. Ia terjatuh, bertumpu pada Dawnmaker.
“Ugh... Mydei, dimana?” Phainon berusaha bangun, tanah yang di pijaknya bergetar seolah akan runtuh. Ia tidak punya banyak waktu lagi, ia memfokuskan pandangannya hingga menemukan sosok sang kekasih di kejauhan. “Ah itu dia, aku harus ke sana- ugh.” Ia mengernyit, rasa sakit itu kembali menyerang namun Phainon menolak tunduk. Ia memaksa tubuhnya untuk bergerak, sepasang sayap muncul di punggungnya bersamaan dengan tubuhnya yang mulai bisa beradaptasi dengan kekuatan asing ini.
“Mydei.” Ia berhasil mencapai tempat di mana kekasihnya berada. Phainon meraih tubuh tidak bernyawa Mydei dan memeluknya erat. Air mata kembali mengalir dari sepasang matanya yang kini berwarna kuning cerah. “Mydei, jangan khawatir. Aku tidak akan meninggalkanmu lagi kali ini.” Phainon melirik pada setangkai bunga antila layu yang ditinggalkan Flame Reaver di sana. Ia hendak meraih bunga itu saat tanah di bawah kakinya kembali bergetar. Perasaannya tidak enak, ia mengeratkan pelukannya pada tubuh Mydei saat keduanya merosot jatuh.
-o-o-o-
“Mydei.”
Phainon menghela napas lega saat netranya menangkap sosok sang kekasih masih ada di sisinya. Tertidur tenang di atas hamparan bunga antila yang membentang luas. Tunggu, mereka ada di mana? Phainon menatap sekelilingnya, hanya ada mereka berdua dan hamparan bunga berwarna ungu dan biru yang seolah tanpa ujung.
“Ini... dunia kematian? Atau?” Ia tidak mengerti mengapa mereka tiba-tiba ada di tempat ini. Seingatnya mereka terperosok jatuh saat tanah itu bergetar. Lalu, apa ia juga sudah mati? Ah sudahlah, Phainon tidak mau ambil pusing soal itu. Ia mendekati Mydei, menyingkirkan anak rambut yang menutupi wajahnya dan mengusap pipi itu dengan lembut.
“Mydei, tempat ini cantik sekali. Kurasa ini sangat cocok sebagai tempat peristirahatan terakhir untukmu.” Ia berujar pelan, senyuman pedih menghiasi wajahnya. Namun tentunya tidak ada jawaban, hanya keheningan yang menjawab perkataannya.
“Mydei, sepi sekali tanpa kamu-.” Kalimatnya terputus, ia kembali merasakan keanehan pada tubuhnya. Rasa panas yang seolah membakar tubuhnya dari dalam. Phainon memaksa tubuhnya mundur, khawatir jika ia malah akan melukai Mydei.
“Argh-.” Rasa panas itu semakin menjadi, ia merasakan seolah ada yang menarik tubuhnya dari dalam. Phainon menjerit keras, berusaha mengendalikan kekuatan aneh yang tiba-tiba muncul.
“Apa itu?” Namun sayangnya bukan hanya kekuatan aneh itu saja yang menyerangnya, tetapi potongan-potongan ingatan itu juga kembali memenuhi kepalanya. Apa ini? Kenangan milik Flame Reaver? Semua hal yang sudah dia lalui selama ini? Tanpa disadarinya air mata kembali menetes, kenangan itu terlalu menyakitkan untuk diingat kembali. Bagaimana caranya menjaga kewarasan jika ia harus berkali-kali melihat Mydei tewas di hadapannya? Terlebih bukan hanya Mydei, teman-temannya yang lain pun bernasib sama.
“Gagal... Semuanya gagal... Segala cara sudah aku lakukan untuk menghentikan atau bahkan menghancurkan siklus itu. Namun hasilnya tetap gagal.”
“Membunuh semua yang terlibat dalam siklus adalah cara terakhir yang bisa kupikirkan-”
Ah sekarang Phainon paham apa maksud dari kalimat yang dikatakan Flame Reaver sebelumnya. Siklus sialan yang seolah tidak ada akhirnya ini hanya menghasilkan rasa sakit yang akan terus menumpuk.
“Lalu memangnya apa yang bisa aku lakukan di saat Flame Reaver pun sudah gagal melakukan semua cara yang dia bisa?”
Ia mengerang frustasi, tidak tahu apa yang harus dilakukan, tidak tahu harus berbuat apa. Ribuan kenangan itu terus memasuki kepalanya tanpa ampun, bersamaan dengan luapan energi yang menekan tubuhnya. Phainon kembali berteriak, memecahkan kesunyian mencekam di padang bunga antila itu. Hingga tanpa disadari kini tubuhnya mulai berubah, bukan hanya sepasang sayap yang muncul di punggungnya, kini sebuah halo berwarna keemasan juga muncul menghiasi kepalanya.
“Apa... ini?”
Phainon menatap telapak tangannya yang tampak asing. Sekarang ia paham, apa maksud dari semua ini. Kenangan-kenangan itu memberitahunya, semua hal yang ingin ia ketahui. Tapi ia tidak sepenuhnya paham akan satu hal. “Lalu untuk apa ini semua terjadi? Ke mana takdir ini akan membawaku?” Mata emas itu menatap sendu di kejauhan, pada sosok sang kekasih dalam dekapan ribuan bunga cantik di bawah sana.
“Tidak.”
“Aku tidak akan pernah tunduk pada takdir ini!”
“Jika memang tidak ada cara lain-.” Ia turun, dan melangkah perlahan melintasi padang bunga. Berjalan tenang ke arah di mana Mydeimos terbaring. “-berarti hanya itu satu-satunya jalan.” Ia menunduk, mengusap pelan wajah Mydei lalu mencium dahinya dengan lembut. “Maaf Mydei, kamu pasti akan kecewa dengan pilihanku, tapi aku sudah lelah dengan siklus tanpa akhir ini.”
“Jika masih ada kesempatan, kuharap kita bisa bertemu lagi di kehidupan selanjutnya.” Air matanya kembali menetes, membasahi wajah Mydei. Ia menunduk dan mendaratkan ciuman lembut di bibirnya. “Tapi harapan terbesarku adalah melihat dirimu hidup bahagia, Mydei... dengan atau tanpa diriku.”
Phainon berdiri, namun pandangannya tidak lepas dari sosok sang kekasih, berusaha mengabadikan sosok Mydeimosnya dalam ingatan.
“Selamat tinggal, pangeranku.”
Ia berbalik, dan terbang pergi tanpa menoleh lagi. Tujuannya kini hanya satu. Jika siklus sialan ini tidak bisa dihentikan maka pilihannya hanya satu. Pilihan terakhir dan satu-satunya kesempatan untuk mengakhiri ini.
‘Kehancuran.’
‘Jika siklus ini tidak bisa dihentikan, maka hancurkan saja siklus sialan itu beserta Amphoreus dan seisinya.’
“Maafkan aku Aglaea, aku tidak bisa menyelesaikan tugas ini. Aku tidak bisa membawa era nova untuk planet ini, karena nyatanya hal itu hanya sebuah kepalsuan. Era nova hanyalah awal dari siklus baru, yang akan terus berputar dan memupuk semakin banyak rasa sakit di dalamnya.”
Ia menatap planet yang menjadi tempat tinggalnya selama ini, tempatnya bertumbuh, tempat di mana semua kenangan itu tercipta. Juga tempat yang memberikannya semua rasa sakit ini. Ia memejamkan matanya perlahan, dan saat ia membuka matanya lagi mungkin Amphoreus hanya tinggal kenangan. Kenangan yang terkubur bersama semua kisah-kisah di dalamnya. Kisah dirinya dan semua orang, keluarganya, teman-temannya. Kisah sosok sang ‘pahlawan’ tanpa nama. Juga kisahnya bersama dengan sang pujaan hati.
“Maaf dan selamat tinggal."
-o-o-o-
Keheningan dan kehampaan adalah yang pertama menyambutnya saat semua itu lenyap. Ia menatap kosong pada kedua telapak tangannya, tidak ada lagi sepasang tangan yang akan menggenggamnya erat.
Ah kenapa ia tidak ikut hancur saja? Mungkin dengan itu ia bisa berkumpul lagi dengan semuanya, dengan Mydeimosnya.
Bukankah itu ide yang bagus?
Hening.
Tidak ada yang menjawab pertanyaannya, tentu saja. Tidak ada sisa lagi dari sebuah planet bernama Amphoreus.
Hanya suara deru angin yang terdengar.
Sepi... Gelap... Dingin.
Dingin.
Seperti sosoknya yang kini membeku dalam keheningan abadi.
Selamat tinggal, Mydeimos.
Semoga di kehidupan selanjutnya kamu dapat menemui kebahagiaanmu.
-o-o-o-
End
-o-o-o-
