Actions

Work Header

Rating:
Archive Warning:
Category:
Fandom:
Relationship:
Characters:
Additional Tags:
Language:
Bahasa Indonesia
Stats:
Published:
2025-07-02
Words:
1,195
Chapters:
1/1
Kudos:
57
Bookmarks:
5
Hits:
854

semesta jadi saksi

Summary:

tentang wonwoo yang jatuh sakit waktu mingyu lagi nongkrong bareng temennya sepulang kuliah.

Notes:

sambil dengar lagu yang lovey dovey supaya lebih terasa, ya! terima kasih dan selamat membaca:D

(See the end of the work for more notes.)

Work Text:

suara dering telepon udah menggema sejak lima menit yang lalu, sukses pecah keheningan yang melanda lima mahasiswa teknik semester enam yang fokus sama tugasnya masing-masing.

"eh, buset dah, hp siapa sih ini bunyi terus?!"

salah seorang di antara mereka menunjuk dagunya ke arah mingyu.

"gyu, ditelpon tuh."

mingyu gak denger.

"oi, kim mingyu,"

"buset, ini volume lagunya seribu, ya?"

"anjing,"

jeonghan tabrak lututnya ke milik mingyu sambil beri isyarat buka headphone lu pakai mulutnya.

"budeg lu ya, hp lu daritadi bunyi mulu, tuh."

dahi mingyu mengkerut waktu lihat huruf 'w' di layarnya. tumben?

wonwoo biasanya akan telpon mingyu kalau waktu udah menunjukkan pukul 8 malam, hari itu pun harusnya tak terkecuali. tapi dengan fakta kalau wonwoo sudah meneleponnya sore-sore begini, mingyu yakin akan satu hal — wonwoo-nya lagi kenapa-napa.

"iya, kenapa?" mingyu buka suara.

"pulang..." 

"suaranya gedein coba, gue gak kedengeran apa apa." mingyu gak bisa dengar apapun, suara wonwoo terlalu kecil.

"pusing..."

setelah mingyu sadar maksud wonwoo tadi, telepon dimatikan sepihak olehnya.

"bang cheol, gue balik duluan, ya. 'bunda' sakit." mingyu tepuk bahu seungcheol dan pamit tanpa banyak bicara.

bohong kalau mingyu gak khawatir, jelas dari cara dia tanpa ragu izin ke temen tongkrongannya setelah dapat telepon dari wonwoo, walau dia terpaksa bawa-bawa bunda karena gak mungkin dia bilang kalau temen-nya yang sakit, tapi mukanya sekhawatir ini.

mingyu langsung ambil semua barangnya di meja dan pulang ke rumah, rumah mereka berdua, rumah mingyu dan wonwoo, pacarnya.

 


 

sampai di rumah, mingyu lepas sepatunya asal-asalan. dia bawa tungkainya jalan ke kamar wonwoo, dan langsung buka pintu. kosong, wonwoo gak ada di kamarnya.

“won?”

“…”

rumah itu hening, cuma suara air purifier di ruang tamu yang kedengeran.

satu-satunya yang ada di pikiran mingyu sekarang adalah hubungin wonwoo. tapi naasnya, handphone wonwoo yang berdering tergeletak gitu aja di atas kasurnya.

“aduh, kemana sih anaknya?!” mingyu mulai kesel, walaupun dari nada bicaranya jelas banget ngerasa khawatir. wonwoo hilang, mana handphone-nya juga ditinggal.

cowok itu akhirnya jalan ke kamarnya sendiri, mau beres-beres barang bawaan kuliahnya, terus nyari wonwoo yang gak tau pergi ke mana.

waktu pintu kamarnya dibuka, mingyu diam, hembusin nafas lega, tangannya bertumpu di lutut. matanya liat wonwoo — yang entah sejak kapan udah tidur di kasurnya, kasur mingyu.

“sayang?” mingyu tepuk pelan bahu cowok di depannya, panas. yang ditepuk cuma bergelung gak nyaman.

cowok berbadan besar itu bawa tangannya ke dahi sang pacar, rambutnya yang panjang berantakan dipinggirin, “demam, ya?”

wonwoo setengah sadar narik lengan mingyu buat dijadiin guling.

“udah balik?” wonwoo ngomong pelan banget, kayak lagi ngeracau gak jelas, hampir gak kedengeran sama mingyu kalau aja lengannya tadi gak ditarik.

“badan lu panas, nu. bentar, gue ambil obat dulu.” mingyu tarik tangannya hati-hati dari wonwoo, pergi ke laci meja belajarnya, dan balik ke kasur, tempat wonwoo-nya tidur.

“minum obat dulu,” mingyu cubit pelan pipi wonwoo, bikin cowok itu bangun dari istirahatnya.

“lu udah makan kan?” yang ditanya cuma diem, beneran gak ada tenaga buat ngapa-ngapain.

“minum obat dulu, ya?” mingyu ambil tangan wonwoo dan ngasih obat buat diminum.

“ini airnya,” cowok itu letak botol minumnya di atas meja warna putih di sebelah kasurnya, “kalau udah diminum, tidur lagi aja. kalau butuh apa-apa, gue di sofa” wonwoo yang lemes ngangguk nurut, pun mingyu akhirnya keluar dari kamarnya.

 


 

mingyu lagi tiduran di sofa biru rumahnya, sambil tonton performance grup kesukaannya biar waktu terus berjalan tanpa dia sadar. sampai di titik di mana cowok itu mulai bosan dan memutuskan buat lihat jam.

8.03 PM.

ah, rencananya biar waktu gak berasa lama ternyata berhasil. tapi mendadak, bulu kuduknya berdiri — ada yang lagi ngeliatin dia dari arah kamarnya. cowok berbadan besar itu takut-takut noleh dan langsung hembusin napas lega waktu tau siapa.

“ah, lu bikin takut aja,” mingyu matiin handphone-nya dan ganti posisi tidurannya jadi duduk. tapi wonwoo malah putar balik ke kamarnya, ngambek gara-gara pacarnya pake lu gue.

“kenapa malah puter balik, sayang?” jadi pertanyaan yang mingyu tembak pertama kali waktu nyusul pacarnya ke kamar.

wonwoo gak kunjung jawab pertanyaan mingyu yang udah duduk di pinggir kasur, malah geser menjauh sambil tetap belakangin mingyu.

“kenapa, sayangku, duniaku, cantikku, manisku, bidadariku, tuan putriku, matahariku, detak jantungku?” mingyu ikut tiduran di kasurnya, tangannya gerak buat narik badan pacarnya, dipeluk gemes kayak guling. yang dipeluk mau ngelawan pun gak sanggup, mingyu-nya terlalu kuat.

“tadi kamu keluar nyamperin aku mau minta apa?” mingyu natep wonwoo di pelukannya, mukanya merah, matanya sembab, pipinya yang basah kayak habis nangis diusap lembut.

ditanyain gitu, wonwoo diem aja, tangannya juga gak gerak buat peluk mingyu balik, masih ngambek.

“yaudah, gini deh. kamu tidur, aku jagain di sini, ya?” mingyu ngasih solusi buat entah masalah apa, dan wonwoo lagi-lagi cuma diem aja.

belum sepuluh menit berlalu, tiba-tiba handphone yang dipakai mingyu diambil sama wonwoo. pelakunya cuma diem aja, tapi tangannya gerak buat bales peluk.

“kenapa lagi, sayaang?” mingyu pinggirin rambut wonwoo di pelukannya, wajah merah dan mata sayu pacarnya berhasil ambil atensinya. wonwoo cuma geleng-geleng kepala di dada mingyu, kayak kucing.

“yaudaah, aku gak nonton lagii.” mingyu sebenernya ngerti banget pacarnya mau apa, dia ambil handphone-nya buat diletak di meja, dan benerin posisi tidurnya, biar sama-sama nyaman.

“kamu kalau mau apa-apa tuh ngomong, sayaang. jangan sok-sokan diem kalo mau dip — ”

bibir mingyu dicomot sama wonwoo, “kamu diem, deh. aku mau tidur.”

“AHAHAHAHAHAH APA SIH SAYANG” mingyu kali ini beneran ketawa kenceng, gak nyangka sama tingkah laku pacarnya. muka wonwoo ditangkup, dibubuhin kecupan di semua sisi — dahinya, pelipis kanannya, pelipis kirinya, pipi kanannya, pipi kirinya, mata kanannya, mata kirinya, hidungnya, dagunya.

“jangan ketawain aku,” wonwoo natep sinis pacarnya, tapi yang disinisin malah makin jatuh cinta sama dia.

“yaudah kalo gitu, ke kamar kamu aja sana pelukan sama guling,” mingyu pura-pura ngambek, lepasin lengan wonwoo dari badannya.

“ih, kok kamu gitu, sih?” wonwoo natep mingyu gak percaya, tega banget. wonwoo ngambek lagi, balik badan lagi. mukanya ditenggelamin di selimut yang lagi dia pakai, tau aja kelemahan mingyu.

“ututu sayaang, maaf yaa” mingyu senyum lebar, peluk pacarnya gemes, pucuk kepalanya dikecup. dan kali ini, wonwoo balas pelukan pacarnya.

atmosfir di kamar mingyu menghangat. mereka diam, gak ada yang ngomong, tapi tatapan mata mereka gerak menyusuri wajah satu sama lain, diam-diam saling kagum sama paras satu sama lain.

mingyu yang baru aja potong rambut beberapa hari lalu dan wonwoo yang rambutnya panjang karena belum dipotong dari awal jadi mahasiswa jadi satu dari banyak alasan keduanya jatuh jauh lebih dalam ke satu sama lain malam itu.

beberapa detik berlalu, tatapan mingyu mulai pindah, ke bilah ranum yang selalu dia suka, bibir yang selalu jadi candunya, bibir wonwoo, pacarnya.

can i? ” mingyu tatap bibir wonwoo lembut, yang ditatap jadi gelagapan, jantungnya berdetak gak karuan, dia cuma bisa ngangguk, karena ini juga yang udah dia tunggu.

mingyu senyum — senyuman paling tulus yang selalu wonwoo suka. tangan sang dominan tangkup wajah pacarnya dan dibawa mendekat, pun bibir mereka akhirnya bersatu penuh hangat.

pasangan itu putuskan untuk akhiri malam mereka dengan ranum satu sama lain, penuh sama rasa sayang mereka yang gak bisa diukur. gerakan bibir mereka pelan, lembut, gak ada yang mendominasi dan didominasi, pun gak ada kesan terburu-buru. toh, mereka juga akan selalu bersama, sampai maut yang pisahkan keduanya, semoga saja.

— malam itu, semesta lagi dan lagi jadi saksi tulusnya rasa kasih dan sayang antara keduanya.

Notes:

originally from my minwon au on twitter @aleadmiresjc