Actions

Work Header

Jangan Ucapkan Selamat Tinggal

Summary:

Sebelum tubuhnya benar-benar menghilang hanya satu yang ingin ia ucapkan, sebuah kalimat perpisahan sederhana untuk sang terkasih.
"Tolong, jangan pernah ucapkan selamat tinggal."

For PekanPhaiDei'25

Day 4: Farewell

Notes:

Honkai: StarRail © Hoyoverse

Work Text:

“Ah, gagal ya?”

Ia merasakan tubuhnya jatuh dari ketinggian tepat setelah ia berhasil mendaratkan goresan di wajah sang dewa kehancuran. Khaslana menertawakan dirinya, karena menantang Aeon merupakan suatu hal yang bodoh. Namun ia tidak peduli, amarah yang sudah terlalu berkobar di hatinya ini harus ia salurkan pada sang Aeon yang dengan seenaknya menjadikan dirinya dan semua teman-temannya sebagai bahan bakar untuk kebangkitan emanatornya. Seolah mereka ini tidak ada artinya sama sekali.

“Heh, ironis sekali.”

Memori dari 33 juta siklus yang telah dilalui itu kembali berputar dikepalanya. Tidak ada apapun di sana selain rasa sakit dan amarah. Amarah kuat yang berhasil membawanya sampai sejauh ini, namun hal itu ternyata tidak berarti apa-apa. Ia hanyalah seonggok makhluk lemah yang bahkan eksistensinya di dunia itu pun masih diragukan.

Saat tubuhnya mulai hancur secara perlahan, ia memejamkan matanya dan berusaha meresapi setiap memori yang berputar pelan. Sebelum kesadarannya benar-benar hilang diserap oleh Irontomb ia hanya ingin merekam setiap kenangan yang dilaluinya bersama teman-temannya, terutama kenangannya dengan sosok sang Raja Kremnos.

“Mydeimos.”

Nama itu selalu diingatnya dengan jelas bahkan setalah 33 juta siklus terlewati, dan ia akan terus berusaha mengingatnya untuk waktu-waktu yang akan datang nanti. Namun rasa sakit itu kembali menyerangnya saat ingatan mengenai sang terkasih yang harus meregang nyawa ditangannya jutaan kali.

“Maaf.”

Ia tahu kata maaf tidak akan berarti untuk saat ini. Mungkin bahkan ia tidak pantas untuk mengucapkannya. “Aku tidak masalah kalau kamu akan membenciku, Mydei. Aku memang pantas mendapatkannya.” Ia tersenyum pedih, air mata mengalir dari ujung matanya. “Tapi mungkin di siklus selanjutnya nanti kamu bisa tenang, karena sosok Flame Reaver telah menghilang. Jadi kamu bisa hidup lebih lama, dan mengakhiri siklus tanpa akhir ini.”

Hilang... ya?

Ia yang kini telah menjadi Flame Reaver, atau sebut saja Khaslana sudah hampir hilang ditelan oleh sang calon emanator, akar dari segala permasalahan di tempat ini. Miris memang. Setalah semua usaha yang ia lakukan selama 33 juta siklus ini, namun hasilnya tetap saja gagal. Bahkan kini ia tidak bisa melakukan apa pun lagi, di saat tubuhnya sudah nyaris hancur dan menyatu dengan Irontomb.

Tidak. Ia tidak akan menyerah pada takdir.

Selama kesadarannya masih tersisa, ia akan berusaha untuk melawan. Walau tubuh ini hancur sekalipun, walau eksistensinya benar-benar akan menghilang seutuhnya. Ia tidak akan tunduk pada takdir yang menyakitkan ini.

“Mydeimos.”

Di saat seperti ini, hanya nama sang terkasih yang masih terpatri jelas di dalam benaknya. Di ujung kesadarannya yang kian menipis ia akan berusaha untuk merekam wajah tampan sang kekasih sebelum dirinya benar-benar ditelan habis.

“Jika masih ada kesempatan, aku ingin bertemu lagi denganmu. Entah di kehidupan ini atau di kehidupan selanjutnya.” Kalimatnya terhenti, ia memejamkan matanya. “Kalaupun tidak bisa, masih ada Phainon di siklus selanjutnya yang akan menemanimu, hehe.” Ia tersenyum lembut.

Ah, waktunya hampir habis.

Ia hampir tidak bisa merasakan tubuhnya lagi. Keadaan memaksanya untuk menyerah kali ini. Namun itu bukan berarti harapannya sirna, justru akan semakin kuat. Ia akan mencari jalan untuk bebas, walaupun mungkin jalan itu akan menjauhkannya dari dunia yang di kenalnya selama ini. Menjauhkannya dari sosok sang kekasih. Namun ia rela, asalkan Mydeimosnya bisa hidup tenang bersama dengan teman-temannya yang lain.

Setidaknya ada versi dirinya yang lain, yang akan terus menemaninya.

“Selamat tinggal, Mydeimos.”

“Maaf untuk semua rasa sakit yang telah aku berikan padamu.”

. o . o .

Mydeimos membuka matanya perlahan, cahaya terik dari perangkat fajar yang tidak pernah padam itu mengganggu tidurnya. Tidak, lebih tepatnya bukan itu yang membuatnya terbangun.

“Mimpi itu lagi.”

Mydei bangkit dan duduk di sisi tempat tidurnya, memikirkan mimpi yang selalu membayangi tidurnya sejak kecil itu. Mimpi yang sama, yang selalu berulang. Bukan mimpi buruk yang membuatnya gelisah, namun sosok yang selalu datang dalam mimpi itu yang selalu membuatnya bertanya-tanya kerap kali mimpi itu datang padanya.

Siapa dia?

Familiar namun juga terasa asing.

“Mydei, kamu sudah bangun?”

Pintu kamarnya di ketuk pelan, tanpa bertanya pun ia tahu siapa yang ada di balik pintu itu. “Sudah, tunggu sebentar.” Ia beranjak dari tempat tidurnya, mencuci muka sebelum membuka pintu itu dan menyambut sosok di baliknya. “Lebih pagi dari biasanya, tumben?”

Sosok itu, Phainon, hanya tersenyum lebar. “Entah, aku hanya merasa bersemangat saja hari ini. Jadi kurasa menambah jam latihan pagi bukan masalah?”

“HKS. Tentu saja, jangan menangis kalau aku lebih unggul darimu nanti.”

“Hei, aku tidak pernah begitu ya.”

Mydei tersenyum mengejek pada Phainon sebelum ia melangkah keluar, diikuti oleh sang pria berambut putih itu. Tanpa sadar ia juga ikut bersemangat dan mempercepat langkahnya. Mungkin latihan pagi ini bisa mengalihkannya dari mimpi semalam, setidaknya Mydei berharap seperti itu. Namun sayang harapannya tidak terwujud, setelah puluhan kali atau mungkin ratusan kali mimpi itu membayanginya, ia justru semakin memikirkan sosok di dalam mimpi itu, bahkan berkali-kali ia kehilangan fokus dari latihan kecilnya dengan Phainon.

“Dei, ada apa? Kamu tidak seperti biasanya?” Phainon meletakan pedang kayu yang ia gunakan selama latihan dan berjalan menghampiri Mydei.

“Bukan apa-apa, aku hanya sedang memikirkan sesuatu-.” Kalimat Mydei terhenti saat disadarinya sosok Phainon yang kini berdiri di dekatnya, bahkan kini ia menunduk dengan wajahnya hanya berjarak beberapa senti dari wajah Mydei.

“Bohong, kamu pasti sedang menyembunyikan sesuatu.”

Mydei tidak langsung menjawab, netranya fokus pada wajah Phainon di depannya. Kedua tangannya terulur dan menangkup wajah pria itu, menatap setiap inci wajah tampan di hadapannya. “Dei?” Phainon hanya bisa memanggil namanya dengan bingung, namun Mydei mengabaikannya masih fokus dengan pikirannya sendiri. Hingga akhirnya ia menyadari jawaban dari pertanyaannya selama ini.

Ah bodoh sekali dia. Kenapa ia baru menyadarinya sekarang? Pantas saja sosok itu terasa familiar namun juga asing. “Hei Phainon, rambutmu ini warna aslinya memang putih kah?”

“Hah?” Phainon kini terkejut dengan pertanyaan tiba-tiba yang dilontarkan Mydei padanya. “Tentu saja, rambutku sudah begini dari lahir.”

Mydei kembali terdiam. Ya benar, sejak awal Mydei mengenal sosoknya pun warna rambutnya memang sudah seperti itu. Namun ia yakin benar sekarang kalau sosok dalam mimpinya itu memang Phainon. Hanya saja dengan rambut pirang dan ekspresi sendu itu, ia terasa asing bagi Mydei.

Terlebih kata-kata yang diucapkan sosok itu.

“Selamat tinggal, Mydeimos.”

“Maaf untuk semua rasa sakit yang telah aku berikan padamu.”

Mydei mengingat jelas semua kalimat yang diucapkan ‘Phainon’ dalam mimpinya. Namun dibanding kalimat riangnya yang biasa, hal-hal yang dia ucapkan itu hanya berputar pada permintaan maaf, kerinduan dan juga . . . ucapan selamat tinggal. Selalu seperti itu.

“Dei, kamu melamun lagi?”

Mydei tidak langsung menjawab, ia hanya menatap lurus pada sepasang mata biru itu.

“Phai, kamu tidak akan pergi ke mana pun kan?”

“Eh?”

“Jawab saja, kau akan selalu tetap di sini kan, di sisiku?”

“Uhm ya, tentu saja!”

Tanpa sadar Mydei menghembuskan napasnya lega, ia tersenyum. “Oke aku hanya butuh jawaban itu dan kuharap kamu tidak akan mengingkari kata-katamu sendiri,” ujarnya sambil tersenyum sebelum melangkah pergi. “Ayo cari sarapan, aku lapar.”

“Hei, tunggu. Laki-laki sejati tidak akan menarik kata-katanya tahu!”

“Ya, ya, cepatlah sebelum kita kehabisan panekuk madu itu.”

Tanpa banyak bicara lagi Phainon langsung mengejar sosok sang kekasih yang hampir menghilang di tikungan menuju Marmoreal Market. Ia merangkul Mydei sebelum keduanya berjalan beriringan menuju toko panekuk langganan mereka. Dalam perjalanan itu, di sela-sela obrolan ringan mereka Mydei berbisik pelan pada sang kekasih.

“Hei Phainon, boleh aku minta satu hal padamu?”

“Tentu, apa itu?”

“Tolong jangan pernah ucapkan selamat tinggal.”

“Hah tentu saja, mana mungkin aku meninggalkanmu.”

“Kupegang janjimu.”

“Dengan senang hati, pangeranku. Aku berjanji akan selalu ada di sisimu.”

Mydeimos tersenyum, bohong jika ia bilang kalau ia sudah melupakan mimpinya. Justru ia menganggap mimpi itu sebagai peringatan. Bahwa ia harus melakukan apapun supaya sosok sang kekasih di sampingnya ini tidak akan mengucapkan selamat tinggal padanya. Ia harus memastikan kalau mereka akan terus bersama sampat maut memisahkan jalinan takdir keduanya.

. o . o .

End

. o . o .