Work Text:
Sudah tidak dapat dihitung jari lagi berapa banyak kamu mengecek arlojimu. Setiap detik, setiap menit, kamu selalu sempatkan untuk melihat arloji yang bertengger pada pergelangan tanganmu hanya untuk menemukan bahwa waktu tidak begitu banyak berubah. Rekan kerja di sampingmu bahkan sempat bingung melihat gerak-gerikmu, sempat juga ia bertanya padamu yang kemudian hanya kamu jawab seadanya. Sebenarnya, kamu jarang sekali merasa tidak sabar untuk pulang dari kantor—seperti yang saat ini kamu rasakan. Namun, hari ini adalah pengecualian untukmu. Hari ini spesial, selalu kamu tunggu-tunggu setiap tahunnya—walaupun terkadang kamu juga merasa enggan untuk melaluinya. Karena hari ini adalah 3 Juli, hari spesial kekasihmu.
Begitu arlojimu akhirnya menunjukkan tepat pukul lima sore, kamu segera membereskan barangmu, tak peduli dengan tatapan heran yang lagi-lagi dilayangkan oleh rekan kerja di sampingmu padamu. Kamu hanya ingin segera pulang, merayakan hari spesial ini secepatnya. Setelah semua barangmu beres, kamu langsung beranjak pergi dari ruangan—oh, tepatnya setelah mengucapkan sepatah dua patah kata bahwa kamu tak bisa mengikuti ajakan makan malam bersama dari rekan kerjamu. Kamu sedikit berlari menuju lift , menekan tombol lantai basement, dan segera berlari begitu pintu lift terbuka dan menunjukkan lantai basement yang kamu tuju.
Sesampainya di mobil, kamu—lagi-lagi—kembali mengecek arlojimu dan menemukan bahwa kamu masih memiliki banyak sisa waktu, walaupun mungkin akan sedikit gelap saat kamu sampai di tempat tujuanmu. Namun, kamu tak peduli. Kamu sudah kepalang merindukan kekasihmu sehingga sedikit gelap tidak akan membuatmu takut.
Suasana perjalanan cukup hening kali ini. Audio mobil yang biasanya memutar lagu-lagu dari playlist-mu, kini hanya memutar lagu-lagu dari radio. Entah karena kamu merasa terburu-buru sehingga tak sempat menyambungkan ulang atau karena dalam rangka perayaan hari spesial kekasihmu yang lebih suka memutar lagu-lagu dari radio. Perjalanan kali ini juga cukup lancar, tidak ada masalah lalu lintas yang biasanya membuatmu terjebak hampir satu jam lamanya. Rasanya, hari ini dunia seperti mendukungmu untuk bertemu dengan kekasihmu, kekasih yang sudah sangat kamu rindukan.
Sesampainya di tempat tujuanmu, kamu langsung memarkirkan mobilmu dan turun dari mobil. Suasana di tempat ini cukup sepi, cukup untuk membuatmu sedikit bergidik. Namun, kamu sudah membulatkan tekadmu bahwa kamu akan menemui kekasihmu malam ini juga. Kamu juga yakin bahwa kekasihmu sudah menunggumu, menunggu dengan perasaan rindu yang sama besarnya denganmu. Sebelum kembali melanjutkan perjalananmu, kamu mengambil sebuket bunga matahari yang sempat kamu beli di perjalanan. Memang, bunga ini bukanlah bunga favorit kekasihmu. Ia tak pernah secara spesifik menyebutkan bunga favoritnya sejak dulu. Namun, entah mengapa kamu memilih bunga ini. Mungkin karena warnanya yang secara tak langsung mengingatkanmu dengan rambut kekasihmu. Tak sekuning bunga matahari, tapi setidaknya cukup membuatmu mengingatnya. Atau... mungkin karena bunga matahari adalah bunga terakhir yang kekasihmu bawakan untukmu.
Setelah merasa barang bawaanmu lengkap, kamu kembali berjalan menuju tempat tujuan terakhirmu, tempat di mana kekasihmu sudah menunggumu. Selama berjalan, kamu dapat merasakan hawa dingin malam yang terus menerpamu, bersamaan dengan rintik hujan yang mulai turun. Ah, kamu jadi ingat, malam itu juga hujan seperti malam ini. Malam di mana kamu mendapatkan kabar yang tak pernah kamu harapkan akan menimpamu.
•••
“Selamat ulang tahun, Ken— eh?”
Ucapanmu terpotong begitu kamu membuka pintu dan menemukan kekasihmu berdiri dengan sebuket bunga di tangannya. Sebenarnya, kekasihmu pulang dengan membawa sebuket bunga sudah menjadi kebiasaan yang selalu ia lakukan selama kamu dan kekasihmu berkencan. Bunga yang ia bawa pun beragam, mulai dari mawar merah klasik, tulip, lily, hingga bunga matahari seperti yang ia bawa saat ini. Namun, yang membuatmu terkejut adalah hari ini merupakan hari ulang tahun kekasihmu. Artinya, seharusnya ia yang menerima kejutan, ‘kan? Tetapi kenapa malah kamu yang mendapat kejutan bunga sekarang?
Melihat ekspresi bingungmu, kekasihmu, Kento, hanya tersenyum tipis sembari mengulurkan buket bunga tersebut padamu, mengodemu untuk menerimanya. Tentu saja kamu menerimanya, tetapi ekspresi bingung masih terpatri di wajahmu.
“Kenapa gitu mukanya? Nggak suka bunganya?” tanya Kento setelah melihat raut bingung yang masih awet di wajahmu meskipun kamu sudah menerima bunga yang ia bawa. “Maaf, ya, kalau nggak suka. Nanti aku belikan yang lain,” lanjutnya.
“Aku suka bunganya, terima kasih, anyway , tapi kenapa kamu malah kasih aku bunga?” jawabmu yang malah berbalik tanya padanya. Mendengar pertanyaanmu, Kento pun mengangkat satu alisnya. Kali ini, giliran kekasihmu yang heran denganmu.
“Emang kenapa? Biasanya, ‘kan, aku begini.”
“Iya, sih, tapi bukan itu maksudku!”
Masih dengan satu alis terangkat, Kento membalas “terus? Oh iya, itu kue apa di tangan kamu?” tanyanya sembari melirik kue lengkap dengan lilin di tanganmu yang langsung membuatmu melongo tak percaya.
“Kamu nggak inget hari ini hari apa?”
“Hah?”
Balasan Kento membuatmu langsung menepuk dahimu, bahkan hampir menjatuhkan kue di tanganmu. Yang benar saja? Bagaimana bisa ia lupa dengan ulang tahunnya sendiri?
“Ini 3 Juli, Kento! Ulang tahun kamu!”
Awalnya, Kento mengernyit, tetapi beberapa saat kemudian, matanya melebar, seakan baru ingat perihal ulang tahunnya. Ia pun menggaruk pelan tengkuknya, sedikit canggung. “Oh, iya... Maaf, akhir-akhir ini kerjaanku makin sibuk, jadi ulang tahunku nggak masuk ke dalam prioritas untuk diingat,” ucapnya yang disusul kekehan kecil untuk mencairkan suasana. Kamu pun hanya bisa menghela napa s panjang, tak mau ambil pusing perihal kekasihmu yang melupakan ulang tahunnya sendiri. Toh, yang penting ia sudah ingat sekarang.
“Ya, udah, nggak apa-apa. Ayo masuk! Aku dah nyiapin makan malem spesial ulang tahun kamu. Ada makanan favoritmu, loh!” ajakmu pada Kento yang entah kenapa tidak langsung masuk ke dalam rumah sedari tadi. Namun, bukannya berjalan masuk, ia masih tetap berdiri di depan pintu sembari menyunggingkan senyuman bersalah. Ah, kamu tahu ini arahnya akan ke mana.
“Sayang, maaf, sebenernya aku masih ada meeting penting abis ini... Aku pulang dulu karena kayaknya meeting -nya bakal lama dan takut nggak sempat bawakan kamu bunga... Maaf, ya...”
Kamu memejamkan matamu sejenak. Jujur saja, kamu ingin marah saat ini karena kamu telah menyiapkan makan malam spesial perayaan ulang tahun Kento, tetapi karena satu dan lain hal, ia tak bisa merayakan ulang tahunnya sendiri denganmu. Namun, alasan yang Kento berikan cukup bisa meredam amarahmu, apalagi terkait takut tidak sempat membawakanmu bunga karena pulang terlalu malam. Hampir saja kamu ‘meleleh’ saat ini juga.
“Tapi aku usahakan aku pulang cepat, kok. Habis meeting selesai, aku langsung pulang. Nggak ke mana-mana lagi, serius,” lanjut Kento sebelum kamu sempat membalas pernyataannya.
Kamu pun menghembuskan napas panjang dan mengangguk singkat, “ya, udah, nanti aku angetin aja makanannya. Kamu kalau nanti mau makan dulu di kantor juga nggak apa-apa, kok. Meeting , kan, lama, takutnya keburu laper kamunya.”
“Nggak, aku nanti makan di rumah aja. Aku nggak sabar mau makan masakan spesial kamu. Kalau laper, nanti aku ganjel aja pakai snack yang disiapin buat meeting ,” balas Kento yang membuatmu sedikit lega. Yah, setidaknya ia tetap makan di rumah meskipun sedikit tertunda.
“Oke, deh, kalau gitu. Oh iya, ayo tiup dulu lilinnya! Keburu meleleh ini! Abis itu baru kamu boleh berangkat lagi ke kantor,” ucapmu sembari menyodorkan kue yang sedari tadi kamu bawa ke hadapan Kento. Kento pun tersenyum lalu memejamkan matanya sejenak sebelum akhirnya meniup lilin yang tertancap di atas kue. Melihat lilin yang akhirnya padam, kamu pun ikut memberikan senyuman lebar kepada kekasihmu.
“Selamat ulang tahun, Kento!”
•••
Suasana malam ini entah mengapa sedikit berbeda dari malam biasanya. Jika biasanya malam di rumahmu cukup hening dan diiringi dengan suara jangkrik yang seakan berlomba dengan suara televisi di ruang tengah, untuk malam ini, suasana rumah cukup ramai akibat hujan lebat yang tidak berhenti sejak satu jam yang lalu. Kamu pun entah mengapa tak ingin menyalakan televisi malam ini, seperti ingin menikmati suara hujan di luar mengingat kamu sedikit suka dengan suara tersebut. Kamu juga sudah menghangatkan semua masakan yang akan kamu makan dengan Kento setibanya ia di rumah nanti, sesuai dengan janjinya bahwa ia akan tetap memakan masakanmu selarut apapun ia pulang. Namun, entah mengapa rasanya lama sekali menunggu Kento pulang ke rumah. Sebelumnya, ia sempat mengabari bahwa ia akan pulang pada pukul sembilan malam, tetapi saat ini sudah pukul sepuluh malam dan ia belum pulang juga. Kamu berkali-kali mengecek ponselmu, memastikan apakah ada pesan susulan bahwa ia terjebak macet atau apapun itu yang membuatnya pulang sedikit terlambat. Namun, berkali-kali kamu cek, pun, hasilnya tetap nihil. Pesan terakhir hanyalah terkait ia yang akan pulang di pukul sembilan malam.
Kamu menghela napas panjang dan berniat untuk kembali menyimpan masakanmu ke dalam kulkas. Mungkin, ada baiknya untuk dihangatkan kembali tepat setelah kekasihmu tiba di rumah, pikirmu. Namun, baru saja beranjak dari sofa, ponselmu bergetar dengan nama Kento tertera pada layar. Tanpa pikir panjang, kamu langsung mengangkat panggilan tersebut.
“Kento? Kamu di mana? Masih lama, kah? Aku udah angetin masakannya tapi kamu lama sekali, jadi aku takut makanannya dingin lagi.”
“Maaf, apakah ini dengan kerabat dari saudara Nanami Kento?”
Kamu mengernyit begitu mendengar suara lain yang membalasmu, bukan suara kekasihmu. Pikiranmu mulai tak karuan, tetapi kamu tetap mencoba menenangkan diri dan membalas pertanyaan yang dilontarkan suara asing itu padamu.
“Benar, ini dengan kerabat Nanami Kento. Anda siapa, ya? Kentonya di mana? Bisa saya bicara dengan Kento?”
“Ah, syukurlah kalau begitu. Nomor anda terdaftar pada kontak darurat di ponsel beliau, jadi saya pikir anda adalah kerabat penting beliau. Mohon maaf sebelumnya, saya Ichiji dari Rumah Sakit X. Saat ini beliau sedang berada di Rumah Sakit X karena menjadi salah satu korban dari kecelakaan beruntun yang terjadi di jalan A dan dengan sangat menyesal, saya menyampaikan bahwa saat ini beliau sedang dalam kondisi kritis. sehingga saya harap anda, sebagai kerabat dari Nanami Kento, dapat segera datang ke rumah sakit ini.”
Malam itu, suasana yang semula ramai oleh suara hujan, mendadak sunyi. Duniamu berhenti berputar.
•••
Entah sejak kapan, hujan yang semula berupa rintik-rintik kecil pun berubah menjadi cukup lebat. Awalnya, kamu tidak peduli dengan hujan yang akan membasahi sekujur tubuhmu, tetapi, kamu tidak ingin bunga yang sudah kamu siapkan khusus untuk Kento menjadi hancur tak karuan. Kamu juga yakin bahwa Kento akan marah padamu apabila ia tahu kamu dengan sengaja membiarkan hujan membasahi tubuhmu tanpa perlindungan apapun. Oleh karena itu, kamu segera mengambil payung lipat dari tasmu lalu memakainya dan kembali berjalan.
Satu langkah, dua langkah, tiga langkah, hingga akhirnya kamu sampai di tujuan terakhirmu, tempat di mana kamu yakin bahwa Kento telah menunggu kehadiranmu sedari tadi. Kamu terdiam sejenak, menarik napas panjang dan menghembuskannya sebelum akhirnya kamu berjongkok di depan makam dengan nama yang sangat familiar bagimu tertera di atasnya. Kamu meletakkan sebuket bunga matahari yang kamu bawa di atas makam, menyenderkannya bersama dengan payung yang kamu gunakan sebelumnya dengan harapan dapat melindungi bunga tersebut dari derasnya hujan. Sebagai gantinya, kamu biarkan hujan mengguyur tubuhmu sekaligus menyembunyikan air mata yang akhirnya gagal kamu tahan, tidak peduli jika membuatmu jatuh sakit nantinya. Tak peduli juga jika Kento akan marah padamu, toh, ia tak bisa memarahimu lagi. Sampai kapanpun tak akan bisa memarahimu, menasihatimu, menertawakanmu, mengusapmu, hingga memelukmu lagi.
Kamu mengusap matamu, mencoba memfokuskan pandanganmu yang telah buram entah karena hujan atau air matamu pada makam di depanmu. Setelah kembali mendapatkan fokusmu, kamu tersenyum seakan kekasih yang selama ini kamu rindukan ada di hadapanmu, membalas senyummu dengan senyuman lembut yang biasa ia berikan untukmu. Oh, betapa kamu merindukan senyuman itu.
Bisikan lirih terucap dari belahan bibirmu, membisikkan beberapa patah kata yang terasa begitu sesak di dadamu akibat sekelebat memori manis yang secara otomatis terputar di otakmu. Terekam begitu jelas di memorimu bagaimana ia tersenyum begitu ia mendapatimu membawa sebuah kue favoritnya, lengkap dengan lilin di atasnya. Bagaimana ia mengecup bibirmu dan membisikkan ucapan terima kasih tepat setelah lilin padam. Bagaimana ia memberikan suapan kue pertamanya untukmu dan diikuti dengan colekan sedikit krim pada hidungmu. Bagaimana ia secara tiba-tiba mengeluarkan sebuket bunga dari balik punggungnya, ikut memberikan kejutan kecil untukmu. Ah, semuanya benar-benar terputar dengan sangat jelas di otakmu, seakan mengingsatkanmu bahwa kamu sangat merindukannya. Merindukan ia yang telah lama pergi dan tak akan kembali. Merindukan kekasih hatimu, Nanami Kento.
