Actions

Work Header

Rating:
Archive Warning:
Category:
Fandom:
Relationship:
Characters:
Additional Tags:
Language:
Bahasa Indonesia
Stats:
Published:
2025-07-16
Words:
573
Chapters:
1/1
Kudos:
10
Hits:
155

Kita rayain bareng-bareng, ya?

Summary:

wonwoo is still grieving over his mother when his birthday just ended, and mingyu is there for him.

Notes:

sambil putar lagu “Grandma’s home (OST How to Make Millions Before Grandma Dies)” yaah ^___^

(See the end of the work for more notes.)

Work Text:

Seluruh prosesi perayaan ulang tahun Wonwoo di rumah itu udah tiga jam berlalu. Lampu dapur masih menyala dan Mingyu tengah mengisi gelasnya saat ia melihat siluet seseorang di balik tirai yang menutupi jendela ke arah halaman belakang rumahnya.

“Belum tidur?”

Lelaki itu muncul di ambang pintu, sadarkan Wonwoo yang tengah berlarut dengan pikirannya sendiri.

Si manis tolehkan kepala ke sumber suara sambil menyesap segelas kecil bir di tangannya.

“Belum,” balasnya.

“Udah jam setengah satu, tumben masih di luar?” Mingyu bertanya lagi.

Keheningan melanda sebelum Wonwoo hembuskan napas dengan berat dan lanjutkan kalimatnya.

“gapapa, kepikiran ibu aja.” Wonwoo terkekeh ringan, sok kuat.

Lelaki itu dongakkan kepalanya ke atas, hal yang selalu ia lakukan saat rasanya air yang menggenang di pelupuk matanya akan jatuh.

Mingyu bergerak mendekat untuk duduk di space kosong sebelah Wonwoo. Gelasnya diletak di meja di depannya.

“Gak kerasa aja ini udah tahun ketiga aku ulang tahun tapi enggak—” napas Wonwoo tercekat, tatapannya kosong menatap langit.

Mingyu rapatkan tubuh keduanya dan raih kepala Wonwoo agar bersandar di bahunya.

Dua detik, lima detik.

Lengang antara keduanya, sampai satu helaan napas keluar dari bilah bibir Wonwoo, dan tangisnya tumpah di sana. Tangis yang udah ditahannya sejak ia berdiam diri setengah jam yang lalu.

“…kangen ibu,” suara putus-putus Wonwoo lirih tenggelam dengan napasnya yang kian berantakan.

“Ikhlasin, ya?” Mingyu coba buka suara.

“Aku udah ikhlas, banget malah. Tapi—

Wonwoo mencengkeram ujung lengan bajunya yang panjang menutupi tangan dan usap wajahnya kasar.

—aku gak tau kenapa aku tetep aja nangis.”

Lelaki itu beberapa kali tarik dan hembus napasnya dengan kuat.

“Aku udah coba buat damai sama keadaan, tapi dengan fakta kalau ibu beneran udah enggak ada tuh...”

Wonwoo belum selesai bicara saat tangisnya pecah lagi. Isakannya terdengar jauh lebih menyakitkan kali ini.

“Emang berat, aku tau,” rambut Wonwoo diusak pelan, tengkuk lehernya dipijat lembut, bahunya ditepuk menenangkan.

“jelas gak akan ada yang bisa sembuhin rasa sakit ditinggal sama ibu, tapi,”

Mingyu ambil tangan Wonwoo di pangkuan, dielus perlahan.

“aku akan selalu ada disini buat kamu.”

Tangannya yang bebas bergerak buat bersihkan air mata di wajah Wonwoo.

“Aku emang bukan psikiater atau dokter yang bisa sembuhin rasa sakit kamu, tapi biarin aku jadi tempat untuk kamu bersandar, ya?” Mingyu tatap mata berkaca-kaca Wonwoo di depannya.

“Makasih...” Bibir Wonwoo melengkung ke bawah.

“Jangan bilang makasih terus, sayang. Aku yang harusnya makasih ke kamu, karena kamu tetap milih untuk kuat jalanin hidup yang seringnya jahat ke kamu”

Jari-jari Mingyu menyisir rambut lelaki di hadapannya.

“Udahan ya, nangisnya? Hati aku ikut sakit lihat kamu nangis.” Mingyu bersihkan sisa-sisa air mata di dagu Wonwoo.

“Maaf, ya, baju kesayangan kamu jadi basah.” jari si manis menunjuk bahu Mingyu yang warnanya menggelap.

“Ini cuma baju, sayang. Aku jauh lebih sayang sama kamu daripada baju, gak usah dipikirin, ya?”

Mingyu bubuhkan kecupan di dahi Wonwoo.

It’s okay to cry, sayang. It’s okay.

Aku gak akan larang kamu, aku gak akan hakimi kamu.

Sekarang kamu punya aku. Momen-momen berharga yang akan datang di hidup kamu nanti,

kita rayain bareng-bareng, ya?” Mingyu tutup kalimatnya dengan kecupan di punggung tangan Wonwoo.

Kepalanya menoleh untuk lihat keadaan sang kasih, tapi lelaki itu langsung keluarkan tawa ringan saat melihat Wonwoo yang menguap di sebelahnya.

”Hehe, aku tiba-tiba ngantuk, ma—

”Jangan minta maaf, sayang, ih. Wajar, nangis emang bikin ngantuk. Mau tidur sekarang?” Mingyu bertanya sambil tautkan jarinya di sela-sela jari Wonwoo.

Yang ditanya balas mengangguk pelan sambil berdeham, ”Sama kamu, ya?”

Mingyu tersenyum, kepalanya mengangguk mantap.

”Iya, sama aku.”

Notes:

thank u udah bacaa, i ugly cry when i write this T__T