Chapter Text
Rumah keluarga Vinsmoke di Surabaya berdiri seperti istana modern.
Dinding kaca, taman dengan bonsai yang diberi nama, dan garasi yang lebih mirip showroom. Ruang makannya panjang, dingin, dan terlalu hening untuk sesuatu yang disebut "keluarga." Tapi anggota keluarga Vinsmoke selalu menyisihkan waktu tiap kali ada hal istimewa yang terjadi.
Hari ini giliran Sanji yang baru saja wisuda dari NTU Singapura.
Sanji, duduk rapi dalam setelan pas badan warna biru tua. Dasinya sudah longgar sedikit. Setelah wisuda tadi siang, makan malam ini terasa seperti sidang kedua—dan lebih mencekam. Bedanya dia sudah rileks duluan di jet pribadi Judge Vinsmoke, ayah mereka, yang membawa mereka dari Changi sore tadi.
Judge duduk di ujung meja, seperti biasanya—postur tegas, ekspresi seperti berita ekonomi pagi. Meskipun kali ini lebih bersahabat. Di sebelahnya, Sora tersenyum lembut dalam gaun pastel dengan leher rendah. Sudah berganti dari gaun hitam yang dipakainya saat mendampingi Sanji wisuda. Matanya hangat, tapi ada garis lelah yang tidak sempat dipoles bedak.
Reiju baru tiba lima menit lalu, jaket cream-nya masih beraroma kabin first class.
“Sorry telat. Seoul-Juanda itu nggak bisa dipercepat bahkan sama takdir.” Dia duduk, melepas anting, dan mencium pipi Sora dengan manis. “Tapi demi dinner ini, schedule aku batalin semua.”
“Termasuk si Jaehyun itu?” tanya Sanji pelan.
Reiju hanya senyum tipis dan mengedipkan sebelah mata, “He’s cute, tapi belum tentu worth missing family chaos.”
Di ujung meja, Niji sibuk scrolling iPad, kadang nyengir sendiri. “Sorry aku sambil kerja sambil makan ya, Ma. Investor dari Bangkok tiba-tiba ngegas.”
Dia berhenti sejenak, lalu melirik Sanji.
“Congrats, bro. Kamu lulus juga akhirnya. With style, as expected.” dua jempol naik darinya.
Sanji ingin menjawab sarkas, tapi Mama Sora sudah menepuk tangan kecil.
“Ayo makan. Lobster-nya masih hangat," ujarnya dengan senyum yang hangat.
Beberapa menit mereka makan dalam semi-diam, hanya ada suara sendok dan alat makan perak mahal. Sampai Yonji tiba-tiba nyeletuk, keras banget.
"Eh, Ichiji ngirim duitnya sekarang lho!”
Semua menoleh pada si bungsu.
“Dia gak bisa dateng?” tanya Judge.
“Katanya meeting dadakan di Aussie, Pa." Sora menjawab sambil memotong steak di piringnya, tanpa melirik suaminya.
Reiju hanya menutup mulut dengan minum air putih sambil bergumam, “No comment.”
Reiju lebih tau dari siapapun di meja kalau Ichiji bukannya rapat mendadak alih-alih kencan mendadak. Tapi sudut matanya melirik ke Sanji yang melirik juga. Seolah sama-sama tahu Ichiji sedang apa.
Yonji yang sudah buka HP-nya, ngacungin layar ke Sanji. “Tuh, Kak. Dua digit! Not bad lah buat kakak yang gak bisa dateng.”
Sanji melirik, lalu mendesah. “Aku maunya dia dateng, bukan saldo.”
Niji nyeletuk, “Di keluarga kita, validasi datang dalam bentuk rekening, bukan pelukan.”
Sora menoleh pelan ke suaminya. "Pa, mungkin ada yang ingin disampaikan ke Sanji?"
Judge menaruh garpu dan pisau secara paralel di atas piringnya. Tangannya besar, kukunya rapi, jam tangan metalik berkilau halus terkena sorotan lampu gantung. Matanya menatap Sanji lurus—bukan marah, bukan juga dingin.
Tapi cukup untuk bikin ruangan sunyi lagi.
"Papa dengar kamu belum apply kerja ke perusahaan kita."
Sanji menegakkan punggungnya. Di bawah meja, telapak tangannya menggenggam celana. "Belum, Pa. Aku masih mau coba tempat lain dulu. Mulai dari bawah."
Di ujung sana, Niji berhenti tapping iPad-nya. Yonji ngangkat alis. Sora menatap Sanji, pelan tapi penuh arti—seolah mau bilang: jawab baik-baik, Nak, ini bukan soal izin nyetir mobil.
"Kenapa?"
Suara Judge tidak keras. Tapi punya efek seperti rem pelan di jalan tol—kagetnya nyeseknya sama aja.
Sanji menelan ludah. "Karena... aku ingin CV-ku berdiri sendiri. Bukan karena nama belakangku. Aku cuma pengin buktiin, aku bisa. Gak instan. Gak shortcut."
Lalu sejenak...
Diam.
Reiju menaruh garpunya. Tangannya menyentuh bahu Sora singkat, seperti menekan tombol calm down. Sora sang Mama meremas serbet makan menutup mulut.
Yonji udah siap motret suasana meja kalau tiba-tiba berubah menjadi sinetron episode 457.
Tapi Judge cuma... menarik napas pelan. Matanya masih ke Sanji, tapi nadanya turun satu tingkat.
"Kamu anak Papa. Tapi kamu juga laki-laki dewasa sekarang."
Sanji kaget. Tidak banyak kalimat di dunia ini yang terdengar lebih absurd dan menyentuh sekaligus.
Judge melanjutkan, masih dengan nada datar yang terlalu jujur untuk disebut manis.
"Kalau kamu yakin jalan itu tepat, tempuh yang jauh sekalian. Jangan setengah-setengah. Papa gak akan bantuin. Tapi kamu tahu pintunya selalu ada."
Lalu, satu anggukan. Berat. Final. Seperti cap basah di proposal bisnis.
Niji mendongak dari iPad-nya, akhirnya ikut masuk ke percakapan. Bukan dengan nada dramatis, tapi hampir seperti ide mendadak yang terpikir saat sedang mandi.
“Actually… ada satu start-up kecil di Jakarta yang aku invest sedikit. Nggak gede, tapi stabil. CEO-nya... agak impulsif, tapi timnya solid. Kayaknya cocok buat kamu. Mulainya dari bawah, tapi real deal."
Sanji menoleh ke kakaknya. Antusias. “Yang mana?”
Niji mengangkat bahu, setengah senyum. “Nanti aku kenalin ke CEO-nya. Dia sahabat lama. Nggak jaminan kamu langsung keterima, yaaa, cuma bisa buka pintu selebihnya jalanin sendiri.”
Yonji langsung nyerocos, suaranya naik satu oktaf.
“YUK JAKARTA! BARENG AKU! Kita sekos, Kak! Seru banget pasti!”
Reiju menyuap potongan sayur ke mulut, lalu dengan ringan menambahkan, “Baru juga lulus, udah dilempar ke rimba ibu kota. Dramanya mulai.”
Judge menghela napas panjang.
Memandang semua anak-anaknya, lalu kembali ke Sanji. Tatapannya berat, tapi bukan tanpa harapan. Lalu ke istrinya yang menatap dengan tatapan seperti memintanya untuk setuju. Judge Vinsmoke akhirnya menarik napas sembari menggenggam lagi sendok dan garpu yang tadi ia abaikan.
"Deal. Papa akan lihat progres kamu. Tapi jangan buat malu," katanya, menunjuk Sanji dengan garpunya.
Sanji mengangguk pelan. “Terima kasih, Pa. Aku gak akan bikin malu.”
Dan di saat itu... meja makan terasa terlalu hening untuk rumah sebesar itu. Tapi tidak ada yang membantah. Tidak kali ini. Dan sepertinya dada Sanji lebih hangat karena mungkin ini kali pertama Papa mereka mengijinkan dia memilih sendiri jalan hidupnya.
Bukan mudah menjadi bagian keluarga Vinsmoke. Bagi Sanji setiap keputusan dalam hidupnya yang selalu diarahkan oleh Papa mereka membuatnya hidup dalam bayang-bayang nama besar itu. Kemanapun mereka berjalan maka semua previlege akan senantiasa mengikut. Sanji bukan tidak menyukai semua kemudahan yang ada karena terkadang itu diperlukan. Hanya saja semakin lama ia nyaman akan sesuatu malah akan buruk bagi perkembangan dirinya. Menurutnya.
Jadi persetujuan Papa akan pilihannya kali ini membuatnya lebih tertantang membuktikan bahwa ia mampu.
Mungkin Jakarta tidak seburuk yang orang-orang bilang.
Dan yah rasanya baru kemarin Sanji menerima gelar sarjananya dan sekarang ia sedang menyeret koper trolinya sepanjang terminal 3 Soekarno-Hatta.
Setelah keluar dari Terminal 3, dua koper bergulir bersamaan di lantai parkiran. Yonji berjalan dengan langkah santai di belakang Sanji, mengenakan hoodie Universitas Indonesia dan sandal, sementara satu earphone masih menyangkut di telinganya. Sanji melangkah lebih pelan, baru saja mengganti kemeja linen tipisnya di toilet bandara dan menyemprotkan cologne ringan yang kini bercampur dengan aroma aspal hangus Jakarta.
Sebuah Alphard hitam berhenti perlahan di tepi trotoar. Sopir keluarga sudah menunggu sejak tadi, siap membawa mereka ke apartemen yang dimaksud Reiju dalam voice note terakhirnya.
Apartemen itu dulunya dibeli Reiju saat sempat ditempatkan di Jakarta selama setahun. Sejak ia kembali ke Seoul, unit itu disewakan sebentar, tapi kini sedang kosong.
“Pakai aja dulu,” katanya dalam pesan suara. “Daripada kalian tinggal di kos sempit. Udah, jangan banyak protes.”
Sanji hanya mengangguk waktu mendengar kabar itu, merasa sedikit lega. Tapi Yonji—yang sudah dua tahun tinggal di kos-kosan sempit dekat kampus—mulai menghitung semua ketidakadilan yang terjadi dalam hidupnya.
Lift berhenti di lantai dua belas. Sanji menarik kopernya keluar lebih dulu, Yonji menyusul sambil dorong dua tas tambahan yang dia bawa sejak kuliah dulu—masih ada stiker “UI 2023” nempel di salah satu koper.
Begitu pintu unit terbuka dan lampu otomatis menyala, aroma kayu, debu mahal, dan lemari yang terlalu lama tak dibuka langsung menyambut.
“Wah, fancy juga,” gumam Sanji pelan sambil melangkah masuk. Interiornya minimalis, dengan sentuhan soft beige dan dark oak. Sofa bersih, dapur terbuka dengan kitchen island, dan pemandangan kota dari balkon kaca yang cukup buat dua orang duduk sambil ngopi sore-sore.
Yonji menaruh koper di dekat pintu, lalu berdiri di tengah ruangan sambil geleng-geleng kepala.
“Jancuk... Dari dulu Reiju punya tempat beginian, aku disuruh ngekos deket stasiun. Kamar sempit, air kadang kuning, dapur sharing sama anak Teknik Mesin. Dan sekarang pas kamu dateng, tiba-tiba ‘pakai aja dulu’. Enak banget idupmu, Kak.”
Sanji nyengir, "Ya kamu dulu nggak mau, katanya mau mandiri sebagai mahasiswa. Lagian aku juga nggak minta—ini juga surprise.”
Yonji berdecak, lalu menyalakan AC sambil menjatuhkan diri ke sofa di depan tv. "Yaelah. Kakak anak kesayangan sih. Palingan Reiju juga sengaja nunggu sampe kamu pindah baru dikasih.”
Sanji membuka lemari dapur, melihat barisan gelas wine yang masih dibungkus bubble wrap. "Padahal kosanmu yang lima juta sebulan itu masih mendingan ketimbang asramaku dulu di singapur. Ngomel terus, bantu angkat koper ke kamar, napa.”
Yonji cuma nyaut dengan satu gerakan jempol ke atas. Tapi lima menit kemudian, dia sudah mengitari seluruh unit sambil live-update ke grup keluarga, lengkap dengan selfie di depan jendela tinggi.
"Nih, Kak. Captionnya bagus gak: ‘View-nya cakep, sayangnya bukan kamu.’”
Sanji menghela napas. Merasa hopeless sama adik semata wayangnya.
-----
Ruang Rencana.
Ide besar dimulai dari hal kecil. Tempat semua ide diberi rencana bukan sekedar asa.
Start Up yang mulai menggeliat di jantung ibukota sejak 3 tahun lalu itu bukan tidak pernah hampir patah. Siapa bilang ide saja dan semangat juang CEO-nya cukup membuatnya berdiri di tengah badai start up yang bermunculan. Belum lagi saingan dengan start up yang muncul tiap bulan yang pemegang sahamnya lebih cocok masuk majalah Forbes.
Tapi Luffy bukan orang yang memiliki kata menyerah di kamus kehidupannya. Segala penghalang mampu diterabas demi berdikari. Yah sedikit bantuan dari teman lama, banyak tawa dan tim yang solid adalah penentu juga.
Meski mereka berkantor di salah satu menara SCBD, jangan bandingkan gayanya dengan perusahaan-perusahaan elit. AC masih sering mati—bukan karena rusak, tapi demi penghematan. Kata Nami, Chief of Finance sekaligus Head of Operations, “Semangat boleh panas, tapi listrik mahal.”
Luffy suka bilang startup-nya terbuka untuk siapa saja yang ingin memulai sesuatu. Tapi yang jungkir balik memikirkan invoice, payroll, dan biaya langganan Google Suite tetaplah Nami.
Target pasar Ruang Rencana adalah mereka yang baru memulai bisnis, ditemani dari mulai riset pasar dan konsumen, branding dan strategi kreatif, bahkan sampai copywriting dan konsultasi SWOT bisnis.
Tim Luffy mungkin tampak eksentrik, tapi sejauh ini tetap solid.
Robin kelihatan kalem dan slow, tapi risetnya selalu lengkap bahkan sampai yang tidak diminta.
Usopp si paling santai, tapi desainnya paling nyambung banget sama klien.
Chopper? Wajahnya babyface banget, sampai-sampai klien suka kira dia anak magang. Tapi jangan salah—analisisnya presisi dan paling update.
Dan Zoro—pemalas legendaris yang kalau presentasi selalu to the point dan tanpa basa-basi. Klien suka karena gak buang waktu. Tim suka karena dia gak banyak ngomong, tapi kalo udah ngetik strategi, nyusulnya susah.
Jakarta siang itu panas tapi mendung. Ruang rapat masih sisa aroma kuah rendang atau nasi soto karena baru saja dipakai jadi tempat makan siang bersama. Pantry kekecilan buat semua tim bisa kumpul. Jadilah ruang rapat, ruangan dengan satu-satunya meja oval besar disulap jadi ruang makan. Kadang-kadang bisa jadi bioskop mini karena ada layar infocusnya.
"Eh minggu depan ada anak baru ya," celetuk Luffy dari bean bagnya. Habis makan siang dia memilih rebahan di bean bag merah favoritnya sambil ngemil kerupuk udang.
Nami menaikkan alis, menengok dari balik laptopnya. "Magang?"
Luffy mengangkat telunjuk, menggoyangkannya beberapa kali, "No. No. New recruit. Freshgrad."
Usopp yang pertama merespon, "Kok ada yang mau? Mau lu gaji pake apa dia? QRIS receh?"
"Dicicil dong." Luffy berkata sambil ketawa. Seperti hal itu bukan apa-apa.
"Pasti ada udang di balik batu. Anak siapa kok langsung mau?" Robin menyesap es teh manisnya tapi matanya tidak meninggalkan handphone.
"Adik temen gue."
Senyap sementara menguasai ruang rapat itu ketika semua orang bertukar pandangan. Bingung. Tapi Luffy lalu duduk tegak dan menatap lurus ke Zoro yang dari tadi diam di pojokan sambil mengetik di laptopnya. Awalnya tidak peduli, atau pura-pura tidak peduli. Tapi ketika semua mata tertuju padanya ia mendongak juga.
"Apa?"
Luffy tersenyum sumringah. "Lo yang mentorin ya."
"Apa?!" Zoro tidak menahan diri meski Luffy bosnya. "Enggak mau ah. Lo nambahin kerjaan gue. Enggak. Enggak."
"Ya harus elo. Siapa lagi coba?" Luffy tidak menerima penolakan.
"Ya nggak bisa gitu dong! Gue udah overload masih ditambah kerjaan mentorin anak baru."
"Ini anak pinter kok. Gen Z, stylish, lulus dari luar. Katanya ngerti riset dan paham presentasi. Bisa banget bantuin elu."
"Gen Z? Lulus dari luar? Wah udah lengkap.” Zoro mendelik sarkas. "Mentor banget ini mah. Gue disuruh ngasuh nepo baby.”
"Mentor bukan baby sitter, Zoro. Selow aja lagi." Usopp ketawa tanpa peduli lirikan tajam Zoro yang setajam pedang terkutuk.
Nami menyahut dari balik laptop, masih ngotak-atik formula Excel, “Zoro tuh takut jatuh cinta sama yang lebih muda aja.”
“Excuse me??” Zoro hampir menggeprak laptopnya, tapi ga jadi karena masih sayang.
Dan saat itulah Chopper, polos banget dengan pipi gembul dan muka anak SMA, nyeletuk, “Eh, tapi kayaknya Kak Zoro cocok deh jadi mentor yang galak tapi secretly care. Kayak di drama Korea!”
Semua langsung ngakak.
Zoro cuma bisa melotot ke Chopper.
“Gue galak dari mana?”
“Ya... kalo ngomong ke klien kan kayak mau bacok.” Chopper serius banget, tapi justru makin parah.
Apalagi ketawa anak-anak.
Zoro garuk kepala, nyerah. “Kenapa sih lo semua orang gabut banget hari ini?”
Luffy ngelirik sambil nyengir, “Karena minggu depan lo kedatangan anak baru yang katanya cakep dan bisa masak.”
Zoro menyipit. “…Masak?”
“Yoi. Namanya Sanji. Pirang. Adiknya Niji.”
Zoro langsung nyengir lemas. “Oh. Niji. Yang rambutnya kayak... metalik tukang las.”
Robin nyeletuk lembut, “Berarti kita harus siap-siap sambut masakan Gen Z, ya.”
Chopper ngacung, semangat banget. “Gue bantuin cobain test food-nya! Demi kejujuran!”
Zoro diam. Tatapannya masih tertuju ke layar laptop, tapi kalimat Luffy barusan menggantung di otaknya kayak notifikasi yang nggak bisa di-dismiss.
Mentorin anak baru.
Bukan cuma anak baru—adik temennya. Gen Z. Freshgrad. Stylish. Halah.
Dan Luffy nyuruh dia. Luffy, si makhluk chaotic yang entah kenapa selalu punya cara buat naruh tanggung jawab absurd di pundak orang lain.
Zoro pengen nolak. Udah pengen banget tadi.
Tapi...
Sialnya ini Luffy.
Luffy, yang udah pernah bareng dia sejak zaman pitch deck cuma tulisan tangan di kertas nasi goreng. Luffy yang udah nutupin blunder-blunder Zoro dengan tawa ngakaknya yang aneh tapi meyakinkan di depan klien. Luffy yang, meskipun kekanak-kanakan, selalu tahu kapan seseorang butuh kesempatan.
Jadi ya, Zoro bisa apa?
Marah? Capek sendiri. Nolak? Percuma. Luffy udah pasang muka itu—muka ‘tolong dong, bro’ yang udah terbukti lebih ampuh dari kontrak kerja. Dan Zoro... ya, dia nggak sekejam itu.
Tapi bukan berarti dia ikhlas.
Jadi, sekarang dia duduk di situ, menimbang-nimbang harga dirinya yang kayaknya akan remuk pelan-pelan selama beberapa minggu ke depan.
Mentorin anak baru? Fine.
Tapi jangan harap dia bakal senyum-senyum atau ngobrolin zodiak.
Kalau si bocah ini nyebelin, Zoro siap jadi mentor paling males jawab chat se-Asia Tenggara. Tapi... kalau ternyata si bocah ini—Sanji atau apalah namanya—bisa kerja, bisa diajak mikir, dan... nggak ganggu fokus, ya...
Ya mungkin Zoro bakal pertimbangkan ulang sikapnya.
Sedikit.
------
Sanji menarik napas begitu pintu lift terbuka. Satu langkah lagi.
Ransel hitam slim di punggungnya, jelas branded, model keluaran Jepang yang cuma muncul di Orchard, bukan yang dijual di mall biasa. Tangan kirinya menenteng goodie bag kain warna sage green, matching dengan warna dasinya. Wangi masakan semerbak keluar tiap kali tas kain itu sedikit bergoyang.
Baju? Lengan panjang krem dengan celana tailored fit. Casual tapi rapi. Jelas bukan gaya korporat tapi juga bukan asal-asalan. Kancing atas dibuka satu, gaya rambut ditata santai, dan sneakers putihnya bersih seperti belum pernah menyentuh jalanan Jakarta. Dia kelihatan seperti seseorang yang datang bukan cuma buat kerja. Tapi buat bikin kesan.
Di pintu kaca tertulis:
Ruang Rencana
Ide Besar Dimulai Dari Hal Kecil
Sanji sempat senyum miring.
Begitu dia buka pintu, suara kipas angin dan AC berbunyi bersamaan. Dari balik meja resepsionis mini, seseorang berdiri panik. Seorang cowok berjaket hoodie kebesaran dan wajah baby face kebingungan yang mungkin tadi sedang mengetik sesuatu di laptopnya yang nggak sengaja kesenggol.
"Permisi, Mas. Saya Sanji yang mau kerja di sini."
"Eh 'mas'?" Wajah baby face itu memerah dan matanya yang bulat semakin membesar. "Panggil Chopper aja gue... aduuh jadi malu. Hahaha. Gue Chopper! Business analyst di sini. Eh lo... ganteng juga ya,” katanya, tapi langsung menutup mulut sendiri. “ASTAGA maaf! Gue tuh... ngaco kalau gugup.”
Sanji langsung ketawa kecil. “Nggak apa-apa. Santai aja. Aku juga gugup nih, Mas Chopper."
Chopper lalu menguasai diri, "Masih belum biasa dipanggil mas soalnya biasanya gue disangka anak SMA melulu."
Sanji langsung merasa bersalah. “Maaf banget ya, Mas. Tapi emang keliatan... muda aja.”
Chopper cemberut kecil. “Padahal umur gue dua tahun lebih tua dari lo katanya…” Tapi lalu dia menjulurkan jabat tangan. "Santai aja ya. Dan selamat datang di Ruang Rencana," ujarnya kemudian sambil tersenyum riang.
Sanji langsung menyambut jabatan tangan itu dengan sopan. “Senang kenal Mas Chopper.”
Chopper langsung chill lagi, terus melirik tote bag Sanji. “Eh... itu bawa bekal ya?”
Sanji mengangguk. “Iya. Nggak tau ada pantry atau nggak.”
"ADA, tapi kecil banget!" Chopper ketawa. “Bakal cepet banget deh cocok sama tempat ini.”
Sanji sudah akan menjawab tapi saat dia akan membalas, suara pintu terbuka terdengar. Masuklah Luffy, dengan kaus oblong putih, celana batik pendek, dan sandal jepit. Tangan kanan memegang donat, tangan kiri memegang handphone.
“WAH, si anak baru udah dateng!” katanya cerah, seolah semua urusan kantor beres. “Sanji, kan? Gue Luffy, CEO di sini. Niji pasti udah cerita. Tapi gak usah takut. Di sini semua orang... rada santai. Kecuali Nami, dia serem dikit.” Dia ketawa sendiri lalu mengunyah donatnya yang tinggal setengah.
Sanji bingung harus menyapa siapa dulu. “Salam kenal, Mas Luffy…”
“Udah. Gak usah mas-masan. Panggil Luffy aja.”
"Eh iya mas."
"Yuk ke Zoro aja langsung."
"Hah?"
"Iya Zoro itu senior strategist dan lo bakal dimentorin sama yang paling nguasain kerjaan di sini. Jadi sekalian lo belajar sambil bantuin dia yah. Anaknya keliatannya aja galak tapi sebenernya dia baik kok."
"Semangat ya, Sanji." Chopper mengepal kedua tangannya ke atas.
Sanji tersenyum canggung tapi mengangguk ke arah Chopper. Kemudian dia mengikuti Luffy sang CEO masuk ke dalam kantor barunya.
-----
Ruang kerja itu harusnya zona damai.
Tempat buat mikir. Buat fokus. Buat ngelarin timeline presentasi klien dari Medan yang udah mundur dua minggu tapi tetep aja minta Zoro “kasih yang fresh ya Bang”. Dikira mereka Zoro tukang es limun maunya yang fresh. Tapi Zoro tetap melakukan yang terbaik. Meskipun ia harus menggerutu dulu.
Dan lalu... pintu terbuka tanpa mengetuk lebih dulu. Kepala Luffy menyembul dari balik pintu ditambah cengiran khasnya. Oh Zoro sudah tahu ini akan berakhir tidak terlalu baik tapi dia menahan diri untuk menebas, bukan, memutar bola matanya.
"Sanji udah dateng nih. Lo ajarin yang bener ya."
Zoro sudah kadung malas menolak. Luffy tidak menerima jawaban apapun. Jadi membantah pun percuma saja. Dan Luffy, secepat ia muncul secepat itu pula dia menghilang. Meninggalkan kecanggungan di depan pintu.
Langkah kaki. Sepatu sneaker—branded. Bau parfum samar tapi sepertinya mahal. Zoro niatnya cuma menolehkan kepala sedikit, tapi yang berdiri di ambang pintu bikin dia harus mengedip dua kali.
Anak baru.
Langsing. Rapi. Senyumannya sopan tapi gaya jalannya... confident. Seperti merasa dunia bisa ditaklukkan dengan itu semua.
"Permisi, Mas Zoro?" suara itu halus. Tidak seperti gaya bossy anak orang kaya yang sering Zoro temukan di dunia pitching. Ini lebih... humble? Tapi juga manis.
Dan anjir, mas Zoro?
Zoro sudah lama tidak mendengar kata “mas” diucapkan ke dia dengan sopan begitu. Biasanya paling dipanggil “Bang, file yang kemarin mana?” atau “Bang, laptopnya mati ya?”
Dia cuma mengangguk, lalu dengan dagunya menunjuk kursi dan meja kosong di seberangnya. Sanji paham dan langsung duduk, membuka laptop yang ia keluarkan dari ranselnya, dan mulai menarik notes-nya dengan tenang. Gerakannya presisi. Wangi banget. Zoro mencium aroma... rosemary? Dan mungkin, mungkin, bawang putih.
Eh apa? Dia bawa bekal?
Zoro melirik... dan iya. Si bocah baru sudah menyodorkan kotak bekal dan senyuman. Tutupnya pink keemasan. Napas Zoro langsung stuck di tenggorokan. Matanya terpaku pada sepasang tatapan sewarna langit di luar jendela. Biru. Cerah. Tanpa awan.
Ini baru hari pertama. Bocah ini belum tau siapa dia. Tapi udah nyodorin makan siang?
Zoro menerima dengan canggung lalu membuka sedikit—baunya langsung menyerang dengan kenangan: tumis cabai hijau, ayam goreng bumbu sereh, sama acar mentimun yang ngumpet manis. Makanan rumah. Bukan katering kantoran.
Zoro... narik napas. Terlalu dalam. Tapi kemudian menyodorkan kotak itu kembali kepada si pemberi.
"Nggak usah, gue udah pesan nasi Padang," katanya datar. Padahal dompetnya kosong. Tanggal tua. Tapi gengsi... oh, gengsi adalah dewa yang harus disembah di ruangan ini.
Senyum Sanji tidak berkurang. "Kalau berubah pikiran, bilang aja ya, Mas. Saya bawa dua kok," katanya.
Kenapa sih anak ini sopan banget? Dan kenapa baunya kayak... nyaman?
Zoro manggut—cuma sedikit. Sanji balik ke laptopnya. Dan Zoro, yang tadinya mau kerja, sekarang malah ngelirik dari atas layar. Pelan-pelan.
Mentorin nepo baby? Oke. Tapi kenapa deg-degannya kayak nerima first love?
"Saya bisa bantuin apa, Mas?"
Dan Zoro hampir mengetik Ctrl+Alt+Del di keyboard.
------
